Connect with us

International

Donald Trump Tarik Mikrofon Wartawan Saat Bertanya Soal Rusia!

Published

on


Staf Gedung Putih mencoba menarik mikrofon dari tangan jurnalis CNN ketika Presiden Donald Trump tengah menghadapi pertanyaan sang wartawan mengenai imigran dan penyelidikan intervensi Rusia dalam pemilu Amerika Serikat pada 2016.

Finroll.com – Ketegangan ini terjadi saat Donald Trump menggelar konferensi pers di Gedung Putih untuk membahas pemilihan umum sela yang hasilnya menunjukkan Partai Demokrat menguasai Dewan Perwakilan, sementara Partai Republik mengamankan Senat.

Saat sesi tanya jawab, jurnalis CNN, Jim Acosta, bertanya soal kampanye Trump yang menyebut bahwa karavan berisi imigran di perbatasan Meksiko dengan AS sebagai “invasi.”

“Karavan itu bukan invasi. Itu adalah sekelompok imigran yang dari Amerika Tengah menuju perbatasan Amerika…” ucap Acosta melontarkan pertanyaan.

Belum selesai pertanyaan Acosta, Trump langsung menjawab, “Saya pikir Anda harus membiarkan saya menjalankan pemerintahan, Anda tetap bekerja di CNN, dan jika Anda bekerja dengan baik, rating kalian akan lebih bagus.”

Ketika Acosta mencoba kembali menyampaikan pertanyaan, Trump berkata, “Sudah cukup,” sambil mengarahkan telunjuknya ke arah wartawan CNN itu.

Baca Juga: Snowden Sebut Arab Saudi Gunakan Spyware Khusus Lacak Khashoggi

Seorang staf perempuan yang berada di samping Acosta lantas mencoba menarik mikrofon dari tangan sang jurnalis.

Mempertahankan mikrofonnya, Acosta berkata, “Maaf, nona. Saya ingin mengajukan pertanyaan lain. Jika saya boleh bertanya, Pak Presiden, mengenai penyelidikan Rusia. Apakah Anda khawatir…”

Lagi-lagi, belum selesai Acosta bertanya, Trump langsung menjawab, “Saya tidak khawatir mengenai apa pun terkait penyelidikan Rusia karena itu hoaks. Sudah cukup, taruh mikrofonnya.”

Namun, Acosta tetap berkeras melontarkan pertanyaan mengenai penyelidikan intervensi Rusia dalam pemilu 2016 yang kini mulai menyasar sang presiden.

Trump sempat berjalan sedikit ke samping, kemudian kembali ke podiumnya dan berkata, “Saya rasa CNN akan malu memiliki wartawan seperti Anda. Anda adalah orang yang kasar. Anda seharusnya tak bekerja untuk CNN.”

Sang presiden kemudian memberikan kesempatan jurnalis dari NBC, Peter Alexander, untuk bertanya. Namun, Alexander malah membela Acosta dan mengatakan bahwa jurnalis CNN itu sebenarnya hebat.

“Ya, saya juga bukan penggemar Anda, sejujurnya,” ucap Trump yang kemudian menunjuk Acosta dan berkata, “Tolong, duduk.”

Baca Juga: Iklan Kampanye Donald Trump Bernada ‘Rasis’ Ditarik Sejumlah Stasiun Televisi AS

Menjelang akhir konferensi pers, reporter PBS, Yamiche Alcindor, bertanya terkait pernyataan Trump yang mengaku sebagai seorang “nasionalis.”

Wartawan kulit hitam itu bertanya soal kekhawatiran Trump jika pernyataan itu memicu kebangkitan supremasi kulit putih.

Trump hanya menjawab, “Pertanyaan rasis.”(CnnIndonesia)

International

Menlu AS: Tuhan Kirim Donald Trump Untuk Selamatkan Israel

Published

on

Menlu AS: Tuhan Kirim Donald Trump Untuk Selamatkan Israel

Finroll.com – Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo menyatakan Tuhan mungkin telah mengirim Presiden Donald Trump ke Bumi untuk melindungi Israel. Hal itu diungkapkan Pompeo dalam sebuah wawancara dengan Christian Broadcasting Network, atau CBN.

“Sebagai seorang Kristen saya yakin itu mungkin,” jawab Pompeo ketika ditanya apakah Trump adalah Esther baru, yang dalam Alkitab meyakinkan Raja Persia untuk tidak membantai orang-orang Yahudi.

Wawancara CBN itu dilakukan saat Pompeo melakukan kunjungan ke Yerusalem dan jatuh bertepatan dengan hari Purim, hari libur Yahudi yang menandai kisah Ratu Esther. Ratu Esther adalah istri dari Raja Persia Xerxes I yang membujuk raja untuk mencabut perintah genosida orang-orang Yahudi di kerajaan.

Host CBN pun bertanya kepada Pompeo yang menyebut Iran sebagai ancaman modern bagi orang-orang Yahudi. Trump tahun lalu menarik AS dari perjanjian nuklir Iran dan menerapkan kembali sanksi terhadap negara tersebut.

“Saya yakin Tuhan sedang bekerja di sini,” tambah Pompeo, mencatat bahwa dia mengunjungi terowongan di bawah Yerusalem selama kunjungannya seperti dikutip dari The Hill, Jumat (22/3/2019).

“Itu luar biasa – jadi kami berada di terowongan di mana kami dapat melihat 3.000 tahun yang lalu, dan 2.000 tahun yang lalu – jika saya memiliki sejarah yang tepat – untuk melihat sejarah iman yang luar biasa di tempat ini dan pekerjaan yang dimiliki oleh administrasi kami dilakukan untuk memastikan bahwa demokrasi di Timur Tengah ini, bahwa negara Yahudi ini tetap ada,” sambungnya.

Sementara itu dalam konferensi pers bersama dengan Presiden Israel Reuven Rivlin, Pompeo mengatakan, Israel tidak memiliki teman yang lebih baik daripada Amerika Serikat.

“Ini bukan hanya kata-kata. Ini adalah apa yang kita lakukan setiap hari untuk kepentingan kita berdua,” imbuhnya seperti dikutip dari NBC News.

Dukungan Trump terhadap Israel telah dipuji di negara itu. Tahun lalu, ia mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel dan memindahkan Kedutaan Besar AS di sana.

Terbaru, Trump mengatakan bahwa AS harus mengakui kontrol Israel atas Dataran Tinggi Golan yang disengketakan. Dataran Tinggi Golan direbut dari Suriah selama Perang Enam Hari pada 1967 dan dianeksasi oleh Israel pada tahun 1981. Politisi Israel telah lama meminta AS untuk mengakui klaim-klaim tersebut.

Continue Reading

International

Khotbah Jumat di Masjid Al Noor Selandia Baru Dihadiri Ribuan Orang

Published

on

Selandia Baru

Jika tujuh hari lalu, Jumat (15/3), Masjid Al Noor Selandia Baru menjadi saksi bisu aksi pembantaian mengerikan, lain halnya dengan hari ini (22/3). Kini, lokasi bekas aksi terorisme itu dipenuhi cinta dan kasih sayang dari seluruh lapisan masyarakat.

Finroll.com – Ribuan orang menyempatkan diri berkumpul di Hagley Park Selandia Baru yang masih satu kawasan dengan masjid itu untuk ikut menghormati mereka yang tewas dalam aksi terorisme minggu lalu.

Dilansir dari NZ Herald, azan dan jalannya salat Jumat di Masjid Al Noor disiarkan ‘live’ di semua stasiun TV dan radio Selandia Baru.

Sementara itu, Imam Masjid Al Noor Gamal Fouda menanggapi tragedi kemanusiaan itu dalam khotbah Jumatnya.

“Selandia Baru tidak mudah hancur. Hati kita hancur, tetapi kita tidak hancur,” ucapnya.

Fouda juga berterima kasih atas dukungan dari seluruh masyarakat, kepolisian, dan petugas garda depan Selandia Baru.

“Terima kasih untuk masyarakat Selandia Baru. Terima kasih untuk air mata kalian. Terima kasih untuk tarian ‘haka’-nya. Terima kasih untuk karangan bunganya. Terima kasih untuk cinta dan kasih sayang kalian,” ucap Fouda di hadapan ribuan massa yang hadir.

Selain itu, pria yang memimpin salat Jumat ini juga sangat berterima kasih pada Ardern dan kepemimpinannya dalam menanggapi aksi terorisme.

“Ini bisa dijadikan contoh untuk seluruh pemimpin dunia. Terima kasih sudah menjaga hubungan kekeluargaan kami dan menghormati kami dengan memakai kerudung. Terima kasih atas kata-kata dan air mata penuh kasih sayang,” sambungnya.

Dalam salat Jumat itu, azan dikumandangkan pada pukul 13.30 waktu setempat. Setelah itu, masyarakat yang hadir di sana mengheningkan cipta selama 2 menit untuk menghormati para korban penembakan di Masjid Al Noor dan Masjid Linwood.

Massa pun terlihat menundukkan kepala dan merenungkan tragedi minggu lalu. Khotbah Fouda menyejukkan hati mereka dengan menyerukan cinta kasih usai terjadinya peristiwa tragis itu.

“Jumat lalu, aku berdiri di masjid ini dan melihat kebencian serta kemarahan di mata teroris yang membunuh 50 orang tak bersalah, melukai 42 lainnya, dan menghancurkan hati jutaan manusia di seluruh dunia. Kini, di tempat yang sama, aku menyaksikan cinta dan kasih sayang di mata ribuan saudara-saudari Selandia Baru dan umat manusia di seluruh dunia. Teroris itu ingin menghancurkan negara kita dengan ideologi jahatnya. Namun, kita harus menunjukkan kalau Selandia Baru tidak hancur,” serunya.

Menurut Fouda, dunia seharusnya mencontoh cinta dan persatuan Selandia Baru.

“Hati kita hancur, tetapi kita tidak hancur. Kita masih hidup, kita punya satu sama lain, kita harus bertekad untuk tidak membiarkan siapa pun memecah belah kita. Jumlah yang terbunuh memang tidak biasa, tetapi solidaritas Selandia Baru luar biasa,” pujinya.

Tak lupa, Fouda berpesan pada keluarga korban.

“Orang yang Anda cintai tidak mati sia-sia. Darah mereka menyirami benih-benih harapan. Melalui mereka, dunia akan melihat indahnya Islam dan indahnya persatuan kita,” tuturnya.

Fouda juga menegaskan para korban adalah orang-orang terbaik yang berpulang pada hari terbaik, di tempat terbaik, dan sedang melakukan kegiatan terbaik.

“Kehilangan kita adalah keuntungan bagi persatuan dan kekuatan Selandia Baru. Kepergian mereka bukan hanya untuk negara, melainkan untuk semua umat manusia. Kepergian mereka menjadi kehidupan baru bagi Selandia Baru. Pertemuan kita di sini dengan semua corak keragaman menjadi bukti hadirnya kemanusiaan di antara kita. Kita di sini untuk satu tujuan. Kebencian akan sirna dan cinta akan menghampiri kita,” sambungnya.

Di akhir khotbahnya, Fouda menyoroti Islamofobia.

“Islamofobia itu nyata. Pandangan ini memengaruhi orang agar tidak manusiawi dan menjadi takut terhadap umat Islam. Kami menyerukan kepada pemerintah di seluruh dunia untuk mengakhiri kebencian dan politik yang menyebar ketakutan,” ungkapnya.

Fouda mengatakan serangan Christchurch tidak terjadi begitu saja, tetapi merupakan hasil retorika anti-Islam yang didengungkan beberapa pemimpin politik dan media pemberitaan.

“Insiden minggu lalu menjadi bukti bagi seluruh dunia kalau terorisme tidak memiliki warna kulit, tidak memiliki ras, dan tidak memiliki agama. Munculnya supremasi dan ekstremisme kulit putih adalah ancaman besar bagi umat manusia di dunia dan harus diakhiri sekarang,” tegasnya.

Sumber: Akurat

Continue Reading

International

Peringatan Sepekan Serangan Teroris, PM Ardern Awali Sambutan Dengan Asalamualaikum

Published

on

PM Ardern

Finroll.com – Dengan menggunakan kerudung hitam, Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern turut berdampingan dengan ribuan rakyatnya memperingati peringatan sepekan serangan teroris di dua masjid yang menewaskan 50 Muslim usai shalat Jumat, Jumat pekan lalu.

Ardern mengucap salam dengan assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh. “Menurut Nabi Besar Muhammad, orang-orang yang beriman dalam kebaikan, belas kasih, dan simpati, adalah seumpama seperti satu kesatuan, satu tubuh. Ketika ada bagian tubuh yang sakit, maka seluruh tubuh merasakan sakit. Selandia Baru berduka dengan para korban, kami adalah satu,” ujar Ardern.

Selandia Baru menyiarkan secara langsung azan di TV dan radio nasional. Usai azan, ribuan orang yang hadir di Hagley Park, seberang Masjid Al Noor, mengheningkan cipta selama dua menit untuk mendoakan para korban serangan kejam oleh Pria Australia yang kini telah ditahan. Setelah azan dan mengheningkan cipta, Muslim Selandia Baru melakukan shalat Jumat.

(Foto: AP Photo/Vincent Thian) “Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern meninggalkan lokasi shalat Jumat di Hagley Park, Christchurch, Selandia Baru, Jumat (22/3).”

Seorang pejabat keamanan nasional Australia mengatakan, agen-agen keamanan telah meningkatkan pengawasan dan tekanan pada supremasi kulit putih setelah serangan Selandia Baru.

Kepala eksekutif Departemen Dalam Negeri Mike Pezzullo mengatakan kepada sebuah komite Senat, Jumat (22/3) agen-agen Australia bekerja untuk membantu penyelidikan Selandia Baru terhadap pria Australia yang ditangkap dalam pembunuhan 50 jamaah di dua masjid Christchurch pekan lalu. Pezzullo mengatakan, Departemen Dalam Negeri berdiri dengan tegas menentang supremasi kulit putih.

(source: republika)

Continue Reading
Advertisement

Trending