Connect with us

Citizen Journalism

Meneropong Arah Militansi PKS Jakarta

Published

on



Berulang kali saya mencoba mencari berita yang menyatakan bahwa PKS akan mendukung Jokowi jika tidak mendapat kursi DKI-2 seperti yang diutarakan beberapa orang kawan fesbuk di postingannya. Saya coba membaca dan telusuri satu per satu berita di laman media daring arus utama. Namun nihil hasilnya. Padahal kalau beneran ada, pasti seru!

Yang ada hanyalah pernyataan Ketua Fraksi PKS DPRD DKI Jakarta, Abdurrahman Suhaimi yang mengatakan bahwa PKS akan mematikan mesin partai untuk pilpres di Ibu kota. Arah baru militansi akar rumput sepenuhnya akan difokuskan ke Pemilihan Legislatif (Pileg).

Pernyataan tersebut tak lepas dari konflik perebutan posisi Wakil Gubernur DKI Jakarta yang sudah 2 bulan lebih ditinggalkan oleh Sandiaga Uno demi mengikuti Pilpres.
Konflik antara Gerindra dan PKS sebagai partai pemenang pilgub terus bergulir.

Gerindra secara terang-terangan ingin memajukan Taufik yang merupakan kadernya sendiri untuk menjadi wakil gubernur DKI Jakarta. Sedangkan PKS, setelah kalah di Pilkada Jawa Barat dan merelakan kursi Cawapres di koalisi tentu menginginkan kadernya menduduki kursi DKI-2 sebagai kompensasi dari proses dukung mendukung selama berkoalisi.

Resistensi terhadap Taufik, bukan hanya berasal dari kalangan kader dan simpatisan PKS. Namun juga masyarakat luas.
Taufik pernah tersandung kasus korupsi yang merugikan negara sebesar Rp 488 juta. Ia ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan barang dan alat peraga Pemilu 2004 dan divonis selama 18 bulan penjara pada 27 April 2004.
Inilah yang membuat warga yang sadar politik tidak mau dipimpin olehnya meski hanya menjabat sebagai wakil gubernur.

Coba kita tengok Pilkada Jakarta dari masa ke masa. Adakah yang lebih ramai dan terkesan “berdarah-darah” dibanding pilkada tahun 2017? Partai koalisi oposisi bersama warga pendukungnya bahu membahu menumbangkan petahana. Terlepas dari blunder petahana yang menyambar area paling bikin sensi di dunia (agama), mesin partai PKS bekerja paling optimal. Kader partai melakukan gerilya kampanye dari pintu ke pintu yang dikenal dengan sebutan Direct Selling (DS). Program kampanye DS ini melibatkan sedikitnya 100,000 kader PKS Jakarta. Setiap kader berkewajiban mengetuk pintu dan bertamu minimal ke 10 rumah tetangganya. Jadi paling sedikit ada satu juta pintu rumah yang diketuk dan disambangi kader PKS untuk mengkampanyekan kandidat yang didukungnya.
DS dilakukan dengan membawa kuisioner, angket atau lembaran survey. Kadang dilengkapi souvenir yang dibeli kader PKS dengan anggaran sendiri.
Bisa rinso sachetan, voucher isi ulang 5000-an, atau pulpen/pensil mekanik 3000-an. Bisa juga kue talam atau keripik pisang.
Tentu ditambah dengan senyuman khas yang menawan serta tawaran persahabatan yg ujungnya bisa disalahpahami beberapa orang sebagai kode “gampang memberi hutangan” hehehe

Hasil DS ini akan memberikan gambaran tentang peta wilayah dukungan yang nantinya ditindaklanjuti dengan berbagai kegiatan kampanye lainnya. Baik berupa pelayanan kesehatan, penyuluhan lingkungan, lomba-lomba ketangkasan, dan lainnya secara terus menerus dan berkesinambungan.

Kader akar rumput PKS dikenal tak kenal lelah melakukan pendekatan personal kepada warga untuk mengikat suara mereka. Akar rumput inilah yang menjadi ujung tombak keberhasilan kampanye PKS. Lewat pendekatan yang berkesinambungan dan obrolan2 santai mereka banyak tahu tentang curahan hati dan kebutuhan masyarakat serta ragam permasalahan yang membuat mereka tak bisa tertawa lepas.
Di kerentanan seperti inilah mereka berusaha hadir untuk memberikan bantuan-bantuan konkret.

Berdasarkan cerita dari pengalaman akar rumput beberapa contoh hal kecil yang mereka lakukan namun berhasil mengikat hati warga diantaranya yaitu menyewa tukang pijit untuk warga yang mengaku kakinya sakit tiap bangun pagi. Membantu dan mendampingi warga mengurus akte kelahiran. Meringankan beban warga yang banyak hutang di warung sampai malu keluar rumah. Pura-pura ulang tahun dan ajak warga makan bersama direstoran cepat saji. Atau sekedar berbagi kopi ketika ronda di malam hari.
Dan semuanya dilakukan dengan menggunakan uang sendiri.
Mereka bilang, mosok iya bikin bahagia 10 tetangga di sekitarmu saja kamu pake minta-minta dana.

Namun, tidak semua DS berjalan mulus. Ujian terberat ketika DS dapat berupa reaksi penolakan langsung dari warga. Banyak kader yang mengalami. Sudah janji bertamu pas datang mereka pakai kaos kandidat lain. 😑
Ada juga yang nyetel lagu kampanye kandidat lain sampai kuping pengeng. Atau lebih parah meneriaki mereka dengan kata-kata kasar ketika lewat. Bilang permisi dijawab sapi. Duh!
Namun nyatanya program DS dari selalu tetap berjalan di setiap masa kampanye.

Koalisi PKS dan Gerindra di Pilgub DKI Jakarta 2017 berhasil menang cukup telak dengan selisih 2 digit dari pesaingnya di putaran kedua.
Namun saat jagoannya terpilih, dengan mudah komitmen menyelesaikan masa kepemimpinan selama 5 tahun malah dilepaskan. Sebagian warga kecewa tentang hal ini. Lebih kecewa lagi ketika nama Taufik memperoleh restu dan dukungan untuk menjadi pengganti Sandi.

Masalah pemilihan wagub Jakarta, bukan masalah kecil, receh nan sepele. Namun menyangkut kepentingan dan hajat hidup lebih dari 10 juta warga kotanya. Saya pikir tak seorangpun warga kota yang waras mau dipimpin oleh seorang mantan narapidana kasus korupsi.

PKS memulai debut politik dakwahnya dari Jakarta. Kota ini bukan sekedar Ibu kota negara bagi mereka melainkan juga pusat berkembangnya risalah dakwah kelas menengah di Indonesia.
Naif rasanya ketika Gerindra dan pendukung Prabowo lainnya berharap PKS mengalah saja dengan alasan keutuhan bangsa. Dalam benak kader PKS sendiri bisa jadi muncul pertanyaan. Keutuhan bangsa macam apa yang diperjuangkan? Bangsa koalisi? Koalisi yang mana? Koalisi yang mau menang sendiri? Maaf, Apapun bentuknya, bukankah segala jenis keserakahan dan pengkhianatan tak layak didukung?

Gerindra yang terus menerus berusaha mendudukan kadernya sendiri dalam sebuah kontestasi politik pemilihan kepada daerah dan kepala negara yang menggunakan mesin partai koalisi mungkin bisa dianggap sebagai sebuah bentuk keserakahan. Sedangkan mengusung koruptor untuk memimpin rakyat, saya pun berpikir tak ada kata yang pantas selain disebut sebagai pengkhianatan atas rakyat itu sendiri.

Melihat dari rekam jejaknya, PKS belum berhasil menjadi parpol papan atas di Indonesia. Namun, militansi kader akar rumput dalam merebut dan menjaga suara sudah tidak diragukan lagi.

DS bisa efektif dan optimal jika dilakukan dalam waktu bersamaan di seluruh target wilayah.
Berdasarkan pengamatan di Jakarta, kader PKS sudah memulainya. Namun, kunjungan yang dilakukan acapkali masih berputar sekitar kampanye pemilihan legislatif. Jika ada warga yang menanyakan tentang pilpres, hanya dijawab dengan senyuman.
Tapi ini kejadian di Jakarta loh ya, gak tahu kalau daerah lain.

Saat ini, PKS mungkin masih menunggu itikad baik dan pembuktian kredibilitas sikap dari perkataan Sang pemimpin dan pemegang kendali Gerindra mengenai kursi wagub Jakarta. Andai Gerindra bersikeras memajukan Taufik atau kadernya yang lain untuk posisi DKI-2, Akankah PKS benar-benar berani mematikan mesin partainya untuk Pilpres sebagai balasan kepada Gerindra? Atau diam-diam malah mengubah arah militansi kampanye akar rumputnya ke kandidat lain? Lantas, bagaimana kans Prabowo Sandi untuk memenangkan pertarungan Pilpres?
Akankah Prabowo mendapatkan rekor MURI sebagai kandidat presiden paling berpengalaman di Indonesia?

Ambil kopi, goreng ubi dan kita saksikan episode selanjutnya….

Citizen Journalism

Awal Mula #10YearChallenge Hingga Viral di Indonesia

Published

on

By

Awal tahun 2019 ini dunia media sosial di tanah air dibuka dengan konten unik bertajuk #10yearchallenge. Hingga kini belum diketahui siapa yang memulai aksi, tantangan atau isi konten yang saat ini sedang ramai di media sosial baik di Instagram, Facebook hingga Twitter. Dalam aksi tantangan ini, semua pengguna media sosial termasuk juga para pesohor mengunggah foto-fotonya dalam rentang waktu 10 tahun kebelakang. Nah, foto lama tersebut kemudian disandingkan dengan foto terbaru di tahun terbaru.

Awal kemunculan tantangan unik ini dimana seseorang berbagi potret mereka dalam rentang 10 tahun. Tantangan memiliki beragam julukan mulai dari #HowHardDidAgingHitYou, 2009vs2019, GlowUpChallenge dan lain sebagainya. Kadang kala juga berisi perbandingan 2 foto parodi foto diri dengan foto idolanya sehingga kerap disebut meme.

Dipercaya tantangan #HowHardDidAgingHitYou ini pertama kali dimulai di media sosial Facebook oleh seorang penggunanya yang bernama Damon Lane. Damon yang adalah seorang chief meterologist di KOCO News 5 Oklahoma mengunggah foto dirinya terbarunya pada hari Jumat, 11 Januari 2019. Sejatinya, ia hanya akan membandingkan foto profil pertamanya di Facebook dengan foto terbaru dirinya saat ini. Kemudian terjadi orang-orang mulai mengikuti menguggah foto drinya sekarang (tahun 2019) dengan foto dari 10 tahun lalu (dalam hal ini tahun 2009). Kemudian tantangan ini berkembang hingga memiliki beberapa julukan seperti 2009vs2019, How Did Age Hit You atau 10 year challenge.

Tak berapa lama, para pengguna media sosial mulai mengunggah postingan tantangan ini dan menjadi populer. Bertambahnya popularitas tantangan ini lalu memunculkan banyak meme, para pengguna menyelipkan tokoh idola sebagai pembanding fotonya yang bertujuan menghibur pengikutnya. Mereka menyematkan foto binatang kesayangan, bahkan karakter film dalam membuat konten tantangannya.

Setiap tahun selalu ada tantangan-tantangan model ini yang lebih kurang mirip seperti Puberty Challenge di tahun 2017 yang mana pengguna media sosial menunjukkan foto sebelum dan sesudah perubahan aneh menuju dewasa. Di tahun 2018 ada #GlowUpChallenge yang sempat populer kala di mulai oleh aktris AS Miley Cyrus pada ajang Oscar dan berkembang menjadi besar ketika dibandingkan dengan foto sebelumnya pada tahun 2012 dan 2018.

Di Indonesia sendiri, tantangan #10yearchallenge sedang berada di puncaknya, hal ini dapat diketahui pada berbagai lini masa media sosial banyak terdapat postingan yang membandingkan foto 10 tahun lalu dengan foto sekarang.

Untuk membuat konten tantangan semacam ini sebenarnya tidak sulit, hanya dengan mencari foto-foto lawas anda pada album media sosial anda, biasanya Facebook atau album yang tersimpan di ponsel pintar anda. Biasanya jika sudah terhubung dengan aplikasi Foto Google, Timehop ataupun dengan browsing foto lawas anda di laptop atau PC anda, maka akan makin mudah dilakukan.

Jika telah anda menentukan foto lawas yang akan anda gunakan, langkah selanjutnya adalah membuat kolase perbandingan yang akan berisi foto diri anda yang telah ditentukan sebelumnya (foto lawas 10 tahun lalu) dengan foto diri terbaru di tahun 2019 ini. Anda dapat menggunakan beragam aplikasi grid yang terdapat baik di Google Play Store ataupun Apple Store. Penulis menggunakan aplikasi Picarts yang dapat anda unduh baik di android maupun iOs, kemudian pilih grid 2 bidang, selanjutnya isi kanan kirinya dengan foto yang ingin ditampilkan dan jangan sampai lupa tulis tahunnya. Selain Picart, anda dapat juga menggunakan aplikasi Canva, Unfold, Instagrid, dan lain sebagainya. Setelah selesai, unggah hasilnya ke semua media sosial anda seperti Instagram baik strory maupun feed, Facebook, juga Twitter, dengan tagar #10yearchallenge dan #10yearschallenge.

Continue Reading

Citizen Journalism

Moderator Debat Capres 2019 Kok, Ira Koesno Lagi? Kenapa Enggak Dedy Corbuzier Saja?

Published

on

Sudah calonnya wajah lama, lah kok moderatornya ikut-ikutan wajah lama pula. Ini mau debat atau mau reunian? Kayak enggak ada orang lain aja. Oke-oke, Najwa Shihab jelas enggak mungkin, karena nanti orang bakal protes dan bilang, ini sebetulnya Debat Capres atau talkshow Mata Najwa? Tapi, apa enggak ada alternatif lain?

Menurut kamu, seberapa menariknya Debat Capres dan Cawapres antara pasangan Jokowi – Ma’ruf Amin dan Prabowo – Sandiaga Uno yang akan dilangsungkan beberapa hari lagi itu?

Kalau menurut saya, setidaknya ada tiga hal yang menyebabkan Debat Capres dan Cawapres Perdana kali ini menjadi tak terlalu menarik lagi.

Calonnya Dia Lagi-Dia Lagi

Nyaris tak ada wajah baru, apalagi (entah) ide baru yang bakal tampil dalam ajang Debat Capres yang seharusnya bisa menjadi tontonan yang sarat informasi akan siapa dan bagaimana cara ia kelak menahkodai negeri yang bak sepenggal surga di muka bumi ini.

Kita tahu, dari keempat orang Calon Presiden dan Wakil Presiden tersebut, hanya Kyai Ma’ruf yang belum pernah kita lihat performanya dalam sebuah ajang debat Pilpres atau Pilkada, Sandiaga Uno, tentu masih sangat lekat dalam ingatan bagaimana penampilannya pada Debat Pilkada 2017, tempo hari.

Sementara Pak Jokowi dan Pak Prabowo merupakan dua calon yang lima tahun lalu pernah berhadap-hadapan. Dua calon yang lima tahun lalu telah meninggalkan jejak berupa kata “bocor” dan “dananya ada”. Dan si empunya kata “dananya ada” lah yang akhirnya keluar sebagai pemenang. Ini jadi semacam indikasi, kalau masyarakat Indonesia memang lebih menyukai kabar gembira ketimbang sebuah pesan atau (bahkan) fakta yang kurang menggembirakan. Satu kenyataan yang seharusnya menjadi perhatian Pak Prabowo dan Tim Kampanyenya.

Sayangnya, baik Pak Prabowo, ataupun tim kampanyenya seperti melupakan poin itu. Lagi-lagi, dalam beberapa kesempatan Pak Prabowo menyampaikan hal-hal yang kurang menggembirakan, macam; ramalan tentang masa depan Indonesia yang ia baca dari sebuah novel bahwa Indonesia akan bubar pada tahun 2030.

~ Lho, emang kapan jadiannya? Kok tau-tau bubaran.

Au ah, Bong!

Atau yang terbaru, ia mengatakan bahwa masih banyak dokter di negeri ini yang penghasilannya lebih kecil dari penghasilan juru parkir. Sekalipun apa yang dikatakan Pak Prabowo itu benar adanya (tapi amit-amit kalo ramalan tentang bubarnya Indonesia, sih) tetap saja bagi lawan politiknya, ini adalah celah untuk mengatakan bahwa Prabowo hanya menebar ketakutan. Persis ketika ia mengatakan keuangan negara “bocor” yang dinyinyiri segenap cebong di Indonesia, meskipun, pada akhirnya Pak Jokowi pun mengakui hal itu.

Tapi para kampret enggak usah khawatir dengan pernyataan-pernyataan Pak Prabowo yang kerap blunder dan berpengaruh pada elektabilitasnya. Enggak usah khawatir. Sebab, seberapapun seramnya pernyataan Pak Prabowo, tetap saja itu baru sebuah pernyataan. Berdoa saja, semoga rakyat dapat menangkap pesan apa yang sebenarnya ingin disampaikan Pak Prabowo.

Sementara Pak Jokowi, akalan lumayan berat upayanya untuk meyakinkan lagi masyarakat yang lima tahun lalu sudah ia jejali janji-janji, entah berapa janji yang sudah terpenuhi. Saya enggak bisa menyebutkannya, tapi jika berbicara tentang Pak Jokowi, saya mendadak jadi ingat sebuah lirik lagunya ayahanda Rhoma Irama, “Kau yang berjanji kau yang mengingkari, kalau begini jadinya tak mau—kumemilih Anda.”

Belum lagi upayanya untuk meyakinkan para pendukungnya yang sempat kecewa karena Pak Jokowi akhirnya melabuhkan pilihannya untuk posisi wapres kepada ulama senior yang merupakan salah satu aktor penyebab terpenjaranya Ahok. Yups, tul banget, dialah Kyai Ma’ruf Amin. Andai kamu Ahoker, gimana coba perasaan kamu? Begitulah, hidup memang kadang terlihat seperti ngeledek kamu. Yang sabar, ya!

Adanya Kisi-Kisi Soal Debat

Buset, ini Debat Capres atau Ujian Nasional? Pakai ada kisi-kisinya. Rocky Gerung menyayangkan alasan sembrono KPU yang mengatakan bahwa alasan diadakannya kisi-kisi agar tak ada yang dipermalukan di antara keempat calon peserta Debat Capres tersebut.

“Coba saya tanya ke KPU, dari empat wajah itu, yang berpotensi memalukan publik, yang mana?” Demikian pertanyaan Rocky Gerung kepada KPU dalam sebuah acara talkshow di salah satu stasiun televisi.

“Sebab, kalau Anda nggak bisa jawab,” Kejar Rocky, karena merasa belum mendapat jawaban yang memuaskan, “Anda menduga keempat-empatnya punya potensi untuk dipermalukan itu, atau Anda memang tahu tapi Anda sembunyikan, kan itu semiotiknya kalau kita membongkar persembunyian dari kekacauan ini” Pungkas Rocky yang diikuti tepuk tangan penonton.

Moderatornya Kok Ira Koesno Lagi?

Sudah calonnya wajah lama, lah kok moderatornya ikut-ikutan wajah lama pula. Ini mau debat atau mau reunian? Kayak enggak ada orang lain aja. Oke-oke, Najwa Shihab jelas enggak mungkin, karena nanti orang bakal protes dan bertanya, ini sebetulnya Debat Capres atau talkshow Mata Najwa? Apalagi Dedy Corbuzier, lebih enggak mungkin lagi, khawatir sangking kesalnya sama penonton yang berisik, dihipnotis itu penonton agar mematung sepanjang debat.

Tapi kan masih ada Via Vallen. Lho ini beneran, apa salahnya kita kemas debat dengan suasana rileks supaya kedua pendukung calon enggak ribut dan tetap saling menebarkan rasa sayang. Ya, enggak?

Atau kalau Via Vallen dirasa kurang tepat, saya masih ada alternatif lain. Gimana kalau Nissa Sabyan? Nah, ini kayaknya sudah paling pas. Bisa jadi penengah kalau debat mulai panas. Cukup dengan melantunkan liriknya yang sangat fenomenal itu, “Hmmm.. Hmmm.” Dijamin, yang lagi ngotot-ngototan langsung terdiam, tenang, karena berasa diguyur air zam-zam.

Tapi kalau bisa, sebelumnya, Nissa Sabyan mengingatkan kepada peserta debat agar enggak usah ikut-ikutan nyanyi. Enggak usah nanya kenapa. Sudah jelas jawabannya, agar enggak ada yang dipermalukan. Ituh!

Continue Reading

Citizen Journalism

Media yang Dulu Bukanlah yang Sekarang (Pilpres 2019)

Published

on

Media yang Dulu Bukanlah yang Sekarang (Pilpres 2019)

Bicara soal perkembangan media massa di Indonesia, seperti televisi, surat kabar hingga munculnya media baru seperti online saat ini, tentu sudah mengalami berbagai dinamika. Jika dulu media sangat menjunjung tinggi nilai dan kaidah jurnalisme, tetapi makin kesini hal itu sudah bergeser.

Tentu kita semua mengetahui, dalam kontestasi Pilpres 2019 ini saja sudah banyak sekali peristiwa-peristiwa politik, yang menjadi “makanan” utama dari media. Dari mulai deklarasi pasangan calon, strategi kampanye, hingga hal “printilan” lain yang seakan terlalu berlebihan untuk disorot.

Kita tentu jengah dengan berbagai headline dari suatu media yang seperti berat sebelah. Hal ini cukup simpel, sebab media saat ini lebih umum “di bekingi” oleh orang yang berkedudukan tinggi di suatu partai politik.

Media seakan lupa akan kaidahnya sebagai kontrol sosial, independen, dan menjunjung tinggi etika jurnalisme. Saat ini, media justru makin menampakan wajah aslinya dalam bersikap. Masyarakat pun pasti sudah merasakan hal ini sejak lama.

Fenomena ini mengisyaratkan media, jika mereka sudah tidak sehat lagi. Sehingga ungkapan “media yang dulu bukanlah yang sekarang” pun cocok. Masyarakat haus akan berita yang berimbang, tidak menyudutkan, dan memiliki isi berita yang bergizi. Tidak cuma asal heboh saja.

Pengambilan angle berita oleh media seharusnya jadi prioritas perbaikan. Masyarakat ingin sekali hidup damai, tidak terkotak-kotakan karena amarah yang makin “digoreng” oleh media dalam pemberitaannya. Cukup sudah.

Media seharusnya menjadi garda terdepan bagi masyarakat untuk mencerdaskan, mencerahkan dan menjadi pengontrol sosial. Dalam kaitan dengan Pilpres, harusnya media lah yang getol memberitakan visi misi dua pasangan calon, bukan malah sebaliknya. Menimbulkan perpecahan di masyarakat akibat ucapan yang berujung pada kontroversi dan permusuhan sesama masyarakat. Sehingga tercipta dua kubu politik yang makin hari makin panas.

Fatalnya, rusaknya media yang berpihak ini lambat tapi pasti secara menyeluruh akan menggerogoti idealisme para jurnalis-jurnalisnya. Bukan jadi mustahil juga, jika media saat ini bergeser ke media liberal. Siapa yang punya uang, dan memiliki media itu, menjadi penguasa yang bisa membelokan pandangan media untuk berpihak pada yang punya uang dan kuasa. Who knows?

Continue Reading
Advertisement

Trending