Connect with us

Cover Story

Kisah Kehidupan Ayah Erick dan Boy Thohir, dari Lahir Melarat Hingga Jadi Konglomerat

Published

on


Finroll.com – Di balik kesuksesan Erick dan Boy Thohir, ternyata ada sosok pemimpin keluarga Thohir yang berjasa, yakni Mochamad Teddy Thohir. Kisah hidup Teddy Thohir tidaklah mudah, melewati banyak macam rintangan yang menghadang.

Selain Erick dan Boy, Teddy juga memiliki satu orang anak perempuan, Rika Thohir. Serupa dengan anak-anaknya, Teddy juga merupakan seorang pengusaha kondang. Ia merintis kesuksesan sedari nol. Bahkan, di masa kecilnya, kehidupan Teddy jauh dari kemewahan.

Ayah dari Presiden Inter Milan dan Presiden Direktur Adaro Energy ini ternyata lahir di Gunung Sugih, Lampung.

Masa kecil Teddy bisa dibilang melarat. Menurut obituari yang dirilis Republika, tempat tinggal Teddy Thohir saat itu hanyalah rumah bilik yang beralaskan tanah. Ia juga sudah menjadi anak yatim sedari kecil.

Singkat cerita, setelah lulus SMP, dia merantau ke Solo dengan menggunakan kereta demi melanjutkan studinya di SMEA. Modal sekolahnya di Solo didapat lewat bantuan seorang pedagang di Metro. Di Solo pun dia bekerja sambil sekolah, hingga akhirnya bertemu dengan seorang gadis keturunan Tionghoa yang kelak menjadi istrinya, Edna.

Setelah menyelesaikan pendidikannya, pria yang wafat di tahun 2016 ini lantas berkarier di sebuah perusahaan asing yang bergerak di bidang kimia, Union Carbide. Performanya sebagai karyawan cukup baik. Teddy pun dipromosi menjadi salah satu kepala bagian administrasi.

Namun, Teddy memutuskan untuk resign dan bergabung dengan Astra yang kala itu dipimpin oleh William Soeryadjaya. Kariernya di Astra mulai dari bawah, ia mulai dari menjabat sebagai staf hingga berhasil menjadi direktur dan pemegang saham perusahaan tersebut.

Lambat laun, Astra menjadi raksasa otomotif di Tanah Air, dan memiliki beberapa anak perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan.

Setelah sukses di Astra, Teddy pun mendirikan perusahaannya sendiri, yakni PT Trinugraha Thohir (TNT Group). Namun, informasi mengenai kisah Teddy mendirikan TNT Group sangatlah minim.

Yang jelas, perusahaan ini memiliki anak perusahaan yang bergerak di bidang sumber daya alam, properti, otomotif, media, hingga restoran. Beberapa di antaranya adalah PT Adaro Energy, PT Surya Essa Perkasa, PT Wahanaartha Harsaka, Restoran Hanamasa, Pronto, dan Yakun Kaya Toast.

Di sektor properti, TNT dikabarkan memiliki Taman Laguna, Cibubur Residence, Permata Kranggan, Taman Arcadia Mediterania, Permata Arcadia Cimanggis, dan Hotel Amaris Bogor. Sementara itu di bidang media, ada PT Mahaka Media.

Berkat kesuksesannya di dunia bisnis, Teddy Thohir pun sempat merasakan duduk di jajaran orang terkaya di Indonesia.

Setelah mangkat, titel orang terkaya di dunia tetap disandang oleh salah satu anggota keluarga Thohir, yaitu Garibaldi. Pada tahun 2017, Garibaldi atau yang akrab disapa Boy menduduki posisi ke- 23 sebagai orang terkaya di Indonesia versi Forbes.

Cover Story

Konservasi Karya Seni Rupa Di Ruang Publik Apresiasi 3 Karya Seni Relief Eks Bandara Kemayoran 

Published

on

Finroll.com — Konservasi Karya Seni Rupa di Ruang Publik adalah kegiatan yang diselenggarakan oleh Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerjasama dengan Pusat Pengelolaan Komplek Kemayoran (PPK Kemayoran) dalam rangka mengimplementasikan UU No. 5 Tahun 2017 Tentang Pemajuan Kebudayaan.

Karya seni ruang publik merupakan sebuah karya yang secara khusus diciptakan pada ranah publik. Karya ini tampil pada ruang-ruang publik untuk memberikan pesan, menambah nilai estetika, edukasi maupun merespon atau bahkan memberikan kritik terhadap berbagai persoalan yang menjadi keresahan publik.

Salah satu karya seni rupa yang diciptakan pada ruang publik adalah karya fenomenal yang berada di kawasan eks Bandar Udara Kemayoran, Jakarta. Kawasan tersebut saat ini berada pada wilayah pengelolaan PPK Kemayoran. Ada tiga buah relief yang terdapat pada dinding ruang tunggu VIP Bandara. Karya ini dibuat oleh Harijadi Sumodidjojo, Sindoesoedarsono Soedjojono, dan Soerono yang kemudian dalam pengerjaannya didukung oleh Seniman Indonesia Muda (SIM).

Relief ini dibuat dengan mengusung tema tentang kekayaan Indonesia atas gagasan Presiden Soekarno pada tahun 1957 untuk menyambut tamu negara kala itu.

Kemudian masing-masing seniman meresponnya dengan cerita yang berbeda. Harijadi Sumodidjojo menggambarkan kekayaan Indonesia dalam rancangan karyanya yang bertema “Flora dan Fauna”. S. Soedjojono menggambarkannya dalam tema “Manusia Indonesia”.

Sedangkan Soerono menceritakan sebuah legenda yang terkenal di tanah Pasundan yaitu “Sangkuriang”. Letak karya Surono berada pada dinding lantai satu ruang tunggu VIP. Sedangkan letak karya Harijadi dan S. Soedjojono saling berhadapan pada dinding lantai dua ruang tunggu VIP eks Bandara Kemayoran.

Karya fenomenal yang berada di Eks Bandara Internasional Kemayoran tersebut hingga kini memang masih kurang dikenal oleh masyarakat, bahwa Kemayoran selain dikenal sebagai tanah asli betawi juga merupakan kawasan yang memiliki nilai sejarah yang tinggi khususnya sejarah penerbangan Indonesia.

Melalui kegiatan apresiasi tiga karya relief eks Bandara Kemayoran ini Kemendikbud bersama PPK Kemayoran berupaya untuk memperkenalkan kepada publik karya seni rupa terlebih terhadap karya yang memiliki nilai sejarah penerbangan Indonesia. Kegiatan ini direncanakan akan dirangkaikan pula dengan kegiatan pendokumentasian, penulisan buku, apresiasi (Pameran), publikasi, dan lomba vlog tentang ketiga relief.

Pelaksanaan kegiatan ini diharapkan dapat mengajak masyarakat untuk turut mengapresiasi, memahami dan memaknai betapa pentingnya menjaga dan melestarikan karya seni dan sejarah penerbangan yang pernah eksis di Kemayoran

Pendokumentasian telah dilaksanakan pada tanggal 19 – 20 Mei 2019.

Sedangkan kegiatan Apresiasi 3 Karya Seni Relief Eks Bandara Kemayoran dilaksanakan pada tanggal 17-21 Juli 2019 dengan mengundang para keluarga seniman pembuat relief, masyarakat secara umum, dan pelajar SMP/SMA sebagai apresiator sekaligus sebagai peserta lomba vlog untuk tingkat pelajar.

Continue Reading

Cover Story

Mengenal Aeurisma Otak Bersama Dr. Joy

Published

on

By

Featured Video Play Icon

Aneurisma otak merupakan istilah yang belum banyak dikenal masyarakat awam sebagai pelebaran pembuluh darah otak yang dapat berakibat fatal. Pembuluh darah yang berbentuk benjolan atau menyerupai buah beri akan rentan pecah dan menyebabkan pendarahan otak.

5 dari 100 orang mengalami Aneurisma otak. Gejalanya tekanan darah tinggi hingga gangguan kolesterol darah. Namun jangan khawatir, saat ini penanganan aneurisma sudah bisa dilakukan di  Indonesia

Untuk mengetahui lebih dalam apa itu Aneurisma otak, redaksi finroll mendapat kesempatan untuk melakukan wawancara eksklusif dengan ahlinya. Adalah Dr. Mardjono Tjahjadi, MD. seorang dokter sepesialis bedah otak dan pembuluh darah otak yang saat ini bertugas di Rumah Sakit Mitra Kemayoran, Jakarta Pusat.

Dokter ‘Joy’ sapaan akrabnya, merupakan lulusan dokter umum dari Universitas Atma Jaya Jakarta, kemudian ia melanjutkan pendidikan spesialisasi bedah syaraf di Universitas Padjadjaran Bandung, Universitas Helsinki dan Seoul National University Bundang Hospital Korea Selatan.

Berikut petikan wawacara singkat redaksi Finroll dengan Dr, Joy :

Apa itu Aneurisma otak?

Aneurisma otak adalah sebuah penyakit dimana tumbuh suatu benjolan atau penggelembungan pada dinding pembuluh darah otak. Seiring dengan berjalannya waktu, benjolan Aneurisma ini akan semakin membesar.

Semakin bertambah besarnya ukuran Aneurisma, maka dinding pembuluh darah otak akan semakin tipis dan bisa berimplikasi pada pecahnya benjolan tersebut sehingga mengakibatkan pendarahan otak yang sangat fatal.

Apakah penyebab dan gejala Aneurisma otak?

Hingga saat ini belum diketahui penyebab pasti Aneurisma otak, namun ada beberapa hal yang telah diketahui sebagai faktor resiko, yang pertama Penyakit tekanan darah tinggi, kedua kebiasaan merokok, ketiga gangguan kolesterol darah, keempat Kebiasaan minum-minuman beralkohol, kelima penyakit-penyakit spesifik tertentu seperti, Kolagen yang menyebabkan pelemahan dinding pembuluh darah, kenam riwayat genetics atau riwayat keluarga memiliki aneurisma otak.

Selain keenam faktor tersebut, ada dua factor tambahan resiko meningkat yaitu, usia diatas 40 tahun dan jenis kelamin wanita. Beberapa penelitian menunjukan bahwa jenis kelamin perempuan memiliki angka kejadian aneurisma 1,5 – 1,6 kali lebih tinggi dibanding wanita.

Bagaimana cara mencegah penyakit Aneurisma otak? adakah pola makan atau gaya hidup sehat yang harus di terapkan?

Untuk mencegah terjadinya Aneurisma otak, kita harus mengontrol faktor resiko. Faktor resiko yang paling utama adalah pertama harus Menghentikan kebiasaan merokok, karena merokok secara statistik sudah terbukti sebagai sumber faktor utama Aneurisma otak. kedua kontrol atau kendalikan penyakit tekanan darah tinggi. Ketiga kontrol gangguan  kolesterol anda, anda bisa mengkonsumsikan makanan yang lebih sehat yang rendah lemak dan keempat mengurangi kebiasasan minuman alkohol yang berlebihan.

Berapa banyak orang Indonesia yang terkena Aneurisma otak?

Untuk jumlah kasus Aneurisma di Indonesia secara spesifik masih belum ada angkanya, namun bila merujuk pada angka statistik di luar negeri dan di beberapa negara,  angka kejadian Aneurisma diperkirakan antara 1 sampai 5 dari 100 orang. Namun angka pecahnya Aneurisma otak diperkirakan 1 dari 10.000 orang per tahaun.

Bagaimana cara mengobati pasien Aneurisma otak?

Aneurisma otak bila sudah pecah, harus segera dilakukan tindakan penutupan Aneurisma untuk mencegah jangan sampai Aneurisma pecah kembali, karena bila Aneurisma pecah kembali akan membawa konsekuensi buruk terhadap pasien.

Penanganan Aneurisma ada dua pada prinsipnya, yaitu dengan menggunakan metode kateterisasi dan metode operasi dengan microsurgery.

Metode katerisasi yaitu dengan cara memasukan kateter melalui pembuluh darah paha dan kemudian ada kawat khusus yang digunakan untuk menyumpal kantung Aneurisma.

Sedangkan metode operasi dengan microsirjeri , disitu kita akan menjempit leher aneurisma, sehingga mengakibatkan  aneurisma menjadi terfokus. Kedua terapi masih merupakan pilihan pada penanganan aneurisma, masing-masing memiliki indikasi kelebihan dan kekurangan.

Continue Reading

Cover Story

Dr. dr. Mardjono Tjahjadi, SpBS, PhD: It’s All About Humanity

Published

on

Dr. dr. Mardjono Tjahjadi, SpBS, PhD: It’s All About Humanity

Finroll.com – Sesungguhnya, menjadi seorang dokter adalah impian saya sejak kecil. Mungkin bukan saya saja, tapi sebagian manusia lain yang hidup di muka bumi ini. Entah apa pemicunya, tapi dulu ketika guru SD saya bertanya apa cita-cita kamu, dokter menjadi sosok yang paling pertama hadir.

Perawakannya yang profesional, jas putih yang tidak pernah lepas, stetoskop melingkar di leher, sikapnya yang ramah, dan bisa memberikan “obat manjur” dari kesengsaraan manusia atas penyakit membuat saya terbius.

Seiring berjalannya waktu, takdir berkata lain, dan impian menjadi seorang dokter terbang sebagai angan belaka. Hingga suatu hari, saya bisa “mengkonsultasikan” kegundahan hati saya akan profesi tersebut kepada seseorang yang tepat di bidangnya, ya dokter sungguhan.

Kebetulan, ada seorang dokter yang bisa saya temui. Ia merupakan dokter spesialis bedah saraf, beliau adalah Dr. dr. Mardjono “Joy” Tjahjadi, SpBS, PhD. Berbincang sedikit melalui pesan singkat, saya pun berkesempatan bertemu dr Joy panggilan akrabnya di sela-sela kesibukannya di salah satu rumah sakit swasta ternama di Jakarta.

Selepas makan siang sekitar pukul 14.00 WIB, saya pun bertemu dr Joy. “Halo dokter Joy, apa kabar?” sapa saya, yang dibalas senyum ramah sang dokter dan mempersilahkan saya duduk. Jujur, saya sebelumnya belum pernah bertemu dengan dr Joy, dan kesan pertama saya bertemu dengannya ternyata seru. Usianya saya taksir mungkin sekitar 30an, raut wajahnya berseri, dan gaya bicaranya serius tapi santai. Tipikal dokter jaman now.

Beberapa menit berbicang, dr Joy memang sesuai nama panggilannya yang berarti “seru”. Ia tidak canggung sedikitpun saat ditanya macam-macam soal kesehatan. Ya, memang saya masih awam soal dunia bedah saraf. Terlebih spesialisasi beliau, yaitu mengenai penyakit aneurisma otak. Oh ya, dr Joy juga telah menerbitkan sebuah buku bacaan medis berjudul “Memahami Aneurisma Otak”.

Dr. dr. Mardjono Tjahjadi, SpBS, PhD: It’s All About Humanity

dr Joy pada saat melakukan operasi Aneurisma, Foto: Dokumentasi pribadi

Aneurisma sendiri berasal dari bahasa Yunani yang berarti pelebaran. Aneurisma bisa didefinisikan sebagai pelebaran dinding pembuluh darah karena lemahnya struktur dinding pembuluh darah tersebut.

Sementara, Aneurisma otak adalah membesarnya pembuluh darah pada otak, akibat dinding pembuluh darah yang lemah. Ketika aliran darah menekannya, maka pembuluh darah yang lemah itu akan menggelembung layaknya balon.

Hal ini bisa berakibat serius apabila membesarnya pembuluh darah seperti sebuah gelembung sudah tidak tertahankan, hingga akhirnya rembes bahkan pecah. Jika sudah pecah, maka tahapan selanjutnya bisa berakibat pada penyakit stroke.

Kasus ini bisa menimpa siapa pun, namun lebih banyak terjadi pada wanita berusia di atas 40 tahun. Fatalnya, kebanyakan kasus Aneurisma otak baru memberikan gejala ketika pembuluh darahnya sudah pecah. Tercatat hanya 1 dari 10 penderita yang memberikan gejala klinis.

Ditengah keasyikan obrolan seputar dunia kesehatan, saya pun ingat tujuan saya menemui dr Joy. “Berkonsultasi” pertanyaan hati soal alasan utama seorang dokter menjadi dokter.

“Dok, kenapa sih dulu bisa terpikir mau jadi dokter, apa memang impian sejak kecil atau bagaimana?” sela saya singkat.

Dokter: to be man for others

Dr. Joy terdiam, tersenyum lebar, dan tertawa. Suatu gestur tubuh yang jarang saya lihat pada seorang dokter yang kesannya begitu kaku dan menjunjung profesionalitas kerja. Ia memejamkan matanya, seakan mencari memori lama akan sebuah anak yang berkeinginan menjadi seorang dokter spesialis, dan akhirnya mampu menyelamatkan banyak nyawa manusia.

“Jadi sebenarnya di bidang ilmu kedokteran, salah satu bidang ilmu yang paling sistematis adalah saraf, terutama otak ya. Nah kenapa saya pilih spesialis bedah saraf, ya karena tadi kita bekerja pada satu bidang yang sistematis dan kompleks,” bukanya.

“Nah semua ini mulainya waktu SMA. Menjadi seorang dokter memang salah satu cita-cita saya, selain pengen juga jadi bankir, pengen jadi lawyer, dan lainnya. Cuma yang saya lihat, kalau kita jadi dokter itu kita bisa langsung menolong orang ya, dan orangnya bisa merasakan manfaat dari kita,” tuturnya sambil tersenyum lebar.

Sejak saat itulah, ia akhirnya bertekad dan meneguhkan hatinya untuk menjadi seorang dokter. Tujuannya cuma satu, menolong sesama yang mencari kesembuhan atas penyakitnya.

Perjalanan Dimulai..

Kisahnya sebagai “penyelamat manusia” pun diawali pada tahun 1998, saat itu ia berkuliah jurusan kedokteran di Universitas Atma Jaya. Singkat cerita setelah lulus di tahun 2004, anak kedua dari empat bersaudara ini menyadari jika bidang saraf, sangat menyita perhatiannya.

Hingga pada tahun 2005, ia bekerja sebagai dokter umum PTT di RSUD Provinsi NTT, Kupang. Kebetulan, ia ditempatkan di poli bedah saraf dan membantu dokter spesialis bedah saraf disana.

Sambil menyelam minum air, dr Joy muda mulai mempelajari sedikit demi sedikit spesialisasi saraf. Ia pun mengaku, salah satu momen terbaiknya menjadi seorang dokter terjadi pada masa ini.

“Kasus pertama saya waktu membantu dokter bedah saraf itu operasi, adalah membantu menangani kasus pendarahan otak seorang pasien akibat kecelakaan. Waktu itu pasien saya datang dengan tingkat kesadaran yang hampir koma, nah begitu selesai di operasi secara bertahap, tingkat kesadarannya kembali normal. Nah disitu saya lihat, wah bahagia banget,” jelasnya sambil berkaca-kaca dan tersenyum.

Saya bisa melihat jelas disini, apa arti seorang dokter dalam bekerja. Tanpa banyak basa-basi, prioritas utama adalah menyelamatkan nyawa manusia. It’s all about humanity. Luar biasa.

“Kebahagiaan seorang dokter adalah bisa melakukan sesuatu bagi kesehatan pasien. Apalagi bisa melihat pasiennya sembuh lagi, dari yang tadinya hampir koma sampai bisa sehat. Itu dasar yang akhirnya membuat saya ingin jadi dokter bedah saraf,” tukasnya.

Dua tahun ia habiskan menjadi dokter PTT di Kupang, sampai akhirnya ada info pendaftaran spesialisasi bedah saraf di Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung, Jawa Barat.

Dari Jawa Barat Menuju Daratan Eropa

Setelah mendapatkan gelar dokter spesialisasi bedah saraf dari Universitas Padjajaran Bandung di tahun 2012, dr Joy tidak puas. Ia langsung melamar kuliah lagi untuk lebih mendalami sub spesialis Aneurisma otak di Helsinki University Central Hospital, Finlandia dan mulai kuliah pada 2014.

“Jadi dulu (2012) sub spesialis Aneurisma otak di Indonesia masih jarang. Dalam pemikiran saya, bidang ini masih sangat perlu memerlukan pengembangan. Menurut saya secara umum dokter bedah saraf di Indonesia pun sampai saat ini masih relatif jarang, sekitar 350 orang di seluruh Indonesia. Jumlah ini masih sangat kurang,” tegasnya.

Belajar di negeri orang, jauh dari keluarga dan tanah air membuat mata dr Joy terbuka luas. Cakrawala dunia medis bedah saraf seakan mengalir tanpa terbendung dari pengalaman dokter di seluruh dunia. Ia seperti menemukan pelepas dahaga akan rasa keingintahuannya pada sub spesialis Aneurisma Otak.

Dr. dr. Mardjono Tjahjadi, SpBS, PhD: It’s All About Humanity

Foto: Dokumentasi pribadi

“Enggak cuma dokter-dokter negara Asia Tenggara yang datang belajar, bahkan dokter dari Jepang, Amerika, Prancis belajar disini. Setiap bulan ada profesor bedah saraf dari seluruh dunia datang. Disini saya mengetahui, ternyata pendidikan dan keilmuan kedokteran Indonesia enggak kalah dari mereka. Kita bisa nyambung, gak ada gap ilmu pengetahuan. Ini yang paling menarik,” jelasnya seru.

Dokter Juga Manusia

Ya, dokter juga manusia biasa. dr Joy ternyata punya hobi naik gunung, meski saat ini hal tersebut sudah jarang ia lakukan karena kewajibannya mengobati pasien yang butuh pertolongannya.

“Sebenarnya saya punya hobi naik gunung. Dulu sih sempet ya, tahun lalu naik Gunung Gede. Tapi sekarang gimana ya, hahahaha,” ungkapnya sambil tertawa lepas.

Ia memahami, dengan berprofesi sebagai seorang dokter membuatnya harus rela jika panggilan tugas memotong waktunya menjalankan hobi, bahkan waktu bersama keluarga.

“Seringkali saat nonton bioskop atau saat aktivitas bermain sama anak-anak, eh tiba-tiba ada panggilan ke RS. Jujur saja, dalam hati kecil sempat terbersit bisa ditunda enggak ya (panggilan ini), aduh ternyata pasiennya pendarahan otak. Sesuatu yang harus segera ditolong, terpaksa harus saya tinggalkan aktivitas saya bersama keluarga. Sudah sangat sering saya meninggalkan acara keluarga karena komitmen saya,” tandasnya.

“Tampaknya anak-anak sudah maklum dengan kerjaan papanya. Saya cukup bangga mereka tidak kecewa dengan kondisi ini,” lanjut bapak dari tiga orang anak ini.

Tak jarang, panggilan tugas juga datang di kala dirinya baru sampai rumah tengah malam setelah selesai beraktivitas seharian di rumah sakit. Harus mau, dr Joy mesti menuju rumah sakit yang dimana ada seseorang pasien yang sangat menunggu bantuannya.

“Ya itu sering, karena untuk bedah saraf dan umumnya penyakit yang berhubungan dengan bedah gak bisa ditunda. Karena time is brain buat saya,” pungkasnya.

Tips Sehat Seorang Dokter Bagi Dirinya Sendiri

Terlepas dari itu semua, saya makin penasaran tentang rahasia seorang dokter untuk menjaga kesehatannya. Tentu, selama ini kan memang lumrah seorang dokter menasehati pasiennya agar hidup sehat. Tapi bagaimana tips sehat dr Joy bagi dirinya sendiri?

“Saya pribadi meski pun berat, tetap berkomitmen olahraga seminggu minimal tiga kali, jogging aja,” ungkapnya serius.

“Eh dulu saya juga pernah daftar gym sih, tapi ya daftar aja enggak pernah sempet kesana, hahahaha,” tambahnya.

Harapan dan Impian Seorang Dokter

Dua jam saya berbincang panjang lebar dengan dr Joy, pengalaman yang sangat seru sekali. Bisa menemukan sisi lain dari dokter dibalik profesi dan tuntutan kerjanya yang begitu banyak membutuhkan pengorbanan dan keteguhan hati.

Sebelum berpamitan, dr Joy mengungkapkan isi hati kecilnya untuk masa depan. Sama seperti dahulu, ketika dirinya memulai semua ini dari awal. Dimulai dari impian dan harapan.

“Saya ingin terus mengembangkan pelayanan bedah saraf bagi masyarakat, khususnya dalam Aneurisma otak. Masih banyak pekerjaan yang harus kita kerjakan, saya dan beberapa tim dokter lainnya juga terus meningkatkan pelayanan sembari terus belajar. Mungkin suatu saat nanti penyakit Aneurisma otak bisa sembuh dengan minum obat tanpa operasi. Itu harapannya,” tutup pria 39 tahun ini.

Continue Reading
Advertisement

Trending