Connect with us

Kuangan

Rupiah Pagi Ini Tercatat Rp14.650

Published

on


Rupiah

Finroll.com – Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah pada pagi ini tercatat Rp 14.650. Keperkasaan rupiah sedikit meluntur setelah kemarin sempat sentuh Rp 14.500-an.

Demikian dikutip dari data kurs dolar AS Reuters, Kamis (8/11/2018).

Dolar AS pada 24 jam terakhir ini menyentuh level tertinggi 14.650 dan level terendah Rp 14.561.

Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI) Nanang Hendarsah menjelaskan penguatan yang terjadi pada rupiah terjadi karena kepercayaan terhadap mata uang garuda ini semakin menguat.

“Hal ini juga dipengaruhi oleh melemahnya dolar AS terhadap seluruh mata uang di dunia, karena menguatnya ekspektasi kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu untuk menguasai kongres AS,” kata Nanang yang dikutip dari detikFinance, Rabu (7/11/2018).

Dia menjelaskan, menguatnya kepercayaan tersebut tercermin dari pelepasan dolar AS oleh investor asing dan bank. Nah ini yang menyebabkan rupiah menguat sangat cepat di tengah kondisi pasar valuta asing yang sangat likuid.

“Selain faktor global masuknya dana investor asing juga mencerminkan cofidence terhadap ekonomi domestik tetap kuat ditopang oleh pertumbuhan ekonomi yang stabil dan inflasi yang terjaga rendah dan stabil,” ujar dia.

Baca Juga: Investor Asing Buru Saham Garudafood (GOOD)

Kuangan

Gara-Gara Ini Ribuan Koperasi di Sulawesi Tenggara Mati Suri

Published

on

Gara-Gara Ini Ribuan Koperasi di Sulawesi Tenggara Mati Suri

Finroll.com – Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Provinsi Sulawesi Tenggara mendata, saat ini sekitar 1.000 unit koperasi dari 4.000 unit koperasi yang ada di provinsi itu kini dinyatakan tidak aktif atau mati suri.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Sultra, Heri Alamsyah menegaskan agenda prioritas pihaknya adalah mengaktifkan kembali koperasi yang sudah tidak aktif, sebagai bentuk inftastruktur pembangunan ekonomi kerakyatan.

“Ya, mulai tahun ini dan seterusnya pemerintah akan menstimulus koperasi yang ada, namun tidak aktif melalui peningkatan kapasitas pengelolanya,” ujarnya, Rabu (14/11). Diskop UKM setempat juga telah mengidentifikasi penyebab matinya koperasi disana, serta mencari jalan keluar.

Salah satu penyebab utama tidak aktifnya koperasi adalah sumberdaya pengelola koperasi dan kesadaran anggota yang masih minim.

Berupaya Cari Solusi

Sadar akan kurangnya kompetensi sumberdaya pengelola koperasi, sepanjang tahun ini Diskop UKM Sultra berupaya gencar untuk melakukan pelatihan peningkatan kapasitas dari anggota koperasi.

“Pengurus koperasi dilatih tentang manajemen organisasi, perencanaan usaha, pengadministrasian keuangan, pelaporan keuangan, hingga persiapan menyambut Rapat Anggota Tahunan (RAT),” paparnya.

Di sisi lain, Heri mengungkapkan ada sejumlah koperasi “nakal” di daerahnya yang dibentuk berdasarkan orientasi mengejar bantuan modal pemerintah. Sehingga dipastikan koperasi tersebut tidak memiliki tujuan untuk memakmurkan anggota.

Baca Lainnya: Hati-Hati Jebakan ‘Rentenir’ Online Yang Meresahkan Warga

Ia menambahkan, pemerintah pun akhirnya lebih selektif dalam mengucurkan bantuan modal sebagai bentuk antisipasi adanya koperasi yang “nakal” tadi.

Di sisi lain, Ketua koperasi simpan pinjam “Makmur Mandiri” Herman menyambut baik kebijakan pemerintah yang lebih selektif dalam memberikan bantuan permodalan. “Kami jelas mendukung kebijakan Diskop UKM (pemerintah) yang lebih selektif mengucurkan bantuan modal karena ulah koperasi yang cuma mengejar bantuan, karena bisa mencoreng citra koperasi lainnya,” imbuhnya.

Source: Antara

Continue Reading

Kuangan

OJK Sambut Positif Pemanfaatan Fintech di Indonesia, Tapi…

Published

on

OJK Sambut Positif Pemanfaatan Fintech di Indonesia, Tapi...

Finroll.com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyambut positif pemanfaatan Fintech (Finansial Technology) di Indonesia, hal ini dilakukan agar tercipta sinergi untuk memanjukan ekonomi. Namun, OJK mengingatkan ada beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum masyarakat menggunakan fintech.

“Kita melihat perbankan dan perusahaan pembiayaan telah bekerjasama dengan perusahaan fintech, dalam menyalurkan pembiayaan ke sektor produktif. Ini menjadi kolaborasi positif, tapi tetap perlu dilakukan hati-hati dengan mengutamakan aspek pengelolaan risiko dan perlindungan konsumen,” ujar Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK, Nurhaida, Selasa (13/11).

Baca Lainnya: Hati-Hati Jebakan ‘Rentenir’ Online Yang Meresahkan Warga

Ia menilai, adanya kolaborasi antara industri jasa keuangan dengan industri techfin mampu memberdayakan Usaha Kecil Menengah (UKM), dengan akses modal yang lebih fleksibel dan mudah. Perputaran roda ekonomi juga akan lebih cepat dan membuka lapangan pekerjaan baru.

Di sisi lain, pihaknya juga mendukung perkembangan teknologi digital di sektor perbankan, pasar modal, serta industri keuangan non bank (iknb). “Digital banking, online trading, dan insurtech ke depannya akan makin marak. Ini seiring perkembangan teknologi dan peningkatan kebutuhan masyarakat akan “seamless experience,” dalam akses layanan keuangan,” imbuhnya.

Peran OJK Dalam Perkembangan Fintech di Perbankan

Nurhaida menjelaskan, OJK berperan untuk membangun kerangka peraturan dan pengawasan yang didasarkan pada perilaku pasar maupun disiplin pasar, tata kelola mandiri, dan mengarah pada pembentukan organisasi untuk memberikan fleksibilitas inovasi yang menganut prinsip transparansi, akuntabilitas, tanggung jawab, kemandirian, dan keadilan.

“Disiplin ilmu serta keterampilan pada keamanan cyber, risiko dan tata kelola teknologi informasi, dan penggunaan layanan IT dasar, mutlak diperlukan,” tutupnya.

Source: Antara

Continue Reading

Kuangan

Mata Uang Digital Kian Populer, Starbucks Akan Terima Pembayaran Lewat Bitcoin

Published

on

Mata Uang Digital

Pelanggan kedai kopi Starbucks sepertinya tinggal menunggu waktu buat bisa melakukan transaksi dengan menggunakan mata uang digital (crythocurrency) jenis Bitcoin.

Finroll.com – Hal ini mengikuti langkah yang sudah diterapkan Microsoft beberapa waktu lalu. Dilansir dari CNN.com, ritel asal Amerika Serikat (AS) itu ternyata telah bekerja sama dengan Microsoft dan Intercontinental Exchange, pemilik Bursa Efek New York pada Rabu (1/7) lalu, untuk mengizinkan pelanggannya menggunakan mata uang digital jenis Bitcoin.

Kendati begitu, Starbucks tidak akan menerima dan menyimpan Bitcoin secara langsung dari pelanggan. Namun, bekerja sama dengan Bakkt, sebuah platform yang memungkinkan pengguna untuk menyimpan dan menerima Bitcoin secara langsung sebagai jembatannya.

Nantinya, Bakkt akan mengonversi Bitcoin yang ditransfer pelanggan ke pihak toko menjadi mata uang dolar AS yang bisa masuk kantong keuangan Starbucks. Rencananya, Bakkt akan diluncurkan pada November mendatang.

                                             ADVERTISMENT
Acocoin Blockchain property pertama di Indonesia

Acocoin Blockchain property pertama di Indonesia

Menurut manajemen Starbucks, penggunaan Bitcoin dalam transaksi pembayarannya, dapat menambah pilihan pembayaran sekaligus hasil inovasi bagi pelanggan. Apalagi, perkembangan Bitcoin tengah meningkat.

Starbucks sejak 2011 dikenal sebagai salah satu perusahaan yang getol memberikan inovasi pembayaran. Starbucks juga adalah toko pertama yang menerima pembayaran melalui telepon seluler.

Meski untuk penggunaan Bitcoin dalam transaksi pembayaran sudah dilakukan Microsoft, Expedia, dan Overstock sejak beberapa waktu lalu.

Sementara Bakkt, sebenarnya merupakan platform yang sudah ada sejak lama. Namun, penetrasinya tidak terlalu besar karena sebelumnya hanya melayani pembayaran uang alternatif Buzzy.

Continue Reading
Advertisement

Trending