Connect with us

Makro Ekonomi

Modal Jadi Ganjalan Pertumbuhan Startup di Indonesia, BKPM Siap Bantu

Published

on


Modal Jadi Ganjalan Pertumbuhan Startup di Indonesia, BKPM Siap Bantu

Finroll.com — Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), menyatakan kesiapannya untuk  memfasilitasi startup companies, dalam memafaatkan pembiayaan  dari dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Salah satunya, dengan menggelar forum yang mempertemukan perusahaan startup (Startup Companies/SuC) dengan sejumlah perusahaan dan modal ventura.

“Kawasan Sains Teknologi atau KST, memiliki peran utama sebagai katalisator pembangunan ekonomi regional, sebagai inkubator unit-unit usaha baru yang berteknologi tinggi, dan sebagai penyedia layanan teknologi di daerah,” ujar Deputi Bidang Perencanaan Penanaman Modal BKPM, Ikmal Lukman dalam keterangan tertulisnya, Rabu (5/12).

Ia menilai, sektor permodalan menjadi salah satu aspek krusial yang banyak disuarakan oleh para pelaku SuC, untuk pengembangan Kawasan Sains dan Teknologi (KST) di Indonesia. Sementara itu pemerintah menargetkan membangun 100 KST di seluruh Indonesia, yang tertuang dalam RPJMN 2015-2019.

Baca Lainnya: Defisit CAD Masih Megganjal, Jokowi Sorot Industrialisasi dan Hilirisasi

Lebih lanjut dirinya menjelaskan dalam proses inkubasi yang dilakukan KST, salah satu tantangan utama yang dihadapi startup ialah pendanaan dan skema bisnis. Untuk mengatasi kendala tadi, BKPM terus berupaya memfasilitasi para perusahaan start-up untuk mendapatkan informasi mengenai best practices, dan bantuan permodalan dari dana CSR, dana ventura, hingga sumber dana lainnya.

Di sisi lain, Direktur BPPT Iwan Sudrajat mengatakan, konsep KST/technopark pada dasarnya melakukan hilirisasi hasil pengembangan teknologi yang ada, menjadi produk-produk komersial.

“Di Indonesia, dana CSR belum banyak dimanfaatkan sebagai alternatif pembiayaan perusahaan strat-up,” papar Iwan.

Presiden Joko Widodo sebenarnya telah menerbitkan regulasi Peraturan Presiden (Perpres) No 106 Tahun 2017, tentang Kawasan Sains dan Teknologi (KST). Perpres ini juga menjadi tindak lanjut dari Nawacita keenam untuk membangun sejumlah KST di berbagai daerah melalui pembangunan sarana dan prasarana teknologi terkini.

Sumber: Antara

Makro Ekonomi

Pertumbuhan Ekonomi RI 2018 Tak Capai Target, Ini Faktornya Menurut Bappenas

Published

on

Pertumbuhan Ekonomi RI 2018 Tak Capai Target, Ini Faktornya Menurut Bappenas

Finroll.com – Kementerian Perencaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) menyebut tidak tercapainya target pertumbuhan ekonomi pada 2018 akibat sektor investasi dan ekspor yang belum maksimal.

“Yang masih jadi hambatan menurut saya adalah kinerja ekspor, tapi ujungnya juga kurangnya investasi. Terutama investasi di bidang yang menciptakan nilai tambah,” ujar Menteri PPN/Bappenas, Bambang Brodjonegoro seusai menghadiri rapat koordinasi di Kemenko Kemaritiman, Rabu (6/2).

Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mencatat jika pertumbuhan ekonomi sepanjang 2018 sebesar 5,17 persen. Meski lebih baik dari 2017 yang sebesar 5,07 persen namun hal ini meleset di bawah target APBN yang ditetapkan 5,4 persen.

Baca Lainnya: Pertumbuhan Ekonomi RI Pada 2018 Capai 5,17 Persen

BPS merinci sumber pertumbuhan ekonomi 2018 berasal dari konsumsi rumah tangga 2,74% dari total keseluruhan. Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi sebesar 2,17%, kemudian konsumsi pemerintah 0,87%, sedangkan kinerja ekspor minus 0,99%.

Pada sektor investasi, pertumbuhannya hanya 6,01%. Ini melambat dibandingkan 2017 yang tumbuh 6,15%. Begitu juga pertumbuhan ekspor yang kurang oke, tercatat hanya sebesar 4,33% dari sebelumnya 9,09%.

Sementara itu Bambang menilai lambatnya laju investasi karena sentimen tahun politik yang membuat investor bersikap hati-hati. Terlebih, dengan adanya pelemahan nilai tukar rupiah juga menahan perkembangan investasi.

“Investasi itu kan termasuk di dalamnya investasi portofolio juga, selain tentu saja sektor riil,” tandasnya.

Sumber: CNN Indonesia

Continue Reading

Makro Ekonomi

Pertumbuhan Ekonomi RI Pada 2018 Capai 5,17 Persen

Published

on

Pertumbuhan Ekonomi RI Pada 2018 Capai 5,17 Persen

Finroll.com – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi RI sepanjang 2018 lalu tumbuh mencapai 5,17 persen.

Total angka pertumbuhan ekonomi tersebut merupakan akumulatif dari empat kuartal waktu di 2018.

Sementara itu Kepala BPS Suhariyanto mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2018 yang sebesar 5,17% lebih rendah dari target 5,4% pada APBN.

“Dengan pertumbuhan ekonomi 5,18% di triwulan IV-2018 maka pertumbuhan ekonomi Indonesia 2018 5,17%,” ujar Suhariyanto dalam konferensi persnya di Kantor Pusat BPS, Jakarta Pusat, Rabu (6/2).

Ia menjelaskan angka pertumbuhan ekonomi Indonesia tersebut dipengaruhi oleh sejumlah hal.

Diantaranya seperti harga komoditas yang mengalami penurunan, dan tren pelemahan ekonomi dunia yang turut berdampak ke Indonesia.

“Perekonomian global di triwulan IV-2018 melambat. Perlambatan yang ini nanti akan terbawa kepada situasi perekonomian 2019,” sambung Suhariyanto.

Baca Lainnya: Lemahnya Pesanan Pabrik AS Picu Harga Minyak Dunia Merosot

Meski demikian dirinya menyatakan bahwa capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia masih mengalami perbaikan, terlepas dari adanya faktor eksternal tadi yang mempengaruhi.

“Di tengah harga komoditas dan ekonomi global yang tidak pasti ini adalah capaian yang menggembirakan,” tuturnya.

Di sisi lain ia menyebut aktivitas ekspor Indonesia sepanjang tahun 2018 turun, sementara impor justru meningkat.

“Nilai ekspor barang Indonesia kurang menggembirakan, terjadi penurunan 4,48% quarter to quarter dan 1,04% year on year. Impor lebih besar dari pada ekspor bahwa selama Oktober, November, Desember kita alami defisit neraca perdagangan,” katanya

Sementara nilai ekspor barang Indonesia turun 1,04% (yoy), sedangkan impor barang  naik 12,10% (yoy).

“Ini PR besar komponen ekspor dan impor,” tandasnya.

Sumber: Detik Finance

Continue Reading

Makro Ekonomi

Sandiaga Uno Yakin Indonesia Jadi Pusat Ekonomi Halal Dunia

Published

on

Sandiaga Uno Yakin Indonesia Jadi Pusat Ekonomi Halal Dunia

Finroll.com – Cawapres nomor urut 02 Sandiaga Uno meyakini Indonesia akan menjadi pusat ekonomi halal dunia.

Hal ini disebutnya karena ekonomi halal memiliki potensi pasar yang besar, terlebih Indonesia adalah negara mayoritas muslim terbesar di dunia.

“Ekonomi Halal ini dahsyat potensinya. Pasarnya mencapai 1,8 miliar populasi muslim di dunia,” ungkap Sandiaga Uno dalam acara ‘Inisiatif Indonesia Menang Pusat Ekonomi Halal Dunia’ di Hutan Kota Sangga Buana, Jakarta, Jumat (1/2).

Dirinya juga menekankan agar jangan sampai Indonesia yang menjadi negara mayoritas muslim, tidak bisa memanfaatkan kesempatan untuk jadi pusat ekonomi halal.

Sementara ia menyebut negara lain yang memiliki populasi muslim lebih sedikit seperti Thailand, Korea Selatan dan Jepang telah menggarap sektor ekonomi halal secara lebih serius.

Sandi menambahkan potensi bisnis di sektor ekonomi halal bisa mencapai Rp3.300 triliun.

Baca Lainnya: Ma’ruf Ingin Indonesia Jadi Penghasil Produk Halal Terbesar

Dalam kesempatan ini, Sandiaga juga berbincang dengan tokoh ekonomi halal dunia asal Indonesia, Prof Irwandi Jaswir dalam membahas pengembangan ekonomi halal.

“Potensi negeri ini dahsyat sekali. Tidak hanya alamnya, sumber daya manusianya juga dahsyat. Kapok lah kita jadi penonton. Kita harus jadi pemain, dan jadi pemenang,” imbuhnya.

Sandi berjanji, jika menang dalam Pilpres 2019 dirinya dan Prabowo Subianto akan menjadikan Indonesia sebagai pusat ekonomi halal dunia.

“Target Indonesia menang dalam lima tahun harus masuk lima besar ekonomi halal dunia. Dan 10 tahun menjadi pusatnya ekonomi halal dunia,” tandasnya.

Sumber: CNN Indonesia

Continue Reading
Advertisement

Trending