Connect with us

Citizen Journalism

Fenomena Langka Hari Tanpa Bayangan

Published

on


Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) mencatat fenomena siang hari tanpa bayangan atau kulminasi utama akan terjadi setidaknya dua kali dalam setahun di Indonesia yakni pada bulan Maret-April dan September-Oktober. Dan fenomena kulminasi utama telah melintasi kota Jakarta dan Serang, Banten pada hari Selasa, 9 Oktober 2018 lalu.

Fenomena hari tanpa bayangan ini terjadi karena posisi matahari tepat berada diatas garis khatulistiwa, atau dapat disebut titik kulminasi matahari. Pada siang hari, matahari tepat berada di atas kepala dan menyebabkan bayangan tak nampak. Suhu udara rata-rata saat kulminasi matahari pun cenderung lebih tinggi dibanding hari-hari lainnya.

Fenomena langka kulminasi utama atau hari tanpa bayangan di Jakarta sendiri terjadi tepat pada pukul 11:40 WIB dan Serang pada pukul 11:42 WIB pada hari Selasa, 9 Oktober 2018 kemarin.

Seorang youtuber dengan dengan nama akun @tukangpotovlog mengunggah postingan video mengenai fenomena hari tanpa bayangan ini.

“Dan ternyata betul… hari ini matahari tepat diatas kepala,” ujar vlogger bernama asli Jemsichtiarto ini, pada Selasa, 9 Oktober 2018.

Dan fenomena hari tanpa bayangan ini akan terus terjadi di beberapa kota di Indonesia dalam beberapa hari kedepan. Kota-kota seperti Bandung, Semarang dan Surabaya akan bergantian dilewati peristiwa Kulminasi Utama ini.

Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) dalam akun media sosial Instagram @infobmkg memposting mengenai fenomena hari tanpa bayangan ini, lengkap dengan infografis dan penjelasan mengenai titik kulminasi.

Seiring dengan selesainya puncak kulminasi ini, matahari akan bergeser perlahan ke arah selatan menuju Australia, Selandia Baru dan Chile dan akan menjadi puncak musim panas bagi negara-negara tersebut.

Citizen Journalism

Pilpres 2019, Dua Perbedaan Untuk Kemajuan Bangsa

Published

on

pemilihan presiden

Pemilihan presiden (pilpres) sebagai bentuk pesta demokrasi telah terasa gaungnya walaupun tanpa konvoi kendaraan dan kibaran bendera partai. Namun kegaduhannya tetap terasa di telinga lewat dunia maya hingga percakapan pengamat politik musiman.

Kegiatan politik lima tahunan seperti tak pernah kehabisan bahan untuk diperbincangkan. Bahkan berita hoax pun tidak luput dari pembicaraan. Tidak jarang pula perdebatan hingga gesekan terjadi dengan lawan bicara saat tensi semakin tinggi.

Untuk pertama kalinya pemilihan presiden di Indonesia menghadirkan 2 calon yang sama dengan pilpres sebelumnya. Dua calon presiden (capres) dengan latar belakang yang berbeda, semakin manambah daya tarik pembicaraan. Selalu ada kelebihan dan kekurangan dari masing-masing calon untuk dibicarakan.

Pada Pemilihan presiden periode kali ini (2019-1024), sejatinya akan dilaksanakan pada tanggal 17 April 2019. Dilakukan secara serentak dengan pemilihan legislatif pada seluruh wilayah Indonesia.  Bapak Joko Widodo (Jokowi) selaku petahana akan kembali berhadapan dengan Prabowo Subianto (PS08) yang pernah dikalahkan pada pilpres sebelumnya.

Jika kita perhatikan ada cerita menarik dari kedua capres tersebut di atas, penyebutan atau penyingkatan nama yang memiliki sejarahnya masing-masing. Joko Widodo dengan sebutan Jokowi-nya dan Prabowo Subianto dengan sebutan PS08-nya.

Ilustrasi: pemilihan presiden

Ilustrasi: pemilihan presiden

Antara Jokowi dan PS08

Presiden Indonesia saat ini sejak kecil dikalangan keluarga dan teman-temannya dikenal dengan nama panggilan Joko.  Sebagaimana kita ketahui bersama Joko Widodo mempunyai latar belakang sebagai pengusaha mebel.

Sebutan Jokowi bermula saat beliau mulai aktif mengekspor mebel ke Eropa lewat perusahaannya, PT Rakabu. Salah satu buyernya yang berasal dari Perancis sering kali bingung dan kerap salah kirim pesanan ke  Joko. Karena memang sangat banyak orang yang memiliki nama panggilan Joko di Pulau Jawa.

Oleh karena itulah sang buyer asal Perancis tersebut memberikan tambahan kata wi sebagai kependekan dari Widodo. Jadilah sebutan Jokowi yang hingga sekarang menjadi lebih terkenal dari panggilan semasa kecil.

Berbeda dengan uniknya cerita awal penggunaan sebutan Jokowi, sebutan PS08 pada Prabowo Subianto memiliki cerita tersendiri. Pada penyebutan PS08, dua hurup di depan sudah dapat dimengerti kalau itu adalah singkatan dari Prabowo Subianto. Bagaimana dengan angka 08?

Bagi para pengguna twitter dan memfollow akun Prabowo Subianto (@Prabowo08) mungkin sudah tidak asing dengan angka 08. Sebagiannya barangkali bertanya-tanya tentang makna angka 08 tersebut. Angka 08 merupakan sandi radio dari Prabowo Subianto saat masih bertugas di TNI.

Sandi 08 disematkan padanya ketika menjabat sebagai Wakil Komandan Jenderal Pasukan Khusus. Sedangkan Komandan Kopassus saat itu, Luhut Binsar Panjaitan menggunakan sandi 09. Ketika beliau diangkat sebagai Danjen Kopassus menggantikan Luhut tidak lantas memakai sandi 09.

Prabowo tetap mempertahankan sandi 08, yang hingga kini masih dipakainya. Bahkan sampai sekarang masih banyak yang menyebutnya dengan sebutan Jenderal 08.

Antara Cebong dan Kampret

Ada hal lain yang sungguh menarik dalam persaingan untuk menjadi orang nomor satu di Indonesia. Selain latar belakang berbeda diantara dua kontestannya, sebutan unik pun disematkan pada para pendukungnya. Penyebutan yang diambil dari dua jenis nama hewan dengan wilayah hidup yang berbeda.

Ada sebutan cebong untuk pendukung sang petahana dan sebutan kampret untuk sang penantang. Sebagaimana kita ketahui bersama cebong atau kecebong adalah sebutan lain dari bludru yang merupakan anak dari katak.

Kecebong hidup di dalam air sebelum nantinya berubah menjadi katak yang hidup di dua alam. Lain halnya dengan kampret yang kesehariannya beterbangan di malam hari untuk memenuhi hajat hidupnya.

Semua perbedaan di atas bisa menjadi sesuatu yang berakibat negatif atau sebaliknya akan memberikan dampak positif. Tergantung bagaimana kita menyikapinya, saat kita memandang perbedaan tak bisa disatukan tentu akan memberikan efek yang negatif.

Namun akan terjadi hal yang yang sebaliknya bila kita melihat perbedaan adalah untuk saling menutupi kekurangan masing-masing. Hal yang demikian tentu akan memberikan dampak positif yang dapat membawa Indonesia ke arah yang lebih maju.

Continue Reading

Citizen Journalism

Merenungi Pesan Gusdur Di Tahun Politik

Published

on

Pertiwi memasuki tahun politik, astmofir kisruh antar pendukung dan tim sukses kedua belah pasangan calon presiden semakin runcing. Adab sebagai bangsa timur yang saling menghargai tinggal slogan jika kita tak kembali menengok mutiara-mutiara dari manusia bijak.

Perjalanan manusia Indonesia bak mutiara yang menghiasi peradaban manusia di muka bumi. Untaian manusia sempurna membentang memagari setiap lekuk kepulauan Nusantara. Memberikan pembelajaran hakikat kehidupan.

Jamrud Khatulistiwa ini tak sedikit melahirkan guru-guru kehidupan, bahkan diabad milenial ini, tak berselang jauh dari kepulangan KH. Abdrurahman Wahid alias Gusdur, manusia Indonesia bisa merealisasikan mutiara-mutiara yang ditelurkan oleh sang guru bangsa.

Pesta demokrasi yang akan dihelat bangsa ini jauh dari kata kegembiraan. Logika tak sebebas terungkap, bicara tak selepas menguap, karena label dan cap cebong atau kampret suatu saat diketok ditengah-tengah jidat anak bangsa. Somasi dan lapor sana lapor sini menjadi hiasan media massa.

Tak dapat dipungkuri pesta demokrasi kali ini mencapai titik ternista sepanjang orde reformasi. Pertarungan 2014 silam masyarakat disuguhkan tontonan adu gagasan dan ide. Sayangnya saat ini malah disuguhkan politik SARA.

Keagamaan bukan lagi menjadi sarana mengenal hakikat penciptaan, hubungan antara hamba dan Tuhannya. Saat ini agama menjadi alat yang tajam untuk merobek keharmonisan Indonesia. Karena itulah Gusdur selalu mengingatkan “Tidak penting apapun agama atau sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, maka orang tidak pernah menanyakan apa agamamu”.

Mungkin sudah saatnya bangsa ini kembali menderas kalam kebijaksanaan dari seorang Gusdur. Dalam pemikirannya ia berpesan “Marilah kita bangun bangsa dan kita hindarkan pertikaian sering terjadi dalam sejarah. Inilah esensi tugas kesejarahan kita yang tidak boleh kita lupakan sama sekal”.

Disini sang guru bangsa mengajarkan kita generasi penerus untuk tidak mudah bertikai karena adanya perbedaan suku, keberagaman, mayoritas dan minoritas. Bangsa ini memiliki sejarah hitam dan penuh darah. Memetik hikmah dibalik sejarah menjadikan masyarakat milenial bisa menerima keberagaman.

Mirisnya sekarang ini agama menjelma bak gorengan yang menyebabkan kolesterol, menyumbat saling asah, asih, asuh antar sesama anak bangsa yang berdampak desintegrasi bangsa. Gusdur pun pernah berpesan “Agama dan Nasionalisme merupakan satu kesatuan yang tidak bisa berdiri sendiri”.

Ia berusaha menyampaikan bahwa agama merupakan pondasi dan tiang dari nasionalisme yang ada di Indonesia. Beragamnya agama yang ada di Indonesia menciptakan manusia Indonesia yang penuh toleransi. Namun jika tak dijaga modal dasar toleransi tersebut tentu bukan yang mustahil jika Indonesia seperti Suriah, Afghanistan, Irak dan beberapa negara konflik lainnya karena sebuah perbedaan.

Keprihatinan lain memasuki aura politik yang menghitam slogan Bhineka Tunggal Ika tengah menghadapi ujian. Keberagaman dan kemajukan Indonesia yang membentang dari Sabang sampai Merauke merupakan ketentuan yang diberikan Tuhan di bumi Pertiwi ini.

Untuk itulah Gusdur berpesan “Kemajemukan harus bisa diterima tanpa adanya perbedaan”. Para leluhur bangsa dan pendiri bangsa ini sadar akan perbedaan yang menyebar disetiap pulau Nusantara ini. Mereka pun bersimpul menguatkan diri dalam Bhineka Tunggal Ika. Nilai-nilai saling menghormati dan menghargai menjadi bumbu penguat dari kebesaran Indonesia.

Suasana saat ini memang pas untuk merenungi mutiara Gusdur yang satu ini “Indonesia bukan negara agama, tapi negara beragama, jadi tolonglah hargai lima agama yang lain”. Rangkaian kata-kata ini tentunya menjadi bahan perenungan bagi manusia Indonesia saat ini, dimana ujaran kebencian dan sindiran menghiasi timeline medsos kita.

Parahnya lagi, bukan toleransi antar umat beragama saja yang menjadi korban dari tahun politik. Bahkan sebagai agama mayoritas, Islam kini terpolarisasi menjadi dua kutub. Saling adu dalil sebagai literatur intelektual para cendikiawan kini hanya pembenaran argumentasi dalam obrolan warung kopi.

Gusdur pun mengingatkan kalau bangsa Indonesia merupakan bangsa beragama yang tercantum dalam Pancasila, sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa. Apapun agamanya, mereka yang percaya dengan adanya Tuhan maka sudah semestinya saling menghargai dalam perbedaan peribadatannya.

Ketika bangsa ini beragama tentunya diisi dengan manusia-manusia yang memahami nilai luhur dari suatu agama. Akhlak pekerti yang baik pun akan terpancar melalui lisan-lisan yang terjaga dari ucapan kebencian dan menyakiti, saling mengasihi dan menyayangi sebagai puncak peradaban manusia akan mengkristal dan menyebarkan pantulan cahaya yang memukau. Yup, itulah pesona manusia Indonesia yang beradab.

Continue Reading

Citizen Journalism

Benarkah Manusia (be)Rasa Malaikat itu Ada?

Published

on

Ada dua kasus yang frekuensi kejadiannya tak pernah berhenti bergulir dan jadi bahan pembicaraan di dunia maya Indonesia. Yang pertama kasus penistaan agama. Yang kedua kasus penghinaan terhadap pemimpin bahkan calon pemimpin.

Untuk kasus yang pertama, setidaknya ada 2 orang populer yang saya ingat pernah terjerat hukuman penjara gara-gara dianggap menistakan agama namun tetap memiliki pendukung loyal yang menganggap mereka tidak bersalah. Yang pertama adalah Arswendo Atmowiloto. Arswendo terjerat kasus penistaan agama karena posisinya sebagai pimpinan redaksi tabloid Monitor yang mengumumkan hasil jajak pendapat “tokoh pilihan pembaca” di tahun 1990. Nama Arswendo sendiri berhasil masuk 10 besar. Sedangkan Nabi Muhammad SAW, berada di posisi 11. Hal ini menimbulkan ketersinggungan dan kemarahan umat Islam. Arswendo pun dituntut dan akhirnya divonis 5 tahun penjara.

Ya namanya juga umat, mana mungkin rela, manusia sempurna yang jadi suri tauladannya dikasih peringkat 11, sedangkan yang bikin polling koq malah ikut bertengger di 10 besar. Itu yang dijajaki pendapatnya siapa?

Lagipula, Andai Arswendo itu malaikat, pasti gak mau juga namanya ada disitu. Karena Malaikat gak mikirin eksistensi.

Yang kedua saya pikir adalah yang paling fenomenal. Siapa lagi kalau bukan Basuki Tjahja Purnama atau yang akrab disapa Ahok. Melalui kasusnya Ahok berhasil menjadi penyebab berkumpulnya jutaan orang di pelataran Monas untuk menuntut pertanggungjawabannya. Dan meski Ahok sudah dipenjarakan, setiap tahun orang-orang ini merencanakan untuk kembali berkumpul, reuni dan mengenang keberhasilan aksi. Yang diharapkan bisa membuat tokoh manapun bakal jiper dan mikir 1000x lebih jika ingin lompat pagar menistakan agama orang lain.

Yah namanya juga manusia, pasti seneng banget kalo diajakin reuni lintas sosial. Apalagi judulnya merayakan kemenangan. Adalah satu dua yang masih bawa-bawa aroma nyinyir dan sindir-menyindir ke lawan karena geregetan dan pulang dengan se-abreg hasil selfi-an. Kalau Malaikat yang berkumpul mah gak mungkin begini, mereka pasti hanya sibuk bertauhid dan berzikir. Gak nafsu ngisengin lawan apalagi pake foto-foto. Karena emang gak kelihatan. Ghaib, gann…

Untuk kasus yang kedua, yaitu penghinaan terhadap pemimpin pelakunya lebih banyak. Yang terbaru adalah penghinaan yang dilakukan penceramah muda bernama Habib Bahar bin Smith terhadap Presiden Joko Widodo. Meski diawal pelaporan kasus  Habib Bahar bersikap garang dengan mengatakan “lebih baik membusuk di penjara daripada harus meminta maaf” (mantab jiwa gak tuh!) tetapi dalam perkembangannya beliau malah mengaku bahwa kata “banci datang bulan” yang beliau tujukan ke Jokowi hanyalah kiasan belaka. Tahu kan makna kiasan? Gak beneran lah intinya.

Saya pikir ini juga manusiawi. Namanya juga manusia, gak ada yang benar-benar perkasa dibawah bayang-bayang jeratan hukum. Kecuali segelintir manusia yang benar-benar istimewa.

[“Jadi menurut Mbak, bib Bahar ini gak istimewa?” Hmmm…hmmm…hmmm… gimana ya. Maaf ini bukan sesuatu yang patut dipertanyakan atau diberi jawaban. Kau pikir sendiri lah,,,,😅]

Kecuali kalau bib Bahar itu malaikat, gak bakalan khawatir kalau ngomong ngasal bin sembarangan. Gak bakal takut kena hukuman serius. Bukan karena Malaikat punya penghapusan atau kongkalikong sama rekan sesama Malaikat pencatat amal Raqib dan Atid. Tapi karena emang mereka gak pernah ngasal dan sembarang dalam berbicara. Yang diomongin pasti yang penting-penting azaaa. Sesuai perintah Yang Maha Kuasa.

Emangnya kita, Huh! (Elu maksudnya 😛).

Nah, selain dua kasus di atas, refleksi diri manusia yang gak bisa disama-samain dengan malaikat itu juga menimpa kehidupan para manusia jelata *eh biasa.

Begini ceritanya, kita kan tahu Jakarta punya siklus banjir besar setiap 5 tahun sekali (bukan cuma pilkada yang kadang bikin banjir air mata). Nah biasanya beberapa area kampung saya selalu kebagian jatah banjir. Warga pun ramai-ramai membuat posko banjir sebagai bentuk solidaritas.

Nah ceritanya ada warga yang kebanjiran tapi dihari-hari kemarin sering nge-bully orang-orang yang jadi relawan di posko banjir. Mungkin saking tak bisa lagi menahan lapar dan dingin akhirnya ia mengirim pesan kepada seseorang agar relawan yang saban hari dicela dan dicacinya mau mengantarkan makanan ke tempat dirinya dan keluarga mengungsi. (Fyi, awalnya relawan gak tahu dia ikutan kena banjir dan gak tahu juga dimana ia mengungsi.)

Tapi relawan gak ada yang mau nganterin. Relawan maunya dia sendiri yang datang ke posko, ambil sendiri makanannya. Tapi dengan bijak saya bilang “sudahlah anterin saja. Mungkin dia malu kesini dan benar-benar lagi butuh. Kita mengalah ajah. Insya Allah lebih banyak dapat pahala”. Dan diantarlah makanan dan berbagai keperluan lain untuk keluarga ke tempatnya mengungsi.

Dan you know what, usai banjir reda dan kehidupan berjalan normal seperti biasa, orang tersebut pun kembali normal. Yup, beliau kembali mencela dan membully para relawan yang pernah menolongnya. Apakah saya kembali menyuruh relawan untuk bersabar? Tentu tidak. Saya bukan Malaikat. Berani tuh orang lewat depan rumah saya, saya unyeng-unyeng sampai user-useran di kepalanya hilang.

“Koq nungguin dia lewat depan rumah, Mbak? Kenapa gak disamperin ajah?”

Yah gak mungkinlah. Kalau dia lewat depan rumah saya terus saya serang kan abis itu saya gampang ngumpetnya! Gak pake lari…hahaha. Ape lo? Ape lo? 😜

Terus ada lagi nih. Kemarin ramai beredar foto yang menampilkan ibu-ibu hamil berdiri di angkutan umum sedangkan banyak kaum lelaki yang menikmati duduk di bangku penumpang sambil hape-an. Sontak netizen geram. Semua angkat bicara mengutuk perbuatan mereka.

Mereka itu laki-laki macam apa? Ibu-ibu itu kan hamil juga karena perbuatan salah satu dari kaum mereka. Koq kayak gak punya otak pikiran dan empati sih. Begitu kira-kira isi ceramah beberapa netizen.

Tapi biar begitu, mending kita kedepankan prasangka terbaik dulu mengenai hal yang membuat mereka berperilaku demikian. Bisa aja kan, mereka lagi kambuh turun bero’ jadinya susah berdiri. Bisa juga lagi kejengkolan dan perutnya melilit jadi gak bisa bangun. Atau mereka habis operasi kelamin jadi jangankan bangun dan berdiri, nafas ajah sakit.

Nah, yang begini-begini kita harus maklum. Mereka bukan Malaikat yang hatinya baik dan rela berkorban jiwa dan raga demi menebar kebaikan di muka bumi meski dalam kondisi apapun.

Tapi itu teori doang koq. Nyatanya saya sendiri berpendapat, boro-boro yang begitu mau disamain sama Malaikat. Wujud mereka berupa pria saja wajib kita perdebatkan!

Duh, koq jadi ikut-ikutan Bib Bahar seh…. 🙊🙈

 

 

Continue Reading
Advertisement

Trending