Connect with us

Citizen Journalism

PR Besar Umat Islam dan Sandal Jepit Sang Ustaz

Published

on


Waktu itu, masih 25 menit lagi menjelang waktu ashar. Dengan membonceng motor seorang sohib (sebut saja namanya Deni), kami meluncur ke rumah ustadz muda asli Betawi di daerah Jonggol. Seorang ustadz muda lulusan Al Azhar, Kairo yang baru saja menyelesaikan studi magisternya di UNJ, mengambil jurusan Manajemen Sumber Daya Manusia.

Dua jam lebih kami bertiga berbincang–lebih tepatnya saya dan Deni menutur ilmu dari beliau–di kediamannya yang teduh, yang terintegrasi dengan lingkungan pesantren. Ustadz Mekel—begitu kami memanggilnya—berbicara banyak hal, tentang kesaksiannya saat mengikuti aksi 212, tentang kiprahnya berdakwah di beberapa komunitas yang jarang tersentuh para ustadz kebanyakan, macam; anak-anak punk, grunge, pun komunitas scooter.

Yang bikin saya sumringah, perhatian beliau pada dunia literasi. Di Bekasi, beliau sudah punya komunitas baca dan perpustakaan. Beliau ingin juga mendirikan cabang di daerah kami. Saya langsung semangat, “Waini, saya ikut, Ustadz! Jadi anggota!”

“Enak aja anggota, antum bantu ane! Kite berjuang bareng mewujudkannya!”

“Nah cocok!” Deni menimpali. Saya cuma nyengir. Kena dah gua.

Kami yang semula hanya ingin silaturahmi dan memohon kesediaannya untuk mengisi jadwal khutbah jumat di masjid kami. Sore itu, mendapat banyak pelajaran dari beliau. Plus satu pertanyaan besar beliau yang masih belum terjawab, bahkan oleh beberapa Kyai yang beliau temui.

“Ada seribuan, kurang lebih, pesantren di Indonesia”, katanya. “Kalau satu pesantren saja bisa meluluskan 100 orang santri, setahun ada 100 ribu orang yang siap mengabdikan ilmu agamanya atau melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Dalam 5 tahun sudah berapa orang santri yang siap mengubah wajah negeri ini, tapi kenapa Indonesia masih begini-begini saja? Ada apa dengan agen of change kita?” Pungkas Ustadz Mekel dengan tatap menerawang, seperti sedang bertanya pada dirinya sendiri.

Akhir-akhir ini, saya banyak membaca beragam opini warganet terkait posisi umat Islam di negeri ini. Ketika jumlah yang begitu besar dari luar, tapi terkesan rapuh di dalamnya. Terbukti dalam berbagai perdebatan-perdebatan hebat di media sosial, sesama muslim malah terlihat saling serang. Yang satu merasa benar, yang lainnya merasa betul.

~ Lantas, yang merasa salah siapa?

Abang, Neng. Abang yang selalu merasa salah jika berdekatan dengan Neng. Hikz.

Kembali ke pertanyaan besar Ustadz Mekel. Dalam esainya “Agenda Umat Islam” yang ditulis pada 4 Mei 2000, Prof. Dr. Kuntowijoyo menyinggung beberapa PR alias pekerjaan rumah umat agar Islam betul-betul menjadi rahmatan lil alamin, supaya Islam benar-benar menjadi agama yang melampaui jaman. Saya ambil satu saja dari tiga PR umat. Kuntowijoyo menyebutnya, perubahan sistem pengetahuan.

Selain mobilitas sosial dan mobilitas budaya, perubahan sistem pengetahuan menjadi langkah pertama yang kudu dilakukan umat. Perubahan itu meliputi dua hal; Pengetahuan tentang Hakikat Pergerakan Islam dan Pengetahuan tentang Aktualisasi Islam dalam masyarakat luas.

Pengetahuan tentang hakikat pergerakan Islam yang mengklaim diri sebagai gerakan “amar ma’ruf nahi munkar” semakin hari semakin mengalami penyempitan. Dalam praktiknya, sejauh ini, baru amar ma’ruf yang porsinya cukup besar dan lebih konkret dalam hal kemanfaatan bagi masyarakat. Namun, jika berbicara tentang nahi munkar, yang langsung terpikir oleh kita adalah judi, mirasantika, panti pijat, dan prostitusi.

Tak ada satupun ormas yang menggugat KKN, HPH, konglomerasi, penyerobotan tanah, pelanggaran hukum, otoritarianisme, kesenjangan dan sebagainya. Alhasil, mereka yang melakukan advokasi perempuan segera dicap feminis redikal, advokasi kaum buruh dan tani dicap komunis, advokasi orang miskin dicap kekiri-kirian. Hampir-hampir tak ada di lingkungan gerakan Islam, LSM yang advokatif. Mengapa umat Islam seolah terdiam?

Menurut Kuntowijoyo, itu karena sistem pengetahuannya hanya menekankan amar ma’ruf dan nahi munkar moral. Itulah yang dimaksud dengan etika idealistik. Dan umat Islam, kudu bisa mengubahnya menjadi etika profetik.

Sang Profesor, dengan mengambil landasan Qur’an surat Ali Imran ayat 3 yang menyebutkan; “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan di tengah manusia untuk berbuat kebajikan, mencegah kemungkaran, dan beriman kepada Allah”, memasukkan unsur ketiga, setelah amar ma’ruf, nahi munkar, yakni: tu’ minuna billah. Humanisasi, Liberasi dan Transedensi.

Adanya unsur iman yang lebih eksplisit maka diharapkan, sebagaimana para nabi, selain memperbaiki akhlak, umat Islam juga berpihak secara konkret pada lapisan lemah dan tertindas dari masyarakat, tanpa perlu mengajarkan kontradiksi sosial ala marxisme-komunisme. Dalam tataran yang lebih luas lagi, gerakan Islam tidak hanya mengarahkan tatapan tajamnya pada moral-ibadah, tapi juga ekonomi, sosial dan politik dengan tetap berpegang pada nilai-nilai ilahiah.

Yang berikutnya, perihal Aktualisasi Islam : dari Egosentrisme ke Objektifikasi. Meskipun cita-cita bagi hampir setiap Muslim adalah tegaknya hukum Allah di muka bumi. Namun, ketika kita memaksakan diri menyematkan kata Islam dalam, misalnya; Negara Islam atau Masyarakat Islami, bagi sebagian masyarakat—bahkan bagi umat Islam sendiri—kata itu masih menjadi momok. Oleh sebab itu, dalam pergaulan nasional kata “Islam” tak usah ditonjolkan. Kalau kita bersikukuh ingin menonjolkan itu, itulah yang disebut dengan egosentrisme umat.

Lantas bagaimana seharusnya?

Itulah perlunya objektifikasi. Dengan kata lain, kita kudu berusaha mencari titik temu pada hal-hal yang disepakati. Sebagaimana istilah tauhid, yang diterjemahkan dalam pergaulan nasional menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Meskipun terdiri dari bermacam-macam agama, keyakinan, dan ideologi, toh akhirnya segenap komponen bangsa ini sepakat pada terminologi objektif tersebut.

Percayalah, selama kita bisa menahan diri dan menyimpan hal-hal yang bersifat subyektif seperti kebenaran agama masing-masing ke dalam wilayah privat. Dan hanya mengemukakan hal-hal obyektif seperti; keadilan, pemerintahan yang bersih, supremasi hukum, dan demokrasi, perlahan tapi pasti akan terwujud sebuah negara yang (secara substansial) menegakkan hukum Allah.

Dalam perjalanan pulang saya bilang ke Deni, “Bro, Ustadz Mekel masih muda pemikiran dan kiprahnya udah luar biasa buat umat, lah kita yang udeh bangkotan masih begini-begini aje!”

“Nggak ape, Bang. Ustadz bagian yang berat-berat, ibarat kate otaknye, nah kite jadi tangannye! Udeh ada peran masing-masing!” Sahut Deni.

“Iye, iye, bener juga!” Dalam hati saya bergumam, “Ane mah jangan kate jadi tangan atawa kakinye. Jadi sendal jepitnya juga jadi.”

Citizen Journalism

Awal Mula #10YearChallenge Hingga Viral di Indonesia

Published

on

By

Awal tahun 2019 ini dunia media sosial di tanah air dibuka dengan konten unik bertajuk #10yearchallenge. Hingga kini belum diketahui siapa yang memulai aksi, tantangan atau isi konten yang saat ini sedang ramai di media sosial baik di Instagram, Facebook hingga Twitter. Dalam aksi tantangan ini, semua pengguna media sosial termasuk juga para pesohor mengunggah foto-fotonya dalam rentang waktu 10 tahun kebelakang. Nah, foto lama tersebut kemudian disandingkan dengan foto terbaru di tahun terbaru.

Awal kemunculan tantangan unik ini dimana seseorang berbagi potret mereka dalam rentang 10 tahun. Tantangan memiliki beragam julukan mulai dari #HowHardDidAgingHitYou, 2009vs2019, GlowUpChallenge dan lain sebagainya. Kadang kala juga berisi perbandingan 2 foto parodi foto diri dengan foto idolanya sehingga kerap disebut meme.

Dipercaya tantangan #HowHardDidAgingHitYou ini pertama kali dimulai di media sosial Facebook oleh seorang penggunanya yang bernama Damon Lane. Damon yang adalah seorang chief meterologist di KOCO News 5 Oklahoma mengunggah foto dirinya terbarunya pada hari Jumat, 11 Januari 2019. Sejatinya, ia hanya akan membandingkan foto profil pertamanya di Facebook dengan foto terbaru dirinya saat ini. Kemudian terjadi orang-orang mulai mengikuti menguggah foto drinya sekarang (tahun 2019) dengan foto dari 10 tahun lalu (dalam hal ini tahun 2009). Kemudian tantangan ini berkembang hingga memiliki beberapa julukan seperti 2009vs2019, How Did Age Hit You atau 10 year challenge.

Tak berapa lama, para pengguna media sosial mulai mengunggah postingan tantangan ini dan menjadi populer. Bertambahnya popularitas tantangan ini lalu memunculkan banyak meme, para pengguna menyelipkan tokoh idola sebagai pembanding fotonya yang bertujuan menghibur pengikutnya. Mereka menyematkan foto binatang kesayangan, bahkan karakter film dalam membuat konten tantangannya.

Setiap tahun selalu ada tantangan-tantangan model ini yang lebih kurang mirip seperti Puberty Challenge di tahun 2017 yang mana pengguna media sosial menunjukkan foto sebelum dan sesudah perubahan aneh menuju dewasa. Di tahun 2018 ada #GlowUpChallenge yang sempat populer kala di mulai oleh aktris AS Miley Cyrus pada ajang Oscar dan berkembang menjadi besar ketika dibandingkan dengan foto sebelumnya pada tahun 2012 dan 2018.

Di Indonesia sendiri, tantangan #10yearchallenge sedang berada di puncaknya, hal ini dapat diketahui pada berbagai lini masa media sosial banyak terdapat postingan yang membandingkan foto 10 tahun lalu dengan foto sekarang.

Untuk membuat konten tantangan semacam ini sebenarnya tidak sulit, hanya dengan mencari foto-foto lawas anda pada album media sosial anda, biasanya Facebook atau album yang tersimpan di ponsel pintar anda. Biasanya jika sudah terhubung dengan aplikasi Foto Google, Timehop ataupun dengan browsing foto lawas anda di laptop atau PC anda, maka akan makin mudah dilakukan.

Jika telah anda menentukan foto lawas yang akan anda gunakan, langkah selanjutnya adalah membuat kolase perbandingan yang akan berisi foto diri anda yang telah ditentukan sebelumnya (foto lawas 10 tahun lalu) dengan foto diri terbaru di tahun 2019 ini. Anda dapat menggunakan beragam aplikasi grid yang terdapat baik di Google Play Store ataupun Apple Store. Penulis menggunakan aplikasi Picarts yang dapat anda unduh baik di android maupun iOs, kemudian pilih grid 2 bidang, selanjutnya isi kanan kirinya dengan foto yang ingin ditampilkan dan jangan sampai lupa tulis tahunnya. Selain Picart, anda dapat juga menggunakan aplikasi Canva, Unfold, Instagrid, dan lain sebagainya. Setelah selesai, unggah hasilnya ke semua media sosial anda seperti Instagram baik strory maupun feed, Facebook, juga Twitter, dengan tagar #10yearchallenge dan #10yearschallenge.

Continue Reading

Citizen Journalism

Moderator Debat Capres 2019 Kok, Ira Koesno Lagi? Kenapa Enggak Dedy Corbuzier Saja?

Published

on

Sudah calonnya wajah lama, lah kok moderatornya ikut-ikutan wajah lama pula. Ini mau debat atau mau reunian? Kayak enggak ada orang lain aja. Oke-oke, Najwa Shihab jelas enggak mungkin, karena nanti orang bakal protes dan bilang, ini sebetulnya Debat Capres atau talkshow Mata Najwa? Tapi, apa enggak ada alternatif lain?

Menurut kamu, seberapa menariknya Debat Capres dan Cawapres antara pasangan Jokowi – Ma’ruf Amin dan Prabowo – Sandiaga Uno yang akan dilangsungkan beberapa hari lagi itu?

Kalau menurut saya, setidaknya ada tiga hal yang menyebabkan Debat Capres dan Cawapres Perdana kali ini menjadi tak terlalu menarik lagi.

Calonnya Dia Lagi-Dia Lagi

Nyaris tak ada wajah baru, apalagi (entah) ide baru yang bakal tampil dalam ajang Debat Capres yang seharusnya bisa menjadi tontonan yang sarat informasi akan siapa dan bagaimana cara ia kelak menahkodai negeri yang bak sepenggal surga di muka bumi ini.

Kita tahu, dari keempat orang Calon Presiden dan Wakil Presiden tersebut, hanya Kyai Ma’ruf yang belum pernah kita lihat performanya dalam sebuah ajang debat Pilpres atau Pilkada, Sandiaga Uno, tentu masih sangat lekat dalam ingatan bagaimana penampilannya pada Debat Pilkada 2017, tempo hari.

Sementara Pak Jokowi dan Pak Prabowo merupakan dua calon yang lima tahun lalu pernah berhadap-hadapan. Dua calon yang lima tahun lalu telah meninggalkan jejak berupa kata “bocor” dan “dananya ada”. Dan si empunya kata “dananya ada” lah yang akhirnya keluar sebagai pemenang. Ini jadi semacam indikasi, kalau masyarakat Indonesia memang lebih menyukai kabar gembira ketimbang sebuah pesan atau (bahkan) fakta yang kurang menggembirakan. Satu kenyataan yang seharusnya menjadi perhatian Pak Prabowo dan Tim Kampanyenya.

Sayangnya, baik Pak Prabowo, ataupun tim kampanyenya seperti melupakan poin itu. Lagi-lagi, dalam beberapa kesempatan Pak Prabowo menyampaikan hal-hal yang kurang menggembirakan, macam; ramalan tentang masa depan Indonesia yang ia baca dari sebuah novel bahwa Indonesia akan bubar pada tahun 2030.

~ Lho, emang kapan jadiannya? Kok tau-tau bubaran.

Au ah, Bong!

Atau yang terbaru, ia mengatakan bahwa masih banyak dokter di negeri ini yang penghasilannya lebih kecil dari penghasilan juru parkir. Sekalipun apa yang dikatakan Pak Prabowo itu benar adanya (tapi amit-amit kalo ramalan tentang bubarnya Indonesia, sih) tetap saja bagi lawan politiknya, ini adalah celah untuk mengatakan bahwa Prabowo hanya menebar ketakutan. Persis ketika ia mengatakan keuangan negara “bocor” yang dinyinyiri segenap cebong di Indonesia, meskipun, pada akhirnya Pak Jokowi pun mengakui hal itu.

Tapi para kampret enggak usah khawatir dengan pernyataan-pernyataan Pak Prabowo yang kerap blunder dan berpengaruh pada elektabilitasnya. Enggak usah khawatir. Sebab, seberapapun seramnya pernyataan Pak Prabowo, tetap saja itu baru sebuah pernyataan. Berdoa saja, semoga rakyat dapat menangkap pesan apa yang sebenarnya ingin disampaikan Pak Prabowo.

Sementara Pak Jokowi, akalan lumayan berat upayanya untuk meyakinkan lagi masyarakat yang lima tahun lalu sudah ia jejali janji-janji, entah berapa janji yang sudah terpenuhi. Saya enggak bisa menyebutkannya, tapi jika berbicara tentang Pak Jokowi, saya mendadak jadi ingat sebuah lirik lagunya ayahanda Rhoma Irama, “Kau yang berjanji kau yang mengingkari, kalau begini jadinya tak mau—kumemilih Anda.”

Belum lagi upayanya untuk meyakinkan para pendukungnya yang sempat kecewa karena Pak Jokowi akhirnya melabuhkan pilihannya untuk posisi wapres kepada ulama senior yang merupakan salah satu aktor penyebab terpenjaranya Ahok. Yups, tul banget, dialah Kyai Ma’ruf Amin. Andai kamu Ahoker, gimana coba perasaan kamu? Begitulah, hidup memang kadang terlihat seperti ngeledek kamu. Yang sabar, ya!

Adanya Kisi-Kisi Soal Debat

Buset, ini Debat Capres atau Ujian Nasional? Pakai ada kisi-kisinya. Rocky Gerung menyayangkan alasan sembrono KPU yang mengatakan bahwa alasan diadakannya kisi-kisi agar tak ada yang dipermalukan di antara keempat calon peserta Debat Capres tersebut.

“Coba saya tanya ke KPU, dari empat wajah itu, yang berpotensi memalukan publik, yang mana?” Demikian pertanyaan Rocky Gerung kepada KPU dalam sebuah acara talkshow di salah satu stasiun televisi.

“Sebab, kalau Anda nggak bisa jawab,” Kejar Rocky, karena merasa belum mendapat jawaban yang memuaskan, “Anda menduga keempat-empatnya punya potensi untuk dipermalukan itu, atau Anda memang tahu tapi Anda sembunyikan, kan itu semiotiknya kalau kita membongkar persembunyian dari kekacauan ini” Pungkas Rocky yang diikuti tepuk tangan penonton.

Moderatornya Kok Ira Koesno Lagi?

Sudah calonnya wajah lama, lah kok moderatornya ikut-ikutan wajah lama pula. Ini mau debat atau mau reunian? Kayak enggak ada orang lain aja. Oke-oke, Najwa Shihab jelas enggak mungkin, karena nanti orang bakal protes dan bertanya, ini sebetulnya Debat Capres atau talkshow Mata Najwa? Apalagi Dedy Corbuzier, lebih enggak mungkin lagi, khawatir sangking kesalnya sama penonton yang berisik, dihipnotis itu penonton agar mematung sepanjang debat.

Tapi kan masih ada Via Vallen. Lho ini beneran, apa salahnya kita kemas debat dengan suasana rileks supaya kedua pendukung calon enggak ribut dan tetap saling menebarkan rasa sayang. Ya, enggak?

Atau kalau Via Vallen dirasa kurang tepat, saya masih ada alternatif lain. Gimana kalau Nissa Sabyan? Nah, ini kayaknya sudah paling pas. Bisa jadi penengah kalau debat mulai panas. Cukup dengan melantunkan liriknya yang sangat fenomenal itu, “Hmmm.. Hmmm.” Dijamin, yang lagi ngotot-ngototan langsung terdiam, tenang, karena berasa diguyur air zam-zam.

Tapi kalau bisa, sebelumnya, Nissa Sabyan mengingatkan kepada peserta debat agar enggak usah ikut-ikutan nyanyi. Enggak usah nanya kenapa. Sudah jelas jawabannya, agar enggak ada yang dipermalukan. Ituh!

Continue Reading

Citizen Journalism

Media yang Dulu Bukanlah yang Sekarang (Pilpres 2019)

Published

on

Media yang Dulu Bukanlah yang Sekarang (Pilpres 2019)

Bicara soal perkembangan media massa di Indonesia, seperti televisi, surat kabar hingga munculnya media baru seperti online saat ini, tentu sudah mengalami berbagai dinamika. Jika dulu media sangat menjunjung tinggi nilai dan kaidah jurnalisme, tetapi makin kesini hal itu sudah bergeser.

Tentu kita semua mengetahui, dalam kontestasi Pilpres 2019 ini saja sudah banyak sekali peristiwa-peristiwa politik, yang menjadi “makanan” utama dari media. Dari mulai deklarasi pasangan calon, strategi kampanye, hingga hal “printilan” lain yang seakan terlalu berlebihan untuk disorot.

Kita tentu jengah dengan berbagai headline dari suatu media yang seperti berat sebelah. Hal ini cukup simpel, sebab media saat ini lebih umum “di bekingi” oleh orang yang berkedudukan tinggi di suatu partai politik.

Media seakan lupa akan kaidahnya sebagai kontrol sosial, independen, dan menjunjung tinggi etika jurnalisme. Saat ini, media justru makin menampakan wajah aslinya dalam bersikap. Masyarakat pun pasti sudah merasakan hal ini sejak lama.

Fenomena ini mengisyaratkan media, jika mereka sudah tidak sehat lagi. Sehingga ungkapan “media yang dulu bukanlah yang sekarang” pun cocok. Masyarakat haus akan berita yang berimbang, tidak menyudutkan, dan memiliki isi berita yang bergizi. Tidak cuma asal heboh saja.

Pengambilan angle berita oleh media seharusnya jadi prioritas perbaikan. Masyarakat ingin sekali hidup damai, tidak terkotak-kotakan karena amarah yang makin “digoreng” oleh media dalam pemberitaannya. Cukup sudah.

Media seharusnya menjadi garda terdepan bagi masyarakat untuk mencerdaskan, mencerahkan dan menjadi pengontrol sosial. Dalam kaitan dengan Pilpres, harusnya media lah yang getol memberitakan visi misi dua pasangan calon, bukan malah sebaliknya. Menimbulkan perpecahan di masyarakat akibat ucapan yang berujung pada kontroversi dan permusuhan sesama masyarakat. Sehingga tercipta dua kubu politik yang makin hari makin panas.

Fatalnya, rusaknya media yang berpihak ini lambat tapi pasti secara menyeluruh akan menggerogoti idealisme para jurnalis-jurnalisnya. Bukan jadi mustahil juga, jika media saat ini bergeser ke media liberal. Siapa yang punya uang, dan memiliki media itu, menjadi penguasa yang bisa membelokan pandangan media untuk berpihak pada yang punya uang dan kuasa. Who knows?

Continue Reading
Advertisement

Trending