Connect with us

Citizen Journalism

Fiqih Darah Perempuan: Istihadah yang Bikin Galau

Published

on


Kaum perempuan merupakan makhluk istimewa yang biasa menerima “tamu” rutin setiap bulan. Namun acapkali tamu ini datang diluar dari kebiasaan rutinnya. Kadang terlalu lama, kadang terlalu sebentar, kadang malah pergi begitu saja tanpa permisi dan salam kayak jelangkung. Hehehe.

Tamu istimewa berupa haid bulanan yang kadang-kadang bersifat luar biasa ini yang membuat kita *eh saya, yaudahlah kita ajah ya, sapa tahu kamu juga pernah ngalamin~ merasa was-was untuk menentukan: “Nih udah kelar belum sih? // Kita sudah boleh sholat belum ya? // Udah boleh puasa gak ya? // Udah boleh wik wik wik bareng suami belum ya?” Duh, nelangsa 😥

Galau rasanya. Apalagi kalau terjadi pas di bulan Ramadhan. Mau lanjut ibadah wajib takut malah dosa, gak ibadah merasa rugiiiii. Takut hilang kesempatan meraih sebanyak-banyaknya pahala di bulan mulia. Ya Allah~

Nah, mangkanye nih, saya coba meresensi isi kitab FIQIH DARAH PEREMPUAN karya Muhammad Nuruddin Marbu Banjar Al Makky, tepatnya di Bab 2 yang membahas tentang Istihadah. Rata-rata kita tentu pernah mendengar istilah istihadah ini. Namun bagaimana sifat dan hukum yang melingkupinya kayaknya sebagai perempuan wajib untuk kita ketahui. Biar sewaktu-waktu kalau mengalami gak bikin galau dan was-was lagi.

Kita mulai ya, Mpok….

Darah haid berbeda dengan darah Istihadah. Mereka bisa jadi dekat, namun bukan sodara (apaan seh?😑).

Dari Aisyah r.a., bahwa Fatimah binti Abi Hubaisy sedang beristihadah, Rasulullah Saw berkata kepadanya:

” Darah haid adalah darah hitam yang sudah dikenal. Bila darah itu yang keluar maka tinggalkanlah shalat, namun bila darah yang lain maka berwudhu dan shalatlah!”

Nah, Al Istihadah secara bahasa bermakna aliran atau keluarnya darah terus menerus diluar waktu biasanya. Sedangkan secara syariat adalah darah yang keluar diluar hari-hari haid dan nifas (tau dunk nifas) karena adanya penyakit atau kelainan pembuluh darah di rahim bagian bawah (tau dunk maksudnya apa).

Istihadah ini ada 5 macam yaitu:

1. Darah yang keluar kurang dari masa haid.

Minimal masa haid adalah sehari semalam. Jika darah yang keluar kurang dari sehari semalam maka darah tersebut bisa disebut sebagai darah istihadah. Gak usah berasa serem dulu, lanjut no.2.

2. Darah yang keluar lebih dari masa haid

Umumnya masa haid itu kan 6 s.d. 7 hari. Namun maksimal masa haid adalah 15 hari termasuk malamnya. Jadi meskipun darah haid kamu tidak mengalir secara berkesinambungan atau bila dijumlah total hanya mengalir selama sehari semalam, selama masih keluar dalam kurun waktu 15 hari, maka kamu masih dianggap sedang haid. Nah, darah yang keluar lebih dari 15 hari itulah yang dapat dikatakan sebagai darah istihadah.

3. Darah yang keluar sebelum usia  haid atau setelah masa menopause

Jumhur ulama mengatakan bahwa umur minimal perempuan mendapatkan haid adalah 9 tahun. Sedangkan pendapat yang paling mu’tamad (dijadikan pegangan) tentang masa menopause adalah direntang usia 50 s.d 70 tahun. (Kalau kamu ada direntang usia ini, plis tetep lanjutin bacanya, insya Allah bisa didongengin ke anak cucu. Hehehe *maksa)

4. Darah yang keluar lebih lama dari maksimal masa nifas.

Batas maksimal masa nifas adalah 40 hari. Jika setelah 40 hari tanpa jeda ada keluar darah, maka darah tersebut bisa dikatakan darah istihadah.

5. Darah yang keluar lebih dari masa haid dan nifas

Seringkali seorang perempuan langsung mengalami haid setelah jeda 1 s.d. 3 hari dari nifas. Maka darah yang keluar lebih dari masa haid setelah nifas adalah istihadah.

Masa suci minimal adalah 15 hari. Apabila darah haid dianggap mengalir selama 15 hari, maka darah haid tersebut sebenarnya telah bercampur dengan darah istihadah. Untuk kasus ini dihukumi berdasarkan empat keadaan seorang perempuan, yaitu:

1. Mubtadiah ghairu mumayizah. Artinya pemula yang tidak dapat membedakan. Yaitu keadaan seorang perempuan yang belum pernah mendapat haid namun sudah masuk usia haid dan mengeluarkan darah selama 15 hari sehingga tidak dapat mengidentifikasi jenis darah tersebut.

Menurut Mazhab Syafi’i dan Imam Ahmad, haidnya dihitung sehari semalam. Dan hari selebihnya dianggap bukan haid melainkan istihadah. Namun beberapa ulama lain berpendapat bahwa haid-nya dihitung 6 s.d. 7 hari sebagaimana umumnya perempuan haid. Sedangkan sisa hari lainnya dianggap masa suci. Monggo dipilih ajah enaknya yang mana. Ini berguna pas kita mau menghitung jumlah puasa fardhu yang wajib diqodo alias diganti.

2. Mubtadiah mumayizah. Artinya pemula yang dapat membedakan. Yaitu perempuan yang belum pernah haid namun ia mampu membedakan jenis darahnya berdasarkan kuat dan lemahnya darah tersebut keluar. Jadi bukan tekad mencintai seseorang dan mengurangi berat badan ajah yang bisa kuat dan lemah oleh keadaan, darah haid juga 😛

Jadi gini, apabila darahnya lemah namun lama waktunya maka itu adalah darah istihadah. Jika darahnya kuat dan masa keluar tidak kurang dari batas minimal masa haid dan tidak melebihi batas maksimal haid maka itu adalah darah haid. Darah yang lemah namun tidak kurang dari batas minimal masa suci yaitu 15 hari, tetap disebut darah haid. Nah, loh! Yang bingung pegangan. Lanjut dulu bacanya…😅

Ibnu Hajar Al Haitami berkata darah dikatakan kuat atau lemah berdasarkan 3 sifat yaitu warna, kekentalan, dan bau tak sedap. Gitchuuu…

3. Mu’tadah ghairu mumayizah. Artinya terbiasa namun tidak dapat membedakan. Yaitu perempuan yang pernah mengalami masa haid dan masa suci namun tidak bisa membedakan jenis darah yang keluar. (Yang ini kayaknya ngomongin saya 😑)

Untuk yang menemani saya berada ditahap ini, jadi gampangnya begini, ada seorang perempuan memiliki kebiasaan haid selama 7 hari, namun dihari ke 8 ia melihat darah masih mengalir, maka ia wajib menahan dirinya untuk menjalankan shalat dan ibadah lainnya sampai batas waktu 15 hari. Jika sudah melampaui 15 hari darah masih keluar, maka darah tersebut adalah darah istihadah. Maka lanjutkanlah Ibadahnya. Hehehe

4. Mu’tadah Mumayizah. Artinya terbiasa dan dapat membedakan. Yaitu perempuan yang mempunyai kebiasaan haid yang tetap, baik kadar maupun waktunya, dan Ia bisa membedakan darah yang keluar dari sisi kuat dan lemahnya.

Buat perempuan pinter kayak gini, maka hukum ditetapkan berdasarkan pengetahuannya, bukan tradisi atau kebiasaannya. Apalagi kebiasaan tetangga sebelah *eh.

Jadi ketika ia terbiasa haid selama 5 hari, namun ia melihat darah hitam terus keluar dan berlangsung selama 10 hari awal dan darah merah dihari lainnya, maka haidnya adalah 10 hari bukan 5 hari.

Jadi, jelasnya kalau darah istihadah itu berbeda dengan darah haid. Dan hukum-hukum yang berkaitan dengan masa istihadah sama dengan masa suci. Jadi meski kita sedang istihadah, kita boleh melakukan ibadah apa saja yang biasa kita lakukan pas masa suci. Tapi tetap ada aturan-aturan yang membedakan. Karena kan sebenarnya yang sedang beristihadah itu cuma dapat toleransi. Kondisinya dianggap darurat.

Nah, berikut ini hukum-hukum yang berkaitan dengan perempuan yang mengeluarkan darah istihadah. Perempuan dalam kondisi seperti ini dinamakan mustahadhah; hukumnya yaitu sebagai berikut:

1. Darah istihadah tidak menghalangi mustahadhah untuk menjalankan ibadah sholat dan puasa karena istihadah adalah hadats yang bersifat permanen. Sama halnya dengan mengompol, keluarnya madzi dan buang air besar.

2. Mustahadhah yang hendak mendirikan sholat diharuskan mencuci kemaluannya sebelum berwudhu. Jika kondisinya harus bertayamum, maka wajib menggunakan pembalut untuk menyumbat dan menampung darah yang keluar. Biar gak berceceran gitu loh. ~Udah tahu, Mbak! Gak usah dibilangin~ yowis lanjut…

3. Mustahadhah harus berwudhu setiap masuk waktu dan hendak mendirikan sholat. Apabila ia wudhu sebelum waktu sholat lantas mengeluarkan darah meski hanya setetes, maka wudhunya batal. Namun apabila ia berwudhu setelah masuknya waktu sholat maka hal tersebut bisa ditolerir, wudhunya tidak batal. Sungguh memudahkan kannnn.

4. Mustahadhah harus segera mengerjakan sholat begitu selesai wudhu untuk meminimalkan hadats yang akan terus berulang. (Keluar terus maksudnya).

5. Mustahadhah harus berwudhu setiap kali sholat fardhu dan tidak boleh sholat dengan wudhu tersebut lebih dari satu kali sholat fardhu. Bersamaan dengan itu ia juga wajib membasuh kembali alat kelaminnya, menyumbat dan membalutnya. Kayak point 2 di atas yaaa.

6. Mustahadhah tidak wajib mandi untuk mendirikan sholat dan ketika sembuh (darah berhenti mengalir). Jadi cuma bersih-besih dan wudhu ajah.

7. Mustahadhah tidak boleh menjamak dua sholat kecuali dalam keadaan safar (sedang bepergian jauh). Jangan mentang-mentang dikasih toleransi seperti orang sakit, jadinya ngelunjak minta sholat di jamak juga. Hehehe

8. Mustahadhah diperbolehkan untuk melakukan i’tikaf sepanjang tidak mengotori mesjid dan thawaf dengan didahului mandi dan membalutnya serta boleh membaca Al Qur’an. Cakep kan!

9. Mustahadhah boleh bersetubuh dengan suaminya. Semua ahli fiqih bersepakat tentang ini. So, jangan ragu untuk tetap melayani suami agar beliau tidak terjatuh pada perbuatan terlarang. 😄

Lebih lanjut dalam hal taharah, Mustahadhah yang selesai berwudhu dan darahnya berhenti tuntas sehingga sembuh dari istihadahnya maka ada beberapa kondisi yang menjadi penentu hukumnya, yaitu:

1. Jika itu terjadi setelah mengerjakan sholat, maka sholatnya sah namun wudhunya batal sehingga ia harus berwudhu lagi jika ingin mengerjakan sholat lainnya.

2. Jika itu terjadi sebelum mengerjakan sholat, maka wudhunya batal. Harus mengulang wudhu jika ingin sholat. Itu karena kesembuhannya membatalkan toleransi dan keadaan daruratnya.

3. Jika darah berhenti saat mengerjakan sholat, maka sholat dan wudhunya batal.

4. Adapun ketika ia berwudhu kemudian darah terhenti namun biasanya akan kembali mengalir lagi beberapa saat kemudian, maka ia boleh segera sholat jika jeda waktu berhenti darahnya singkat. Tetapi harus mengulang wudhu lagi jika jeda waktu berhenti darahnya cukup lama.

Lebih jelasnya Al Baghawi berkata:

“Bila seseorang memiliki luka yang tidak mengalirkan darah kemudian tiba-tiba darahnya keluar di tengah sholat, atau darah istihadah keluar di tengah sholat, ia harus menghentikan sholat untuk mencuci kotorannya -dan berwudhu untuk mustahadhah- lalu mengulangi sholat dari awal.” (Al Majmu’ 2/559).

Demikian sekiranya yang bisa saya rangkum dari Bab Istihadah ini. Semoga dapat memberikan manfaat bagi kawan-kawan yang membaca. Mohon maaf jika ada yang terkesan sotoy dan menggurui. Yang benar datangnya dari Allah. Kalo yang salah, ya jelas dari kamu. Bukan saya! *nyolot 😂😜

Advertisement

Citizen Journalism

Awal Mula #10YearChallenge Hingga Viral di Indonesia

Published

on

By

Awal tahun 2019 ini dunia media sosial di tanah air dibuka dengan konten unik bertajuk #10yearchallenge. Hingga kini belum diketahui siapa yang memulai aksi, tantangan atau isi konten yang saat ini sedang ramai di media sosial baik di Instagram, Facebook hingga Twitter. Dalam aksi tantangan ini, semua pengguna media sosial termasuk juga para pesohor mengunggah foto-fotonya dalam rentang waktu 10 tahun kebelakang. Nah, foto lama tersebut kemudian disandingkan dengan foto terbaru di tahun terbaru.

Awal kemunculan tantangan unik ini dimana seseorang berbagi potret mereka dalam rentang 10 tahun. Tantangan memiliki beragam julukan mulai dari #HowHardDidAgingHitYou, 2009vs2019, GlowUpChallenge dan lain sebagainya. Kadang kala juga berisi perbandingan 2 foto parodi foto diri dengan foto idolanya sehingga kerap disebut meme.

Dipercaya tantangan #HowHardDidAgingHitYou ini pertama kali dimulai di media sosial Facebook oleh seorang penggunanya yang bernama Damon Lane. Damon yang adalah seorang chief meterologist di KOCO News 5 Oklahoma mengunggah foto dirinya terbarunya pada hari Jumat, 11 Januari 2019. Sejatinya, ia hanya akan membandingkan foto profil pertamanya di Facebook dengan foto terbaru dirinya saat ini. Kemudian terjadi orang-orang mulai mengikuti menguggah foto drinya sekarang (tahun 2019) dengan foto dari 10 tahun lalu (dalam hal ini tahun 2009). Kemudian tantangan ini berkembang hingga memiliki beberapa julukan seperti 2009vs2019, How Did Age Hit You atau 10 year challenge.

Tak berapa lama, para pengguna media sosial mulai mengunggah postingan tantangan ini dan menjadi populer. Bertambahnya popularitas tantangan ini lalu memunculkan banyak meme, para pengguna menyelipkan tokoh idola sebagai pembanding fotonya yang bertujuan menghibur pengikutnya. Mereka menyematkan foto binatang kesayangan, bahkan karakter film dalam membuat konten tantangannya.

Setiap tahun selalu ada tantangan-tantangan model ini yang lebih kurang mirip seperti Puberty Challenge di tahun 2017 yang mana pengguna media sosial menunjukkan foto sebelum dan sesudah perubahan aneh menuju dewasa. Di tahun 2018 ada #GlowUpChallenge yang sempat populer kala di mulai oleh aktris AS Miley Cyrus pada ajang Oscar dan berkembang menjadi besar ketika dibandingkan dengan foto sebelumnya pada tahun 2012 dan 2018.

Di Indonesia sendiri, tantangan #10yearchallenge sedang berada di puncaknya, hal ini dapat diketahui pada berbagai lini masa media sosial banyak terdapat postingan yang membandingkan foto 10 tahun lalu dengan foto sekarang.

Untuk membuat konten tantangan semacam ini sebenarnya tidak sulit, hanya dengan mencari foto-foto lawas anda pada album media sosial anda, biasanya Facebook atau album yang tersimpan di ponsel pintar anda. Biasanya jika sudah terhubung dengan aplikasi Foto Google, Timehop ataupun dengan browsing foto lawas anda di laptop atau PC anda, maka akan makin mudah dilakukan.

Jika telah anda menentukan foto lawas yang akan anda gunakan, langkah selanjutnya adalah membuat kolase perbandingan yang akan berisi foto diri anda yang telah ditentukan sebelumnya (foto lawas 10 tahun lalu) dengan foto diri terbaru di tahun 2019 ini. Anda dapat menggunakan beragam aplikasi grid yang terdapat baik di Google Play Store ataupun Apple Store. Penulis menggunakan aplikasi Picarts yang dapat anda unduh baik di android maupun iOs, kemudian pilih grid 2 bidang, selanjutnya isi kanan kirinya dengan foto yang ingin ditampilkan dan jangan sampai lupa tulis tahunnya. Selain Picart, anda dapat juga menggunakan aplikasi Canva, Unfold, Instagrid, dan lain sebagainya. Setelah selesai, unggah hasilnya ke semua media sosial anda seperti Instagram baik strory maupun feed, Facebook, juga Twitter, dengan tagar #10yearchallenge dan #10yearschallenge.

Continue Reading

Citizen Journalism

Moderator Debat Capres 2019 Kok, Ira Koesno Lagi? Kenapa Enggak Dedy Corbuzier Saja?

Published

on

Sudah calonnya wajah lama, lah kok moderatornya ikut-ikutan wajah lama pula. Ini mau debat atau mau reunian? Kayak enggak ada orang lain aja. Oke-oke, Najwa Shihab jelas enggak mungkin, karena nanti orang bakal protes dan bilang, ini sebetulnya Debat Capres atau talkshow Mata Najwa? Tapi, apa enggak ada alternatif lain?

Menurut kamu, seberapa menariknya Debat Capres dan Cawapres antara pasangan Jokowi – Ma’ruf Amin dan Prabowo – Sandiaga Uno yang akan dilangsungkan beberapa hari lagi itu?

Kalau menurut saya, setidaknya ada tiga hal yang menyebabkan Debat Capres dan Cawapres Perdana kali ini menjadi tak terlalu menarik lagi.

Calonnya Dia Lagi-Dia Lagi

Nyaris tak ada wajah baru, apalagi (entah) ide baru yang bakal tampil dalam ajang Debat Capres yang seharusnya bisa menjadi tontonan yang sarat informasi akan siapa dan bagaimana cara ia kelak menahkodai negeri yang bak sepenggal surga di muka bumi ini.

Kita tahu, dari keempat orang Calon Presiden dan Wakil Presiden tersebut, hanya Kyai Ma’ruf yang belum pernah kita lihat performanya dalam sebuah ajang debat Pilpres atau Pilkada, Sandiaga Uno, tentu masih sangat lekat dalam ingatan bagaimana penampilannya pada Debat Pilkada 2017, tempo hari.

Sementara Pak Jokowi dan Pak Prabowo merupakan dua calon yang lima tahun lalu pernah berhadap-hadapan. Dua calon yang lima tahun lalu telah meninggalkan jejak berupa kata “bocor” dan “dananya ada”. Dan si empunya kata “dananya ada” lah yang akhirnya keluar sebagai pemenang. Ini jadi semacam indikasi, kalau masyarakat Indonesia memang lebih menyukai kabar gembira ketimbang sebuah pesan atau (bahkan) fakta yang kurang menggembirakan. Satu kenyataan yang seharusnya menjadi perhatian Pak Prabowo dan Tim Kampanyenya.

Sayangnya, baik Pak Prabowo, ataupun tim kampanyenya seperti melupakan poin itu. Lagi-lagi, dalam beberapa kesempatan Pak Prabowo menyampaikan hal-hal yang kurang menggembirakan, macam; ramalan tentang masa depan Indonesia yang ia baca dari sebuah novel bahwa Indonesia akan bubar pada tahun 2030.

~ Lho, emang kapan jadiannya? Kok tau-tau bubaran.

Au ah, Bong!

Atau yang terbaru, ia mengatakan bahwa masih banyak dokter di negeri ini yang penghasilannya lebih kecil dari penghasilan juru parkir. Sekalipun apa yang dikatakan Pak Prabowo itu benar adanya (tapi amit-amit kalo ramalan tentang bubarnya Indonesia, sih) tetap saja bagi lawan politiknya, ini adalah celah untuk mengatakan bahwa Prabowo hanya menebar ketakutan. Persis ketika ia mengatakan keuangan negara “bocor” yang dinyinyiri segenap cebong di Indonesia, meskipun, pada akhirnya Pak Jokowi pun mengakui hal itu.

Tapi para kampret enggak usah khawatir dengan pernyataan-pernyataan Pak Prabowo yang kerap blunder dan berpengaruh pada elektabilitasnya. Enggak usah khawatir. Sebab, seberapapun seramnya pernyataan Pak Prabowo, tetap saja itu baru sebuah pernyataan. Berdoa saja, semoga rakyat dapat menangkap pesan apa yang sebenarnya ingin disampaikan Pak Prabowo.

Sementara Pak Jokowi, akalan lumayan berat upayanya untuk meyakinkan lagi masyarakat yang lima tahun lalu sudah ia jejali janji-janji, entah berapa janji yang sudah terpenuhi. Saya enggak bisa menyebutkannya, tapi jika berbicara tentang Pak Jokowi, saya mendadak jadi ingat sebuah lirik lagunya ayahanda Rhoma Irama, “Kau yang berjanji kau yang mengingkari, kalau begini jadinya tak mau—kumemilih Anda.”

Belum lagi upayanya untuk meyakinkan para pendukungnya yang sempat kecewa karena Pak Jokowi akhirnya melabuhkan pilihannya untuk posisi wapres kepada ulama senior yang merupakan salah satu aktor penyebab terpenjaranya Ahok. Yups, tul banget, dialah Kyai Ma’ruf Amin. Andai kamu Ahoker, gimana coba perasaan kamu? Begitulah, hidup memang kadang terlihat seperti ngeledek kamu. Yang sabar, ya!

Adanya Kisi-Kisi Soal Debat

Buset, ini Debat Capres atau Ujian Nasional? Pakai ada kisi-kisinya. Rocky Gerung menyayangkan alasan sembrono KPU yang mengatakan bahwa alasan diadakannya kisi-kisi agar tak ada yang dipermalukan di antara keempat calon peserta Debat Capres tersebut.

“Coba saya tanya ke KPU, dari empat wajah itu, yang berpotensi memalukan publik, yang mana?” Demikian pertanyaan Rocky Gerung kepada KPU dalam sebuah acara talkshow di salah satu stasiun televisi.

“Sebab, kalau Anda nggak bisa jawab,” Kejar Rocky, karena merasa belum mendapat jawaban yang memuaskan, “Anda menduga keempat-empatnya punya potensi untuk dipermalukan itu, atau Anda memang tahu tapi Anda sembunyikan, kan itu semiotiknya kalau kita membongkar persembunyian dari kekacauan ini” Pungkas Rocky yang diikuti tepuk tangan penonton.

Moderatornya Kok Ira Koesno Lagi?

Sudah calonnya wajah lama, lah kok moderatornya ikut-ikutan wajah lama pula. Ini mau debat atau mau reunian? Kayak enggak ada orang lain aja. Oke-oke, Najwa Shihab jelas enggak mungkin, karena nanti orang bakal protes dan bertanya, ini sebetulnya Debat Capres atau talkshow Mata Najwa? Apalagi Dedy Corbuzier, lebih enggak mungkin lagi, khawatir sangking kesalnya sama penonton yang berisik, dihipnotis itu penonton agar mematung sepanjang debat.

Tapi kan masih ada Via Vallen. Lho ini beneran, apa salahnya kita kemas debat dengan suasana rileks supaya kedua pendukung calon enggak ribut dan tetap saling menebarkan rasa sayang. Ya, enggak?

Atau kalau Via Vallen dirasa kurang tepat, saya masih ada alternatif lain. Gimana kalau Nissa Sabyan? Nah, ini kayaknya sudah paling pas. Bisa jadi penengah kalau debat mulai panas. Cukup dengan melantunkan liriknya yang sangat fenomenal itu, “Hmmm.. Hmmm.” Dijamin, yang lagi ngotot-ngototan langsung terdiam, tenang, karena berasa diguyur air zam-zam.

Tapi kalau bisa, sebelumnya, Nissa Sabyan mengingatkan kepada peserta debat agar enggak usah ikut-ikutan nyanyi. Enggak usah nanya kenapa. Sudah jelas jawabannya, agar enggak ada yang dipermalukan. Ituh!

Continue Reading

Citizen Journalism

Media yang Dulu Bukanlah yang Sekarang (Pilpres 2019)

Published

on

Media yang Dulu Bukanlah yang Sekarang (Pilpres 2019)

Bicara soal perkembangan media massa di Indonesia, seperti televisi, surat kabar hingga munculnya media baru seperti online saat ini, tentu sudah mengalami berbagai dinamika. Jika dulu media sangat menjunjung tinggi nilai dan kaidah jurnalisme, tetapi makin kesini hal itu sudah bergeser.

Tentu kita semua mengetahui, dalam kontestasi Pilpres 2019 ini saja sudah banyak sekali peristiwa-peristiwa politik, yang menjadi “makanan” utama dari media. Dari mulai deklarasi pasangan calon, strategi kampanye, hingga hal “printilan” lain yang seakan terlalu berlebihan untuk disorot.

Kita tentu jengah dengan berbagai headline dari suatu media yang seperti berat sebelah. Hal ini cukup simpel, sebab media saat ini lebih umum “di bekingi” oleh orang yang berkedudukan tinggi di suatu partai politik.

Media seakan lupa akan kaidahnya sebagai kontrol sosial, independen, dan menjunjung tinggi etika jurnalisme. Saat ini, media justru makin menampakan wajah aslinya dalam bersikap. Masyarakat pun pasti sudah merasakan hal ini sejak lama.

Fenomena ini mengisyaratkan media, jika mereka sudah tidak sehat lagi. Sehingga ungkapan “media yang dulu bukanlah yang sekarang” pun cocok. Masyarakat haus akan berita yang berimbang, tidak menyudutkan, dan memiliki isi berita yang bergizi. Tidak cuma asal heboh saja.

Pengambilan angle berita oleh media seharusnya jadi prioritas perbaikan. Masyarakat ingin sekali hidup damai, tidak terkotak-kotakan karena amarah yang makin “digoreng” oleh media dalam pemberitaannya. Cukup sudah.

Media seharusnya menjadi garda terdepan bagi masyarakat untuk mencerdaskan, mencerahkan dan menjadi pengontrol sosial. Dalam kaitan dengan Pilpres, harusnya media lah yang getol memberitakan visi misi dua pasangan calon, bukan malah sebaliknya. Menimbulkan perpecahan di masyarakat akibat ucapan yang berujung pada kontroversi dan permusuhan sesama masyarakat. Sehingga tercipta dua kubu politik yang makin hari makin panas.

Fatalnya, rusaknya media yang berpihak ini lambat tapi pasti secara menyeluruh akan menggerogoti idealisme para jurnalis-jurnalisnya. Bukan jadi mustahil juga, jika media saat ini bergeser ke media liberal. Siapa yang punya uang, dan memiliki media itu, menjadi penguasa yang bisa membelokan pandangan media untuk berpihak pada yang punya uang dan kuasa. Who knows?

Continue Reading
Advertisement

Trending