Connect with us

Citizen Journalism

Tentang Empat Laki-Laki Bernama “Muhammad” di Acara Reuni 212

Published

on


Sabtu Malam, pukul 22.20 Wib, saya berangkat dari kediaman keluarga istri di Cipayung, Jakarta Timur, menuju Monas dengan hati yang betul-betul bahagia, sepenuhnya bahagia. Bahagia karena dengan mantap akhirnya saya memutuskan untuk hadir dan bertemu lagi dengan saudara-saudara muslim dari berbagai penjuru Indonesia di Monas. Ini kali yang ketiga pasca Aksi Damai 212 yang fenomenal itu dan Reuni 212 yang pertama.

Bahagia juga karena saya bisa bertemu orang-orang hebat di sana. Walaupun jalan yang saya tempuh, bisa dibilang enggak lancar-lancar amat, cukup melelahkan. Karena saya yang mengendarai sepeda motor seorang diri—ini pun pilihan saya dengan berbagai pertimbangan— dibuat pusing oleh rekayasa lalulintas.

Meskipun jalan sebetulnya cukup lengang, tapi untuk memarkir kendaraan, kendati hanya kendaraan roda dua, saya harus berputar-putar mulai dari Gambir, Istiqlal, sampai melewati Cideng Timur untuk sekadar mencari lokasi parkir yang lebih aman dan dekat dengan Monas. Seorang teman menyarankan untuk parkir di Bank Indonesia yang sayangnya malam itu pagarnya ditutup rapat.

Akhirnya, saya memutuskan parkir di sebuah jalan di sisi utara Bank Indonesia, kalau saya enggak salah. Saya memang agak kesulitan kalau disuruh menentukan arah mata angin, sesulit menentukan harus bagaimana hati ini ketika matamu mengerling, Dik. Eeaa.

Usai memarkir motor, saya rehat sebentar di dekat Patung Kuda dan berbincang ngalor-ngidul dengan Rahmat, salah seorang Polisi Pamong Praja, yang ditugaskan membantu menjaga ketertiban di acara Reuni 212. Anak Betawi asli yang merasa heran dengan orang-orang yang selalu mendiskreditkan acara 212. Pasalnya, selama ini, sejak aksi 212 dua tahun yang lalu, ia yang selalu ditugaskan membantu ketertiban acara-acara itu, merasa tak terlalu sulit mengarahkan peserta aksi.

“Lah, ane belon ngarahin, itu panitia udeh teriak-teriak pake megaphone ngarahin peserta supaya kagak nginjek rumput. Alhasil, begini doang dah kerjaan ane, ngupi ame ngudud bae. Hahaha.” Pungkasnya.

Akhirnya, Saya Bertemu dengan Muhammad 

Saya sedang rebahan di tepi jalan masuk pintu tenggara Monas, beralaskan tas dan sorban putih yang saya bawa, waktu itu sekitar pukul dua dinihari, lalu saya teringat seorang sahabat dari daerah yang kotanya dikenal dengan nama Kota Khatulistiwa, karena dilalui garis khatulistiwa. Saya kirim pesan via WhatsApp, menanyakan posisinya saat itu.

Ternyata beliau sudah berada di lokasi, di belakang panggung utama bersama sahabat-sahabat dari KHAT (Khilafah Arts Network), sebuah komunitas jejaring seniman yang berisi para seniman yang telah bertaubat dan mendedikasikan karya-karyanya untuk peradaban Islam. Apa? Khilafah?

Kenapa? Alergi dengar kata itu? Ya, khilafah, Ustadz Abu Faqih alias Muhammad Nunung Binarto Aji memang anggota organisasi yang telah dibubarkan itu. Tapi kamu enggak akan menyesal mengenal laki-laki ramah yang gemar mengulum senyumnya itu.

Ustadz Abu Faqih adalah sosok yang hamble untuk teman berdiskusi, wawasannya yang luas dibingkai dengan tuturnya yang santun membuat saya betah berjam-jam ngobrol dengan beliau.

Dan pagi itu, semilir angin, tugu Pangeran Diponegoro, dan barisan pohon palem menjadi saksi sebuah persahabatan dua laki-laki yang dipertemukan oleh media sosial kepunyaan seorang Yahudi. Yang satu seorang tukang kopi, simpatisan PKS dari Bogor, satunya lagi seorang kontraktor anggota HTI dari Pontianak. Lihatlah! Betapa jomplangnya persahabatan itu. Haha.

Mengenal Lebih Dekat Sosok Mohammad

Seorang laki-laki gagah; berjas, berdasi dan berpeci dengan sorot mata yang begitu teduh berhasil merenggut perhatian saya dari banyaknya orang-orang yang berlalu lalang di salah satu sudut Monas. Ia berpetuah,

“Setiap pemerintah harus mendekati kemauan rakyat. Inilah sepatutnya dan harus menjadi dasar untuk memerintah. Pemerintah yang tidak memedulikan kemauan rakyat tidak akan bisa mengambil aturan yang sesuai dengan perasaan rakyat”.

Nama depannya serupa dengan nama saya, Mohammad, ia juga tak memakai huruf “U” untuk menulis Muhammad, tapi huruf “O”. Siapa dia sebenarnya?

Mengutip dari tirto.id, Mat Seni, begitu ia dipanggil, adalah salah satu Pahlawan Nasional dari Betawi, di usianya yang baru menginjak 25 tahun, ia sudah menjadi anggota Dewan Kota. Sidang Dewan Kota tanggal 17 Oktober 1919 adalah sidang pertamanya.

Sebagai anggota Dewan Kota Jakarta, dirinya begitu peduli pada permasalahan orang pribumi. Program perbaikan perkampungan orang-orang pribumi di kota Jakarta adalah bagian dari perjuangannya. Dia melihat kesenjangan antara kampung-kampung orang pribumi dengan jalan raya besar dan bangunan-bangunan pemerintahan yang megah. Bangunan-bangunan itu adalah simbol kota Jakarta, yang kala itu disebut Batavia.

“Batavia masih tetap seperti lukisan dengan pigura bagus, dihiasi dengan villa yang luas dengan jalan lebar, sementara kampung-kampung terwakili pada kanvas tak berharga,” ujarnya.

Prestasi besar Mat Seni dan koleganya untuk kebaikan orang pribumi salah satunya adalah penghapusan Poenale Sanctie, sebuah ordonansi (undang-undang) mengenai kuli yang muncul pada 1880 dan diperbarui  pada 1889.

Dalam ordonansi ini, pemerintah kolonial memberikan wewenang kepada perusahaan perkebunan untuk memberi hukuman pada kuli yang melanggar kontrak. Jika seorang kuli dianggap melanggar kontrak atau malas bekerja, yang bersangkutan boleh diberi hukuman tanpa melalui proses peradilan.

Saat itu, Mat Seni sudah menjadi anggota Dewan Rakyat, setelah bertahun-tahun menjadi anggota Dewan Kota.

Situs Mohammad Husni Thamrin di Monas (foto by Muhammad Yulius)

Berbincang Panjang dengan Muhammad, Sang Murobbi 

Tatkala saya sedang asyik mengambil gambar para peserta Reuni 212, persis di bawah patung Mohammad Husni Thamrin, di sebelah saya ada seorang laki-laki yang juga sedang mengambil gambar. Wajahnya sangat familiar buat saya. Setengah ragu, saya beranikan diri menegurnya, “Bang Iyus!”

Dia menoleh, “Masih ingat saya?” Tanya saya, seraya mengulurkan tangan untuk menyalaminya, ia berpikir sekilas, kemudian memeluk saya, “Akh Iwan, Masya Allah, apa kabar?”

Pagi itu, cukup lama kami bernostalgia, dari matahari sinarnya masih sejuk sampai sinarnya terasa perih di kulit saya yang sawo matang (tapi kelewat matang). Ngobrol ngalor ngidul, dari soal keluarga, pekerjaan, haru biru perjalanan PKS, sampai perkara polarisasi di Indonesia yang ngawurnya semakin semena-mena.

Beliau—yang memiliki nama asli Muhammad Yulius, yang dulu setiap pekan selalu mengajari saya banyak hal tentang islam di sela kesibukannya sebagai Redaktur di Annida—dengan lugas berujar,

“Yang enggak boleh kita lakukan adalah, membela sesuatu secara berlebihan atau sebaliknya, membenci sesuatu secara berlebihan. Ketika kita sudah membela dengan membabi buta, mata kita secara otomatis akan tertutup pada kekurangan-kekurangannya yang sebetulnya adalah keniscayaan. Sebaliknya, saat kita sudah membencinya sampai ke denyut nadi, mata kita akan ditabiri dengan kebaikan-kebaikan yang ada padanya.”

Ah, Bang Iyus, antum enggak pernah berubah. Kendati antum kini memilih jalan seni untuk berdakwah, ghirah dan pemikiran-pemikiran antum selalu menginspirasi dan memotivasi laki-laki kikuk nan lemah di hadapanmu ini. Hikz.

Dan, Saya pun Ter-ambulance-kan

Kebahagiaan demi kebahagiaan seperti enggan beringsut dari saya, di tengah panasnya sinar sang penguasa siang, di antara sesaknya antrean para peserta yang bergerak pulang, dari balik lensa kacamata yang menghitam dihantam terik surya, mata saya yang mulai perih karena tak sempat meram melihat sebuah mobil ambulance yang terparkir di seberang pintu keluar dekat stasiun Gambir.

Ini seperti mobil yang ada di foto Mas Poer, teman sekolah saya yang hari itu ditugaskan sebagai relawan bagian logistik untuk Acara Reuni 212, oleh kantornya. Saya berusaha menepi dan menghubunginya, qadarallah pun berlaku. Oleh Mas Poer, saya diajak masuk ke dalam mobil ber-AC itu, ditawari makan dan minum, masya Allah. Nikmat mana lagi yang hendak kamu dustakan, Dul?

Untuk kebahagian-kebahagian yang mengejutkan tersebut, saya hanya bisa bersyukur dan berdoa. Semoga Allah selalu memberikan dan menjaga kelurusan dan ketulusan hati orang-orang baik yang kemarin hadir di Monas, khususnya buat Bang Rahmat, Mas Poer, dan Muhammad-Muhammad yang saya temukan di tengah acara Reuni 212. Aamiin.

Citizen Journalism

Kesuksesan Siang Berawal dari Kesuksesan Malam

Published

on

Pergantian siang dan malam adalah tanda-tanda kekuasaan Allah Swt bagi orang-orang yang mau berpikir. Bagi mereka, siang dan malam bukan hanya siklus harian yang mengubah planet bumi dari terang menjadi gelap, tapi juga anugerah terindah dari Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang yang dengan kasih sayang-Nya itu siang berubah jadi malam dan malam berubah jadi siang. Tak perlu IQ tinggi-tinggi untuk sekadar menerka petaka dahsyat seperti apa yang akan terjadi apabila siang tak pernah berganti malam, atau malam tak mau digantikan siang.

Fenomena pergantian siang dan malam ini telah lama dikenal dalam sejarah peradaban umat manusia. Sejak zaman dahulu, orang-orang tua kita telah cerdas memanfaatkan waktu siang dan malam: Siang mereka pakai untuk bekerja, bertani, berburu, dan lain-lain; malam mereka isi dengan tidur dan istirahat.

Dalam Alquran, swakontradiksi itu disebut berulang kali dengan urutan yang hampir sama: malam dulu baru siang (lihat, QS. Al-Hadid: 6, QS. Saba: 18, QS. Ali Imran: 27, QS. Ar-Ra’du: 3, QS. Al-Isra: 12, QS. Al-Qashas: 73, dan lain-lain). Ini agak berbeda dengan cara kita mengungkapkan dua kata itu. Biasanya kita menyebut “siang dan malam”, seolah-olah semua aktifitas harian kita itu bermula di siang hari dan berakhir pada waktu malam. Tapi Alquran mengungkapkannya dengan “malam dan siang”. Bagi saya, hal ini menyiratkan pelajaran penting bahwa kesuksesan seseorang di waktu siang sangat tergantung bagaimana ia mengisi malam.

Pada fase awal kenabian, setelah menerima wahyu pertama di Gua Hira, Nabi Muhammad Saw mendapat perintah untuk melaksanakan salat malam sebelum mendapat perintah untuk berdakwah (lihat, QS. Al Muzammil: 1-6). Bahkan menurut sebagian ulama, salat malam bagi Nabi Saw pada masa itu, wajib hukumnya. Menurut mereka, kewajiban salat malam itu adalah persiapan bagi diri Nabi Saw, secara fisik dan psikis, untuk dapat menghadapi berbagai tantangan dan rintangan yang akan ia lalui saat mulai berdakwah nanti. Artinya, kesuksesan Nabi Saw dalam berdakwah berawal dari kesuksesan beliau mengisi malam dengan salat dan munajat.

Poin terakhir ini adalah pelajaran berharga bagi kita semua, bahwa jika kita ingin sukses dalam bekerja, baik sebagai atasan atau bawahan, baik sebagai dosen atau mahasiswa, baik sebagai ASN atau swasta; mulailah dengan menyukseskan diri dalam mengelola waktu malam. Kita tidak mungkin meraih kesuksesan yang gilang gemilang di waktu siang, jika setiap malam kita selalu tersungkur, babak belur dihajar rasa kantuk dan malas.

Selain itu, bagi orang yang memiliki sensitivitas tinggi dalam menyikapi akibat dari setiap perbuatan dosa dan maksiat, ketidakmampuan bangun untuk melaksanakan salat malam adalah bencana tersendiri. Sebab mereka berkeyakinan hanya orang-orang tertentu yang diizinkan Allah untuk menghabiskan momen yang berharga bersama-Nya dalam gelapnya malam. Tidak semua orang bisa. Artinya, ketika mereka tidak mampu melakukan itu, mereka menyesali diri sendiri karena tidak termasuk orang yang dipilih Allah Swt.

Seorang pria berkata kepada Ibrahim bin Adham: “Aku tidak bisa bangun untuk salat malam, padahal aku sangat ingin melaksanakannya”. Ibrahim bin Adham menjawab: “Engkau melakukan dosa pada siang hari, karenanya kau tidak bisa bangun di malam hari”.

Berdiri di hadapan Allah pada saat malam adalah kehormatan di mana para pendosa tidak menerimanya. Imam Sufyan At-Tsauri berkata: “Selama lima bulan aku tidak bisa bangun untuk salat malam karena dosa yang kulakukan”. Subahnallah… 

Pada suatu hari, seorang laki-laki berkata kepada Imam Hasan Al-Bashri: “Aku tidur nyenyak, aku beristirahat dengan baik, tidak punya penyakit, dan aku sudah menyiapkan air di samping kasur tidurku supaya bisa bangun untuk salat malam, tapi tetap saja aku tidak pernah bisa melakukannya”.

Hasan al Bashri berkata kepada laki-laki itu: “Dosa-dosamu telah membelenggumu. Dosamu saat siang, menahanmu saat malam”.

Maka berbahagialah Anda yang telah terbiasa melaksanakan salat malam dan tidak pernah meninggalkannya. Di satu sisi, itu adalah anugerah Allah Swt yang tidak semua orang menerimanya, di sisi lain, saya harus mengucapkan tahniah, selamat Anda tidak termasuk orang yang dibelenggu dengan dosa dan maksiat!

Sementara bagi kita yang belum mampu untuk bangun salat malam, sebaiknya kita mulai berbenah dan memperbaiki diri. Tak mungkin malam demi malam kita biarkan saja terus begitu sepanjang hidup.  Tentu ini akan menjadi penyesalan yang amat berat pada hari kiamat nanti. Di samping itu, sebaiknya kita juga mulai memeriksa diri, jika selama ini kita tidak pernah merasakan berkahnya siang, mungkin itu disebabkan karena kegagalan kita mengelola waktu malam. []

Continue Reading

Citizen Journalism

Omar Bakri, Nasib Mu Kini Lebih Tragis

Published

on

Masih ingat dong dengan lagu Iwan Fals yang bercerita tentang kehidupan guru. Omar Bakri tentu sudah makan asam garam menghadapi kenakalan murid, namun ditengah jaman milenial ini nasib Omar Bakri semakin tragis.

“Berkelahi pak jawab murid seperti Jagoan” mungkin potongan syair tersebut menggambarkan bagaimana perilaku murid nakal yang berlagak jagoan. Mirisnya perilaku tersebut kini semakin parah, mereka bukan lagi merasa jagoan kepada sesama murid bahkan kepada guru pendidiknya.

Faktanya, beberapa hari ini dan waktu sebelumnya kasus tidak beradab-nya murid kepada guru semakin sering terlihat. Jika sebelumnya ada guru yang tidak dihargai hingga dipaksa berlagak berkelahi guna melampiaskan emosinya tetapi tertahan karena status gurunya.

Kini kasus seperti tersebut muncul kembali, kali ini seorang guru mendapatkan perlakuan menggeramkan ketika seorang murid berlagak jagoan mengancam guru dengan memegang leher dan kepalanya, dan dilanjutkan merokok di kelas.

Peristiwa mengurut dada kembali terjadi di Sulawesi dimana murid-murid mengeroyok seorang petugas cleaning service bersama orang tua salah satu murid. Perkataan kasar ‘Anjing’ kepada korban dan guru menjadi perilaku murid SMP kelas 1 tersebut.

Lantas salah siapakah sehingga perilaku anak-anak yang baru menginjak remaja ini mampu kehilangan adab dan akhlaknya terhadap guru atau yang lebih tua? Perlukah seorang guru menerapkan kembali pendidikan yang keras seperti dekade 70-80 dimana sabetan penggaris, lemparan kapur bahkan penghapus menjadi hal yang wajar.

Mencermati kenakalan murid yang sudah diluar toleransi masyarakat yang menjujung tinggi budi pekerti dan keluhuran nilai sopan santun, menjadikan fenomena Omar Bakri mengalami nasib yang tragis – Tegas di pidanakan, lembut dilecehkan.

Pelecehan murid pada seorang guru tentunya menjadi pekerjaan rumah bagi para orangtua, guru, dan murid itu sendiri, sebagai unsur yang berinteraksi dalam suatu sistem pendidikan. Tiga elemen inilah yang seharusnya saling berintegrasi guna mencetak anak-anak yang berkualitas.

Kekerasan pada guru | Wartakota

Ketika banyak psikologi yang menyatakan bahwa pelecehan murid terhadap guru dapat disebabkan karena faktor keluarga bagaimana orangtua mendidik seorang anak – biasa dengan kekerasan atau tidak, hingga opini hubungan orangtua yang juga mengalami masalah hubungan.

Artinya perilaku anak yang suka menggunakan kekerasan disekolah berawal dari rumah. Hal ini tentunya ada tanggung jawab dari orangtua. Yatim piatu semu antar orang tua juga menjadi salah satu faktor, dimana orangtua Bapak dan Ibu tetap ada tetapi kehadirannya hamper tidak dirasakan sang anak.

Bisa karena kedua orangtua terlalu sibuk bekerja, orangtua bekerja diluar negeri, atau salah satu bekerja tetapi satunya sibuk dengan kehidupannya. Hal inilah yang menyebabkan anak mencoba mencari perhatian dengan melakukan perilaku yang mengundang ke dua orangtuanya.

Tak hanya itu, kecenderungan orang tua jaman sekarang lebih memanjakan anaknya, menjadi penyebab banyak orangtua yang melayangkan tuntutan hukum Karena guru menjewernya atau terjadi pemukulan, tanpa bijaksana mencari tahu penyebab perlakuan itu terjadi.

Lantas bagaimana dengan peran murid menyumbang perilaku kenakalan dan kekerasan. Hal ini tentu tak lepas dari perkembangan teknologi yang membuat arus informasi deras mengalir. Mengakses game atau permainan yang mengandung unsur kekerasan juga pemicu anak untuk meniru.

Tak hanya itu, media sosial sebagai ajang eksistensi manusia modern sekarang ini juga berperan menciptakan perilaku kekerasan tersebut. Ketika melihat aksi murid berani melawan guru dan tersebar di medsos menjadikan dirinya terkenal dan diakui eksistensinya keberaniannya oleh murid yang lain. Tentunya menjadi kebanggan tersendiri bagi si murid, karena ditakuti satu sekolahan.

Lantas bagaimana dengan pihak sekolah atau guru yang berhadapan langsung dengan murid? Ketika kita hendak menerapkan kembali sistem pendidikan yang keras seperti jaman dahulu tentu akan berdampak lebih hebat ditengah smartphone mampu merekam dan menyebarkan peristiwa secara cepat.

Alih-alih ingin mendisiplinkan murid malah bisa terjadi sebaliknya. Guru kini pun bisa dituntut orangtua ketika anaknya menerima perlakuan kekerasan padahal banyak kasus murid sulit diatur. Bahkan banyak orangtua yang juga tidak tahu perilaku anak ketika berada disekolah.

pelecehan terhadap guru |tribunews

Sebagai intropeksi pihak sekolah tentu harus mempertimbangkan ketegasan dalam menerapkan peraturan sekolah. Ketika banyak murid melakukan pelanggaran keras, maka sanksi seharusnya diterapkan dengan mengeluarkannya. Sehingga tidak ada peristiwa guru dilecehkan oleh muridnya.

Guru juga tidak bisa lepas dari tanggung jawab. Hal itu disebabkan ada juga guru yang kehilangan idealismenya. Mereka hanya disibukan mengajar sesuai dengan gaji yang didapatkan. Mereka seakan tutup mata untuk mendidik murid yang juga menjadi tanggung jawabnya.

Guru tidak lagi menjadi sosok yang dapat di gugu dan ditiru. Sentuhan seorang guru yang dapat memotivasi, mengarahkan, dan bagaimana memahami ekspresi gejolak seorang murid menjadi guru sosok yang membosankan.

Ketika kita melihat metode yang diajarkan para guru di sekolah alam, maka seorang anak menjadi tanggung jawab guru untuk membentuknya menjadi apa. Guru mengamati, mengarahkan, dan menyediakan wadah bagi seorang murid untuk mengekspresikan.

Mereka mengakomodasi apa yang diinginkan seorang murid, memberikan petunjuk, dan mampu memotivasi murid untuk mencapai tujuan hidupnya. Disana mereka belajar bukanlah demi ijasah kelulusan, tetapi lebih pada membentuk karakter diri, sehingga potensi seorang murid dapat dikembangkan secara maksimal.

Ketika murid merasa nyaman dengan kegiatan yang dilakukan, ketika murid merasa senang dengan aktivitasnya, maka secara perlahan murid akan mencintai proses belajar dan mengajar antara guru dengan dirinya.

Kurikulim sekolah yang padat dengan teori dan momok nilai ujian nasional, hal itu hanya menciptakan generasi penerus yang mengandalkan ijasah tanpa memiliki karakter dan keterampilan.

Continue Reading

Citizen Journalism

Seperti Perahu, Paslon pun Tak Ada yang Sempurna

Published

on

“Sebuah kapal memang tak boleh sempurna. Karena sesuatu yang sempurna tak punya hasrat lagi mencari. Sebuah kapal yang sempurna tak akan butuh lagi mencari ikan, muatan, teman, pelanggan, bahkan tanah baru.”

Demikian Wulu Banyak beralasan, ketika Raden Mandasia bertanya, mengapa Wulu Banyak dan anak buahnya membuat kapal tanpa menggunakan gambar? Tidakkah itu akan berisiko pada ketidakserasian ukuran di kedua sisi kapal?

Kelak di kemudian hari, saat Prabu Watu Gunung [ayahanda Raden Mandasia] bercerita kepada Sungu Lembu [sang tokoh utama dalam novel Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi karya Om Yusi Avianto] tentang alasannya menyerang Gerbang Agung. Kata-kata Wulu Banyak terbukti. Sesuatu yang tampak sempurna, awalnya memberi rasa nyaman, lalu melenakan. Ujung-ujungnya kebosanan, dan berakhir dengan kehancuran perlahan-lahan.

Kejayaan Gilingwesi yang gilang gemilang di tangan Prabu Watu Gunung, membuat semua pejabat terlena, kerap berpoya-poya, korupsi dan penyelewengan terjadi di setiap struktur pemerintahan.

Prabu Watu Gunung menyadari bahaya ini. Ia memerlukan momentum, pemecah kebosanan, peletup semangat baru. Dan Gerbang Agung—sebuah kerajaan yang terletak nun di seberang lautan, kerajaan dengan empat musim, kerajaan dengan seorang putri yang masyhur akan kejatmikaannya yang konon cermin pun tak sanggup menatap kecantikannya—menjadi pilihannya.

Dan dua negeri besar itu, yang menyerang dan yang diserang, akhirnya hancur.

Ada yang mereka lupa.

Saat kapal mulai rusak karena dilubangi anak buahnya sendiri, alih-alih memperbaiki, sang nakhoda malah silau dengan kemegahan kapal lain. Lalu menyerangnya agar dapat menguasai.

Malangnya, kapal yang terlihat megah itu, ternyata tak kalah rusaknya. Orang-orang di dalamnya terlalu asik memandangi kemegahannya sendiri, si pemilik tak memperhatikan kerusakan di sana sini. Pun tak menyadari, ada musuh yang tengah mendekati.

Dua-duanya, karam.

Sebuah kapal memang tak boleh sempurna, dan memang tak kan pernah ada yang sempurna, sebab kesempurnaan adalah milik Sang Pencipta. Kalau merasa sempurna, boleh jadi, karena memang sudah karakter manusia yang seringkali menganggap dirinya sekeren Arjuna, sekuat Bima, sepintar Krisna. Padahal, pret, ya cuma merasa.

Sebagaimana tertulis di banyak baliho yang bertebaran di musim-musim kampanye, seperti saat ini, “Hanya Kecurangan yang Bisa Mengalahkan Cepot”, umpama. Kubu lawan enggak mau ketinggalan, “Berhentilah Menakut-nakuti Rakyat dengan Berita Palsu alias Hoax!”

Lihat! Semua merasa bakal dicurangi, semua merasa lawannya telah bermain kotor, semua merasa dirinya yang paling pantas, paling sempurna, yang lain, ke laut aja, lewat tol biar cepet. Bhahaaha.

Kedua kubu saling serang, saling tuding. Kubu yang semula kerap terlihat selow menanggapi berbagai tudingan, belakangan mulai menabuh genderang perlawanan, tanpa tedeng aling-aling, lebih agresif bahkan.

Kubu satunya tak mau kalah dan mengatakan dengan sepenuh keyakinan, “Doski panik, Cuy, elektabilitasnya mulai merosot. Meskipun itu sebetulnya, tiada lain, disebabkan oleh ulah orang-orang di sekelilingnya sendiri yang kerap melakukan blunder.”

Namun, alih-alih berbenah, keduanya malah meniru Prabu Watu Gunung, menyerang lawan dan membiarkan perahunya yang bocor dan rusak di sana-sini. Pokoknya, seraaang!

Tim hore menyambut seruan itu dengan antusias, “Hajar, Joooohn! Kite di belakang ente!” Yang model-model begini, begitu sang idola terlihat ngos-ngosan, biasanya bukannya bantuin, tapi malah pindah ke perahu lain. Dan mencari junjungan baru. Ada yang seperti itu. Ada.

~ Halah, hobby kok baca fiksi, dasar tukang ngayal!

Hei, Boy! Kata orang bijak, sastra itu melembutkan hati dan mengayakan sudut pandang. Hati kalau sudah lembut, jangankan ingat dosa, baca komik lucu aja, bisa nangis. Eh.

Continue Reading
Advertisement

Trending