Connect with us

Keuangan

Rupiah Melemah, Grogi Tunggu Pemilu?

Published

on


BI Nilai Aktivitas Ekonomi Global Bisa Membuka Potensi Penguatan Rupiah

Finroll.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hari ini kian melemah di perdagangan pasar spot. Tampaknya mitos jelang Pemilu mulai terbukti dan merasuki rupiah.

Pada Selasa (16/4/2019) pukul 12:00 WIB, US$ 1 dibanderol Rp 14.070. Rupiah melemah 0,11% dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Kala pembukaan pasar, rupiah masih belum melemah meski stagnan saja di Rp 14.055/US$. Namun itu tidak berlangsung lama, karena kemudian mata uang Tanah Air bergelincir ke zona merah.

Seiring perjalanan pasar, bahkan pelemahan rupiah semakin dalam. Apabila rupiah terus melemah, bukan tidak mungkin dolar AS bisa kembali menyentuh kisaran Rp 14.100.

Sentimen eksternal dan domestik sama-sama memberatkan laju rupiah hari ini. Dari sisi eksternal, dolar AS mulai bangkit dari keterpurukan yang dialami sejak akhir pekan lalu. Pada pukul 12:07 WIB, Dollar Index (yang menggambarkan posisi greenback terhadap enam mata uang utama lainnya) menguat 0,01%.

Investor mencari keamanan dan kenyamanan dalam diri dolar AS karena menanti sejumlah rilis data penting. Di Jerman, sore nanti waktu Indonesia akan dirilis data indeks ekonomi ZEW periode April.

Pada Maret, indeks ini tercatat -3,6, membaik dibandingkan bulan sebelumnya yaitu 13,4. Meski masih minus, tetapi angka Maret adalah yang terbaik sejak Maret 2018.

Lalu esok hari akan ada pengumuman pertumbuhan ekonomi China kuartal I-2019. Konsensus pasar yang dihimpun Reuters memperkirakan pertumbuhan ekonomi Negeri Tirai Bambu sebesar 6,3% year-on-year (YoY). Jika pertumbuhan ekonomi China pada kuartal I-2019 benar-benar 6,3%, maka akan menjadi laju paling lemah sejak 1990.

Data-data ini akan menunjukkan bagaimana gambaran perekonomian global pada awal 2019. Jika start-nya sudah kurang mulus, maka sepertinya ekonomi dunia sepanjang 2019 masih diselimuti awan mendung.

Oleh karena itu, wajar dolar AS menjadi pilihan pelaku pasar. Akibatnya, aset-aset berisiko di negara berkembang mengalami aksi jual sehingga melemahkan mata uang Asia, termasuk rupiah.

Keuangan

Kemkeu : Defisit APBN mencapai Rp 135,8 triliun Di Semester I 2019

Published

on

Keterangan foto : Ilustrasi Menteri Keuangan Sri Mulyani

Finroll.com — Sepanjang semester pertama tahun 2019, Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 mencapai Rp 135,8 triliun. Kementerian Keuangan (Kemkeu), Selasa (16/7), melaporkan, realisasi defisit anggaran tersebut lebih tinggi dibandingkan defisit anggaran periode sama 2018 yang sebesar Rp 110,6 triliun.

Secara persentase, defisit anggaran untuk semester I-2019 mencapai 0,84% terhadap produk domestik bruto (PDB). Rasio defisit anggaran ini juga lebih tinggi dibandingkan periode sama tahun lalu yang hanya 0,75% dari PDB.

Kemkeu mencatat, total pendapatan negara dan hibah per akhir Juni mencapai Rp 898,8 triliun. Realisasi pendapatan negara ini setara dengan 41,5% dari target pendapatan dalam APBN yang secara keseluruhan sebesar Rp 2.165,11 triliun. Pendapatan negara tersebut hanya tumbuh 7,8% yoy, lebih rendah dibandingkan semester I-2018 yang tumbuh 16%.

Sementara, belanja negara hingga Juni 2019 tumbuh 9,6% atau mencapai Rp 1.034,5 triliun. Realisasi belanja tersebut memenuhi 42% dari pagu APBN 2019 sebesar Rp 2.461,1 triliun.

Hingga akhir semester I-2019, keseimbangan primer mencatat defisit sebesar Rp 1 triliun. Pada periode yang sama tahun lalu, keseimbangan primer surplus Rp 10 triliun.

Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu, pembiayaan anggaran mencapai Rp 175,3 triliun atau mencapai 59,2% dari pagu yang sebesar Rp 296 triliun. Pembiayaan anggaran mengalami kontraksi 0,5%

Dengan demikian, defisit anggaran per Juni 2019 sebesar Rp 135,8 triliun atau 0,84% terhadap PDB. Sementara, target pemerintah tahun ini rasio defisit terhadap PDB sebesar 1,84% atau lebih kecil dari target defisit pada tahun sebelumnya 2,19% dari PDB.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, kinerja APBN 2019 dipengaruhi oleh sentiment eksternal maupun dalam negeri global. Eskalasi perang dagang menekan pertumbuhan ekonomi secara global dan berpengaruh pada kinerja ekspor dan impor Indonesia.

“Realisasi harga minyak dan lifting minyak maupun gas yang lebih rendah daripada asumsi di semester pertama juga menimbulkan konsekuensi pada penerimaan negara,” kata Menkeu dalam laporannya di Badan Anggaran DPR RI.

Sri Mulyani menjelaskan, kebijakan fiskal sepanjang semester pertama tahun ini mampu mengatasi berbagai ketidakpastian perekonomian yang terjadi. Meski tak menampik terjadi tekanan pada penerimaan negara, Sri Mulyani mengatakan kondisi fiskal ditopang oleh kebijakan belanja yang bersifat countercyclical sehingga efektif mendukung pertumbuhan ekonomi dalam negeri.

“Ketidakpastian global dan kondisi ekonomi dunia yang tertekan terus akan menghantui kita, namun kinerja perekonomian kita tetap terjaga positif,” tandasnya.(red)

Continue Reading

Keuangan

Trump Sebut Cryptocurrency Bukan Uang

Published

on

By

Donald Trump OTW Vietnam Untuk Bersua Kim Jong-un

Finroll.com –  Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menegaskan bahwa cryptocurrency bukan uang, dan memperingatkan kepada pihak yang ingin bergabung dalam aktivitas keuangan harus mematuhi peraturan perbankan.

“Saya bukan penggemar Bitcoin dan cryptocurrency lainnya, yang bukan uang, dan nilainya sangat fluktuatif, didasari pada pergerakan yang fluktuatif,” tulis Trump dalam akun Twitternya.

Dikutip dari AFP, Trump mengatakan bahwa cryptocurrency yang bersifat digital membuatnya hampir tidak dapat dilacak, sehingga dapat memfasilitasi aktivitas ilegal.

Cryptocurrency sebenarnya telah berkembang sejak Bitcoin diluncurkan pada 2009. Namun, ketika bulan lalu Facebook mengungkapkan rencana menerbitkan mata uang virtual sendiri yakni, Libra, hal itu mengguncang regulator keuangan di seluruh dunia.

Dengan jumlah lebih dari dua miliar pengguna, perusahaan raksasa media sosial itu dijadwalkan akan merilis cryptocurrency pada 2020, di kelilingi pula oleh banyak mitra. Pada akhirnya, rencana itu benar-benar dapat mengganggu dunia keuangan.

Tetapi Trump mengatakan bahwa Libra memiliki kedudukan yang rendah, dan memiliki ketergantungan. Dia juga memperingatkan Facebook dan perusahaan lain bahwa mereka harus mematuhi peraturan perbankan AS dan internasional jika mereka ingin meluncurkan cryptocurrency mereka sendiri.

“Kami hanya memiliki satu mata uang riil di AS, dan lebih kuat dari yang pernah ada,” tweetnya.

Konferensi Tingkat Tinggi Kelompok Kerja G7 diperkirakan akan menghasilkan laporan pendahuluan tentang cryptocurrency berbasis aset pada pekan depan, tepatnya ketika para menteri keuangan negara-negara kelompok G7 itu bertemu di Prancis.

“Semakin regulator internasional menyelidiki proyek ini, semakin banyak kita memiliki pertanyaan serius dan kemungkinan melakukan pemesanan,” kata Gubernur Bank Sentral Prancis Francois Villeroy de Galhaut.

Jerome Powell, Gubernur bank sentral AS Federal Reserve juga menyinggung topik yang sama ketika bersaksi di depan Kongres AS pada Rabu (10/7) dan Kamis (11/7) lalu.

“Saya pikir kita perlu melakukan penilaian yang sangat hati-hati, sabar, dan seksama tentang risiko sebenarnya. Ukuran jaringan media sosial Facebook mengaraj pada kepentingan sistemik,” kata Jerome Powell, Kamis (11/7) waktu setempat.

Beberapa politikus AS menyerukan pembekuan total pada proyek Libra Facebook.

Facebook telah berjanji untuk menyediakan mata uang virtual sehingga dapat membawa lebih dari 1 miliar orang yang tidak memiliki rekening bank untuk masuk ke dalam sistem keuangan.

Perusahaan menegaskan akan menyediakan mata uang yang stabil dan hadir di telepon pintar, sehingga orang dewasa tanpa rekening bank atau mereka yang menggunakan layanan di luar sistem perbankan untuk memenuhi kebutuhan dari dalam sistem keuangan.

Pada akhirnya, setiap telepon pintar akan menjadi dompet digital bagi Libra untuk dapat memperluas penggunaan perbankan, layanan kartu kredit dan e-commerce di negara-negara berkembang.

Continue Reading

Keuangan

Brexit dan Data AS Bikin Rupiah Lesu ke Rp13.946 per Dolar AS

Published

on

By

Rupiah Dibuka Menguat Rp13.945 per Dolar AS Pagi Ini

Finroll.com – Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp13.946 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Rabu (17/7) pagi. Posisi rupiah melemah 0,08 persen dibandingkan penutupan Selasa (16/7) yakni Rp13.936 per dolar AS.

Pagi hari ini, sebagian besar mata uang utama Asia melemah terhadap dolar AS. Dolar Singapura melemah 0,02 persen, ringgit Malaysia melemah 0,06 persen, peso Filipina melemah 0,12 persen, dan won Korea Selatan melemah 0,28 persen.

Hanya dolar Hong Kong saja yang tercatat menguat terhadap dolar AS dengan nilai 0,03 persen. Di sisi lain, yen Jepang dan baht Thailand sama-sama tak bergerak menghadapi dolar AS.

Sementara itu, mata uang negara maju seperti dolar Australia dan euro menguat masing-masing sebesar 0,11 persen dan 0,01 persen terhadap dolar AS, sedangkan poundsterling Inggris tidak bergerak terhadap dolar AS.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan pelemahan rupiah kali ini disebabkan karena sentimen keluarnya Inggris dari Uni Eropa, atau disebut Brexit. Masa depan Brexit bisa menjadi kurang jelas setelah kandidat Perdana Menteri Inggris Boris Johnson sangat anti dengan rencana tersebut.

Tak hanya itu, indeks dolar AS pun menguat gara-gara rilis data ekonomi AS yang positif. Kemarin, Departemen Perdagangan AS merilis data bahwa penjualan ritel pada Juni masih tumbuh 0,4 persen atau di atas ekspektasi yakni 0,1 persen.

Bahkan, kemarin angka pembacaan awal indeks manufaktur terbilang baik. Untuk negara bagian New York, misalnya, indeks manufaktur Juli ada di angka 4,3 atau membaik dari Juni yang minus 8,6.

Data ekonomi AS yang masih bagus ini membuat peluang penurunan suku bunga acuan mengecil, meski probabilitasnya masih sangat tinggi. “Dalam transaksi hari ini rupiah akan ada di dalam range Rp13.885 hingga Rp13.890 per dolar AS,” jelas Ibrahim, Rabu (17/7).

Continue Reading
Advertisement

Trending