Connect with us

Sepakbola

Semifinal Liga Champions: Epic Comeback, Tottenham Bekuk Ajax 3 – 2

Published

on


Semifinal Liga Champions: Epick Comeback, Tottenham Bekuk Ajax 3 - 2

Finroll.com – Tottenham Hotspur memastikan diri melaju ke partai final Liga Champions musim ini usai menaklukkan Ajax Amsterdam dengan skor 3-2 dalam laga semifinal leg kedua yang dihelat di Johan Cruijff Arena, Kamis (9/5) dini hari WIB.

Menang 1-0 di leg pertama, Ajax sejatinya berada di atas angin ketika unggul dua gol di babak pertama, masing-masing lewat aksi Matthijs de Ligt dan Hakim Ziyech.

Namun Spurs bangkit di babak kedua. Lucas Moura menjadi bintang kemenangan The Lilywhites dengan mencetak tiga gol alias hat-trick, termasuk gol kemenangan di detik-detik terakhir laga.

Hasil ini membuat skor agregat menjadi 3-3 dan Spurs pun berhak lolos ke final berkat keunggulan agresivitas gol tandang. Son Heung-min cs akan menantang Liverpool di Wanda Metropolitano, Madrid pada awal Juni mendatang.

Laga babak Pertama

Bertindak sebagai tuan rumah, Ajax langsung tampil agresif sejak kick-off. Hasilnnya, De Ligt sudah berhasil membawa timnya unggul ketika laga baru berjalan lima menit.

Menerima sepak pojok yang dilepas Lasse Schone, De Ligt yang lolos dari kawalan Kieran Trippier sukses menyundul bola untuk membuat Hugo Lloris tak berkutik menyaksikan gawangnya bobol.

Hanya dua menit berselang, Spurs berusaha memberikan balasan instan. Sayang usaha yang dilakukan Son Heung-min masih digagalkan tiang gawang.

Ajax sukses menggandakan keunggulan lewat gol Ziyech di menit ke-35. Menerima umpan Dusan Tadic, Ziyech melepas tembakan first time ke tiang jauh yang tak bisa dijangkau Lloris. Skor 2-0 untuk keunggulan tuan rumah bertahan hingga turun minum.

Babak Kedua

Kembali dari kamar ganti, Mauricio Pochettino melakukan perubahan strategi dengan memasukkan Fernando Llorente untuk menggantikan Victor Wanyama. Serangan Spurs pun makin berbahaya.

Spurs pun mendapatkan hasilnya ketika Lucas Moura mencetak dua gol dalam kurun waktu hanya empat menit, masing-masing di menit ke-55 dan 59. Skor pun kini menjadi sama kuat 2-2.

Ajax dan Spurs sama-sama memperoleh peluang untuk menambah gol. Sayang peluang yang didapat Ziyech dan Lucas Moura masih gagal menghasilkan gol.

Memasuki 10 menit terakhir pertandingan, Pochettino menambah daya gebrak timnya dengan memasukkan Erik Lamela dan Ben Davies. Spurs pun mengurung pertahan tuan rumah.

Drama terjadi saat injury time. Ketika memasuki menit kelima dari enam menit waktu tambahan yang diberikan wasit, Spurs membuat publik tuan rumah terhenyak ketika Lucas Moura melengkapi penampilan luar biasanya dengan gol ketiga. Gol ini pun membuat skor agregat 3-3, tapi Spurs berhak lolos ke final berkat keunggulan agresivitas gol tandang.(bolanet)

Sepakbola

Semangat Class of ’92 Kembali Membara di Manchester United

Published

on

By

Ole Gunnar Solskjaer: Jangan Panggil Saya Bos di MU

Finroll.com –  Class of ’92Masa depan Manchester United yang cerah dari perkataan salah satu pemainnya, Andreas Pereira. Pemain yang lahir di Belgia tersebut mengindikasikan bahwa era ‘Class of 92’ bisa bangkit kembali di masa kepelatihan Ole Gunnar Solskjaer.

Pereira adalah satu dari sekian pemain muda The Red Devils yang diberi kesempatan untuk bersinar pada pramusim ini. Ia selalu berpartisipasi dalam dua laga uji coba terakhir di Australia dengan Perth Glory dan Leeds United sebagai lawannya.

Selain dirinya, masih ada sosok muda nan bertalenta lain seperti Mason Greenwood, Angel Gomes, Tahith Chong, hingga Daniel James dan Aaron Wan-Bissaka yang diboyong dari klub lain pada musim panas ini. Seolah mengingatkan publik kepada ‘Class of 92’.

Di masa tersebut, Manchester United berjaya dengan pemain-pemain mudanya yang merupakan jebolan tim muda. Mulai dari Ryan Giggs, David Beckham, Paul Scholes, hingga Neville bersaudara bersinar di bawah asuhan pelatih legendaris, Sir Alex Ferguson.

Pereira mengingat kembali masa itu. Dan diyakini bahwa Manchester United bisa mengulang era tersebut dengan memberikan kesempatan kepada para pemain unjuk gigi dalam masa pramusim tanpa tekanan berarti.

“Saya pikir kami harus membiarkan pemain muda menunjukkan apa yang mereka punya, terutama sekarang di pramusim, mereka punya peluang untuk menunjukkannya,” tutur Pereira dikutip dari The Mirror.

“Tentu saja, United selalu membeli pemain yang brilian. Tapi anda lihat Marcus Rashford dan Jesse Lingard, yang berhasil menerobos, dan sebelumnya ada Scholesy, Giggsy, dan Becks yang diberi kesempatan untuk berkembang sebagai pemain,” lanjutnya.

Kesempatan Pereira Terbuka Lebar

Pereira melihat kesempatannya untuk menampakkan diri di hadapan khalayak ramai sedang terbuka lebar. Apalagi Manchester United juga baru ditinggal gelandang lainnya, Ander Herrera. Ia berjanji takkan menyia-nyiakan kesempatan yang telah tersedia untuknya.

“Dengan kepercayaan dari pelatih, staf, dan manajemen dengan kontrak baru, itulah yang saya incar [jadi pemain reguler]. Harapannya saya bisa mengejar dan menunjukkan kepada pelatih bahwa saya bisa,” tambahnya.

“Saya pikir masih ada yang bisa ditunjukkan. Saya akan mendapatkan kesempatan tampil, menjadi lebih konsisten dan bermain lebih baik. Bila anda berada di tur ini, selalu ada kesempatan untuk bermain apik. Jika pelatih suka, secara tiba-tiba anda akan berada di tim,” tandasnya.

Kemungkinan besar Pereira akan diturunkan kala Manchester United melakoni laga ujicoba di kompetisi pramusim, International Champions Cup, melawan Inter Milan pada hari Sabtu (20/7) nanti. Pertandingan itu sendiri akan dilangsungkan di National Stadium, Singapura.

Continue Reading

Sepakbola

Man City dan Liverpool Dominasi Premier League Lagi? Verthongen: Tidak Akan!

Published

on

By

Bekuk Liverpool, Pep Guardiola Terkesima Penampilan Bernardo Silva

Finroll.com – Bek Tottenham Hotspur, Jan Vertonghen tidak yakin Manchester City dan Liverpool bakal kembali mendominasi Premier League musim depan seperti yang mereka lakukan pada musim 2018/19 lalu. Vertonghen menjamin tim-tim kuat lain bakal melawan, termasuk Tottenham.

Klasemen papan atas Premier League musim lalu praktis terbagi menjadi dua bagian. Pada bagian pertama, ada Man City dan Liverpool yang bersaing ketat sepanjang musim. Man City jadi juara dengan 98 poin, Liverpool runner-up dengan 97 poin.

Lalu, di bagian kedua ada Chelsea, Tottenham, Arsenal, dan Manchester United. Empat tim ini bersaing ketat merebut dua spot tersisa dalam empat besar.

Musim lalu, Chelsea dan Tottenham yang behasil merebut dua tiket terakhir ke Liga Champions, Arsenal dan MU terpaksa puas dengan Liga Europa. Hal ini membuktikan kesenjangan besar antara Man City dan Liverpool dengan empat tim lainnya.

Pun demikian, Vertonghen menjamin hal serupa tidak akan terjadi pada musim 2019/20 mendatang. Dia menjamin empat tim kuat itu akan mengguncang dominasi Man City dan Liverpool.

“Saya kira Man City dan Liverpool tidak akan melaju seperti yang mereka perbuat musim lalu,” kata Vertonghen kepada Sky Sports.

“Setidaknya ada enam tim yang ingin bersaing merebut gelar Premier League, dan kami semua tahu siapa mereka. Saya sendiri mempertimbangkan kami [Tottenham] sebagai salah satu dari tiga atau empat tim terbaik di liga.”

Pelajaran Berharga

Salah satu alasan yang mendorong keyakinan Vertonghen adalah kekuatan Tottenham. Dia yakin Tottenham seharusnya bisa merepotkan Man City dan Liverpool jika bisa tampil lebih konsisten.

“Kami kalah dalam beberapa pertandingan sekitar bulan Maret, April yang seharusnya tidak demikian, lalu Man City dan Liverpool terus memenangkan pertandingan mereka,” imbuh Vertonghen.

“Kami akhirnya tertinggal terlalu jauh dari mereka untuk bersaing merebut trofi Premier League, tetapi saya kira kami sudah belajar banyak dari kesalahan itu,” tutupnya.

Continue Reading

Sepakbola

Pep, Siapa Kapten Baru City?

Published

on

By

Dicuekin Sarri Tak Jabat Tangan, Pep Guardiola Balas Dengan Komentar Dewasa

Finroll.com – Manchester City tengah mencari kapten baru sepeninggal Vincent Kompany. Pep Guardiola menunggu seluruh pemain berkumpul sebelum mengumumkannya.

Kompany memutuskan meninggalkan klub setelah 11 tahun berada di sana. City tak hanya harus mencari bek tangguh penggantinya, tapi juga sosok pemimpin di lapangan.

Wajar mengingat Kompany adalah orang lama di klub itu dan sudah ada di sana sebelum era Sheikh Mansour. Meski Kompany jarang bermain dalam beberapa musim terakhir karena cedera, aura kepemimpinannya sangat terasa di dalam ruang ganti dan lapangan.

Kini tinggal City mencari sosok yang pas untuk mengganti Kompany. Sepanjang musim lalu, David Silva kerap menjadi kapten di lapangan mengingat dia adalah wakil kapten kedua City setelah Fernandinho.

Fernandinho memang dianggap pas tapi dia mulai menua dan juga kerap cedera. Apalagi kontraknya juga akan berakhir musim panas tahun depan. Demikian juga dengan Silva yang bakal pergi tahun depan setelah kontraknya habis.

Jika Silva dipilih maka otomatis City harus mencari kapten baru lagi di sesi pramusim tahun 2020. Beberapa nama seperti Sergio Aguero dan Kevin De Bruyne dianggap pantas mengingat senioritas mereka di dalam skuat.

Terkait kapten tim, Guardiola akan memilih ketika semua pemain sudah kembali ke skuat. Saat ini City masih ditinggal Aguero, Gabriel Jesus, Fernandinho, dan Ederson yang belum kembali usai membela negaranya di Copa America.

Bahkan Riyad Mahrez masih harus melakoni partai final Piala Afrika Jumat besok dan baru akan liburan untuk tiga pekan setelahnya.

“Kami akan memilih kapten baru. Kami menunggu hingga semua pemain kembali dan mereka akan memilih kaptennya,” ujar Guardiola di Manchester Evening News.

Continue Reading
Advertisement

Trending