Connect with us

Citizen Journalism

Fanpage Jokowi, Prabowo, Anies Baswedan & Ridwan Kamil, Siapa yang Paling Keren?

Published

on


Siapa sih yang nggak tahu fanpage? Ya, Fanpage adalah halaman khusus layaknya blog yang menyediakan informasi yang beragam sesuai dengan keinginan pemiliknya, mulai dari perusahaan, pendidikan, layanan, produk fisik, artis, komunitas, tak terkecuali pejabat publik dan politisi. Hampir seluruh pejabat publik di Republik Indonesia menggunakan media sosial, mulai dari Presiden, Menteri, Anggota Dewan hingga para Gubernur.

Bagi kalangan politisi dan pejabat, Fanpage menjadi sarana untuk bisa menyapa masyarakat, memberikan informasi tentang agenda dan kegiatan yang bakal dan telah dilakukan. Bisa dibilang Fanpage menjadi trend yang juga diminati oleh masyarakat luas untuk bisa berinteraksi dengan pemimpinnya.

Dengan jumlah 132 juta pengguna media sosial di Indonesia, penyebaran informasi dari media sosil dinilai paling efektif saat ini.Facebook masih menjadi media sosial favorit. Di Indonesia sendiri, facebook juga memiliki lebih dari 100 juta pengguna dari total 132 juta pengguna internet. Tak heran jika pejabat dan politisi banyak yang memanfaatkan Fanpage.

Berbeda dengan facebook group, pesan komunikasi fanpage hanya dapat terjadi antara pemilik atau pengelola fanpage (admin) dengan pengikutnya (fans) melalui konten yang dibuat oleh admin. Dari segi orientasi juga sangat berbeda. Jika admin fanpage dapat dianggap sebagai seorang idola, maka fans adalah penggemarnya. Jika pengguna facebook tidak memiliki ketertarikan terhadap suatu fanpage, maka mereka tidak akan menjadi penggemar terhadap fanpage tersebut. Sederhananya, fanpage hanya memiliki penggemar yang benar-benar memiliki ketertarikan terhadap fanpage melalui fitur tombol like yang disediakan untuk calon fans.

Setiap orang dapat membuat fanpage. Namun tidak semua dapat mengumpulkan fans dengan jumlah yang banyak. Ada banyak faktor yang dapat menentukan jumlah fans suatu fan page. Beberapa diantaranya adalah popularitas & kualitas konten. Jika admin tidak dapat membuat dan mengelola hal tersebut dengan baik, maka akan sangat sulit mendapatkan fans. Meskipun banyak fanpage memiliki kesulitan mendapatkan fans, bukan hal yang mustahil pula jika ada fanpage yang memiliki jutaan fans.

Lalu fanpage siapa yang memiliki popularitas dan kualitas kontent paling keren? Kalau boleh random kita pilih 4 tokoh publik yang saat ini paling happening di Republik ini, Yakni Presiden Joko Widodo, Prabowo Subianto, Gubernur DKI Anies Baswedan dan Gubernur Jawa Barat Ridwan kamil.

Joko Widodo

 

Akun @jokowi ini adalah akun Presiden yang lama dengan nama “Ir Joko Widodo”, yang digunakan saat masih menjabat Gubernur DKI Jakarta. Setelah lama tak mendapatkan kiriman dari akun tersebut di timeline, kini facebooker yang berlangganan fanpage tersebut dipastikan akan bisa melihat lagi postingan-postingan di akun resmi Presiden.

Jika dicermati hampir seluruh postingan adalah kegiatan Presiden Jokowi terkait dengan kebijakan-kebijakan pemerintahan yang dipimpinnya. Semua postingan berisi uraian kegiatan yang dilengkapi dengan foto dan video.

Postingan terbarunya adalah sebuah video pendek berdurasi satu menit tentang perkembangan pembangunan jalan tol Bogor – Ciawi – Sukabumi. Dalam waktu dua jam, postingan ini telah mendapat 9.8 ribu respon, 663 komentar dan 1.324 kali dibagikan.

Fanpage Presiden Joko Widodo yang dikelola oleh Kantor Staf Presiden (KSP) telah diikuti oleh 8.873.275 orang. Dan menjadi akun politisi kedua yang memiliki pengikut terbanyak.

Prabowo Subianto

Fanpage @PrabowoSubianto yang juga menjadi calon presiden nomor urut 02 merupakan politisi yang memiliki pengikut terbanyak. Sampai artikel ini ditulis, 4 Desember 2018 fanpage Prabowo Subianto telah diikuti oleh 9.596.934 orang. Selain jumlah pengikut, jumlah komentar dan like postingan di fanpage Prabowo selalu lebih unggul dibanding Presiden Joko Widodo.Rata-rata like dan komentar Fanpage yang telah mendapat centang biru ini berada diatas tiga digit.

Untuk kontent, halaman Prabowo Subianti tidak jauh berbeda dengan Presiden Jokowi yang menampilkan kegiatan dan aktifitsnya sebagai tokoh nasional. Dari penelusuran dapat diperoleh kesimpulan bahwa pola berkomunikasi Prabowo Subianto berdasarkan pernyataan-pernyatannya di fanpage dalam menyikapi situasi politik selalu berpijak kepada UUD 1945 serta keutuhan bangsa (NKRI).

Sedangkan dalam menarasikan sebuah peristiwa kebangsaan Prabowo Subianto juga sangat menekankan bagaimana kepentingan bangsa harus diutamakan dari kepentingan individu dan golongan. Sehingga, kekecewaan yang bersumber dari situasi emosional kelompok menjadi tidak berarti dibandingkan kepentingan dalam menjaga keutuhan bangsa.

Anies Baswedan

Meski sama-sama pejabat publik dan politisi namun isi fanpage @aniesbaswedan lebih santai, tidak terlalu tegang. Isi halaman resmi gubernur Jakarta ini tidak melulu berkaitan dengan kebijakan dan aktifitasnya sebagai pejabat negara, namun ada kalanya Anies memposting kegiatan sehari-hari bersama keluarga.Dalam setiap postingannya terasa terjalin keakraban dan kedekatan antara Gubernur dan Warganya.

Meski jumlah, pengikut halaman ini hanya 1.319.921 orang namun julah komentar dan like pada setiap postingan mencapai tidak pernah sedikit. Yang menariknya, jika dicermati komentar netizen yang mengikuti halaman Anies Baswedan ini banyak yang memberikan doa. Makanya tak berlebihan jika dikatakan komunikasi melalui fanpage ini berjalan lebih cair, enak dan intim.

Patut diberikan apresiasi lebih untuk fotografer pribadi Gubernur DKI Jakarta, karena berhasil menampilkan foto-foto humanis dan bisa menonjolkan sosok Anies sebagai figur dalam berita pada setiap fotonya. Dalam setiap postingan foto, meski kegiatan yang ditampilkan tidak begitu menarik namun foto yang dihadirkan bisa terasa unik dan sangat terasa sekali interaksi antara Gubernur dan Warganya.

Ridwan Kamil

Lain lagi dengan Ridwan Kamil, Pemilik fanpage @mochamadridwankamil ini memang dikenal sebagai pejabat publik yang aktif di media sosial.Di Twitter, sepanjang 2017, dia menempati urutan sembilan politisi/pejabat pemerintah yang paling banyak dibicarakan, di atas Presiden keenam RI, Susilo Bambang Yudhoyono, sementara laman Facebooknya diikuti dan disukai dua juta orang lebih.

Fanpage Ridwan Kamil mulai beroperasi sejak tahun 2013 (meski sempat diblokir dan kini sudah aktif kembali). Diketahui saat ini Fanspage tersebut memiliki jumlah pengikut sebanyak 3.419.946 orang dan disukai 3.229.777 orang. Oleh karena itu, tidak heran jika setiap postingan yang ia muat selalu mendapatkan respon dari para pengikutnya. Terlihat dari banyaknya jumlah like, share, comment dari setiap postingannya.

Selain itu, fanspage ini juga sangat cenderung aktif dengan membagikan 1- 4 konten/hari dan biasanya hal ini tergantung dengan isu atau berita terkini.

Diketahui bahwa khalayak lebih tertarik dengan konten postingan yang ber-genre sosial, edukasi dan humoris. Hal ini terlihat dari interaksi antara Ridwan Kamil dan khalayak yang mengomentari, melakukan tindakan balas-balasan, kemudian juga terlihat dari segi “like”, beberapa khalayak lainnya memberikan like sebagai feedback atau tanda bahwa mereka setuju, dengan kata lain mereka tertarik.

Citizen Journalism

Kritik untuk KPU: Alternatif Bahan Kotak Suara yang Lebih Hemat dan Kuat dari Kardus

Published

on

Perhelatan akbar pesta demokrasi rakyat Indonesia semakin mendekati hari H. Hanya tersisa waktu kurang lebih 4 bulan lagi menuju hari pencoblosan yang rencananya akan diselenggarakan tanggal 17 April 2019.

Segala persiapan pun dilakukan demi lancarnya pelaksanaan Pemilu 2019, yang berbeda dari pelaksanaan pemilu di periode sebelumnya. Kali ini rakyat akan langsung melakukan pemilihan legislatif (anggota DPD, DPRD, DPR RI) dan pemilihan eksekutif (Presiden dan Wakil Presiden) dalam satu hari pencoblosan.

Meski efisien dalam segi waktu dan tenaga kerja, namun kebutuhan logistik pemilu pelaksanaan konsep ini justru lebih meningkat. Terutama soal kotak suara yang berfungsi mengumpulkan kertas suara yang sudah dicoblos warga.

Biasanya tersedia rentang waktu tiga sampai empat bulan antara pileg dengan pilpres sehingga kotak suara yang terbuat dari alumunium dapat dipakai bergantian. Namun hal ini tidak bisa lagi dilakukan di Pemilu 2019 nanti.

Dengan alasan menekan anggaran, Komisi Pemilihan Umum (KPU) berinovasi untuk membuat kotak suara dari kardus, bukan dari alumunium seperti biasanya. Tentu hal ini menimbulkan pro dan kontra.

Sejauh pandangan saya penolakan terhadap kotak suara dari kardus ini bukan saja berasal dari peserta pemilu yaitu partai politik dan para calon, tetapi juga dari segenap masyarakat. Mereka tak bisa menerima rasionalisasi dari pihak KPU yang menyatakan bahwa kotak suara kardus lebih kuat dari kotak suara alumunium. Bayangin ajah, gan 😑

Bahkan komisioner KPU RI, Ilham Saputra sempat membuktikan kekuatan kotak suara kardus ini dengan cara diduduki. Hal itu dilakukan saat ia melakukan pemantauan langsung ke pabrik produsen kotak dan bilik suara di PT Karya Indah Multiguna (KIM), di Jalan Narogong, Kota Bekasi. Kotak kardus tersebut masih terlihat kokoh dan tidak penyok saat Ilham yang berbobot 107 Kg mendudukinya.

Sayang pembuktian hanya sampai disitu, padahal masyarakat ingin melihat bagaimana jadinya kalau Pak Ilham menduduki kotak kardus tersebut sambil disirami air. Apakah kotak kardus masih akan kokoh? Atau hanya basah-basah manja meski Pak Ilham sudah basah kuyup? Sungguh masih misteri.

Masyarakat seperti saya juga ingin tahu, apakah kotak kardus tersebut yang nantinya juga bakal dipakai di TPS Terapung adalah kotak anti badai yang tak mudah terbawa angin sekaligus bertahan jika sewaktu-waktu tak sengaja jatuh ke laut. Untuk itu kami meminta Pak Ilham untuk mencoba masuk kedalam kotak dan menceburkannya ke dalam kolam. Atau letakan kotak di lapangan saat turun hujan. Kalau air tidak mampu menembus kardus dan Bapak merasa baik-baik saja di dalam kardus -tidak basah, rapuh dan lengket-  seperti yang akan kertas suara alami jika terkena air, maka kami baru percaya bahwa kotak suara kardus tersebut lebih baik kualitasnya dari kotak suara alumunium.

Tolong jangan cemberut dulu Pak. Kami mengkritisi ini bukan tanda tak cinta dan hanya mencari-cari kesalahan. Bukankah sebagai rakyat kami sering disuguhi berita berupa laporan baik dari KPUD maupun KPU RI yang menyatakan bahwa adanya kertas suara yang rusak akibat terkena air, terjatuh ke laut, dll.

Nah, setahu kami yang rata-rata sudah lulus Sekolah Dasar dan mempelajari sifat benda ini, guru kami selalu mengatakan bahwa besi lebih kuat dan tahan air daripada kardus. Jadi ketika Bapak dan kawan-kawan mengatakan sebaliknya, sungguh kami perlu pembuktian yang nyata dan bisa diterima logika.  Kalau kotak suara dari alumunium saja tak mampu mengantisipasi serangan air, apalagi jika dari kardus? Gitchu Pak!

Tapi sebagai warga masyarakat yang baik, kami pun tak ingin memberikan kritik tanpa solusi. Berikut beberapa alternatif kotak yang bisa dipergunakan dalam Pemilu 2019, yang kami pikir lebih kuat dan fungsional dibanding kardus.

1. Kotak suara dari Tupperware

Tupperware merupakan jaminan ampuh untuk kotak bekal makan dan minum anti bocor. Selain tahan banting, plastiknya kuat di suhu panas dan dingin sekaligus. Tidak mudah berkerut, melempem atau penyak penyok.

Sekarang ini tupperware sering mengeluarkan produk terbaru dalam ukuran besar, berupa tempat kerupuk bervolume 5 liter sampai tempat menyimpan beras yang bisa menampung 10 Kg beras. Saya pikir pihak Tupperware tidak mungkin menolak jika mendapat pesanan produk yang ukurannya lebih besar lagi. Apalagi jika jumlah pesanannya besar, sampai puluhan ribu pcs.

Memang anggaran akan membengkak karena produk kotak suara tupperware jelas mahal dari kotak suara berbahan lain. Namun sebanding rasanya dengan garansi seumur hidup yang dijamin oleh pihak tupperware. Ada yang rusak dikit bisa diklaim untuk dapat ganti yang baru. Jadi kedepan KPU Indonesia gak perlu repot-repot lagi mikirin pembuatan kotak suara plus menghadapi pro kontra yang melingkupinya. Aman, efektif dan efisien serta jauh lebih hemat kedepannya.

Inilah yang membuat Ibu-Ibu selembut apapun tetap senyum jika sang suami pulang tanpa sepatu namun berang jika mendapat laporan tupperware-nya ketinggalan atau tutupnya hilang. Barang kesayangan soalnya Hehehe…

2. Kotak Suara dari Blek/Kaleng Kerupuk

Desain-nya yang mampu mempertahankan kelembaban udara di dalam kaleng sehingga kerupuk tahan lama, tidak mudah melempem dan tetap kriuk sudah terbukti di seluruh Indonesia. Tidak butuh pengujian produk lagi. Cukup sedikit modifikasi dengan ukuran yang lebih besar dan ditambah perangkat gembokan maka blek (tanpa pink) bisa menjadi pilihan yang tepat untuk kotak suara sempurna. Terlebih ia memiliki bagian transparan di depan yang membuat kita bisa melihat kertas suara di dalamnya. Sehingga tidak mudah bagi penguasa kegelapan untuk merekayasa penambahan dan pengurangan jumlah kertas suara. *ups 🙊

Lagipula KPU tak perlu bingung mengenai tempat penyimpanan dan perawatan pasca acara. Cukup sewakan atau jual tempat kerupuk ini ke UMKM yang bergerak dibidang ke-kriuk-an maka pemilu Indonesia akan punya dana abadi dari cash back penjualan kaleng kerupuk ini. Hemat bukan?!

3. Kotak Suara dari Plastik Sampah Bening.

Saya pikir inilah pilihan yang paling tepat jika tujuan KPU adalah menghemat biaya pembuatan logistik pemilu. Berapapun jumlah yang diperlukan pasti bisa dan cepat diproduksi. Plastik sampah tinggal ditempeli stiker untuk masing-masing hasil coblosan dan digulung sedikit atasnya sehingga bisa terbuka dan membentuk tabung. Kemudian tinggal diikat setelah perhitungan suara di TPS selesai dan kirimkan ke PPK dan jenjang perhitungan selanjutnya.

Jangan lupa tempelkan potongan ayat Alqur’an, Injil, Weda, Tripitaka atau huruf china yang menegaskan bahwa siapapun yang membuka ikatan plastik kotak suara padahal ia tidak berhak dan berwenang, maka akan disumpahi seluruh rakyat Indonesia terkena azab dan musibah sampai 7 turunan. Mantab kan!

Semoga KPU bisa mendengar kritik dan masukan dari kami. Kalau tidak, yaa mending kami golput saja…. *maksa 😂

Ya habis gimana, sudah repot-repot beri suara tapi suaranya gak dijaga sepenuh jiwa. Kan sedih. Sama sedihnya kayak kamu-kamu yang sudah memberi hati dan jiwamu kepada cem-ceman, tapi dia “lepeh” begitu ajah… 😒 *eh tapi ini bercanda ding!😜

Jangan golput lah, tapi pilih ajah semuanya *eh maksud saya pilih salah satunya…😉

Continue Reading

Citizen Journalism

Menanti Kejutan Ahok di Tahun Politik 2019

Published

on

Menjelang perayaan natal 2018 dan tahun baru 2019, pemberitaan di berbagai media diramaikan mengenai mantan Gubernur Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dipastikan akan bebas murni menjalani masa hukuman pidana yang menjeratnya atas kasus penodaan agama pada 24 Januari 2019. (more…)

Continue Reading

Citizen Journalism

Pilpres 2019, Dua Perbedaan Untuk Kemajuan Bangsa

Published

on

pemilihan presiden

Pemilihan presiden (pilpres) sebagai bentuk pesta demokrasi telah terasa gaungnya walaupun tanpa konvoi kendaraan dan kibaran bendera partai. Namun kegaduhannya tetap terasa di telinga lewat dunia maya hingga percakapan pengamat politik musiman.

Kegiatan politik lima tahunan seperti tak pernah kehabisan bahan untuk diperbincangkan. Bahkan berita hoax pun tidak luput dari pembicaraan. Tidak jarang pula perdebatan hingga gesekan terjadi dengan lawan bicara saat tensi semakin tinggi.

Untuk pertama kalinya pemilihan presiden di Indonesia menghadirkan 2 calon yang sama dengan pilpres sebelumnya. Dua calon presiden (capres) dengan latar belakang yang berbeda, semakin manambah daya tarik pembicaraan. Selalu ada kelebihan dan kekurangan dari masing-masing calon untuk dibicarakan.

Pada Pemilihan presiden periode kali ini (2019-1024), sejatinya akan dilaksanakan pada tanggal 17 April 2019. Dilakukan secara serentak dengan pemilihan legislatif pada seluruh wilayah Indonesia.  Bapak Joko Widodo (Jokowi) selaku petahana akan kembali berhadapan dengan Prabowo Subianto (PS08) yang pernah dikalahkan pada pilpres sebelumnya.

Jika kita perhatikan ada cerita menarik dari kedua capres tersebut di atas, penyebutan atau penyingkatan nama yang memiliki sejarahnya masing-masing. Joko Widodo dengan sebutan Jokowi-nya dan Prabowo Subianto dengan sebutan PS08-nya.

Ilustrasi: pemilihan presiden

Ilustrasi: pemilihan presiden

Antara Jokowi dan PS08

Presiden Indonesia saat ini sejak kecil dikalangan keluarga dan teman-temannya dikenal dengan nama panggilan Joko.  Sebagaimana kita ketahui bersama Joko Widodo mempunyai latar belakang sebagai pengusaha mebel.

Sebutan Jokowi bermula saat beliau mulai aktif mengekspor mebel ke Eropa lewat perusahaannya, PT Rakabu. Salah satu buyernya yang berasal dari Perancis sering kali bingung dan kerap salah kirim pesanan ke  Joko. Karena memang sangat banyak orang yang memiliki nama panggilan Joko di Pulau Jawa.

Oleh karena itulah sang buyer asal Perancis tersebut memberikan tambahan kata wi sebagai kependekan dari Widodo. Jadilah sebutan Jokowi yang hingga sekarang menjadi lebih terkenal dari panggilan semasa kecil.

Berbeda dengan uniknya cerita awal penggunaan sebutan Jokowi, sebutan PS08 pada Prabowo Subianto memiliki cerita tersendiri. Pada penyebutan PS08, dua hurup di depan sudah dapat dimengerti kalau itu adalah singkatan dari Prabowo Subianto. Bagaimana dengan angka 08?

Bagi para pengguna twitter dan memfollow akun Prabowo Subianto (@Prabowo08) mungkin sudah tidak asing dengan angka 08. Sebagiannya barangkali bertanya-tanya tentang makna angka 08 tersebut. Angka 08 merupakan sandi radio dari Prabowo Subianto saat masih bertugas di TNI.

Sandi 08 disematkan padanya ketika menjabat sebagai Wakil Komandan Jenderal Pasukan Khusus. Sedangkan Komandan Kopassus saat itu, Luhut Binsar Panjaitan menggunakan sandi 09. Ketika beliau diangkat sebagai Danjen Kopassus menggantikan Luhut tidak lantas memakai sandi 09.

Prabowo tetap mempertahankan sandi 08, yang hingga kini masih dipakainya. Bahkan sampai sekarang masih banyak yang menyebutnya dengan sebutan Jenderal 08.

Antara Cebong dan Kampret

Ada hal lain yang sungguh menarik dalam persaingan untuk menjadi orang nomor satu di Indonesia. Selain latar belakang berbeda diantara dua kontestannya, sebutan unik pun disematkan pada para pendukungnya. Penyebutan yang diambil dari dua jenis nama hewan dengan wilayah hidup yang berbeda.

Ada sebutan cebong untuk pendukung sang petahana dan sebutan kampret untuk sang penantang. Sebagaimana kita ketahui bersama cebong atau kecebong adalah sebutan lain dari bludru yang merupakan anak dari katak.

Kecebong hidup di dalam air sebelum nantinya berubah menjadi katak yang hidup di dua alam. Lain halnya dengan kampret yang kesehariannya beterbangan di malam hari untuk memenuhi hajat hidupnya.

Semua perbedaan di atas bisa menjadi sesuatu yang berakibat negatif atau sebaliknya akan memberikan dampak positif. Tergantung bagaimana kita menyikapinya, saat kita memandang perbedaan tak bisa disatukan tentu akan memberikan efek yang negatif.

Namun akan terjadi hal yang yang sebaliknya bila kita melihat perbedaan adalah untuk saling menutupi kekurangan masing-masing. Hal yang demikian tentu akan memberikan dampak positif yang dapat membawa Indonesia ke arah yang lebih maju.

Continue Reading
Advertisement

Trending