Connect with us

Citizen Journalism

Menjadi Keren Seperti James Bond Tidak Sesulit yang Engkau Kira

Published

on


Tampan, jago berantem, punya skill mumpuni karena pantai dalam segala bidang olahraga, jago berantem, dan memiliki kecerdasan di atas rata-rata, memiliki kekuatan fisik di atas manusia normal. Begitulah gambaran sosok seorang mata-mata paling sohor dan dianggap nomor satu di dunia, James Bond.

Karakter yang selalu digemari banyak wanita dalam setiap aksi film, dan dalam menjalankan pekerjaannya ini, karena selalu melibatkan wanita cantik, dia sempurna, tidak pernah salah dan sangat jago dalam penyamaran.

Bahkan bagi sebagian orang karakter fiksi ini dijadikan sebagai ikon cowok idaman. Tak heran jika banyak orang berfantasi menjadi seperti James Bond – agen 007 yang terkenal. Alasan beragam dari ingin tampil keren sampai ingin menggaet wanita.

Menurut wikipedia, komandan Sir James Bond, KCMG, RNVR, adalah seorang agen rahasia intelejen Inggris (Secret Intelligence Service, disingkat SIS, atau dikenal juga dengan nama MI6, atau biasa juga menggunakan nama samaran Universal Exports).

Ia diciptakan pada Januari 1952 oleh jurnalis Inggris, Ian Fleming ketika ia sedang berlibur di Jamaika. Nama James Bond diambil dari seorang ahli burung asal AS, dan juga seorang pengamat burung dari Karibia.

Ia mungkin mata-mata terbaik yang paling terkenal di seluruh dunia. Baik Anda penggemar buku-buku atau telah menonton semua filmnya, Anda pasti tahu bahwa sang 007 ini adalah seorang pria keren.

Ia mendapat banyak gawai serta cinta, memiliki teman-teman yang berkuasa, serta mengendarai mobil seperti jagoan balap. Meski sebagian besar hidup fiksinya agak tidak masuk akal, Anda bisa meniru gaya dan charisma James Bond dalam kehidupan.

Apa pun latar belakang Anda, menjadi seperti 007 akan membuat hidup Anda lebih mampu menampilkan pesona dan keberaniannya.

1. Tunjukkan pesona Anda.
Bond sangat disukai karena ia penuh pesona. Agar bisa sepertinya, Anda harus berinteraksi dengan orang secara efektif dengan mengetahui apa yang mereka sukai.

Anda harus menunjukkan ketertarikan pada orang lain, mendengarkan dengan teliti, serta mengesankan bahwa Anda memperhatikan mereka, sembari mengawasi bahasa tubuh dan perilaku mereka.

Seorang pendengar yang baik adalah seorang perayu yang hebat, dan perayu yang hebat tentu mempesona.

2. Kenakan pakaian dengan baik.
Bond jarang tampil kusut, karena ia bangga dengan penampilannya. Baik formal maupun kasual, pakaian yang ia kenakan selalu berkualitas baik, rapi, dan sesuai dengan ukuran badannya.

Bila Anda tidak mampu membuat pakaian pas badan untuk diri sendiri, jangan putus asa— cobalah berbagai jenis pakaian dan abaikan sistem pengukurannya— ukuran ini bervariasi dalam setiap merek, jadi cobalah yang terasa serta terlihat pas untuk Anda.

Bila sehelai pakaian terlihat cocok untuk diri Anda, pakaian tersebut akan menimbulkan rasa percaya diri dan nyaman.

Bila pakaian terlalu longgar, ketat, atau terlihat kuno, lupakan saja. Anda juga harus selalu merawat tubuh.

3. Bersikaplah berani.
Sebagai mata-mata, Bond memiliki banyak peluang untuk tampil berani.

Anda mungkin bukan seorang mata-mata sepertinya, tetapi Anda pasti memiliki peluang untuk menunjukkan keberanian serta mengambil risiko dalam kehidupan.

Hidup berbicara tentang keseimbangan risiko dan kewaspadaan. Ketahuilah saat yang tepat untuk mengambil risiko, dan kapan Anda harus bermain aman.

Keluarlah dari zona nyaman sesekali dan cobalah tantangan baru dengan rutin agar Anda bisa mempelajari semua yang ditawarkan oleh kehidupan.

4. Pertahankan pola pikir yang tidak rumit.
Bond tidak pernah rumit. Baik saat bekerja, dalam menjalin hubungan, atau menjalani kehidupan secara umum, ia mencoba menyelesaikan berbagai hal dalam cara yang cukup simpel – tanpa harus menjadi terlalu simpel.

Bila Anda tidak ingin menjalin hubungan jangka panjang, bersikaplah terbuka tentang pikiran Anda dari awalnya — jangan biarkan orang lain tergantung karena hubungan Anda hanya akan menjadi semakin rumit bila Anda tidak jelas.

Mengenai kehidupan kerja, hindari politik kantor sebisa mungkin karena hal ini hanya akan menghasilkan kekacauan serta mengalihkan perhatian Anda dari apa yang benar-benar penting.

5. Pergilah liburan ke tempat-tempat indah.
Anda mungkin tidak bisa terbang ke Monte Carlo atau tinggal di Rio pada masa karnaval, tetapi Anda bisa mengunjungi tempat-tempat indah terdekat.

Pilihlah lokasi-lokasi yang alamnya cantik, seperti pantai, hutan-hutan lokal, atau pegunungan; luangkan waktu untuk rileks di alam dengan orang-orang yang Anda cintai.

Baik Anda berkemah atau tinggal di penginapan bintang lima, Anda bisa memanfaatkan keindahan dunia dengan menghargainya dan menjadikannya sebagai latar belakang aktivitas liburan, sama seperti yang biasanya dilakukan Bond.

6. Pelajari bela diri.
Bela diri adalah seni meninggalkan pertarungan sebisa mungkin serta hanya berkelahi bila terpaksa.

Saat sebuah situasi bahaya benar-benar terjadi, kemampuan mempertahankan diri yang baik akan memampukan Anda untuk melumpuhkan lawan, bukan hanya melalui kekuatan, tetapi juga dengan menggunakan antisipasi serta fokus.

Seni bela diri sangat disarankan karena Anda akan mempelajari kemampuan membaca orang, tetap waspada, menghindari pertarungan, serta berkelahi dengan efektif bila diperlukan.

Seni bela diri juga membantu meningkatkan kepercayaan diri serta mempertahankan kelenturan tubuh dan pikiran.

7. Perlakukan wanita dengan rasa hormat.
Bond tahu bahwa wanita adalah pasangan seimbangnya dan mereka mampu mempertahankan diri dalam segala sesuatu.

Perlakukan wanita dengan hormat ke mana pun Anda pergi; mantra ini berguna baik untuk mengembangkan hubungan yang solid dan loyal, tetapi juga untuk mempertahankan keberhargaan diri yang sehat.

Seorang pria dengan rasa keberhargaan diri yang sehat tidak perlu wanita untuk membuatnya merasa lebih baik.

8. Ikuti perkembangan zaman.
Bond sering memperbarui dirinya dengan mengikuti semua perkembangan terbaru. Ia tidak merasa terancam dengan adanya perubahan, tetapi ia menyambutnya secara terbuka.

Dunia bukanlah tempat yang merepotkan bila Anda siap menyambut perubahan-perubahan dalam kehidupan serta mencoba melakukan hal-hal baru untuk diri sendiri.

9. Latih selera yang baik dalam hal makanan dan minuman.
Bond menyukai makanan berkualitas — makanan cepat saji bukanlah gaya hidupnya. Makanan-makanan sehat serta bebas olahan merupakan sumber energi, daya otak, serta awet muda yang baik.

Dalam hal minuman, jadilah pencinta alkohol, bukan pecandu. Bond suka minum alkohol sesekali (terutama Martini Vesper ala James Bond).

Namun, ia tidak pernah mengonsumsinya secara berlebihan. Tetap waspada serta sehat mengharuskannya untuk membatasi konsumsi alkohol.

10. Siapkan rencana cadangan.
Bond selalu memiliki rencana cadangan, baik saat menjalankan misi mata-matanya, berkonfrontasi dengan atasan, atau ketika berkencan.

Anda tidak perlu menyuarakan intensi perubahan Anda––Bond tidak melakukannya. Ia hanya melakukan apa yang diperlukan untuk keluar dari situasi yang buruk dan mengubahnya agar kembali menjadi situasi yang baik.

Selain itu, gunakan akal sehat dalam semua hal yang Anda lakukan, sama seperti Bond.

11. Tingkatkan kekuatan memori Anda.
Memori yang baik membuat dunia terasa sebagai sesuatu yang simpel, seperti yang telah dibuktikan oleh Bond.

Memori yang tajam memampukan Anda untuk mengingat semua detail kecil tentang orang, percakapan, serta pengalaman yang Anda lalui secara intim. Pengetahuan adalah kekuatan dan memori merupakan cara untuk mempertahankan pengetahuan dan kekuatan tersebut.

Memori yang baik adalah suatu hal yang dihargai Bond, karena dengan begini, ia mampu berbicara dalam berbagai bahasa, menandai orang-orang yang ia temui lagi dalam kehidupannya, serta mampu memecahkan teka-teki yang sulit.

12. Hargai apa yang penting dalam kehidupan.
Walau Bond kelihatannya ceroboh dan semau sendiri dalam cinta, ia sesungguhnya mampu mengembangkan kasih (seperti yang dibuktikan oleh Vesper Lynd).

Hargai orang-orang yang Anda sayang dan pedulikan. Sadarilah bahwa orang-orang ini adalah mereka yang membuat kehidupan menjadi seperti adanya — semua mobil yang cepat, gawai keren, serta gaya hidup modern tidak bisa menggantikan cinta dan persahabatan dari mereka yang mempercayai dan akan selalu ada untuk Anda.

Advertisement

Citizen Journalism

Awal Mula #10YearChallenge Hingga Viral di Indonesia

Published

on

By

Awal tahun 2019 ini dunia media sosial di tanah air dibuka dengan konten unik bertajuk #10yearchallenge. Hingga kini belum diketahui siapa yang memulai aksi, tantangan atau isi konten yang saat ini sedang ramai di media sosial baik di Instagram, Facebook hingga Twitter. Dalam aksi tantangan ini, semua pengguna media sosial termasuk juga para pesohor mengunggah foto-fotonya dalam rentang waktu 10 tahun kebelakang. Nah, foto lama tersebut kemudian disandingkan dengan foto terbaru di tahun terbaru.

Awal kemunculan tantangan unik ini dimana seseorang berbagi potret mereka dalam rentang 10 tahun. Tantangan memiliki beragam julukan mulai dari #HowHardDidAgingHitYou, 2009vs2019, GlowUpChallenge dan lain sebagainya. Kadang kala juga berisi perbandingan 2 foto parodi foto diri dengan foto idolanya sehingga kerap disebut meme.

Dipercaya tantangan #HowHardDidAgingHitYou ini pertama kali dimulai di media sosial Facebook oleh seorang penggunanya yang bernama Damon Lane. Damon yang adalah seorang chief meterologist di KOCO News 5 Oklahoma mengunggah foto dirinya terbarunya pada hari Jumat, 11 Januari 2019. Sejatinya, ia hanya akan membandingkan foto profil pertamanya di Facebook dengan foto terbaru dirinya saat ini. Kemudian terjadi orang-orang mulai mengikuti menguggah foto drinya sekarang (tahun 2019) dengan foto dari 10 tahun lalu (dalam hal ini tahun 2009). Kemudian tantangan ini berkembang hingga memiliki beberapa julukan seperti 2009vs2019, How Did Age Hit You atau 10 year challenge.

Tak berapa lama, para pengguna media sosial mulai mengunggah postingan tantangan ini dan menjadi populer. Bertambahnya popularitas tantangan ini lalu memunculkan banyak meme, para pengguna menyelipkan tokoh idola sebagai pembanding fotonya yang bertujuan menghibur pengikutnya. Mereka menyematkan foto binatang kesayangan, bahkan karakter film dalam membuat konten tantangannya.

Setiap tahun selalu ada tantangan-tantangan model ini yang lebih kurang mirip seperti Puberty Challenge di tahun 2017 yang mana pengguna media sosial menunjukkan foto sebelum dan sesudah perubahan aneh menuju dewasa. Di tahun 2018 ada #GlowUpChallenge yang sempat populer kala di mulai oleh aktris AS Miley Cyrus pada ajang Oscar dan berkembang menjadi besar ketika dibandingkan dengan foto sebelumnya pada tahun 2012 dan 2018.

Di Indonesia sendiri, tantangan #10yearchallenge sedang berada di puncaknya, hal ini dapat diketahui pada berbagai lini masa media sosial banyak terdapat postingan yang membandingkan foto 10 tahun lalu dengan foto sekarang.

Untuk membuat konten tantangan semacam ini sebenarnya tidak sulit, hanya dengan mencari foto-foto lawas anda pada album media sosial anda, biasanya Facebook atau album yang tersimpan di ponsel pintar anda. Biasanya jika sudah terhubung dengan aplikasi Foto Google, Timehop ataupun dengan browsing foto lawas anda di laptop atau PC anda, maka akan makin mudah dilakukan.

Jika telah anda menentukan foto lawas yang akan anda gunakan, langkah selanjutnya adalah membuat kolase perbandingan yang akan berisi foto diri anda yang telah ditentukan sebelumnya (foto lawas 10 tahun lalu) dengan foto diri terbaru di tahun 2019 ini. Anda dapat menggunakan beragam aplikasi grid yang terdapat baik di Google Play Store ataupun Apple Store. Penulis menggunakan aplikasi Picarts yang dapat anda unduh baik di android maupun iOs, kemudian pilih grid 2 bidang, selanjutnya isi kanan kirinya dengan foto yang ingin ditampilkan dan jangan sampai lupa tulis tahunnya. Selain Picart, anda dapat juga menggunakan aplikasi Canva, Unfold, Instagrid, dan lain sebagainya. Setelah selesai, unggah hasilnya ke semua media sosial anda seperti Instagram baik strory maupun feed, Facebook, juga Twitter, dengan tagar #10yearchallenge dan #10yearschallenge.

Continue Reading

Citizen Journalism

Moderator Debat Capres 2019 Kok, Ira Koesno Lagi? Kenapa Enggak Dedy Corbuzier Saja?

Published

on

Sudah calonnya wajah lama, lah kok moderatornya ikut-ikutan wajah lama pula. Ini mau debat atau mau reunian? Kayak enggak ada orang lain aja. Oke-oke, Najwa Shihab jelas enggak mungkin, karena nanti orang bakal protes dan bilang, ini sebetulnya Debat Capres atau talkshow Mata Najwa? Tapi, apa enggak ada alternatif lain?

Menurut kamu, seberapa menariknya Debat Capres dan Cawapres antara pasangan Jokowi – Ma’ruf Amin dan Prabowo – Sandiaga Uno yang akan dilangsungkan beberapa hari lagi itu?

Kalau menurut saya, setidaknya ada tiga hal yang menyebabkan Debat Capres dan Cawapres Perdana kali ini menjadi tak terlalu menarik lagi.

Calonnya Dia Lagi-Dia Lagi

Nyaris tak ada wajah baru, apalagi (entah) ide baru yang bakal tampil dalam ajang Debat Capres yang seharusnya bisa menjadi tontonan yang sarat informasi akan siapa dan bagaimana cara ia kelak menahkodai negeri yang bak sepenggal surga di muka bumi ini.

Kita tahu, dari keempat orang Calon Presiden dan Wakil Presiden tersebut, hanya Kyai Ma’ruf yang belum pernah kita lihat performanya dalam sebuah ajang debat Pilpres atau Pilkada, Sandiaga Uno, tentu masih sangat lekat dalam ingatan bagaimana penampilannya pada Debat Pilkada 2017, tempo hari.

Sementara Pak Jokowi dan Pak Prabowo merupakan dua calon yang lima tahun lalu pernah berhadap-hadapan. Dua calon yang lima tahun lalu telah meninggalkan jejak berupa kata “bocor” dan “dananya ada”. Dan si empunya kata “dananya ada” lah yang akhirnya keluar sebagai pemenang. Ini jadi semacam indikasi, kalau masyarakat Indonesia memang lebih menyukai kabar gembira ketimbang sebuah pesan atau (bahkan) fakta yang kurang menggembirakan. Satu kenyataan yang seharusnya menjadi perhatian Pak Prabowo dan Tim Kampanyenya.

Sayangnya, baik Pak Prabowo, ataupun tim kampanyenya seperti melupakan poin itu. Lagi-lagi, dalam beberapa kesempatan Pak Prabowo menyampaikan hal-hal yang kurang menggembirakan, macam; ramalan tentang masa depan Indonesia yang ia baca dari sebuah novel bahwa Indonesia akan bubar pada tahun 2030.

~ Lho, emang kapan jadiannya? Kok tau-tau bubaran.

Au ah, Bong!

Atau yang terbaru, ia mengatakan bahwa masih banyak dokter di negeri ini yang penghasilannya lebih kecil dari penghasilan juru parkir. Sekalipun apa yang dikatakan Pak Prabowo itu benar adanya (tapi amit-amit kalo ramalan tentang bubarnya Indonesia, sih) tetap saja bagi lawan politiknya, ini adalah celah untuk mengatakan bahwa Prabowo hanya menebar ketakutan. Persis ketika ia mengatakan keuangan negara “bocor” yang dinyinyiri segenap cebong di Indonesia, meskipun, pada akhirnya Pak Jokowi pun mengakui hal itu.

Tapi para kampret enggak usah khawatir dengan pernyataan-pernyataan Pak Prabowo yang kerap blunder dan berpengaruh pada elektabilitasnya. Enggak usah khawatir. Sebab, seberapapun seramnya pernyataan Pak Prabowo, tetap saja itu baru sebuah pernyataan. Berdoa saja, semoga rakyat dapat menangkap pesan apa yang sebenarnya ingin disampaikan Pak Prabowo.

Sementara Pak Jokowi, akalan lumayan berat upayanya untuk meyakinkan lagi masyarakat yang lima tahun lalu sudah ia jejali janji-janji, entah berapa janji yang sudah terpenuhi. Saya enggak bisa menyebutkannya, tapi jika berbicara tentang Pak Jokowi, saya mendadak jadi ingat sebuah lirik lagunya ayahanda Rhoma Irama, “Kau yang berjanji kau yang mengingkari, kalau begini jadinya tak mau—kumemilih Anda.”

Belum lagi upayanya untuk meyakinkan para pendukungnya yang sempat kecewa karena Pak Jokowi akhirnya melabuhkan pilihannya untuk posisi wapres kepada ulama senior yang merupakan salah satu aktor penyebab terpenjaranya Ahok. Yups, tul banget, dialah Kyai Ma’ruf Amin. Andai kamu Ahoker, gimana coba perasaan kamu? Begitulah, hidup memang kadang terlihat seperti ngeledek kamu. Yang sabar, ya!

Adanya Kisi-Kisi Soal Debat

Buset, ini Debat Capres atau Ujian Nasional? Pakai ada kisi-kisinya. Rocky Gerung menyayangkan alasan sembrono KPU yang mengatakan bahwa alasan diadakannya kisi-kisi agar tak ada yang dipermalukan di antara keempat calon peserta Debat Capres tersebut.

“Coba saya tanya ke KPU, dari empat wajah itu, yang berpotensi memalukan publik, yang mana?” Demikian pertanyaan Rocky Gerung kepada KPU dalam sebuah acara talkshow di salah satu stasiun televisi.

“Sebab, kalau Anda nggak bisa jawab,” Kejar Rocky, karena merasa belum mendapat jawaban yang memuaskan, “Anda menduga keempat-empatnya punya potensi untuk dipermalukan itu, atau Anda memang tahu tapi Anda sembunyikan, kan itu semiotiknya kalau kita membongkar persembunyian dari kekacauan ini” Pungkas Rocky yang diikuti tepuk tangan penonton.

Moderatornya Kok Ira Koesno Lagi?

Sudah calonnya wajah lama, lah kok moderatornya ikut-ikutan wajah lama pula. Ini mau debat atau mau reunian? Kayak enggak ada orang lain aja. Oke-oke, Najwa Shihab jelas enggak mungkin, karena nanti orang bakal protes dan bertanya, ini sebetulnya Debat Capres atau talkshow Mata Najwa? Apalagi Dedy Corbuzier, lebih enggak mungkin lagi, khawatir sangking kesalnya sama penonton yang berisik, dihipnotis itu penonton agar mematung sepanjang debat.

Tapi kan masih ada Via Vallen. Lho ini beneran, apa salahnya kita kemas debat dengan suasana rileks supaya kedua pendukung calon enggak ribut dan tetap saling menebarkan rasa sayang. Ya, enggak?

Atau kalau Via Vallen dirasa kurang tepat, saya masih ada alternatif lain. Gimana kalau Nissa Sabyan? Nah, ini kayaknya sudah paling pas. Bisa jadi penengah kalau debat mulai panas. Cukup dengan melantunkan liriknya yang sangat fenomenal itu, “Hmmm.. Hmmm.” Dijamin, yang lagi ngotot-ngototan langsung terdiam, tenang, karena berasa diguyur air zam-zam.

Tapi kalau bisa, sebelumnya, Nissa Sabyan mengingatkan kepada peserta debat agar enggak usah ikut-ikutan nyanyi. Enggak usah nanya kenapa. Sudah jelas jawabannya, agar enggak ada yang dipermalukan. Ituh!

Continue Reading

Citizen Journalism

Media yang Dulu Bukanlah yang Sekarang (Pilpres 2019)

Published

on

Media yang Dulu Bukanlah yang Sekarang (Pilpres 2019)

Bicara soal perkembangan media massa di Indonesia, seperti televisi, surat kabar hingga munculnya media baru seperti online saat ini, tentu sudah mengalami berbagai dinamika. Jika dulu media sangat menjunjung tinggi nilai dan kaidah jurnalisme, tetapi makin kesini hal itu sudah bergeser.

Tentu kita semua mengetahui, dalam kontestasi Pilpres 2019 ini saja sudah banyak sekali peristiwa-peristiwa politik, yang menjadi “makanan” utama dari media. Dari mulai deklarasi pasangan calon, strategi kampanye, hingga hal “printilan” lain yang seakan terlalu berlebihan untuk disorot.

Kita tentu jengah dengan berbagai headline dari suatu media yang seperti berat sebelah. Hal ini cukup simpel, sebab media saat ini lebih umum “di bekingi” oleh orang yang berkedudukan tinggi di suatu partai politik.

Media seakan lupa akan kaidahnya sebagai kontrol sosial, independen, dan menjunjung tinggi etika jurnalisme. Saat ini, media justru makin menampakan wajah aslinya dalam bersikap. Masyarakat pun pasti sudah merasakan hal ini sejak lama.

Fenomena ini mengisyaratkan media, jika mereka sudah tidak sehat lagi. Sehingga ungkapan “media yang dulu bukanlah yang sekarang” pun cocok. Masyarakat haus akan berita yang berimbang, tidak menyudutkan, dan memiliki isi berita yang bergizi. Tidak cuma asal heboh saja.

Pengambilan angle berita oleh media seharusnya jadi prioritas perbaikan. Masyarakat ingin sekali hidup damai, tidak terkotak-kotakan karena amarah yang makin “digoreng” oleh media dalam pemberitaannya. Cukup sudah.

Media seharusnya menjadi garda terdepan bagi masyarakat untuk mencerdaskan, mencerahkan dan menjadi pengontrol sosial. Dalam kaitan dengan Pilpres, harusnya media lah yang getol memberitakan visi misi dua pasangan calon, bukan malah sebaliknya. Menimbulkan perpecahan di masyarakat akibat ucapan yang berujung pada kontroversi dan permusuhan sesama masyarakat. Sehingga tercipta dua kubu politik yang makin hari makin panas.

Fatalnya, rusaknya media yang berpihak ini lambat tapi pasti secara menyeluruh akan menggerogoti idealisme para jurnalis-jurnalisnya. Bukan jadi mustahil juga, jika media saat ini bergeser ke media liberal. Siapa yang punya uang, dan memiliki media itu, menjadi penguasa yang bisa membelokan pandangan media untuk berpihak pada yang punya uang dan kuasa. Who knows?

Continue Reading
Advertisement

Trending