Connect with us

Keuangan

Rupiah Kembali Melemah Jadi Rp14.511 per Dolar Pagi Ini

Published

on


Rupiah Kembali Melemah Jadi Rp14.511 per Dolar Pagi Ini

Finroll.com – Pada pembukaan perdagangan pagi ini, nilai tukar rupiah melemah 121 poin menjadi Rp14.511 per dolar AS, dari yang sebelumnya Rp14.390 per dolar AS.

Analis Senior CSA Research Institute, Reza Priyambada menyebutkan kondisi melemahnya rupiah terhadap dolar akibat terpengaruh sentimen negatif perang dagang AS-China.

“Sejumlah mata uang di kawasan Asia juga mengalami tekanan terhadap dolar AS,” ujarnya di Jakarta., Kamis (6/12).

Baca Lainnya: IHSG Dibuka Melemah ke Level 6.093 Pada Pembukaan Perdagangan

Reza menambahkan, faktor lain yang mempengaruhi diantaranya terbatasnya sentimen positif dari dalam negeri, yang akhirnya menambah tekanan mata uang rupiah.

Sementara itu, Ekonom Samuel Aset Manajemen, Lana Soelistianingsih berpandangan, nilai tukar rupiah masih akan melemah sepanjang hari ini. Seiring dengan mata uang kuat di Asia seperti dolar Hong Kong dan Singapura yang mengalami tekanan pada dolar AS.

Di sisi lain Lana menyebut, salah satu kemungkinan pelemahan rupiah terkait dengan faktor musiman, yaitu meningkatnya permintaan dolar AS untuk kebutuhan akhir tahun, seperti pembayaran utang pemerintah, korporasi, repartriasi, hingga liburan.

Baca Lainnya: Jelang Harbolnas Produk-produk Dipersiapkan Dari Sekarang, Namun Ada Yang Berbeda Dari Biasanya, Apa Itu?

“Rupiah diperkirakan bergerak di kisaran antara Rp14.400-Rp14.500 per dolar AS dengan tetap dalam penjagaan Bank Indonesia,” tutupnya.

Sumber: Antara

Keuangan

Rupiah Dibuka Melemah 21 Poin Jadi Rp14.602 per Dolar Pagi Ini

Published

on

Rupiah Dibuka Melemah 21 Poin Jadi Rp14.602 per Dolar Pagi Ini

Finroll.com – Pada pembukaan transksi bank pagi ini, nilai tukar rupiah menjadi Rp14.602 per dolar. Jumlah ini menurun 21 poin atau 0,15 persen dari Jumat (14/12) lalu, yang berada di level Rp14.581 per dolar AS.

Terkait dengan hal ini, analis CSA Research Institute Reza Priyambada memprediksi kurs rupiah masih akan bergerak dalam rentang rata-rata dari tren (middle bollinger band). Walau begitu, kecenderungan akan kembali melemah akibat minimnya sentimen di awal pekan.

“Diharapkan ada sentimen positif, terutama dari dalam negeri yang bisa mendukung kenaikan rupiah,” sebutnya, Senin (17/12).

Sementara sentime yang berasal dari dalam negeri hari ini, diharapkan bisa kembali menggekan rupiah, berasal dari rilis data neraca perdagangan pada November 2018, oleh Badan Pusat Statistik (BPS).

Di sisi lain, analis Monex Investindo, Dini Nurhadi Yasyi memprediksi rupiah akan bergerak di kisaran Rp14.475 hingga Rp16.640 per dolar AS di awal pekan. Tidak hanya rilis data perdagangan saja, nilai rupiah juga bisa dipengaruhi oleh antisipasi pasar pada pernyataan bank sentral di seluruh dunia.

Baca Lainnya:

“Mulai dari The Fed, Bank of Japan, dan Bank of England bakal mengumumkan kebijakan moneternya pada Kamis (20/12),” imbuhnya.

Pada kawasan Asia lainnya, beberapa mata uang pada pembukaan perdagangan pagi ini juga turut melemah bersamaan dengan rupiah. Misalnya Won Korea Selatan yang minus mencapai 0,15 persen, Ringgit Malaysia minus 0,04 persen, Yen Jepang minus 0,03 persen, dan Dolar Hong Kong minus 0,01 persen.

Meski demikian, beberapa mata uang lainnya justru berada di zona hijau dengan didorong oleh penguatan dari Dolar AS. Misalnya Peso Filipina menguat 0,09 persen, Baht Thailand 0,03 persen, serta Dolar Singapura 0,01 persen.

Sumber: CNN Indonesia

Continue Reading

Keuangan

Rupiah Melemah Pagi Ini Jelang Pertemuan FOMC

Published

on

Rupiah Melemah Pagi Ini Jelang Pertemuan FOMC

 

Finroll.com – Pada pembukaan perdagangan pagi ini, pergerakan nilai tukar rupiah melemah 55 poin, jadi Rp14.554 dibandingkan posisi sebelumnya Rp14.499 per dolar AS.

Kepala Riset Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra menyebut pelaku pasar uang mengambil sikap “wait and see”, menjelang pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) di tanggal 18-19 Desember.

“Meski tingkat keyakinan suku bunga The Fed menurun, meski tidak bisa serta merta diasumsikan Fed tidak menaikan suku bunganya. Itu yang membuat posisi pelaku pasar ‘wait and see’ transaksi di aset mata uang berisiko cenderung menurun,” imbuhnya.

Di sisi lain, Ariston menilai pasar masih membayangi kekhawatirkan akan perang dagang meski saat ini atmosfernya sudah mulai mereda.

“Perang dagang diperkirakan masih akan berlanjut hingga 2019 mendatang,” lanjutnya.

Baca Lainnya: Yuk Intip Daftar 10 Orang Terkaya Indonesia 2018 Versi Forbes

Ia melanjutkan dolar AS saat ini juga ditopang data tenaga kerja di Amerika Serikat yang meningkat. Sehingga peluang pertumbuhan ekonomi AS cukup terbuka.

Sementara itu Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih menyebutkan, pada pembukaan perdagangan pagi ini mata uang Asia seperti dolar Hong Kong dan dolar Singapura bergerak terhadap dolar AS, sehingga kondisi ini menjadi sentimen negatif bagi rupiah.

“Kendati demikian, pergerakan rupiah masih dalam penjagaan Bank Indonesia sehingga fluktuasinya relatif stabil,” tutupnya.

Sumber: Antara

Continue Reading

Keuangan

Rupiah Pagi Ini Dibuka Menguat Akibat Kekhawatiran Perang Dagang Reda

Published

on

Rupiah Pagi Ini Dibuka Menguat Akibat Kekhawatiran Perang Dagang Reda

Finroll.com – Pada pembukaan perdagangan pagi ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat 64 poin menjadi Rp14.537 dibanding posisi sebelumnya di Rp14.601 per dolar AS.

Atas hal ini, analis CSA Research Institute, Reza Priyambada menyebutkan, penguatan mata uang rupiah diakibatkan oleh meredanya kekhawatiran perang dagang China-AS.

“Jadi pasar merespon positif pemangkasan tarif impor oleh Tiongkok atas kendaraan dari AS,” sebutnya, Kamis (13/12).

Meski begitu melemahnya nilai dolar AS ini masih relatif terbatas, setelah muncul reaksi negatif kepada Presiden AS Donald Trump, yang akan menuntut China atas tuduhan kegiatan peretasan dan kegiatan spionase perekonomian negeri Paman Sam itu.

Baca Lainnya: OJK Sebut Pelemahan Dolar AS Bisa Sampai Akhir Tahun

Reza menambahkan, pelaku pasar uang saat ini juga sedang mengantisipasi pertemuan Federal Reserve (The Fed), yang akan dilakukan minggu depan terkait kebijakan suku bunga di tahun 2019.

Sementara dari dalam negeri, Ia menilai sentimen marko ekonomi Indonesia saat ini masih berada dalam level kondusif dan stabil, sehingga membuat laju nilai rupiah menguat.

Di sisi lain, Ekonom Samuel Aset Manajemen, Lana Soelistianingsih menyebut pada pagi ini pergerakan mata uang asing Asia terhadap dolar AS kompak menguat. Seperti Yen Jepang, Dolar Hong Kong, dan Dolar Singapura.

“Itu jadi sentimen penguatan rupiah hari ini dan tetap menjadi dalam penjagaan Bank Indonesia,” tandasnya.

Baca Lainnya: BEI: GCG Jadi Kunci Utama Tarik Kepercayaan Investor

Sumber: Antara

Continue Reading
Advertisement

Trending