Connect with us

Citizen Journalism

SEVENTEEN, Tsunami dan Potret Buruk Akhlak Komunal Kita

Published

on


Awalnya saya kurang mengerti kenapa grup band ini bernama Seventeen. Apakah mengikuti jejak senior mereka, Dewa 19 yang mencantumkan angka 19 karena itu adalah umur rata-rata personel band saat rekaman album pertama? Entahlah, ternyata sulit juga mencari data otentik tentang grup band ini. Karena google selalu mengarahkan hasil pencarian ke grup seventeen asal korea. Bukan seventeen yang dari Yogyakarta.

Lagu yang paling saya ingat dari band yang terbentuk di tahun 1999 ini berjudul “selalu mengalah”. Dirilis tahun 2008, lagu ini berhasil menjadi lagu yang bagian reff-nya paling sering saya nyanyikan dihadapan Emak saya. “Mengapa selalu aku yang mengalah…..” padahal kan adik saya yang salah. 😥

Loh koq jadi curcol?! Abaikan!

20 tahun malang melintang di belantika musik Indonesia dan terus berkarya membuat seventeen berhasil menjadi band papan atas indonesia yang memiliki banyak penggemar setia. Band yang digawangi oleh Riefian Fajarsyah (Ifan) sebagai vokalis, Herman Sikumbang (Herman) sebagai Gitaris, M. Awal Purbani (Bani) sebagai bassist dan Windu Andi Darmawan (Andi) sebagai drummer telah berhasil mencetak 6 album yang dilempar ke pasar musik major Indonesia.

Sabtu, 22 Desember 2018 merupakan hari bersejarah yang menjadi penutup karier band Seventeen. Seventeen menjadi korban bencana tsunami saat memenuhi undangan acara family gathering PLN, di Tanjung Lesung Pandeglang, Banten. Dalam video amatir berdurasi kurang dari 2 menit, terlihat Ifan dan kawan-kawan yang sedang beratraksi di atas panggung membawakan lagu-lagu mereka diterjang oleh ombak yang datang dari arah belakang panggung. Tsunami yang diakibatkan oleh longsoran anak gunung krakatau yang datang tanpa tanda dan peringatan ini menyapu panggung dan tempat acara yang hanya berjarak 3 – 4 meter dari bibir pantai.

Beberapa jam setelah kejadian, Ifan melalui akun instagramnya menyatakan diri selamat. Namun Bani, sang bassist tewas dilokasi panggung, bersama dengan Oki, Road Manajer Seventeen.  Keesokan harinya, mayat Herman dan Ujang (additional player) ditemukan. Dan pada hari senin, 23 Desember 2018, setelah melalui pencarian yang panjang, jenazah sang drummer, Andi akhirnya ditemukan.

Kemudian, Senin malam 24 Desember 2018, satu jam yang lalu dari saya menuliskan kisah ini, istri tercinta Ifan, Dylan Sahara pun ditemukan. Namun naas, Dylan yang merupakan mantan presenter program infotainment yang kini maju sebagai calon anggota legislatif rupanya juga tidak selamat. Beliau ikut berpulang bersama ke-3 personel Seventeen lainnya.

Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.

Tak terbayang rasanya menjadi Ifan. Sepanjang 2x 24 jam ini beliau berbagi cerita tentang menanti kabar dari orang-orang terkasih. Doa dan harapan terus dimunculkan, berharap ada yang selamat. Berharap musibah ini tak menyisakan kesendirian untuk dirinya. Postingan yang teramat menyayat hati, namun malang bagi Ifan tak semua orang sudi berempati terhadap hal yang menimpanya.

Kematian orang-orang terdekat Ifan dalam waktu yang bersamaan rupanya tak berhasil menyentuh hati para “penceramah” sosial media untuk sejenak menahan jari dan lisannya memunculkan kata-kata bernada doa namun diselingi sindiran dan hujatan. Astaghfirullah hal adzim…

Wahai para Ustadz dan Ustadzah dadakan yang begitu ciamik menebar “nasihat” di akun orang-orang yang telah wafat sambil menghakimi jalan almarhum menyalurkan minat bakat dan mencari nafkah, cobalah sesekali tengok kitab Syekh Yusuf Qaradhawi. Buka bab tentang fatwa beliau mengenai musik dan bermusik.

Jika sudah membaca dan antum tetap tak sepaham, tak mengapa. Asalkan antum tahu bahwa ada pemikiran-pemikiran lain tentang segala hal diluar apa-apa yang sudah antum nyatakan sebagai sesuatu yang paling benar (sendiri).

Tapi saya tak ingin mengajak antum berdebat tentang kehalalan dan keharaman musik. Cukuplah kita mengimani keyakinan akan tafsiran dari hadis dan pendapat jumhur ulama yang sudah banyak membahas tentang ini.

Seperti yang Ustadz muda harapan bangsa, Dinar Zul Akbar katakan, Kita tidak boleh serta merta menyangkutkan orang terkena azab karena musik. Karena permasalahan musik ini bukan haram yg maklum minad din bidh dhoruroh alias suatu perkara yg ketetapan haramnya sudah mutlak. Berbeda dengan zina dan riba yang sudah jelas keharamannya.

Nah, ketika sesuatu tidak mutlak haram maka pelakunya tidak boleh diingkari dalam artian dianggap melakukan suatu dosa besar dan sebagainya. Bahkan sekalipun ada orang yang mati dalam keadaan zina, tetap wajib bagi kita untuk menjaga lisan.

Dari rentang waktu yang menyisakan kesuraman di area selat sunda ini, kita bisa melihat betapa banyak orang yang menyumbang komentar pedas mengenai tragedi yang menimpa Seventeen. Mereka menganggap personil Seventeen yang wafat, mati dalam keadaan su’ul khotimah. Ajal menjemput mereka ketika sedang jingkrak-jingkrak di panggung melakukan sesuatu yang diharamkan agama, bermaksiat kepada Allah. Innalillah…

Akun instagram Ifan pun tak luput dari komentar-komentar senada. Ifan yang saya yakini sedang mencari penyaluran kegalauan menanti, bertahan di lokasi bencana demi segera mendapat kabar tentang kawan dan istrinya, mencoba berbagi beban dengan para followers yang mungkin sedikit banyak bisa mengurangi lelah dan gundahnya. Namun rupanya nafsu berceramah kita lebih menggebu daripada nurani yang seharusnya melahirkan rasa kasihan dan empati.

Bukan hanya Ifan, netizen pun menyampaikan belasungkawa atas kematian Aa Jimmy. Seorang komedian bernama asli Argo yang dikenal suka menirukan gaya Aa Gym. Tapi sayang, banyak sekali yang lagi-lagi menyampaikan kalimat belasungkawanya dengan ditambahi bumbu-bumbu membongkar pilihan politik dan sikapnya di masa hidup yang mereka anggap salah. Netizen men-skrinsyut beberapa cuitan medsosnya yang dianggap jahil. Dan mengkaitkan musibah yang menimpa beliau sebagai akibat dari cuitan tersebut. Belakangan malah terkuak fakta bahwa akun yang skrinsyut-nya mereka sebarkan tersebut bukanlah akun asli almarhum Aa Jimmy. Melainkan akun kloningan dari pihak yang tidak bertanggung jawab.

Duh, betapa jari dan nafsu kita lebih cepat dari cahaya *eh kemampuan kita untuk berpikir.

Kita tega menyampaikan kritik tajam ditengah duka yang mendera saudara sebangsa kita. Yang mungkin alih-alih membuat mereka tersadarkan lalu bertaubat, malah menaburi garam di luka yang terbuka.

Kawan-kawan yang budiman, saya berhusnudzon bahwa maksud antum baik. Antum berdakwah dan ingin menyampaikan kebenaran sebagai pengingat bagi orang lain. Namun mengapa sangat tergesa sekali hal ini dilakukan. Tak bisakah kita mengambil jeda sebentar, memberi ruang bagi hati yang terluka untuk bernapas menggapai apapun yang bisa sedikit mengurangi rasa sakit? Tidakkah kita berpikir bahwa kata-kata kita, bukannya menambah semangat hidup malahan bisa menyakiti keluarga, istri, anak dan orangtua almarhum.

Dakwah adalah tugas seluruh manusia. Dakwah di saat duka dan petaka tidaklah salah. Namun ada waktunya. Ada caranya. Ada adab yang harus kita kedepankan. Ada empati yang lebih utama kita munculkan terlebih dahulu.

Bukankah kita lebih baik mengulurkan tangan untuk membantu mereka? Menawarkan dekapan dan genggaman tangan sebagai ungkapan yang menyatakan bahwa mereka tak sendirian menghadapi ini. Ada kita. Ada Allah yang bersama kita. Selayaknya kita berharap mereka yang ditinggalkan tak hilang arah untuk kembali bangkit dan melangkah demi melanjutkan hidup.

Bukankah lebih baik kita menahan diri dari membuat tulisan yang memvonis dan mengadili para korban. Jangan tambah beban psikologis mereka dengan “jahat”nya lisan kita yang bernafsu ingin sekedar mengingatkan. Bayangkanlah jika tragedi ini menimpa kita. Betapa sedihnya, betapa berat ujian yang harus dilewati.

Maka meski ilmu kita banyak, tetaplah utamakan untuk mengedepankan adab dalam menyampaikan kebenaran, memberi nasihat dan memperlakukan Saudara kita yang sedang dirundung kemalangan. Mari berusaha menjadi muslim yang sempurna dengan menjaga diri kita dari tindakan menyakiti orang lain.

Seperti sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang muslim adalah orang yang muslim lainnya merasa selamat dari gangguan lisan dan tangannya”.

(Hadits Shahih, Riwayat  Muslim, Lihat Shahiihul jaami’ no. 6709)

Kini atas nama Seventeen, Ifan pamit dan memohon maaf jika selama bermusik beliau dan kawan-kawannya yang telah berpulang pernah betbuat kesalahan. Mari buka hati kita untuk memaafkan mereka dan sama-sama kita do’akan yang terbaik.

Semoga Ifan dapat segera bangkit dan merajut kembali kehidupannya di jalan yang lurus. Semoga Almarhum Bani, Herman, dan Andi serta Almarhumah Dylan juga korban-korban meninggal lainnya husnul khotimah. Diampuni dosanya dan mendapat tempat yang terbaik di sisi Allah. Dan kita do’akan juga diri kita agar selamat dari lisan dan perbuatan yang membuat kita terjerumus ke neraka. Aamiin.

 

Citizen Journalism

Awal Mula #10YearChallenge Hingga Viral di Indonesia

Published

on

By

Awal tahun 2019 ini dunia media sosial di tanah air dibuka dengan konten unik bertajuk #10yearchallenge. Hingga kini belum diketahui siapa yang memulai aksi, tantangan atau isi konten yang saat ini sedang ramai di media sosial baik di Instagram, Facebook hingga Twitter. Dalam aksi tantangan ini, semua pengguna media sosial termasuk juga para pesohor mengunggah foto-fotonya dalam rentang waktu 10 tahun kebelakang. Nah, foto lama tersebut kemudian disandingkan dengan foto terbaru di tahun terbaru.

Awal kemunculan tantangan unik ini dimana seseorang berbagi potret mereka dalam rentang 10 tahun. Tantangan memiliki beragam julukan mulai dari #HowHardDidAgingHitYou, 2009vs2019, GlowUpChallenge dan lain sebagainya. Kadang kala juga berisi perbandingan 2 foto parodi foto diri dengan foto idolanya sehingga kerap disebut meme.

Dipercaya tantangan #HowHardDidAgingHitYou ini pertama kali dimulai di media sosial Facebook oleh seorang penggunanya yang bernama Damon Lane. Damon yang adalah seorang chief meterologist di KOCO News 5 Oklahoma mengunggah foto dirinya terbarunya pada hari Jumat, 11 Januari 2019. Sejatinya, ia hanya akan membandingkan foto profil pertamanya di Facebook dengan foto terbaru dirinya saat ini. Kemudian terjadi orang-orang mulai mengikuti menguggah foto drinya sekarang (tahun 2019) dengan foto dari 10 tahun lalu (dalam hal ini tahun 2009). Kemudian tantangan ini berkembang hingga memiliki beberapa julukan seperti 2009vs2019, How Did Age Hit You atau 10 year challenge.

Tak berapa lama, para pengguna media sosial mulai mengunggah postingan tantangan ini dan menjadi populer. Bertambahnya popularitas tantangan ini lalu memunculkan banyak meme, para pengguna menyelipkan tokoh idola sebagai pembanding fotonya yang bertujuan menghibur pengikutnya. Mereka menyematkan foto binatang kesayangan, bahkan karakter film dalam membuat konten tantangannya.

Setiap tahun selalu ada tantangan-tantangan model ini yang lebih kurang mirip seperti Puberty Challenge di tahun 2017 yang mana pengguna media sosial menunjukkan foto sebelum dan sesudah perubahan aneh menuju dewasa. Di tahun 2018 ada #GlowUpChallenge yang sempat populer kala di mulai oleh aktris AS Miley Cyrus pada ajang Oscar dan berkembang menjadi besar ketika dibandingkan dengan foto sebelumnya pada tahun 2012 dan 2018.

Di Indonesia sendiri, tantangan #10yearchallenge sedang berada di puncaknya, hal ini dapat diketahui pada berbagai lini masa media sosial banyak terdapat postingan yang membandingkan foto 10 tahun lalu dengan foto sekarang.

Untuk membuat konten tantangan semacam ini sebenarnya tidak sulit, hanya dengan mencari foto-foto lawas anda pada album media sosial anda, biasanya Facebook atau album yang tersimpan di ponsel pintar anda. Biasanya jika sudah terhubung dengan aplikasi Foto Google, Timehop ataupun dengan browsing foto lawas anda di laptop atau PC anda, maka akan makin mudah dilakukan.

Jika telah anda menentukan foto lawas yang akan anda gunakan, langkah selanjutnya adalah membuat kolase perbandingan yang akan berisi foto diri anda yang telah ditentukan sebelumnya (foto lawas 10 tahun lalu) dengan foto diri terbaru di tahun 2019 ini. Anda dapat menggunakan beragam aplikasi grid yang terdapat baik di Google Play Store ataupun Apple Store. Penulis menggunakan aplikasi Picarts yang dapat anda unduh baik di android maupun iOs, kemudian pilih grid 2 bidang, selanjutnya isi kanan kirinya dengan foto yang ingin ditampilkan dan jangan sampai lupa tulis tahunnya. Selain Picart, anda dapat juga menggunakan aplikasi Canva, Unfold, Instagrid, dan lain sebagainya. Setelah selesai, unggah hasilnya ke semua media sosial anda seperti Instagram baik strory maupun feed, Facebook, juga Twitter, dengan tagar #10yearchallenge dan #10yearschallenge.

Continue Reading

Citizen Journalism

Moderator Debat Capres 2019 Kok, Ira Koesno Lagi? Kenapa Enggak Dedy Corbuzier Saja?

Published

on

Sudah calonnya wajah lama, lah kok moderatornya ikut-ikutan wajah lama pula. Ini mau debat atau mau reunian? Kayak enggak ada orang lain aja. Oke-oke, Najwa Shihab jelas enggak mungkin, karena nanti orang bakal protes dan bilang, ini sebetulnya Debat Capres atau talkshow Mata Najwa? Tapi, apa enggak ada alternatif lain?

Menurut kamu, seberapa menariknya Debat Capres dan Cawapres antara pasangan Jokowi – Ma’ruf Amin dan Prabowo – Sandiaga Uno yang akan dilangsungkan beberapa hari lagi itu?

Kalau menurut saya, setidaknya ada tiga hal yang menyebabkan Debat Capres dan Cawapres Perdana kali ini menjadi tak terlalu menarik lagi.

Calonnya Dia Lagi-Dia Lagi

Nyaris tak ada wajah baru, apalagi (entah) ide baru yang bakal tampil dalam ajang Debat Capres yang seharusnya bisa menjadi tontonan yang sarat informasi akan siapa dan bagaimana cara ia kelak menahkodai negeri yang bak sepenggal surga di muka bumi ini.

Kita tahu, dari keempat orang Calon Presiden dan Wakil Presiden tersebut, hanya Kyai Ma’ruf yang belum pernah kita lihat performanya dalam sebuah ajang debat Pilpres atau Pilkada, Sandiaga Uno, tentu masih sangat lekat dalam ingatan bagaimana penampilannya pada Debat Pilkada 2017, tempo hari.

Sementara Pak Jokowi dan Pak Prabowo merupakan dua calon yang lima tahun lalu pernah berhadap-hadapan. Dua calon yang lima tahun lalu telah meninggalkan jejak berupa kata “bocor” dan “dananya ada”. Dan si empunya kata “dananya ada” lah yang akhirnya keluar sebagai pemenang. Ini jadi semacam indikasi, kalau masyarakat Indonesia memang lebih menyukai kabar gembira ketimbang sebuah pesan atau (bahkan) fakta yang kurang menggembirakan. Satu kenyataan yang seharusnya menjadi perhatian Pak Prabowo dan Tim Kampanyenya.

Sayangnya, baik Pak Prabowo, ataupun tim kampanyenya seperti melupakan poin itu. Lagi-lagi, dalam beberapa kesempatan Pak Prabowo menyampaikan hal-hal yang kurang menggembirakan, macam; ramalan tentang masa depan Indonesia yang ia baca dari sebuah novel bahwa Indonesia akan bubar pada tahun 2030.

~ Lho, emang kapan jadiannya? Kok tau-tau bubaran.

Au ah, Bong!

Atau yang terbaru, ia mengatakan bahwa masih banyak dokter di negeri ini yang penghasilannya lebih kecil dari penghasilan juru parkir. Sekalipun apa yang dikatakan Pak Prabowo itu benar adanya (tapi amit-amit kalo ramalan tentang bubarnya Indonesia, sih) tetap saja bagi lawan politiknya, ini adalah celah untuk mengatakan bahwa Prabowo hanya menebar ketakutan. Persis ketika ia mengatakan keuangan negara “bocor” yang dinyinyiri segenap cebong di Indonesia, meskipun, pada akhirnya Pak Jokowi pun mengakui hal itu.

Tapi para kampret enggak usah khawatir dengan pernyataan-pernyataan Pak Prabowo yang kerap blunder dan berpengaruh pada elektabilitasnya. Enggak usah khawatir. Sebab, seberapapun seramnya pernyataan Pak Prabowo, tetap saja itu baru sebuah pernyataan. Berdoa saja, semoga rakyat dapat menangkap pesan apa yang sebenarnya ingin disampaikan Pak Prabowo.

Sementara Pak Jokowi, akalan lumayan berat upayanya untuk meyakinkan lagi masyarakat yang lima tahun lalu sudah ia jejali janji-janji, entah berapa janji yang sudah terpenuhi. Saya enggak bisa menyebutkannya, tapi jika berbicara tentang Pak Jokowi, saya mendadak jadi ingat sebuah lirik lagunya ayahanda Rhoma Irama, “Kau yang berjanji kau yang mengingkari, kalau begini jadinya tak mau—kumemilih Anda.”

Belum lagi upayanya untuk meyakinkan para pendukungnya yang sempat kecewa karena Pak Jokowi akhirnya melabuhkan pilihannya untuk posisi wapres kepada ulama senior yang merupakan salah satu aktor penyebab terpenjaranya Ahok. Yups, tul banget, dialah Kyai Ma’ruf Amin. Andai kamu Ahoker, gimana coba perasaan kamu? Begitulah, hidup memang kadang terlihat seperti ngeledek kamu. Yang sabar, ya!

Adanya Kisi-Kisi Soal Debat

Buset, ini Debat Capres atau Ujian Nasional? Pakai ada kisi-kisinya. Rocky Gerung menyayangkan alasan sembrono KPU yang mengatakan bahwa alasan diadakannya kisi-kisi agar tak ada yang dipermalukan di antara keempat calon peserta Debat Capres tersebut.

“Coba saya tanya ke KPU, dari empat wajah itu, yang berpotensi memalukan publik, yang mana?” Demikian pertanyaan Rocky Gerung kepada KPU dalam sebuah acara talkshow di salah satu stasiun televisi.

“Sebab, kalau Anda nggak bisa jawab,” Kejar Rocky, karena merasa belum mendapat jawaban yang memuaskan, “Anda menduga keempat-empatnya punya potensi untuk dipermalukan itu, atau Anda memang tahu tapi Anda sembunyikan, kan itu semiotiknya kalau kita membongkar persembunyian dari kekacauan ini” Pungkas Rocky yang diikuti tepuk tangan penonton.

Moderatornya Kok Ira Koesno Lagi?

Sudah calonnya wajah lama, lah kok moderatornya ikut-ikutan wajah lama pula. Ini mau debat atau mau reunian? Kayak enggak ada orang lain aja. Oke-oke, Najwa Shihab jelas enggak mungkin, karena nanti orang bakal protes dan bertanya, ini sebetulnya Debat Capres atau talkshow Mata Najwa? Apalagi Dedy Corbuzier, lebih enggak mungkin lagi, khawatir sangking kesalnya sama penonton yang berisik, dihipnotis itu penonton agar mematung sepanjang debat.

Tapi kan masih ada Via Vallen. Lho ini beneran, apa salahnya kita kemas debat dengan suasana rileks supaya kedua pendukung calon enggak ribut dan tetap saling menebarkan rasa sayang. Ya, enggak?

Atau kalau Via Vallen dirasa kurang tepat, saya masih ada alternatif lain. Gimana kalau Nissa Sabyan? Nah, ini kayaknya sudah paling pas. Bisa jadi penengah kalau debat mulai panas. Cukup dengan melantunkan liriknya yang sangat fenomenal itu, “Hmmm.. Hmmm.” Dijamin, yang lagi ngotot-ngototan langsung terdiam, tenang, karena berasa diguyur air zam-zam.

Tapi kalau bisa, sebelumnya, Nissa Sabyan mengingatkan kepada peserta debat agar enggak usah ikut-ikutan nyanyi. Enggak usah nanya kenapa. Sudah jelas jawabannya, agar enggak ada yang dipermalukan. Ituh!

Continue Reading

Citizen Journalism

Media yang Dulu Bukanlah yang Sekarang (Pilpres 2019)

Published

on

Media yang Dulu Bukanlah yang Sekarang (Pilpres 2019)

Bicara soal perkembangan media massa di Indonesia, seperti televisi, surat kabar hingga munculnya media baru seperti online saat ini, tentu sudah mengalami berbagai dinamika. Jika dulu media sangat menjunjung tinggi nilai dan kaidah jurnalisme, tetapi makin kesini hal itu sudah bergeser.

Tentu kita semua mengetahui, dalam kontestasi Pilpres 2019 ini saja sudah banyak sekali peristiwa-peristiwa politik, yang menjadi “makanan” utama dari media. Dari mulai deklarasi pasangan calon, strategi kampanye, hingga hal “printilan” lain yang seakan terlalu berlebihan untuk disorot.

Kita tentu jengah dengan berbagai headline dari suatu media yang seperti berat sebelah. Hal ini cukup simpel, sebab media saat ini lebih umum “di bekingi” oleh orang yang berkedudukan tinggi di suatu partai politik.

Media seakan lupa akan kaidahnya sebagai kontrol sosial, independen, dan menjunjung tinggi etika jurnalisme. Saat ini, media justru makin menampakan wajah aslinya dalam bersikap. Masyarakat pun pasti sudah merasakan hal ini sejak lama.

Fenomena ini mengisyaratkan media, jika mereka sudah tidak sehat lagi. Sehingga ungkapan “media yang dulu bukanlah yang sekarang” pun cocok. Masyarakat haus akan berita yang berimbang, tidak menyudutkan, dan memiliki isi berita yang bergizi. Tidak cuma asal heboh saja.

Pengambilan angle berita oleh media seharusnya jadi prioritas perbaikan. Masyarakat ingin sekali hidup damai, tidak terkotak-kotakan karena amarah yang makin “digoreng” oleh media dalam pemberitaannya. Cukup sudah.

Media seharusnya menjadi garda terdepan bagi masyarakat untuk mencerdaskan, mencerahkan dan menjadi pengontrol sosial. Dalam kaitan dengan Pilpres, harusnya media lah yang getol memberitakan visi misi dua pasangan calon, bukan malah sebaliknya. Menimbulkan perpecahan di masyarakat akibat ucapan yang berujung pada kontroversi dan permusuhan sesama masyarakat. Sehingga tercipta dua kubu politik yang makin hari makin panas.

Fatalnya, rusaknya media yang berpihak ini lambat tapi pasti secara menyeluruh akan menggerogoti idealisme para jurnalis-jurnalisnya. Bukan jadi mustahil juga, jika media saat ini bergeser ke media liberal. Siapa yang punya uang, dan memiliki media itu, menjadi penguasa yang bisa membelokan pandangan media untuk berpihak pada yang punya uang dan kuasa. Who knows?

Continue Reading
Advertisement

Trending