Connect with us

Entertainment

Disney-Pixar Akhirnya Merilis Trailer Penuh Toy Story 4

Published

on


Toy Story 4

Disney-Pixar akhirnya merilis trailer penuh dari Toy Story 4. Film animasi tersebut memperkenalkan mainan baru Bonnie bernama Forky, yang dibuat olehnya dari spork yang tidak terpakai.

Finroll.com – Bingung dengan tujuannya sebagai spork dan tujuan barunya sebagai mainan di Toy Story 4, ia memutuskan untuk melarikan diri dari rumah.

Woody nampak berusaha untuk membawa kembali Forky. Ia pun memulai petualangan baru bersama dengan mainan baru lainnya.

Dalam perjalanannya, ia bertemu kembali dengan Bo Beep yang nampak sangat berbeda saat ini. Ia menjadi seperti prajurit, menyelamatkan Woody dan Forky yang diserang oleh mainan jahat.

Namun, Bo Beep nampaknya muncul dengan membawa agenda lain.

Ia mencoba menyakinkan Woody untuk meninggalkan Bonnie dan menghibur anak-anak di sebuah taman bermain.

Sementara itu, Buzz Lightyear dan anggota lainnya membuat rencana untuk mencari Woody dan Forky.

Tom Hanks masih menjadi pengisi suara untuk Woody bersama dengan Tim Allen yang berperan sebagai Buzz Lightyear, Annie Potts sebagai Bo Peep, Joan Cussack sebagai Jessie, Blake Clark sebagai Slinky Dog, Wallace Shawn sebagai Rex dan John Ratzenberger sebagai Hamm. Sementara Forky sendiri, suaranya akan diisi oleh Tony Hale.

Film ini juga akan menampilkan karakter-karakter baru seperti Ducky dan Bunny, yang diperankan oleh Jordan Peele dan Keegan-Michael Key.

Keanu Reeves juga turut serta dalam film ini dengan mengisi suara untuk sebuah karakter bernama Duke Caboom yang digambarkan sebagai mainan penantang bahaya dengan kostum putih, kumis dan sebuah motor mainan.

Disutradarai oleh Josh Cooley, film animasi komedi itu dijadwalkan rilis di AS pada 21 Juni 2019 mendatang.

Advertisement

Entertainment

5 Pesan Penting dari Film ‘Dua Garis Biru’ untuk Orang Tua

Published

on

By

“Padahal, ibu dulu selalu tutup mata kamu lho, kalau ada adegan dewasa di film.”

“Memangnya, ayah sama ibu dulu harus liat film dulu baru bisa ciuman?”

Begitulah kira-kira dialog yang terjadi antara Bima (Angga Yunanda) dan ibunya (Cut Mini Theo) dalam film Dua Garis Biru karya sutradara Gina S. Noer. Jika yang dilakukan ibu Bima terdengar familier, mungkin para orang tua harus menonton film ini dan mempertimbangkan kembali bagaimana cara memberikan pendidikan seks pada anak.

Membatasi anak untuk melihat adegan dewasa ternyata tidak menjamin anak menghindari seks, karena ternyata dalam film ini hubungan Bima dan pacarnya, Dara (Adhisty Zara), berujung pada kehamilan.

Keluarga yang Baik Bukanlah Jaminan

Kehangatan yang diberikan oleh ibu (Lulu Tobing) dan ayah (Dwi Sasono) ternyata tidak menjamin Dara menjaga kepercayaan yang diberikan oleh orang tuanya. Dalam film ini, baik Dara maupun Bima berasal dari keluarga harmonis, meskipun dalam kondisi ekonomi yang berbeda.

Bahkan, ayah Bima (Arswendy Bening) adalah sosok yang taat beragama namun dapat memberi nasihat pada Bima tanpa bersikap otoriter. Dara dan Bima pun bukan anak bermasalah di sekolah. Jadi, dapat disimpulkan bahwa latar belakang keluarga, kasih sayang orang tua, dan anak yang patuh bukanlah jaminan anak tidak akan melakukan seks di luar nikah. Kuncinya tetap pada pendidikan seks yang dilakukan dengan terbuka dan jelas.

Pendidikan seks harus dilakukan secara terbuka

Psikolog dari Yayasan Pulih, Gisella Pratiwi, menyarankan orang tua untuk mengawali pendidikan seks usia dini dengan cara mengenalkan anak terhadap tubuhnya. Kemudian pada saat memasuki masa puber, orang tua dapat mengajarkan anak tentang kesehatan reproduksi.

Dalam film, Dara dan Bima hanya tahu tentang kesehatan reproduksi dari sekolah. Namun, mereka tidak memiliki informasi tentang bagaimana kehamilan bisa terjadi dan apa konsekuensinya bagi ibu yang masih remaja. Sehingga, orang tua perlu menyampaikan pendidikan seks secara jelas dan terbuka. Jika merasa canggung, pilih media seperti buku, artikel, dan video yang bisa ditonton bersama anak.

Tegaskan konsekuensi kehamilan di luar nikah

Dikeluarkan dari sekolah, mencari nafkah, kehilangan kesempatan kuliah, menjadi bahan gunjingan lingkungan sekitar, hingga kehilangan teman merupakan beberapa konsekuensi kehamilan di luar nikah yang dapat dilihat dalam film.

Ini belum termasuk risiko pendarahan, kehilangan rahim, dan kehilangan nyawa bagi ibu yang masih remaja. Kita bisa membicarakan konsekuensinya satu demi satu, kaitkan dengan hidup anak agar ia dapat membayangkan dengan lebih jelas.

Percaya Namun Tetap Mengawasi

Sedekat apapun kita dengan anak, sepercaya apapun kita bahwa mereka remaja baik-baik yang patuh pada orang tua, mereka tetap remaja yang belum sepenuhnya mampu menahan diri terhadap hal yang mereka sukai. Termasuk dalam masalah cinta.

Mungkin mereka tidak berniat melakukan hubungan seks, namun jika ada kesempatan dan tidak ada pengawasan, tidak ada yang bisa mencegah hal tersebut terjadi. Sebaiknya, perjelas peraturan dengan remaja untuk tidak membawa pacar ke dalam kamar, termasuk berduaan dengan pacar di tempat sepi yang memungkinkan mereka untuk melewati batas berpacaran yang telah disepakati. Saat anak izin untuk pergi, minimal kita tahu 5 W + 1 H (what, when, where, who, why, how) dan memastikan anak pulang tepat waktu.

Berkomunikasi dengan remaja ada caranya

Di dalam film, ketika Bima terlihat memiliki masalah, ibunya langsung mencecarnya dengan pertanyaan dan membuat asumsi sendiri, dengan bernada tinggi. Ini membuat Bima menjadi jengah dan memilih untuk meninggalkan orang tuanya. Sementara itu, ayahnya memilih untuk mendekatinya secara personal dan memberi nasihat dalam posisi sebagai sesama laki-laki.

Dari sini, kita dapat belajar bahwa untuk meminta anak menceritakan masalahnya harus dilakukan dengan cara yang membuatnya nyaman, bukan sebaliknya. Itu pun tidak menjadi jaminan anak berani berkata jujur. Memang tidak bisa sekali jadi, yang penting kita sebagai orang tua harus sabar dan peka.

Continue Reading

Entertainment

The Grand Signature Piano gelar Heritage Concert

Published

on

Finroll.com — The Grand Signature Piano gelar Konser “Heritage Concert” dengan menampilkan duo pianis asal Perancis, Pascal Roge dan Ami Roge, di Gedung Kesenian Jakarta Senin (15/7/2019).

Executive Director The Grand Signature Piano Helen Gumanti mengatakan, konser ini merupakan kali pertamanya dimana kehadiran duo pianis asal Perancis Pascal Roge dan Ami Roge seakan menjadi sebuah momen yang tepat untuk merayakan keindahan asimilasi budaya timur dan barat,” ujarnya.

Konser kali ini akan mengetengahkan karya Claude Debussy, Maurice Ravel dan Colin McPhee. Berbagai elemen tekstur, irama, wama suara dan filosofi dari gamelan akan hadir melalui musik tradisi barat yang mereka bawakan,” tambahnya.

Menurutnya, Heritage Concert Series ini merupakan sebuah rangkaian pertunjukan dengan dua keluaran. Selain konser itu sendiri, kegiatan ini akan selalu diikuti oleh sebuah video dokumenter yang membahas kajian berkenaan dengan tema dan situs warisan budaya yang sedang dijadikan sorotan.

Seluruh rangkaian kegiatan ini akan diunggah sebagai sebuah saluran dokumemer yang dapat diakses oleh publik dari berbagai penjuru dunia.

Helen Gumanti berharap, semoga debgan adanya Konser ini, anak negeri dapat lebih mengenal kekayaan warisan budaya bangsanya dan semoga dengan Heritage Concert Series ini, Indonesia lebih mendapatkan sorotan di mata dunia.

“lnilah dedikasi kami bagi Indonesia,” pungkasnya.

Perlu diketahui Pascal Roge adalah gambaran dari pianis terbaik di Perancis. Lahir di Paris, beliau adalah mantan murid dari Paris Conservatory dan pernah dimentori oleh Julius Katchen dan The Great Nadla Boulanger.

Sebagai salah satu artis rekaman ternama, Pascal Roge telah memperoleh banyak penghargaan bergengsi, mulai dari Gramophone Awards, 3 Grand an du Dlsque and Edison Award atas interprestasinya dari karya The Ravel dan Saint-Saens Concerti bersamaan dengan karya penuh dari Ravel, Poulenc dan Satie.

Pascal Roge menikmati permainan piano empat-tangan/dua -piano bersama istri tercintanya Ami Roge. Mereka berkeliling dunia dan tampil pada berbagai macam festival dan konser musik temama.

Saat ini beliau menjabat sebagai Ketua dan Kompetisi Piano Genewa dan mengajar berbagai Masterclass di Perancis, Jepang, Amerika dan Inggris.

Continue Reading

Entertainment

BEKRAF dengan Program ICINC Umumkan Top 5 Siap Masuki Pasar Musik Global

Published

on

Finroll.com — Setelah resmi membuka tahap Open Call pada bulan April lalu,

Indonesia Creative Incorporated (ICINC) terus mendapatkan sambutan luar biasa dari ratusan talenta musik di Indonesia. ICINC sukses menarik perhatian 536 solois dari berbagai kota seperti Aceh, Bandung, Makassar, Malang, Sidoarjo, Pontianak, Surabaya, Papua dan banyak kota lainnya.

88rising telah melakukan proses kurasi dan berhasil menyaring 20 besar peserta hingga kini terpilih menjadi 5 besar yang akan diterbangkan ke Los Angeles, Amerika Serikat untuk mengikuti tahap talent development dari 88rising serta tampil di
gelaran

“Head in the Clouds Festival” pada 17 Agustus mendatang (waktu Los Angeles). Sebelumnya, pada Minggu (7/7) Kepala BEKRAF Triawan Munaf, Rich Brian (Brian Imanuel) bersama dengan tim 88rising dan perwakilan peserta ICINC bertemu dengan Presiden Joko Widodo di Istana Bogor untuk menjelaskan mengenai program ICINC dan subprogram Indonesia Rising.

ICINC merupakan program BEKRAF yang bertujuan untuk melakukan promosi karya dan pelaku kreatif unggulan agar dapat menembus pasar global.

Kali ini melalui subprogram ICINC bertitel Indonesia Rising, BEKRAF berkolaborasi bersama 88rising untuk membawa musisi berbakat Indonesia menembus ekosistem musik global.

“BEKRAF senantiasa mendukung pelaku kreatif untuk dapat menjadi bagian dari ekosistem pasar global, kali ini kami berfokus pada subsektor musik melalui subprogram ICINC dan bekerja sama dengan 88rising yang sudah memiliki pengalaman membawa musisi Asia ke Amerika,” jelas Triawan Munaf selaku Kepala BEKRAF.

Sementara itu, 88rising melihat bahwa Indonesia memiliki sederet musisi berbakat yang mampu membawa angin segar bagi pasar musik internasional.

“Selama tahap Open Call, kami terpukau dengan banyaknya solois berbakat dari Indonesia, yang membuat proses kurasi menjadi seru dan penuh dengan diskusi.

Kami melihat bakat-bakat musisi Asia dengan ciri khas mereka masing-masing dalam berkarya,” ungkap Oliver Zhang selaku Artist Manager 88rising.

Setelah melalui proses kurasi oleh 88rising, ICINC berhasil mendapatkan 5 nama yang akan diberangkatkan ke Los Angeles, Amerika yaitu:

1. Amanta Artadhia Siregar (Arta) – Jakarta
2. Devinta Trista Agustina (Devinta) – Sidoarjo
3. Monica Eva Sancti (Monéva) – Banten
4. Nicholas Hardy (Nick Hardy) – Jakarta

Continue Reading
Advertisement

Trending