Connect with us

Ragam

Terjebak Dalam Gedung Saat Terjadi Gempa, Ini yang Harus Anda Lakukan

Published

on


BMKG Catat Aktivitas Gempa di Indonesia Meningkat Tajam di Tahun 2018, Akibat Apa?

Finroll.com – Gempa bumi tidak bisa diprediksi kedatangannya. Oleh karena itu kita harus selalui siap melakukan segala macam antisipasi untuk menyelamatkan diri. Banyak orang tewas saat terjadi gempa sebab mereka tidak sempat melarikan diri atau mereka tidak tahu bagaimana cara menyelamatkan diri jika seandainya terjebak, terutama saat berada di bangunan yang tinggi.

Jika seandainya kamu sedang berada di lantai atas sebuah gedung, kemudian terjadi gempa, jangan coba-coba untuk meninggalkan gedung. Lalu harus bagaimana, kalau tinggal di gedung takut terkena reruntuhan?

Ada beberapa pertimbangan antara harus keluar gedung dan tetap tinggal. Jika kamu berada di lantai bawah, kamu boleh saja keluar gedung, tapi jika berada di lantai atas, terlalu berisiko untuk meninggalkan gedung karena tidak akan sempat.

Salah satu kesempatan terbaik untuk menyelamatkan diri adalah dengan tidak melarikan diri keluar gedung. Tapi bukan berarti kamu hanya diam saja, kamu harus memanfaatkan segala sesuatu yang dianggap bisa melindungimu dari reruntuhan.

Dikutip dari situs Quora, seorang ahli geofisika kelautan Kelly Martin memberikan sedikit tips tentang cara menyelamatkan diri saat terjadi gempa jika posisi sedang berada di lantai atas gedung.

Jika sedang berada di lantai atas, jangan coba-coba melarikan diri keluar gedung karena tidak akan sempat. Jika kamu mencoba keluar gedung, kemungkinan besar kamu bakalan jatuh dan kemudian tertimpa puing-puing bangunan.

Berlindung adalah pilihan terbaik.

Menurut sebuah studi di Jepang, berlari setidaknya sejauh 3 meter selama gempa bumi dapat meningkatkan peluang cedera.

Andaipun kamu bisa keluar gedung, risiko terkena reruntuhan di luar juga sangat besar. Berlindung di dalam gedung adalah salah satu cara terbaik untuk menyelamatkan diri. Namun kamu harus jeli memilih tempat berlindung yang dianggap bisa melindungi tubuh dari reruntuhan, seperti di bawah meja.

Namun yang jadi permasalahan adalah jika gedungnya ambruk total. Kemungkinan untuk selamat sangat kecil. Tapi jika berlindung, setidaknya kamu masih memiliki kesempatan untuk hidup sampai petugas mengevakuasimu.

Intinya jangan panik saat terjadi gempa, tapi berpikirkan dan pandai menilai situasi. Orang yang panik saat terjadi gempa cenderung mengalami cedera parah hingga meninggal dunia.

Ragam

Fakta-Fakta tentang Fenomena Topi Awan di Puncak Gunung Rinjani

Published

on

By

Finroll.com – Media sosial diramaikan dengan fenomena “topi awan” putih tebal yang menaungi puncak Gunung Rinjani di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Fenomena alam unik itu sontak menjadi buruan swafoto, baik warga maupun para turis.

Dilansir Antara, Rabu, 17 Juli 2019, topi awan yang terjadi kemarin itu terbilang sempurna. Meski pernah terjadi sebelumnya, warga setempat tetap menilai kejadian itu sebagai peristiwa langka.

“Awan putih yang melingkari puncak Gunung Rinjani kali ini, memang benar-benar sempurna,” kata warga Sembalun Lawang, Lombok Timur, Rosidin.

Lingkaran awan putih itu berlangsung sejak pukul 07.00 Wita sampai 09.30 Wita. Kemunculannya tepat saat matahari terbit. “Bahkan warna dan ketebalannya berganti-ganti,” katanya.

Awalnya, kata dia, ia mengabadikan fenomena itu dari rumahnya. Ia kemudian berpindah ke rest area Sembalun Lawang dan di lokasi itu sudah banyak yang berswafoto.

“Rest area Sembalun Lawang lokasi yang paling pas untuk mengambil foto Gunung Rinjani secara full,” katanya. Hal senada dikatakan Nur Saat, warga Desa Senaru, Lombok Utara yang melihat fenomena alam itu. “Saya semula dikirim foto saja, tapi setelah dilihat memang benar-benar sempurna bentuknya,” katanya.

Biasanya “topi awan” tersebut sering terbentuk. Namun, bentuknya tidak sempurna dan tidak berlangsung lama. “Banyak yang swafoto melihat fenomena awan itu,” katanya

Dikaitkan dengan Pertanda Buruk

Rosidin menjelaskan, fenomena puncak Gunung Rinjani “bertopi” sebetulnya sudah sering kali terjadi. Hanya saja, awan yang melingkar di atas puncak Rinjani itu tidak sebundar dan sebesar seperti yang terjadi pada saat ini.

“Masyarakat sudah biasa melihat ada lingkaran awan di atas puncak Rinjani. Tapi memang yang sekarang tidak sebundar dan sebesar yang sekarang,” terang Rosyidin.

Ia mengatakan, meski bukan kejadian pertama kali, banyak warga yang mengaitkan fenomena awan bertopi di atas puncak Rinjani dengan kejadian gempa yang terjadi akhir-akhir ini di daerah itu. Ada pula yang mengaitkan dengan fenomena Gerhana Bulan yang terlihat pada Rabu dini hari sekitar pukul 04.00 Wita di wilayah itu.

Namun bagi warga sekitar Sembalun, kata Rosidin, fenomena puncak Rinjani bertopi pertanda ada orang yang meninggal. Dalam artian, orang yang meninggal bukan orang sembarangan atau masyarakat kecil, melainkan pejabat atau tokoh-tokoh penting.

“Buat warga Sembalun ini pertanda orang meninggal. Tapi kalau dikaitkan gempa, kami tidak percaya. Karena ini kejadian lumrah, setiap musim kemarau pasti awan seperti ini terjadi. Cuman ini mungkin karena lingkarannya lebih besar,” ungkapnya.

Penjelasan BMKG

Sementara itu, Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Mataram, Agus Rianto mengatakan fenomena puncak Gunung Rinjani tertutup awan yang melingkar seperti “bertopi” tak ada kaitannya dengan pertanda gempa yang terjadi akhir-akhir ini di Nusa Tenggara Barat.

“Itu fenomena alam dari awan Lenticular,” ujarnya di Mataram, kemarin.

Ia menegaskan, fenomena alam Lenticular tidak berkaitan dengan terjadinya gempa bumi. Adapun masyarakat yang mengaitkan fenomena alam Lenticular dengan akan terjadinya gempa adalah sebuah kesalahpahaman.

“Tidak ada kaitannya, itu hanya rumor, awan caping itu berbahaya bagi penerbangan, bukan tanda tanda terjadinya gempa,” tegas Agus.

Ia menjelaskan bentuk awan seperti topi/caping/piring raksasa dan awan yang melingkari gunung, disebut Awan Lenticular. Biasanya, awan tersebut dapat ditemukan di dekat bukit atau gunung-gunung, karena terbentuk dari hasil pergerakan angin yang menabrak dinding penghalang besar, seperti pegunungan dan perbukitan, sehingga menimbulkan sebuah pusaran.

Menariknya, awan Lenticular kelihatan begitu padat, namun hakikatnya tidak demikian. Awan ini terlihat padat karena aliran udara lembab terus menerus mengaliri sang awan dan akan keluar lewat permukaan paling bawah. Akibatnya, bentuk awan Lenticular akan bertahan hingga berjam-jam, bahkan berhari-hari.

Bagi dunia penerbangan, awan Lenticular ini sangat mematikan karena sang awan bisa menyebabkan turbulensi bagi pesawat yang nekat memasuki awan atau hanya terbang di dekat awan Lenticular.

Continue Reading

Ragam

Ini Asal-usul Nama Tebet di Jakarta Selatan

Published

on

By

Finroll.com –  Tebet adalah sebuah tempat atau kawasan yang merupakan sebuah kecamatan di Jakarta Selatan.

Wilayah Tebet meliputi Kelurahan Menteng Dalam, Kelurahan Tebet Barat, Kelurahan Tebet Timur, Kelurahan Kobon Baru, Kelurahan Bukit Duri, Kelurahan Manggarai, dan Kelurahan Manggarai Selatan.

Kawasan Tebet termasuk wilayah padat penduduk, meski ada beberapa bagian wilayahnya masih berupa tanah kosong.

Mengapa kawasan ini disebut Tebet? Zaenuddin HM menjelaskan dalam bukunya “212 Asal-Usul Djakarta Tempo Doeloe,” setebal 377 halaman, yang diterbitkan Ufuk Press pada Oktober 2012.

Menurut sejarah, dahulu daerah itu berupa rawa-rawa dan semak belukar yang menyerupai hutan tebat.

Kata “lebat” oleh orang-orang Melayu yang menjadi penduduknya di masa itu. disebutnya dengan “tebat.”

Sedangkan orang-orang Betawi yang merupakan penduduk mayoritas, menyebut “tebet” alias rimbun atau lebat. Nah, semenjak itulah hingga sekarang, kawasan itu disebut Tebet.

Tebet di masa kini bukan lagi rawa-rawa becek atau semak belukar melainkan permukiman penduduk, perkantoran, serta banyak distro yang menjual berbagai model pakaian sebagai gambaran gaya hidup anak-anak muda metropolitan.

Continue Reading

Ragam

Viral Larangan Swafoto di Pesawat, Lantas Seberapa Bahaya Berfoto di Pesawat?

Published

on

By

Garuda Indonesia Mendarat Darurat di Sri Lanka, Ini Penyebeabnya

Finroll.com – Surat edaran larangan berfoto atau mengambil gambar pesawat Garuda Indonesia menjadi viral, padahal surat tersebut belum resmi dilansir pihak Garuda Indonesia.

Surat edaran bernomor No. JKTCSS/PE/60145/19 tersebut langsung menuai protes netizen. Pihak Garuda akhirnya belum mengumumkannya secara resmi, namun mengimbau masyarakat untuk tidak berfoto di sekitar pesawat atau di dalam kabin.

“Surat tersebut merupakan edaran internal internal perusahaan yang belum final yang seharusnya belum dikeluarkan dan tidak untuk publik,” ujar VP Corporate Secretary Garuda Indonesia, M. Ikhsan Rosan dalam rilis yang diterima TEMPO.

Sejatinya, imbauan itu ditujukan agar para penumpang menghormati privasi penumpang lain dan awak pesawat yang sedang bertugas. Garuda menganggap aturan tersebut tak bertentangan dengan UU Penerbangan dan UU ITE, dan UU terkait lainnya.

“Garuda Indonesia berkomitmen untuk menjaga privasi seluruh penumpang dan awak pesawat, berdasarkan laporan, saran dan masukan pelanggan atau penumpang yang merasa tidak nyaman dan terganggu,” ujar Ikhsan. Pengambilan gambar dan kegiatan dokumentasi tanpa izin mengganggu privasi para penumpang lainnya bahkan kru kabin.

Namun Garuda Indonesia tetap memperbolehkan pengambilan foto ataupun swafoto, selama tidak mengganggu kenyamanan atau merugikan penumpang lain. Imbauan ini sejatinya sangat wajar. Pasalnya, memotret kru kabin atau penumpang lainnya, terbilang tak etis.

Bahkan, memotret sebenarnya bisa membahayakan Anda juga mengganggu kenyamanan. Saat asik memotret, konsentrasi tertuju pada obyek gambar, hal ini bisa berakibat fatal, misalnya tersandung. Penumpang yang berjalan menuju pesawat, kerap memotret dan mengabaikan sekeliling.

Maka, risiko jatuh karena terpeleset atau tersandung sesuatu bisa membahayakan diri sendiri. Meskipun kecelakaan ringan di dalam bandara terutama menuju pesawat dijamin asuransi, tapi bukan ditujukan untuk kecerobohan.

Alhasil, berswafoto atau memotret di sekitar maupun di dalam pesawat memang perlu kehati-hatian. Jangan sampai melanggar privasi ataupun mengundang kecelakaan diri yang tak perlu. Bahkan, di beberapa area bandara terdapat daerah pengamanan terbatas, yang seharusnya memang tak boleh difoto.

Continue Reading
Advertisement

Trending