Connect with us

Hukum & Kriminal

Empat Terpidana Kasus Korupsi Dieksekusi ke Penjara Oleh KPK

Published

on


Kasus Korupsi

Empat terpidana kasus korupsi dengan perkara yang berbeda dieksekusi ke penjara oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Menyusul putusan berkekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde).

Keempat terpidana kasus korupsi tersebut adalah mantan Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Cirebon Gatot Rachmanto. Yang merupakan terpidana perkara suap jual beli jabatan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bandung dan gratifikasi terkait proyek pembangunan di Kabupaten Cirebon.

Kemudian tiga terpidana suap pungurusan anggaran yakni mantan anggota DPR Komisi IX Fraksi Demokrat Amin Santono, mantan pejabat di Ditjen Kementeriaan Keuangan Yaya Purnomo, dan Konsultan Eka Kamaluddin.

“[Gatot Rachmanto] dieksekusi ke rumah tahanan Klas I [Kebonwaru] Bandung. Sementara yang lainnya ke Lapas Klas I Sukamiskin, Bandung,” kata Juru bicara KPK Febri Diansyah, Rabu (13/3/2019).

Gatot Rachmanto‎ sebelumnya divonis 1 tahun 2 bulan penjara dan denda Rp50 juta subsider 2 bulan kurungan oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Tipikor Bandung, Jawa Barat. Atas kasus suap kepada Bupati Cirebon Sunjaya Purwadisastra guna memperoleh jabatan.

‎Sementara, Eka Kamaluddin divonis 4 tahun penjara karena terbukti bersalah terkait dengan perkara suap pengurusan anggaran yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) dan Dana Insentif Daerah (DID) 2018.

Febri mengatakan untuk terpidana Eka Kamaluddin telah membayar uang denda senilai Rp158 juta.

“Uang ini kemudian akan disetor ke kas negara sebagai bagian dari upaya asset recovery,” ujar Febri.

Terpidana lainnya, Amin Santono dan Yaya Purnomo masing-masing divonis 8 dan 6,5 tahun penjara oleh Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat.

Amin juga didenda Rp300 juta subsider 3 bulan kurungan karena terbukti menerima suap Rp3,3 miliar. Terkait meloloskan anggaran bagi Kabupaten Lampung Tengah dan Sumedang. Tak hanya itu, diminta membayar uang pengganti senilai Rp1,6 miliar.

Adapun Yaya Purnomo terbukti menerima suap Rp300 juta bersama Amin Santono dari mantan Bupati Lampung Tengah, Mustafa. Yaya juga diwajibkan membayar uang denda Rp200 juta subsider 1 tahun 15 hari kurungan. (Bisnis)

Hukum & Kriminal

Gerindra Bantah Prabowo Ditetapkan Sebagai Tersangka

Published

on

By

Capres Prabowo: Selama Ini Kita Diframing Isu SARA, Padahal Pancasilais

Finroll.com – Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad membantah bahwa Ketum Partai Gerindra menjadi tersangka makar. Dia menegaskan dalam bahwa dalam Surat Perintah Dimulai Penyidikan (SPDP) itu Prabowo tertulis sebagai terlapor. Sementara Eggi Sudjana adalah tersangka.

Dasco memberikan penjelasan. “Tidak benar telah terbit SPDP terhadap pak Prabowo terkait kasus makar. Yang ada adalah SPDP terhadap pak Eggy Sudjana.

Dia menjelaskan, Prabowo memang turut dijadikan terlapor oleh pelapor tapi status Prabowo bukan tersangka bahkan juga bukan saksi

“Tidak ada setitik faktapun yang bisa mengaitkan pak Prabowo dengan tuduhan makar. Sebagaimana kita tahu bahwa Pak Prabowo senantiasa berjuang dalam koridor hukum dan konstitusi,” lanjutnya.

Hal tersebut disampaikan Dasco merespons soal beredarnya surat polisi yang menyebutkan bahwa Prabowo menjadi tersangka. Surat terindikasi hoax tersebut beredar di grup WhatsApp tanpa konfirmasi.

Continue Reading

Hukum & Kriminal

Polisi Tangkap Lieus Sungkharisma Terkait Kasus Dugaan Makar

Published

on

Polisi Tangkap Lieus Sungkharisma Terkait Kasus Dugaan Makar

Finroll.com – Juru kampanye Badan Pemenangan Nasional atau BPN Prabowo Subianto – Sandiaga Uno, Lieus Sungkharisma diciduk oleh penyidik Kepolisian Daerah Metro Jaya di kediamannya pagi ini, 20 Mei 2019. Penangkapan Lieus ini diduga terkait kasus makar.

“Iya betul, saudara Lieus dijemput oleh penyidik jam 09.00 WIB. Sekarang sedang dalam perjalanan menuju Polda Metro Jaya untuk menjalani pemeriksaan,” ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo di kantornya, Jakarta Selatan pada Senin, 20 Mei 2019.

Lieus dilaporkan oleh seseorang bernama Eman Soleman atas dugaan penyebaran berita bohong dan makar pada 7 Mei 2019 ke Bareskrim Mabes Polri. Laporan terhadap Lieus diterima dengan nomor laporan LP/B/0441/B/2019/Bareskrim tertanggal 7 Mei 2019.

Namun, laporan Lieus di Bareskrim Polri kini telah dilimpahkan ke Polda Metro Jaya. “Kemarin kami limpahkan berkas kasusnya ke Polda Metro Jaya dan sudah diterima oleh Direktorat Reserse Kriminal Umum,” ucap Dedi.

Dalam laporan tersebut, Lieus Sungkharisma dilaporkan atas Tindak Pidana Penyebaran Berita Bohong atau hoax dengan Undang-Undang (UU) Nomor 1 Tahun 1946 tentang KUHP pasal 14 dan atau pasal 15 serta terhadap Keamanan Negara atau Makar UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang KUHP Pasal 107 juncto asal 110 juncto Pasal 87 dan atau Pasal 163 bis juncto Pasal 107.

Lieus sebelumnya sudah dipanggil oleh penyidik ketika kasusnya masih ditangani oleh Bareskrim. Panggilan pertama dilayangkan pada 14 Mei 2019. Ia absen karena masih mencari pengacara.

Lalu, pada panggilan kedua, 17 Mei 2019, Lieus kembali mangkir dengan alasan surat panggilan penyidik belum ia terima.(tempo)

Continue Reading

Hukum & Kriminal

Polri Tangkap 68 Terduga Teroris Sepanjang 2019, Terbanyak Bulan Mei

Published

on

Polri Tangkap 68 Terduga Teroris Sepanjang 2019, Terbanyak Bulan Mei

Finroll.com – Jajaran Kepolisian RI (Polri) terus menjaga situasi keamanan agar tetap kondusif dengan memburu para terduga teroris. Sepanjang tahun ini (Januari-Mei 2019), sudah 68 terduga teroris yang ditangkap.

Dari jumlah itu, jumlah teroris yang terbanyak ditangkap pada Mei atau menjelang pengumuman resmi hasil pemilihan presiden (pilpres) oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada 22 Mei mendatang. Sepanjang bulan ini, ada 29 terduga teroris yang ditangkap Polri.

“Polri melakukan upaya paksa untuk menangkap 68 terduga teroris sepanjang tahun ini,” kata Kepala Divisi (Kadiv) Humas Mabes Polri, Irjen M Iqbal saat memberikan konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (17/5/2019).

Irjen Iqbal lalu memerinci ada empat terduga teroris yang ditangkap pada Januari lalu. Kemudian, menyusul 1 tersangka pada Februari, 20 tersangka pada Maret, 14 orang pada April, dan 29 orang pada Mei 2019.

“Dari 68 terduga teroris yang ditangkap, 8 orang di antaranya meninggal dunia. Salah satunya adalah terduga teroris yang meledakkan diri di Sibolga, Sumatera Utara,” ujar Iqbal.

Sementara, 7 terduga teroris yang tewas lainnya ditembak aparat Polri yang sedang melakukan operasi penangkapan. “Tujuh orang itu ditembak, karena mereka mengancam petugas,” ujar Iqbal.

“Khusus 29 tersangka yang ditangkap bulan ini terafiliasi JAD dengan rincian 18 tersangka ditangkap di Bekasi, Kerawang, Tegal, Nganjuk, dan Bitung Sulawesi Utara. Ini adalah proses pengembangan panjang, preventive strike,” sambungnya.

Ada juga yang berperan menyembunyikan DPO JAD di Lampung yang merencanakan aksi amalia atau aksi teror dengan menyerang kerumumunan massa pada 22 Mei mendatang dengan menggunakan bom.

Continue Reading
Advertisement

Trending