Connect with us

Ekonomi Global

Rencana Pertemuan Trump – Xi Jinping Dongkrak Bursa Saham Asia

Published

on


Finroll.com – Pasar saham sejumlah negara Asia kembali menguat pada Selasa (11/6) seiring dengan fokus investor pada rencana pertemuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping. Rencananya, kedua pimpinan negara tersebut bakal bertemu guna menindaklanjuti perang dagang antara kedua negara dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Osaka, Jepang pada akhir bulan ini.

Dikutip dari Reuters, keputusan Trump untuk membatalkan ancaman tarif pada barang-barang asal Meksiko memicu kelegaan pada seluruh pasar saham serta memunculkan harapan perang dagang antara AS dan China dapat berakhir dengan perjanjian.

Penguatan pasar saham Asia juga seiring dengan kinerja bursa saham Wall Street yang kembali sehat setelah dikejutkan oleh pernyataan Trump pada bulan lalu untuk menaikkan tarif pada produk China senilai US$200 miliar.

Dorongan juga datang dari ekspektasi bahwa Bank Sentral AS, The Federal Reserve akan memangkas suku bunganya bulan depan, sebagai tanggapan atas serangkaian data AS yang melemah dan kekhawatiran dampak perang dagang dengan China.

Namun, Analis Senior OANDA Edward Moya memperingatkan bahwa meskipun suku bunga bank sentral AS yang lebih besar adalah dorongan besar, tetapi sentrimen bakal datang dari upaya penyelesaian perang dagang antara AS dan China.

“Reli pasar saham global baru-baru ini berasal dari harapan bahwa Fed akan menurunkan bunga tahun ini. Namun, itu tidak akan membuat indeks AS kembali ke rekor tertinggi kecuali ada perdamaian dagang antara AS dan China,” jelas dia.

Pada awal perdagangan, indeks saham Hong Kong naik 0,7 persen, mengakumulasi kenaikan indeks sejak Senin menjadi 2 persen, sementara indeks Shanghai naik 1,5 persen.

Tokyo menguat 0,4 persen pagi ini, kemudian Sydney naik 1,3 persen. Adapun indeks saham Singapura dan Seoul masing-masing menguat 0,3 persen.

Sementara IHSG pada pagi ini melemah 0,21 persen ke level 6.276.

Ekonomi Global

PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA) Bakal Tambah Kapasitas Fasilitas Pemurnian dan Pengolahan SGA di Kalbar

Published

on

Keterangan foto : Ilustrasi

 

Finroll.com – PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA) bakal menambah kapasitas fasilitas pemurnian dan pengolahan Smelter Grade Alumina (SGA) di Kalimantan Barat.

 

PT Well Harvest Winning Alumina Refinery (WHW) sebagai entitas anak usahanya, CITA berencana membangun fasilitas pengolahan tahap dua dengan kapasitas produksi 1 juta ton SGA per tahun.

 

Hidayat Sugiarto selaku Direktur WHW mengatakan, pembangunan tahap dua pabrik SGA itu diestimasikan menelan biaya investasi sebesar US$ 400 juta. Dana tersebut rencananya akan dipenuhi dari pinjaman perbankan.

 

Lebihlanjut Hidayat menyebutkan, saat ini pihaknya sudah melakukan penjajakan dengan sejumlah bank, dan sudah mencapai tahap finalisasi perjanjian. “Kita sekarang sedang tahap closing, mungkin satu atau dua bulan lagi bisa kita dapatkan,” katanya dalam public expose, Kamis (27/6/2019).

 

Apabila proses pendanaan tersebut berjalan lancar, sambung Hidayat, proses kontruksi bisa segera dilakukan pada penghujung tahun ini. Hidayat menargetkan, pabrik SGA tahap dua ini sudah mulai bisa beroperasi pada Januari 2021. “(Konstruksi) akan segera mulai setelah dana dari bank masuk. Kita targetkan Januari 2021 berproduksi,” ungkapnya.

 

WHW saat ini mengoperasikan fasilitas pemurnian dan pengolahan Metallurgical Grade Bauxite (MGB) menjadi SGA dengan kapasitas produksi 1 juta ton per tahun. Pada tahun 2017-2018, Hidayat mengatakan bahwa pihaknya bisa mengoptimalkan kapasitas produksi.

 

Pada tahun 2017, produksi SGA dari smelter WHW berkisar di angka 970.000 ton. Sementara pada tahun 2018 produksinya mencapai 990.000 ton.

 

WHW pada tahun ini juga menargetkan bisa mempertahankan produksi di kapasitas yang optimal. Hingga Mei, SGA yang diproduksi HWH sudah mencapai 413.000 ton. “Asumsi sampai Juni bisa mencapai 500.000 ton. Produksi kita sangat baik, full capacity, hanya kan kadang ada maintenance,” terangnya.

 

Lebih lanjut, Hidayat mengatakan bahwa sebagian besar penjualan SGA masih dipasok ke pasar ekspor, terutama India dan Malaysia. Meski tak mendetailkan porsinya, namun ia memberikan gambaran bahwa dalam sebulan, WHW bisa memproduksi sekitar 90.000 ton SGA, yang dijual dengan pembagian tiga kali pengapalan.

 

Pengapalan pertama sekitar 30.000 ton SGA dipasarkan ke pasar India, lalu 30.000 ton SGA dikapalkan ke pasar Malaysia. “Sisa satu kargo kita jual secara spot,” ujar Hidayat.

 

Belum banyak industri domestik yang menyerap SGA. Ia menuturkan, PT Inalum (Persero) menjadi penyerap SGA di pasar domestik,” ulasnya.

 

Adapun, bahan baku untuk pabrik SGA WHW dipasok dari CITA sebagai entitas induk. CITA sendiri memiliki saham sebesar 30% di WHW. Sedangkan 56% dimiliki oleh China Hongqiao Group Limited, Winning Invesment Company Ltd. sebesar 9% dan Shandong Weiqiao Aluminium and Electric Co. Ltd yang menggenggam 5% saham WHW.

 

Sementara pada kesempatan yang sama PT CITA juga telah menganggarkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp 180 miliar. Dana tersebut digelontorkan untuk menunjang kinerja perusahaan yang tengah mengerek produksi Metallurgical Grade Bauxite (MGB).

 

Seperti dijelaskan Direktur CITA Yusak Lumba Pardede, sebagian besar capex tersebut akan digunakan untuk perbaikan dan pengembangan infrastruktur pertambangan. “Alokasinya untuk maintenance operasional, jalan dan infrastruktur di area pertambangan kami,” kata Yusak.

 

“Hingga bulan Mei, CITA sudah menyerap capex sebesar 53,06% atau sekitar 95 miliar. Adapun, sumber pendanaan capex ini berasal dari kas internal. “Masih bisa dari internal, kinerja (keuangan) kami tahun lalu kan baik,” sambung Yusak.

 

Sebagai informasi, pada tahun lalu penjualan bersih CITA melonjak hingga 176,4% menjadi Rp 2 triliun dibandingkan tahun 2017 yang berada di angka Rp 724,5 miliar. Sejalan dengan itu, laba bersih CITA pada tahun 2018 meroket menjadi Rp 661,3 miliar dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya mencatatkan laba bersih sebesar Rp 47,5 miliar.

 

Lonjakan penjualan dan laba bersih CITA tambah Yusak, dikarenakan produksi dan penjualan MGB yang lebih optimal. Pada tahun 2017, penjualan CITA baru intensif pada Kuartal IV, sementara pada tahun 2018 terjadi di sepanjang tahun.

 

Kinerja CITA berlanjut sepanjang Kuartal-I tahun ini. Sepanjang kuartal I-2019, CITA mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp 894,5 miliar, naik 93,8% dibandingkan Kuartal I tahun lalu yang berada di angka Rp 461,5 miliar. Laba bersih CITA pun meroket 136,6% menjadi Rp 331,5 miliar dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu sebesar Rp 140,1 miliar.

 

Pada tahun ini menargetkan bisa memproduksi MGB hingga 9 juta ton di sepanjang tahun ini. Jumlah itu nyaris dua kali lipat dari realisasi produksi tahun lalu yang berada di angka 4,6 juta ton.

 

“Porsi penjualan MGB yang diproduksi CITA masih dominan diserap ke pasar ekspor dengan porsi 80%. Sedangkan 20% lainnya dipasok ke entitas anak, yakni fasilitas pemurnian dan pengolahan milik PT Well Harvest Winning Alumina Refinery (WHW) untuk diolah menjadi Smelter Grade Alumina (SGA) dengan produksi sekitar 1 juta ton per tahun.” pungkas Yusak.(red)

Continue Reading

Ekonomi Global

Thailand Ajukan Petisi Tolak Legalisasi Layanan Taksi dan Ojek Dering Grab

Published

on

Keterangan foto : Ilustrasi ojek online grab

 

FINROLL.COM – Kepada Direktorat Jenderal Perhubungan Darat (DLT) Kementerian Perhubungan setempat pada Senin (24/6) lalu. Sekitar 30 pengemudi ojek di Thailand mengajukan petisi menolak legalisasi layanan taksi dan ojek daring Grab.

 

Dipimpin oleh Chalerm Changthongmadan selaku kepala Asosiasi Pengemudi Ojek di Thailand, Para pengemudi ojek konvensional tersebut melakukan aksinya guna meminta kejelasan Dirjen DJT, Jantira Burutpat, terkait antisipasi untuk mencegah dampak negatif legalisasi Grab terhadap nasib para pengemudi ojek dan taksi.

 

“Kami telah bekerjasama dengan pihak berwenang selama lima tahun terakhir, tapi seruan kami untuk meminta bantuan dalam mengatasi persoalan tentang layanan Grab yang ilegal tak juga mendapat jawaban.

 

Sekarang, dengan pemerintahan baru yang masih dibentuk dan belum resmi, DLT telah mengatakan ke media bahwa mereka siap untuk menanggapi kebijakan baru,” ujar Changthongmadan.

“Alih-alih menegakkan hukum bagi pelaku kejahatan, DLT malah mengubah peraturan untuk menguntungkan investor asing yang melanggar hukum dan menciptakan perpecahan antar warga Thailand,” tegasnya.

 

Pada kesempatan yang sama, sekelompok sopir taksi di Bangkok juga memenuhi kantor pusat Partai Bhumjaithai untuk mengajukan petisi dan meminta bantuan kepada Ketua Partai, Anutin Charnvirakul, jika layanan Taksi Grab benar-benar dilegalkan.

 

Para supir yang dipimpin Withoon Naewpanich selaku ketua Jaringan Koperasi Taksi Bangkok merasa khawatir akan dampak negatif dari legalisasi taksi Grab.

 

Menurut Naewpanich, DLT dan pihak kepolisian telah gagal memberikan kejelasan terkait persoalan tersebut.

 

Selain itu, jika Partai Bhumjaithai, yang anggotanya diperkirakan akan menjadi menteri transportasi di Kabinet baru Thailand berhasil mengatasi persoalan ini serta dapat menjamin pendapatan para supir taksi, Naepanich meyakinkan rombongannya akan bersedia untuk bekerjasama dengan Bhumjaithai.

 

Sementara itu, Jantira Burutpat mengatakan para warga keliru mengira jika pemerintah tidak menghiraukan keluhan terkait persoalan legalisasi Grab tersebut. Jantira menjelaskan bahwa para petugas dari lembaga terkait telah menyelidiki segala dampak layanan Grab yang mungkin dirasakan pengemudi taksi dan ojek, serta penumpang.

 

Jantira juga menjanjikan untuk menjamin keadilan dan keuntungan bagi semua pihak.

 

Selain itu, kelompok supir taksi pimpinan Naepanich juga berencana mengajukan petisi sejenis kepada Ketua Palang Pracharath, Uttama Savanayana. Mereka adalah partai politik inti pendukung Perdana Menteri Prayut Chan-o-cha.

Continue Reading

Ekonomi Global

Pemerintah Bakal Bangun 7 Bandara Baru dan 600 Km Tol Pada Tahun 2020

Published

on

Keterangan foto : Ilustrasi pembangunan tol

 

Finroll.com – Rencana Pemerintah membangun jalan Tol dan bandara dimaksudkan untuk mendukung percepatan pembangunan yang bermanfaat untuk meningkatkan arus logistik dan juga perekonomian masyarakat dan konektivitas antar wilayah di Indonesia yang lebih baik.

 

Sejak awal Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam hal ini pemerintah sangat menfokuskan infrastruktur sebagai program prioritasnya. Untuk tahun ini, meski fokus pada pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM), pembangunan infrastruktur masih akan tetap digenjot.

 

Pemerintah mempunyai tiga program prioritas untuk mendukung peningkatan konektivitas multimoda dan antar moda untuk mendukung pertumbuhan. Untuk ini akan dilakukan dalam 5 kegiatan prioritas,” jelas Deputi Sarana dan Prasarana Bappenas Kennedy Simanjuntak.

 

Lebih lanjut Kennedy mengatakan, pada tahun depan, pemerintah menargetkan membangun jalan tol sepanjang 600 km. Selain itu akan dibangun juga jalan non tol sepanjang 500 km.

 

“Pertama, konektivitas transportasi jalan, dengan sasaran terselenggaranya pengembangan jaringan jalan yang mendukung koridor utama dan ke kawasan prioritas. Akan dibangun 7 simpul tranportasi dan akan dibangun 500 km jalan baru, serta pembangunan jalan tol baru sepanjang 600 km,” ujarnya di Ruang rapat Banggar, Jakarta, Senin (24/6/2019).

 

Kegiatan kedua adalah konektivitas tranportasi kereta api. Untuk itu pemerintah menargetkan membangun jalur kereta api lintas utama sepanjang 275 km termasuk reaktivasi jalur yang ada dan jalur kereta api lintas utama yang akan ditingkatkan sepanjang 225 km.

 

Adapaun kegiatan prioritas ketiga yaitu konektivitas transportasi laut. Untuk itu akan dilakukan pembangunan pelabuhan yang mempunyai standar kedalaman alur pelayaran di 9 lokasi dan pembangunan pelabuhan yang memenuhi standar pelabuhan utama pada satu lokasi.

 

Selanjutnya, kegiatan prioritas keempat adalah konektivitas transportasi udara melalui pembangunan 7 bandara baru dan bandara yang ditingkatkan kapasitasnya sebesar 46 lokasi. Untuk bandara baru akan dibangun di daerah Timur.

 

“Prioritas di daerah Timur, dan (lokasi) belum tahu, masih perlu didiskusikan. Kan ini masih diskusi sampai nanti APBN Oktober,” jelasnya.

 

Kegaiatan yang kelima, yakni konektivitas transportasi darat melalui pembangunan pelabuhan penyeberangan pada 6 lokasi.

 

Sementara pada pada informasi yang lalu Presiden Jokowi punya mimpi menghubungkan Bandara Soekarno-Hatta di Tangerang, Banten, dengan jaringan kereta cepat. Gagasan ini untuk menopang perkembangan infrastruktur bandara yang bergerak cepat.

 

“Iya sekarang sudah ada kereta bandara. Bisa saja nanti ditambah LRT sampai sini atau kereta cepat nya diteruskan sampai ke Soekarno-Hatta,” kata Jokowi beberapa waktu yang lalu.

 

Sebagai informasi dari bandara Soetta. Angkasa Pura II (AP II) saat ini sedang menyelesaikan proyek runway ketiga Soetta untuk menopang kelancaran arus penerbangan yang sudah sangat padat. Setelah runway ketiga selesai, AP II diminta oleh Jokowi untuk membangun terminal 4 yang berkapasitas 35 juta penumpang, bila sudah tuntas maka kapasitas Soetta akan mencapai 110-115 juta penumpang per tahun mencakup terminal 1, 2, 3, dan 4.

 

Oleh karena itu pembangunan infrastruktur sangatlah penting guna memperlancar perekonomian masyarakat Indonesia.(red)

 

 

 

Continue Reading
Advertisement

Trending