Connect with us

Hukum & Kriminal

Kalian Sibuk Apa Sekarang? Jangan Lupa Kasus Novel Baswedan

Published

on


Kalian Sibuk Apa Sekarang? Jangan Lupa Kasus Novel Baswedan

Finroll.com – 700 hari lebih sudah kasus penyerangan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan belum juga terungkap. 11 April 2017 penyidik terbaik KPK mendapat serangan penyiraman air keras kea arah wajahnya oleh orang yang tak dikenal, peristiwa tersebut terjadi saat novel selesai salat subuh di masjid dekat rumahnya.

Dampak dari peristiwa tersebut, Novel mengalami luka parah di bagian mata kirinya dan mengharuskannya menjalani pengobatan disalah satu Rumah Sakit ternama di Singapura. Kini sebelah mata kiri penyidik KPK tersebut masih buram untuk melihat, buramnya pengelihatan mata kiri Novel Baswedan seburam kasusnya yang sampai saat ini tak ada titik terang atas siapa dalang pelaku penyiraman dirinya.

Kasus teror yang dialami Novel mengundang simpati dan solidaritas dari tokoh nasional, LSM, aktivis antikorupsi sampai masyarakat umum. Berbagai unsur elemen masyarakat mengecam aksi penyerangan terror tersebut, Publik pun menuntut keras kepada penegak hukum dan pemerintah untuk membongkar siapa dalang dibalik penyerangannya.

Berselang 2 tahun kasus tak terungkap, 8 Januari 2019 kepolisian RI membentuk tim gabungan untuk mengusut tuntas kasus terror yang dialami Novel. Namun 3 bulan sudah sampai saat detik ini, tim gabungan bentukan Polri masih juga belum membuahkan hasil kerja.

Kalian terlalu sibuk bela capres?

Pemilihan presiden (pilpres) sepertinya sudah membuat kita lupa bahwa ada kasus Novel yang belum  juga diungkap. Bahkan akibat dari mendukung capres, masyarakat saat ini terbelah menjadi dua.

Belum lagi Tim kampanye, Teriak sana teriak sini, dukung si A dukung si B, menguras tenaga dan pikiran demi kemenangan sang jagoan. Celoteh janji-janji di padu suarakan, bergemaa lantang masuk ke telinga-telinga rakyat. Ada yang memerkan hasil kerja, ada juga yang menawarkan apa yang akan dilakukan ketika sudah terpilih.

Namun semua teriakan itu akan menjadi sia-sia jika korupsi masih menjamur di bumi Indoneisa. Kesejahteraan rakyat yang dijanjikan  hanya akan menjadi sebuah angan dan mimpi. Karena korupsilah sumber utama penderitaan rakyat sebenarnya, lewat jabatan, tahta dan kekuasaan, cara haram untuk mendapatkan uang bisa mereka (koruptor) halalkan.

Tak terasa 2 Tahun sudah kasus Novel bergulir, rasanya kita sengaja dibuat Amnesia terhadap kasus Novel Baswedan. Tak menampik jika pilpreslah yang  telah membuat kita lupa soal kasus Novel. Semua media masa dan online pun isinya sibuk menceritakan Si A dan si B.

“Tapi semoga saja Penegak hukum dan Pemerintah Tak juga ikut-ikutan lupa”.

Hukum & Kriminal

Gerindra Bantah Prabowo Ditetapkan Sebagai Tersangka

Published

on

By

Capres Prabowo: Selama Ini Kita Diframing Isu SARA, Padahal Pancasilais

Finroll.com – Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad membantah bahwa Ketum Partai Gerindra menjadi tersangka makar. Dia menegaskan dalam bahwa dalam Surat Perintah Dimulai Penyidikan (SPDP) itu Prabowo tertulis sebagai terlapor. Sementara Eggi Sudjana adalah tersangka.

Dasco memberikan penjelasan. “Tidak benar telah terbit SPDP terhadap pak Prabowo terkait kasus makar. Yang ada adalah SPDP terhadap pak Eggy Sudjana.

Dia menjelaskan, Prabowo memang turut dijadikan terlapor oleh pelapor tapi status Prabowo bukan tersangka bahkan juga bukan saksi

“Tidak ada setitik faktapun yang bisa mengaitkan pak Prabowo dengan tuduhan makar. Sebagaimana kita tahu bahwa Pak Prabowo senantiasa berjuang dalam koridor hukum dan konstitusi,” lanjutnya.

Hal tersebut disampaikan Dasco merespons soal beredarnya surat polisi yang menyebutkan bahwa Prabowo menjadi tersangka. Surat terindikasi hoax tersebut beredar di grup WhatsApp tanpa konfirmasi.

Continue Reading

Hukum & Kriminal

Polisi Tangkap Lieus Sungkharisma Terkait Kasus Dugaan Makar

Published

on

Polisi Tangkap Lieus Sungkharisma Terkait Kasus Dugaan Makar

Finroll.com – Juru kampanye Badan Pemenangan Nasional atau BPN Prabowo Subianto – Sandiaga Uno, Lieus Sungkharisma diciduk oleh penyidik Kepolisian Daerah Metro Jaya di kediamannya pagi ini, 20 Mei 2019. Penangkapan Lieus ini diduga terkait kasus makar.

“Iya betul, saudara Lieus dijemput oleh penyidik jam 09.00 WIB. Sekarang sedang dalam perjalanan menuju Polda Metro Jaya untuk menjalani pemeriksaan,” ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo di kantornya, Jakarta Selatan pada Senin, 20 Mei 2019.

Lieus dilaporkan oleh seseorang bernama Eman Soleman atas dugaan penyebaran berita bohong dan makar pada 7 Mei 2019 ke Bareskrim Mabes Polri. Laporan terhadap Lieus diterima dengan nomor laporan LP/B/0441/B/2019/Bareskrim tertanggal 7 Mei 2019.

Namun, laporan Lieus di Bareskrim Polri kini telah dilimpahkan ke Polda Metro Jaya. “Kemarin kami limpahkan berkas kasusnya ke Polda Metro Jaya dan sudah diterima oleh Direktorat Reserse Kriminal Umum,” ucap Dedi.

Dalam laporan tersebut, Lieus Sungkharisma dilaporkan atas Tindak Pidana Penyebaran Berita Bohong atau hoax dengan Undang-Undang (UU) Nomor 1 Tahun 1946 tentang KUHP pasal 14 dan atau pasal 15 serta terhadap Keamanan Negara atau Makar UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang KUHP Pasal 107 juncto asal 110 juncto Pasal 87 dan atau Pasal 163 bis juncto Pasal 107.

Lieus sebelumnya sudah dipanggil oleh penyidik ketika kasusnya masih ditangani oleh Bareskrim. Panggilan pertama dilayangkan pada 14 Mei 2019. Ia absen karena masih mencari pengacara.

Lalu, pada panggilan kedua, 17 Mei 2019, Lieus kembali mangkir dengan alasan surat panggilan penyidik belum ia terima.(tempo)

Continue Reading

Hukum & Kriminal

Polri Tangkap 68 Terduga Teroris Sepanjang 2019, Terbanyak Bulan Mei

Published

on

Polri Tangkap 68 Terduga Teroris Sepanjang 2019, Terbanyak Bulan Mei

Finroll.com – Jajaran Kepolisian RI (Polri) terus menjaga situasi keamanan agar tetap kondusif dengan memburu para terduga teroris. Sepanjang tahun ini (Januari-Mei 2019), sudah 68 terduga teroris yang ditangkap.

Dari jumlah itu, jumlah teroris yang terbanyak ditangkap pada Mei atau menjelang pengumuman resmi hasil pemilihan presiden (pilpres) oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada 22 Mei mendatang. Sepanjang bulan ini, ada 29 terduga teroris yang ditangkap Polri.

“Polri melakukan upaya paksa untuk menangkap 68 terduga teroris sepanjang tahun ini,” kata Kepala Divisi (Kadiv) Humas Mabes Polri, Irjen M Iqbal saat memberikan konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (17/5/2019).

Irjen Iqbal lalu memerinci ada empat terduga teroris yang ditangkap pada Januari lalu. Kemudian, menyusul 1 tersangka pada Februari, 20 tersangka pada Maret, 14 orang pada April, dan 29 orang pada Mei 2019.

“Dari 68 terduga teroris yang ditangkap, 8 orang di antaranya meninggal dunia. Salah satunya adalah terduga teroris yang meledakkan diri di Sibolga, Sumatera Utara,” ujar Iqbal.

Sementara, 7 terduga teroris yang tewas lainnya ditembak aparat Polri yang sedang melakukan operasi penangkapan. “Tujuh orang itu ditembak, karena mereka mengancam petugas,” ujar Iqbal.

“Khusus 29 tersangka yang ditangkap bulan ini terafiliasi JAD dengan rincian 18 tersangka ditangkap di Bekasi, Kerawang, Tegal, Nganjuk, dan Bitung Sulawesi Utara. Ini adalah proses pengembangan panjang, preventive strike,” sambungnya.

Ada juga yang berperan menyembunyikan DPO JAD di Lampung yang merencanakan aksi amalia atau aksi teror dengan menyerang kerumumunan massa pada 22 Mei mendatang dengan menggunakan bom.

Continue Reading
Advertisement

Trending