Connect with us

Citizen Journalism

Fenomena Langka Hari Tanpa Bayangan

Published

on


Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) mencatat fenomena siang hari tanpa bayangan atau kulminasi utama akan terjadi setidaknya dua kali dalam setahun di Indonesia yakni pada bulan Maret-April dan September-Oktober. Dan fenomena kulminasi utama telah melintasi kota Jakarta dan Serang, Banten pada hari Selasa, 9 Oktober 2018 lalu.

Fenomena hari tanpa bayangan ini terjadi karena posisi matahari tepat berada diatas garis khatulistiwa, atau dapat disebut titik kulminasi matahari. Pada siang hari, matahari tepat berada di atas kepala dan menyebabkan bayangan tak nampak. Suhu udara rata-rata saat kulminasi matahari pun cenderung lebih tinggi dibanding hari-hari lainnya.

Fenomena langka kulminasi utama atau hari tanpa bayangan di Jakarta sendiri terjadi tepat pada pukul 11:40 WIB dan Serang pada pukul 11:42 WIB pada hari Selasa, 9 Oktober 2018 kemarin.

Seorang youtuber dengan dengan nama akun @tukangpotovlog mengunggah postingan video mengenai fenomena hari tanpa bayangan ini.

“Dan ternyata betul… hari ini matahari tepat diatas kepala,” ujar vlogger bernama asli Jemsichtiarto ini, pada Selasa, 9 Oktober 2018.

Dan fenomena hari tanpa bayangan ini akan terus terjadi di beberapa kota di Indonesia dalam beberapa hari kedepan. Kota-kota seperti Bandung, Semarang dan Surabaya akan bergantian dilewati peristiwa Kulminasi Utama ini.

Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) dalam akun media sosial Instagram @infobmkg memposting mengenai fenomena hari tanpa bayangan ini, lengkap dengan infografis dan penjelasan mengenai titik kulminasi.

Seiring dengan selesainya puncak kulminasi ini, matahari akan bergeser perlahan ke arah selatan menuju Australia, Selandia Baru dan Chile dan akan menjadi puncak musim panas bagi negara-negara tersebut.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Citizen Journalism

Mungkinkah Pesan Rumi Telah Sampai kepada Awkarin?

Published

on

By

Sekelompok lalat melihat semangkuk madu tergeletak pasrah di atas meja. Bergegas, mereka merubung semangkuk madu itu, mendarat tepat di atas kubangannya, melahap madunya dengan rakus.

Sangking kalapnya, tanpa mereka sadari tubuh dan sayap mereka mulai terendam madu. Saat perut terasa kenyang, mereka mencoba beranjak. Tapi apa lacur, lekatnya madu seperti mengikat erat tubuh dan sayap mereka, sekuat apapun meronta, semua seperti sia-sia. Sebagian lalat mulai mati lemas.

Di sisa nafas terakhir seekor lalat berujar, “Oh, betapa bodohnya kita, demi kesenangan kecil ini, kita telah mengorbankan seluruh hidup!”

——–

Dongeng Aesop di atas, membuat saya bertanya dalam hati, adakah saat ini saya tengah terjebak dalam kubangan madu yang bernama dunia? Lalu hati kecil saya membisikkan pledoinya, ya enggaklah, yang terjebak dalam kubangan madu itu orang yang bergelimang dengan harta dan kerap berfoya-foya. Kamu, Dul, memang punya apa? Apa pula yang akan kamu foya-foyakan?

Hei, kamu pikir kubangan madu dunia itu hanya semata perkara harta dalam makna yang harfiah? Kamu boleh tidak setuju, tapi buat saya; keinginan, ambisi pun obsesi adalah juga kubangan madu yang membuat kita kerap alfa, sayangnya, kita baru tersadar setelah segalanya sudah sangat terlambat, tak ada lagi kesempatan untuk membenahi semua yang sudah kadung kita perbuat.

Banyak dari kita yang sudah sangat mahfum bahwa sebenarnya biang keladi dari semua kerakusan kita atas dunia adalah keinginan-keinginan kita yang begitu liar sebab terlanjur subyektif dalam mendefinisikan bahagia. Persis seperti apa yang di sampaikan Jalaludin Rumi,

“Mungkin anda sedang mencari sesuatu di antara ranting dan cabang, untuk sesuatu yang hanya terdapat pada akar.”

Dalam hal ini, boleh lah kita angkat topi kepada Awkarin, dara manis yang sempat kontroversial sekaligus fenomenal, seorang selebgram yang memiliki 3,7 juta follower. Betapa tidak, ketika populeritas dan limpahan harta sudah dalam genggaman, dara yang memiliki nama asli Karin Novilda itu justru berkeinginan untuk menjual akun instagram yang telah membesarkan namanya. Ingin melakoni hidup semenjana, begitu ia beralasan.

Dan baru-baru ini, wajahnya yang biasa dilapisi make up mewah dengan tubuh terbungkus busana branded yang selalu kekinian, terlihat sangat berbeda tatkala sosoknya kedapatan ada di antara warga Palu yang tengah dirundung nestapa pasca digoncang gempa berkekuatan 7,7 skala Richter. Ia hadir dengan wajah tanpa make up, tubuh rampingnya hanya dibalut t-shirt polo dan celana jeans. Namun wajahnya terlihat ramah saat mendengarkan dan memberi dukungan kepada warga yang boleh jadi merupakan satu atau dua orang dari jutaan followernya di Instagram.

Jika benar alasan Awkarin menjual akun sesuai dengan apa yang dikatakannya, langkah Awkarin merupakan langkah yang antimainstream, cerdas sekaligus waras. Langkah yang jarang dilalui kebanyakan orang-orang tenar yang ada di dunia, bahkan. Ia berhasil keluar dari kubangan madu sebelum terlena, lemas lalu terjebak dan mati dalam kenikmatan yang membinasakan.

Kamu pasti tak asing dengan nama Marlyn Monroe. Nama yang sempat diabadikan oleh Jaja Miharja ke dalam salah satu lirik lagu dangdutnya karena kecantikan dan kepopulerannya. Ironisnya, wanita tercantik di zamannya, yang disebut-sebut memiliki sisi feminin yang sangat kuat ini memilih obat barbiturat sebagai alat penjemput takdir kematiannya, justru di saat karir keartisannya tengah berada di puncak kesuksesan.

Atau mungkin kamu pernah juga mendengar nama Kurt Cobain, pentolan grup band punk Nirvana yang merajai belantika musik dunia di tahun 90an, yang juga memilih obat-obatan sebagai jalan pintas menuju ajalnya. Pun di saat Nirvana menjadi idola anak-anak muda di masanya.

Yang paling ironis, ada seorang aktor Hollywood yang mudah sekali membuat orang tertawa dan terhibur. Ia yang disebut-sebut sebagai komedian terlucu dalam dunia hiburan, tak disangka malah memilih tali untuk menggantung diri, demi mengakhiri hidupnya yang konon penuh kecemasan. Betapa ironisnya, dia pandai membuat orang lain tertawa dan bahagia sementara hatinya sendiri selalu dibayangi kecemasan dan kesepian. Untuk dirinya ia telah gagal menjadi komedian.

Entah karena belajar dari paradoksal akhir dari perjalanan hidup ketiga tokoh beken di atas dan tak ingin seperti lalat dalam dongeng Aesop atau telah menemukan hikmah dari perkataan Jalaluddin Rumi, Awkarin akhirnya memilih jalan hidupnya sendiri (semoga istiqomah), jalan yang tak ditempuh oleh banyak orang. Sebuah jalan yang di ujungnya bermakna satu kata. Satu kata yang kerap dibincangkan dan diidamkan seluruh makhluk di dunia, bahagia.

Izinkan saya mengingat dan sedikit menambahkan kata-kata dalam lirik lagu Awkarin yang sempat booming, usai ramai-ramai orang menghujatnya karena kemunculannya yang kontroversial,

“Kalian semua suci aku penuh dosa

Tapi akhirnya aku mengerti

Semua orang adalah pendosa

Dan sebaik-baik pendosa adalah

Dia yang tersadar dan membenahi kekeliruannya.”

Bogor 23 Oktober 2018

Continue Reading

Citizen Journalism

Esemka, Episode Terbaru Impian Mobil Nasional yang Disebut Berbau Politis

Published

on

By

Finroll.com – Sebagai sebuah bangsa besar yang sedang dalam perjalanan mencari jati dirinya serta memposisikan dirinya di antara bangsa-bangsa lain, sudah seharusnya bangsa Indonesia memiliki impian besar dan terus bergerak mencapainya meskipun harus tertatih-tatih. Salah satu impian bangsa ini adalah menjadikan negara ini sebagai kekuatan industri yang diakui dunia, sebuah peralihan visi dan misi dari yang pada sekitar tiga dasawarsa lalu bermimpi menjadi sebuah negara agraris.

Otomotif merupakan bidang industri yang diimpikan oleh bangsa ini selain bidang industri lainnya seperti penerbangan. Dari catatan yang ada, wacana mobil nasional (mobnas) sudah bergulir sejak tahun 1975. Perjalanan impian terciptanya industri mobnas dimulai dengan hadirnya Toyota Kijang pada 9 Juni 1975 di arena Pekan Raya Jakarta (PRJ) yang kala itu diadakan di Monas. Soeharto, presiden RI ke-2, dan Ali Sadikin, gubernur DKI saat itu, turut menghadiri peluncuran Kijang.

Meskipun mobil tersebut menggunakan merek Jepang, proses pembuatan dan perakitannya di lakukan di negeri ini. Bahkan nama Kijang terus digunakan hingga saat ini dan pemasarannya berhasil menembus beberapa negara lainnya.

Perjalanan impian mobnas berlanjut pada tahun 1996 saat B.J. Habibie, saat itu menjabat sebagai menteri riset dan teknologi, menggagas Maleo, yang mengusung mesin berkapasitas 1200 cc 3 silinder yang diharapkan dapat dijual pada kisaran 30 jutaan rupiah. Maleo digadang untuk menggunakan komponen lokal di atas 80% dengan kombinasi mesin berteknologi Australia.

Sayangnya Maleo harus kandas sebelum dilahirkan meskipun diyakini sebuah purwarupa sudah dibuat. Dikabarkan dana untuk pengembangan Maleo habis tersedot oleh proyek mobnas lain yaitu Timor yang dimiliki oleh Tommy Seharto, putra bungsu presiden republik ini saat itu.

Upaya lain untuk mewujudkan mobnas juga dilakukan beberapa anak bangsa, salah satunya adalah PT Indomobil yang menelurkan gagasan untuk melakukan nasionalisasi Mazda 323 Hatchback. Tercatat pula Kalla Motor berusaha untuk membuat mobil cilik berkapasitas 500 cc meskipun akhirnya tidak jelas kelanjutannya.

Bakrie Brothers, bagian dari Grup Bakrie, pada tahun 1994 juga berusaha untuk mewujudkan impian mobnas berupa minibus atau MPV (multi-purpose vehicle) yang diberi nama Beta 97 MPV. Meskipun rancangan mobil tersebut adalah murni desain Shado asal Inggris, diharapkan mobil tersebut menjadi cikal bakal industri mobil yang membanggakan bangsa ini meskipun lagi-lagi menemui kegagalan karena perusahaan tersebut ikut terdampak badai krisis moneter pada tahun 1998.

Nasib serupa dialami Timor yang sejatinya adalah rebranding dari Kia Sephia asal Korea Selatan dan Bimantara yang hanyalah jelmaan dari Hyundai Accent yang juga berasal dari Negeri Ginseng. Saat masih berumur jagung, pembangunan kedua mobnas yang digagas oleh dua putra Soeharto tersebut karam oleh derasnya krisis moneter dan lengsernya Soeharto setelah beliau berkuasa selama 32 tahun. Peminat pribadi kedua mobil itupun tidak banyak sehingga keduanya lebih banyak masuk ke jajaran armada beberapa perusahaan taksi di Indonesia.

Esemka, Antara Idealisme dan Aura Politis   

Sejarah juga mencatat masih ada beberapa upaya merealisasikan mobnas seperti Kancil, singkatan dari Kendaraan Niaga Cilik Irit Lincah, Texmaco Macan yang digagas PT Texmaco yang berencana menggandeng Mercedez Benz, Gang Car yang digagas PT Dirgantara Indonesia, Marlip yang diusung oleh sebuah perusahaan yang berafiliasi degan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), mobil listrik Tucuxi dan beberapa proyek mobnas lainnya hingga akhirnya publik pun mendengar Esemka.

Benih mobil Esemka berasal dari tangan para siswa beberapa SMK dari berbagai provinsi di Indonesia, namun yang menonjol adalah siswa SMK 2 Surakarta, dengan harapan akan tercipta sebuah mobil orisinal karya para remaja dan pemuda Indonesia yang memiliki kandungan komponen lokal 20% hingga 80%. Pada tahun 2007 SMK bekerja sama dengan Autocar Industri Komponen (AIK) dalam proses perancangan dan produksi komponen mesin mobil berkapasitas 1500 cc.

Proses tersebut terus bergulir hingga pada tahun 2009 SMK bekerja sama dengan PT Nasional Motor dalam produksi badan mobil dua kabin (double cabin body) dan menjalin kemitraan pula dengan PT Magenda dalam produksi badan mobil SUV yang direstui pula oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono  dalam sebuah pameran di ITB.

Pada tahun 2010 didirikanlah PT Solo Manufaktur Kreasi (SMK) di Solo, Jawa Tengah dan di tahun yang sama terbentuk kerja sama dengan Foday dan Jinbei, dua pabrikan mobil asal China, di mana Foday akan menjadi basis Esemka saat ini. Sejak saat itu proyek mobnas Esemka terus berusaha mendapatkan berbagai perijinan dari instansi terkait seperti Kemenperin  dan Kemenhub.

Ir. H. Joko Widodo saat menjabat sebagai walikota Solo, Jawa Tengah, sedang berpose dengan mobil Esemka Rajawali di Balai Thermodinamika Motor dan Propulsi Serpong, Tangerang. (Kredit foto: Dhoni Setiawan-ANTARA)

Pamor Esemka di mata publik semakin mencuat tatkala Ir. H. Joko Widodo atau Jokowi yang saat itu menjadi walikota Solo gencar mempromosikan Esemka Rajawali. Jokowi menggunakan mobil tersebut sebagai mobil dinasnya sehingga citra Jokowi dan Esemka semakin mengkilat. Dapat dikatakan akhirnya semakin banyak rakyat Indonesia yang mengenal sosok Jokowi karena mobil tersebut. Sebab itulah wajar jika hingga saat ini pria yang selanjutnya naik daun menjadi gubernur DKI Jakarta lalu tak lama terpilih sebagai presiden RI ke-7 itu selalu dikaitkan dengan Esemka.

Kabar Esemka tidak terdengar cukup lama, sejak Jokowi hijrah ke Jakarta hingga akhirnya memasuki tahun politik ini wacana mobnas tersebut merebak kembali di tengah masyarakat. Terlebih setelah calon wakil presiden pendamping Jokowi yaitu KH Ma’ruf Amin pada beberapa kesempatan menegaskan bahwa Esemka akan memasuki fase produksi di bulan Oktober 2018. Sebagian masyarakat pun akhirnya menuding Esemka lagi-lagi dijadikan “kendaraan politik”.

Para awak media pun segera bergegas mencari di mana kiranya Esemka akan diproduksi, yang kabarnya akan dilakukan oleh dua perusahaan yaitu PT SMK dan PT Adiperkasa Citra Esemka Hero (ACEH), hingga akhirnya diketahui penggarapan mobil tersebut akan dilakukan di dua lokasi yaitu di Cileungsi, Bogor, Jawa Barat dan Boyolali, Jawa Tengah.

Namun hingga saat ini, dari pantauan media tidak terlihat aktivitas layaknya sebuah pabrik manufaktur mobil, pabrik di Cileungsi sepi dan hanya ada jejeran mobil asal China, sementara pabrik tidak terlihat aktivitas berarti hanya beberapa warga di sekitarnya menyebut pernah terlihat aktivitas perakitan mobil di pabrik itu. Pemandangan itu semakin membuat masyarakat yang kontra melihat proyek ini seperti halnya Timor dan Bimantara, hanya sebagai upaya untuk rebranding mobil hasil produksi pabrikan Tiongkok.

Masyarakat pun terus menjadikan berita Esemka sebagai topik yang hangat untuk dibicarakan, sebagian melihatnya dengan optimistis bahwa idealisme pembangunan mobnas tersebut akan terealisasi segera karena ada tujuh tipe yang sudah lulus uji emisi Euro 2 yaitu Bima 1.0, Bima 1.3, Bima 1.3L, Bima 1.8D, Niaga 1.0, Digdaya 2.0 dan Borneo 2.7D. Sedangkan tipe Garuda 1.2 gagal lulus uji emisi tersebut. Namun sayangnya ketujuh tipe tersebut belum meraih sertifikasi uji emisi Euro 4.

Sebagian lain dari publik di negeri ini melihat wacana Esemka hanya sebagai bagian dari strategi dan langkah pencitraan Jokowi demi meraih kemenangan di pilpres 2019, seperti halnya saat ia menjabat sebagai walikota Solo. Benarkah demikian? Waktulah yang akan menjawabnya dan semoga penegasan Jokowi pun terealisasi bahwa Esemka harus terus berjalan meskipun pilpres kelak berakhir.

Continue Reading

Citizen Journalism

Kematian Jurnalis Khashoggi Bak Film Spionase Hollywood

Published

on

Kematian jurnalis Khashoggi di konsulat Jenderal Arab Saudi untuk  Turki membuat posisi Arab Saudi semakin terjepit untuk mengungkapkan kebenaran yang terjadi. Jamal Khashoggi merupakan jurnalis senior yang kerap mengkritik keluarga kerajaan Arab Saudi, berakhir laksana film spionase garapan Hollywood.

Kasus hilangnya Khashogi mulai berhembus pada awal Oktober 2018 kemarin. Bagaikan sebuah film, Khashoggi yang memasuki gedung Konjen Arab Saudi untuk mengurus dokumen perceraiannya ternyata tak pernah keluar lagi. Jurnalis yang mengasingkan diri ke Amerika Serikat ini sepertinya telah menyadari kalau jiwannya terancam oleh pihak kerajaan Arab Saudi yang selalu ia kritik.

Sadar akan keselematannya, Khashoggi pun menitipkan smartphone iPhonenya kepada sang tunangan dan mengatakan jika dirinya tidak keluar lagi dari gedung konsulat maka dirinya telah tewas dan mengarahkan sang tunangannya untuk melapor kepada pemerintah Turki.

Plot drama bagaikan di film action ini mengalir, sejak tanggal 2 Oktober Khashoggi tak pernah ditemukan keluar baik melalui pantauan cctv maupun saksi mata disekitar konsulat yang melihat sang jurnalis tersebut keluar dari gedung. Dari sinilah awal penyelidikan pihak berwenang Turki mengusut kematian jurnalis, bahkan dugaan awal jenasah Khashoggi dihabisi oleh orang-orang dekat Putra Mahkota, Mohammed Bin Salman atau dikenal MBS.

Sebenarnya Jamal Khashoggi merupakan jurnalis kawakan yang memiliki kedekatan dengan keluarga Kerajaan Arab Saudi. Bahkan ia juga pernah menjabat sebagai pemimpin redaksi Al-Arab News Channel, yang mengkampanyekan kebebasan bersuara di Arab Saudi.

Namun seiring perubahan modernisasi dan arus suksesi di Kerajaan Arab Saudi, menjadikan Jamal Khashoggi kerap mengkritik kebijakan-kebijakan kerajaan yang mulai dipimpin oleh MBS. Kritik-kritik pedas dari penangkapan puluhan Pangeran Kerajaan yang terjerat kasus korupsi, penangkapan aktivis perempuan, dan yang sering menjadi bahan kritiknya perang Yaman, hingga dirinya mengasingkan diri ke Amerika Serikat karena merasa terancam.

Kematian jurnalis Khashoggi ini menjadi menarik ketika pihak penyidik Turki memiliki rekaman suara, beberapa sumber mengaku mendapatkan rekaman dari smartwatch yang terkoneksi pada iPhone yang telah dititipkan kepada tunangannya, dan kemungkinan kedua adanya penyadapan konsulat Arab Saudi oleh pemerintah Turki.

Terlepas dari sumber rekaman yang kini telah beredar di media massa Turki, penyidik yang mendalami rekaman tersebut menduga suara jeritan Jamal Khashoggi yang tengah di mutilasi hidup-hidup oleh 15 orang algojo Arab Saudi yang diketahui datang ke konsulat tersebut dengan menggunakan dua pesawat jet pribadi. Penyidik pun mulai menemukan siapa saja orang yang mengeksekusi Khashoggi, salah satunya seorang tokoh forensik ternama Arab Saudi, Salah al-Tubaigy.

Respon Kerajaan yang Menutupi

Kematian Jamal Khashoggi yang terjadi dilingkungan diplomatik, tentunya membuat banyak negara prihatin terhadap kasus pelanggaran HAM yang dilakukan oleh Kerajaan Arab Saudi. Jika sebelumnya Arab Saudi berselisih dengan Kanada terkait dengan penangkapan aktivis wanita, dengan reaksi membatalkan perjanjian perdagangan yang telah disepakati antara Arab Saudi dan Kanada, kini posisi Arab Saudi pun makin terjepit dengan tekanan global, meski Amerika Serikat melakukan standar ganda antara menjatuhkan sanksi atau mempertahankan kesepakatan penjualan senjata yang mencapai ratusan miliar dollar.

Ketidak percayaan terhadap pihak kerajaan berhimbas dari ketidak-jujurannya dan menutupi pembunuhan yang melibatkan pihak intelejen Arab Saudi. Beberapa pernyataan Arab Saudi yang terus berubah diantaranya:

  1. Dua hari setelah kasus pembunuhan Khashoggi muncul, pihak Arab Saudi menyangkal terjadinya pembunuhan di dalam konsulat dan menyatakan bahwa jurnalis senior tersebut telah keluar dari dalam gedung.
  2. Setelah beberapa tekanan internasional, akhirnya Arab Saudi mengakui adanya pembunuhan terhadap Khashoggi di dalam gedung konsulat, karena aksi pengeroyakan dan melakukan pemecatan terhadap Wakil Kepala Intelejen, Jenderal Ahmed al-Asiri dan penasehat media MBS beserta 18 orang yang terkait kasus tersebut.
  3. Namun keterangan selanjutnya terjadi perubahan, dilansir dari reuters, seorang pejabat menyampaikan narasi terbaru yang diperolehnya melalui dokumen intelejen Saudi yang berinisiatif membawa pengkritik, bahkan ia juga mengatakan kesaksian 15 orang yang telah ditawan tersebut, meski tidak dicatumkan bukti penyilidikan internal.

Komunikasi Kerajaan Arab Saudi terkait narasi kematian Jurnalis Khashoggi yang terus berubah membuat banyak negara dan penggiat HAM bergerak untuk membawa kasus ini diambil alih oleh PBB. Ditambah analisis ketidakmampuan Eropa dan AS menjatuhkan sanksi tegas terhadap Arab Saudi, berbanding terbalik dengan kasus Skripal yang terjadi di Inggris dimana terjadi penarikan diplomat Rusia secara besar-besaran dari Eropa dan sekutu AS meski tidak ditemukan bukti akurat.

Beberapa tekanan internasional untuk mendesak Arab Saudi jujur datang dari beberapa pemimpin Eropa, diantaranya Presiden Perancis, Emmanel Macron yang hanya menunggu kebenaran dan kejelasan, dan menganggap peristiwa tersebut sangatlah serius, tanpa menyatakan sanksi apa yang akan dijatuhkan.

Sikap lebih jelas dilakukan oleh Kanselir Jerman, Angela Merkel yang menyatakan menghentikan penjualan senjata yang mencapai US$ 600 juta lebih, selama kebenaran kasus Khashogi belum terungkap. Menlu Inggris menghibau pemerintah Saudi untuk bekerja sama dengan penyidik Turki, tanpa memberikan tekanan sanksi.

Tekanan juga datang dari Komisi Uni Eropa yang meminta kepada Riyadh melakukan penyelidikan secara transparan dan komprehensif. Juru Bicara pemerintah Spanyol pun menanggapi kalau dirinya akan bergabung dengan negara-negara Uni Eropa untuk mendesak penyelidikan yang transparan.

Sementara itu sekutu dekat Arab Saudi, Presiden Trump hanya mampu memberikan tekanan setengah hati. AS pun melakukan standar ganda terhadap kasus Khashoggi ini, jika pada kasus Skripal dirinya terlihat garang dengan menarik dubesnya dari Rusia. Kali ini Trump hanya bisa mengencam dan akan memberikan sanksi yang hingga saat ini tidak jelas sanksi apa yang akan dijatuhkan Amerika kepada Saudi.

Kali ini Trump harus menentukan pilihannya menjaga moralitas kemanusian dan kebebasan atau tetap mengincar miliaran dollar dari Arab Saudi, dan Uni Eropa hanya mampu mengencam dan mengutuk atau menjunjung nilai-nilai kemanusian dengan memberikan dukungan kepada Turki untuk membongkar pihak Kerajaan Arab Saudi yang bertanggung jawab atas kematian jurnalis Khashoggi.

Continue Reading
Advertisement

Trending