Connect with us

Cover Story

Pengabdian Abadi Andi Sudirman, Kepala Pos Jaga Bendung Katulampa

Published

on


Pengabdian Abadi Andi Sudirman, Kepala Pos Jaga Bendung Katulampa

Finroll.com – Pagi itu Kota Bogor sangat cerah, matahari keluar dari persembunyiannya setelah dua hari sebelumnya langit abu menurunkan hujan badai dan angin kencang. Embun kembali membasahi ilalang, ayam kembali bersuara lantang. Selamat pagi Bogor.

Saat ini, musim hujan mulai menyapa wilayah DKI Jakarta beserta Jawa Barat. Warga ibu kota harus bersiap pada musuh lamanya, banjir.

Salah satu sungai besar yang membelah Jakarta adalah Ciliwung. Nun jauh di hulu, ada sebuah infrastruktur sistem peringatan dini banjir yang dibuat oleh pemerintah kolonial, Bendung Katulampa.

Dibalik semua hingar bingar berita banjir Jakarta, ada satu sosok inspiratif di Bendung tua itu. Namanya mungkin akan ramai kita dengar, atau wajahnya akan mengisi layar kaca jika ketinggian air disana sudah siaga 1. Dia adalah sang kepala pos jaga Bendung Katulampa, Andi Sudirman.

Kebetulan pagi ini langit Bogor tidak menurunkan rintik hujan. Saya segera bergegas menyalakan sepeda motor dan menuju lokasi beliau di pos jaga.

Sekitar 30 menit saya menyusuri Jalan Pajajaran lalu Jalan Raya Tajur, hingga sampai ke lokasi.

Pengabdian Abadi Andi Sudirman, Kepala Pos Jaga Bendung Katulampa

Bendung Katulampa, Foto: Finroll.com/Ihsan Maulana

Bendung Katulampa masih gagah, masih menunjukan keperkasaan dan pengabdiannya untuk memberi peringatan ke Jakarta bila air sewaktu-waktu meninggi di hulu. Sembari menunggu pak Andi yang sedang dalam perjalanan, saya bersantai sejenak bersama petugas jaga disana.

Usianya masih muda-muda, mungkin sedikit lebih tua dari saya. Mereka dengan sigap memonitor dan melaporkan ketinggian air dengan radio. Angin sejuk dari pegunungan menusuk merayapi jaket tebal saya. Namun, pemandangan pagi itu sungguh mempesona, antara keperkasaan alam dengan kokohnya Bendung Katulampa. Syahdu sekali.

Sambil menunggu kedatangan pak Andi, saya melihat sekeliling isi dari pos jaga yang sederhana namun kaya cerita itu. Nampak di dinding, terpajang bingkai demi bingkai foto para petugas jaga dengan tokoh besar. Seperti Presiden Jokowi, Walikota Bogor, tamu negara, dan lainnya.

Piagam dan plakat penghargaan juga tidak luput menjadi saksi sejarah betapa berartinya Bendung Katulampa yang dibangun di tahun 1911 itu.

Tak lama berselang, ada sesosok lelaki paruh baya yang menyapa di pintu masuk, “Assalamualaikum” serunya, ternyata itu pak Andi. Ia langsung melempar senyuman lebarnya ke saya, sambil mengulurkan jabat tangan.

Kami duduk bersebelahan di sofa tua, sambil berbincang singkat menanyakan kabar dan aktivitas saat ini.

“Alhamdulillah sehat,” jawabnya sambil tersenyum. “Sekarang juga sudah masuk musim hujan, kami sudah koordinasi dengan BMKG dan BPBD untuk siaga,” lanjutnya seraya menegaskan kesiapan tim dan dirinya.

Saya pun melontarkan pertanyaan yang mungkin tidak semua wartawan tanyakan ke dia di saat musim hujan saat ini.

“Sudah berapa lama pak jaga disini?” ujar saya.

Andi langsung mendongakkan kepalanya, memori beliau mengalir kembali ke tahun 80-an, raut wajahnya berubah, seakan menyelami kembali masa-masa remajanya yang ia abdikan bagi kepentingan banyak orang. Ia pun memulai kisahnya ketika pertama kali bekerja sebagai petugas jaga Bendung Katulampa.

“Saya pertama kerja disini pada tanggal 1 Oktober 1987. Pas hari Kesaktian Pancasila, SK saya turun pas hari itu. Jadi sudah 31 tahun lah sampai sekarang, masih diberikan kepercayaan di lapangan,” papar bapak beranak tiga asal Sukabumi ini.

Ia kembali menjelaskan, Andi Sudirman adalah seseorang yang tidak “terlalu suka” kerja kantoran. Andi merasa kerja di lapangan adalah salah satu bentuk pengabdian tanpa batas kepada orang banyak, alam, dan hal lainnya yang membuatnya tidak pernah mengeluh memantau air.

“Memang ada tawaran kerja di kantoran, jadi staff dan lainnya tapi saya lebih suka di lapangan. Karena tidak mengenal waktu jika mau koordinasi dengan TIM SAR, relawan, BPBD, Ormas dan lainnya. Itulah indahnya berbagai, itu indahnya mengabdi memberikan pelayanan informasi ke masyarakat,” tambahnya.

Ingin Jadi Marinir TNI AL

Siapa sangka, pria berusia 51 tahun ini ternyata dulunya ingin menjadi seorang prajurit Marinir, TNI AL. Namun, suratan takdir berkata lain karena ia tidak lolos dalam seleksi. Meski begitu, kecintaannya pada alam terutama air tidak pernah surut.

“Saya dari SD sampai SMA memang hobi olaharaga, seperti voli dan sepakbola. Waktu itu ingin jadi Marinir TNI AL tapi sayangnya setelah daftar tidak diterima. Ini kan marinir dan kerjaan sekarang tidak jauh dari air lah, jadi saya pas dapat lowongan dari Dinas SDA Jawa Barat terkait untuk petugas jaga bendung langsung daftar,” jelasnya.

Ia mengenang, saat pertama kerja di tahun 1987 dirinya hanya digaji Rp27 ribu. Meski tidak besar, Andi nyatanya menemukan dunia yang selama ini ia cari yaitu kerja di lapangan.

“Dulu awal-awal kerja saya dapat bimbingan dari senior, bagaimana jalan kaki menyusuri sungai, irigasi, memonitior banjir, memonitor bencana dan lainnya,” imbuhnya sambil tersenyum puas.

Kepuasan Batin Andi Sudirman di Masa Senja Pengabdiannya

Obrolan kami makin hangat. Tak terasa menit demi menit berlalu menyusuri kehidupannya yang sekokoh Bendung Katulampa. Hingga, ia berkata…

“Menjelang 30 tahun pengabdian saya, ada kepuasan tersendiri saya bekerja disini. Meski saya sudah tua, sudah mau pensiun tapi saya tidak mau mundur. Tetap, untuk masyarakat memberikan pelayanan,” sambungnya dengan nada semangat.

Mengingat usianya yang sudah senja, saya pun bertanya apa tidak ada tentangan dari keluarga karena fisik juga makin menurun. Seorang Andi Sudirman nampaknya harus berganti, namun ia menyatakan kesungguhannya menjalani pekerjaan. Andi lantas menjelaskan salah satu pengorbanannya demi masyarakat, diiringi matanya yang mulai berkaca-kaca.

Pengabdian Abadi Andi Sudirman, Kepala Pos Jaga Bendung Katulampa

Foto: Finroll.com/Ihsan Maulana

“Untuk keluarga, alhamdulillah pekerjaan ini berkah. Meski pekerjaan ini tantangan utamanya keluarga ya karena kan tugas di lapangan. Alhamdulillah keluarga mendukung, meski saya harus siap kerja 24 jam untuk kepentingan masyarakat,” jawabnya tegas.

“Dari situ mereka (keluarga) menjadi paham. Inilah sosok bapak yang harus mengayomi masyarakat, bekerja untuk masyarakat jam berapa pun itu. Anak-anak saya sudah memahami, jadi apapun itu kami selalu siap, selalu siaga untuk memberikan informasi ke warga dari Ciliwung,” lanjutnya lagi.

Dengan nada agak bergetar, ia kembali bercerita tentang pertanyaan anak-anaknya sewaktu kecil dulu, karena bapaknya jarang ada di rumah. Semata, untuk bekerja dan mengadi ke masyarakat kapanpun, jam berapa pun.

“Saya punya motto, PENGABDIAN TANPA BATAS. Dimana pun itu, sesuai dengan kehendak hati, dengan memegang amanah bahwa kita abdi masyarakat, dan kita hadir untuk menjaga alam,” pungkasnya.

Pengalaman Tak Terlupakan Andi Sudirman Selama Menjaga Katulampa

Pengabdian Abadi Andi Sudirman, Kepala Pos Jaga Bendung Katulampa

Andi Sudirman bersama timnya, Foto: Finroll.com/Ihsan Maulana

Selama bertugas 31 tahun di pos Bendung Katulampa, Andi mengaku salah satu pengalaman yang ia tidak lupakan adalah peristiwa banjir besar pada tahun 2007 silam. Ingatannya kembali menerawang ketika pada saat kejadian banjir besar itu, ia dan tim sangat kaget.

“Ketika itu jelang sholat magrib, air tiba-tiba datang. Kami monitor hujan deras di kawasan puncak malam itu diguyur hujan deras seharian itu kejadian 3 Februari 2007. Ketinggian air di Katumlapa saat itu dua kali lipat diatas batas normal,” ungkapnya.

Setelah Pensiun, Apa yang Akan Bapak Lakukan?

Sebelum menutup obrolan santai pagi itu, saya pun bertanya jikalau sudah pensiun nanti apakah Andi Sudirman akan tetap disini? Atau ia ingin menghabiskan hari dengan kegiatan lain?

“Kalau saya tidak akan berhenti ya. Saya akan tetap memberikan pelayanan ke masyarakat, ke sungai Ciliwung dan sekitarnya. Pengabdian tidak mengenal batas, hingga akhir hayat bisa memberikan yang terbaik bagi siapapun,” tutupnya kepada saya.

Pengabdian Abadi Andi Sudirman, Kepala Pos Jaga Bendung Katulampa

Andi Sudirman dan radionya, Foto: Finroll.com/Ihsan Maulana

Hampir satu jam kami berbincang, membahas beragam hal tentang Bendung Katulampa, banjir, dan sungai Ciliwung. Waktu sudah beranjak makin siang dan saya pun pamit.

Di ujung daun pintu, beliau lagi-lagi berpesan agar selalu cintai dan jaga lingkungan dimana pun kita berada. Sambil bersalaman seraya mengucap salam, kami bertukar senyum dan pengalaman saya berbicang empat mata dengan Andi Sudirman, selesai.

Baca Lainnya: Kementerian PUPR Lakukan Langkah Antisipasi Banjir Pada Musim Hujan 2018-2019

Advertisement

Cover Story

Dr. dr. Mardjono Tjahjadi, SpBS, PhD: It’s All About Humanity

Published

on

Dr. dr. Mardjono Tjahjadi, SpBS, PhD: It’s All About Humanity

Finroll.com – Sesungguhnya, menjadi seorang dokter adalah impian saya sejak kecil. Mungkin bukan saya saja, tapi sebagian manusia lain yang hidup di muka bumi ini. Entah apa pemicunya, tapi dulu ketika guru SD saya bertanya apa cita-cita kamu, dokter menjadi sosok yang paling pertama hadir.

Perawakannya yang profesional, jas putih yang tidak pernah lepas, stetoskop melingkar di leher, sikapnya yang ramah, dan bisa memberikan “obat manjur” dari kesengsaraan manusia atas penyakit membuat saya terbius.

Seiring berjalannya waktu, takdir berkata lain, dan impian menjadi seorang dokter terbang sebagai angan belaka. Hingga suatu hari, saya bisa “mengkonsultasikan” kegundahan hati saya akan profesi tersebut kepada seseorang yang tepat di bidangnya, ya dokter sungguhan.

Kebetulan, ada seorang dokter yang bisa saya temui. Ia merupakan dokter spesialis bedah saraf, beliau adalah Dr. dr. Mardjono “Joy” Tjahjadi, SpBS, PhD. Berbincang sedikit melalui pesan singkat, saya pun berkesempatan bertemu dr Joy panggilan akrabnya di sela-sela kesibukannya di salah satu rumah sakit swasta ternama di Jakarta.

Selepas makan siang sekitar pukul 14.00 WIB, saya pun bertemu dr Joy. “Halo dokter Joy, apa kabar?” sapa saya, yang dibalas senyum ramah sang dokter dan mempersilahkan saya duduk. Jujur, saya sebelumnya belum pernah bertemu dengan dr Joy, dan kesan pertama saya bertemu dengannya ternyata seru. Usianya saya taksir mungkin sekitar 30an, raut wajahnya berseri, dan gaya bicaranya serius tapi santai. Tipikal dokter jaman now.

Beberapa menit berbicang, dr Joy memang sesuai nama panggilannya yang berarti “seru”. Ia tidak canggung sedikitpun saat ditanya macam-macam soal kesehatan. Ya, memang saya masih awam soal dunia bedah saraf. Terlebih spesialisasi beliau, yaitu mengenai penyakit aneurisma otak. Oh ya, dr Joy juga telah menerbitkan sebuah buku bacaan medis berjudul “Memahami Aneurisma Otak”.

Dr. dr. Mardjono Tjahjadi, SpBS, PhD: It’s All About Humanity

dr Joy pada saat melakukan operasi Aneurisma, Foto: Dokumentasi pribadi

Aneurisma sendiri berasal dari bahasa Yunani yang berarti pelebaran. Aneurisma bisa didefinisikan sebagai pelebaran dinding pembuluh darah karena lemahnya struktur dinding pembuluh darah tersebut.

Sementara, Aneurisma otak adalah membesarnya pembuluh darah pada otak, akibat dinding pembuluh darah yang lemah. Ketika aliran darah menekannya, maka pembuluh darah yang lemah itu akan menggelembung layaknya balon.

Hal ini bisa berakibat serius apabila membesarnya pembuluh darah seperti sebuah gelembung sudah tidak tertahankan, hingga akhirnya rembes bahkan pecah. Jika sudah pecah, maka tahapan selanjutnya bisa berakibat pada penyakit stroke.

Kasus ini bisa menimpa siapa pun, namun lebih banyak terjadi pada wanita berusia di atas 40 tahun. Fatalnya, kebanyakan kasus Aneurisma otak baru memberikan gejala ketika pembuluh darahnya sudah pecah. Tercatat hanya 1 dari 10 penderita yang memberikan gejala klinis.

Ditengah keasyikan obrolan seputar dunia kesehatan, saya pun ingat tujuan saya menemui dr Joy. “Berkonsultasi” pertanyaan hati soal alasan utama seorang dokter menjadi dokter.

“Dok, kenapa sih dulu bisa terpikir mau jadi dokter, apa memang impian sejak kecil atau bagaimana?” sela saya singkat.

Dokter: to be man for others

Dr. Joy terdiam, tersenyum lebar, dan tertawa. Suatu gestur tubuh yang jarang saya lihat pada seorang dokter yang kesannya begitu kaku dan menjunjung profesionalitas kerja. Ia memejamkan matanya, seakan mencari memori lama akan sebuah anak yang berkeinginan menjadi seorang dokter spesialis, dan akhirnya mampu menyelamatkan banyak nyawa manusia.

“Jadi sebenarnya di bidang ilmu kedokteran, salah satu bidang ilmu yang paling sistematis adalah saraf, terutama otak ya. Nah kenapa saya pilih spesialis bedah saraf, ya karena tadi kita bekerja pada satu bidang yang sistematis dan kompleks,” bukanya.

“Nah semua ini mulainya waktu SMA. Menjadi seorang dokter memang salah satu cita-cita saya, selain pengen juga jadi bankir, pengen jadi lawyer, dan lainnya. Cuma yang saya lihat, kalau kita jadi dokter itu kita bisa langsung menolong orang ya, dan orangnya bisa merasakan manfaat dari kita,” tuturnya sambil tersenyum lebar.

Sejak saat itulah, ia akhirnya bertekad dan meneguhkan hatinya untuk menjadi seorang dokter. Tujuannya cuma satu, menolong sesama yang mencari kesembuhan atas penyakitnya.

Perjalanan Dimulai..

Kisahnya sebagai “penyelamat manusia” pun diawali pada tahun 1998, saat itu ia berkuliah jurusan kedokteran di Universitas Atma Jaya. Singkat cerita setelah lulus di tahun 2004, anak kedua dari empat bersaudara ini menyadari jika bidang saraf, sangat menyita perhatiannya.

Hingga pada tahun 2005, ia bekerja sebagai dokter umum PTT di RSUD Provinsi NTT, Kupang. Kebetulan, ia ditempatkan di poli bedah saraf dan membantu dokter spesialis bedah saraf disana.

Sambil menyelam minum air, dr Joy muda mulai mempelajari sedikit demi sedikit spesialisasi saraf. Ia pun mengaku, salah satu momen terbaiknya menjadi seorang dokter terjadi pada masa ini.

“Kasus pertama saya waktu membantu dokter bedah saraf itu operasi, adalah membantu menangani kasus pendarahan otak seorang pasien akibat kecelakaan. Waktu itu pasien saya datang dengan tingkat kesadaran yang hampir koma, nah begitu selesai di operasi secara bertahap, tingkat kesadarannya kembali normal. Nah disitu saya lihat, wah bahagia banget,” jelasnya sambil berkaca-kaca dan tersenyum.

Saya bisa melihat jelas disini, apa arti seorang dokter dalam bekerja. Tanpa banyak basa-basi, prioritas utama adalah menyelamatkan nyawa manusia. It’s all about humanity. Luar biasa.

“Kebahagiaan seorang dokter adalah bisa melakukan sesuatu bagi kesehatan pasien. Apalagi bisa melihat pasiennya sembuh lagi, dari yang tadinya hampir koma sampai bisa sehat. Itu dasar yang akhirnya membuat saya ingin jadi dokter bedah saraf,” tukasnya.

Dua tahun ia habiskan menjadi dokter PTT di Kupang, sampai akhirnya ada info pendaftaran spesialisasi bedah saraf di Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung, Jawa Barat.

Dari Jawa Barat Menuju Daratan Eropa

Setelah mendapatkan gelar dokter spesialisasi bedah saraf dari Universitas Padjajaran Bandung di tahun 2012, dr Joy tidak puas. Ia langsung melamar kuliah lagi untuk lebih mendalami sub spesialis Aneurisma otak di Helsinki University Central Hospital, Finlandia dan mulai kuliah pada 2014.

“Jadi dulu (2012) sub spesialis Aneurisma otak di Indonesia masih jarang. Dalam pemikiran saya, bidang ini masih sangat perlu memerlukan pengembangan. Menurut saya secara umum dokter bedah saraf di Indonesia pun sampai saat ini masih relatif jarang, sekitar 350 orang di seluruh Indonesia. Jumlah ini masih sangat kurang,” tegasnya.

Belajar di negeri orang, jauh dari keluarga dan tanah air membuat mata dr Joy terbuka luas. Cakrawala dunia medis bedah saraf seakan mengalir tanpa terbendung dari pengalaman dokter di seluruh dunia. Ia seperti menemukan pelepas dahaga akan rasa keingintahuannya pada sub spesialis Aneurisma Otak.

Dr. dr. Mardjono Tjahjadi, SpBS, PhD: It’s All About Humanity

Foto: Dokumentasi pribadi

“Enggak cuma dokter-dokter negara Asia Tenggara yang datang belajar, bahkan dokter dari Jepang, Amerika, Prancis belajar disini. Setiap bulan ada profesor bedah saraf dari seluruh dunia datang. Disini saya mengetahui, ternyata pendidikan dan keilmuan kedokteran Indonesia enggak kalah dari mereka. Kita bisa nyambung, gak ada gap ilmu pengetahuan. Ini yang paling menarik,” jelasnya seru.

Dokter Juga Manusia

Ya, dokter juga manusia biasa. dr Joy ternyata punya hobi naik gunung, meski saat ini hal tersebut sudah jarang ia lakukan karena kewajibannya mengobati pasien yang butuh pertolongannya.

“Sebenarnya saya punya hobi naik gunung. Dulu sih sempet ya, tahun lalu naik Gunung Gede. Tapi sekarang gimana ya, hahahaha,” ungkapnya sambil tertawa lepas.

Ia memahami, dengan berprofesi sebagai seorang dokter membuatnya harus rela jika panggilan tugas memotong waktunya menjalankan hobi, bahkan waktu bersama keluarga.

“Seringkali saat nonton bioskop atau saat aktivitas bermain sama anak-anak, eh tiba-tiba ada panggilan ke RS. Jujur saja, dalam hati kecil sempat terbersit bisa ditunda enggak ya (panggilan ini), aduh ternyata pasiennya pendarahan otak. Sesuatu yang harus segera ditolong, terpaksa harus saya tinggalkan aktivitas saya bersama keluarga. Sudah sangat sering saya meninggalkan acara keluarga karena komitmen saya,” tandasnya.

“Tampaknya anak-anak sudah maklum dengan kerjaan papanya. Saya cukup bangga mereka tidak kecewa dengan kondisi ini,” lanjut bapak dari tiga orang anak ini.

Tak jarang, panggilan tugas juga datang di kala dirinya baru sampai rumah tengah malam setelah selesai beraktivitas seharian di rumah sakit. Harus mau, dr Joy mesti menuju rumah sakit yang dimana ada seseorang pasien yang sangat menunggu bantuannya.

“Ya itu sering, karena untuk bedah saraf dan umumnya penyakit yang berhubungan dengan bedah gak bisa ditunda. Karena time is brain buat saya,” pungkasnya.

Tips Sehat Seorang Dokter Bagi Dirinya Sendiri

Terlepas dari itu semua, saya makin penasaran tentang rahasia seorang dokter untuk menjaga kesehatannya. Tentu, selama ini kan memang lumrah seorang dokter menasehati pasiennya agar hidup sehat. Tapi bagaimana tips sehat dr Joy bagi dirinya sendiri?

“Saya pribadi meski pun berat, tetap berkomitmen olahraga seminggu minimal tiga kali, jogging aja,” ungkapnya serius.

“Eh dulu saya juga pernah daftar gym sih, tapi ya daftar aja enggak pernah sempet kesana, hahahaha,” tambahnya.

Harapan dan Impian Seorang Dokter

Dua jam saya berbincang panjang lebar dengan dr Joy, pengalaman yang sangat seru sekali. Bisa menemukan sisi lain dari dokter dibalik profesi dan tuntutan kerjanya yang begitu banyak membutuhkan pengorbanan dan keteguhan hati.

Sebelum berpamitan, dr Joy mengungkapkan isi hati kecilnya untuk masa depan. Sama seperti dahulu, ketika dirinya memulai semua ini dari awal. Dimulai dari impian dan harapan.

“Saya ingin terus mengembangkan pelayanan bedah saraf bagi masyarakat, khususnya dalam Aneurisma otak. Masih banyak pekerjaan yang harus kita kerjakan, saya dan beberapa tim dokter lainnya juga terus meningkatkan pelayanan sembari terus belajar. Mungkin suatu saat nanti penyakit Aneurisma otak bisa sembuh dengan minum obat tanpa operasi. Itu harapannya,” tutup pria 39 tahun ini.

Continue Reading

Cover Story

Gerakan Kecil Tingkatkan Minat Baca

Published

on

Gerakan Kecil Tingkatkan Minat Baca

Finroll.com – Dewasa ini, marak kegiatan program peningkatan minat baca masyarakat dengan munculnya banyak Taman Bacaan Masyarakat (TBM) diberbagai wilayah.

Taman Bacaan masyarakat bisa juga dikategorikan sebagai perpustakaan masyrarakat. Hadir sebagai tempat baca dengan suasana alam yang asri dan nyaman.

Hadirnya TBM bak oase di gurun pasir, dimana minat baca masyarakat Indonesia yang saat ini masih terbilang sangat rendah. Berdasarkan hasil survei, menyebut bahwa saat ini minat baca masyarakat Indonesia menempati peringkat 61 dari negara-negara lainnya.

Untuk mengetahui lebih dalam apa itu Taman bacaan Masyarakat, saya pun mencoba untuk menggali informasi tentang adanya TBM dengan terjun langsung kelapangan. Kebetulan saya mempunyai teman satu kampus yang tidak lain seorang penggiat taman bacaan.

Ahmad Firman namanya, mahasiswa semester 5 Universitas Tama Jagakarsa ini adalah sosok yang cukup menginspiratif dikalangan teman mahasiswa lainnya, Usut punya usut ternyata ia sudah mendirikan taman bacaan, dan tanpa pikir panjang saya langsung membuat janji dengannya untuk melihat kegiatan taman bacaan yang didirikannya.

Siang itu jalan raya di Ibu Kota sangat macet dan semrawut, ditambah trik matahari yang panas menyinari bumi. Namun hal itu tak sedikitpun mengendurkan niat saya yang sudah berjanji ingin bertemu dengan sosok penggiat taman bacaan yang kebetulan juga teman satu kampus.

Tepat pukul satu siang, saya berangkat menuju lokasi dengan mengendarai sepeda motor matic hitam, berisik suara klakson kendaraan dan kepulan asap setia menemani sepanjang perjalanan saya menuju lokasi.

satu jam setengah waktu yang dihabis kan untuk sampai ke lokasi, tepatnya di Taman Bambu, Cipayung, jakarta timur. Tempat inilah yg dijadikan Firman untuk mejalankan kegiatan mulianya.

Sesampainya di Taman Bambu, saya disajikan pemandangan yang cukup mempesona. Rindangnya pepohonan dan aneka jenis bunga-bunga membuat mata serasa dimanja. Ditambah lagi udara yang sejuk dengan tiupan angin sepoi-sepoi mengalahkan cuaca panas di Jakarta saat itu.

Sembari menikmati suana yang asri, saya pun berjalan menelusuri sudut-sudut taman untuk mencari sosok Ahmad Firman, dan akhirnya saya bertemu dengannya. Kedatangan saya tepat dimana Firman dan teman-temannya sedang menggelar buku-buku bacaannya untuk siap dibaca oleh warga.

“Halo bang Firman,” Sapa saya sambil bersalaman. Firman pun tersenyum dan menyambut kedatangan saya. Tak pikir panjang, melihat Firman sedang merapihkan buku-bukunya untuk digelar saya pun bergegas ikut membantu.

 


Jenis koleksi Buku yang dimiliki Firman pun cukup banyak diantaranya, Komik, Novel, cergam, ensiklopedi, Komedi, biografi, Dongeng, Panduan mengaji dan mewarnai. Sambil saya ikut merapihkan tata letak buku bersama Firman dan teman-temannya, Ternyata sudah banyak anak-anak kecil yang sudah tidak sabar ingin cepat-cepat membaca dan mewarnai.

“Kaka sudah belum rapihinnya?” Tanyanya anak-anak kecil dengan wajah menggemaskan dan suara manja.

Melihat antusias anak-anak, membuat kami semakin bersemangat dan tidak ingin mengecewakan mereka. Gerak tangan kami pun semakin cepat untuk merapikan buku-buku ini sampai akhirnya siap mereka baca.

“Adik-adik ini sudah rapih, siapa yang mau baca sama mewarnai?” Ujar firman dengan nada semangat kepada anak-anak kecil yang sudah tidak sabar menunggu. Saya pun merasa senang melihat antusias anak-anak kecil yang semangat sekali untuk membaca dan mewarnai ditempat taman bacan yang didirikan Firman.

Wajah lucu yang menggemaskan pun semakin terpampang diwajah anak-anak kecil yang sedang membaca dan mewarnai. Sesekali saya pun berinteraksi dengan anak-anak yang sedang mewarnai.

“halo dik, sedang warnai apa?” tanyaku dengan suara lembut. Anak-anak kecil pun menjawab dengan kompak namun tak seragam, ada yang jawab kelinci, gunung, sekolahan, kucing dan lain-lain.

Selesainya adik-adik mewarnai dan membaca, ternyata Firman memberikan hadiah seperti tempat pensil, Pensil warna dan buku tulis.

“Ayo siapa yang mau hadiah kumpul?”Kata Firman. Mendengar ingin diberi hadiah, adik-adik kecil yang sehabis mewarnai dan membaca langsung mengerumuni Firman dan teman-temannya untuk mengambil hadiah yang diberikan. Saya pun melihat betapa senangnya raut wajah anak-anak kecil yang mendapatkan hadiah.

Melihat anak-anak kecil mendapatkan hadiah saya pun turut ikut dalam suasana bahagia. Dalam hati saya berkata,”Ternyata ini indahnya berbuat baik.

Selesai memberi hadiah kepada anak-anak, saya pun mengajak Firman duduk bersebelahan untuk berbincang menanyakan kegiatan taman baca yang didirikannya.

Sudah Berapa Lama bang Firman mendirikan taman bacaan Ini?” Tanya saya.

“kurang lebih sudah 3 bulanan,” Jawab Friman dengan wajah yang masih lelah sehabis membimbing anak-anak kecil membaca dan mewarnai.

Mendirikan taman bacaan mulai dari sekedar kumpul-kumpul

Firman yang saat ini duduk dibangku kuliah semester 5, ternyata mendirikan taman bacaan berawal dari kumpul-kumpul dengan teman-teman mahasiswa, bahasa gaulnya sekarang  habis pulang kuliah “nongki dulu lah”!.

“Awalnya kumpul-kumpul dan kebetulan ada teman yang memberikan masukan untuk coba buka taman baca,”Tegasnya Firman.

Firman juga menambahkan, Selain Membaca juga ada kegiatan mewarnai, memasang puzzle, kuesioner dan Jika ada hari-hari nasional seperti Guru atau pun pahlawan akan diadakan lomba.

Kendala dan kesulitan mendirikan Taman Bacaan

Dalam mendirikan taman bacaan, Firman pun menerangkan kendala yang saat ini masih dialami adalah tenaga pengajar.

“Walaupun kurang tenaga pengajar, kami masih tetap bersemangat untuk untuk terus mendirikan taman bacaan,” Ujarnya Fiman.

Apa Harapan Kedepan?

Sebelum menyudahi obrolan dengan Firman, saya pun bertanya apa harapan kedepan untuk taman bacaan yang sudah didirikan.

Firman pun langsung menarik nafas dan sambil menatap atap-atap langit. Raut wajahnya seolah penuh dengan angan-angan.

“Harapan saya semoga taman bacaan yang saya dirikan di Taman Bambu, Cipayung, Jakarta Timur semakin ramai masyarkat yang datang untuk membaca. Atau pun ada teman-teman yang ingin ikut membantu dalam tenaga pengajar, mendonasikan buku, dan alat tulis,” Jelasnya Firman.

Terakhir bang, Apa rasanya bisa mendirikan Taman bacaan?” Tanya Saya.

“Rasanya Senang dan bangga untuk diri sendiri.  Apa lagi bisa belajar sambil bermain dengan anak-anak, melihat senyum, tawa dan canda mereka adalah sebuah kebahagiaan yang hakiki,”Pungkasnya Firman.

Kurang lebih 2 jam sudah kami bertemu dan berbincang, rasanya bagi saya sangat menyenangkan bisa melihat langsung dan tau apa itu taman bacaan. Waktu sudah beranjak sore, senja pula yang memisahkan kita dan saya lekas pamit dan berterima kasih kepada Firman.

Sebelum saya pergi meninggalkan punggung, saya pun berpesan kepada bang Firman sambil bersalaman, Sukses untuk Kedepannya dan semangat!.

Continue Reading

Cover Story

Misi Mulia Riza Marlon, Kenalkan Alam Indonesia Kepada Dunia

Published

on

Misi Mulia Riza Marlon, Kenalkan Alam Indonesia Kepada Dunia

Finroll.com — Apa yang Anda pikirkan jika mendengar kata Indonesia? Tentu jawabannya bisa bermacam, ada yang bilang eksotisme pariwisata lengkap beserta lanskap alamnya, ada yang menyebut kayanya kebudayaan nusantara, atau mungkin keramahan para penduduknya?

Semua ini sah-sah saja, karena Indonesia memang se-kaya itu. Begitu juga dengan anugerah yang Tuhan berikan pada alam di Indonesia, dalam hal ini spesies binatang yang amat beragam.

Berbicara soal keanakeragaman hayati, membuat saya terpikir pada seorang sosok lelaki yang mendedikasikan separuh hidupnya keluar masuk hutan Indonesia, untuk menggali dan menunjukan bahwa alam dan hewan di Indonesia sangat lah berharga untuk kita ketahui. Sosok itu adalah Riza Marlon, sang fotografer alam liar senior Indonesia.

Tanpa pikir panjang, saya pun mengontaknya dan membuat janji dengan beliau. Maklum, di tengah kesibukan mengabadikan eksistensi spesies hewan asli Indonesia lewat lensa kameranya, saya harus mengatur waktu dengannya agar bisa berbincang santai sembari menyeruput teh hangat.

Dua minggu berlalu, akhirnya pagi ini saya bisa bertemu dengan Riza Marlon di kediamannya, di kawasan Cimanggu Perikanan, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor. Momen yang saya tidak ingin sia-sia kan untuk bertemu empat mata dengannya.

Ketika masuk, saya disambut oleh istri beliau Wita Marlon, atau yang akrab disapa mba Wita. “Silahkan masuk mas,” ujarnya sambil membuka pintu gerbang rumah dengan senyuman. Rumahnya begitu asri, rindang dahan pepohonan meneduhkan saya di cuaca Bogor yang agak panas pagi itu. Tak berapa lama, Riza pun keluar dan langsung menyalami saya.

“Halo mas, apa kabar?” ucapnya sambil tersenyum. Kesan pertama bertemu dengan Riza, ternyata ia adalah orang yang sederhana dan ramah, saya sangat takjub dibuatnya meski perawakannya terlihat sangar hehehe.

Obrolan kami pun dimulai di beranda rumahnya yang berbentuk bale sederhana yang bermaterial kayu-kayuan. Suasananya adem sekali, saya serasa ada di rumah.

Misi Mulia Riza Marlon, Kenalkan Alam Indonesia Kepada Dunia

Sejumlah bingkai foto hasil karyanya yang terpajang di dinding, Foto: Finroll.com/Ihsan Maulana

Sedikit berbincang, Riza yang akrab disapa Om Caca ini mempersilahkan saya masuk kedalam rumah. Kami duduk berhadapan, dan benar saja di sekeliling dinding rumahnya terpajang beberapa foto hasil jepretannya di alam liar. Pikiran saya pun terbang, menelisik jauh kedalam tiap foto yang ada di bingkai itu, kenapa seorang Riza Marlon begitu antusiasnya keluar masuk hutan Indonesia? Apa tujuannya mengabadikan eksistensi hewan-hewan liar yang ada di Indonesia?

Seakan mendengar pertanyaan yang ada di hati saya, Riza pun mulai mengisahkan perjalanan hidupnya.

“Disini saya ingin memperkenalkan satwa Indonesia dengan fotografi. Supaya awalnya masyarakat kenal dulu, kemudian sayang dan akhirnya peduli,” ungkapnya. Bagi Riza, inilah esensi dari profesi yang ia jalani selama 25 tahun lebih, yang saat ini sudah dituangkannya dalam tiga buku yakni “Living Treasury of Indonesia”, “107+ Ular Indonesia”, dan “Wallace’s Living Legacy”

Misi Mulia Riza Marlon, Kenalkan Alam Indonesia Kepada Dunia

Buku-buku karya Rizal Marlon, Foto: Finroll.com/Ihsan Maulana

Apa yang Riza lakukan ini bukan tanpa alasan, baginya fotografi dan dunia hewan adalah dua unsur utama hidupnya. Selain dengan minatnya di bidang travelling.

“Aahh awalnya, dulu sekali saya ini adalah anak kecil yang suka lihat buku bergambar binatang. Seperti hewan dari Afrika, Australia dan semacamnya. Hal itu berlanjut sampai saya SMP tahun 1975-an, nah pas SMA saya sudah mulai megang kamera dan suka fotografi,” imbuh bapak dua anak ini.

Romansanya pada dunia hewan terus bersemi hingga bangku kuliah. Ia pun masuk Universitas Nasional dan mengambil jurusan biologi. Pada masa ini, Riza tumbuh menjadi pemuda yang makin haus untuk dekat dengan alam, dan binatang. Ia berkisah, tiap ada praktek mata kuliah, dirinya rutin mengunjungi kebun binatang dan Taman Nasional/Cagar Alam yang ada di Jawa Barat.

Berbekal kamera pinjaman, Riza pun mulai memotret satu demi satu satwa liar yang ia temui. Tanpa rasa malu, ia terus mengukir namanya di masa depan, yang akhirnya dikenal menjadi seorang fotografer hewan liar Indonesia.

Menjadi Pionir Fotografer Alam Liar Indonesia

Setelah bertahun-tahun memfoto satwa liar, Riza pun mulai berpikir kenapa belum ada buku yang khusus membahas keanekaragaman satwa Indonesia. Akhirnya setelah lulus di tahun 1990-an, ia memutuskan untuk menjadi seorang wildlife photographer.

Perjalanan karirnya pun dimulai. Keluar masuk hutan di Sulawesi, Sumatera, Jawa dan Kalimantan pun ia jalani. Meski pada awalnya ia masih menggunakan dana pribadi.

“Setelah beberapa lama mulai ada LSM luar negeri yang berbasis di Indonesia, yang membutuhkan foto stok hewan di lapangan, terkait dengan proyek yang mereka kerjakan. Nah dari situ saya mulai dapat uang dan terus bekerja di bidan ini,” tambahnya.

Riza menceritakan, pada awal karirnya sebagai wildlife photographer di tahun 90-an, ia masih menggunakan kamera analog. Tentu, segala sesuatunya jauh berbeda dengan jaman sekarang yang serba digital.

“Oh ya (ada keterbatasan), karena analog dulu diminati pasar ya. Karena saya hidup dari foto, makanya saya sewa menyewa kamera hingga keluar negeri. Dulu yang dituntut saya kerja dengan ISO yang rendah. Kalau bisa 50 artinya film yang tidak terlalu peka terhadap cahaya, dan ISO 100,” pungkasnya.

“Itu masalah sebenarnya, motret di hutan Indonesia dengan ISO rendah karena hutan yang gelap kan karena umumnya hutan hujan. Antisipasinya ya tunggu binatangnya diem atau tunggu cuaca cerah,” kenangnya sambil tertawa.

Setelah 27 tahun berkarir sebagai fotografer alam liar Indonesia, Riza mengaku suka duka menjalani pekerjaan tersebut sudah tidak terhitung karena saking banyaknya. Mulai dari disergap lintah, akses lokasi yang sangat sulit, hingga uniknya kebudayaan di daerah yang ia jumpai ketika hendak memotret.

Ia juga bersyukur, selama puluhan tahun keluar masuk hutan ia tidak pernah menemui atau mengalami keadaan gawat yang sampai mengancam keselamatan nyawanya.

“Saya menerapkan bekerja secara safety ya, tidak pernah sendirian masuk hutan. Pasti ada teman, ada porter, ada orang lokal untuk memandu. Jika itu kawasan konservasi pasti saya buat surat izin dulu, atau jika bukan kawasan konservasi saya izin kepada kepala desa, atau kepala suku disana. Jadi jarang saya mengalami keadaan yang membahayakan,” tuturnya.

Merasakan Langsung Perubahan Habitat Hewan di Indonesia

Selama puluhan tahun menjalani pekerjaan wildlife photographer, Riza mengaku merasakan sendiri bagaimana hancurnya habitat satwa liar di Indonesia.

“Berjalanannya waktu dari tahun 80-an ketika saya masih penelitian (mahasiswa) hingga menjalani profesi ini, habitat satwa itu banyak yang hancur. Binatang juga banyak diburu, jadi mereka (hewan) saat ini sangat ketakutan dengan keberadaan kita,” katanya.

“Jadi sebenarnya sekarang saya mau cari hewan untuk di foto di hutan lebih susah dibanding dulu. Meski dulu alat saya lebih sederhana, tapi saya lebih mudah memfoto hewan. Nah sekarang alatnya canggih, kemampuan mumpuni, binatangnya susah ketemu. Kemarin saya ke TN Wasur di Merauke, bawa lensa 500mm susah ketemu binatang. Sementara saya tahun 1995 kesana bawa lensa 300mm saya sudah dapat banyak. Ini terasa banget, meski saya bawa teknologi canggih tapi binatangnya gaada, kita bisa apa?” jawabnya pelan.

Riza Marlon: Kenapa Wildlife Photography di Indonesia Sepi?

Riza mengatakan, salah satu alasan mengapa ia akhirnya berani terjun pada profesinya karena sepinya minat fotografer Indonesia untuk berani turun ke hutan dan menjadi fotografer alam liar.

“Saya menekuni ini karena saya liht gaada orang Indonesia yang mau terjun kesini. “Kenapa” wildlife photography itu di Indonesia sepi, dan kering. Karena itu duitnya ngga instan, perputaran bisnisnya engga cepet. Tapi kan harus ada orang Indonesia yang ngerjain ini, karena selama ini kan yang masuk itu asalnya dari orang asing. Bikin buku dan film, kita beli mahal pula,” paparnya.

Baginya, bekerja sebagai wildlife photography bukan hanya soal tuntutan pekerjaan, namun harus didasari rasa suka kepada binatang dan passion. Hal yang menurut saya cukup langka di negeri ini.

Meski demikian, Riza menyebutkan saat ini sudah mulai bermunculan komunitas-komunitas fotografer alam liar walaupun basisnya masih reginonal di berbagai daerah.

Membuat Buku Satwa Liar di Indonesia

Dengan segala kegelisahannya, Riza akhirnya memilih buku sebagai bentuk tanggung jawab sosialnya, untuk mengenalkan satwa liar di Indonesia. Lebih jauh dari itu, ia berharap nantinya masyarakat yang membaca dan melihat buku-bukunya bisa tertular semangat yang sama dengan dirinya untuk terus melestarikan, dan membuka cakrawala pengetahuan alam Indonesia yang amat kaya dan beragam.

“Saya akhirnya lari ke buku, daripada saya ngajak-ngajak jadi wildlife pphotographer tapi akhirnya kecewa karena buang uang yang cukup besar, buang tenaga yan banyak dan pikiran, akhirnya saya bikin buku biar mudah diakses seluruh pihak,” pungkasnya.

“Sebetulnya saya juga menyasarkan kepada anak-anak, seperti saya dulu yang kecilnya suka sama binatang. Jadi dengan sendirinya dia udah terobsesi untuk peduli satwa ketika dewasa,” sambungnya.

Ia meyakini, dengan buku-buku karyanya bisa menembus batas etnik, budaya, suku, daerah, hingga usia untuk memperkenalkan dunia satwa Indonesia. Dengan buku, ia percaya bahwa secercah asa untuk melestarikan hewan di hutan dan habitat aslinya tidak akan sirna.

Bertekad Terus Jadi Wildlife Photographer Hingga Tutup Usia

27 tahun keluar masuk hutan, jutaan foto hewan liar yang diambil, miliaran kenangan yang diingat, buku-buku yang ia susun sebagai warisannya kepada anak cucu, saya pun bertanya apa seorang Riza Marlon telah mencapai puncak hidupnya sebagai wildlife photographer. Mengingat, fisik juga semakin menurun dan jaman sudah berganti. Namun dengan jawaban tegas ia berkata.

“Kalau ditanya sampai kapan, jelas sampai mati lah jadi wildlife photographer. Sampai kaki ini ga kuat, tapi kan otak masih kuat, tangan masih bisa, saya masih bisa menulis dan foto masih banyak. Mumpung fisik semua masih kuat, saya makanya terus ke lapangan dan keliling Indonesia,” tandasnya.

“Kita ini kurang masif memperkenalkan alam Indonesia, kita perlu bantuan semua pihak baik itu media dan masyarakat. Harapannya mereka bisa menekan pemerintah untuk menerbitkan sebuah kebijakan terkait pelestarian alam,” tutupnya.

Obrolan kami pagi itu pun berakhir, sembari menyeruput teh manis hangat yang tadi sudah disediakan mba Wita. Momen yang hangat dan dekat, seakan saya bisa menjalani puluhan tahun hidup Riza berkecimpung di dunia wildlife photography, yang awalnya berawal dari seorang anak kecil biasa yang amat menyukai dunia binatang liar. Obrolan kami berlanjut pada topik-topik yang lebih santai, seperti membahas perkembangan jaman kamera, hingga kesamaan hobi kami pada dunia ikan air tawar.

Momen yang saya tidak akan lupakan, untuk bertemu salah satu sosok hebat di negeri ini, yang masih peduli akan kelestarian alam bumi pertiwi. Terimakasih Om Caca!

Continue Reading
Advertisement

Trending