Connect with us

Nasional

Tomy dan Balques Jadi Moderator Debat Terakhir Pilpres 2019

Published

on


Tomy dan Balques

Finroll.com – Komisi Pemilihan Umum (KPU) resmi menunjuk jurnalis senior Tomy Ristanto dan jurnalis TV One Balques Manisang sebagai moderator debat kelima Pilpres 2019. Keduanya pun sudah menandatangani pakta integritas untuk memandu debat terakhir yang mempertemukan Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Debat akan diselenggarakan di Hotel Sultan Jakarta, Sabtu (13/4). TV One, ANTV, BeritasatuTV dan NET TV, ditunjuk sebagai penyelenggara.

Siapa Tomy Ristanto dan Balques Manisang?

Tomy sendiri sudah malang melintang di dunia pertelevisian sebelum dipilih menjadi wasit di debat terakhir. Pria yang akrab disapa Tomrist ini memulai karier di layar kaca pada 2004.

Usai menyelesaikan pendidikan sarjana hukum di Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta, ia bergabung dengan Metro TV. Saat itu Tomy menjadi reporter sekaligus junior producer di Metro TV. Dia menjalani karier di Metro TV selama enam tahun hingga 2010.

Usai menimba ilmu di sana, ia loncat ke Trans 7. Di sini, Tomy naik kelas. Ia didapuk menjadi produser berita selama kurang lebih empat tahun lima bulan. Sambil berkarya di Metro TV, Tomy melanjutkan pendidikannya ke jenjang pascasarjana. Ia mengambil jurusan komunikasi politik di Universitas Paramadina, Jakarta, pada 2011 hingga 2015.

Pada 2015, penggemar bulu tangkis ini pindah ke Net TV. Hingga sekarang, Tomy berperan sebagai produser sekaligus pembawa berita di Net TV.

Tomy tercatat pernah masuk nominasi penghargaan KPID Riau pada 2013. Dia masuk nominasi penghargaan kategori berita feature lewat karyanya “Madu Sialang, si Manis Karya Nutrisi”. Saat ini Tomy diberi mandat mengatur ‘lalu lintas’ debat antara Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandi. Ia pun meminta masyarakat menyaksikan debat pamungkas tersebut untuk mendapat informasi jernih tanpa hoaks.

“Kami mengajak seluruh masyarakat, khususnya millenials, menonton debat pamungkas ini. Jangan hanya berdasarkan medsos, rumor, tapi ayo kita semua jadi saksi menyukseskan pesta demokrasi tahun ini,” kata dia seusai menandatangani pakta integritas, Rabu (10/4/2019).

Debat Capres Kelima akan mempertemukan kembali dua pasangan calon. Mereka akan membahas tema Ekonomi, Kesejahteraan Sosial, Keuangan dan Investasi, serta Perdagangan dan Industri.

Sementara itu, Balques Manisang dikenal sebagai jurnalis yang lekat dengan stasiun televisi TV One. Sejak 2008, Balques memulai kiprah di dunia jurnalistik melalui stasiun televisi tersebut.

Sebelum berkarier, ia tercatat pernah menempuh pendidikan di London School of Public Relations (LSPR), Jakarta. Selama empat tahun ia mengambil program sarjana komunikasi massa.

Di TV One, Balques membesut satu program siaran jurnalistik berjudul ‘Fakta’. Di program ini, Balques mengajak publik menemui berbagai pihak untuk membahas isu-isu terkini di masyarakat.

Salah satu episode fakta yang menjadi buah bibir adalah saat membahas Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pemilu 2019. Episode ini tayang usai Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi melapor ke KPU bahwa ada 17,5 juta pemilih invalid.

Saat itu Balques menemui Direktur Jenderal Kependudukan dan Catatan Sipil Zudan Arif Fakrulloh. Balques diajak meneliti basis data kependudukan yang digunakan untuk Pemilu 2019.

Namun di tengah-tengah tayangan, Balques menemukan data janggal. Nama Pelinus Wenda tercatat lahir pada tahun 1873. Zudan pun langsung meminta bawahannya untuk memperbaiki data keliru tersebut. Cuplikan episode tersebut sempat beredar luas di Twitter.

Kini Balques akan menunjukkan kemampuannya dalam memandu debat. Ia dan Tomy telah diikat pakta integritas untuk menunjukkan independensi mereka sebagai moderator.

Usai menandatangani pakta integritas, Balques menyampaikan tugas menjadi moderator adalah sebuah kehormatan sekaligus juga tantangan agar pesan dari semua pihak tersampaikan.”Kita tidak bisa memenuhi ekspektasi semua orang, tapi kami akan mencoba yang terbaik karena ini debat pamungkas,” kata Balques usai penandatanganan pakta integritas, Rabu (10/4/2019).

Nasional

Tembus 8 % Versi Hitung Cepat, 2 Hal Ini Penyebab Suara PKS Naik

Published

on

Tembus 8 % Versi Hitung Cepat, 2 Hal Ini Penyebab Suara PKS Naik

Finroll.com – Hasil hitung cepat atau quick count sementara di sejumlah lembaga survei menunjukkan bahwa Partai Kesejahteraan Sosial (PKS) mampu mencapai angka 8 persen. Pengamat politik dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, Adi Prayitno menilai ada dua faktor yang menjadi alasan naiknya suara PKS.

“Pertama posisi PKS yang konsisten berada di barisan depan kubu oposisi pemerintah,” ujar Adi saat dihubungi, Kamis, 18 April 2019.

Perolehan suara PKS pada Pemilu 2019 ini diprediksi naik dibandingkan pemilu sebelumnya. Pemilu 2014, PKS meraih suara 6,79 persen.

Menurut Adi, PKS dan Partai Gerindra mendapat berkah elektoral karena berada di kelompok posisi. Akan tetapi, dua partai pengusung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, yaitu Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Demokrat tidak mendapatkan berkah yang sama. Alasannya, kata Adi, kedua partai itu setengah hati mendukung pasangan nomor urut 02.

Adi menilai, meski PAN dan Demokrat kerap mengkritik kinerja pemerintahan Joko Widodo atau Jokowi, tetapi di sisi lain mereka juga acap kali menunjukkan berpihak ke pemerintah. “Nah, kalau PKS tidak begitu. PKS ambil garis yang cukup tegas dengan pemerintah,” tutur Adi.

Ia menambahkan, faktor kedua yang membuat PKS meraup suara banyak karena sebagian besar pemilih Islam yang tergabung dalam Persatuan Alumni 212 merupakan pendukung paslon 02. Sehingga, di mata pemilih Islam, PKS pun bukan hanya partai yang dianggap murni menentang pemerintah.

“Mereka juga melihat PKS memiliki warna Islam yang serupa. Muslim perkotaan, kelompok terpelajar,” kata Adi.

Berdasarkan hasil penghitungan cepat saat ini, PKS mendapatkan suara sekitar 8-9 persen. Quick count Litbang Kompas menunjukkan PKS mendapat suara 8,56 persen, Indo Barometer mencatat PKS meraup 9,66 persen, dan LSI Denny JA merilis PKS memperoleh 8,04 persen.

Continue Reading

Nasional

Suara PPP di Pemilu 2019 Anjlok, Efek Romy Kena OTT?

Published

on

Suara PPP di Pemilu 2019 Anjlok, Efek Romy Kena OTT?

Finroll.com – Partai Persatuan Pembangunan (PPP) selangkah lagi akan kembali melenggang ke Senayan. Hal ini sebab, dari hasil quick count, sejumlah lembaga survei memastikan perolehan suaranya sudah di atas ambang batas parlemen 4 persen. Seperti hasil yang dirilis Poltracking Indonesia PPP memperoleh 4,48 persen dari suara masuk 99,30 persen; Charta Politika 4,82 persen dari suara masuk 98,6 persen; LSI Denny JA 4,34 persen dari suara masuk 99,7 persen.

Menanggapi hal ini, Wasekjen PPP Achmad Baidowi mengatakan, dirinya sudah meyakini sejak awal jika prediksi partainya tidak akan lolos akan salah. Menurutnya, kinerja mesin partai terus bergerak, ditambah PPP sudah teruji di 10 pemilu. Hal itu membuat keyakinan muncul di pemilu 2019 PPP juga akan kembali lolos.

“Para caleg bekerja maksimal dan pemilih tradisional PPP masih bertahan, serta kita juga menjangkau pemilih baru. Meskipun PPP kena musibah tapi kami masih bisa keluar dari kemelut,” ujar Baidowi, Kamis (18/4).

Ditangkapnya Romahurmuziy memang diakui Baidowi menjadi musibah partai. Namun, dengan segala upaya PPP tetap bisa keluar dari kesulitan itu.

Meski begitu, PPP masih memiliki catatan minor, mengingat perolehan suaranya turun dari hasil pemilu 2014. Di mana dari hasil hitung resmi KPU kala itu PPP memperoleh 6,53 persen.

Fakta ini dikatakan Baidowi akan menjadi bahan evaluasi. Ia pun berharap agar pemilu presiden dan pemilu legislatif agar tidak berlangsung bersamaan.

“Harus diakui sistem pemilu turut berpengaruh yakni dengan pemilu serentak membuat kinerja parpol banyak yang tenggelam,” pungkasnya.

Namun, Baidowi menilai, jika pemilu tetap berjalan serentak, maka harus ada peninjauan aturan presidential threshold. Supaya persaingan tidak hanya terfokua pada dua pasangan calon seperti pemilu 2019.

Terpisah, pengamat politik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Adi Prayitno mengatakan, PPP mampu keluar dari musibah besar, yaitu tertangkapkanya mantan Ketua Umumnya, Romahurmuziy satu bulan sebelum pencoblosan. Meski ada ganjalan itu, mesin partai ini tetap bekerja dan memperoleh suara untuk bertahan di Senayan.

“PPP memiliki infrastruktur politik yang baik hingga tingkat daerah. Mesin partainya pun bekerja, sehingga walaupun mendapatkan musibah menjelang pemilu berlangsung, partai ini masih tetap eksis di Pemilu kali ini,” kata Adi.

Adi menilai, lembaga survei sebelum Pemilu seringkali gagal membaca kekuatan partai Islam seperti PPP yang hanya dilihat di permukaan. Sehingga terlihat PPP akan gagal bertahan di parlemen. Padahal anatomi kekuatan politik PPP itu terletak di Caleg dan jaringan struktur yang terbangun masif cukup lama.

“Mungkin saat disurvei, kekuatan caleg dan jaringan belum terpotret utuh sehingga data yang muncul tidak utuh. Dan hampir tiap pemilu lembaga survei selalu gagal memprediksi partai Islam macam PPP yg selalu diklaim tak lolos. Survei-survei sepertinya harus mengevaluasi akurasi survei mereka,” tambahnya.

Ia menambahkan bahwa PPP memiliki akar masa lalu yang cukup kuat. Sejarahnya bisa dilacak sejak bangsa ini ada. Maka jaringan grass root-nya kuat.

Continue Reading

Nasional

Panwascam Dikeroyok Masa Pendukung Caleg, Kotak dan Surat Suara Dibakar

Published

on

Panwascam Dikeroyok Masa Pendukung Caleg, Kotak dan Surat Suara Dibakar

Finroll.com – Anggota Panitia Pengawas Kecamatan (Panwascam) di Daerah pesisir Bukit, Kota Sungai Penuh, Jambi dikeroyok masa yang diduga pendukung salah satu calon legislatif (Caleg) dari dapil II kota sungai penuh.

Seperti dilansir laman viva, Kamis (18/4), Peristiwa itu terjadi di area TPS 2, Desa Kota Bento, Kecamatan Pesisir Bukit, pukul 01.00 WIB, Kamis, 18 April 2019. Saat itu Suardi tengah bertugas sebagai Panwascam.

Menurut Ketua Bawaslu Sungai Penuh, Jumiral Lestari, saat itu Suardi bersama tiga staf Panwascam mendatangi TPS 2, karena diduga ada warga yang berbuat onar di sana dan memprovokasi massa untuk membakar kotak suara.

“Nah, pada saat Suardi mengeluarkan HP (handphone) untuk merekam, tiba-tiba ada yang memukul dan terjadilah pengeroyokan dan penganiayaan,” kata Jumiral.

Jumiral mengaku langsung ke lokasi kejadian dan melaporkan peristiwa tersebut kepada polisi, sekalian mengantar Suardi ke rumah sakit terdekat untu visum. Aparat lain Bawaslu bersama Polisi segera mengamankan lokasi penganiayaan itu.

Massa yang belum diketahui identitasnya itu juga membakar kotak suara dan surat suara di tiga TPS. Belum diketahui pasti motifnya, dan aparat masih menyelidiki peristiwa ini.

Continue Reading
Advertisement

Trending