Connect with us

Science & Technology

Video: Detik-Detik Seorang Fotografer Hampir Ditelan Ikan Paus

Published

on


Featured Video Play Icon

Belum lama ini seorang fotografer mendapat pengalaman mengesankan di lepas pantai Afrika Selatan. Fotografer bernama Rainer Schimpf itu hampir ditelan ikan paus.

Finroll.com – Awalnya pria berumur 51 tahun itu menyelam kawasan Port Elizabeth Harbour, Afrika Selatan, sambil memotret hiu yang berenang di dekatnya. Namun tiba-tiba air bergejolak dan semuanya terjadi secara singkat.

“Saya hendak mengambil gambar hiu dengan bola umpan. Namun tiba-tiba semua gelap dan saya merasakan ada tekanan aneh di pinggang,” katanya seperti dilansir Science Alert, Selasa (12/3/2019).

Schimpf masuk ke mulut paus Bryde (Balaenoptera edeni edeni) yang panjangnya sekitar 14 sampai 15 meter seperti cuplikan di bawah ini.

Lokasi penyelaman Port Elizabeth Harbour adalah tempat migrasi hewan yang terbesar di Belahan Selatan. Di waktu-waktu tertentu sepanjang tahun, ada banyak penguin, anjing laut, lumba-lumba, paus, dan hiu bekerja sama menangkap sarden.

Schimpf yang sudah bekerja sebagai operator wisata selam selama lebih dari 15 tahun pun selalu mengambil momen migrasi itu dengan lensanya. Namun, sepertnya tahun ini dirinya yang menjadi santapan seekor paus.

Dalam situasi seperti itu, hanya sedikit yang bisa dilakukan Schimpf. Dia tahu, bahwa paus Bryde membuka mulut dan menelan apapun yang ada di depannya. Tidak ada waktu untuk merasa ketakutan.

Schimpf menahan napas dan berharap paus Bryde tidak menelannya. Beruntung impian itu terwujud hanya dalam dua detik dan paus Bryde membuka mulutnya lagi.

“Momen selanjutnya paus bergerak ke arah lain dan saya merasakan tekanan. Setelah itu saya keluar dari mulutnya,” kata Schimpf.

Beruntung rekannya sesama fotografer Heinz Toperczer melihat kejadian itu dan berhasil mengabadikannya. Sulit untuk mengatakan siapa yang lebih terkejut dalam situasi ini, Schimpf atau paus. Terlebih peristiwa ini mungkin tidak disangka oleh paus.

“Ketika mulut paus terbuka, mereka tidak dapat benar-benar melihat apa yang ada di depannya. Saya kira paus berpikir itu adalah lumba-lumba,” kata sesama instruktur penyelaman Claudia Weber-Gebert. ”

Paus bukan pemakan manusia. Ini bukan serangan, itu bukan kesalahan paus dan mereka benar-benar sensitif. Mereka adalah raksasa yang lembut, dan itu hanya kecelakaan.

Jika memang paus ingin melakukannya, ia tidak akan bisa menelan Schimpf. Sebagai bagian dari keluarga paus balin, paus Bryde memiliki kerongkongan relatif kecil, lebih kecil dari bola basket. Sehingga mereka hanya bisa memangsa plankton, udang kecil, dan sarden, mustahil menelan manusia.

“Jika yang melakukan itu adalah hiu, saya tidak tahu apa yang akan terjadi,” kata Schimpf. (Kompas)

Advertisement

Science & Technology

April Mendatang Galaxy S10 5G Dipastikan Rilis, Lalu Berapa Ya Kira-Kira Harganya?

Published

on

Galaxy S10 5G

Samsung telah merilis Galaxy S10, namun masih dengan jaringan 4G. Pada 5 April 2019, produsen smartphone yang berbasis di Korea Selatan (Korsel) itu kabarnya akan meluncurkan Galaxy S10 5G.

Finroll.com – Ponsel dengan jaringan 5G pertama di pasaran tersebut sejatinya akan dirilis Maret ini, namun ditunda dengan beragam alasan. GSM Arena mengabarkan Samsung Galaxy S10 5G akan mulai dijual di Korsel pada 5 April 2019 dengan perkiraan harga USD1.332 atau sekira Rp18,7 juta.

Setelah beredar di Korsel, Galaxy S10 5G juga akan mulai dijual di Amerika Serikat (AS) pada 11 April 2019. Sayangnya, Samsung tak membuka pesanan pre-order, sebelum ponsel tersebut resmi diluncurkan.

Samsung Galaxy S10 5G dipastikan memiliki spesifikasi yang tak jauh beda dengan S10 yang sebelumnya diluncurkan. Jaringan 5G adalah hal yang membedakan pada smartphone terbaru yang akan dikeluarkan Samsung tersebut.

Continue Reading

Science & Technology

Google Didenda Rp 23,9 Triliun Oleh Uni Eropa Terkait Periklanan Ilegal

Published

on

Google Didenda Rp 23,9 Triliun Oleh Uni Eropa Terkait Periklanan Ilegal

Finroll.com – Uni Eropa menjatuhkan denda USD 1,7 miliar atau di kisaran Rp 23,9 triliun pada raksasa internet Google. Ini adalah ketiga kalinya Google didenda besar oleh Eropa terkait persoalan monopoli.

Denda terbaru itu karena praktik ilegal periklanan oleh Google dari tahun 2006 sampai 2016. “Keputusan hari ini adalah tentang bagaimana Google menyalahgunakan dominasinya untuk menghentikan website menggunakan broker selain platform AdSense,” kata Margrethe Vedstager, European Competition Commissioner.

Artinya, pengiklan dan pemilik website hanya punya sedikit pilihan dan kemungkinan ongkos lebih tinggi yang dibebankan pada konsumen. Komisi Eropa menyatakan website seringkali punya fungsi pencarian. Ketika konsumen memakainya, selain hasil pencarian juga akan tampil iklan.

Nah, produk ‘AdSense for search’ menyediakan iklan tersebut bagi website, yang dijuluki Komisi Eropa sebagai broker iklan. Di 2006, Google mulai memasukkan kontrak eksklusif sehingga menghalangi publisher memajang iklan dari rival seperti Microsoft dan Yahoo di pencarian.

Berbagai pembatasan lain dilakukan Google yang secara efektif memperkuat dominasinya. Termasuk publisher harus mengajukan izin tertulis jika ingin mengubah penampilan iklan dari pesaing, sehingga Google punya kendali penuh.

“Rival Google jadi tidak mampu tumbuh dan berkompetisi, dan pemilik website hanya punya pilihan terbatas menjual ruang iklan di website itu dan dipaksa bergantung sepenuhnya pada Google,” papar Margrethe.

“Tidak ada alasan bagi Google untuk memasukkan pembatasan itu dalam kontrak mereka, selain untuk menghalangi rival dari pasar,” tambah dia yang dikutip dari BBC.

Google pun menerima denda itu. “Kami selalu sepakat bahwa pasar yang sehat menjadi perhatian semua pihak. Kami telah melakukan perubahan besar pada produk kami untuk menyelesaikan isu Komisi,” kata Kent Walker, Global Affairs Head Google.

Tahun lalu, Komisi Eropa menjatuhkan rekor denda 4,34 miliar euro pada Google karena dianggap bersalah memanfaatkan sistem operasi Android untuk menjegal rival. Di tahun 2017, Google juga didenda 2,42 miliar karena menghalangi rival dari website perbandingan belanja.

source: Inet

Continue Reading

Science & Technology

Terra Drone Indonesia Akan Menyediakan Teknologi Terbaru Dan Tercanggih

Published

on

Terra Drone

AeroGeosurvey Indonesia yang tergabung menjadi bagian dari grup global Terra Drone dengan identitas baru: Terra Drone Indonesia akan menyediakan teknologi terbaru dan tercanggih. Perusahaan akan menawarkan lebih banyak solusi bagi pelanggan di Indonesia.

“Kami telah berdiskusi dengan banyak operator di Indonesia dan kami sangat terkesan dengan rekam jejak yang baik dan pengalaman profesional selama tiga tahun terakhir dari AeroGeosurvey Indonesia,” kata Toru Tokushige, CEO Tera Drone.

Hal tersebut membuat Terra memilih AeroGeosurvey Indonesia untuk menjadi bagian yang tepat untuk mencapai visinya yaitu untuk menjadi perusahaan penyedia jasa terbesar di dunia.

“Melalui investasi yang dilakukan, kedepannya kami dapat menawarkan jasa yang lebih menarik dengan memanfaatkan pengalaman survei 3 dimensi dan teknologi terkini seperti Terra LiDAR yang lebih murah dua sampai tiga kali dari teknologi serupa lainnya,” tambah Michael Wishnu Wardana, Direktur AeroGeosurvey Indonesia.

Hal ini menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk mengeksplor teknologi dan metodologi terbaru termasuk teknologi Light Detection and Ranging (LiDAR), serta inspeksi berbasis Artificial Intelligence (AI), kepada para pengguna di Indonesia dan Asia Tenggara. Terra Dron akan terus berinovasi terkait aplikasi drone yang dapat memberikan dampak besar bagi masyarakat.

AeroGeosurvey akan resmi mengubah identitasnya menjadi Terra Drone Indonesia secara bertahap selama kuartal 1 tahun 2019. (Akurat)

Continue Reading
Advertisement

Trending