Connect with us

Citizen Journalism

Jangan Suriahkan Indonesia

Published

on


Finroll.com – Belakangan ini tagar #JanganSuriahkanIndonesia berseliweran di jagad media sosial Indonesia, dipicu oleh ekskalasi kekhawatiran banyak rakyat Indonesia terhadap potensi konflik horizontal pasca insiden pembakaran sebuah bendera pada acara peringatan Hari Santri Nasional 2018 di Limbangan, Garut, Jawa Barat (22/10), sebuah aksi yang sungguh tidak perlu terjadi.

Perbedaan sikap dan persepsi terhadap bendera tersebut melibatkan dua kubu di kalangan umat Islam. Satu pihak menganggap bendera bertuliskan kalimat tauhid tersebut adalah bendera sebuah organisasi terlarang, sedangkan pihak lain memiliki prinsip dan keyakinan bahwa bendera tersebut adalah panji pasukan jihad Rasulullah Muhammad saw di masa perjuangan beliau dan para sahabatnya lebih dari 14 abad lalu yang harus dijaga kesakralannya.

Singkat cerita, tensi pun berkembang dan meluas, ketegangan yang tadinya hanya memanas di dunia maya segera menjelma menjadi aksi besar penyampaian aspirasi di Ibu Kota dan berbagai kota lainnya, aksi terbaru digelar pada Jumat lalu (2/11).

Tensi masyarakat yang meninggi terlihat pula saat capres 02 menyebut “Tampang Boyolali” pada pidatonya di hadapan kader Gerindra meskipun dengan maksud bergurau. Penggalan video pidato tersebut pun viral dan memicu kekesalan warga Boyolali, Jawa Tengah, sehingga terjadilah aksi unjuk rasa terhadap “Menolak Prabowo” pada Minggu lalu (4/11).

Tak berhenti di situ, tersiar pula video saat Bupati Boyolali Seno Samodro membalas ucapan Prabowo dengan makian “Prabowo Asu” sehingga akhirnya masalah inipun berbuntut panjang dan bergulir ke pihak kepolisian.

Demikianlah kondisi bangsa kita saat ini, meskipun hanya sebagian dari kita. Setiap hari nyaris kita dengar ada saja sesuatu yang dapat memicu polemik dan konflik. Jika semua perbedaan tidak disikapi dengan kepala dingin, sedikit-sedikit emosi dan bereaksi, mau ke mana bangsa ini menuju?

Hati boleh panas namun kepala harus tetap dingin. Kita tidak harus selalu bereaksi pada setiap hal. (sumber: Pinterest)

Sejarah Singkat Konflik Suriah

Kita tidak akan mengorek lebih dalam tentang insiden pembakaran bendera dan polemik Boyolali tersebut. Biarlah pemerintah, para pemuka Islam, petinggi parpol dan aparat berwenang yang mengurusnya, seraya berharap pada kebijakan dan keadilan pemerintahan Jokowi dalam menyikapi insiden ini, sikap yang berimbang dan tidak bermuatan politis.

Tentunya rakyat Indonesia juga berharap agar semua pihak tetap mengedepankan persaudaraan sebangsa dan seagama, saling koreksi dengan penuh cinta kasih, meskipun wajar dan manusiawi jika sesekali emosi tersulut.

Agar lebih meresapi indahnya Indonesia yang damai, kita juga perlu dapat mengetahui sejarah dan mengambil pelajaran dari konflik menahun di Suriah yang dimulai sejak 15 Maret 2011 yang menurut perkiraan Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) hingga September 2018 sudah memakan korban meninggal dunia sebanyak 522.000 jiwa dan terus bertambah.

Sedangkan jumlah pengungsi menurut United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) mencapai lebih dari 5,1 juta jiwa dan tersebar ke berbagai negara di Timur Tengah, Afrika, Eropa, Amerika Utara dan Amerika Latin. Mereka yang tercerai-berai meninggalkan kampung halamannya namun masih berada di dalam Suriah (internally displaced) tercatat mencapai lebih dari 6 juta jiwa.

Suriah atau Syam dikenal sebagai Negeri Para Nabi dan menyimpan banyak catatan dan situs bersejarah peradaban dunia dan Islam. Namun lebih dari setengah negeri tersebut kini hancur berantakan, dihantam banyaknya pertempuran berdarah yang awalnya menjadi bagian dari Arab Spring.

Kota Kobanî, Suriah, yang berdekatan dengan perbatasan Turki hancur lebur karena perang (sumber: History.com)

Pertempuran bersenjata yang berpangkal dari tuntutan politis akhirnya tak terelakkan. Bola panas nan liar terus bergulir dan semakin kuatlah intervensi beberapa kekuatan besar ke negara tersebut, semakin jauh ikut bermain di dalamnya.

Dari konflik bernuansa politis antara pemerintah dan militer Suriah versus para pemberontak, berkembang menjadi konflik sektarian agama sekaligus menjadi isu geopolitik karena Suriah menjadi ajang proxy war kekuatan politik dan militer besar di dunia seperti Amerika Serikat, Rusia, Turki dan Iran. Suriah juga menjadi lahan untuk uji coba dan adu kehebatan alut sista yang mereka miliki.

Pertempuran antar mereka yang bertikai pun seringkali terjadi, membuat konflik Suriah semakin kompleks. Kadang kala satu kubu fokus hanya pada kubu lawannya, tak jarang pula faksi-faksi komponen di dalam satu kubu bertikai satu sama lain. Sedangkan rakyat Suriah yang tidak bersalah, berusaha netral dan tidak bersenjata selalu berada di posisi yang sama: korban.

Kedamaian Indonesia Tanggung Jawab Siapa?

Banyak hikmah dan pelajaran yang dapat kita petik dari bencana kemanusiaan yang terjadi di Suriah, sebuah negara yang mirip dengan Indonesia karena memiliki beragam etnis dan agama yang sebelumnya hidup berdampingan dengan damai.

Tagar #JanganSuriahkanIndonesia yang menggema seakan menjadi pengingat kita bahwa Indonesia adalah milik kita bersama yang harus selalu kita jaga kedamaiannya. Mungkin ini terdengar normatif dan klise namun kenyataannya demikian. Tanggung jawab untuk menjaga kedamaian negeri berjuluk Tanah Surga ini juga berada di setiap pundak rakyat Indonesia, bukan hanya di tangan pemerintah, aparat keamanan dan para tokoh masyarakat.

Meski demikian rakyat Indonesia selalu berharap pemerintah dan aparat keamanan pun senantiasa menjaga objektivitas, kebijakan, keadilan, ketegasan dan wibawa dalam menanggapi setiap isu sosial dan keagamaan yang muncul di tengah masyarakat. Ketidakmampuan dan ketidakadilan mereka dalam mengakomodir aspirasi dari beberapa pihak yang berseteru di tengah masyarakat bakal berpotensi membuat permasalahan yang ada semakin tak terbendung, menggunung dan meluas.

Semua pihak yang bergesekan, terutama para pemimpinnya, pun harus mampu mengendalikan diri dan ikhlas untuk membuang jauh sikap egois, kepongahan dan merasa paling benar. Segala argumentasi beraroma pembenaran sepatutnya tetap disimpan hingga duduk bersama di meja perundingan karena setiap argumentasi dapat menimbulkan interpretasi yang beragam dari masyarakat awam.

Penyampaian argumentasi dan pembelaan seyogianya jauh dari sikap emosional, provokatif, agitatif dan penggiringan opini tanpa fakta serta dijunjung oleh akhlak mulia, keilmuan yang benar dan ruh persaudaraan.

Materi Kontemplasi dari Mufti Damaskus

Sebaiknya kita renungkan pula pesan dari Syeikh Adnan Al-Afyouni, mufti Damaskus sekaligus Ketua Dewan Rekonsiliasi Nasional Suriah. Beliau adalah seorang ulama yang memiliki wewenang untuk menginterpretasikan teks agama dan memberikan fatwa kepada umat.

Syeikh Adnan berwasiat kepada seluruh elemen rakyat Indonesia agar bersatu dan menjunjung tinggi kepentingan negara di atas kepentingan lainnya. Beliau pun berharap bangsa Indonesia tidak mencampakkan pelajaran berharga dari konflik yang terus membara di beberapa negara di Timur Tengah.

Mufti Damaskus Syeikh Adnan Al Afyouni pada seminar bertajuk “Jangan Suriahkan Indonesia” di Jakarta Selatan pada Kamis (1/11). (sumber: Bincangsyariah.com)

“Bagi orang yang berakal, mukmin (orang yang beriman) sejati yang cinta kepada Allah, Rasulullah, tidak mungkin mereka memercikkan api konflik kepada negaranya. Dan mukmin sejati bisa mengorbankan dirinya demi kepentingan orang banyak,” kata sang syeikh.

Tak lupa Syeikh Adnan mengisahkan bahwa Rasulullah Muhammad saw pun berkorban dalam peristiwa Perjanjian Hudaibiyah di mana manusia suci yang menjadi utusan terakhir Allah swt tersebut ikhlas mengikuti apa yang diinginkan kaum kafir Quraisy demi perdamaian umat.

“Jika kamu cinta Rasul, maka teladani sikap Rasul. Dan saya berpesan kepada umat Islam di seluruh dunia untuk mengutamakan kepentingan agama, kepentingan negara, dibanding kepentingan nafsu. Kami berharap agar di Indonesia seluruh komponen saling paham untuk menghindari konflik kemudian hari,” tegas Syeikh Adnan saat berbicara di seminar bertajuk “Jangan Suriahkan Indonesia” yang digelar Ikatan Alumni Syam Indonesia (Isyami) di Jakarta Selatan pada Kamis awal bulan ini.

Citizen Journalism

Awal Mula #10YearChallenge Hingga Viral di Indonesia

Published

on

By

Awal tahun 2019 ini dunia media sosial di tanah air dibuka dengan konten unik bertajuk #10yearchallenge. Hingga kini belum diketahui siapa yang memulai aksi, tantangan atau isi konten yang saat ini sedang ramai di media sosial baik di Instagram, Facebook hingga Twitter. Dalam aksi tantangan ini, semua pengguna media sosial termasuk juga para pesohor mengunggah foto-fotonya dalam rentang waktu 10 tahun kebelakang. Nah, foto lama tersebut kemudian disandingkan dengan foto terbaru di tahun terbaru.

Awal kemunculan tantangan unik ini dimana seseorang berbagi potret mereka dalam rentang 10 tahun. Tantangan memiliki beragam julukan mulai dari #HowHardDidAgingHitYou, 2009vs2019, GlowUpChallenge dan lain sebagainya. Kadang kala juga berisi perbandingan 2 foto parodi foto diri dengan foto idolanya sehingga kerap disebut meme.

Dipercaya tantangan #HowHardDidAgingHitYou ini pertama kali dimulai di media sosial Facebook oleh seorang penggunanya yang bernama Damon Lane. Damon yang adalah seorang chief meterologist di KOCO News 5 Oklahoma mengunggah foto dirinya terbarunya pada hari Jumat, 11 Januari 2019. Sejatinya, ia hanya akan membandingkan foto profil pertamanya di Facebook dengan foto terbaru dirinya saat ini. Kemudian terjadi orang-orang mulai mengikuti menguggah foto drinya sekarang (tahun 2019) dengan foto dari 10 tahun lalu (dalam hal ini tahun 2009). Kemudian tantangan ini berkembang hingga memiliki beberapa julukan seperti 2009vs2019, How Did Age Hit You atau 10 year challenge.

Tak berapa lama, para pengguna media sosial mulai mengunggah postingan tantangan ini dan menjadi populer. Bertambahnya popularitas tantangan ini lalu memunculkan banyak meme, para pengguna menyelipkan tokoh idola sebagai pembanding fotonya yang bertujuan menghibur pengikutnya. Mereka menyematkan foto binatang kesayangan, bahkan karakter film dalam membuat konten tantangannya.

Setiap tahun selalu ada tantangan-tantangan model ini yang lebih kurang mirip seperti Puberty Challenge di tahun 2017 yang mana pengguna media sosial menunjukkan foto sebelum dan sesudah perubahan aneh menuju dewasa. Di tahun 2018 ada #GlowUpChallenge yang sempat populer kala di mulai oleh aktris AS Miley Cyrus pada ajang Oscar dan berkembang menjadi besar ketika dibandingkan dengan foto sebelumnya pada tahun 2012 dan 2018.

Di Indonesia sendiri, tantangan #10yearchallenge sedang berada di puncaknya, hal ini dapat diketahui pada berbagai lini masa media sosial banyak terdapat postingan yang membandingkan foto 10 tahun lalu dengan foto sekarang.

Untuk membuat konten tantangan semacam ini sebenarnya tidak sulit, hanya dengan mencari foto-foto lawas anda pada album media sosial anda, biasanya Facebook atau album yang tersimpan di ponsel pintar anda. Biasanya jika sudah terhubung dengan aplikasi Foto Google, Timehop ataupun dengan browsing foto lawas anda di laptop atau PC anda, maka akan makin mudah dilakukan.

Jika telah anda menentukan foto lawas yang akan anda gunakan, langkah selanjutnya adalah membuat kolase perbandingan yang akan berisi foto diri anda yang telah ditentukan sebelumnya (foto lawas 10 tahun lalu) dengan foto diri terbaru di tahun 2019 ini. Anda dapat menggunakan beragam aplikasi grid yang terdapat baik di Google Play Store ataupun Apple Store. Penulis menggunakan aplikasi Picarts yang dapat anda unduh baik di android maupun iOs, kemudian pilih grid 2 bidang, selanjutnya isi kanan kirinya dengan foto yang ingin ditampilkan dan jangan sampai lupa tulis tahunnya. Selain Picart, anda dapat juga menggunakan aplikasi Canva, Unfold, Instagrid, dan lain sebagainya. Setelah selesai, unggah hasilnya ke semua media sosial anda seperti Instagram baik strory maupun feed, Facebook, juga Twitter, dengan tagar #10yearchallenge dan #10yearschallenge.

Continue Reading

Citizen Journalism

Moderator Debat Capres 2019 Kok, Ira Koesno Lagi? Kenapa Enggak Dedy Corbuzier Saja?

Published

on

Sudah calonnya wajah lama, lah kok moderatornya ikut-ikutan wajah lama pula. Ini mau debat atau mau reunian? Kayak enggak ada orang lain aja. Oke-oke, Najwa Shihab jelas enggak mungkin, karena nanti orang bakal protes dan bilang, ini sebetulnya Debat Capres atau talkshow Mata Najwa? Tapi, apa enggak ada alternatif lain?

Menurut kamu, seberapa menariknya Debat Capres dan Cawapres antara pasangan Jokowi – Ma’ruf Amin dan Prabowo – Sandiaga Uno yang akan dilangsungkan beberapa hari lagi itu?

Kalau menurut saya, setidaknya ada tiga hal yang menyebabkan Debat Capres dan Cawapres Perdana kali ini menjadi tak terlalu menarik lagi.

Calonnya Dia Lagi-Dia Lagi

Nyaris tak ada wajah baru, apalagi (entah) ide baru yang bakal tampil dalam ajang Debat Capres yang seharusnya bisa menjadi tontonan yang sarat informasi akan siapa dan bagaimana cara ia kelak menahkodai negeri yang bak sepenggal surga di muka bumi ini.

Kita tahu, dari keempat orang Calon Presiden dan Wakil Presiden tersebut, hanya Kyai Ma’ruf yang belum pernah kita lihat performanya dalam sebuah ajang debat Pilpres atau Pilkada, Sandiaga Uno, tentu masih sangat lekat dalam ingatan bagaimana penampilannya pada Debat Pilkada 2017, tempo hari.

Sementara Pak Jokowi dan Pak Prabowo merupakan dua calon yang lima tahun lalu pernah berhadap-hadapan. Dua calon yang lima tahun lalu telah meninggalkan jejak berupa kata “bocor” dan “dananya ada”. Dan si empunya kata “dananya ada” lah yang akhirnya keluar sebagai pemenang. Ini jadi semacam indikasi, kalau masyarakat Indonesia memang lebih menyukai kabar gembira ketimbang sebuah pesan atau (bahkan) fakta yang kurang menggembirakan. Satu kenyataan yang seharusnya menjadi perhatian Pak Prabowo dan Tim Kampanyenya.

Sayangnya, baik Pak Prabowo, ataupun tim kampanyenya seperti melupakan poin itu. Lagi-lagi, dalam beberapa kesempatan Pak Prabowo menyampaikan hal-hal yang kurang menggembirakan, macam; ramalan tentang masa depan Indonesia yang ia baca dari sebuah novel bahwa Indonesia akan bubar pada tahun 2030.

~ Lho, emang kapan jadiannya? Kok tau-tau bubaran.

Au ah, Bong!

Atau yang terbaru, ia mengatakan bahwa masih banyak dokter di negeri ini yang penghasilannya lebih kecil dari penghasilan juru parkir. Sekalipun apa yang dikatakan Pak Prabowo itu benar adanya (tapi amit-amit kalo ramalan tentang bubarnya Indonesia, sih) tetap saja bagi lawan politiknya, ini adalah celah untuk mengatakan bahwa Prabowo hanya menebar ketakutan. Persis ketika ia mengatakan keuangan negara “bocor” yang dinyinyiri segenap cebong di Indonesia, meskipun, pada akhirnya Pak Jokowi pun mengakui hal itu.

Tapi para kampret enggak usah khawatir dengan pernyataan-pernyataan Pak Prabowo yang kerap blunder dan berpengaruh pada elektabilitasnya. Enggak usah khawatir. Sebab, seberapapun seramnya pernyataan Pak Prabowo, tetap saja itu baru sebuah pernyataan. Berdoa saja, semoga rakyat dapat menangkap pesan apa yang sebenarnya ingin disampaikan Pak Prabowo.

Sementara Pak Jokowi, akalan lumayan berat upayanya untuk meyakinkan lagi masyarakat yang lima tahun lalu sudah ia jejali janji-janji, entah berapa janji yang sudah terpenuhi. Saya enggak bisa menyebutkannya, tapi jika berbicara tentang Pak Jokowi, saya mendadak jadi ingat sebuah lirik lagunya ayahanda Rhoma Irama, “Kau yang berjanji kau yang mengingkari, kalau begini jadinya tak mau—kumemilih Anda.”

Belum lagi upayanya untuk meyakinkan para pendukungnya yang sempat kecewa karena Pak Jokowi akhirnya melabuhkan pilihannya untuk posisi wapres kepada ulama senior yang merupakan salah satu aktor penyebab terpenjaranya Ahok. Yups, tul banget, dialah Kyai Ma’ruf Amin. Andai kamu Ahoker, gimana coba perasaan kamu? Begitulah, hidup memang kadang terlihat seperti ngeledek kamu. Yang sabar, ya!

Adanya Kisi-Kisi Soal Debat

Buset, ini Debat Capres atau Ujian Nasional? Pakai ada kisi-kisinya. Rocky Gerung menyayangkan alasan sembrono KPU yang mengatakan bahwa alasan diadakannya kisi-kisi agar tak ada yang dipermalukan di antara keempat calon peserta Debat Capres tersebut.

“Coba saya tanya ke KPU, dari empat wajah itu, yang berpotensi memalukan publik, yang mana?” Demikian pertanyaan Rocky Gerung kepada KPU dalam sebuah acara talkshow di salah satu stasiun televisi.

“Sebab, kalau Anda nggak bisa jawab,” Kejar Rocky, karena merasa belum mendapat jawaban yang memuaskan, “Anda menduga keempat-empatnya punya potensi untuk dipermalukan itu, atau Anda memang tahu tapi Anda sembunyikan, kan itu semiotiknya kalau kita membongkar persembunyian dari kekacauan ini” Pungkas Rocky yang diikuti tepuk tangan penonton.

Moderatornya Kok Ira Koesno Lagi?

Sudah calonnya wajah lama, lah kok moderatornya ikut-ikutan wajah lama pula. Ini mau debat atau mau reunian? Kayak enggak ada orang lain aja. Oke-oke, Najwa Shihab jelas enggak mungkin, karena nanti orang bakal protes dan bertanya, ini sebetulnya Debat Capres atau talkshow Mata Najwa? Apalagi Dedy Corbuzier, lebih enggak mungkin lagi, khawatir sangking kesalnya sama penonton yang berisik, dihipnotis itu penonton agar mematung sepanjang debat.

Tapi kan masih ada Via Vallen. Lho ini beneran, apa salahnya kita kemas debat dengan suasana rileks supaya kedua pendukung calon enggak ribut dan tetap saling menebarkan rasa sayang. Ya, enggak?

Atau kalau Via Vallen dirasa kurang tepat, saya masih ada alternatif lain. Gimana kalau Nissa Sabyan? Nah, ini kayaknya sudah paling pas. Bisa jadi penengah kalau debat mulai panas. Cukup dengan melantunkan liriknya yang sangat fenomenal itu, “Hmmm.. Hmmm.” Dijamin, yang lagi ngotot-ngototan langsung terdiam, tenang, karena berasa diguyur air zam-zam.

Tapi kalau bisa, sebelumnya, Nissa Sabyan mengingatkan kepada peserta debat agar enggak usah ikut-ikutan nyanyi. Enggak usah nanya kenapa. Sudah jelas jawabannya, agar enggak ada yang dipermalukan. Ituh!

Continue Reading

Citizen Journalism

Media yang Dulu Bukanlah yang Sekarang (Pilpres 2019)

Published

on

Media yang Dulu Bukanlah yang Sekarang (Pilpres 2019)

Bicara soal perkembangan media massa di Indonesia, seperti televisi, surat kabar hingga munculnya media baru seperti online saat ini, tentu sudah mengalami berbagai dinamika. Jika dulu media sangat menjunjung tinggi nilai dan kaidah jurnalisme, tetapi makin kesini hal itu sudah bergeser.

Tentu kita semua mengetahui, dalam kontestasi Pilpres 2019 ini saja sudah banyak sekali peristiwa-peristiwa politik, yang menjadi “makanan” utama dari media. Dari mulai deklarasi pasangan calon, strategi kampanye, hingga hal “printilan” lain yang seakan terlalu berlebihan untuk disorot.

Kita tentu jengah dengan berbagai headline dari suatu media yang seperti berat sebelah. Hal ini cukup simpel, sebab media saat ini lebih umum “di bekingi” oleh orang yang berkedudukan tinggi di suatu partai politik.

Media seakan lupa akan kaidahnya sebagai kontrol sosial, independen, dan menjunjung tinggi etika jurnalisme. Saat ini, media justru makin menampakan wajah aslinya dalam bersikap. Masyarakat pun pasti sudah merasakan hal ini sejak lama.

Fenomena ini mengisyaratkan media, jika mereka sudah tidak sehat lagi. Sehingga ungkapan “media yang dulu bukanlah yang sekarang” pun cocok. Masyarakat haus akan berita yang berimbang, tidak menyudutkan, dan memiliki isi berita yang bergizi. Tidak cuma asal heboh saja.

Pengambilan angle berita oleh media seharusnya jadi prioritas perbaikan. Masyarakat ingin sekali hidup damai, tidak terkotak-kotakan karena amarah yang makin “digoreng” oleh media dalam pemberitaannya. Cukup sudah.

Media seharusnya menjadi garda terdepan bagi masyarakat untuk mencerdaskan, mencerahkan dan menjadi pengontrol sosial. Dalam kaitan dengan Pilpres, harusnya media lah yang getol memberitakan visi misi dua pasangan calon, bukan malah sebaliknya. Menimbulkan perpecahan di masyarakat akibat ucapan yang berujung pada kontroversi dan permusuhan sesama masyarakat. Sehingga tercipta dua kubu politik yang makin hari makin panas.

Fatalnya, rusaknya media yang berpihak ini lambat tapi pasti secara menyeluruh akan menggerogoti idealisme para jurnalis-jurnalisnya. Bukan jadi mustahil juga, jika media saat ini bergeser ke media liberal. Siapa yang punya uang, dan memiliki media itu, menjadi penguasa yang bisa membelokan pandangan media untuk berpihak pada yang punya uang dan kuasa. Who knows?

Continue Reading
Advertisement

Trending