Connect with us

Science & Technology

Soal Kebocoran Data , Facebook Cuma Didenda Rp 8,6 Miliar

Published

on


Soal Kebocoran Data , Facebook Cuma Didenda Rp 8,6 Miliar

Finroll.com – Masih ingat kasus Cambridge Analytica?. Kabar terbaru mengungkapkan bahwa Facebook akan menghadapi denda atas penyalahgunaan data pengguna dari pihak ketiga.

Sayang, denda yang menyeret data pengguna Facebook mencapai 87 juta dari seluruh dunia, termasuk satu juta berasal dari Indonesia, sangat kecil. Dikutip dari The Verge, Selasa (30/10/2018) Facebook akan menghadapi denda 500 ribu Euro (Rp 8,6 miliar) dari Inggris atas skandal Cambridge Analytica.

“Kami menganggap kontroversi ini menjadi sangat serius. Kami menerapkan hukuman maksimum di bawah undang-undang sebelumnya,” ujar Kepala Komisi Informasi Inggris (ICO) dalam sebuah pernyataannya.

Bila denda tersebut benar-benar dijatuhkan, maka angka tersebut sungguh tak ada apa-apanya dengan pemasukan perusahaan besutan Mark Zuckerberg tersebut.

Facebook menghasilkan USD 5,1 miliar dalam laba bersih di kuartal terakhir, di mana angka yang sulit untuk membandingkan sanksi skandal Cambridge Analytica.

Bila dilihat secara laba per harinya, nilai hukuman atas penyalahgunaan data penggunaan Facebook itu tak terlihat sama sekali. Tetapi, bila mengerucut laba Facebook per jamnya, maka akan terlihat dampaknya. Namun, lagi-lagi jadi catatan, perusahaan akan mendapatkan pendapatan yang sama dengan denda tersebut dalam waktu kurang dari 15 menit.

Denda ini bisa menjadi buruk untuk di masa mendatang. Ketika regulator Inggris mengumumkan denda tersebut, mereka memastikan untuk dicatat bahwa Facebook sekarang terikat oleh aturan ketat perlindungan GDPR di Eropa, di mana perusahaan bisa dihukum USD 22 juta bila melanggar aturan.

source: Detikinet

Science & Technology

Snapdragon 855 Plus Dirilis, Cocok untuk Ponsel Gaming

Published

on

By

Finroll.com – Qualcomm merilis pembaruan dari prosesor flagship Snapdragon 855 yang bernama Snapdragon 855 Plus. Apa bedanya?

Menurut Qualcomm, prosesor anyar ini dioptimasi untuk gaming, VR, AI, dan konektivitas 5G. Meski secara keseluruhan, chip ini masih menggunakan desain dan tata letak yang sama dengan Snapdragon 855 biasa.

Bedanya, delapan core Kryo yang ada digenjot dengan clock speed yang lebih tinggi, sampai dengan 2,96 GHz. Namun pembaruan yang lebih terasa ada di sektor GPU, di mana menurut Qualcomm performa Adreno 640 yang dipakai meningkat 15%.

Jadi chip anyar ini bakal lebih berguna untuk ponsel yang berfokus untuk gaming, seperti yang dirilis oleh Asus, Razer, dan lainnya. Lalu menurut Qualcomm ada juga peningkatan di sisi AI dan VR karena chip ini dilengkapi AI Engine generasi ke-4 yang mampu menjalankan lebih dari 7 triliun operasi setiap detiknya.

Pembaruan juga ada pada sisi konektivitas, karena Snapdragon 855 Plus diklaim bisa mempunyai daya tahan baterai seharian dengan koneksi 5G. Sama seperti pendahulunya, chip ini masih menggunakan dua modem, yaitu Snapdragon X24 LTE dan X50 5G.

Snapdragon 855 saat ini sudah dipakai di sejumlah ponsel flagship seperti Galaxy S10, OnePlus 7 Pro, dan LG G8. Sementara versi Plus-nya diperkirakan bisa saja dipakai di Galaxy Note 10 atau mungkin Pixel 4

Continue Reading

Science & Technology

Bukan Ponsel Lipat, Apple Ciptakan iPad Lipat

Published

on

By

Saham Apple

Finroll.com – Publik telah mendengar tentang rencana Microsoft untuk membuat tablet Surface yang dapat dilipat untuk beberapa waktu sebelumnya. Menurut laporan terbaru, Apple juga serius melihat konsep ini. Kemungkinan mereka sedang menggarap iPad yang layarnya dapat dilipat.

Menurut analis yang sukses mengorek informasi dari orang dalam, perusahaan yang berbasis di Cupertino ini sedang mengerjakan iPad dengan tampilan yang fleksibel. Diperkirakan ukurannya berada di antara 11 inci dan 15 inci.

Bagian yang paling mengejutkan adalah bahwa Apple ingin segera meluncurkan perangkat tersebut. Paling lambat perangkat canggih yang tentunya sangat mahal itu akan dirilis tahun depan.

Selain itu, ungkap laman GSM Arena, laporan itu menyebutkan prosesor high-end A-series Apple ditambah kemampuan 5G. Walaupun Apple masih belum merilis smartphone berkemampuan 5G, sehingga perlu mengejar ketinggalan terlebih dahulu dari pesaingnya di Android.

Perangkat layar lipat tergolong rumit. Dua pabrikan raksasa smartphone, yaitu Samsung dan Huawei sudah berkoar-koar siap meluncurkan foldable phone pertamanya ke pasar. Namun, sampai sekarang handphone Galaxy Fold dan Mate X belum juga muncul ke publik secara resmi.

Continue Reading

Science & Technology

Raksasa Teknologi AS Ramai-ramai Cabut dari China

Published

on

By

China Peringatkan Pejabat BUMN Hindari Perjalanan Bisnis ke Amerika Serikat

Finroll.com – Sejumlah raksasa teknologi seperti Hewlett Packard, Dell, Microsoft dan Amazon tengah mempertimbangkan memindahkan sebagian produksi perangkat kerasnya keluar China. Rencana ini masih berkaitan dengan perang dagang antara China dan Amerika Serikat.

Dikutip dari situs The Verge, Kamis 4 Juli 2019, ada sebuah laporan menyebut Hewlett Packard dan Dell ingin memindahkan hingga 30 persen produksi laptop keluar China. Sedangkan Microsoft dirumorkan memindahkan beberapa produksi konsol gim Xbox, dan Amazon yang memindahkan pabrikan speaker Echo dan Kindle.

Langkah potensial yang mereka lakukan itu adalah sebuah respons terhadap perang dagang, yang mana negeri Paman Sam mengenakan tarif 25 persen untuk produk yang dibuat di China yang nilainya US$200 miliar atau setara dengan Rp2,8 kuadriliun.

Keempat perusahaan itu diketahui berbasis di Amerika Serikat. Industri teknologi mungkin akan tetap baik-baik saja terhadap tarif yang diberlakukan pemerintah AS, namun akibatnya bisa ada kenaikan biaya pada perangkat laptop, smartphone, konsol gim dan barang-barang elektronik lainnya.

Adanya kenaikan biaya akan menjadi sebuah beban bagi konsumen dan margin yang lebih ramping untuk produsen. Microsoft, Dell, HP dan Amazon bukan menjadi satu-satunya yang ingin mengubah pabrikan mereka, Apple juga diketahui akan memindahkan 30 persen produksinya ke luar China.

Ada juga rumor, Nintendo yang akan memindahkan beberapa produksi Switch dan Google yang juga akan memindahkan pabrikan Nest. Sebagian besar perusahaan teknologi ingin tetap berproduksi di kawasan Asia Tenggara dengan memindahkan pabrik ke sejumlah negara.

Produksi perangkat keras sudah lama berpusat di China, yang mana biaya produksi di sana juga diketahui lebih murah. Di negeri Tirai Bambu itu, komponen pasokan lebih terkonsentrasi, membuat produsen bisa berpikir tenang dalam membuat teknologi baru.

Pabrikan di China telah berjalan selama dua dekade. Namun tarif yang dinaikkan membuat situasi melemah karena sengketa perdagangan yang sedang berlangsung. Jika tidak mereka pindahkan, maka ada potensi untuk menaikan biaya, dan mereka tidak memiliki jalan keluar yang mudah.

Continue Reading
Advertisement

Trending