Connect with us

Traveling

Destinasi Wisata di Jalur Mudik Pemalang Purbalingga

Published

on


Finroll.com – Jalur mudik Pemalang-Purbalingga merupakan salah satu jalan penghubung Tol Trans Jawa di wilayah pantura Jawa Tengah dengan jalur tengah dan selatan Jateng. Jalur tersebut memiliki beragam destinasi wisata yang layak dikunjungi pemudik.

“Bagi pemudik dari arah Jakarta dengan tujuan Purbalingga, Banjarnegara, dan Wonosobo yang berada di jalur tengah Jateng atau Kebumen dan Purworejo yang berada di jalur selatan Jateng, jika melalui Tol Trans Jawa tidak ada salahnya keluar lewat Pemalang dan selanjutnya ke arah Purbalingga,” kata Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Dinporapar) Kabupaten Purbalingga Prayitno di Purbalingga, Senin (13/5).

Ia mengatakan di sepanjang jalur mudik yang berada di sisi timur Gunung Slamet itu, pemudik dapat menikmati keindahan alam pegunungan. Bahkan ketika memasuki wilayah Kabupaten Purbalingga, kata dia, beragam destinasi wisata siap menyambut kedatangan pemudik yang hendak singgah untuk sekadar beristirahat sembari berwisata.

“Destinasi wisata di jalur mudik Pemalang-Purbalingga, antara lain Golaga (Goa Lawa Purbalingga). Objek wisata Golaga ini memang tidak tepat berada di tepi jalur mudik karena sedikit masuk ke dalam, sekitar 3 kilometer dari jalan utama Pemalang-Purbalingga,” katanya.

Kendati demikian, dia mengatakan pemudik tidak akan kecewa ketika mengunjungi Golaga karena objek wisata yang dikelola Perusahaan Umum Daerah Owabong di Desa Siwarak, Kecamatan Karangreja, itu memiliki berbagai wahana yang bisa dinikmati pengunjung di samping keindahan Goa Lawa dan panorama sekitarnya.

Selain Golaga, kata dia, pemudik juga dapat berswafoto di destinasi wisata Taman Cinta Talagening, Desa Talagening, Kecamatan Bobotsari, yang berada di jalur Pemalang-Purbalingga. “Destinasi wisata yang dikelola BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) Talagening itu memiliki sejumlah spot menarik untuk berswafoto,” katanya.

Prayitno mengatakan setelah menikmati keindahan alam sembari berswafoto di Taman Cinta Talagening, pemudik juga bisa melakukan wisata religi ke Masjid Cheng Ho, Desa Selaganggeng, Kecamatan Mrebet. Menurut dia, masjid yang berada di tepi jalur Pemalang-Purbalingga itu dilengkapi dengan rest area yang dapat dimanfaatkan oleh pemudik untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan menuju kampung halaman.

“Namun sebelum meninggalkan wilayah Purbalingga, jangan lupa singgah ke pusat oleh-oleh khas Purbalingga yang berlokasi di Bale Agung, Bojongsari, tidak jauh dari destinasi wisata Owabong Waterpark. Di tempat ini, pemudik bisa berbelanja berbagai makanan khas Purbalingga untuk dijadikan oleh-oleh bagi keluarga di rumah,” katanya.

Sepanjang jalur Pemalang-Purbalingga memang memiliki panorama alam pegunungan yang indah terutama pada pagi hari. Akan tetapi, ruas jalan provinsi tersebut berkelok dan banyak terdapat tikungan maupun turunan tajam, sehingga pemudik harus berhati-hati saat melewatinya.

Kuliner

Rumah Makan Padang Akan Dibangun di Kota Terbesar Vietnam

Published

on

By

Finroll.com – Rumah makan padang akan dibangun di kota terbesar di Vietnam, Ho Chi Minh. Menurut Wali Kota Padang Mahyeldi Ansharullah, rumah makan tersebut tentunya hadir dengan menu utama rendang.

“Tahun ini ditargetkan sudah dibangun, lokasi dan pengembangnya sudah ada, tinggal kami koordinasikan saja,” kata Mahyeldi saat mengunjungi sentra masakan rendang di Pasar Raya Inpres, Padang, Sumatra Barat, Jumat.

Mahyeldi menjelaskan bahwa pembangunan rumah makan padang di Ho Chi Minh, Vietnam dilakukan atas dasar kerja sama dengan Konjen RI di Vietnam. Pengembangnya adalah salah satu dari pengusaha di Padang yang sudah lama bergerak di bidang rumah makan, namun ia tidak menjelaskannya dengan detail.

Alasan pemilihan Vietnam sebagai pengembangan restoran padang adalah banyaknya turis Melayu yang mengunjungi negara tersebut, khususnya Ho Chi Minh.

“Vietnam itu banyak turis Melayu, penerbangan dari sini saja ada 15 flight, itu membuktikan bahwa target pasar di sana besar,” katanya.

Selain target secara perekonomian, Walikota Padang mengatakan bahwa hal tersebut menjadi salah satu promosi wisata bahwa rendang sebagai salah satu makanan terenak dunia yang ada di Sumatra Barat, khususnya Padang. Dengan adanya promosi internasional tersebut juga diharapkan dapat mendatangkan turis asing yang akan berkunjung, berwisata ke Kota Rendang, sehingga mampu mengangkat wisata lokal.

Continue Reading

Traveling

Setelah Ditutup 50 Tahun, Piramida Bent Dibuka Untuk Umum

Published

on

By

Finroll.com –  Untuk pertama kalinya sejak 1965, dua piramida di Mesir, termasuk Piramida Bent yang unik, dibuka untuk umum.

Dua piramida – Piramida Bent dan satelitnya di nekropolis kerajaan Dashur – terletak sekitar 40 kilometer di selatan Kairo, berusia lebih dari 4.000 tahun.

Bersamaan dengan pengumuman yang dibuat pada Sabtu, 13 Juli 2019, Kementerian Purbakala Mesir juga mengungkapkan penemuan sarkofagus dari batu, tanah liat dan kayu, beberapa di antaranya berisi mumi dengan topeng penguburan dari kayu.

Temuan ini juga termasuk alat pemotong batu yang berasal dari masa 664 SM sampai 332 SM, atau sekitar zaman Alexander Agung.

Piramida Bent, dibangun pada sekitar 2600 SM oleh Firaun Sneferu memiliki struktur unik. Para arkeolog mencatat bahwa arsitekturnya merupakan transisi antara piramid Djoser, yang dibangun antara 2667 SM – 2648 SM, dan Piramida Meidum, yang juga berasal dari 2600 SM, kata Menteri Purbakala Khaled al-Anani dalam sebuah pernyataan.

Bagian bawah piramida ini masih ditutupi batu kapur aslinya. Sisi-sisinya membentuk sudut 54 derajat, tetapi kemudian berangsur-angsur menjadi 43 derajat mendekati puncak, sehingga tampak bengkok.

“Sneferu hidup sangat lama, tapi kita tidak tahu di mana tepatnya ia dimakamkan. Mungkin di piramida (Bent) ini, siapa yang tahu?,” kata direktur situs Dahshur, Mohamed Shiha, kepada The Guardian.

Piramida Bent, serta piramida lainnya di Dashur (bagian dari nekropolis Memphis), terdaftar sebagai situs Warisan Dunia UNESCO.

Pemerintah Mesir melakukan restorasi Piramida Bent setinggi 101 meter dan satelitnya selama penutupan. Beberapa proses restorasi ini meliputi pengerjaan tangga internal dan eksternal, penambahan jaringan penerangan, dan perbaikan beberapa pekerjaan batu di koridor dan ruang pemakaman.

Selain itu, kementerian mengumumkan bahwa para arkeolog telah menemukan sisa-sisa tembok kuno yang berasal dari Kerajaan Tengah, sekitar 4.000 tahun yang lalu.

Dinding setinggi hampir 60 m ini berada di selatan piramida lain dari dinasti ke-12 Raja Amenemhat II, yang juga berada di nekropolis Dahshur.

Dalam beberapa tahun terakhir, Mesir telah mengumumkan penemuan arkeologis dengan harapan meningkatkan pariwisata, yang terpukul setelah Revolusi 2011.

Continue Reading

Kuliner

Sate Matang ‘Apaleh’, Kuliner Legenda di Jalur Timur Aceh

Published

on

By

Finroll.com – Sudah lebih dari 25 tahun, Muhammad Saleh menjadi penjual Sate Matang, di Keude (pasar) Geurugok, Kecamatan Gandapura, Kabupaten Bireuen, Aceh. Merintis usaha dari sebuah gerobak, kini dia telah berjualan di 11 pintu ruko.

Tempat usahanya tak pernah sepi pengunjung saban hari, disinggahi para pelintas jalan di pesisir utara-timur Aceh. Letaknya strategis, jalur tersibuk lintas Banda Aceh-Medan, sekitar 240 kilometer dari Kota Banda Aceh. Warungnya buka 24 jam.

Ditemui di warungnya, Minggu (14/7) sore, Muhammad Saleh atau akrab disapa Apaleh itu berkisah, sebelum usahanya maju seperti sekarang, dia sempat jatuh bangun sebagai penjual Sate Matang. Usaha ini dirintisnya sejak awal tahun 1990.

Dulu saat memulai hanya 5 kilogram daging sapi dalam sehari, dagingnya saya beli di pasar. Kini Alhamdulillah, 2 ekor sapi saya sembelih sendiri setiap hari,” jelas Apaleh.

Menurut lelaki 55 tahun itu, usahanya sempat meredup kala konflik berkecamuk di Aceh. Kini dengan usaha gigihnya, Apaleh telah menguasai 11 ruko. Uniknya, ruko-roko itu berderet di lokasi yang sama dan semua menjajakan Sate Matang. Ada 5 gerobak sate di sepanjang 11 pintu ruko itu.

“Tak ada resep khusus. Sama saja dengan sate-sate matang yang dijual di tempat lain. Rezeki dari Allah (kepada saya). Mungkin berkat doa-doa anak yatim yang di rumah,” kata Apaleh ketika ditanya rahasia resep satenya itu.

Sama dengan Sate Matang pada umumnya, Sate Matang ‘Apaleh’ juga disajikan dengan nasi putih, bumbu kacang, serta sepiring kuah sop hangat yang dibuat dari tulang-tulang sapi serta direbus dengan rempah dan bumbu.

Sate Matang telah dikenal sejak Indonesia merdeka sebagai kuliner khas Kota Matang Glumpang Dua, Kabupaten Bireuen. Nama “matang” merujuk pada tempat di mana makanan itu dipopulerkan pertama kali. Soal penabalan nama, mungkin sama dengan Sate Padang dan Sate Jawa.

Tahun 2013 lalu, Sate Matang telah terdaftar di UNESCO sebagai kuliner warisan dunia yang berasal dari Aceh. Di Kabupaten Bireuen, kuliner ini mudah dijumpai di sejumlah warung kopi yang buka 24 jam. Maklum, banyak penumpang bus dan truk yang melintas dari Banda Aceh ke Medan atau sebaliknya, singgah untuk “bersate ria”.

Sate Matang berbahan utama daging kambing atau daging sapi yang tampilannya tak jauh beda dengan sate lainnya. Sebelum dibakar, dimasukkan dulu dalam cairan bumbu berupa tumisan bawang putih, merah, kunyit, jahe, dan garam.

Setelah dibakar lalu dihidangkan dengan bumbu kacang tanah, campur cabe dan bumbu lainnya yang diolah sedemikian rupa, menjadi ciri khas sate ini. Kandungan bumbu inilah yang menjadi andalan sate tersebut. Khas lainnya, ada kuah soto yang membuat nasi lebih mudah dikunyah, sambil menggigit daging kambing.

Continue Reading
Advertisement

Trending