Connect with us

Citizen Journalism

SEVENTEEN, Tsunami dan Potret Buruk Akhlak Komunal Kita

Published

on


Awalnya saya kurang mengerti kenapa grup band ini bernama Seventeen. Apakah mengikuti jejak senior mereka, Dewa 19 yang mencantumkan angka 19 karena itu adalah umur rata-rata personel band saat rekaman album pertama? Entahlah, ternyata sulit juga mencari data otentik tentang grup band ini. Karena google selalu mengarahkan hasil pencarian ke grup seventeen asal korea. Bukan seventeen yang dari Yogyakarta.

Lagu yang paling saya ingat dari band yang terbentuk di tahun 1999 ini berjudul “selalu mengalah”. Dirilis tahun 2008, lagu ini berhasil menjadi lagu yang bagian reff-nya paling sering saya nyanyikan dihadapan Emak saya. “Mengapa selalu aku yang mengalah…..” padahal kan adik saya yang salah. 😥

Loh koq jadi curcol?! Abaikan!

20 tahun malang melintang di belantika musik Indonesia dan terus berkarya membuat seventeen berhasil menjadi band papan atas indonesia yang memiliki banyak penggemar setia. Band yang digawangi oleh Riefian Fajarsyah (Ifan) sebagai vokalis, Herman Sikumbang (Herman) sebagai Gitaris, M. Awal Purbani (Bani) sebagai bassist dan Windu Andi Darmawan (Andi) sebagai drummer telah berhasil mencetak 6 album yang dilempar ke pasar musik major Indonesia.

Sabtu, 22 Desember 2018 merupakan hari bersejarah yang menjadi penutup karier band Seventeen. Seventeen menjadi korban bencana tsunami saat memenuhi undangan acara family gathering PLN, di Tanjung Lesung Pandeglang, Banten. Dalam video amatir berdurasi kurang dari 2 menit, terlihat Ifan dan kawan-kawan yang sedang beratraksi di atas panggung membawakan lagu-lagu mereka diterjang oleh ombak yang datang dari arah belakang panggung. Tsunami yang diakibatkan oleh longsoran anak gunung krakatau yang datang tanpa tanda dan peringatan ini menyapu panggung dan tempat acara yang hanya berjarak 3 – 4 meter dari bibir pantai.

Beberapa jam setelah kejadian, Ifan melalui akun instagramnya menyatakan diri selamat. Namun Bani, sang bassist tewas dilokasi panggung, bersama dengan Oki, Road Manajer Seventeen.  Keesokan harinya, mayat Herman dan Ujang (additional player) ditemukan. Dan pada hari senin, 23 Desember 2018, setelah melalui pencarian yang panjang, jenazah sang drummer, Andi akhirnya ditemukan.

Kemudian, Senin malam 24 Desember 2018, satu jam yang lalu dari saya menuliskan kisah ini, istri tercinta Ifan, Dylan Sahara pun ditemukan. Namun naas, Dylan yang merupakan mantan presenter program infotainment yang kini maju sebagai calon anggota legislatif rupanya juga tidak selamat. Beliau ikut berpulang bersama ke-3 personel Seventeen lainnya.

Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.

Tak terbayang rasanya menjadi Ifan. Sepanjang 2x 24 jam ini beliau berbagi cerita tentang menanti kabar dari orang-orang terkasih. Doa dan harapan terus dimunculkan, berharap ada yang selamat. Berharap musibah ini tak menyisakan kesendirian untuk dirinya. Postingan yang teramat menyayat hati, namun malang bagi Ifan tak semua orang sudi berempati terhadap hal yang menimpanya.

Kematian orang-orang terdekat Ifan dalam waktu yang bersamaan rupanya tak berhasil menyentuh hati para “penceramah” sosial media untuk sejenak menahan jari dan lisannya memunculkan kata-kata bernada doa namun diselingi sindiran dan hujatan. Astaghfirullah hal adzim…

Wahai para Ustadz dan Ustadzah dadakan yang begitu ciamik menebar “nasihat” di akun orang-orang yang telah wafat sambil menghakimi jalan almarhum menyalurkan minat bakat dan mencari nafkah, cobalah sesekali tengok kitab Syekh Yusuf Qaradhawi. Buka bab tentang fatwa beliau mengenai musik dan bermusik.

Jika sudah membaca dan antum tetap tak sepaham, tak mengapa. Asalkan antum tahu bahwa ada pemikiran-pemikiran lain tentang segala hal diluar apa-apa yang sudah antum nyatakan sebagai sesuatu yang paling benar (sendiri).

Tapi saya tak ingin mengajak antum berdebat tentang kehalalan dan keharaman musik. Cukuplah kita mengimani keyakinan akan tafsiran dari hadis dan pendapat jumhur ulama yang sudah banyak membahas tentang ini.

Seperti yang Ustadz muda harapan bangsa, Dinar Zul Akbar katakan, Kita tidak boleh serta merta menyangkutkan orang terkena azab karena musik. Karena permasalahan musik ini bukan haram yg maklum minad din bidh dhoruroh alias suatu perkara yg ketetapan haramnya sudah mutlak. Berbeda dengan zina dan riba yang sudah jelas keharamannya.

Nah, ketika sesuatu tidak mutlak haram maka pelakunya tidak boleh diingkari dalam artian dianggap melakukan suatu dosa besar dan sebagainya. Bahkan sekalipun ada orang yang mati dalam keadaan zina, tetap wajib bagi kita untuk menjaga lisan.

Dari rentang waktu yang menyisakan kesuraman di area selat sunda ini, kita bisa melihat betapa banyak orang yang menyumbang komentar pedas mengenai tragedi yang menimpa Seventeen. Mereka menganggap personil Seventeen yang wafat, mati dalam keadaan su’ul khotimah. Ajal menjemput mereka ketika sedang jingkrak-jingkrak di panggung melakukan sesuatu yang diharamkan agama, bermaksiat kepada Allah. Innalillah…

Akun instagram Ifan pun tak luput dari komentar-komentar senada. Ifan yang saya yakini sedang mencari penyaluran kegalauan menanti, bertahan di lokasi bencana demi segera mendapat kabar tentang kawan dan istrinya, mencoba berbagi beban dengan para followers yang mungkin sedikit banyak bisa mengurangi lelah dan gundahnya. Namun rupanya nafsu berceramah kita lebih menggebu daripada nurani yang seharusnya melahirkan rasa kasihan dan empati.

Bukan hanya Ifan, netizen pun menyampaikan belasungkawa atas kematian Aa Jimmy. Seorang komedian bernama asli Argo yang dikenal suka menirukan gaya Aa Gym. Tapi sayang, banyak sekali yang lagi-lagi menyampaikan kalimat belasungkawanya dengan ditambahi bumbu-bumbu membongkar pilihan politik dan sikapnya di masa hidup yang mereka anggap salah. Netizen men-skrinsyut beberapa cuitan medsosnya yang dianggap jahil. Dan mengkaitkan musibah yang menimpa beliau sebagai akibat dari cuitan tersebut. Belakangan malah terkuak fakta bahwa akun yang skrinsyut-nya mereka sebarkan tersebut bukanlah akun asli almarhum Aa Jimmy. Melainkan akun kloningan dari pihak yang tidak bertanggung jawab.

Duh, betapa jari dan nafsu kita lebih cepat dari cahaya *eh kemampuan kita untuk berpikir.

Kita tega menyampaikan kritik tajam ditengah duka yang mendera saudara sebangsa kita. Yang mungkin alih-alih membuat mereka tersadarkan lalu bertaubat, malah menaburi garam di luka yang terbuka.

Kawan-kawan yang budiman, saya berhusnudzon bahwa maksud antum baik. Antum berdakwah dan ingin menyampaikan kebenaran sebagai pengingat bagi orang lain. Namun mengapa sangat tergesa sekali hal ini dilakukan. Tak bisakah kita mengambil jeda sebentar, memberi ruang bagi hati yang terluka untuk bernapas menggapai apapun yang bisa sedikit mengurangi rasa sakit? Tidakkah kita berpikir bahwa kata-kata kita, bukannya menambah semangat hidup malahan bisa menyakiti keluarga, istri, anak dan orangtua almarhum.

Dakwah adalah tugas seluruh manusia. Dakwah di saat duka dan petaka tidaklah salah. Namun ada waktunya. Ada caranya. Ada adab yang harus kita kedepankan. Ada empati yang lebih utama kita munculkan terlebih dahulu.

Bukankah kita lebih baik mengulurkan tangan untuk membantu mereka? Menawarkan dekapan dan genggaman tangan sebagai ungkapan yang menyatakan bahwa mereka tak sendirian menghadapi ini. Ada kita. Ada Allah yang bersama kita. Selayaknya kita berharap mereka yang ditinggalkan tak hilang arah untuk kembali bangkit dan melangkah demi melanjutkan hidup.

Bukankah lebih baik kita menahan diri dari membuat tulisan yang memvonis dan mengadili para korban. Jangan tambah beban psikologis mereka dengan “jahat”nya lisan kita yang bernafsu ingin sekedar mengingatkan. Bayangkanlah jika tragedi ini menimpa kita. Betapa sedihnya, betapa berat ujian yang harus dilewati.

Maka meski ilmu kita banyak, tetaplah utamakan untuk mengedepankan adab dalam menyampaikan kebenaran, memberi nasihat dan memperlakukan Saudara kita yang sedang dirundung kemalangan. Mari berusaha menjadi muslim yang sempurna dengan menjaga diri kita dari tindakan menyakiti orang lain.

Seperti sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang muslim adalah orang yang muslim lainnya merasa selamat dari gangguan lisan dan tangannya”.

(Hadits Shahih, Riwayat  Muslim, Lihat Shahiihul jaami’ no. 6709)

Kini atas nama Seventeen, Ifan pamit dan memohon maaf jika selama bermusik beliau dan kawan-kawannya yang telah berpulang pernah betbuat kesalahan. Mari buka hati kita untuk memaafkan mereka dan sama-sama kita do’akan yang terbaik.

Semoga Ifan dapat segera bangkit dan merajut kembali kehidupannya di jalan yang lurus. Semoga Almarhum Bani, Herman, dan Andi serta Almarhumah Dylan juga korban-korban meninggal lainnya husnul khotimah. Diampuni dosanya dan mendapat tempat yang terbaik di sisi Allah. Dan kita do’akan juga diri kita agar selamat dari lisan dan perbuatan yang membuat kita terjerumus ke neraka. Aamiin.

 

Citizen Journalism

Ingin Tahu Rahasia Untuk Mewujudkan Mimpi Menjadi Nyata? Temukan Jawabannya Di Sini

Published

on

Berapa banyak mimpi yang sudah Anda buat? Coba Anda hitung, mungkin sudah banyak sekali bahkan tidak terhitung rasanya kalua mimpi yang ingin dicapai dari kecil sampai saat ini hanya ada beberapa saja yang mungkin tercapai meskipun belum sesuai yang diharapkan.

Banyak sekali sekarang orang bisa sukses besar bahkan melebihi yang diharapkan pastinya. Anda mungkin bisa saja menyebutkan siapa saja orang tersebut yang bisa sukses seperti itu. Bill Gates, Mark Zuckerberg, lalu siapa lagi menurut Anda?

Anda pun bisa sukses dengan cara sendiri dengan bidang yang Anda inginkan juga. Mereka bisa seperti itu pasti ada penyebabnya. Penyebab sukses itu berawal dari mimpi, jika Anda menyadari hal itu maka Anda sendiri pun bisa untuk sukses dengan bermimpi terlebih dahulu. Lalu bagaimana Anda bisa mencapainya?

  1. Buat Mimpi Anda Dengan Jelas
    Seringkali membuat mimpi itu mudah dan seakan akan sangat mudah untuk dijalankan sesuai dengan yang Anda harapkan saat itu. Namun yang terjadi banyak sekali kendala yang akan Anda hadapi pastinya. Maka dengan membuat lebih jelas mimpi Anda itu akan mengurangi kendala yang akan Anda alami selama menjalankannya.
  2. Do it now
    Mulai lakukan aktivitas Anda yang lebih produktif saat ini juga. Banyak sekali aktivitas Anda, namun mana yang menurut Anda bisa produktif dan hanya membuang waktu saja?
    Anda harus memiliki aktivitas yang produktif untuk mewujudkan mimpi Anda sendiri.
  3. Buat Prioritas Mimpi Anda
    Setelah beberapa tahapan tersebut, sekarang saatnya Anda untuk menjadikan itu sebagai prioritas Anda. Banyak sekali kegiatan Anda namun mana yang bisa menjadi prioritas Anda saat ini. Dengan seperti itu tentu saja Anda akan lebih tau dan menghargai waktu Anda untuk mewujudkan mimpi Anda dengan lebih cepat.
  4. Cari Network yang sama
    Pentingnya Anda membangun network untuk mendapatkan kemudahan dalam mewujudkan mimpi Anda dengan lebih cepat lagi. Dengan adanya network ini membuat Anda bisa lebih banyak belajar dengan network yang berbeda-beda pastinya.Namun jangan pernah Anda abaikan begitu saja meskipun network Anda berbeda melainkan bisa Anda simpan terlebih dahulu untuk mewujudkan mimpi Anda yang lainnya yang bisa berjalan Bersama nantinya.
  5. Berbagilah Mimpi Anda
    Mimpi Anda sudah tercapai, maka tugas Anda selanjutnya adalah berbagi untuk Anda pun juga bukan hanya sukses di dunia melainkan juga di surge dengan ilmu yang bermanfaat untuk orang-orang yang ada di lingkungan sekitar Anda.

Kesuksesan berawal dari mimpi dan tujuan seseorang. Untuk mewujudkan mimpi menjadi kenyataan, Anda bisa membuat tahapan seperti menuliskannya terlebih dahulu dan membuat perencanaan mimpi dengan menggunakan planner seperti DreamPlanner, sebuah planner yang dikhususkan untuk mencapai mimpi dan tujuan Anda. Dengan begitu Anda akan selalu mengingat dan mengetahui prioritas Anda yang akan dilakukan.

Continue Reading

Citizen Journalism

Balada Kader Tarbiyah Kurang Ilmu Tapi Giat Menebar Ilmu. Patutkah?!

Published

on

Beberapa tahun yang lalu, seorang teman mengajak saya untuk mengikuti sekolah tahsin bergenre (baca: rasmul) Ustmani. Tujuannya tentu saja untuk memperbaiki bacaan dan khat Alqur’an kami.

Beliau mendahului saya mengikuti test masuk yang dipandu langsung oleh salah satu Qiyadah kami. Hasil test menunjukan beliau bisa memulai kelas dari level 4. Ustadzah penguji memujinya dengan mengatakan:

“kamu pasti rajin liqo yaaa, bacaannya sudah bagus, tapi butuh perbaikan lagi di bla..bla…bla.”

Saya pun tak sabar ingin mengikuti test. Saya ingin tahu kira-kira saya dapat level berapa. Kawan-kawan yang saya kenal di tarbiyah hampir semuanya masuk level 4. Saya tambah penasaran. Hehehe.

Fyi, waktu itu saya sudah memegang beberapa gerbong kajian non partisan. Satu grup pengajian ibu-ibu, satu grup pengajian remaja dan satu grup pengajian anak-anak. Semuanya free tanpa iuran. Dan tak pernah sekalipun saya masukin unsur-unsur politik dalam pengajian kami. Meski mereka tahu saya orang Partai Kesayangan Semua, tak sekalipun saya ajak mereka masuk partai tersebut.

Kata “belum waktunya” menjadi alasan saya ketika struktur menanyakan mengapa mereka belum kunjung saya “tarik” ke dalam. Namun dalam hati, saya memang ingin semua berjalan alami. Mengalir apa adanya. (Piss, bos!)

Dalam hati saya menyakini. Mereka kan sudah tahu kalau saya kader partai keren sekali itu. Jika mereka lihat ada kebaikan dari menjadi kader partai seperti saya bagi diri mereka, saya yakin mereka akan mengikuti tanpa diminta. Kenapa? Karena saya yakin sekali bahwa menjadi PKS (yah kesebut. Maafin yaa. Capek nyari singkatan 😅) adalah sebuah jalan kebaikan yang menebar kebaikan. Jadi tinggal tunggu Allah yang membukakan pintu hati dan jalan bagi mereka untuk bergabung.

Begitu pula dengan kawan sepermainan. Di dunia nyata, tak satupun ada yang secara frontal saya ajak masuk PKS. Kalo pilih PKS sih iya. Hahaha. Biarlah semua mengalir, apa adanya. Mereka punya mata, punya hati. Bisa menilai sendiri betapa bocor, ceroboh, cekakakan dan awut-awutannya saya. Loh koq?! 😅

Oke, kembali ke masalah tahsin.

Sebenarnya pendaftaran kelas sudah ditutup, namun lewat rekomendasi seorang teman, saya masih diperbolehkan untuk mengikuti ujian masuk. Saya diuji langsung oleh Ustadzah kabir yang namanya sudah sering sekali saya dengar bahkan pernah saya ikuti beberapa kajiannya. Beliau rupanya juga pemilik lembaga pendidikan tahsin yang mau saya ikuti. Ada perasaan grogi saat berkenalan. Merindingggg. Tapi saya mencoba santai. Hingga keluarlah hasil test saya.

Masya Allah. Ustadzah bilang saya harus mengulang dari level 1. 😱 Bacaan saya banyak salah, berantakan. Mengucap “Basmallah” pun belum benar. Tentu saya cukup kaget dan terpukul mendengarnya. Kawan-kawan yang saya beritahu pun merasa heran. “Koq bisa, Ra?!” Yaaa, manaa ku tahu 😥.

Saya pun mulai menimbang-nimbang untuk jadi mengikuti kelas atau tidak. Saya kesal, namun kebesaran nama sang Ustadzah disamping beliau pemegang sertifikat rasm Ustmani yang menjadi pemilik rumah tahsin tersebut membuat saya gentar untuk meragukan penilaian beliau.

Akhirnya saya mendapat kelas yang dimulai pukul 6 pagi. Tak boleh terlambat. Ada denda yang harus dibayar setiap menit jika datang terlambat. Sabtu pagi ba’da shubuh saya langsung menggeber sepeda motor saya ke arah Rawajati. Saya ingin datang lebih awal, selain karena tak ingin terlambat saya juga tak mau kelas lambat memulai yang akhirnya lambat juga selesai. Karena setelah tahsin, saya masih berkewajiban untuk hadir di liqo-an. Sungguh embuhhh. Kadang bantal di hari libur lebih menggoda…😓

Hal yang tak saya duga dari penghuni kelas tersebut rata-rata bacaannya sudah bagus-bagus. Khat-nya juga Masya Allah. Rata-rata dapat nilai sempurna dalam menulis. Banyak juga yang seumuran dengan saya waktu itu. Bahkan ada juga yang lebih muda. Saya yang tadinya mau songong jadi minder. Kalau kayak mereka-mereka ini dapat level 1. Apalah saya ini.😵

Dari 12x pertemuan yang diwajibkan, kami hanya boleh izin 3x. Lebih dari itu tak diperkenankan untuk ikut ujian kenaikan tingkat. Saya sukses hanya hadir 6x. Hahaha. Ada acara dan tugas-tugas lain yang tidak bisa (baca: mau) saya hindari. Saya pun pasrah. Saya yakin tak boleh ikut ujian dan harus mengulang kelas dari awal lagi. Biarlah.

H-1, saya pastikan ke guru kelas kalau saya tak akan hadir di ujian. Beliau bilang akan coba ditanyakan dulu ke Ustadzah. Saya bilang: “Gak usah repot-repot, Mbak. Palingan suruh ngulang. Tapi boleh juga deh ditanyain dulu, saya tunggu kabarnya. Hehehe.” *masih ngarep.

Dan ternyata saya boleh hadir ujiaaannnn. Padahal di kelas lain yang 4x izin aja sudah dapat ketetapan gak boleh ikut ujian. Saya yang 6x koq bolehhh. Canggih kannn. Saya pun senyum-senyum.

Saya datang ke tempat ujian dengan cengengesan karena yakin tak akan diluluskan. Wong, jarang masuk. Banyak materi yang ketinggalan dan guru kelas pun geleng-geleng setiap kali datang, saya bilang “maaf, aku belum ngerjain PR, Mbak. Boleh ngerjain disini gak?” Hehe.

Kami diuji satu per satu. Saya perhatikan wajah-wajah kawan yang keluar dari ruangan ujian rata-rata pingin nangis. Mengeluh susah banget soalnya dan menebak score berapa. Karena score tertinggi itu 80 dan untuk dinyatakan lulus butuh 77. Edan kata saya. Salah 3 ajah gak lulus. Pliss deh 😑

Saya masuk ruang ujian dengan gontai. Soal pertama, salah… soal kedua dan ketiga saya yakin juga salah. Ke empat dan kelima saya sudah gak pake mikir bacanya. Sama seperti saya baca sehari-hari saja. Bodo amatlah. Soal keenam, ketujuh dan seterusnya sampai soal ke 15, kepala saya sudah muter-muter. Saya putus asa karena yang saya dengar dari mulut Ustadzah hanya kata “ulang, ulang, dan ulang”. Oh iya, di masing-masing soal kami diberi kesempatan 3x untuk mengulang bacaan sampai benar. Jika sudah 3x mengulang dan tetap salah, maka score hilang.

Selesai ujian, saya keluar ruangan dan langsung tancap gas. Pulanggggg. Minum air segelas, ambil napas panjang dan cabut lagi ke tempat liqo. Disana kawan-kawan liqoan yang dari semalam rame doain saya biar lulus langsung nanya-nanya hasil ujian. Saya ceritakan “kebodohan” saya dan mereka semua tertawa. Eman benar. Bukannya dihibur malah pada ngetawain. Sungguh terlalu. Huh! 😥

Beberapa hari kemudian saya diminta datang untuk mengambil hasil ujian. Waktu itu sekalian ada kajian dari Ustadzah yang sudah melanglang buana ke luar negeri karena bacaan Alqur’annya yang bagus banget. Hafizah 30 juz. Masya Allah….

Saya buka lembar hasil ujian saya. Saya pun bingung. Saya hubungi guru kelas, mungkin hasilnya tertukar sama si anu. Dia bilang dia gak lulus, harusnya saya yang gak lulus. Bu guru bilang, itu sudah betul hasilnya. Saya ngotot ini salah. Beliau lebih ngotot lagi bilang kalau itu sudah benar. Saya pun bengong, nilai yang tertera di lembaran nyaris sempurna. Apa iya?!

Saya pun gamang. Dulu pertama kali datang kesini, saya merasa sudah jago bener mengaji dan ternyata dapat pukulan telak ditempatkan di level 1. Sekarang saat saya merasa paling “bodoh” dan malas koq malah dapat nilai sangat bagus kayak gini. Ah, duniaaa…. oh, prasangkaaaa….

Kemudian saya mendengarkan ceramah Ustadzah keren nan jelita di hadapan saya. Beliau mengatakan tentang pentingnya menuntut ilmu dan mengamalkan ilmu-ilmu yang kita peroleh di rumah tahsin ini ke masyarakat sekitar. Saat tiba waktu sesi tanya jawab. Saya pun bertanya dan mengeluarkan uneg-uneg saya selama ini.

” Assalammualaikum, Ya, Ustadzah. Perkenalkan saya, bla..bls..bla… Sungguh selama ini saya galau dan tertekan. Selama ini saya diminta oleh kawan-kawan dan pejabat masyarakat untuk mengajar ngaji. Ada grup Ibu-ibu, remaja dan anak-anak yang tinggal di pinggiran kali ciliwung. Saya malu Ustadzah, saya mulai berpikir bahwa tak cukup ilmu saya untuk mengajari mereka ini-itu. Tak pantas saya menjadi guru mereka. Ustadzah tahu sendiri, saya baru level 1. Ini naik ke level 2 juga atas belas kasihan kayaknya. Hahaha. Jadi bagaimana Ustadzah? Apakah tindakan saya membubarkan pengajian yang saya pegang tersebut dapat dibenarkan? Sungguh saya tak enak hati, saya mencari berbagai alasan kayak band malaysia exist untuk berhenti mengajar. Saya pun berusaha mencari pengganti yang sekiranya lebih pantas dan lebih berilmu dari saya. Tapi belum juga dapat. Akhirnya ya kelas gak jalan-jalan. Sekalian juga saya bilang disini kalau ada kawan-kawan dan para guru yang berkenan mengajar di lingkungan saya, sungguh saya sangat berterimakasih. Tapi mohon maaf kalau belum ada kompensasinya. Bagaimana menurut Ustadzah?”

Sang Ustadzah pun menjawab:

“Saya panggil kamu “Mbak” saja ya bukan “Ibu” karena sepertinya masih muda sekali. (*uhuyyy dalam hatiku).

Begini ya, Mbak. Kamu harus banyak-banyak bersyukur karena diperkenalkan dengan rumah tahsin disini. Tempat dimana kamu bisa menempa ilmu yang selama ini kamu dipandang lemah. Dari sekian banyak akhwat dan guru, Allah memilih kamu, Mbak. Kamu yang dipilih Allah untuk hadir ditengah-tengah masyarakat, mengajar kalam-Nya. Adalah sebuah kesalahan besar ketika kamu malah memutuskan untuk berhenti lalu membubarkan pengajian yang kamu bina. Hayoo istighfar duluuu.

Ilmu bisa dicari sambil diamalkan. Kamu dapat dan pahami sedikit dari sini, kamu bisa langsung sampaikan disana. Begitu seterusnya. Sampaikanlah walau hanya satu ayat. Artinya sampaikanlah apa-apa saja yang sudah kamu bisa dan pahami.

Kalau makhroj hurufmu baru sempurna sampai huruf “kho” ya ajarkan saja sampai huruf “kho”. Sambil kamu terus belajar disini. Jangan pernah melepaskan kesempatan ini atau memberikannya kepada orang lain. Allah itu sudah memilih kamu.

Mungkin banyak yang lebih pintar dari kamu, tapi karena satu atau lain hal Allah urung memilihnya. Mungkin karena ia sudah sibuk mengajar di tempat lain, mungkin tak mau mengajar di tempat-tempat yang kamu ceritakan, atau mungkin banyak kerjaan lain atau apalah. Maka dari itu, tetaplah kamu genggam kesempatan untuk beramal baik yang datang kepadamu. Terus asah dirimu untuk menjadi lebih baik di tempat ini. Dan berbagilah pengetahuan dengan mereka-mereka yag sudah Allah pilihkan ada dalam hidupmu.

Mbak, sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang brlajar dan mengajarkan Alqur’an.

Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.

Berlomba-lombalah dalam kebaikan.

Jangan karena merasa kurang ilmu, lalu kamu lepaskan kesempatan untuk beramal baik, kamu berhenti untuk menyampaikan kebaikan, dan menunggu orang lain melakukannya dengan bersembunyi dibalik alasan keterbatasan diri bahkan dalil fardhu kifayah.

Jangan juga merasa inferior melihat orang yang ilmunya banyak dan lebih pantas dijadikan guru dibanding kamu sehingga kamu melipir. Berhenti menebar manfaat dengan alasan mau nyari ilmu dulu yang banyak. Padahal yang banyak ilmunya belum tentu juga mau mengamalkan. Dan belum tentu juga kamu punya kesempatan untuk mengamalkan ilmu nanti disaat kamu sudah merasa berilmu. Lah, kalau umurmu tak panjang bagaimana? Jangan sampai di akhirat kamu malah menyesal nantinya.”

Habislah saya disadarkan (baca: diomelin) oleh sang Ustadzah dengan logat jawanya yang kental sekali.

Tuh yaa, dengerinnn. Jangan sampai harus diomelin dulu kayak saya baru sadar. Jangan sampe nyesel deh kawan-kawan. Berbuat kebaikan ke orang laen jangan diberhentiin sampe bab niat doang. Belajar mah kudu. Seumur hidup kalo bisa. Nah menyebarkan ilmu juga harus. Biar sedikit asal manfaat kan gak masalah. Gak harus nungguin gelar, nanti malah bendera kuning yang duluan berkibar. Ih, ngeriiii 😭

Continue Reading

Citizen Journalism

Kisah Cinta Presiden RI yang Bikin Meleleh

Published

on

Kisah cinta presiden RI dengan pasangannya selalu saja jadi topik yang menarik. Di balik sepak terjangnya menjadi pemimpin negara, kita tahu ada sosok yang mendampingi dari belum jadi siapa-siapa, jatuh bangun, dan akhirnya menjadi presiden.

Dari 7 Presiden Republik Indonesia setidak ada 3 orang jalinan asmaranya menjadi sorotan nasional. Yang pertama adalah Soekarno dengan Fatmawati.

Soekarno bertemu Fatmawati saat dibuang ke Bengkulu di tahun 1938. Kala itu, ia memiliki Inggit Garnasih sebagai istri dan dua orang anak angkat.

Suatu saat, ia bertemu ayah Fatma yang merupakan salah satu tokoh di Bengkulu. Fatma diajaknya serta.

Soekarno langsung jatuh hati. Mengetahui Fatma putus sekolah, ia menyekolahkan Fatma yang dekat dengan anak angkatnya. Fatma pun dititipkan ayahnya di rumah Soekarno.

Lama-kelamaan, Inggit dan anak angkatnya mulai curiga dengan kedekatan Fatma dan Soekarno. Pertengkaran kerap terjadi sampai Fatma pindah ke rumah neneknya.

Namun, Soekarno masih curi waktu menjadi guru Bahasa Inggris Fatma. Sempat berpisah sewaktu Soekarno dipulangkan ke Jawa, Soekarno curi waktu untuk bertemu lagi. Tekadnya sudah bulat untuk memiliki anak dari Fatmawati.

Setelah bercerai dengan Inggit pasca rumah tangga yang kian tidak kondusif, ia pun meminang Fatmawati.

Lalu ada B.J Habibie dan Ainun. Kisah lama Presiden ketiga Republik Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie dengan sang istri, Ainun, masih memikat untuk disimak.

Siapa sih yang tak tahu kisah cinta Habibie dan Ainun?

Hasri Ainun Besari atau yang akrab disapa Ainun merupakan istri dari mantan Presiden Indonesia, B.J. Habibie. Eyang Habibie, yang merupakan ahli dalam bidang pesawat terbang ini, dikenal sangat romantis dan mencintai istrinya yang juga merupakan seorang dokter

Selama lebih dari 40 tahun, keduanya hidup bersama dengan penuh cinta dan kebahagiaan. Tak heran, kisah cinta keduanya juga diabadikan dalam sebuah film berjudul “Habibie dan Ainun”.

Pada tahun 2010, saat Ainun meninggal dunia karena kanker ovarium yang dideritanya, Habibie begitu berduka karena kehilangan orang yang sangat dikasihinya tersebut. Kisah cinta mereka tentu memberikan beberapa pelajaran berharga bagi kita semua.

Terakhir ada SBY dan Ani Yudhoyono. Sudah kurang lebih satu bulan, Ani Yudhoyono menjalani perawatan di Singapura. Ya, sejak awal bulan Februari silam, istri mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu mendapat pengobatan di rumah sakit National University Singapura lantaran penyakit kanker darah yang dideritanya.

Kesetiaan Susilo Bambang Yudhoyono pada istrinya, Ani Yudhoyono yang sedang sakit menjadi sorotan.Pasalnya, SBY terlihat selalu menemani istrinya yang saat ini tengah berjuang melawan penyakit kanker.Ia pun juga rela meninggalkan segudang aktivitasnya demi untuk selalu berada di sisi sang istri tercinta.

Menilik kembali kisah asmara Susilo Bambang Yudhoyono dan Ani Yudhoyono rupanya ada cerita menarik. Susilo Bambang Yudhoyono dan Kristiani Herrawati (nama muda Ani Yudhoyono) pertama kali bertemu di awal tahun 1973 di Magelang, Jawa Tengah.

Keduanya bertemu di lingkungan Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI). Kristiani Herrawati adalah putri ke-3 Sarwo Edhie Wibowo yang merupakan gubernur AKABRI pada masa itu. Sedangkan SBY merupakan pemuda asal Pacitan, Jawa Timur yang dikenal sebagai taruna cerdas dan berprestasi.

Continue Reading
Advertisement

Trending