Connect with us

Cover Story

Pengabdian Abadi Andi Sudirman, Kepala Pos Jaga Bendung Katulampa

Published

on


Pengabdian Abadi Andi Sudirman, Kepala Pos Jaga Bendung Katulampa

Finroll.com – Pagi itu Kota Bogor sangat cerah, matahari keluar dari persembunyiannya setelah dua hari sebelumnya langit abu menurunkan hujan badai dan angin kencang. Embun kembali membasahi ilalang, ayam kembali bersuara lantang. Selamat pagi Bogor.

Saat ini, musim hujan mulai menyapa wilayah DKI Jakarta beserta Jawa Barat. Warga ibu kota harus bersiap pada musuh lamanya, banjir.

Salah satu sungai besar yang membelah Jakarta adalah Ciliwung. Nun jauh di hulu, ada sebuah infrastruktur sistem peringatan dini banjir yang dibuat oleh pemerintah kolonial, Bendung Katulampa.

Dibalik semua hingar bingar berita banjir Jakarta, ada satu sosok inspiratif di Bendung tua itu. Namanya mungkin akan ramai kita dengar, atau wajahnya akan mengisi layar kaca jika ketinggian air disana sudah siaga 1. Dia adalah sang kepala pos jaga Bendung Katulampa, Andi Sudirman.

Kebetulan pagi ini langit Bogor tidak menurunkan rintik hujan. Saya segera bergegas menyalakan sepeda motor dan menuju lokasi beliau di pos jaga.

Sekitar 30 menit saya menyusuri Jalan Pajajaran lalu Jalan Raya Tajur, hingga sampai ke lokasi.

Pengabdian Abadi Andi Sudirman, Kepala Pos Jaga Bendung Katulampa

Bendung Katulampa, Foto: Finroll.com/Ihsan Maulana

Bendung Katulampa masih gagah, masih menunjukan keperkasaan dan pengabdiannya untuk memberi peringatan ke Jakarta bila air sewaktu-waktu meninggi di hulu. Sembari menunggu pak Andi yang sedang dalam perjalanan, saya bersantai sejenak bersama petugas jaga disana.

Usianya masih muda-muda, mungkin sedikit lebih tua dari saya. Mereka dengan sigap memonitor dan melaporkan ketinggian air dengan radio. Angin sejuk dari pegunungan menusuk merayapi jaket tebal saya. Namun, pemandangan pagi itu sungguh mempesona, antara keperkasaan alam dengan kokohnya Bendung Katulampa. Syahdu sekali.

Sambil menunggu kedatangan pak Andi, saya melihat sekeliling isi dari pos jaga yang sederhana namun kaya cerita itu. Nampak di dinding, terpajang bingkai demi bingkai foto para petugas jaga dengan tokoh besar. Seperti Presiden Jokowi, Walikota Bogor, tamu negara, dan lainnya.

Piagam dan plakat penghargaan juga tidak luput menjadi saksi sejarah betapa berartinya Bendung Katulampa yang dibangun di tahun 1911 itu.

Tak lama berselang, ada sesosok lelaki paruh baya yang menyapa di pintu masuk, “Assalamualaikum” serunya, ternyata itu pak Andi. Ia langsung melempar senyuman lebarnya ke saya, sambil mengulurkan jabat tangan.

Kami duduk bersebelahan di sofa tua, sambil berbincang singkat menanyakan kabar dan aktivitas saat ini.

“Alhamdulillah sehat,” jawabnya sambil tersenyum. “Sekarang juga sudah masuk musim hujan, kami sudah koordinasi dengan BMKG dan BPBD untuk siaga,” lanjutnya seraya menegaskan kesiapan tim dan dirinya.

Saya pun melontarkan pertanyaan yang mungkin tidak semua wartawan tanyakan ke dia di saat musim hujan saat ini.

“Sudah berapa lama pak jaga disini?” ujar saya.

Andi langsung mendongakkan kepalanya, memori beliau mengalir kembali ke tahun 80-an, raut wajahnya berubah, seakan menyelami kembali masa-masa remajanya yang ia abdikan bagi kepentingan banyak orang. Ia pun memulai kisahnya ketika pertama kali bekerja sebagai petugas jaga Bendung Katulampa.

“Saya pertama kerja disini pada tanggal 1 Oktober 1987. Pas hari Kesaktian Pancasila, SK saya turun pas hari itu. Jadi sudah 31 tahun lah sampai sekarang, masih diberikan kepercayaan di lapangan,” papar bapak beranak tiga asal Sukabumi ini.

Ia kembali menjelaskan, Andi Sudirman adalah seseorang yang tidak “terlalu suka” kerja kantoran. Andi merasa kerja di lapangan adalah salah satu bentuk pengabdian tanpa batas kepada orang banyak, alam, dan hal lainnya yang membuatnya tidak pernah mengeluh memantau air.

“Memang ada tawaran kerja di kantoran, jadi staff dan lainnya tapi saya lebih suka di lapangan. Karena tidak mengenal waktu jika mau koordinasi dengan TIM SAR, relawan, BPBD, Ormas dan lainnya. Itulah indahnya berbagai, itu indahnya mengabdi memberikan pelayanan informasi ke masyarakat,” tambahnya.

Ingin Jadi Marinir TNI AL

Siapa sangka, pria berusia 51 tahun ini ternyata dulunya ingin menjadi seorang prajurit Marinir, TNI AL. Namun, suratan takdir berkata lain karena ia tidak lolos dalam seleksi. Meski begitu, kecintaannya pada alam terutama air tidak pernah surut.

“Saya dari SD sampai SMA memang hobi olaharaga, seperti voli dan sepakbola. Waktu itu ingin jadi Marinir TNI AL tapi sayangnya setelah daftar tidak diterima. Ini kan marinir dan kerjaan sekarang tidak jauh dari air lah, jadi saya pas dapat lowongan dari Dinas SDA Jawa Barat terkait untuk petugas jaga bendung langsung daftar,” jelasnya.

Ia mengenang, saat pertama kerja di tahun 1987 dirinya hanya digaji Rp27 ribu. Meski tidak besar, Andi nyatanya menemukan dunia yang selama ini ia cari yaitu kerja di lapangan.

“Dulu awal-awal kerja saya dapat bimbingan dari senior, bagaimana jalan kaki menyusuri sungai, irigasi, memonitior banjir, memonitor bencana dan lainnya,” imbuhnya sambil tersenyum puas.

Kepuasan Batin Andi Sudirman di Masa Senja Pengabdiannya

Obrolan kami makin hangat. Tak terasa menit demi menit berlalu menyusuri kehidupannya yang sekokoh Bendung Katulampa. Hingga, ia berkata…

“Menjelang 30 tahun pengabdian saya, ada kepuasan tersendiri saya bekerja disini. Meski saya sudah tua, sudah mau pensiun tapi saya tidak mau mundur. Tetap, untuk masyarakat memberikan pelayanan,” sambungnya dengan nada semangat.

Mengingat usianya yang sudah senja, saya pun bertanya apa tidak ada tentangan dari keluarga karena fisik juga makin menurun. Seorang Andi Sudirman nampaknya harus berganti, namun ia menyatakan kesungguhannya menjalani pekerjaan. Andi lantas menjelaskan salah satu pengorbanannya demi masyarakat, diiringi matanya yang mulai berkaca-kaca.

Pengabdian Abadi Andi Sudirman, Kepala Pos Jaga Bendung Katulampa

Foto: Finroll.com/Ihsan Maulana

“Untuk keluarga, alhamdulillah pekerjaan ini berkah. Meski pekerjaan ini tantangan utamanya keluarga ya karena kan tugas di lapangan. Alhamdulillah keluarga mendukung, meski saya harus siap kerja 24 jam untuk kepentingan masyarakat,” jawabnya tegas.

“Dari situ mereka (keluarga) menjadi paham. Inilah sosok bapak yang harus mengayomi masyarakat, bekerja untuk masyarakat jam berapa pun itu. Anak-anak saya sudah memahami, jadi apapun itu kami selalu siap, selalu siaga untuk memberikan informasi ke warga dari Ciliwung,” lanjutnya lagi.

Dengan nada agak bergetar, ia kembali bercerita tentang pertanyaan anak-anaknya sewaktu kecil dulu, karena bapaknya jarang ada di rumah. Semata, untuk bekerja dan mengadi ke masyarakat kapanpun, jam berapa pun.

“Saya punya motto, PENGABDIAN TANPA BATAS. Dimana pun itu, sesuai dengan kehendak hati, dengan memegang amanah bahwa kita abdi masyarakat, dan kita hadir untuk menjaga alam,” pungkasnya.

Pengalaman Tak Terlupakan Andi Sudirman Selama Menjaga Katulampa

Pengabdian Abadi Andi Sudirman, Kepala Pos Jaga Bendung Katulampa

Andi Sudirman bersama timnya, Foto: Finroll.com/Ihsan Maulana

Selama bertugas 31 tahun di pos Bendung Katulampa, Andi mengaku salah satu pengalaman yang ia tidak lupakan adalah peristiwa banjir besar pada tahun 2007 silam. Ingatannya kembali menerawang ketika pada saat kejadian banjir besar itu, ia dan tim sangat kaget.

“Ketika itu jelang sholat magrib, air tiba-tiba datang. Kami monitor hujan deras di kawasan puncak malam itu diguyur hujan deras seharian itu kejadian 3 Februari 2007. Ketinggian air di Katumlapa saat itu dua kali lipat diatas batas normal,” ungkapnya.

Setelah Pensiun, Apa yang Akan Bapak Lakukan?

Sebelum menutup obrolan santai pagi itu, saya pun bertanya jikalau sudah pensiun nanti apakah Andi Sudirman akan tetap disini? Atau ia ingin menghabiskan hari dengan kegiatan lain?

“Kalau saya tidak akan berhenti ya. Saya akan tetap memberikan pelayanan ke masyarakat, ke sungai Ciliwung dan sekitarnya. Pengabdian tidak mengenal batas, hingga akhir hayat bisa memberikan yang terbaik bagi siapapun,” tutupnya kepada saya.

Pengabdian Abadi Andi Sudirman, Kepala Pos Jaga Bendung Katulampa

Andi Sudirman dan radionya, Foto: Finroll.com/Ihsan Maulana

Hampir satu jam kami berbincang, membahas beragam hal tentang Bendung Katulampa, banjir, dan sungai Ciliwung. Waktu sudah beranjak makin siang dan saya pun pamit.

Di ujung daun pintu, beliau lagi-lagi berpesan agar selalu cintai dan jaga lingkungan dimana pun kita berada. Sambil bersalaman seraya mengucap salam, kami bertukar senyum dan pengalaman saya berbicang empat mata dengan Andi Sudirman, selesai.

Baca Lainnya: Kementerian PUPR Lakukan Langkah Antisipasi Banjir Pada Musim Hujan 2018-2019

Advertisement

Cover Story

Konservasi Karya Seni Rupa Di Ruang Publik Apresiasi 3 Karya Seni Relief Eks Bandara Kemayoran 

Published

on

Finroll.com — Konservasi Karya Seni Rupa di Ruang Publik adalah kegiatan yang diselenggarakan oleh Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerjasama dengan Pusat Pengelolaan Komplek Kemayoran (PPK Kemayoran) dalam rangka mengimplementasikan UU No. 5 Tahun 2017 Tentang Pemajuan Kebudayaan.

Karya seni ruang publik merupakan sebuah karya yang secara khusus diciptakan pada ranah publik. Karya ini tampil pada ruang-ruang publik untuk memberikan pesan, menambah nilai estetika, edukasi maupun merespon atau bahkan memberikan kritik terhadap berbagai persoalan yang menjadi keresahan publik.

Salah satu karya seni rupa yang diciptakan pada ruang publik adalah karya fenomenal yang berada di kawasan eks Bandar Udara Kemayoran, Jakarta. Kawasan tersebut saat ini berada pada wilayah pengelolaan PPK Kemayoran. Ada tiga buah relief yang terdapat pada dinding ruang tunggu VIP Bandara. Karya ini dibuat oleh Harijadi Sumodidjojo, Sindoesoedarsono Soedjojono, dan Soerono yang kemudian dalam pengerjaannya didukung oleh Seniman Indonesia Muda (SIM).

Relief ini dibuat dengan mengusung tema tentang kekayaan Indonesia atas gagasan Presiden Soekarno pada tahun 1957 untuk menyambut tamu negara kala itu.

Kemudian masing-masing seniman meresponnya dengan cerita yang berbeda. Harijadi Sumodidjojo menggambarkan kekayaan Indonesia dalam rancangan karyanya yang bertema “Flora dan Fauna”. S. Soedjojono menggambarkannya dalam tema “Manusia Indonesia”.

Sedangkan Soerono menceritakan sebuah legenda yang terkenal di tanah Pasundan yaitu “Sangkuriang”. Letak karya Surono berada pada dinding lantai satu ruang tunggu VIP. Sedangkan letak karya Harijadi dan S. Soedjojono saling berhadapan pada dinding lantai dua ruang tunggu VIP eks Bandara Kemayoran.

Karya fenomenal yang berada di Eks Bandara Internasional Kemayoran tersebut hingga kini memang masih kurang dikenal oleh masyarakat, bahwa Kemayoran selain dikenal sebagai tanah asli betawi juga merupakan kawasan yang memiliki nilai sejarah yang tinggi khususnya sejarah penerbangan Indonesia.

Melalui kegiatan apresiasi tiga karya relief eks Bandara Kemayoran ini Kemendikbud bersama PPK Kemayoran berupaya untuk memperkenalkan kepada publik karya seni rupa terlebih terhadap karya yang memiliki nilai sejarah penerbangan Indonesia. Kegiatan ini direncanakan akan dirangkaikan pula dengan kegiatan pendokumentasian, penulisan buku, apresiasi (Pameran), publikasi, dan lomba vlog tentang ketiga relief.

Pelaksanaan kegiatan ini diharapkan dapat mengajak masyarakat untuk turut mengapresiasi, memahami dan memaknai betapa pentingnya menjaga dan melestarikan karya seni dan sejarah penerbangan yang pernah eksis di Kemayoran

Pendokumentasian telah dilaksanakan pada tanggal 19 – 20 Mei 2019.

Sedangkan kegiatan Apresiasi 3 Karya Seni Relief Eks Bandara Kemayoran dilaksanakan pada tanggal 17-21 Juli 2019 dengan mengundang para keluarga seniman pembuat relief, masyarakat secara umum, dan pelajar SMP/SMA sebagai apresiator sekaligus sebagai peserta lomba vlog untuk tingkat pelajar.

Continue Reading

Cover Story

Kisah Kehidupan Ayah Erick dan Boy Thohir, dari Lahir Melarat Hingga Jadi Konglomerat

Published

on

By

Finroll.com – Di balik kesuksesan Erick dan Boy Thohir, ternyata ada sosok pemimpin keluarga Thohir yang berjasa, yakni Mochamad Teddy Thohir. Kisah hidup Teddy Thohir tidaklah mudah, melewati banyak macam rintangan yang menghadang.

Selain Erick dan Boy, Teddy juga memiliki satu orang anak perempuan, Rika Thohir. Serupa dengan anak-anaknya, Teddy juga merupakan seorang pengusaha kondang. Ia merintis kesuksesan sedari nol. Bahkan, di masa kecilnya, kehidupan Teddy jauh dari kemewahan.

Ayah dari Presiden Inter Milan dan Presiden Direktur Adaro Energy ini ternyata lahir di Gunung Sugih, Lampung.

Masa kecil Teddy bisa dibilang melarat. Menurut obituari yang dirilis Republika, tempat tinggal Teddy Thohir saat itu hanyalah rumah bilik yang beralaskan tanah. Ia juga sudah menjadi anak yatim sedari kecil.

Singkat cerita, setelah lulus SMP, dia merantau ke Solo dengan menggunakan kereta demi melanjutkan studinya di SMEA. Modal sekolahnya di Solo didapat lewat bantuan seorang pedagang di Metro. Di Solo pun dia bekerja sambil sekolah, hingga akhirnya bertemu dengan seorang gadis keturunan Tionghoa yang kelak menjadi istrinya, Edna.

Setelah menyelesaikan pendidikannya, pria yang wafat di tahun 2016 ini lantas berkarier di sebuah perusahaan asing yang bergerak di bidang kimia, Union Carbide. Performanya sebagai karyawan cukup baik. Teddy pun dipromosi menjadi salah satu kepala bagian administrasi.

Namun, Teddy memutuskan untuk resign dan bergabung dengan Astra yang kala itu dipimpin oleh William Soeryadjaya. Kariernya di Astra mulai dari bawah, ia mulai dari menjabat sebagai staf hingga berhasil menjadi direktur dan pemegang saham perusahaan tersebut.

Lambat laun, Astra menjadi raksasa otomotif di Tanah Air, dan memiliki beberapa anak perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan.

Setelah sukses di Astra, Teddy pun mendirikan perusahaannya sendiri, yakni PT Trinugraha Thohir (TNT Group). Namun, informasi mengenai kisah Teddy mendirikan TNT Group sangatlah minim.

Yang jelas, perusahaan ini memiliki anak perusahaan yang bergerak di bidang sumber daya alam, properti, otomotif, media, hingga restoran. Beberapa di antaranya adalah PT Adaro Energy, PT Surya Essa Perkasa, PT Wahanaartha Harsaka, Restoran Hanamasa, Pronto, dan Yakun Kaya Toast.

Di sektor properti, TNT dikabarkan memiliki Taman Laguna, Cibubur Residence, Permata Kranggan, Taman Arcadia Mediterania, Permata Arcadia Cimanggis, dan Hotel Amaris Bogor. Sementara itu di bidang media, ada PT Mahaka Media.

Berkat kesuksesannya di dunia bisnis, Teddy Thohir pun sempat merasakan duduk di jajaran orang terkaya di Indonesia.

Setelah mangkat, titel orang terkaya di dunia tetap disandang oleh salah satu anggota keluarga Thohir, yaitu Garibaldi. Pada tahun 2017, Garibaldi atau yang akrab disapa Boy menduduki posisi ke- 23 sebagai orang terkaya di Indonesia versi Forbes.

Continue Reading

Cover Story

Mengenal Aeurisma Otak Bersama Dr. Joy

Published

on

By

Featured Video Play Icon

Aneurisma otak merupakan istilah yang belum banyak dikenal masyarakat awam sebagai pelebaran pembuluh darah otak yang dapat berakibat fatal. Pembuluh darah yang berbentuk benjolan atau menyerupai buah beri akan rentan pecah dan menyebabkan pendarahan otak.

5 dari 100 orang mengalami Aneurisma otak. Gejalanya tekanan darah tinggi hingga gangguan kolesterol darah. Namun jangan khawatir, saat ini penanganan aneurisma sudah bisa dilakukan di  Indonesia

Untuk mengetahui lebih dalam apa itu Aneurisma otak, redaksi finroll mendapat kesempatan untuk melakukan wawancara eksklusif dengan ahlinya. Adalah Dr. Mardjono Tjahjadi, MD. seorang dokter sepesialis bedah otak dan pembuluh darah otak yang saat ini bertugas di Rumah Sakit Mitra Kemayoran, Jakarta Pusat.

Dokter ‘Joy’ sapaan akrabnya, merupakan lulusan dokter umum dari Universitas Atma Jaya Jakarta, kemudian ia melanjutkan pendidikan spesialisasi bedah syaraf di Universitas Padjadjaran Bandung, Universitas Helsinki dan Seoul National University Bundang Hospital Korea Selatan.

Berikut petikan wawacara singkat redaksi Finroll dengan Dr, Joy :

Apa itu Aneurisma otak?

Aneurisma otak adalah sebuah penyakit dimana tumbuh suatu benjolan atau penggelembungan pada dinding pembuluh darah otak. Seiring dengan berjalannya waktu, benjolan Aneurisma ini akan semakin membesar.

Semakin bertambah besarnya ukuran Aneurisma, maka dinding pembuluh darah otak akan semakin tipis dan bisa berimplikasi pada pecahnya benjolan tersebut sehingga mengakibatkan pendarahan otak yang sangat fatal.

Apakah penyebab dan gejala Aneurisma otak?

Hingga saat ini belum diketahui penyebab pasti Aneurisma otak, namun ada beberapa hal yang telah diketahui sebagai faktor resiko, yang pertama Penyakit tekanan darah tinggi, kedua kebiasaan merokok, ketiga gangguan kolesterol darah, keempat Kebiasaan minum-minuman beralkohol, kelima penyakit-penyakit spesifik tertentu seperti, Kolagen yang menyebabkan pelemahan dinding pembuluh darah, kenam riwayat genetics atau riwayat keluarga memiliki aneurisma otak.

Selain keenam faktor tersebut, ada dua factor tambahan resiko meningkat yaitu, usia diatas 40 tahun dan jenis kelamin wanita. Beberapa penelitian menunjukan bahwa jenis kelamin perempuan memiliki angka kejadian aneurisma 1,5 – 1,6 kali lebih tinggi dibanding wanita.

Bagaimana cara mencegah penyakit Aneurisma otak? adakah pola makan atau gaya hidup sehat yang harus di terapkan?

Untuk mencegah terjadinya Aneurisma otak, kita harus mengontrol faktor resiko. Faktor resiko yang paling utama adalah pertama harus Menghentikan kebiasaan merokok, karena merokok secara statistik sudah terbukti sebagai sumber faktor utama Aneurisma otak. kedua kontrol atau kendalikan penyakit tekanan darah tinggi. Ketiga kontrol gangguan  kolesterol anda, anda bisa mengkonsumsikan makanan yang lebih sehat yang rendah lemak dan keempat mengurangi kebiasasan minuman alkohol yang berlebihan.

Berapa banyak orang Indonesia yang terkena Aneurisma otak?

Untuk jumlah kasus Aneurisma di Indonesia secara spesifik masih belum ada angkanya, namun bila merujuk pada angka statistik di luar negeri dan di beberapa negara,  angka kejadian Aneurisma diperkirakan antara 1 sampai 5 dari 100 orang. Namun angka pecahnya Aneurisma otak diperkirakan 1 dari 10.000 orang per tahaun.

Bagaimana cara mengobati pasien Aneurisma otak?

Aneurisma otak bila sudah pecah, harus segera dilakukan tindakan penutupan Aneurisma untuk mencegah jangan sampai Aneurisma pecah kembali, karena bila Aneurisma pecah kembali akan membawa konsekuensi buruk terhadap pasien.

Penanganan Aneurisma ada dua pada prinsipnya, yaitu dengan menggunakan metode kateterisasi dan metode operasi dengan microsurgery.

Metode katerisasi yaitu dengan cara memasukan kateter melalui pembuluh darah paha dan kemudian ada kawat khusus yang digunakan untuk menyumpal kantung Aneurisma.

Sedangkan metode operasi dengan microsirjeri , disitu kita akan menjempit leher aneurisma, sehingga mengakibatkan  aneurisma menjadi terfokus. Kedua terapi masih merupakan pilihan pada penanganan aneurisma, masing-masing memiliki indikasi kelebihan dan kekurangan.

Continue Reading
Advertisement

Trending