Connect with us

Citizen Journalism

Dari Perempuan Untuk Perempuan

Published

on


Sebetulnya sejak kemarin saya sudah merasa risih saat beranda Facebook penuh segala macam berita soal VA dan 80jutanya. Mulai dari makian, hinaan, sindiran, lelucon, meme, dll. Ramai sekali orang membahas dan menilai VA sesuka hati. Bahkan banyak sekali yang berkomentar sadis dan sinis di akun media sosial salah satu artis yang baru saja terciduk itu.

Saya memilih menghindar dan tak ikut membahasnya. Cukup tahu saja. Itu karena saya merasa ngilu. Saya ngilu membayangkan hancurnya nama baik dia di depan umum. Saya ngilu membayangkan perasaan kecewa yang dirasakan keluarganya. Saya ngilu membayangkan semua orang yang melihatnya akan menilai tubuhnya sebagai barang. Saya ngilu membayangkan kesalahannya dijadikan bahan bercanda orang-orang. Saya ngilu.

Terlepas dari kesalahan cara mendapatkan uang yang dia pilih dan atau perilaku dosa (menurut agama yang saya anut) yang dia lakukan, dia masih seorang manusia. Siapa saya yang merasa berhak menghakimi sampai seolah jadi Tuhan? Siapa saya sampai menjadikan aibnya bahan tertawaan? Siapa saya yang menjadikan nasib buruknya sebagai celaan? Siapa saya? Kenapa juga harus menunjukkan bahwa moralitas saya lebih tinggi dan dia lebih rendah?

Padahal saya dan dia masih sama-sama manusia, bahkan sama-sama perempuan. Saya dan dia sama-sama makhluk dengan dosa yang berbeda. Pun jika merasa lebih baik darinya sekarang, saya tak pernah tahu akhir hidup nanti akan seperti apa.

Cukuplah kejadian itu saya ambil sebagai salah satu pelajaran bahwa perempuan sangat rentan dengan kesalahan menilai dirinya. Menjadikan kejadian itu jalan kembali mengingat aib sendiri dan bersyukur Tuhan masih menutupi. Menjadikan itu sesuatu yang menyadarkan diri agar semakin kuat memegang prinsip di tengah banyaknya peluang maksiat. Menjadikannya sebagai pengingat untuk semakin dekat pada suami dan semakin erat pada anak-anak.

Bukan, ini bukan pengingkaran atas dosa dan kesalahan. Tapi ajakan untuk menempatkan respon yang sesuai atas kesalahan orang lain. Jangan berlebihan, bahkan ketika diri merasa benar.

Begitu pula yang terjadi pada Afi. Saya sedang berusaha menata hati setelah membaca postingan viralnya yang terbaru. Saya memang merasa marah dan sedih saat membaca poin pertama yang ia bahas. Ia membandingkan nominal yang diterima VA atas nilai tubuhnya di pasar (duh Gusti, menuliskannya saja saya sedih) dengan gaji 10 juta yang diterima seorang istri beserta semua perannya. Terlepas dari maksudnya membalas penghakiman berlebihan orang kepada VA, tapi membandingkan antara pernikahan (istri) dan pelacuran jelas sesuatu yang amat salah. Karena keduanya tidak bisa dibandingkan.

Pernikahan disebut mitsaqan ghaliza di agama yang saya anut, di agama lain pun saya yakin pernikahan adalah sesuatu yang disakralkan. Mitsaqan ghaliza adalah perjanjian yang sangat kukuh, bahkan setara dengan perjanjian Allah dengan para nabi-Nya. Pernikahan adalah perjanjian manusia yang melibatkan Tuhan di dalamnya. Perjanjian yang mengikat dua orang dalam komitmen jangka panjang untuk saling membahagiakan. Sebuah perjanjian yang agung dan Allah menyaksikannya.

Lalu perjanjian ini disetarakan dengan sebuah kegiatan transaksional syahwat semata?? Betapa rasanya saya ingin memaki saat membacanya, tapi saya tak ingin menjadi seperti mereka yang tak punya kontrol jari.

Jadi begini saja, yang ingin saya katakan adalah nilai materil tubuh perempuan yang dia jual bebas itu tidak akan pernah sebanding dengan nilai materil plus imateril diri seorang istri beserta semua peran yang dia emban dalam pernikahan. Tidak akan pernah. Sebanding saja tidak, apalagi dinilai lebih besar. Pun jika mengukur keduanya cuma dengan aktivitas seksual saja tetap tidak akan sebanding. Karena ada yang tidak bisa dibeli dengan berapapun nominal uang, yaitu cinta. Adakah perasaan cinta terlibat dalam transaksi syahwat?

Jadi sebaiknya berfikirlah dulu sebelum membuat perbandingan. Karena dari apa yang ditulis itu orang membaca dan merasa direndahkan. Apalagi dengan menggunakan kosakata “murahan”. Itu sungguh menyakitkan.

Jangan berlindung dibalik dalih persepsi. Terus membela diri dengan mengatakan bukan itu yang dimaksud. Bertanggung jawablah dengan berani atas apa yang sudah ditulis. Jujurlah pada diri, bukankah dengan banyaknya respon marah tandanya ada yang salah. Dan meminta maaflah jika telah menyakiti. Terus membela diri hanya membuatmu terlihat semakin menyedihkan.

Walaupun di poin pertama merasa marah, saya tetap ingin adil dan utuh menilai yang afi sampaikan. Saya menyepakati poin 2, 3 dan sebagian di poin 4 dalam tulisannya.

Betul bahwa masyarakat masih senang membully dengan masing-masing pribadi merasa lebih bermatabat dari orang yang terbuka aibnya. Benar pula banyak ketidakadilan yang dihadapi perempuan. Bahkan dalam kasus VA media tidak mengungkap siapa pelanggannya, siapa penyedia jasanya, dll. Itu kejahatan. Ia diperjualbelikan seperti barang lalu saat terungkap, pembeli dan makelarnya hilang. Walaupun sekarang status VA hanya saksi, tapi saya yakin kasus ini akan menguap pelan-pelan dan menjadi kenangan. Tinggalah label yang tersemat di kening VA seumur hidupnya. Duh.

Sedangkan untuk poin 4 saya sepakat bahwa perempuan memang sering jadi korban. Perempuan seringkali jadi samsak kesalahan saat banyak hal terjadi dalam hidupnya. Tapi terlepas dari sisi eksternal itu, menurut saya masalah terbesarnya adalah karena perempuan tidak mampu menilai dirinya dengan benar atau bahkan tidak merasa memiliki nilai diri. Itulah yang membuat dia mudah dimanfaatkan, bahkan diperjualbelikan.

Setiap perempuan harus punya kesadaran bahwa dirinya berarti sehingga ia akan memperkaya dirinya dengan banyak kemampuan dan akhirnya memiliki citra yang baik atas dirinya (self esteem). Perempuan juga harus bisa berhitung untung rugi atau konsekuensi atas pilihan yang diambil. Dia harus sadar bahwa dirinya berharga (self worth) sehingga dia tidak akan mau menjadi objek yang dimanfaatkan. Terakhir dan yang paling penting, perempuan harus menghormati diri sendiri (self respect) sehingga ia akan memegang prinsipnya kuat-kuat dalam menjalani kehidupan sehari-hari seburuk apapun kondisi yang dihadapi.

Dengan semua kemampuan itu maka perempuan tidak akan pernah terpikir menggunakan tubuhnya untuk menghasilkan uang. Tidak akan, karena nilai dirinya tidak akan bisa dikonversi ke nominal materi.

Advertisement

Citizen Journalism

Awal Mula #10YearChallenge Hingga Viral di Indonesia

Published

on

By

Awal tahun 2019 ini dunia media sosial di tanah air dibuka dengan konten unik bertajuk #10yearchallenge. Hingga kini belum diketahui siapa yang memulai aksi, tantangan atau isi konten yang saat ini sedang ramai di media sosial baik di Instagram, Facebook hingga Twitter. Dalam aksi tantangan ini, semua pengguna media sosial termasuk juga para pesohor mengunggah foto-fotonya dalam rentang waktu 10 tahun kebelakang. Nah, foto lama tersebut kemudian disandingkan dengan foto terbaru di tahun terbaru.

Awal kemunculan tantangan unik ini dimana seseorang berbagi potret mereka dalam rentang 10 tahun. Tantangan memiliki beragam julukan mulai dari #HowHardDidAgingHitYou, 2009vs2019, GlowUpChallenge dan lain sebagainya. Kadang kala juga berisi perbandingan 2 foto parodi foto diri dengan foto idolanya sehingga kerap disebut meme.

Dipercaya tantangan #HowHardDidAgingHitYou ini pertama kali dimulai di media sosial Facebook oleh seorang penggunanya yang bernama Damon Lane. Damon yang adalah seorang chief meterologist di KOCO News 5 Oklahoma mengunggah foto dirinya terbarunya pada hari Jumat, 11 Januari 2019. Sejatinya, ia hanya akan membandingkan foto profil pertamanya di Facebook dengan foto terbaru dirinya saat ini. Kemudian terjadi orang-orang mulai mengikuti menguggah foto drinya sekarang (tahun 2019) dengan foto dari 10 tahun lalu (dalam hal ini tahun 2009). Kemudian tantangan ini berkembang hingga memiliki beberapa julukan seperti 2009vs2019, How Did Age Hit You atau 10 year challenge.

Tak berapa lama, para pengguna media sosial mulai mengunggah postingan tantangan ini dan menjadi populer. Bertambahnya popularitas tantangan ini lalu memunculkan banyak meme, para pengguna menyelipkan tokoh idola sebagai pembanding fotonya yang bertujuan menghibur pengikutnya. Mereka menyematkan foto binatang kesayangan, bahkan karakter film dalam membuat konten tantangannya.

Setiap tahun selalu ada tantangan-tantangan model ini yang lebih kurang mirip seperti Puberty Challenge di tahun 2017 yang mana pengguna media sosial menunjukkan foto sebelum dan sesudah perubahan aneh menuju dewasa. Di tahun 2018 ada #GlowUpChallenge yang sempat populer kala di mulai oleh aktris AS Miley Cyrus pada ajang Oscar dan berkembang menjadi besar ketika dibandingkan dengan foto sebelumnya pada tahun 2012 dan 2018.

Di Indonesia sendiri, tantangan #10yearchallenge sedang berada di puncaknya, hal ini dapat diketahui pada berbagai lini masa media sosial banyak terdapat postingan yang membandingkan foto 10 tahun lalu dengan foto sekarang.

Untuk membuat konten tantangan semacam ini sebenarnya tidak sulit, hanya dengan mencari foto-foto lawas anda pada album media sosial anda, biasanya Facebook atau album yang tersimpan di ponsel pintar anda. Biasanya jika sudah terhubung dengan aplikasi Foto Google, Timehop ataupun dengan browsing foto lawas anda di laptop atau PC anda, maka akan makin mudah dilakukan.

Jika telah anda menentukan foto lawas yang akan anda gunakan, langkah selanjutnya adalah membuat kolase perbandingan yang akan berisi foto diri anda yang telah ditentukan sebelumnya (foto lawas 10 tahun lalu) dengan foto diri terbaru di tahun 2019 ini. Anda dapat menggunakan beragam aplikasi grid yang terdapat baik di Google Play Store ataupun Apple Store. Penulis menggunakan aplikasi Picarts yang dapat anda unduh baik di android maupun iOs, kemudian pilih grid 2 bidang, selanjutnya isi kanan kirinya dengan foto yang ingin ditampilkan dan jangan sampai lupa tulis tahunnya. Selain Picart, anda dapat juga menggunakan aplikasi Canva, Unfold, Instagrid, dan lain sebagainya. Setelah selesai, unggah hasilnya ke semua media sosial anda seperti Instagram baik strory maupun feed, Facebook, juga Twitter, dengan tagar #10yearchallenge dan #10yearschallenge.

Continue Reading

Citizen Journalism

Moderator Debat Capres 2019 Kok, Ira Koesno Lagi? Kenapa Enggak Dedy Corbuzier Saja?

Published

on

Sudah calonnya wajah lama, lah kok moderatornya ikut-ikutan wajah lama pula. Ini mau debat atau mau reunian? Kayak enggak ada orang lain aja. Oke-oke, Najwa Shihab jelas enggak mungkin, karena nanti orang bakal protes dan bilang, ini sebetulnya Debat Capres atau talkshow Mata Najwa? Tapi, apa enggak ada alternatif lain?

Menurut kamu, seberapa menariknya Debat Capres dan Cawapres antara pasangan Jokowi – Ma’ruf Amin dan Prabowo – Sandiaga Uno yang akan dilangsungkan beberapa hari lagi itu?

Kalau menurut saya, setidaknya ada tiga hal yang menyebabkan Debat Capres dan Cawapres Perdana kali ini menjadi tak terlalu menarik lagi.

Calonnya Dia Lagi-Dia Lagi

Nyaris tak ada wajah baru, apalagi (entah) ide baru yang bakal tampil dalam ajang Debat Capres yang seharusnya bisa menjadi tontonan yang sarat informasi akan siapa dan bagaimana cara ia kelak menahkodai negeri yang bak sepenggal surga di muka bumi ini.

Kita tahu, dari keempat orang Calon Presiden dan Wakil Presiden tersebut, hanya Kyai Ma’ruf yang belum pernah kita lihat performanya dalam sebuah ajang debat Pilpres atau Pilkada, Sandiaga Uno, tentu masih sangat lekat dalam ingatan bagaimana penampilannya pada Debat Pilkada 2017, tempo hari.

Sementara Pak Jokowi dan Pak Prabowo merupakan dua calon yang lima tahun lalu pernah berhadap-hadapan. Dua calon yang lima tahun lalu telah meninggalkan jejak berupa kata “bocor” dan “dananya ada”. Dan si empunya kata “dananya ada” lah yang akhirnya keluar sebagai pemenang. Ini jadi semacam indikasi, kalau masyarakat Indonesia memang lebih menyukai kabar gembira ketimbang sebuah pesan atau (bahkan) fakta yang kurang menggembirakan. Satu kenyataan yang seharusnya menjadi perhatian Pak Prabowo dan Tim Kampanyenya.

Sayangnya, baik Pak Prabowo, ataupun tim kampanyenya seperti melupakan poin itu. Lagi-lagi, dalam beberapa kesempatan Pak Prabowo menyampaikan hal-hal yang kurang menggembirakan, macam; ramalan tentang masa depan Indonesia yang ia baca dari sebuah novel bahwa Indonesia akan bubar pada tahun 2030.

~ Lho, emang kapan jadiannya? Kok tau-tau bubaran.

Au ah, Bong!

Atau yang terbaru, ia mengatakan bahwa masih banyak dokter di negeri ini yang penghasilannya lebih kecil dari penghasilan juru parkir. Sekalipun apa yang dikatakan Pak Prabowo itu benar adanya (tapi amit-amit kalo ramalan tentang bubarnya Indonesia, sih) tetap saja bagi lawan politiknya, ini adalah celah untuk mengatakan bahwa Prabowo hanya menebar ketakutan. Persis ketika ia mengatakan keuangan negara “bocor” yang dinyinyiri segenap cebong di Indonesia, meskipun, pada akhirnya Pak Jokowi pun mengakui hal itu.

Tapi para kampret enggak usah khawatir dengan pernyataan-pernyataan Pak Prabowo yang kerap blunder dan berpengaruh pada elektabilitasnya. Enggak usah khawatir. Sebab, seberapapun seramnya pernyataan Pak Prabowo, tetap saja itu baru sebuah pernyataan. Berdoa saja, semoga rakyat dapat menangkap pesan apa yang sebenarnya ingin disampaikan Pak Prabowo.

Sementara Pak Jokowi, akalan lumayan berat upayanya untuk meyakinkan lagi masyarakat yang lima tahun lalu sudah ia jejali janji-janji, entah berapa janji yang sudah terpenuhi. Saya enggak bisa menyebutkannya, tapi jika berbicara tentang Pak Jokowi, saya mendadak jadi ingat sebuah lirik lagunya ayahanda Rhoma Irama, “Kau yang berjanji kau yang mengingkari, kalau begini jadinya tak mau—kumemilih Anda.”

Belum lagi upayanya untuk meyakinkan para pendukungnya yang sempat kecewa karena Pak Jokowi akhirnya melabuhkan pilihannya untuk posisi wapres kepada ulama senior yang merupakan salah satu aktor penyebab terpenjaranya Ahok. Yups, tul banget, dialah Kyai Ma’ruf Amin. Andai kamu Ahoker, gimana coba perasaan kamu? Begitulah, hidup memang kadang terlihat seperti ngeledek kamu. Yang sabar, ya!

Adanya Kisi-Kisi Soal Debat

Buset, ini Debat Capres atau Ujian Nasional? Pakai ada kisi-kisinya. Rocky Gerung menyayangkan alasan sembrono KPU yang mengatakan bahwa alasan diadakannya kisi-kisi agar tak ada yang dipermalukan di antara keempat calon peserta Debat Capres tersebut.

“Coba saya tanya ke KPU, dari empat wajah itu, yang berpotensi memalukan publik, yang mana?” Demikian pertanyaan Rocky Gerung kepada KPU dalam sebuah acara talkshow di salah satu stasiun televisi.

“Sebab, kalau Anda nggak bisa jawab,” Kejar Rocky, karena merasa belum mendapat jawaban yang memuaskan, “Anda menduga keempat-empatnya punya potensi untuk dipermalukan itu, atau Anda memang tahu tapi Anda sembunyikan, kan itu semiotiknya kalau kita membongkar persembunyian dari kekacauan ini” Pungkas Rocky yang diikuti tepuk tangan penonton.

Moderatornya Kok Ira Koesno Lagi?

Sudah calonnya wajah lama, lah kok moderatornya ikut-ikutan wajah lama pula. Ini mau debat atau mau reunian? Kayak enggak ada orang lain aja. Oke-oke, Najwa Shihab jelas enggak mungkin, karena nanti orang bakal protes dan bertanya, ini sebetulnya Debat Capres atau talkshow Mata Najwa? Apalagi Dedy Corbuzier, lebih enggak mungkin lagi, khawatir sangking kesalnya sama penonton yang berisik, dihipnotis itu penonton agar mematung sepanjang debat.

Tapi kan masih ada Via Vallen. Lho ini beneran, apa salahnya kita kemas debat dengan suasana rileks supaya kedua pendukung calon enggak ribut dan tetap saling menebarkan rasa sayang. Ya, enggak?

Atau kalau Via Vallen dirasa kurang tepat, saya masih ada alternatif lain. Gimana kalau Nissa Sabyan? Nah, ini kayaknya sudah paling pas. Bisa jadi penengah kalau debat mulai panas. Cukup dengan melantunkan liriknya yang sangat fenomenal itu, “Hmmm.. Hmmm.” Dijamin, yang lagi ngotot-ngototan langsung terdiam, tenang, karena berasa diguyur air zam-zam.

Tapi kalau bisa, sebelumnya, Nissa Sabyan mengingatkan kepada peserta debat agar enggak usah ikut-ikutan nyanyi. Enggak usah nanya kenapa. Sudah jelas jawabannya, agar enggak ada yang dipermalukan. Ituh!

Continue Reading

Citizen Journalism

Media yang Dulu Bukanlah yang Sekarang (Pilpres 2019)

Published

on

Media yang Dulu Bukanlah yang Sekarang (Pilpres 2019)

Bicara soal perkembangan media massa di Indonesia, seperti televisi, surat kabar hingga munculnya media baru seperti online saat ini, tentu sudah mengalami berbagai dinamika. Jika dulu media sangat menjunjung tinggi nilai dan kaidah jurnalisme, tetapi makin kesini hal itu sudah bergeser.

Tentu kita semua mengetahui, dalam kontestasi Pilpres 2019 ini saja sudah banyak sekali peristiwa-peristiwa politik, yang menjadi “makanan” utama dari media. Dari mulai deklarasi pasangan calon, strategi kampanye, hingga hal “printilan” lain yang seakan terlalu berlebihan untuk disorot.

Kita tentu jengah dengan berbagai headline dari suatu media yang seperti berat sebelah. Hal ini cukup simpel, sebab media saat ini lebih umum “di bekingi” oleh orang yang berkedudukan tinggi di suatu partai politik.

Media seakan lupa akan kaidahnya sebagai kontrol sosial, independen, dan menjunjung tinggi etika jurnalisme. Saat ini, media justru makin menampakan wajah aslinya dalam bersikap. Masyarakat pun pasti sudah merasakan hal ini sejak lama.

Fenomena ini mengisyaratkan media, jika mereka sudah tidak sehat lagi. Sehingga ungkapan “media yang dulu bukanlah yang sekarang” pun cocok. Masyarakat haus akan berita yang berimbang, tidak menyudutkan, dan memiliki isi berita yang bergizi. Tidak cuma asal heboh saja.

Pengambilan angle berita oleh media seharusnya jadi prioritas perbaikan. Masyarakat ingin sekali hidup damai, tidak terkotak-kotakan karena amarah yang makin “digoreng” oleh media dalam pemberitaannya. Cukup sudah.

Media seharusnya menjadi garda terdepan bagi masyarakat untuk mencerdaskan, mencerahkan dan menjadi pengontrol sosial. Dalam kaitan dengan Pilpres, harusnya media lah yang getol memberitakan visi misi dua pasangan calon, bukan malah sebaliknya. Menimbulkan perpecahan di masyarakat akibat ucapan yang berujung pada kontroversi dan permusuhan sesama masyarakat. Sehingga tercipta dua kubu politik yang makin hari makin panas.

Fatalnya, rusaknya media yang berpihak ini lambat tapi pasti secara menyeluruh akan menggerogoti idealisme para jurnalis-jurnalisnya. Bukan jadi mustahil juga, jika media saat ini bergeser ke media liberal. Siapa yang punya uang, dan memiliki media itu, menjadi penguasa yang bisa membelokan pandangan media untuk berpihak pada yang punya uang dan kuasa. Who knows?

Continue Reading
Advertisement

Trending