Connect with us

Cover Story

Misi Mulia Riza Marlon, Kenalkan Alam Indonesia Kepada Dunia

Published

on


Misi Mulia Riza Marlon, Kenalkan Alam Indonesia Kepada Dunia

Finroll.com — Apa yang Anda pikirkan jika mendengar kata Indonesia? Tentu jawabannya bisa bermacam, ada yang bilang eksotisme pariwisata lengkap beserta lanskap alamnya, ada yang menyebut kayanya kebudayaan nusantara, atau mungkin keramahan para penduduknya?

Semua ini sah-sah saja, karena Indonesia memang se-kaya itu. Begitu juga dengan anugerah yang Tuhan berikan pada alam di Indonesia, dalam hal ini spesies binatang yang amat beragam.

Berbicara soal keanakeragaman hayati, membuat saya terpikir pada seorang sosok lelaki yang mendedikasikan separuh hidupnya keluar masuk hutan Indonesia, untuk menggali dan menunjukan bahwa alam dan hewan di Indonesia sangat lah berharga untuk kita ketahui. Sosok itu adalah Riza Marlon, sang fotografer alam liar senior Indonesia.

Tanpa pikir panjang, saya pun mengontaknya dan membuat janji dengan beliau. Maklum, di tengah kesibukan mengabadikan eksistensi spesies hewan asli Indonesia lewat lensa kameranya, saya harus mengatur waktu dengannya agar bisa berbincang santai sembari menyeruput teh hangat.

Dua minggu berlalu, akhirnya pagi ini saya bisa bertemu dengan Riza Marlon di kediamannya, di kawasan Cimanggu Perikanan, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor. Momen yang saya tidak ingin sia-sia kan untuk bertemu empat mata dengannya.

Ketika masuk, saya disambut oleh istri beliau Wita Marlon, atau yang akrab disapa mba Wita. “Silahkan masuk mas,” ujarnya sambil membuka pintu gerbang rumah dengan senyuman. Rumahnya begitu asri, rindang dahan pepohonan meneduhkan saya di cuaca Bogor yang agak panas pagi itu. Tak berapa lama, Riza pun keluar dan langsung menyalami saya.

“Halo mas, apa kabar?” ucapnya sambil tersenyum. Kesan pertama bertemu dengan Riza, ternyata ia adalah orang yang sederhana dan ramah, saya sangat takjub dibuatnya meski perawakannya terlihat sangar hehehe.

Obrolan kami pun dimulai di beranda rumahnya yang berbentuk bale sederhana yang bermaterial kayu-kayuan. Suasananya adem sekali, saya serasa ada di rumah.

Misi Mulia Riza Marlon, Kenalkan Alam Indonesia Kepada Dunia

Sejumlah bingkai foto hasil karyanya yang terpajang di dinding, Foto: Finroll.com/Ihsan Maulana

Sedikit berbincang, Riza yang akrab disapa Om Caca ini mempersilahkan saya masuk kedalam rumah. Kami duduk berhadapan, dan benar saja di sekeliling dinding rumahnya terpajang beberapa foto hasil jepretannya di alam liar. Pikiran saya pun terbang, menelisik jauh kedalam tiap foto yang ada di bingkai itu, kenapa seorang Riza Marlon begitu antusiasnya keluar masuk hutan Indonesia? Apa tujuannya mengabadikan eksistensi hewan-hewan liar yang ada di Indonesia?

Seakan mendengar pertanyaan yang ada di hati saya, Riza pun mulai mengisahkan perjalanan hidupnya.

“Disini saya ingin memperkenalkan satwa Indonesia dengan fotografi. Supaya awalnya masyarakat kenal dulu, kemudian sayang dan akhirnya peduli,” ungkapnya. Bagi Riza, inilah esensi dari profesi yang ia jalani selama 25 tahun lebih, yang saat ini sudah dituangkannya dalam tiga buku yakni “Living Treasury of Indonesia”, “107+ Ular Indonesia”, dan “Wallace’s Living Legacy”

Misi Mulia Riza Marlon, Kenalkan Alam Indonesia Kepada Dunia

Buku-buku karya Rizal Marlon, Foto: Finroll.com/Ihsan Maulana

Apa yang Riza lakukan ini bukan tanpa alasan, baginya fotografi dan dunia hewan adalah dua unsur utama hidupnya. Selain dengan minatnya di bidang travelling.

“Aahh awalnya, dulu sekali saya ini adalah anak kecil yang suka lihat buku bergambar binatang. Seperti hewan dari Afrika, Australia dan semacamnya. Hal itu berlanjut sampai saya SMP tahun 1975-an, nah pas SMA saya sudah mulai megang kamera dan suka fotografi,” imbuh bapak dua anak ini.

Romansanya pada dunia hewan terus bersemi hingga bangku kuliah. Ia pun masuk Universitas Nasional dan mengambil jurusan biologi. Pada masa ini, Riza tumbuh menjadi pemuda yang makin haus untuk dekat dengan alam, dan binatang. Ia berkisah, tiap ada praktek mata kuliah, dirinya rutin mengunjungi kebun binatang dan Taman Nasional/Cagar Alam yang ada di Jawa Barat.

Berbekal kamera pinjaman, Riza pun mulai memotret satu demi satu satwa liar yang ia temui. Tanpa rasa malu, ia terus mengukir namanya di masa depan, yang akhirnya dikenal menjadi seorang fotografer hewan liar Indonesia.

Menjadi Pionir Fotografer Alam Liar Indonesia

Setelah bertahun-tahun memfoto satwa liar, Riza pun mulai berpikir kenapa belum ada buku yang khusus membahas keanekaragaman satwa Indonesia. Akhirnya setelah lulus di tahun 1990-an, ia memutuskan untuk menjadi seorang wildlife photographer.

Perjalanan karirnya pun dimulai. Keluar masuk hutan di Sulawesi, Sumatera, Jawa dan Kalimantan pun ia jalani. Meski pada awalnya ia masih menggunakan dana pribadi.

“Setelah beberapa lama mulai ada LSM luar negeri yang berbasis di Indonesia, yang membutuhkan foto stok hewan di lapangan, terkait dengan proyek yang mereka kerjakan. Nah dari situ saya mulai dapat uang dan terus bekerja di bidan ini,” tambahnya.

Riza menceritakan, pada awal karirnya sebagai wildlife photographer di tahun 90-an, ia masih menggunakan kamera analog. Tentu, segala sesuatunya jauh berbeda dengan jaman sekarang yang serba digital.

“Oh ya (ada keterbatasan), karena analog dulu diminati pasar ya. Karena saya hidup dari foto, makanya saya sewa menyewa kamera hingga keluar negeri. Dulu yang dituntut saya kerja dengan ISO yang rendah. Kalau bisa 50 artinya film yang tidak terlalu peka terhadap cahaya, dan ISO 100,” pungkasnya.

“Itu masalah sebenarnya, motret di hutan Indonesia dengan ISO rendah karena hutan yang gelap kan karena umumnya hutan hujan. Antisipasinya ya tunggu binatangnya diem atau tunggu cuaca cerah,” kenangnya sambil tertawa.

Setelah 27 tahun berkarir sebagai fotografer alam liar Indonesia, Riza mengaku suka duka menjalani pekerjaan tersebut sudah tidak terhitung karena saking banyaknya. Mulai dari disergap lintah, akses lokasi yang sangat sulit, hingga uniknya kebudayaan di daerah yang ia jumpai ketika hendak memotret.

Ia juga bersyukur, selama puluhan tahun keluar masuk hutan ia tidak pernah menemui atau mengalami keadaan gawat yang sampai mengancam keselamatan nyawanya.

“Saya menerapkan bekerja secara safety ya, tidak pernah sendirian masuk hutan. Pasti ada teman, ada porter, ada orang lokal untuk memandu. Jika itu kawasan konservasi pasti saya buat surat izin dulu, atau jika bukan kawasan konservasi saya izin kepada kepala desa, atau kepala suku disana. Jadi jarang saya mengalami keadaan yang membahayakan,” tuturnya.

Merasakan Langsung Perubahan Habitat Hewan di Indonesia

Selama puluhan tahun menjalani pekerjaan wildlife photographer, Riza mengaku merasakan sendiri bagaimana hancurnya habitat satwa liar di Indonesia.

“Berjalanannya waktu dari tahun 80-an ketika saya masih penelitian (mahasiswa) hingga menjalani profesi ini, habitat satwa itu banyak yang hancur. Binatang juga banyak diburu, jadi mereka (hewan) saat ini sangat ketakutan dengan keberadaan kita,” katanya.

“Jadi sebenarnya sekarang saya mau cari hewan untuk di foto di hutan lebih susah dibanding dulu. Meski dulu alat saya lebih sederhana, tapi saya lebih mudah memfoto hewan. Nah sekarang alatnya canggih, kemampuan mumpuni, binatangnya susah ketemu. Kemarin saya ke TN Wasur di Merauke, bawa lensa 500mm susah ketemu binatang. Sementara saya tahun 1995 kesana bawa lensa 300mm saya sudah dapat banyak. Ini terasa banget, meski saya bawa teknologi canggih tapi binatangnya gaada, kita bisa apa?” jawabnya pelan.

Riza Marlon: Kenapa Wildlife Photography di Indonesia Sepi?

Riza mengatakan, salah satu alasan mengapa ia akhirnya berani terjun pada profesinya karena sepinya minat fotografer Indonesia untuk berani turun ke hutan dan menjadi fotografer alam liar.

“Saya menekuni ini karena saya liht gaada orang Indonesia yang mau terjun kesini. “Kenapa” wildlife photography itu di Indonesia sepi, dan kering. Karena itu duitnya ngga instan, perputaran bisnisnya engga cepet. Tapi kan harus ada orang Indonesia yang ngerjain ini, karena selama ini kan yang masuk itu asalnya dari orang asing. Bikin buku dan film, kita beli mahal pula,” paparnya.

Baginya, bekerja sebagai wildlife photography bukan hanya soal tuntutan pekerjaan, namun harus didasari rasa suka kepada binatang dan passion. Hal yang menurut saya cukup langka di negeri ini.

Meski demikian, Riza menyebutkan saat ini sudah mulai bermunculan komunitas-komunitas fotografer alam liar walaupun basisnya masih reginonal di berbagai daerah.

Membuat Buku Satwa Liar di Indonesia

Dengan segala kegelisahannya, Riza akhirnya memilih buku sebagai bentuk tanggung jawab sosialnya, untuk mengenalkan satwa liar di Indonesia. Lebih jauh dari itu, ia berharap nantinya masyarakat yang membaca dan melihat buku-bukunya bisa tertular semangat yang sama dengan dirinya untuk terus melestarikan, dan membuka cakrawala pengetahuan alam Indonesia yang amat kaya dan beragam.

“Saya akhirnya lari ke buku, daripada saya ngajak-ngajak jadi wildlife pphotographer tapi akhirnya kecewa karena buang uang yang cukup besar, buang tenaga yan banyak dan pikiran, akhirnya saya bikin buku biar mudah diakses seluruh pihak,” pungkasnya.

“Sebetulnya saya juga menyasarkan kepada anak-anak, seperti saya dulu yang kecilnya suka sama binatang. Jadi dengan sendirinya dia udah terobsesi untuk peduli satwa ketika dewasa,” sambungnya.

Ia meyakini, dengan buku-buku karyanya bisa menembus batas etnik, budaya, suku, daerah, hingga usia untuk memperkenalkan dunia satwa Indonesia. Dengan buku, ia percaya bahwa secercah asa untuk melestarikan hewan di hutan dan habitat aslinya tidak akan sirna.

Bertekad Terus Jadi Wildlife Photographer Hingga Tutup Usia

27 tahun keluar masuk hutan, jutaan foto hewan liar yang diambil, miliaran kenangan yang diingat, buku-buku yang ia susun sebagai warisannya kepada anak cucu, saya pun bertanya apa seorang Riza Marlon telah mencapai puncak hidupnya sebagai wildlife photographer. Mengingat, fisik juga semakin menurun dan jaman sudah berganti. Namun dengan jawaban tegas ia berkata.

“Kalau ditanya sampai kapan, jelas sampai mati lah jadi wildlife photographer. Sampai kaki ini ga kuat, tapi kan otak masih kuat, tangan masih bisa, saya masih bisa menulis dan foto masih banyak. Mumpung fisik semua masih kuat, saya makanya terus ke lapangan dan keliling Indonesia,” tandasnya.

“Kita ini kurang masif memperkenalkan alam Indonesia, kita perlu bantuan semua pihak baik itu media dan masyarakat. Harapannya mereka bisa menekan pemerintah untuk menerbitkan sebuah kebijakan terkait pelestarian alam,” tutupnya.

Obrolan kami pagi itu pun berakhir, sembari menyeruput teh manis hangat yang tadi sudah disediakan mba Wita. Momen yang hangat dan dekat, seakan saya bisa menjalani puluhan tahun hidup Riza berkecimpung di dunia wildlife photography, yang awalnya berawal dari seorang anak kecil biasa yang amat menyukai dunia binatang liar. Obrolan kami berlanjut pada topik-topik yang lebih santai, seperti membahas perkembangan jaman kamera, hingga kesamaan hobi kami pada dunia ikan air tawar.

Momen yang saya tidak akan lupakan, untuk bertemu salah satu sosok hebat di negeri ini, yang masih peduli akan kelestarian alam bumi pertiwi. Terimakasih Om Caca!

Advertisement

Cover Story

Konservasi Karya Seni Rupa Di Ruang Publik Apresiasi 3 Karya Seni Relief Eks Bandara Kemayoran 

Published

on

Finroll.com — Konservasi Karya Seni Rupa di Ruang Publik adalah kegiatan yang diselenggarakan oleh Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerjasama dengan Pusat Pengelolaan Komplek Kemayoran (PPK Kemayoran) dalam rangka mengimplementasikan UU No. 5 Tahun 2017 Tentang Pemajuan Kebudayaan.

Karya seni ruang publik merupakan sebuah karya yang secara khusus diciptakan pada ranah publik. Karya ini tampil pada ruang-ruang publik untuk memberikan pesan, menambah nilai estetika, edukasi maupun merespon atau bahkan memberikan kritik terhadap berbagai persoalan yang menjadi keresahan publik.

Salah satu karya seni rupa yang diciptakan pada ruang publik adalah karya fenomenal yang berada di kawasan eks Bandar Udara Kemayoran, Jakarta. Kawasan tersebut saat ini berada pada wilayah pengelolaan PPK Kemayoran. Ada tiga buah relief yang terdapat pada dinding ruang tunggu VIP Bandara. Karya ini dibuat oleh Harijadi Sumodidjojo, Sindoesoedarsono Soedjojono, dan Soerono yang kemudian dalam pengerjaannya didukung oleh Seniman Indonesia Muda (SIM).

Relief ini dibuat dengan mengusung tema tentang kekayaan Indonesia atas gagasan Presiden Soekarno pada tahun 1957 untuk menyambut tamu negara kala itu.

Kemudian masing-masing seniman meresponnya dengan cerita yang berbeda. Harijadi Sumodidjojo menggambarkan kekayaan Indonesia dalam rancangan karyanya yang bertema “Flora dan Fauna”. S. Soedjojono menggambarkannya dalam tema “Manusia Indonesia”.

Sedangkan Soerono menceritakan sebuah legenda yang terkenal di tanah Pasundan yaitu “Sangkuriang”. Letak karya Surono berada pada dinding lantai satu ruang tunggu VIP. Sedangkan letak karya Harijadi dan S. Soedjojono saling berhadapan pada dinding lantai dua ruang tunggu VIP eks Bandara Kemayoran.

Karya fenomenal yang berada di Eks Bandara Internasional Kemayoran tersebut hingga kini memang masih kurang dikenal oleh masyarakat, bahwa Kemayoran selain dikenal sebagai tanah asli betawi juga merupakan kawasan yang memiliki nilai sejarah yang tinggi khususnya sejarah penerbangan Indonesia.

Melalui kegiatan apresiasi tiga karya relief eks Bandara Kemayoran ini Kemendikbud bersama PPK Kemayoran berupaya untuk memperkenalkan kepada publik karya seni rupa terlebih terhadap karya yang memiliki nilai sejarah penerbangan Indonesia. Kegiatan ini direncanakan akan dirangkaikan pula dengan kegiatan pendokumentasian, penulisan buku, apresiasi (Pameran), publikasi, dan lomba vlog tentang ketiga relief.

Pelaksanaan kegiatan ini diharapkan dapat mengajak masyarakat untuk turut mengapresiasi, memahami dan memaknai betapa pentingnya menjaga dan melestarikan karya seni dan sejarah penerbangan yang pernah eksis di Kemayoran

Pendokumentasian telah dilaksanakan pada tanggal 19 – 20 Mei 2019.

Sedangkan kegiatan Apresiasi 3 Karya Seni Relief Eks Bandara Kemayoran dilaksanakan pada tanggal 17-21 Juli 2019 dengan mengundang para keluarga seniman pembuat relief, masyarakat secara umum, dan pelajar SMP/SMA sebagai apresiator sekaligus sebagai peserta lomba vlog untuk tingkat pelajar.

Continue Reading

Cover Story

Kisah Kehidupan Ayah Erick dan Boy Thohir, dari Lahir Melarat Hingga Jadi Konglomerat

Published

on

By

Finroll.com – Di balik kesuksesan Erick dan Boy Thohir, ternyata ada sosok pemimpin keluarga Thohir yang berjasa, yakni Mochamad Teddy Thohir. Kisah hidup Teddy Thohir tidaklah mudah, melewati banyak macam rintangan yang menghadang.

Selain Erick dan Boy, Teddy juga memiliki satu orang anak perempuan, Rika Thohir. Serupa dengan anak-anaknya, Teddy juga merupakan seorang pengusaha kondang. Ia merintis kesuksesan sedari nol. Bahkan, di masa kecilnya, kehidupan Teddy jauh dari kemewahan.

Ayah dari Presiden Inter Milan dan Presiden Direktur Adaro Energy ini ternyata lahir di Gunung Sugih, Lampung.

Masa kecil Teddy bisa dibilang melarat. Menurut obituari yang dirilis Republika, tempat tinggal Teddy Thohir saat itu hanyalah rumah bilik yang beralaskan tanah. Ia juga sudah menjadi anak yatim sedari kecil.

Singkat cerita, setelah lulus SMP, dia merantau ke Solo dengan menggunakan kereta demi melanjutkan studinya di SMEA. Modal sekolahnya di Solo didapat lewat bantuan seorang pedagang di Metro. Di Solo pun dia bekerja sambil sekolah, hingga akhirnya bertemu dengan seorang gadis keturunan Tionghoa yang kelak menjadi istrinya, Edna.

Setelah menyelesaikan pendidikannya, pria yang wafat di tahun 2016 ini lantas berkarier di sebuah perusahaan asing yang bergerak di bidang kimia, Union Carbide. Performanya sebagai karyawan cukup baik. Teddy pun dipromosi menjadi salah satu kepala bagian administrasi.

Namun, Teddy memutuskan untuk resign dan bergabung dengan Astra yang kala itu dipimpin oleh William Soeryadjaya. Kariernya di Astra mulai dari bawah, ia mulai dari menjabat sebagai staf hingga berhasil menjadi direktur dan pemegang saham perusahaan tersebut.

Lambat laun, Astra menjadi raksasa otomotif di Tanah Air, dan memiliki beberapa anak perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan.

Setelah sukses di Astra, Teddy pun mendirikan perusahaannya sendiri, yakni PT Trinugraha Thohir (TNT Group). Namun, informasi mengenai kisah Teddy mendirikan TNT Group sangatlah minim.

Yang jelas, perusahaan ini memiliki anak perusahaan yang bergerak di bidang sumber daya alam, properti, otomotif, media, hingga restoran. Beberapa di antaranya adalah PT Adaro Energy, PT Surya Essa Perkasa, PT Wahanaartha Harsaka, Restoran Hanamasa, Pronto, dan Yakun Kaya Toast.

Di sektor properti, TNT dikabarkan memiliki Taman Laguna, Cibubur Residence, Permata Kranggan, Taman Arcadia Mediterania, Permata Arcadia Cimanggis, dan Hotel Amaris Bogor. Sementara itu di bidang media, ada PT Mahaka Media.

Berkat kesuksesannya di dunia bisnis, Teddy Thohir pun sempat merasakan duduk di jajaran orang terkaya di Indonesia.

Setelah mangkat, titel orang terkaya di dunia tetap disandang oleh salah satu anggota keluarga Thohir, yaitu Garibaldi. Pada tahun 2017, Garibaldi atau yang akrab disapa Boy menduduki posisi ke- 23 sebagai orang terkaya di Indonesia versi Forbes.

Continue Reading

Cover Story

Mengenal Aeurisma Otak Bersama Dr. Joy

Published

on

By

Featured Video Play Icon

Aneurisma otak merupakan istilah yang belum banyak dikenal masyarakat awam sebagai pelebaran pembuluh darah otak yang dapat berakibat fatal. Pembuluh darah yang berbentuk benjolan atau menyerupai buah beri akan rentan pecah dan menyebabkan pendarahan otak.

5 dari 100 orang mengalami Aneurisma otak. Gejalanya tekanan darah tinggi hingga gangguan kolesterol darah. Namun jangan khawatir, saat ini penanganan aneurisma sudah bisa dilakukan di  Indonesia

Untuk mengetahui lebih dalam apa itu Aneurisma otak, redaksi finroll mendapat kesempatan untuk melakukan wawancara eksklusif dengan ahlinya. Adalah Dr. Mardjono Tjahjadi, MD. seorang dokter sepesialis bedah otak dan pembuluh darah otak yang saat ini bertugas di Rumah Sakit Mitra Kemayoran, Jakarta Pusat.

Dokter ‘Joy’ sapaan akrabnya, merupakan lulusan dokter umum dari Universitas Atma Jaya Jakarta, kemudian ia melanjutkan pendidikan spesialisasi bedah syaraf di Universitas Padjadjaran Bandung, Universitas Helsinki dan Seoul National University Bundang Hospital Korea Selatan.

Berikut petikan wawacara singkat redaksi Finroll dengan Dr, Joy :

Apa itu Aneurisma otak?

Aneurisma otak adalah sebuah penyakit dimana tumbuh suatu benjolan atau penggelembungan pada dinding pembuluh darah otak. Seiring dengan berjalannya waktu, benjolan Aneurisma ini akan semakin membesar.

Semakin bertambah besarnya ukuran Aneurisma, maka dinding pembuluh darah otak akan semakin tipis dan bisa berimplikasi pada pecahnya benjolan tersebut sehingga mengakibatkan pendarahan otak yang sangat fatal.

Apakah penyebab dan gejala Aneurisma otak?

Hingga saat ini belum diketahui penyebab pasti Aneurisma otak, namun ada beberapa hal yang telah diketahui sebagai faktor resiko, yang pertama Penyakit tekanan darah tinggi, kedua kebiasaan merokok, ketiga gangguan kolesterol darah, keempat Kebiasaan minum-minuman beralkohol, kelima penyakit-penyakit spesifik tertentu seperti, Kolagen yang menyebabkan pelemahan dinding pembuluh darah, kenam riwayat genetics atau riwayat keluarga memiliki aneurisma otak.

Selain keenam faktor tersebut, ada dua factor tambahan resiko meningkat yaitu, usia diatas 40 tahun dan jenis kelamin wanita. Beberapa penelitian menunjukan bahwa jenis kelamin perempuan memiliki angka kejadian aneurisma 1,5 – 1,6 kali lebih tinggi dibanding wanita.

Bagaimana cara mencegah penyakit Aneurisma otak? adakah pola makan atau gaya hidup sehat yang harus di terapkan?

Untuk mencegah terjadinya Aneurisma otak, kita harus mengontrol faktor resiko. Faktor resiko yang paling utama adalah pertama harus Menghentikan kebiasaan merokok, karena merokok secara statistik sudah terbukti sebagai sumber faktor utama Aneurisma otak. kedua kontrol atau kendalikan penyakit tekanan darah tinggi. Ketiga kontrol gangguan  kolesterol anda, anda bisa mengkonsumsikan makanan yang lebih sehat yang rendah lemak dan keempat mengurangi kebiasasan minuman alkohol yang berlebihan.

Berapa banyak orang Indonesia yang terkena Aneurisma otak?

Untuk jumlah kasus Aneurisma di Indonesia secara spesifik masih belum ada angkanya, namun bila merujuk pada angka statistik di luar negeri dan di beberapa negara,  angka kejadian Aneurisma diperkirakan antara 1 sampai 5 dari 100 orang. Namun angka pecahnya Aneurisma otak diperkirakan 1 dari 10.000 orang per tahaun.

Bagaimana cara mengobati pasien Aneurisma otak?

Aneurisma otak bila sudah pecah, harus segera dilakukan tindakan penutupan Aneurisma untuk mencegah jangan sampai Aneurisma pecah kembali, karena bila Aneurisma pecah kembali akan membawa konsekuensi buruk terhadap pasien.

Penanganan Aneurisma ada dua pada prinsipnya, yaitu dengan menggunakan metode kateterisasi dan metode operasi dengan microsurgery.

Metode katerisasi yaitu dengan cara memasukan kateter melalui pembuluh darah paha dan kemudian ada kawat khusus yang digunakan untuk menyumpal kantung Aneurisma.

Sedangkan metode operasi dengan microsirjeri , disitu kita akan menjempit leher aneurisma, sehingga mengakibatkan  aneurisma menjadi terfokus. Kedua terapi masih merupakan pilihan pada penanganan aneurisma, masing-masing memiliki indikasi kelebihan dan kekurangan.

Continue Reading
Advertisement

Trending