Connect with us

Science & Technology

Gangguan Ini Penyebab Downnya Facebook, Instagram, WhatsApp!

Published

on


Instagram Down

Facebook mengakui sejumlah layanannya mengalami masalah. Sejak semalam pengguna di berbagai belahan dunia mengeluhkan kesulitan akses ke Instagram, Facebook, dan WhatsApp.

Finroll.com – Hingga saat ini (14/3/2018 pukul 7:20), kedua jejaring sosial yang berada dalam satu induk tersebut terpantau masih belum bisa dioperasikan. Anda masih bisa membuka kedua platform tersebut, namun posting terakhir adalah beberapa jam yang lalu. Beberapa masalah juga ditemui ketika menggunakan fitur-fitur FB dan IG, seperti Messenger, posting feed di Facebook dan Instagram, bahkan update Story di WhatsApp.

Bahkan melansir The Verge, Oculus VR yang dimiliki Facebook juga sempat down. Begitu juga fitur Facebook Ad. Hal ini sama seperti WhatsApp, juga anak perusahaan Facebook, juga terdampak meskipun cukup minor di aspek Story.

Twitter pun kembali menjadi pelarian para pengguna Instagram. Saking banyaknya yang curhat, tagar #instagramdown yang memuncaki trending topic Twitter di Indonesia maupun dunia.

Mayoritas pengguna mengeluhkan feeds dan story tidak update. Pengguna juga tidak bisa memposting di kedua layanan tersebut. Hingga berita ini tayang, Instagram masih bermasalah.

Lewat akun Twitternya, Facebook telah mengonfirmasi bahwa terdapat adanya gangguan yang menyebabkan pengguna kesulitan mengakses sejumlah layanannya. Merekapun tengah berupaya untuk segera mengatasinya secepat mungkin.

“Kami menyadari bahwa beberapa orang saat ini mengalami masalah dalam mengakses kumpulan aplikasi Facebook. Kami sedang berupaya menyelesaikan masalah ini sesegera mungkin,” kata Facebook.

“Fokus kami menyelesaikan masalah ini sesegera mungkin. Tapi kami konfirmasikan masalah ini tidak terkait serangan DDoS,” Lanjutnya.

Pantauan dari laman Downdetector, masalah akses Instragam dan Facebook mulai dilaporkan pengguna sejak semalam (13/3/2019) pukul 23.00 WIB. Puncaknya pada jam 02.00 WIB (14/3/2019), di mana 18 ribu laporan terpantau.

Kebanyakan pengguna melaporkan tidak bisa memperbarui feed. Selain itu mereka tidak bisa log-in dan mengakses website Facebook maupun Instagram.

Gangguan seperti ini sejatinya juga pernah terjadi pada 2017 lalu. Ketika itu sejumlah pengguna melaporkan tidak dapat mengakses aplikasi dan tak dapat berkirim pesan satu sama lain.

Advertisement

Science & Technology

April Mendatang Galaxy S10 5G Dipastikan Rilis, Lalu Berapa Ya Kira-Kira Harganya?

Published

on

Galaxy S10 5G

Samsung telah merilis Galaxy S10, namun masih dengan jaringan 4G. Pada 5 April 2019, produsen smartphone yang berbasis di Korea Selatan (Korsel) itu kabarnya akan meluncurkan Galaxy S10 5G.

Finroll.com – Ponsel dengan jaringan 5G pertama di pasaran tersebut sejatinya akan dirilis Maret ini, namun ditunda dengan beragam alasan. GSM Arena mengabarkan Samsung Galaxy S10 5G akan mulai dijual di Korsel pada 5 April 2019 dengan perkiraan harga USD1.332 atau sekira Rp18,7 juta.

Setelah beredar di Korsel, Galaxy S10 5G juga akan mulai dijual di Amerika Serikat (AS) pada 11 April 2019. Sayangnya, Samsung tak membuka pesanan pre-order, sebelum ponsel tersebut resmi diluncurkan.

Samsung Galaxy S10 5G dipastikan memiliki spesifikasi yang tak jauh beda dengan S10 yang sebelumnya diluncurkan. Jaringan 5G adalah hal yang membedakan pada smartphone terbaru yang akan dikeluarkan Samsung tersebut.

Continue Reading

Science & Technology

Google Didenda Rp 23,9 Triliun Oleh Uni Eropa Terkait Periklanan Ilegal

Published

on

Google Didenda Rp 23,9 Triliun Oleh Uni Eropa Terkait Periklanan Ilegal

Finroll.com – Uni Eropa menjatuhkan denda USD 1,7 miliar atau di kisaran Rp 23,9 triliun pada raksasa internet Google. Ini adalah ketiga kalinya Google didenda besar oleh Eropa terkait persoalan monopoli.

Denda terbaru itu karena praktik ilegal periklanan oleh Google dari tahun 2006 sampai 2016. “Keputusan hari ini adalah tentang bagaimana Google menyalahgunakan dominasinya untuk menghentikan website menggunakan broker selain platform AdSense,” kata Margrethe Vedstager, European Competition Commissioner.

Artinya, pengiklan dan pemilik website hanya punya sedikit pilihan dan kemungkinan ongkos lebih tinggi yang dibebankan pada konsumen. Komisi Eropa menyatakan website seringkali punya fungsi pencarian. Ketika konsumen memakainya, selain hasil pencarian juga akan tampil iklan.

Nah, produk ‘AdSense for search’ menyediakan iklan tersebut bagi website, yang dijuluki Komisi Eropa sebagai broker iklan. Di 2006, Google mulai memasukkan kontrak eksklusif sehingga menghalangi publisher memajang iklan dari rival seperti Microsoft dan Yahoo di pencarian.

Berbagai pembatasan lain dilakukan Google yang secara efektif memperkuat dominasinya. Termasuk publisher harus mengajukan izin tertulis jika ingin mengubah penampilan iklan dari pesaing, sehingga Google punya kendali penuh.

“Rival Google jadi tidak mampu tumbuh dan berkompetisi, dan pemilik website hanya punya pilihan terbatas menjual ruang iklan di website itu dan dipaksa bergantung sepenuhnya pada Google,” papar Margrethe.

“Tidak ada alasan bagi Google untuk memasukkan pembatasan itu dalam kontrak mereka, selain untuk menghalangi rival dari pasar,” tambah dia yang dikutip dari BBC.

Google pun menerima denda itu. “Kami selalu sepakat bahwa pasar yang sehat menjadi perhatian semua pihak. Kami telah melakukan perubahan besar pada produk kami untuk menyelesaikan isu Komisi,” kata Kent Walker, Global Affairs Head Google.

Tahun lalu, Komisi Eropa menjatuhkan rekor denda 4,34 miliar euro pada Google karena dianggap bersalah memanfaatkan sistem operasi Android untuk menjegal rival. Di tahun 2017, Google juga didenda 2,42 miliar karena menghalangi rival dari website perbandingan belanja.

source: Inet

Continue Reading

Science & Technology

Terra Drone Indonesia Akan Menyediakan Teknologi Terbaru Dan Tercanggih

Published

on

Terra Drone

AeroGeosurvey Indonesia yang tergabung menjadi bagian dari grup global Terra Drone dengan identitas baru: Terra Drone Indonesia akan menyediakan teknologi terbaru dan tercanggih. Perusahaan akan menawarkan lebih banyak solusi bagi pelanggan di Indonesia.

“Kami telah berdiskusi dengan banyak operator di Indonesia dan kami sangat terkesan dengan rekam jejak yang baik dan pengalaman profesional selama tiga tahun terakhir dari AeroGeosurvey Indonesia,” kata Toru Tokushige, CEO Tera Drone.

Hal tersebut membuat Terra memilih AeroGeosurvey Indonesia untuk menjadi bagian yang tepat untuk mencapai visinya yaitu untuk menjadi perusahaan penyedia jasa terbesar di dunia.

“Melalui investasi yang dilakukan, kedepannya kami dapat menawarkan jasa yang lebih menarik dengan memanfaatkan pengalaman survei 3 dimensi dan teknologi terkini seperti Terra LiDAR yang lebih murah dua sampai tiga kali dari teknologi serupa lainnya,” tambah Michael Wishnu Wardana, Direktur AeroGeosurvey Indonesia.

Hal ini menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk mengeksplor teknologi dan metodologi terbaru termasuk teknologi Light Detection and Ranging (LiDAR), serta inspeksi berbasis Artificial Intelligence (AI), kepada para pengguna di Indonesia dan Asia Tenggara. Terra Dron akan terus berinovasi terkait aplikasi drone yang dapat memberikan dampak besar bagi masyarakat.

AeroGeosurvey akan resmi mengubah identitasnya menjadi Terra Drone Indonesia secara bertahap selama kuartal 1 tahun 2019. (Akurat)

Continue Reading
Advertisement

Trending