Connect with us

Citizen Journalism

Jangan Bodoh di Depan Muallaf

Published

on


Kemarin, aku melakukan hal yang kupikir sangat bodoh dan tidak sensitif.

Jadi ceritanya rumahku mau direnovasi total, otomatis kami sekeluarga sementara harus pindah dulu ke tempat lain. Kurang lebih 3 bulan pekerjaan renovasi baru selesai kata pemborongnya.

Kami memutuskan untuk menyewa sebuah rumah yang jaraknya kurang lebih 100 meter dari rumah kami. Sengaja tidak jauh-jauh agar bisa ikut memantau para tukang yang bekerja. Beberapa barang kami titipkan di rumah mertuaku yang letaknya memang di sebelah rumahku yang akan direnovasi. Karena rumah yang ku sewa tidak cukup besar untuk menampung semua barang.

Aku berberes dari pagi. Bertahap mengepak barang yang sekiranya bisa dititipkan terlebih dahulu. Saat sedang sibuk memindahkan barang-barangku, dengan maksud bercanda. Aku menggoda Ibu mertuaku.

+ “Mami masak apa nanti malam? Bikin mie panjang umur, nasi ayam hainan, sapo tahu, capcay udang, dimsum rebus atau apa?”

– “Lah, memang ada apa masak-masak banyak gitu?”

+ “Kan besok imlek….

Mertuaku memang seorang perempuan keturunan hokian. Beliau masuk Islam ketika menikah dengan Bapak mertuaku.

Sekilas aku melihat perubahan di mata dan mimik wajah Mami. Matanya sedih dan langsung berpaling ke arah yang lain. Aku pun diam. Belum mengerti apa yang terjadi malahan lanjut berceloteh bercanda tentang angpao yang biasa diperoleh anakku dari saudara Mami yang berkunjung ke rumahnya. Hahaha.

Sampai saat suamiku pulang dan ikut membantuku memindahkan barang-barang. Sialnya, suamiku juga turut menggoda Ibunya.

+ “Mami masak apa nih, besok kan Imlek. Gong Xi Fat Cai… Gong Xi-Gong Xi…”

– “Memang kenapa Mami harus masak?”

+ “Lah kan Imlek-an. Rayain lahh….”

– “Loh, koq nge-rayain. Memangnya kita ngeraya-in. Buat apa dirayain?”

Astaghfirullah,,,,

Kini aku mengerti arti tatapan sedih mertuaku tadi. Mami tak suka dibercandai tentang hal ini. Mungkin ia sedih dan kecewa. Koq bisa, menantu yang dengan wajah sumringah pernah diceritakannya kepada saudara dan kawan-kawannya sebagai guru ngaji anak-anak, mengisi pengajian sana-sini, menulis ini-itu tentang agama, koq malah bercanda tentang keyakinan lamanya. 😭

Sungguh aku tak peka. Padahal Mami berulang kali bercerita tentang kisahnya yang sendirian menjadi Muallaf diantara 10 saudara kandungnya yang lain. Meninggalkan keyakinan lamanya yang ia anut dari lahir. Menggenggam keyakinan baru bersama keluarga barunya, yang kini termasuk aku di dalamnya.

Aku melihat kerasnya perjuangan Mami untuk belajar mendalami Islam. Diantara kami, beliau-lah yang paling rajin berpuasa sunnah. Sholat dengan jeda gerakan paling lama, menyempurnakan tuma’ninah. Lalu berdoa, mengangkat kedua tangannya sampai aku berasa gak sabaran ngantri mukena saat sedang main ke rumahnya. “Mami, cepetan dunk. Rara keburu kentut nih” kataku, dalam hati tapi. Mana berani….🙈

Mami juga rajin hadir di pengajian. Ada yang rutin mingguan, bulanan dan undangan bahkan di tempat yang lumayan jauh dari tempat tinggal. Padahal usianya tak lagi muda. Sudah lewat dari angka 65 tahun. Salut aku dibuatnya.

Tapi dengan semua pengetahuanku akan perjuangannya itu, tega-teganya aku, menantu perempuan satu-satunya, bertingkah bodoh dengan mengingatkannya tentang keyakinan lamanya. 😥

Keyakinan yang ku tahu pasti memberi bekas kenangan terindah saat hari raya bersama orangtua dan saudaranya. Dan ia, entah dengan suasana hati apa saat itu memilih tak lagi sama dengan mereka. Syukurlah silahturahim antara mereka masih sangat terjaga.

Aku pernah merasakan diajak berada ditengah mereka. Bersama om, tante, cece, cici, sepupu dan nenek yang berbeda keyakinan tapi tetap bisa merasa seru, asik dan bahagia.

Seru karena harus menebak-nebak apa yang mereka bicarakan dengan bahasa Ibunya (mandarin). Asik karena banyak makanannya. Dan tentu saja bahagia karena aku kenyang *eh 🙊😅. Suasana yang sangat ceria dan menggembirakan. Hijabku yang tergerai lebar dan panjang sama sekali tak menjadi penghalang tumbuhnya kebahagiaan bersama mereka.

Keluarga yang sangat plural dan demokratis menurutku.

Begitulah. Aku menyesali perkataanku. Terkadang hawa nafsu untuk selalu ingin tertawa bahagia membuat kita tergelincir tanpa sengaja menyakiti hati orang lain bahkan keluarga kita sendiri. Tentu aku sama sekali tak berniat menyakiti hati Ibu mertuaku. Hanya bercanda. Tapi setelah kupikirkan kembali saat melihat reaksinya, sungguh bisa memberi akibat yang fatal di hatinya.

Berpindah keyakinan bukanlah hal yang mudah. Pelakunya bukan saja butuh ketetapan hati dan kebulatan tekad untuk melakukan dan menghadapinya, namun juga dukungan orang-orang di sekitarnya.

Mungkin inilah yang membuat para muallaf dimasukan dalam golongan penerima zakat. Zakat bisa dianalogikan sebagai hadiah yang diharapkan dapat menyenangkan dan mengikat hati mereka. Bisa juga diberikan karena ada kemungkinan perpindahan keyakinan yang mereka lakukan membuatnya bukan saja terputus dari keluarganya tapi juga mata pencahariannya. Zakat diharapkan bisa menolong mereka.

Seorang sahabat pernah menghubungiku. Beliau mendapati seorang perempuan muallaf yang pernah tampil di tv untuk menceritakan kisahnya berpindah keyakinan, luntang-lantung di kawasan dekat rumahnya. Beliau kehabisan bekal untuk pulang ke rumahnya di kawasan Jawa timur karena hartanya baru saja habis digunakan untuk membayar hutang kepada pemuka agama keyakinannya yang lama.

Sahabatku mengirim fotonya, dan ku kenali sosok tersebut memanglah orang yang sama. Aku berusaha menghubungi beberapa orang yang ku tahu pernah terlihat tampil bersamanya untuk sekedar memberitahu keberadaannya dan mengkonfirmasi ceritanya. Namun beberapa pihak yang ku telepon entah mengapa kompak tidak mengangkat teleponnya.

Akhirnya ku putuskan untuk segera membantunya. Tanpa mau dipusingkan dengan pikiran khawatir dibohongi dan menjadi korban modus penipuan. Sahabatku berpendapat sama. Tapi dia curanggggg. Dia se-enaknya mengambil alih dan memonopoli pemberian bantuan terhadap perempuan tersebut. Seperti ingin memborong pahala sendiri, ia mengeluarkan uangnya sendiri untuk mengongkosi muallaf tersebut pulang ke kotanya. Malahan tadinya ia sendiri yang mau mengantarnya pulang. Namun urung. Mungkin karena kondisi kesehatannya. Maklum sudah tua 😛

Jadi sekiranya di sekitarmu ada seorang muallaf, ku sarankan berhenti mempertanyakan bahkan meributkan penyebabnya berpindah keyakinan. Jangan juga jadikan keyakinan lamanya sebagai bahan bercandaan. Genggam saja tangannya dan ikutlah berperan dalam membahagiakannya. Agar dengungan tentang Islam sebagai agama ramah, damai, tenang dan menentramkan bukanlah sekedar celotehan kisah dan kejayaan yang ada di masa lampau belaka. Namun bersama dapat kita wujudkan untuk hadir di masa kini. Masa yang kita hidup di dalamnya.

Advertisement

Citizen Journalism

Kesuksesan Siang Berawal dari Kesuksesan Malam

Published

on

Pergantian siang dan malam adalah tanda-tanda kekuasaan Allah Swt bagi orang-orang yang mau berpikir. Bagi mereka, siang dan malam bukan hanya siklus harian yang mengubah planet bumi dari terang menjadi gelap, tapi juga anugerah terindah dari Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang yang dengan kasih sayang-Nya itu siang berubah jadi malam dan malam berubah jadi siang. Tak perlu IQ tinggi-tinggi untuk sekadar menerka petaka dahsyat seperti apa yang akan terjadi apabila siang tak pernah berganti malam, atau malam tak mau digantikan siang.

Fenomena pergantian siang dan malam ini telah lama dikenal dalam sejarah peradaban umat manusia. Sejak zaman dahulu, orang-orang tua kita telah cerdas memanfaatkan waktu siang dan malam: Siang mereka pakai untuk bekerja, bertani, berburu, dan lain-lain; malam mereka isi dengan tidur dan istirahat.

Dalam Alquran, swakontradiksi itu disebut berulang kali dengan urutan yang hampir sama: malam dulu baru siang (lihat, QS. Al-Hadid: 6, QS. Saba: 18, QS. Ali Imran: 27, QS. Ar-Ra’du: 3, QS. Al-Isra: 12, QS. Al-Qashas: 73, dan lain-lain). Ini agak berbeda dengan cara kita mengungkapkan dua kata itu. Biasanya kita menyebut “siang dan malam”, seolah-olah semua aktifitas harian kita itu bermula di siang hari dan berakhir pada waktu malam. Tapi Alquran mengungkapkannya dengan “malam dan siang”. Bagi saya, hal ini menyiratkan pelajaran penting bahwa kesuksesan seseorang di waktu siang sangat tergantung bagaimana ia mengisi malam.

Pada fase awal kenabian, setelah menerima wahyu pertama di Gua Hira, Nabi Muhammad Saw mendapat perintah untuk melaksanakan salat malam sebelum mendapat perintah untuk berdakwah (lihat, QS. Al Muzammil: 1-6). Bahkan menurut sebagian ulama, salat malam bagi Nabi Saw pada masa itu, wajib hukumnya. Menurut mereka, kewajiban salat malam itu adalah persiapan bagi diri Nabi Saw, secara fisik dan psikis, untuk dapat menghadapi berbagai tantangan dan rintangan yang akan ia lalui saat mulai berdakwah nanti. Artinya, kesuksesan Nabi Saw dalam berdakwah berawal dari kesuksesan beliau mengisi malam dengan salat dan munajat.

Poin terakhir ini adalah pelajaran berharga bagi kita semua, bahwa jika kita ingin sukses dalam bekerja, baik sebagai atasan atau bawahan, baik sebagai dosen atau mahasiswa, baik sebagai ASN atau swasta; mulailah dengan menyukseskan diri dalam mengelola waktu malam. Kita tidak mungkin meraih kesuksesan yang gilang gemilang di waktu siang, jika setiap malam kita selalu tersungkur, babak belur dihajar rasa kantuk dan malas.

Selain itu, bagi orang yang memiliki sensitivitas tinggi dalam menyikapi akibat dari setiap perbuatan dosa dan maksiat, ketidakmampuan bangun untuk melaksanakan salat malam adalah bencana tersendiri. Sebab mereka berkeyakinan hanya orang-orang tertentu yang diizinkan Allah untuk menghabiskan momen yang berharga bersama-Nya dalam gelapnya malam. Tidak semua orang bisa. Artinya, ketika mereka tidak mampu melakukan itu, mereka menyesali diri sendiri karena tidak termasuk orang yang dipilih Allah Swt.

Seorang pria berkata kepada Ibrahim bin Adham: “Aku tidak bisa bangun untuk salat malam, padahal aku sangat ingin melaksanakannya”. Ibrahim bin Adham menjawab: “Engkau melakukan dosa pada siang hari, karenanya kau tidak bisa bangun di malam hari”.

Berdiri di hadapan Allah pada saat malam adalah kehormatan di mana para pendosa tidak menerimanya. Imam Sufyan At-Tsauri berkata: “Selama lima bulan aku tidak bisa bangun untuk salat malam karena dosa yang kulakukan”. Subahnallah… 

Pada suatu hari, seorang laki-laki berkata kepada Imam Hasan Al-Bashri: “Aku tidur nyenyak, aku beristirahat dengan baik, tidak punya penyakit, dan aku sudah menyiapkan air di samping kasur tidurku supaya bisa bangun untuk salat malam, tapi tetap saja aku tidak pernah bisa melakukannya”.

Hasan al Bashri berkata kepada laki-laki itu: “Dosa-dosamu telah membelenggumu. Dosamu saat siang, menahanmu saat malam”.

Maka berbahagialah Anda yang telah terbiasa melaksanakan salat malam dan tidak pernah meninggalkannya. Di satu sisi, itu adalah anugerah Allah Swt yang tidak semua orang menerimanya, di sisi lain, saya harus mengucapkan tahniah, selamat Anda tidak termasuk orang yang dibelenggu dengan dosa dan maksiat!

Sementara bagi kita yang belum mampu untuk bangun salat malam, sebaiknya kita mulai berbenah dan memperbaiki diri. Tak mungkin malam demi malam kita biarkan saja terus begitu sepanjang hidup.  Tentu ini akan menjadi penyesalan yang amat berat pada hari kiamat nanti. Di samping itu, sebaiknya kita juga mulai memeriksa diri, jika selama ini kita tidak pernah merasakan berkahnya siang, mungkin itu disebabkan karena kegagalan kita mengelola waktu malam. []

Continue Reading

Citizen Journalism

Omar Bakri, Nasib Mu Kini Lebih Tragis

Published

on

Masih ingat dong dengan lagu Iwan Fals yang bercerita tentang kehidupan guru. Omar Bakri tentu sudah makan asam garam menghadapi kenakalan murid, namun ditengah jaman milenial ini nasib Omar Bakri semakin tragis.

“Berkelahi pak jawab murid seperti Jagoan” mungkin potongan syair tersebut menggambarkan bagaimana perilaku murid nakal yang berlagak jagoan. Mirisnya perilaku tersebut kini semakin parah, mereka bukan lagi merasa jagoan kepada sesama murid bahkan kepada guru pendidiknya.

Faktanya, beberapa hari ini dan waktu sebelumnya kasus tidak beradab-nya murid kepada guru semakin sering terlihat. Jika sebelumnya ada guru yang tidak dihargai hingga dipaksa berlagak berkelahi guna melampiaskan emosinya tetapi tertahan karena status gurunya.

Kini kasus seperti tersebut muncul kembali, kali ini seorang guru mendapatkan perlakuan menggeramkan ketika seorang murid berlagak jagoan mengancam guru dengan memegang leher dan kepalanya, dan dilanjutkan merokok di kelas.

Peristiwa mengurut dada kembali terjadi di Sulawesi dimana murid-murid mengeroyok seorang petugas cleaning service bersama orang tua salah satu murid. Perkataan kasar ‘Anjing’ kepada korban dan guru menjadi perilaku murid SMP kelas 1 tersebut.

Lantas salah siapakah sehingga perilaku anak-anak yang baru menginjak remaja ini mampu kehilangan adab dan akhlaknya terhadap guru atau yang lebih tua? Perlukah seorang guru menerapkan kembali pendidikan yang keras seperti dekade 70-80 dimana sabetan penggaris, lemparan kapur bahkan penghapus menjadi hal yang wajar.

Mencermati kenakalan murid yang sudah diluar toleransi masyarakat yang menjujung tinggi budi pekerti dan keluhuran nilai sopan santun, menjadikan fenomena Omar Bakri mengalami nasib yang tragis – Tegas di pidanakan, lembut dilecehkan.

Pelecehan murid pada seorang guru tentunya menjadi pekerjaan rumah bagi para orangtua, guru, dan murid itu sendiri, sebagai unsur yang berinteraksi dalam suatu sistem pendidikan. Tiga elemen inilah yang seharusnya saling berintegrasi guna mencetak anak-anak yang berkualitas.

Kekerasan pada guru | Wartakota

Ketika banyak psikologi yang menyatakan bahwa pelecehan murid terhadap guru dapat disebabkan karena faktor keluarga bagaimana orangtua mendidik seorang anak – biasa dengan kekerasan atau tidak, hingga opini hubungan orangtua yang juga mengalami masalah hubungan.

Artinya perilaku anak yang suka menggunakan kekerasan disekolah berawal dari rumah. Hal ini tentunya ada tanggung jawab dari orangtua. Yatim piatu semu antar orang tua juga menjadi salah satu faktor, dimana orangtua Bapak dan Ibu tetap ada tetapi kehadirannya hamper tidak dirasakan sang anak.

Bisa karena kedua orangtua terlalu sibuk bekerja, orangtua bekerja diluar negeri, atau salah satu bekerja tetapi satunya sibuk dengan kehidupannya. Hal inilah yang menyebabkan anak mencoba mencari perhatian dengan melakukan perilaku yang mengundang ke dua orangtuanya.

Tak hanya itu, kecenderungan orang tua jaman sekarang lebih memanjakan anaknya, menjadi penyebab banyak orangtua yang melayangkan tuntutan hukum Karena guru menjewernya atau terjadi pemukulan, tanpa bijaksana mencari tahu penyebab perlakuan itu terjadi.

Lantas bagaimana dengan peran murid menyumbang perilaku kenakalan dan kekerasan. Hal ini tentu tak lepas dari perkembangan teknologi yang membuat arus informasi deras mengalir. Mengakses game atau permainan yang mengandung unsur kekerasan juga pemicu anak untuk meniru.

Tak hanya itu, media sosial sebagai ajang eksistensi manusia modern sekarang ini juga berperan menciptakan perilaku kekerasan tersebut. Ketika melihat aksi murid berani melawan guru dan tersebar di medsos menjadikan dirinya terkenal dan diakui eksistensinya keberaniannya oleh murid yang lain. Tentunya menjadi kebanggan tersendiri bagi si murid, karena ditakuti satu sekolahan.

Lantas bagaimana dengan pihak sekolah atau guru yang berhadapan langsung dengan murid? Ketika kita hendak menerapkan kembali sistem pendidikan yang keras seperti jaman dahulu tentu akan berdampak lebih hebat ditengah smartphone mampu merekam dan menyebarkan peristiwa secara cepat.

Alih-alih ingin mendisiplinkan murid malah bisa terjadi sebaliknya. Guru kini pun bisa dituntut orangtua ketika anaknya menerima perlakuan kekerasan padahal banyak kasus murid sulit diatur. Bahkan banyak orangtua yang juga tidak tahu perilaku anak ketika berada disekolah.

pelecehan terhadap guru |tribunews

Sebagai intropeksi pihak sekolah tentu harus mempertimbangkan ketegasan dalam menerapkan peraturan sekolah. Ketika banyak murid melakukan pelanggaran keras, maka sanksi seharusnya diterapkan dengan mengeluarkannya. Sehingga tidak ada peristiwa guru dilecehkan oleh muridnya.

Guru juga tidak bisa lepas dari tanggung jawab. Hal itu disebabkan ada juga guru yang kehilangan idealismenya. Mereka hanya disibukan mengajar sesuai dengan gaji yang didapatkan. Mereka seakan tutup mata untuk mendidik murid yang juga menjadi tanggung jawabnya.

Guru tidak lagi menjadi sosok yang dapat di gugu dan ditiru. Sentuhan seorang guru yang dapat memotivasi, mengarahkan, dan bagaimana memahami ekspresi gejolak seorang murid menjadi guru sosok yang membosankan.

Ketika kita melihat metode yang diajarkan para guru di sekolah alam, maka seorang anak menjadi tanggung jawab guru untuk membentuknya menjadi apa. Guru mengamati, mengarahkan, dan menyediakan wadah bagi seorang murid untuk mengekspresikan.

Mereka mengakomodasi apa yang diinginkan seorang murid, memberikan petunjuk, dan mampu memotivasi murid untuk mencapai tujuan hidupnya. Disana mereka belajar bukanlah demi ijasah kelulusan, tetapi lebih pada membentuk karakter diri, sehingga potensi seorang murid dapat dikembangkan secara maksimal.

Ketika murid merasa nyaman dengan kegiatan yang dilakukan, ketika murid merasa senang dengan aktivitasnya, maka secara perlahan murid akan mencintai proses belajar dan mengajar antara guru dengan dirinya.

Kurikulim sekolah yang padat dengan teori dan momok nilai ujian nasional, hal itu hanya menciptakan generasi penerus yang mengandalkan ijasah tanpa memiliki karakter dan keterampilan.

Continue Reading

Citizen Journalism

Seperti Perahu, Paslon pun Tak Ada yang Sempurna

Published

on

“Sebuah kapal memang tak boleh sempurna. Karena sesuatu yang sempurna tak punya hasrat lagi mencari. Sebuah kapal yang sempurna tak akan butuh lagi mencari ikan, muatan, teman, pelanggan, bahkan tanah baru.”

Demikian Wulu Banyak beralasan, ketika Raden Mandasia bertanya, mengapa Wulu Banyak dan anak buahnya membuat kapal tanpa menggunakan gambar? Tidakkah itu akan berisiko pada ketidakserasian ukuran di kedua sisi kapal?

Kelak di kemudian hari, saat Prabu Watu Gunung [ayahanda Raden Mandasia] bercerita kepada Sungu Lembu [sang tokoh utama dalam novel Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi karya Om Yusi Avianto] tentang alasannya menyerang Gerbang Agung. Kata-kata Wulu Banyak terbukti. Sesuatu yang tampak sempurna, awalnya memberi rasa nyaman, lalu melenakan. Ujung-ujungnya kebosanan, dan berakhir dengan kehancuran perlahan-lahan.

Kejayaan Gilingwesi yang gilang gemilang di tangan Prabu Watu Gunung, membuat semua pejabat terlena, kerap berpoya-poya, korupsi dan penyelewengan terjadi di setiap struktur pemerintahan.

Prabu Watu Gunung menyadari bahaya ini. Ia memerlukan momentum, pemecah kebosanan, peletup semangat baru. Dan Gerbang Agung—sebuah kerajaan yang terletak nun di seberang lautan, kerajaan dengan empat musim, kerajaan dengan seorang putri yang masyhur akan kejatmikaannya yang konon cermin pun tak sanggup menatap kecantikannya—menjadi pilihannya.

Dan dua negeri besar itu, yang menyerang dan yang diserang, akhirnya hancur.

Ada yang mereka lupa.

Saat kapal mulai rusak karena dilubangi anak buahnya sendiri, alih-alih memperbaiki, sang nakhoda malah silau dengan kemegahan kapal lain. Lalu menyerangnya agar dapat menguasai.

Malangnya, kapal yang terlihat megah itu, ternyata tak kalah rusaknya. Orang-orang di dalamnya terlalu asik memandangi kemegahannya sendiri, si pemilik tak memperhatikan kerusakan di sana sini. Pun tak menyadari, ada musuh yang tengah mendekati.

Dua-duanya, karam.

Sebuah kapal memang tak boleh sempurna, dan memang tak kan pernah ada yang sempurna, sebab kesempurnaan adalah milik Sang Pencipta. Kalau merasa sempurna, boleh jadi, karena memang sudah karakter manusia yang seringkali menganggap dirinya sekeren Arjuna, sekuat Bima, sepintar Krisna. Padahal, pret, ya cuma merasa.

Sebagaimana tertulis di banyak baliho yang bertebaran di musim-musim kampanye, seperti saat ini, “Hanya Kecurangan yang Bisa Mengalahkan Cepot”, umpama. Kubu lawan enggak mau ketinggalan, “Berhentilah Menakut-nakuti Rakyat dengan Berita Palsu alias Hoax!”

Lihat! Semua merasa bakal dicurangi, semua merasa lawannya telah bermain kotor, semua merasa dirinya yang paling pantas, paling sempurna, yang lain, ke laut aja, lewat tol biar cepet. Bhahaaha.

Kedua kubu saling serang, saling tuding. Kubu yang semula kerap terlihat selow menanggapi berbagai tudingan, belakangan mulai menabuh genderang perlawanan, tanpa tedeng aling-aling, lebih agresif bahkan.

Kubu satunya tak mau kalah dan mengatakan dengan sepenuh keyakinan, “Doski panik, Cuy, elektabilitasnya mulai merosot. Meskipun itu sebetulnya, tiada lain, disebabkan oleh ulah orang-orang di sekelilingnya sendiri yang kerap melakukan blunder.”

Namun, alih-alih berbenah, keduanya malah meniru Prabu Watu Gunung, menyerang lawan dan membiarkan perahunya yang bocor dan rusak di sana-sini. Pokoknya, seraaang!

Tim hore menyambut seruan itu dengan antusias, “Hajar, Joooohn! Kite di belakang ente!” Yang model-model begini, begitu sang idola terlihat ngos-ngosan, biasanya bukannya bantuin, tapi malah pindah ke perahu lain. Dan mencari junjungan baru. Ada yang seperti itu. Ada.

~ Halah, hobby kok baca fiksi, dasar tukang ngayal!

Hei, Boy! Kata orang bijak, sastra itu melembutkan hati dan mengayakan sudut pandang. Hati kalau sudah lembut, jangankan ingat dosa, baca komik lucu aja, bisa nangis. Eh.

Continue Reading
Advertisement

Trending