Connect with us

Nasional

Kiat-Kiat Move On dan Tetap Rukun Usai Pemilu 2019

Published

on


Kiat-Kiat Move On dan Tetap Rukun Usai Pemilu 2019

Finroll.com – Delapan bulan sudah masyarakat disuguhi masa-masa kampanye para calon kandidat yang akan maju sebagai calon Legislatif (Caleg) ataupun calon Presiden-Wakil Presiden (Cawpres-Cawapres).

Menjual ide, gagasan dan program-program pro rakyat merupakan harga tawar menawar untuk mendapatkan suara. Bahkan perdebatan Intelektual pun kerap terjadi disana-sini demi melumbung suara pemilih.

Banyak momen yang tergambar pada pesta demokrasi tahun ini, maksud hati pemilu damai, namun apa daya gesekan panas pun masih ada yang terjadi. Masalah sudah pasi yaitu ‘BEDA PILIHAN”. Tak hanya itu, hoax, ujaran kebencian, dan fitnah merupakan bagian dari momen pesta demokrasi pemilu 2019.

Yah, namanya juga pemilu, berbeda pilihan adalah hal biasa, namun persatuan dan kerukunan harus tetap dijaga. Buat yang beda pilihan tapi masih bisa bedampingan, “Terimakasih sudah menujukan kedewasaan dalam berdemokrasi”.

Dan untuk masyarakat, khusunya para pendukung dan tim kampanye diharapkan dapat kembali membangun kebersamaan setelah Pemilu 17 April 2019.

Mengutip laman republika, Selasa (16/4/2018),Pengamat media sosial dari Institut Media Sosial dan Diplomasi, Hariqo Wibawa Satria mengatakan terdapat beberapa tips agar masyarakat terutama pendukung hingga tim kampanye para peserta Pemilu dapat move on atau bangkit kembali terutama untuk menebar persatuan.

“Jika saat kampanye mereka sukses membuat tagar yang menjelekkan salah satu capres hingga menjadi trending topik di dunia, maka setelah pilpres, seharusnya mereka juga mampu mampu membuat trending topik yang membela kepentingan nasional Indonesia,” ucap Hariqo

Menurut Hariqo ada beberapa tips agar panasnya Pemilu tak berlarut-larut pasca pencoblosan. Hal pertama yang perlu dilakukan yakni melupakan janji-janji aneh yang disampaikan pendukung para peserta Pemilu. Semisal janji potong leher, potong telinga dan lainnya.

Masyarakat diharapkan lebih fokus menagih janji-janji kepada para peserta Pemilu yang memenangi kontestasi itu. Hariqo juga mengingatkan agar masyarakat menghilangkan label negatif yang kerap disematkan pada masing-masing kubu dan pendukung peserta pemilu.

Kedua yakni menyampaikan konten-konten sejuk semisal ucapan selamat kepada pendukung yang pilihannya memenangi Pemilu dan menjauhi konten yang memprovokasi. Ketiga menghormati pendukung yang pilihannya kalah dalam Pemilu.

Tips agar terciptanya kedamaian pasca pemilu yang keempat menurut Hariqo yakni dengan langkah aparat penegak hukum yang segera melakukan penindakan terhadap berbagai pelanggaran yang ditemukan dalam pemilu.

“Kelima move on bagi yang menang adalah secepat mungkin bekerja merealisasikan janji-janji, bukan memikirkan cara membalas dendam karena sakit hati di masa kampanye. Justru yang harus dilakukan merangkul semua golongan untuk merealisasikan janji-janji tersebut,” kata Hariqo.

Tips keenam menurut Hariqo yakni dengan para calon anggota legislatif (caleg) menyampaikan terimakasih pada masyarakat dan pihak-pihak yang terlibat menyukseskan jalannya pemilu.

Tips terakhir yakni menyadari akan berharganya sebuah persatuan. Menurut Hariqo, masyarakat terutama pendukung harus mendahulukan kepentingan nasional dibanding kepentingan masing-masing kubu yang berkontestasi dalam Pemilu.

“Kepentingan nasional haruslah diatas kepentingan Jokowi-Maruf maupun Prabowo-Sandi. Renungi konten yang kita unggah di medsos, fitnah, hoaks yang kita buat dan sebarkan hanya menguntungkan sementara kandidat yang kita dukung, namun merugikan persatuan dan kesatuan bangsa untuk waktu yang lama,” katanya.

Nasional

Tembus 8 % Versi Hitung Cepat, 2 Hal Ini Penyebab Suara PKS Naik

Published

on

Tembus 8 % Versi Hitung Cepat, 2 Hal Ini Penyebab Suara PKS Naik

Finroll.com – Hasil hitung cepat atau quick count sementara di sejumlah lembaga survei menunjukkan bahwa Partai Kesejahteraan Sosial (PKS) mampu mencapai angka 8 persen. Pengamat politik dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, Adi Prayitno menilai ada dua faktor yang menjadi alasan naiknya suara PKS.

“Pertama posisi PKS yang konsisten berada di barisan depan kubu oposisi pemerintah,” ujar Adi saat dihubungi, Kamis, 18 April 2019.

Perolehan suara PKS pada Pemilu 2019 ini diprediksi naik dibandingkan pemilu sebelumnya. Pemilu 2014, PKS meraih suara 6,79 persen.

Menurut Adi, PKS dan Partai Gerindra mendapat berkah elektoral karena berada di kelompok posisi. Akan tetapi, dua partai pengusung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, yaitu Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Demokrat tidak mendapatkan berkah yang sama. Alasannya, kata Adi, kedua partai itu setengah hati mendukung pasangan nomor urut 02.

Adi menilai, meski PAN dan Demokrat kerap mengkritik kinerja pemerintahan Joko Widodo atau Jokowi, tetapi di sisi lain mereka juga acap kali menunjukkan berpihak ke pemerintah. “Nah, kalau PKS tidak begitu. PKS ambil garis yang cukup tegas dengan pemerintah,” tutur Adi.

Ia menambahkan, faktor kedua yang membuat PKS meraup suara banyak karena sebagian besar pemilih Islam yang tergabung dalam Persatuan Alumni 212 merupakan pendukung paslon 02. Sehingga, di mata pemilih Islam, PKS pun bukan hanya partai yang dianggap murni menentang pemerintah.

“Mereka juga melihat PKS memiliki warna Islam yang serupa. Muslim perkotaan, kelompok terpelajar,” kata Adi.

Berdasarkan hasil penghitungan cepat saat ini, PKS mendapatkan suara sekitar 8-9 persen. Quick count Litbang Kompas menunjukkan PKS mendapat suara 8,56 persen, Indo Barometer mencatat PKS meraup 9,66 persen, dan LSI Denny JA merilis PKS memperoleh 8,04 persen.

Continue Reading

Nasional

Suara PPP di Pemilu 2019 Anjlok, Efek Romy Kena OTT?

Published

on

Suara PPP di Pemilu 2019 Anjlok, Efek Romy Kena OTT?

Finroll.com – Partai Persatuan Pembangunan (PPP) selangkah lagi akan kembali melenggang ke Senayan. Hal ini sebab, dari hasil quick count, sejumlah lembaga survei memastikan perolehan suaranya sudah di atas ambang batas parlemen 4 persen. Seperti hasil yang dirilis Poltracking Indonesia PPP memperoleh 4,48 persen dari suara masuk 99,30 persen; Charta Politika 4,82 persen dari suara masuk 98,6 persen; LSI Denny JA 4,34 persen dari suara masuk 99,7 persen.

Menanggapi hal ini, Wasekjen PPP Achmad Baidowi mengatakan, dirinya sudah meyakini sejak awal jika prediksi partainya tidak akan lolos akan salah. Menurutnya, kinerja mesin partai terus bergerak, ditambah PPP sudah teruji di 10 pemilu. Hal itu membuat keyakinan muncul di pemilu 2019 PPP juga akan kembali lolos.

“Para caleg bekerja maksimal dan pemilih tradisional PPP masih bertahan, serta kita juga menjangkau pemilih baru. Meskipun PPP kena musibah tapi kami masih bisa keluar dari kemelut,” ujar Baidowi, Kamis (18/4).

Ditangkapnya Romahurmuziy memang diakui Baidowi menjadi musibah partai. Namun, dengan segala upaya PPP tetap bisa keluar dari kesulitan itu.

Meski begitu, PPP masih memiliki catatan minor, mengingat perolehan suaranya turun dari hasil pemilu 2014. Di mana dari hasil hitung resmi KPU kala itu PPP memperoleh 6,53 persen.

Fakta ini dikatakan Baidowi akan menjadi bahan evaluasi. Ia pun berharap agar pemilu presiden dan pemilu legislatif agar tidak berlangsung bersamaan.

“Harus diakui sistem pemilu turut berpengaruh yakni dengan pemilu serentak membuat kinerja parpol banyak yang tenggelam,” pungkasnya.

Namun, Baidowi menilai, jika pemilu tetap berjalan serentak, maka harus ada peninjauan aturan presidential threshold. Supaya persaingan tidak hanya terfokua pada dua pasangan calon seperti pemilu 2019.

Terpisah, pengamat politik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Adi Prayitno mengatakan, PPP mampu keluar dari musibah besar, yaitu tertangkapkanya mantan Ketua Umumnya, Romahurmuziy satu bulan sebelum pencoblosan. Meski ada ganjalan itu, mesin partai ini tetap bekerja dan memperoleh suara untuk bertahan di Senayan.

“PPP memiliki infrastruktur politik yang baik hingga tingkat daerah. Mesin partainya pun bekerja, sehingga walaupun mendapatkan musibah menjelang pemilu berlangsung, partai ini masih tetap eksis di Pemilu kali ini,” kata Adi.

Adi menilai, lembaga survei sebelum Pemilu seringkali gagal membaca kekuatan partai Islam seperti PPP yang hanya dilihat di permukaan. Sehingga terlihat PPP akan gagal bertahan di parlemen. Padahal anatomi kekuatan politik PPP itu terletak di Caleg dan jaringan struktur yang terbangun masif cukup lama.

“Mungkin saat disurvei, kekuatan caleg dan jaringan belum terpotret utuh sehingga data yang muncul tidak utuh. Dan hampir tiap pemilu lembaga survei selalu gagal memprediksi partai Islam macam PPP yg selalu diklaim tak lolos. Survei-survei sepertinya harus mengevaluasi akurasi survei mereka,” tambahnya.

Ia menambahkan bahwa PPP memiliki akar masa lalu yang cukup kuat. Sejarahnya bisa dilacak sejak bangsa ini ada. Maka jaringan grass root-nya kuat.

Continue Reading

Nasional

Panwascam Dikeroyok Masa Pendukung Caleg, Kotak dan Surat Suara Dibakar

Published

on

Panwascam Dikeroyok Masa Pendukung Caleg, Kotak dan Surat Suara Dibakar

Finroll.com – Anggota Panitia Pengawas Kecamatan (Panwascam) di Daerah pesisir Bukit, Kota Sungai Penuh, Jambi dikeroyok masa yang diduga pendukung salah satu calon legislatif (Caleg) dari dapil II kota sungai penuh.

Seperti dilansir laman viva, Kamis (18/4), Peristiwa itu terjadi di area TPS 2, Desa Kota Bento, Kecamatan Pesisir Bukit, pukul 01.00 WIB, Kamis, 18 April 2019. Saat itu Suardi tengah bertugas sebagai Panwascam.

Menurut Ketua Bawaslu Sungai Penuh, Jumiral Lestari, saat itu Suardi bersama tiga staf Panwascam mendatangi TPS 2, karena diduga ada warga yang berbuat onar di sana dan memprovokasi massa untuk membakar kotak suara.

“Nah, pada saat Suardi mengeluarkan HP (handphone) untuk merekam, tiba-tiba ada yang memukul dan terjadilah pengeroyokan dan penganiayaan,” kata Jumiral.

Jumiral mengaku langsung ke lokasi kejadian dan melaporkan peristiwa tersebut kepada polisi, sekalian mengantar Suardi ke rumah sakit terdekat untu visum. Aparat lain Bawaslu bersama Polisi segera mengamankan lokasi penganiayaan itu.

Massa yang belum diketahui identitasnya itu juga membakar kotak suara dan surat suara di tiga TPS. Belum diketahui pasti motifnya, dan aparat masih menyelidiki peristiwa ini.

Continue Reading
Advertisement

Trending