Connect with us

Citizen Journalism

Tentang Empat Laki-Laki Bernama “Muhammad” di Acara Reuni 212

Published

on


Sabtu Malam, pukul 22.20 Wib, saya berangkat dari kediaman keluarga istri di Cipayung, Jakarta Timur, menuju Monas dengan hati yang betul-betul bahagia, sepenuhnya bahagia. Bahagia karena dengan mantap akhirnya saya memutuskan untuk hadir dan bertemu lagi dengan saudara-saudara muslim dari berbagai penjuru Indonesia di Monas. Ini kali yang ketiga pasca Aksi Damai 212 yang fenomenal itu dan Reuni 212 yang pertama.

Bahagia juga karena saya bisa bertemu orang-orang hebat di sana. Walaupun jalan yang saya tempuh, bisa dibilang enggak lancar-lancar amat, cukup melelahkan. Karena saya yang mengendarai sepeda motor seorang diri—ini pun pilihan saya dengan berbagai pertimbangan— dibuat pusing oleh rekayasa lalulintas.

Meskipun jalan sebetulnya cukup lengang, tapi untuk memarkir kendaraan, kendati hanya kendaraan roda dua, saya harus berputar-putar mulai dari Gambir, Istiqlal, sampai melewati Cideng Timur untuk sekadar mencari lokasi parkir yang lebih aman dan dekat dengan Monas. Seorang teman menyarankan untuk parkir di Bank Indonesia yang sayangnya malam itu pagarnya ditutup rapat.

Akhirnya, saya memutuskan parkir di sebuah jalan di sisi utara Bank Indonesia, kalau saya enggak salah. Saya memang agak kesulitan kalau disuruh menentukan arah mata angin, sesulit menentukan harus bagaimana hati ini ketika matamu mengerling, Dik. Eeaa.

Usai memarkir motor, saya rehat sebentar di dekat Patung Kuda dan berbincang ngalor-ngidul dengan Rahmat, salah seorang Polisi Pamong Praja, yang ditugaskan membantu menjaga ketertiban di acara Reuni 212. Anak Betawi asli yang merasa heran dengan orang-orang yang selalu mendiskreditkan acara 212. Pasalnya, selama ini, sejak aksi 212 dua tahun yang lalu, ia yang selalu ditugaskan membantu ketertiban acara-acara itu, merasa tak terlalu sulit mengarahkan peserta aksi.

“Lah, ane belon ngarahin, itu panitia udeh teriak-teriak pake megaphone ngarahin peserta supaya kagak nginjek rumput. Alhasil, begini doang dah kerjaan ane, ngupi ame ngudud bae. Hahaha.” Pungkasnya.

Akhirnya, Saya Bertemu dengan Muhammad 

Saya sedang rebahan di tepi jalan masuk pintu tenggara Monas, beralaskan tas dan sorban putih yang saya bawa, waktu itu sekitar pukul dua dinihari, lalu saya teringat seorang sahabat dari daerah yang kotanya dikenal dengan nama Kota Khatulistiwa, karena dilalui garis khatulistiwa. Saya kirim pesan via WhatsApp, menanyakan posisinya saat itu.

Ternyata beliau sudah berada di lokasi, di belakang panggung utama bersama sahabat-sahabat dari KHAT (Khilafah Arts Network), sebuah komunitas jejaring seniman yang berisi para seniman yang telah bertaubat dan mendedikasikan karya-karyanya untuk peradaban Islam. Apa? Khilafah?

Kenapa? Alergi dengar kata itu? Ya, khilafah, Ustadz Abu Faqih alias Muhammad Nunung Binarto Aji memang anggota organisasi yang telah dibubarkan itu. Tapi kamu enggak akan menyesal mengenal laki-laki ramah yang gemar mengulum senyumnya itu.

Ustadz Abu Faqih adalah sosok yang hamble untuk teman berdiskusi, wawasannya yang luas dibingkai dengan tuturnya yang santun membuat saya betah berjam-jam ngobrol dengan beliau.

Dan pagi itu, semilir angin, tugu Pangeran Diponegoro, dan barisan pohon palem menjadi saksi sebuah persahabatan dua laki-laki yang dipertemukan oleh media sosial kepunyaan seorang Yahudi. Yang satu seorang tukang kopi, simpatisan PKS dari Bogor, satunya lagi seorang kontraktor anggota HTI dari Pontianak. Lihatlah! Betapa jomplangnya persahabatan itu. Haha.

Mengenal Lebih Dekat Sosok Mohammad

Seorang laki-laki gagah; berjas, berdasi dan berpeci dengan sorot mata yang begitu teduh berhasil merenggut perhatian saya dari banyaknya orang-orang yang berlalu lalang di salah satu sudut Monas. Ia berpetuah,

“Setiap pemerintah harus mendekati kemauan rakyat. Inilah sepatutnya dan harus menjadi dasar untuk memerintah. Pemerintah yang tidak memedulikan kemauan rakyat tidak akan bisa mengambil aturan yang sesuai dengan perasaan rakyat”.

Nama depannya serupa dengan nama saya, Mohammad, ia juga tak memakai huruf “U” untuk menulis Muhammad, tapi huruf “O”. Siapa dia sebenarnya?

Mengutip dari tirto.id, Mat Seni, begitu ia dipanggil, adalah salah satu Pahlawan Nasional dari Betawi, di usianya yang baru menginjak 25 tahun, ia sudah menjadi anggota Dewan Kota. Sidang Dewan Kota tanggal 17 Oktober 1919 adalah sidang pertamanya.

Sebagai anggota Dewan Kota Jakarta, dirinya begitu peduli pada permasalahan orang pribumi. Program perbaikan perkampungan orang-orang pribumi di kota Jakarta adalah bagian dari perjuangannya. Dia melihat kesenjangan antara kampung-kampung orang pribumi dengan jalan raya besar dan bangunan-bangunan pemerintahan yang megah. Bangunan-bangunan itu adalah simbol kota Jakarta, yang kala itu disebut Batavia.

“Batavia masih tetap seperti lukisan dengan pigura bagus, dihiasi dengan villa yang luas dengan jalan lebar, sementara kampung-kampung terwakili pada kanvas tak berharga,” ujarnya.

Prestasi besar Mat Seni dan koleganya untuk kebaikan orang pribumi salah satunya adalah penghapusan Poenale Sanctie, sebuah ordonansi (undang-undang) mengenai kuli yang muncul pada 1880 dan diperbarui  pada 1889.

Dalam ordonansi ini, pemerintah kolonial memberikan wewenang kepada perusahaan perkebunan untuk memberi hukuman pada kuli yang melanggar kontrak. Jika seorang kuli dianggap melanggar kontrak atau malas bekerja, yang bersangkutan boleh diberi hukuman tanpa melalui proses peradilan.

Saat itu, Mat Seni sudah menjadi anggota Dewan Rakyat, setelah bertahun-tahun menjadi anggota Dewan Kota.

Situs Mohammad Husni Thamrin di Monas (foto by Muhammad Yulius)

Berbincang Panjang dengan Muhammad, Sang Murobbi 

Tatkala saya sedang asyik mengambil gambar para peserta Reuni 212, persis di bawah patung Mohammad Husni Thamrin, di sebelah saya ada seorang laki-laki yang juga sedang mengambil gambar. Wajahnya sangat familiar buat saya. Setengah ragu, saya beranikan diri menegurnya, “Bang Iyus!”

Dia menoleh, “Masih ingat saya?” Tanya saya, seraya mengulurkan tangan untuk menyalaminya, ia berpikir sekilas, kemudian memeluk saya, “Akh Iwan, Masya Allah, apa kabar?”

Pagi itu, cukup lama kami bernostalgia, dari matahari sinarnya masih sejuk sampai sinarnya terasa perih di kulit saya yang sawo matang (tapi kelewat matang). Ngobrol ngalor ngidul, dari soal keluarga, pekerjaan, haru biru perjalanan PKS, sampai perkara polarisasi di Indonesia yang ngawurnya semakin semena-mena.

Beliau—yang memiliki nama asli Muhammad Yulius, yang dulu setiap pekan selalu mengajari saya banyak hal tentang islam di sela kesibukannya sebagai Redaktur di Annida—dengan lugas berujar,

“Yang enggak boleh kita lakukan adalah, membela sesuatu secara berlebihan atau sebaliknya, membenci sesuatu secara berlebihan. Ketika kita sudah membela dengan membabi buta, mata kita secara otomatis akan tertutup pada kekurangan-kekurangannya yang sebetulnya adalah keniscayaan. Sebaliknya, saat kita sudah membencinya sampai ke denyut nadi, mata kita akan ditabiri dengan kebaikan-kebaikan yang ada padanya.”

Ah, Bang Iyus, antum enggak pernah berubah. Kendati antum kini memilih jalan seni untuk berdakwah, ghirah dan pemikiran-pemikiran antum selalu menginspirasi dan memotivasi laki-laki kikuk nan lemah di hadapanmu ini. Hikz.

Dan, Saya pun Ter-ambulance-kan

Kebahagiaan demi kebahagiaan seperti enggan beringsut dari saya, di tengah panasnya sinar sang penguasa siang, di antara sesaknya antrean para peserta yang bergerak pulang, dari balik lensa kacamata yang menghitam dihantam terik surya, mata saya yang mulai perih karena tak sempat meram melihat sebuah mobil ambulance yang terparkir di seberang pintu keluar dekat stasiun Gambir.

Ini seperti mobil yang ada di foto Mas Poer, teman sekolah saya yang hari itu ditugaskan sebagai relawan bagian logistik untuk Acara Reuni 212, oleh kantornya. Saya berusaha menepi dan menghubunginya, qadarallah pun berlaku. Oleh Mas Poer, saya diajak masuk ke dalam mobil ber-AC itu, ditawari makan dan minum, masya Allah. Nikmat mana lagi yang hendak kamu dustakan, Dul?

Untuk kebahagian-kebahagian yang mengejutkan tersebut, saya hanya bisa bersyukur dan berdoa. Semoga Allah selalu memberikan dan menjaga kelurusan dan ketulusan hati orang-orang baik yang kemarin hadir di Monas, khususnya buat Bang Rahmat, Mas Poer, dan Muhammad-Muhammad yang saya temukan di tengah acara Reuni 212. Aamiin.

Citizen Journalism

Kritik untuk KPU: Alternatif Bahan Kotak Suara yang Lebih Hemat dan Kuat dari Kardus

Published

on

Perhelatan akbar pesta demokrasi rakyat Indonesia semakin mendekati hari H. Hanya tersisa waktu kurang lebih 4 bulan lagi menuju hari pencoblosan yang rencananya akan diselenggarakan tanggal 17 April 2019.

Segala persiapan pun dilakukan demi lancarnya pelaksanaan Pemilu 2019, yang berbeda dari pelaksanaan pemilu di periode sebelumnya. Kali ini rakyat akan langsung melakukan pemilihan legislatif (anggota DPD, DPRD, DPR RI) dan pemilihan eksekutif (Presiden dan Wakil Presiden) dalam satu hari pencoblosan.

Meski efisien dalam segi waktu dan tenaga kerja, namun kebutuhan logistik pemilu pelaksanaan konsep ini justru lebih meningkat. Terutama soal kotak suara yang berfungsi mengumpulkan kertas suara yang sudah dicoblos warga.

Biasanya tersedia rentang waktu tiga sampai empat bulan antara pileg dengan pilpres sehingga kotak suara yang terbuat dari alumunium dapat dipakai bergantian. Namun hal ini tidak bisa lagi dilakukan di Pemilu 2019 nanti.

Dengan alasan menekan anggaran, Komisi Pemilihan Umum (KPU) berinovasi untuk membuat kotak suara dari kardus, bukan dari alumunium seperti biasanya. Tentu hal ini menimbulkan pro dan kontra.

Sejauh pandangan saya penolakan terhadap kotak suara dari kardus ini bukan saja berasal dari peserta pemilu yaitu partai politik dan para calon, tetapi juga dari segenap masyarakat. Mereka tak bisa menerima rasionalisasi dari pihak KPU yang menyatakan bahwa kotak suara kardus lebih kuat dari kotak suara alumunium. Bayangin ajah, gan 😑

Bahkan komisioner KPU RI, Ilham Saputra sempat membuktikan kekuatan kotak suara kardus ini dengan cara diduduki. Hal itu dilakukan saat ia melakukan pemantauan langsung ke pabrik produsen kotak dan bilik suara di PT Karya Indah Multiguna (KIM), di Jalan Narogong, Kota Bekasi. Kotak kardus tersebut masih terlihat kokoh dan tidak penyok saat Ilham yang berbobot 107 Kg mendudukinya.

Sayang pembuktian hanya sampai disitu, padahal masyarakat ingin melihat bagaimana jadinya kalau Pak Ilham menduduki kotak kardus tersebut sambil disirami air. Apakah kotak kardus masih akan kokoh? Atau hanya basah-basah manja meski Pak Ilham sudah basah kuyup? Sungguh masih misteri.

Masyarakat seperti saya juga ingin tahu, apakah kotak kardus tersebut yang nantinya juga bakal dipakai di TPS Terapung adalah kotak anti badai yang tak mudah terbawa angin sekaligus bertahan jika sewaktu-waktu tak sengaja jatuh ke laut. Untuk itu kami meminta Pak Ilham untuk mencoba masuk kedalam kotak dan menceburkannya ke dalam kolam. Atau letakan kotak di lapangan saat turun hujan. Kalau air tidak mampu menembus kardus dan Bapak merasa baik-baik saja di dalam kardus -tidak basah, rapuh dan lengket-  seperti yang akan kertas suara alami jika terkena air, maka kami baru percaya bahwa kotak suara kardus tersebut lebih baik kualitasnya dari kotak suara alumunium.

Tolong jangan cemberut dulu Pak. Kami mengkritisi ini bukan tanda tak cinta dan hanya mencari-cari kesalahan. Bukankah sebagai rakyat kami sering disuguhi berita berupa laporan baik dari KPUD maupun KPU RI yang menyatakan bahwa adanya kertas suara yang rusak akibat terkena air, terjatuh ke laut, dll.

Nah, setahu kami yang rata-rata sudah lulus Sekolah Dasar dan mempelajari sifat benda ini, guru kami selalu mengatakan bahwa besi lebih kuat dan tahan air daripada kardus. Jadi ketika Bapak dan kawan-kawan mengatakan sebaliknya, sungguh kami perlu pembuktian yang nyata dan bisa diterima logika.  Kalau kotak suara dari alumunium saja tak mampu mengantisipasi serangan air, apalagi jika dari kardus? Gitchu Pak!

Tapi sebagai warga masyarakat yang baik, kami pun tak ingin memberikan kritik tanpa solusi. Berikut beberapa alternatif kotak yang bisa dipergunakan dalam Pemilu 2019, yang kami pikir lebih kuat dan fungsional dibanding kardus.

1. Kotak suara dari Tupperware

Tupperware merupakan jaminan ampuh untuk kotak bekal makan dan minum anti bocor. Selain tahan banting, plastiknya kuat di suhu panas dan dingin sekaligus. Tidak mudah berkerut, melempem atau penyak penyok.

Sekarang ini tupperware sering mengeluarkan produk terbaru dalam ukuran besar, berupa tempat kerupuk bervolume 5 liter sampai tempat menyimpan beras yang bisa menampung 10 Kg beras. Saya pikir pihak Tupperware tidak mungkin menolak jika mendapat pesanan produk yang ukurannya lebih besar lagi. Apalagi jika jumlah pesanannya besar, sampai puluhan ribu pcs.

Memang anggaran akan membengkak karena produk kotak suara tupperware jelas mahal dari kotak suara berbahan lain. Namun sebanding rasanya dengan garansi seumur hidup yang dijamin oleh pihak tupperware. Ada yang rusak dikit bisa diklaim untuk dapat ganti yang baru. Jadi kedepan KPU Indonesia gak perlu repot-repot lagi mikirin pembuatan kotak suara plus menghadapi pro kontra yang melingkupinya. Aman, efektif dan efisien serta jauh lebih hemat kedepannya.

Inilah yang membuat Ibu-Ibu selembut apapun tetap senyum jika sang suami pulang tanpa sepatu namun berang jika mendapat laporan tupperware-nya ketinggalan atau tutupnya hilang. Barang kesayangan soalnya Hehehe…

2. Kotak Suara dari Blek/Kaleng Kerupuk

Desain-nya yang mampu mempertahankan kelembaban udara di dalam kaleng sehingga kerupuk tahan lama, tidak mudah melempem dan tetap kriuk sudah terbukti di seluruh Indonesia. Tidak butuh pengujian produk lagi. Cukup sedikit modifikasi dengan ukuran yang lebih besar dan ditambah perangkat gembokan maka blek (tanpa pink) bisa menjadi pilihan yang tepat untuk kotak suara sempurna. Terlebih ia memiliki bagian transparan di depan yang membuat kita bisa melihat kertas suara di dalamnya. Sehingga tidak mudah bagi penguasa kegelapan untuk merekayasa penambahan dan pengurangan jumlah kertas suara. *ups 🙊

Lagipula KPU tak perlu bingung mengenai tempat penyimpanan dan perawatan pasca acara. Cukup sewakan atau jual tempat kerupuk ini ke UMKM yang bergerak dibidang ke-kriuk-an maka pemilu Indonesia akan punya dana abadi dari cash back penjualan kaleng kerupuk ini. Hemat bukan?!

3. Kotak Suara dari Plastik Sampah Bening.

Saya pikir inilah pilihan yang paling tepat jika tujuan KPU adalah menghemat biaya pembuatan logistik pemilu. Berapapun jumlah yang diperlukan pasti bisa dan cepat diproduksi. Plastik sampah tinggal ditempeli stiker untuk masing-masing hasil coblosan dan digulung sedikit atasnya sehingga bisa terbuka dan membentuk tabung. Kemudian tinggal diikat setelah perhitungan suara di TPS selesai dan kirimkan ke PPK dan jenjang perhitungan selanjutnya.

Jangan lupa tempelkan potongan ayat Alqur’an, Injil, Weda, Tripitaka atau huruf china yang menegaskan bahwa siapapun yang membuka ikatan plastik kotak suara padahal ia tidak berhak dan berwenang, maka akan disumpahi seluruh rakyat Indonesia terkena azab dan musibah sampai 7 turunan. Mantab kan!

Semoga KPU bisa mendengar kritik dan masukan dari kami. Kalau tidak, yaa mending kami golput saja…. *maksa 😂

Ya habis gimana, sudah repot-repot beri suara tapi suaranya gak dijaga sepenuh jiwa. Kan sedih. Sama sedihnya kayak kamu-kamu yang sudah memberi hati dan jiwamu kepada cem-ceman, tapi dia “lepeh” begitu ajah… 😒 *eh tapi ini bercanda ding!😜

Jangan golput lah, tapi pilih ajah semuanya *eh maksud saya pilih salah satunya…😉

Continue Reading

Citizen Journalism

Menanti Kejutan Ahok di Tahun Politik 2019

Published

on

Menjelang perayaan natal 2018 dan tahun baru 2019, pemberitaan di berbagai media diramaikan mengenai mantan Gubernur Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dipastikan akan bebas murni menjalani masa hukuman pidana yang menjeratnya atas kasus penodaan agama pada 24 Januari 2019. (more…)

Continue Reading

Citizen Journalism

Pilpres 2019, Dua Perbedaan Untuk Kemajuan Bangsa

Published

on

pemilihan presiden

Pemilihan presiden (pilpres) sebagai bentuk pesta demokrasi telah terasa gaungnya walaupun tanpa konvoi kendaraan dan kibaran bendera partai. Namun kegaduhannya tetap terasa di telinga lewat dunia maya hingga percakapan pengamat politik musiman.

Kegiatan politik lima tahunan seperti tak pernah kehabisan bahan untuk diperbincangkan. Bahkan berita hoax pun tidak luput dari pembicaraan. Tidak jarang pula perdebatan hingga gesekan terjadi dengan lawan bicara saat tensi semakin tinggi.

Untuk pertama kalinya pemilihan presiden di Indonesia menghadirkan 2 calon yang sama dengan pilpres sebelumnya. Dua calon presiden (capres) dengan latar belakang yang berbeda, semakin manambah daya tarik pembicaraan. Selalu ada kelebihan dan kekurangan dari masing-masing calon untuk dibicarakan.

Pada Pemilihan presiden periode kali ini (2019-1024), sejatinya akan dilaksanakan pada tanggal 17 April 2019. Dilakukan secara serentak dengan pemilihan legislatif pada seluruh wilayah Indonesia.  Bapak Joko Widodo (Jokowi) selaku petahana akan kembali berhadapan dengan Prabowo Subianto (PS08) yang pernah dikalahkan pada pilpres sebelumnya.

Jika kita perhatikan ada cerita menarik dari kedua capres tersebut di atas, penyebutan atau penyingkatan nama yang memiliki sejarahnya masing-masing. Joko Widodo dengan sebutan Jokowi-nya dan Prabowo Subianto dengan sebutan PS08-nya.

Ilustrasi: pemilihan presiden

Ilustrasi: pemilihan presiden

Antara Jokowi dan PS08

Presiden Indonesia saat ini sejak kecil dikalangan keluarga dan teman-temannya dikenal dengan nama panggilan Joko.  Sebagaimana kita ketahui bersama Joko Widodo mempunyai latar belakang sebagai pengusaha mebel.

Sebutan Jokowi bermula saat beliau mulai aktif mengekspor mebel ke Eropa lewat perusahaannya, PT Rakabu. Salah satu buyernya yang berasal dari Perancis sering kali bingung dan kerap salah kirim pesanan ke  Joko. Karena memang sangat banyak orang yang memiliki nama panggilan Joko di Pulau Jawa.

Oleh karena itulah sang buyer asal Perancis tersebut memberikan tambahan kata wi sebagai kependekan dari Widodo. Jadilah sebutan Jokowi yang hingga sekarang menjadi lebih terkenal dari panggilan semasa kecil.

Berbeda dengan uniknya cerita awal penggunaan sebutan Jokowi, sebutan PS08 pada Prabowo Subianto memiliki cerita tersendiri. Pada penyebutan PS08, dua hurup di depan sudah dapat dimengerti kalau itu adalah singkatan dari Prabowo Subianto. Bagaimana dengan angka 08?

Bagi para pengguna twitter dan memfollow akun Prabowo Subianto (@Prabowo08) mungkin sudah tidak asing dengan angka 08. Sebagiannya barangkali bertanya-tanya tentang makna angka 08 tersebut. Angka 08 merupakan sandi radio dari Prabowo Subianto saat masih bertugas di TNI.

Sandi 08 disematkan padanya ketika menjabat sebagai Wakil Komandan Jenderal Pasukan Khusus. Sedangkan Komandan Kopassus saat itu, Luhut Binsar Panjaitan menggunakan sandi 09. Ketika beliau diangkat sebagai Danjen Kopassus menggantikan Luhut tidak lantas memakai sandi 09.

Prabowo tetap mempertahankan sandi 08, yang hingga kini masih dipakainya. Bahkan sampai sekarang masih banyak yang menyebutnya dengan sebutan Jenderal 08.

Antara Cebong dan Kampret

Ada hal lain yang sungguh menarik dalam persaingan untuk menjadi orang nomor satu di Indonesia. Selain latar belakang berbeda diantara dua kontestannya, sebutan unik pun disematkan pada para pendukungnya. Penyebutan yang diambil dari dua jenis nama hewan dengan wilayah hidup yang berbeda.

Ada sebutan cebong untuk pendukung sang petahana dan sebutan kampret untuk sang penantang. Sebagaimana kita ketahui bersama cebong atau kecebong adalah sebutan lain dari bludru yang merupakan anak dari katak.

Kecebong hidup di dalam air sebelum nantinya berubah menjadi katak yang hidup di dua alam. Lain halnya dengan kampret yang kesehariannya beterbangan di malam hari untuk memenuhi hajat hidupnya.

Semua perbedaan di atas bisa menjadi sesuatu yang berakibat negatif atau sebaliknya akan memberikan dampak positif. Tergantung bagaimana kita menyikapinya, saat kita memandang perbedaan tak bisa disatukan tentu akan memberikan efek yang negatif.

Namun akan terjadi hal yang yang sebaliknya bila kita melihat perbedaan adalah untuk saling menutupi kekurangan masing-masing. Hal yang demikian tentu akan memberikan dampak positif yang dapat membawa Indonesia ke arah yang lebih maju.

Continue Reading
Advertisement

Trending