Connect with us

Entertainment

Evolusi Kostum Iron Man dari Film Pertama hingga Avengers: Endgame

Published

on


Finroll.com – Menonton Avengers: Endgame, tentu salah satu karakter yang paling menarik perhatian adalah Tony Stark alias Iron Man. Karakter ini sudah ada sejak film pertama Marvel Cinematic Universe yang rilis 2008, Iron Man.

Melihat perkembangannya sejak film pertama hingga Avengers: Endgame, kostum Iron Man selalu berevolusi. Tak hanya desain dan warnanya, namun juga teknologinya yang terus berkembang.

Di Avengers: Endgame, kostum Iron Man pun dibuat berbeda dari film-film sebelumnya. Meskipun ada kemiripan dengan kostum dalam Avengers: Infinity War.

Seperti apa perubahan kostum Iron Man sejak film pertama hingga Avengers: Endgame? Rasanya menarik bila kita simak kembali.

Iron Man Pertama hingga The Avengers

Pada film Iron Man pertama, Tony Stark menciptakan kostum raksasa ketika diculik oleh teroris di Timur Tengah. Setelah bebas, ia pun membuat kostum merah yang menyatu dengan markasnya.

Lalu ketika memasuki film kedua, kostum Iron Man dibuat lebih canggih. Dalam satu adegan, diperlihatkan Tony Stark berubah menjadi Iron Man yang kostumnya berada di dalam koper.

Dalam The Avengers, kostum Iron Man digambarkan menyatu dengan Stark Tower. Versi lainnya, kostum Iron Man digambarkan sebagai benda terbang yang kemudian menyatu dengan tubuh Tony Stark.

Iron Man 3 hingga Age of Ultron

Kostum Iron Man kembali mengalami perubahan dalam film ketiga. Pada kostum yang dibuat berwarna emas, setiap bagiannya bisa terbang menghampiri tubuh Tony.

Menariknya, pada film ini Tony Stark ternyata membuat banyak kostum layaknya sebuah pasukan robot yang semuanya bisa ia kenakan sendiri.

Kembali muncul di film Avengers: Age of Ultron, teknologi Iron Man dibuat sama seperti dalam Iron Man 3. Namun, di sini, ia menjadikan teknologi Iron Man sebagai pasukan robot penjaga yang akhirnya menjadi Ultron.

Civil War hingga Endgame

Iron Man muncul lagi dalam Captain America: Civil War. Kali ini, terlihat bahwa Tony Stark mengenakan kostumnya saat sedang berada di helikopter.

Namun dalam Spider-Man: Homecoming, Iron Man memiliki konsep yang sama seperti dalam Iron Man 3, yakni kostum yang bisa melayang saat Tony Stark keluar.

Versi Avengers: Infinity War, Iron Man memiliki kostum yang lebih canggih, yakni teknologi nano. Partikel-partikel yang disimpan di dalam sebuah alat, keluar dan menyatu dengan tubuh Tony Stark hingga membentuk kostum Iron Man Kostumnya pun bisa membuat jet berkecepatan tinggi dan sebilah pedang di tangannya.

Dalam Avengers: Endgame, teknologi yang sama turut diperlihatkan. Namun, ada sedikit pengembangan yang membuatnya berbeda dari versi Infinity War.

Entertainment

The Grand Signature Piano gelar Heritage Concert

Published

on

Finroll.com — The Grand Signature Piano gelar Konser “Heritage Concert” dengan menampilkan duo pianis asal Perancis, Pascal Roge dan Ami Roge, di Gedung Kesenian Jakarta Senin (15/7/2019).

Executive Director The Grand Signature Piano Helen Gumanti mengatakan, konser ini merupakan kali pertamanya dimana kehadiran duo pianis asal Perancis Pascal Roge dan Ami Roge seakan menjadi sebuah momen yang tepat untuk merayakan keindahan asimilasi budaya timur dan barat,” ujarnya.

Konser kali ini akan mengetengahkan karya Claude Debussy, Maurice Ravel dan Colin McPhee. Berbagai elemen tekstur, irama, wama suara dan filosofi dari gamelan akan hadir melalui musik tradisi barat yang mereka bawakan,” tambahnya.

Menurutnya, Heritage Concert Series ini merupakan sebuah rangkaian pertunjukan dengan dua keluaran. Selain konser itu sendiri, kegiatan ini akan selalu diikuti oleh sebuah video dokumenter yang membahas kajian berkenaan dengan tema dan situs warisan budaya yang sedang dijadikan sorotan.

Seluruh rangkaian kegiatan ini akan diunggah sebagai sebuah saluran dokumemer yang dapat diakses oleh publik dari berbagai penjuru dunia.

Helen Gumanti berharap, semoga debgan adanya Konser ini, anak negeri dapat lebih mengenal kekayaan warisan budaya bangsanya dan semoga dengan Heritage Concert Series ini, Indonesia lebih mendapatkan sorotan di mata dunia.

“lnilah dedikasi kami bagi Indonesia,” pungkasnya.

Perlu diketahui Pascal Roge adalah gambaran dari pianis terbaik di Perancis. Lahir di Paris, beliau adalah mantan murid dari Paris Conservatory dan pernah dimentori oleh Julius Katchen dan The Great Nadla Boulanger.

Sebagai salah satu artis rekaman ternama, Pascal Roge telah memperoleh banyak penghargaan bergengsi, mulai dari Gramophone Awards, 3 Grand an du Dlsque and Edison Award atas interprestasinya dari karya The Ravel dan Saint-Saens Concerti bersamaan dengan karya penuh dari Ravel, Poulenc dan Satie.

Pascal Roge menikmati permainan piano empat-tangan/dua -piano bersama istri tercintanya Ami Roge. Mereka berkeliling dunia dan tampil pada berbagai macam festival dan konser musik temama.

Saat ini beliau menjabat sebagai Ketua dan Kompetisi Piano Genewa dan mengajar berbagai Masterclass di Perancis, Jepang, Amerika dan Inggris.

Continue Reading

Entertainment

BEKRAF dengan Program ICINC Umumkan Top 5 Siap Masuki Pasar Musik Global

Published

on

Finroll.com — Setelah resmi membuka tahap Open Call pada bulan April lalu,

Indonesia Creative Incorporated (ICINC) terus mendapatkan sambutan luar biasa dari ratusan talenta musik di Indonesia. ICINC sukses menarik perhatian 536 solois dari berbagai kota seperti Aceh, Bandung, Makassar, Malang, Sidoarjo, Pontianak, Surabaya, Papua dan banyak kota lainnya.

88rising telah melakukan proses kurasi dan berhasil menyaring 20 besar peserta hingga kini terpilih menjadi 5 besar yang akan diterbangkan ke Los Angeles, Amerika Serikat untuk mengikuti tahap talent development dari 88rising serta tampil di
gelaran

“Head in the Clouds Festival” pada 17 Agustus mendatang (waktu Los Angeles). Sebelumnya, pada Minggu (7/7) Kepala BEKRAF Triawan Munaf, Rich Brian (Brian Imanuel) bersama dengan tim 88rising dan perwakilan peserta ICINC bertemu dengan Presiden Joko Widodo di Istana Bogor untuk menjelaskan mengenai program ICINC dan subprogram Indonesia Rising.

ICINC merupakan program BEKRAF yang bertujuan untuk melakukan promosi karya dan pelaku kreatif unggulan agar dapat menembus pasar global.

Kali ini melalui subprogram ICINC bertitel Indonesia Rising, BEKRAF berkolaborasi bersama 88rising untuk membawa musisi berbakat Indonesia menembus ekosistem musik global.

“BEKRAF senantiasa mendukung pelaku kreatif untuk dapat menjadi bagian dari ekosistem pasar global, kali ini kami berfokus pada subsektor musik melalui subprogram ICINC dan bekerja sama dengan 88rising yang sudah memiliki pengalaman membawa musisi Asia ke Amerika,” jelas Triawan Munaf selaku Kepala BEKRAF.

Sementara itu, 88rising melihat bahwa Indonesia memiliki sederet musisi berbakat yang mampu membawa angin segar bagi pasar musik internasional.

“Selama tahap Open Call, kami terpukau dengan banyaknya solois berbakat dari Indonesia, yang membuat proses kurasi menjadi seru dan penuh dengan diskusi.

Kami melihat bakat-bakat musisi Asia dengan ciri khas mereka masing-masing dalam berkarya,” ungkap Oliver Zhang selaku Artist Manager 88rising.

Setelah melalui proses kurasi oleh 88rising, ICINC berhasil mendapatkan 5 nama yang akan diberangkatkan ke Los Angeles, Amerika yaitu:

1. Amanta Artadhia Siregar (Arta) – Jakarta
2. Devinta Trista Agustina (Devinta) – Sidoarjo
3. Monica Eva Sancti (Monéva) – Banten
4. Nicholas Hardy (Nick Hardy) – Jakarta

Continue Reading

Entertainment

KiosTix – Prasetiya Mulya Gelar  “Event Creation & Effective Event Marketing Through Social Media”

Published

on

Finroll.com — KiosTix bekerjasama dengan Universitas Prasetiya Mulya menyelenggarakan “Ruang Diskusi” bertajuk “Event Creation & Effective Event Marketing Through Social Media”, Rabu (10/7).

Selain dari KiosTix, pemateri berasal dari akademisi dan juga praktisi event creator yang sukses menyelenggarakan konser musik, Meranoia Festival. Menurut pemateri Andhika Soetalaksana, VP Sales & Partnership KiosTix, semua orang butuh hiburan.
Sehingga event musik dan olahraga akan selalu diminati dan akan selalu berkembang. Event pun menjadi salah satu bagian dari MICE yang menarik para investor.
“Berinvestasi dalam industri event termasuk ticketing, pun, menjadi pilihan yang strategis bagi investor. Namun, tambang emas investasinya adalah membangun komunitas.
Saat kita membangun komunitas, mereka akan mendukung event kita. Ruang Diskusi selain untuk edukasi, juga membangun komunitas,” ujar Andhika.
Salah satu komunitas yang yang dibidik KiosTix adalah millennials khususnya yang memilik hobi berkumpul dan nonton bareng.
Pada kesempatan yang sama, Hanesman Alkhair, Faculty Member Prasetiya Mulya mengatakan, Ruang Diskusi ini sangat penting bagi mahasiswa S1 Event di Universitas Prasetiya Mulya. Karena salah satu syarat kelulusan, mahasiswa  harus menyelenggarakan sebuah event.
“Prasetiya Mulya merupakan satu-satunya perguruan tinggi di Indonesia yang mempunyai jurusan S1 Event. Sejak dibuka tahun 2015, kami ingin menciptakan anak-anak muda menjadi destination orchestrator di daerah asal mereka,” kata Hanesman.
Ia berharap mahasiswanya dapat membuat event di daerah dengan menyatukan stakeholders seperti UMKM, pariwisata, komunitas, pemerintah daerah dan sponsor.
Jika saat ini mahasiswa belajar dari para praktisi, maka kelak dapat menjadi salah satu kontributor peningkatan pertumbuhan ekonomi di daerah.
Andhika kemudian membagikan pengalaman KiosTix dalam mengelola event yang sukses dan profit.
“KiosTix ingin berbagi pengalaman dan menularkan ilmu-ilmu kepada teman-teman yang ingin terjun ke dunia industri event, baik itu event musik, olahraga, atraksi, dan hiburan lainnya,” ujar Andhika.
Ia kemudian memaparkan bagaimana membuat manajemen event, mulai dari ide, membuat anggaran, memilih artis, memasarkan, sampai mengelola keamanannya.
Ruang Diskusi semakin semarak, ketika Daffa Ananda dan Hasyim Arif, event creator Meranoia Festival berbagi pengalaman bagaimana festival musik yang dikelolanya sukses dan lancar.
Event yang menghadirkan lebih dari 30 musisi ternama ini berhasil menarik ribuan penonton yang berlangsung di Istora Senayan 22 dan 23 Juni 2019.
Hasyim Arif selaku Project Officer Maranoia Festival mengatakan, ide awal Maranoia Festival adalah bagaimana orang-orang datang ke festival musik untuk nyanyi bareng bertema cinta, bukan hanya untuk menonton penyanyi idolanya.
“Kami putuskan membuat  festival musik yang mempunyai garis benang cinta, makanya artis-artis yang mengisi acara juga adalah mereka yang dikenal sebagai penyanyi bertema lagu-lagu cinta,” kata  Hasyim Arif.(red)

Continue Reading
Advertisement

Trending