Connect with us

Hukum & Kriminal

Jelang Debat Pilpres Tim Gabungan Kasus Novel Baswedan Dibentuk, Adakah Hubungannya?

Published

on


Sejumlah pihak menduga pembentukan Tim Gabungan kasus Novel Baswedan sebagai persiapan Presiden Joko Widodo dalam debat pertama pemilihan presiden 2019. 

Finroll.com – Polri telah membentuk tim gabungan untuk mengungkap kasus penyiraman air keras terhadap penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan. Pembentukan tim gabungan tersebut berdasarkan surat perintah pada Selasa, 8 Januari 2019 dengan ditandatangani langsung oleh Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian.

Pembentukan tim gabungan ini berdasarkan Surat Tugas (ST) dari Kapolri Jenderal Tito Karnavian dengan Nomor Sgas/3/I/HUK.6.6/2019. Dalam surat tersebut, ada 65 anggota yang dipimpin langsung oleh Tito, selain dari polisi juga ada dari pihak KPK sebanyak lima orang.

Kemudian dari pihak luar Polri-KPK juga ada tim pakar sebanyak tujuh orang yakni mantan Wakil Ketua KPK, Indriyanto Seno Adji, peneliti LIPI, Hermawan Sulistyo, Ketua Umum Ikatan Sarjana Hukum Indonesia, Amzulian Rifai, Ketua Badan SETARA Institute, Hendardi, Komisioner Kompolnas, Poengky Indarti, dan Komisioner Komnas HAM periode 2007-2012, Nur Kholis dan Ifdhal Kasim.

Terkait pembentukan tim gabungan ini, Tim Advokasi penyidik KPK Novel Baswedan heran mengapa Polri seolah membentuk tim gabungan jelang debat Pipres. Tim advokasi khawatir pembentukan tim gabungan ini hanya untuk menyediakan jawaban bagi Presiden sekaligus capres petahana Joko Widodo (Jokowi) dalam debat nanti.

“Aneh, kok seolah bekerja pas mau Debat. Saya khawatir dibentuk tim ini, hanya untuk menyediakan jawaban buat Jokowi saat debat,” kata salah satu anggota tim advokasi Novel, Haris Azhar, Jumat (11/1/2019).

Apalagi debat perdana jelang Pilpres 2019 yang diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) tersebut akan mengangkat tema hukum, HAM, korupsi dan terorisme.

Anggota tim advokasi Novel lainnya, Alghifari Aqsa, tetap menilai pembentukan tim gabungan pencari fakta (TGPF) secara independen merupakan jalur yang realistis untuk mengungkap teror air keras terhadap Novel. Menurutnya, tim gabungan bentukan Polri tidak independen.

Baca Juga : Jadi Sasaran Teror, Agus Raharjo Berencana Persenjatai Anggota KPK

Dilain tempat, Koordinator juru bicara Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan pihaknya berprasangka baik ihwal tujuan pembentukan Tim Gabungan kasus Novel Baswedan oleh Kepolisian Republik Indonesia. Dahnil berharap Tim Gabungan itu tak dibentuk sekadar untuk mengantiispasi debat pemilihan presiden 17 Januari mendatang.

“Kami sih berprasangka baik saja. Berprasangka baik itu bukan dipersiapkan untuk menjawab pertanyaan menjelang debat,” kata Dahnil ketika dihubungi, Jumat, 11 Januari 2019.

Sementara itu, desakan dari masyarakat sipil untuk membentuk tim gabungan pencari fakta yang independen sudah sejak lama digaungkan. Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan ( Kontras) Yati Andriyani mengatakan jika melihat dari komposisi anggota, tim gabungan tersebut tidak memenuhi harapan masyarakat sipil terkait aspek independensi.

“Soal independensi juga tidak memenuhi ekspektasi masyarakat sipil. Anggotanya secara komposisi juga kan ‘dari kita untuk kita kepada kita’. Hendardi dan Hermawan Sulistyo itu kan penasihat Kapolri ada juga dari Kompolnas,” tambah Yati.

Hukum & Kriminal

KPK Panggil 5 Anggota DPRD Kabupaten Bekasi Terkait Suap Meikarta

Published

on

KPK Panggil 5 Anggota DPRD Kabupaten Bekasi Terkait Suap Meikarta

Finroll.com – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memanggil lima anggota DPRD Kabupaten Bekasi dalam penyidikan kasus suap pengurusan perizinan proyek pembangunan Meikarta di Kabupaten Bekasi. Lima anggota DPRD Kabupaten itu dijadwalkan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Bupati Bekasi nonaktif Neneng Hassanah Yasin (NHY).

“Hari ini, dijadwalkan pemeriksaan terhadap lima anggota DPRD Kabupaten Bekasi sebagai saksi untuk tersangka NHY terkait kasus suap pengurusan perizinan proyek pembangunan Meikarta di Kabupaten Bekasi,” kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi di Jakarta, Kamis (17/1).

Lima anggota DPRD Kabupaten Bekasi itu masing-masing Abdul Rosid Sargan, Sarim Saepudin, Haryanto, Suganda Abdul Malik, dan Nyumarno. Dalam penyidikan kasus Meikarta, KPK menerima kembali pengembalian uang dari salah seorang unsur pimpinan DPRD Kabupaten Bekasi sebesar Rp70 juta.

Sebelumnya, sejumlah anggota DPRD Bekasi juga telah mengembalikan uang sebesar Rp110 juta ke KPK sehingga total pengembalian dari unsur DPRD adalah Rp180 juta. KPK menduga masih ada sejumlah anggota DPRD Bekasi lain yang pernah menerima uang atau fasilitas liburan dengan keluarga terkait perizinan Meikarta tersebut.

“Kami hargai pengembalian tersebut dan KPK kembali mengingatkan agar pihak-pihak lain yang telah menerima untuk kooperatif menginformasikan dan mengembalikan segera uang atau fasilitas lainnya yang telah diterima terkait perizinan proyek Meikarta ini,” ucap Febri.

Sebelumnya, KPK juga telah menerima pengembalian uang dari Bupati Bekasi nonaktif Neneng Hassanah Yasin dengan total sekitar Rp11 miliar sampai dengan saat ini.

KPK total telah menetapkan sembilan tersangka dalam kasus itu antara lain Direktur Operasional Lippo Group Billy Sindoro (BS), konsultan Lippo Group masing-masing Taryudi (T) dan Fitra Djaja Purnama (FDP), pegawai Lippo Group Henry Jasmen (HJ), Kepala Dinas PUPR Kabupaten Bekasi Jamaludin (J), Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Pemkab Bekasi Sahat MBJ Nahor (SMN).

Selanjutnya, Kepala Dinas Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Bekasi Dewi Tisnawati (DT), Bupati Bekasi nonaktif Neneng Hassanah Yasin (NHY), dan Kepala Bidang Tata Ruang Dinas PUPR Kabupaten Bekasi Neneng Rahmi (NR). Terdapat empat orang yang saat ini menjadi terdakwa dan dalam proses persidangan di Pengadilan Tipikor Bandung, yakni Billy Sindoro, Taryudi, Fitradjaja Purnama, dan Henry Jasmen Sitohang.

sumber republika

Continue Reading

Hukum & Kriminal

Aris Idol Disikat Polisi Ketika Lagi Isap Sabu di Apartemen

Published

on

Aris Idol Disikat Polisi Ketika Lagi Isap Sabu di Apartemen

Finroll.com – Kasus penyalahgunaan narkotika kembali menerpa artis dan public figure tanah air. Terbaru, Januarisma Runtuwene alias Aris Idol (jebolan Indonesia Idol 2008) tertangkap polisi ketika sedang menghisap sabu.

Sat Resnarkoba Polres Pelabuhan Tanjung Priok membekuk Aris dan empat temannya, di sebuah apartemen di kawasan Rasuna Said, Jakarta Selatan.

Dalam penggerebekan ini, polisi menyita barang bukti berupa sabu seberat 0,23 gram, sebuah bong, sebotol miras, dan empat buah handphone.

Setelah diperiksa intensif, Aris dan keempat temannya tadi pun dinyatakan positif mengonsumsi narkoba.

Baca Lainnya: Terjerat Kasus Narkoba, Steve Emanuel Ditangkap Polres Jakarta Barat

“Hasil tes urine ke 5 tersangka positif,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono dalam keterangannya, Rabu (16/1).

Tertangkapnya Aris disebut Argo atas hasil pengembangan dari pengakuan tersangka YW, yang ditangkap di Tangerang pada 8 Januari lalu. Dari YW, polisi mendapat informasi jika ada kegiatan penyalahgunaan narkotika di sebuah apartemen di Jakarta Selatan.

Kasus narkoba yang menjerat Aris menambah daftar hitam public figure terlibat tindak pidana penyalahgunaan narkotika di awal 2019.

Sebelumnya, pada Jumat 11 Januari lalu pedangdut Cahya Wulan Sari alias Chacha Duo Molek juga diringkus polisi setelah dirinya mengonsumsi inex dan sabu bersama dua temannya di Apartemen Batavia, Jakarta Selatan.

Baca Lainnya: Duh, Sekarang Giliran Artis Claudio Martinez yang Kena Kasus Narkoba

Sumber: Berbagai sumber

Continue Reading

Hukum & Kriminal

Seminggu Berlalu, Pembunuh Siswi SMK di Bogor Belum Terungkap

Published

on

Seminggu Berlalu, Pembunuh Siswi SMK di Bogor Belum Terungkap

Finroll.com – Seminggu berlalu, namun pelaku pembunuh Andriana Yubella Noven Cahya (18), siswi SMK di Bogor masih belum terungkap. Polisi pun masih mencari keberadaan pelaku.

Terkait dengan ini, Kapolda Jawa Barat Irjen Agung Budi Maryoto menegaskan, tim gabungan penyidik terus bekerja semaksimal mungkin untuk menemukan pelaku penusukan. Ia menyebut jika polisi masih berada di lapangan untuk mencari jejak pelaku.

“Tim masih di lapangan. Jadi masih penyelidikan,” imbuh Agung ketika ditemui awak media, se usai rapat evaluasi Citarum Harum di Graha Manggala Siliwangi, Kota Bandung, Selasa (15/1).

Selain itu, dirinya menyebut jika tim penyidik masih menggali keterangan dari berbagai saksi-saki. Ia pun berkomitmen untuk mengungkap kasus pembunuhan keji ini hingga selesai.

Baca Lainnya: Kasus Pembunuhan Siswi SMK ‘Andriana Yubelia Noven’ di Bogor Menemui Titik Terang

Kasatreskrim Polresta Bogor AKP Agah Sonjaya menambahkan, pihak kepolisian hingga saat ini belum menangkap pelaku penusukan. “Belum (ditemukan pelaku -red),” ujarnya.

Sebelumnya pada Senin (7/1) lalu, Andriana Yubella Noven Cahya harus meregang nyawa setelah ditusuk orang tidak dikenal, pada sebuah gang di Jalan Riau, Kota Bogor. Noven (sapaan akrabnya) meninggal dunia setelah ditusuk pisau yang menancap di dada kiri, dengan luka sedalam 22 sentimeter.

Sumber: Detik

Continue Reading
Advertisement

Trending