Connect with us

Citizen Journalism

Salah Kaprah Ghozwul Fikri

Published

on


Istilah Ghozwul Fikri baru muncul satu abad belakangan apalagi ada situasi dimana negeri-negeri muslim dijajah oleh imperium barat yang dipandang kafir menurut umat Islam. Ditambah lagi, kaum penjajah mempunyai slogan 3G :  Gold, Glory, Gospel alias duit, kejayaan, dan agama.

Buat para aktivisis Islam, terlebih kader-kader Tarbiyah, tentu ga asing sama yang namanya Ghozwul Fikri atau perang pemikiran ini. Saya sendiri mendapat materi ini pas masih jadi kader dakwah sekolah kelas sepuluh SMA dari kakak kakak senior ROHIS. Sebuah materi yang baru buat saya, karna kalo di rumah biasanya cuman ngaji safinatun naja, atawa sifat dua puluh.

Materi ghozwul fikri di situs-situs islam harokah alias pergerakan merupakan isu yang seksi. Karna biasanya penulis akan memberikan gambaran akan powerfull dan liciknya musuh yang mencoba menggerogoti umat Islam seakan begitu nyata tampak di depan mata.

Sebetulnya bicara sejarah ghozwul fikri dalam Islam tentu dia seumur dengan peradaban dunia islam itu sendiri. Dulu, Nabi Muhammad sholallahu alayh wasallam sebelum mengalami intimidasi fisik, beliau diteror dengan ragam isu. Pernah difitnah orang gila, kena sihir, bisa memecah belah keluarga dan lain-lain.

Dan itu tak lain sebagai bentuk perang pemikiran zaman itu yang dilancarkan suku Quraisy terhadap kepribadian sang Nabi. Gunanya jelas mengancurkan intregitas sang Nabi supaya ajaran Islam gak bisa berkembang, atau dalam bahasa kerennya jamak dikenal dengan ungkapan Kill The Messanger.

Sebagai sebuah falsafah hidup tentu Islam akan mendapat ragam tentangan dan juga rintangan untuk uji kebenaran, dan itu wajar. Makanya saya sepakat bahwa materi ghozwul fikri tetap harus ada. Supaya umat muslim terbiasa dengan budaya literasi, belajar dan menganalisa tiap-tiap kejadian yang ada. Sebagaimana petuah bijak Tyrion Lannister kepada Jon Snow, akal butuh buku sebagaimana pedang butuh batu asah.

E tapi ada tapinya *halah. Sesuai namanya, harusnya ghozwul fikri yakni perang pemikiran juga dilakukan dengan cara yang beradab, sebagaimana karakteristik ilmu itu sendiri.

Apa yang Nabi Muhammad sholallahu alayh wasallam lakukan ketika mendapat teror opini yang macam-macam?. Beliau malah menunjukan akhlak yang adiluhur. Atau bagaimana peran Ali rodhiyallahu anhu sebagai pemimpin tertinggi saat itu dalam menghadapi khowarij yang merupakan bid’ah pertama dalam Islam, sebagaimana narasi Ibnu Taimiyah?. Beliau justru mengutus sahabat yang juga ahli ilmu, sang guru besar tafsir Al Quran Abdullah bin Abbas untuk berdebat dengan pemuka khowarij. Sang Amirul Mukminin Ali tidak mengangkat senjata sampai mereka kaum khowarij membuat onar dengan membunuh muslim lainnya.

Imam Syafi’i juga menulis kitab untuk membantah orang-orang yang ingkar Sunnah, makanya beliau dapat gelar nashirus Sunnah alias penolong sunnah. Generasi setelahnya juga demikian, yang paling menarik adalah Imam Al-Ghozali, hampir semua aliran yang beliau anggap menyimpang beliau tuliskan bantahannya melalui sebuah kitab al Munqidz min adh-Dholal.

Sesama kalangan Islam pun tradisi balas membalas lewat karya ilmiah juga terjadi. Bagaimana sengitnya dalektika antara Al-Ghozali dengan Ibnu Rusyd. Al Ghozali menulis kitab yang berisi rusaknya ajaran filsafat yang diberi judul Tahafut al-Falasifah (kekacauan kaum filsuf). Ibnu Rusyd yang lahir dari generasi setelahnya, menulis sebuah kitab yang menyangkal apa-apa yang dituliskan Al-Ghozali dalam sebuah kitab berjudul Tahafut at Tahafut.

Belakangan orang-orang yang meyakini bahwa dirinya bagian dari tentara Allah dalam perang suci ini mulai beralih fungsi menjadi agen-agen distributor hoax, ahli konspirasi atau bahkan ahli cucoklogi. Dikit-dikit salah Yahudi, dikit-dikit kafir, dikit-dikit liberal, dikit-dikit kuminis dan dikit dikit syiah. Tanpa pernah sekali-kali berintrospeksi diri dan bermuhasabah bahwa sebetulnya kita yang mendaku paling Islam juga punya kesalahan yang bisa dibilang gak kecil, kuy.

Saya pribadi pernah ada di fase ter-haasyem ini. Dulu, saya rajin bingit mengumpulkan buku-buku yang bertema konspirasi global. Nama-nama freemason, illuminati, knight of Templar mengisi hari demi hari. Sementara disisi lain mungkin banyak hukum-hukum ibadah yang saya sendiri gak tahu hukumnya.

Sebetulnya jika mau ditarik ke generasi keemasan Islam. Mereka semua sibuk dalam majelis-majelis ilmu. Mereka maju dalam budaya literasi hingga akhirnya pengaruh Islam bermuncratan ke berbagai penjuru bumi. Bahkan gak sedikit yang bilang bahwa di dalam kemajuan Barat sekarang, ada saham umat Islam yang lumayan disana.

Ghozwul fikri sekarang lebih banyak nuansa suuzhon alias prasangka buruk lalu dikaitkan dengan ajaran Islam. Misalnya, isu imunisasi. Banyak yang bilang, dulu zaman Nabi,  bayi itu cukup di tahnik (kasih kurma yang sudah dikunyah ke mulut bayi) sehat-sehat aja. Gak perlu yang namanya imunisasi. Atau juga banyak yang bilang bahwa gak perlu berobat ke dokter, cukup habbatus saudah. Kalau semangatnya ittiba nabi alias ikut nabi silahkan. Tapi ya nyalahin dan goblok-goblokin orang karna nda mau ikut dua hal tadi yaa masa iya harus sampai kek gitu?.

Belum lagi misalnya tentang ayat-ayat cucuklogi yang udah dimodif guna melegitimasi hipotesisnya. Atau kasus ada foto fulan dengan tokoh Yahudi misalnya, lalu langsung dicap antek Yahudi misalnya. Nah kalau si fulan ada foto di kebon binatang bareng monyet, apa iya langsung dicap antek binatang?. Kan kagak.

Makanya saya kadang-kadang suka ketawa lihat orang-orang berargumentasi di medsos. Si A misalnya udah bawa data plus dalil yang mungkin butuh waktu lama buat doi mengaksesnya, ee tetiba si B balas postingan si A dengan cukup 3 kata aja “cebong mah gitu” plus emo wkwkwk.

Kritis itu memang perlu tapi yaa ada aturan mainnya dan dia juga harus diimbangi dengan data-data. Saya khawatir justru orang-orang ini suatu saat akan sampai pada kesimpulan bahwa badannya yang gatel-gatel dan bau itu ulah jahat konspirasi global antara komunis, syiah, kafir, yahudi. Padahal emang doi-nya aja sendiri yang asik berkonspirasi sampai-sampai lupa mandi dan gosok gigi.

Advertisement

Citizen Journalism

Kritik untuk KPU: Alternatif Bahan Kotak Suara yang Lebih Hemat dan Kuat dari Kardus

Published

on

Perhelatan akbar pesta demokrasi rakyat Indonesia semakin mendekati hari H. Hanya tersisa waktu kurang lebih 4 bulan lagi menuju hari pencoblosan yang rencananya akan diselenggarakan tanggal 17 April 2019.

Segala persiapan pun dilakukan demi lancarnya pelaksanaan Pemilu 2019, yang berbeda dari pelaksanaan pemilu di periode sebelumnya. Kali ini rakyat akan langsung melakukan pemilihan legislatif (anggota DPD, DPRD, DPR RI) dan pemilihan eksekutif (Presiden dan Wakil Presiden) dalam satu hari pencoblosan.

Meski efisien dalam segi waktu dan tenaga kerja, namun kebutuhan logistik pemilu pelaksanaan konsep ini justru lebih meningkat. Terutama soal kotak suara yang berfungsi mengumpulkan kertas suara yang sudah dicoblos warga.

Biasanya tersedia rentang waktu tiga sampai empat bulan antara pileg dengan pilpres sehingga kotak suara yang terbuat dari alumunium dapat dipakai bergantian. Namun hal ini tidak bisa lagi dilakukan di Pemilu 2019 nanti.

Dengan alasan menekan anggaran, Komisi Pemilihan Umum (KPU) berinovasi untuk membuat kotak suara dari kardus, bukan dari alumunium seperti biasanya. Tentu hal ini menimbulkan pro dan kontra.

Sejauh pandangan saya penolakan terhadap kotak suara dari kardus ini bukan saja berasal dari peserta pemilu yaitu partai politik dan para calon, tetapi juga dari segenap masyarakat. Mereka tak bisa menerima rasionalisasi dari pihak KPU yang menyatakan bahwa kotak suara kardus lebih kuat dari kotak suara alumunium. Bayangin ajah, gan 😑

Bahkan komisioner KPU RI, Ilham Saputra sempat membuktikan kekuatan kotak suara kardus ini dengan cara diduduki. Hal itu dilakukan saat ia melakukan pemantauan langsung ke pabrik produsen kotak dan bilik suara di PT Karya Indah Multiguna (KIM), di Jalan Narogong, Kota Bekasi. Kotak kardus tersebut masih terlihat kokoh dan tidak penyok saat Ilham yang berbobot 107 Kg mendudukinya.

Sayang pembuktian hanya sampai disitu, padahal masyarakat ingin melihat bagaimana jadinya kalau Pak Ilham menduduki kotak kardus tersebut sambil disirami air. Apakah kotak kardus masih akan kokoh? Atau hanya basah-basah manja meski Pak Ilham sudah basah kuyup? Sungguh masih misteri.

Masyarakat seperti saya juga ingin tahu, apakah kotak kardus tersebut yang nantinya juga bakal dipakai di TPS Terapung adalah kotak anti badai yang tak mudah terbawa angin sekaligus bertahan jika sewaktu-waktu tak sengaja jatuh ke laut. Untuk itu kami meminta Pak Ilham untuk mencoba masuk kedalam kotak dan menceburkannya ke dalam kolam. Atau letakan kotak di lapangan saat turun hujan. Kalau air tidak mampu menembus kardus dan Bapak merasa baik-baik saja di dalam kardus -tidak basah, rapuh dan lengket-  seperti yang akan kertas suara alami jika terkena air, maka kami baru percaya bahwa kotak suara kardus tersebut lebih baik kualitasnya dari kotak suara alumunium.

Tolong jangan cemberut dulu Pak. Kami mengkritisi ini bukan tanda tak cinta dan hanya mencari-cari kesalahan. Bukankah sebagai rakyat kami sering disuguhi berita berupa laporan baik dari KPUD maupun KPU RI yang menyatakan bahwa adanya kertas suara yang rusak akibat terkena air, terjatuh ke laut, dll.

Nah, setahu kami yang rata-rata sudah lulus Sekolah Dasar dan mempelajari sifat benda ini, guru kami selalu mengatakan bahwa besi lebih kuat dan tahan air daripada kardus. Jadi ketika Bapak dan kawan-kawan mengatakan sebaliknya, sungguh kami perlu pembuktian yang nyata dan bisa diterima logika.  Kalau kotak suara dari alumunium saja tak mampu mengantisipasi serangan air, apalagi jika dari kardus? Gitchu Pak!

Tapi sebagai warga masyarakat yang baik, kami pun tak ingin memberikan kritik tanpa solusi. Berikut beberapa alternatif kotak yang bisa dipergunakan dalam Pemilu 2019, yang kami pikir lebih kuat dan fungsional dibanding kardus.

1. Kotak suara dari Tupperware

Tupperware merupakan jaminan ampuh untuk kotak bekal makan dan minum anti bocor. Selain tahan banting, plastiknya kuat di suhu panas dan dingin sekaligus. Tidak mudah berkerut, melempem atau penyak penyok.

Sekarang ini tupperware sering mengeluarkan produk terbaru dalam ukuran besar, berupa tempat kerupuk bervolume 5 liter sampai tempat menyimpan beras yang bisa menampung 10 Kg beras. Saya pikir pihak Tupperware tidak mungkin menolak jika mendapat pesanan produk yang ukurannya lebih besar lagi. Apalagi jika jumlah pesanannya besar, sampai puluhan ribu pcs.

Memang anggaran akan membengkak karena produk kotak suara tupperware jelas mahal dari kotak suara berbahan lain. Namun sebanding rasanya dengan garansi seumur hidup yang dijamin oleh pihak tupperware. Ada yang rusak dikit bisa diklaim untuk dapat ganti yang baru. Jadi kedepan KPU Indonesia gak perlu repot-repot lagi mikirin pembuatan kotak suara plus menghadapi pro kontra yang melingkupinya. Aman, efektif dan efisien serta jauh lebih hemat kedepannya.

Inilah yang membuat Ibu-Ibu selembut apapun tetap senyum jika sang suami pulang tanpa sepatu namun berang jika mendapat laporan tupperware-nya ketinggalan atau tutupnya hilang. Barang kesayangan soalnya Hehehe…

2. Kotak Suara dari Blek/Kaleng Kerupuk

Desain-nya yang mampu mempertahankan kelembaban udara di dalam kaleng sehingga kerupuk tahan lama, tidak mudah melempem dan tetap kriuk sudah terbukti di seluruh Indonesia. Tidak butuh pengujian produk lagi. Cukup sedikit modifikasi dengan ukuran yang lebih besar dan ditambah perangkat gembokan maka blek (tanpa pink) bisa menjadi pilihan yang tepat untuk kotak suara sempurna. Terlebih ia memiliki bagian transparan di depan yang membuat kita bisa melihat kertas suara di dalamnya. Sehingga tidak mudah bagi penguasa kegelapan untuk merekayasa penambahan dan pengurangan jumlah kertas suara. *ups 🙊

Lagipula KPU tak perlu bingung mengenai tempat penyimpanan dan perawatan pasca acara. Cukup sewakan atau jual tempat kerupuk ini ke UMKM yang bergerak dibidang ke-kriuk-an maka pemilu Indonesia akan punya dana abadi dari cash back penjualan kaleng kerupuk ini. Hemat bukan?!

3. Kotak Suara dari Plastik Sampah Bening.

Saya pikir inilah pilihan yang paling tepat jika tujuan KPU adalah menghemat biaya pembuatan logistik pemilu. Berapapun jumlah yang diperlukan pasti bisa dan cepat diproduksi. Plastik sampah tinggal ditempeli stiker untuk masing-masing hasil coblosan dan digulung sedikit atasnya sehingga bisa terbuka dan membentuk tabung. Kemudian tinggal diikat setelah perhitungan suara di TPS selesai dan kirimkan ke PPK dan jenjang perhitungan selanjutnya.

Jangan lupa tempelkan potongan ayat Alqur’an, Injil, Weda, Tripitaka atau huruf china yang menegaskan bahwa siapapun yang membuka ikatan plastik kotak suara padahal ia tidak berhak dan berwenang, maka akan disumpahi seluruh rakyat Indonesia terkena azab dan musibah sampai 7 turunan. Mantab kan!

Semoga KPU bisa mendengar kritik dan masukan dari kami. Kalau tidak, yaa mending kami golput saja…. *maksa 😂

Ya habis gimana, sudah repot-repot beri suara tapi suaranya gak dijaga sepenuh jiwa. Kan sedih. Sama sedihnya kayak kamu-kamu yang sudah memberi hati dan jiwamu kepada cem-ceman, tapi dia “lepeh” begitu ajah… 😒 *eh tapi ini bercanda ding!😜

Jangan golput lah, tapi pilih ajah semuanya *eh maksud saya pilih salah satunya…😉

Continue Reading

Citizen Journalism

Menanti Kejutan Ahok di Tahun Politik 2019

Published

on

Menjelang perayaan natal 2018 dan tahun baru 2019, pemberitaan di berbagai media diramaikan mengenai mantan Gubernur Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dipastikan akan bebas murni menjalani masa hukuman pidana yang menjeratnya atas kasus penodaan agama pada 24 Januari 2019. (more…)

Continue Reading

Citizen Journalism

Pilpres 2019, Dua Perbedaan Untuk Kemajuan Bangsa

Published

on

pemilihan presiden

Pemilihan presiden (pilpres) sebagai bentuk pesta demokrasi telah terasa gaungnya walaupun tanpa konvoi kendaraan dan kibaran bendera partai. Namun kegaduhannya tetap terasa di telinga lewat dunia maya hingga percakapan pengamat politik musiman.

Kegiatan politik lima tahunan seperti tak pernah kehabisan bahan untuk diperbincangkan. Bahkan berita hoax pun tidak luput dari pembicaraan. Tidak jarang pula perdebatan hingga gesekan terjadi dengan lawan bicara saat tensi semakin tinggi.

Untuk pertama kalinya pemilihan presiden di Indonesia menghadirkan 2 calon yang sama dengan pilpres sebelumnya. Dua calon presiden (capres) dengan latar belakang yang berbeda, semakin manambah daya tarik pembicaraan. Selalu ada kelebihan dan kekurangan dari masing-masing calon untuk dibicarakan.

Pada Pemilihan presiden periode kali ini (2019-1024), sejatinya akan dilaksanakan pada tanggal 17 April 2019. Dilakukan secara serentak dengan pemilihan legislatif pada seluruh wilayah Indonesia.  Bapak Joko Widodo (Jokowi) selaku petahana akan kembali berhadapan dengan Prabowo Subianto (PS08) yang pernah dikalahkan pada pilpres sebelumnya.

Jika kita perhatikan ada cerita menarik dari kedua capres tersebut di atas, penyebutan atau penyingkatan nama yang memiliki sejarahnya masing-masing. Joko Widodo dengan sebutan Jokowi-nya dan Prabowo Subianto dengan sebutan PS08-nya.

Ilustrasi: pemilihan presiden

Ilustrasi: pemilihan presiden

Antara Jokowi dan PS08

Presiden Indonesia saat ini sejak kecil dikalangan keluarga dan teman-temannya dikenal dengan nama panggilan Joko.  Sebagaimana kita ketahui bersama Joko Widodo mempunyai latar belakang sebagai pengusaha mebel.

Sebutan Jokowi bermula saat beliau mulai aktif mengekspor mebel ke Eropa lewat perusahaannya, PT Rakabu. Salah satu buyernya yang berasal dari Perancis sering kali bingung dan kerap salah kirim pesanan ke  Joko. Karena memang sangat banyak orang yang memiliki nama panggilan Joko di Pulau Jawa.

Oleh karena itulah sang buyer asal Perancis tersebut memberikan tambahan kata wi sebagai kependekan dari Widodo. Jadilah sebutan Jokowi yang hingga sekarang menjadi lebih terkenal dari panggilan semasa kecil.

Berbeda dengan uniknya cerita awal penggunaan sebutan Jokowi, sebutan PS08 pada Prabowo Subianto memiliki cerita tersendiri. Pada penyebutan PS08, dua hurup di depan sudah dapat dimengerti kalau itu adalah singkatan dari Prabowo Subianto. Bagaimana dengan angka 08?

Bagi para pengguna twitter dan memfollow akun Prabowo Subianto (@Prabowo08) mungkin sudah tidak asing dengan angka 08. Sebagiannya barangkali bertanya-tanya tentang makna angka 08 tersebut. Angka 08 merupakan sandi radio dari Prabowo Subianto saat masih bertugas di TNI.

Sandi 08 disematkan padanya ketika menjabat sebagai Wakil Komandan Jenderal Pasukan Khusus. Sedangkan Komandan Kopassus saat itu, Luhut Binsar Panjaitan menggunakan sandi 09. Ketika beliau diangkat sebagai Danjen Kopassus menggantikan Luhut tidak lantas memakai sandi 09.

Prabowo tetap mempertahankan sandi 08, yang hingga kini masih dipakainya. Bahkan sampai sekarang masih banyak yang menyebutnya dengan sebutan Jenderal 08.

Antara Cebong dan Kampret

Ada hal lain yang sungguh menarik dalam persaingan untuk menjadi orang nomor satu di Indonesia. Selain latar belakang berbeda diantara dua kontestannya, sebutan unik pun disematkan pada para pendukungnya. Penyebutan yang diambil dari dua jenis nama hewan dengan wilayah hidup yang berbeda.

Ada sebutan cebong untuk pendukung sang petahana dan sebutan kampret untuk sang penantang. Sebagaimana kita ketahui bersama cebong atau kecebong adalah sebutan lain dari bludru yang merupakan anak dari katak.

Kecebong hidup di dalam air sebelum nantinya berubah menjadi katak yang hidup di dua alam. Lain halnya dengan kampret yang kesehariannya beterbangan di malam hari untuk memenuhi hajat hidupnya.

Semua perbedaan di atas bisa menjadi sesuatu yang berakibat negatif atau sebaliknya akan memberikan dampak positif. Tergantung bagaimana kita menyikapinya, saat kita memandang perbedaan tak bisa disatukan tentu akan memberikan efek yang negatif.

Namun akan terjadi hal yang yang sebaliknya bila kita melihat perbedaan adalah untuk saling menutupi kekurangan masing-masing. Hal yang demikian tentu akan memberikan dampak positif yang dapat membawa Indonesia ke arah yang lebih maju.

Continue Reading
Advertisement

Trending