Connect with us

Sepakbola

Dapat Jatah Enam Ribu Tiket Untuk Laga Final Europa, Arsenal Protes ke UEFA

Published

on


Arsenal Protes ke UEFA

Finroll.com – Dari kapasitas 60 ribu stadion Olimpiade di Baku, baik Arsenal dan Chelsea masing-masing mendapatkan alokasi enam ribu saja.

Finalis Liga Europa musim ini Arsenal mengaku berang dengan keputusan UEFA yang hanya memberi alokasi sebanyak enam ribu tiket kepada suporter dari masing-masing kubu.

Seperti diketahui, The Gunners akan saling jegal dengan rival sekotanya Chelsea di partai puncak, yang menurut rencana digelar di Stadion Olimpiade Baku, Azerbaijan pada akhir bulan ini.

Dari kapasitas stadion yang bisa menampung hingga 69.870 penonton, baik Arsenal dan Chelsea hanya diberi sedikit bagian dan keputusan itu lantas menuai kritik.

Arsenal lewat keterangan resminya menyatakan: “Kami sangat kecewa dengan fakta bahwa atas dasar terbatasnya transportasi, pihak UEFA lantas memberi jatah maksimal 6.000 tiket kepada Arsenal untuk stadion dengan kapasitas lebih dari 60.000. Waktu lah yang akan berbicara apakah itu memungkinkan bagi 6.000 fans Arsenal untuk menyaksikan laga tersebut, mengingat betapa ekstremnya tantangan untuk perjalanan itu.

“Kami punya 45.000 pemegang tiket musiman dan untuk sejumlah fans yang absen karena UEFA memilih tempat final dengan transportasi terbatas jelas tidak bisa dibenarkan. Faktanya adalah, siapa pun yang mencapai final takkan bisa memenuhi tuntutan dari para suporternya.

“Kami ingin memahami kriteria stadion terpilih untuk final ini, dan juga soal bagaimana pertimbangan jumlah suporter. Ke depannya kami menuntut UEFA untuk memastikan bahwa logistik dan keperluan suporter adalah bagian penting dari keputusan masa depan untuk tempat final, lantaran apa yang terjadi musim ini tidak bisa diterima dan tidak boleh diulangi”.

Sepakbola

4 Pilihan Formasi Barcelona Setelah Griezmann Datang

Published

on

By

Finroll.com – Antoine Griezmann akan memberi dimensi baru di lini depan Barcelona musim depan. Semua tergatung Ernesto Valverde bagaimana memaksimalkan potensi lini serangnya.

Setelah ditinggal Neymar dua tahun lalu, Barcelona gagal menemukan pengganti sepadan. Daya gedor Blaugrana mengendur, produktivitas pun menurun, hal mana sangat dirasakan di Liga Champions.

Lionel Messi memang masih sangat bisa diandalkan. Namun dia seperti bekerja sendirian lantaran Luis Suarez terlihat mulai termakan usia dan makin sering menyelesaikan pertandingan tanpa mencetak gol.

Kedatangan Griezmann adalah sebuah kabar baik yang sudah lama ditunggu suporter Barcelona. Griezmann bukan pemain nomor 9, karenanya dia datang bukan dengan misi utama menjadi pengganti Suarez.

Dikutip dari beberapa sumber, berikut formasi yang bisa dipakai Barca setelah Griezmann datang.

1. Dua Penyerang Sayap
Dengan asumsi Ousmane Dembele tidak akan dijual, Barcelona akan memiliki dua penyerang sayap di lini depan. Dembele di sisi kanan dan Griezmann di kiri. Messi bisa diperankan sebagai false 9.

Ini bukan peran baru buat Griezmann. Saat pertama meroket di Real Sociedad, dia diberikan posisi yang sama.

Lapangan tengah Barcelona akan mendominasi penguasaan bola dan permainan dengan trio Arthur, Sergio Busquets, dan Frenkie De Jong.

2. 4-4-1-1
Suarez mungkin akan lebih banyak dicadangkan, atau paling tidak kena rotasi, di musim yang akan datang. Itu membuat Valverde bisa memainkan Griezmann bersama Messi di depan dalam posisi tidak sejajar.

Saat di Atletico Madrid, Griezmann berulang kali memainkan peran sebagai playmaker dan pencetak gol. Griezmann lebih fluid dan lebih mudah terlibat dalam permainan dibanding Suarez, karenanya formasi ini bisa berjalan untuknya.

Ivan Rakitic akan didorong jauh lebih ke depan untuk dimainkan sebagai gelandang serang. Pemain asal Kroasia ini sudah fasih melakukannya saat masih memperkuat Sevilla. Messi? Dia hanya harus menjadi dirinya sendiri.

3. Ekstra Offensif
Ini merupakan formasi paling offensif yang akan bisa diperagakan Barcelona. Menurunkan semua pemain berkarekter menyerang yang ada menjadikan Barca akan sangat mengerikan.

Suarez dijadikan penyerang tunggal, yang didukung trio Messi (tengah), Dembele (kiri), dan Griezmann (kanan). Dengan komposisi seperti ini Suarez akan lebih mudah menemukan ruang di pertahanan lawan. Kalaupun itu sulit dilakukan, Barca masih bisa mencari celah melalui akselerasi Messi atau kecepatan Dembele.

Untuk mendukung skema ekstra offensif ini, Sergi Roberto dan Jordi Alba akan dimainkan di sisi pertahanan.

Dobel pivot yang diisi Busquets dan De Jong menjanjikan keseimbangan di lapangan tengah saat Barca harus menyerang habis-habisan.

4. 4-4-2 Diamond
Musim lalu Valverde beberapa kali tampil dengan 4-4-2, meski 4-3-3 masih jadi favoritnya. Menduetkan Griezmann dengan Suarez di lini depan akan jadi variasi yang layak dicoba olehnya.

Griezmann akan punya ruang gerak lebih bebas di sisi kanan, sementara Suarez bertugas merusak konsentrasi pertahanan dengan terus berada di dekat kotak penalti. Di belakang mereka akan ada Messi yang punya keleluasaan untuk masuk ke kotak penalti, turun menjemput bola, atau melebar di kedua sisi lapangan.

De Jong dan Busquets kembali jadi andalan menggalang lini tengah. Menemani mereka berdua adalah Arthur atau Rakitic.

4. Formasi Tanpa Messi
Messi bukan robot, karena itu dia tak akan bisa berada di atas lapangan pada setiap pertandingan Barcelona. Meski rotasi kerap jadi masalah buat Barca, kedatangan Griezmann mungkin bisa membantu situasi di mana Messi harus absen.

Griezmann punya tugas seperti Messi saat masih di Atletico, di mana dia bisa diberikan banyak peran sekaligus. Ini bisa dia peragakan ulang di Barca saat Messi harus diistirahatkan.

Suarez akan jadi penyerang tunggal dalam skema ini. Griezmann akan bergerak bebas meski ditempatkan di sisi kanan. Sedangkan dari sisi kiri Dembele akan secara konstan menusuk masuk ke kotak penalti.

Continue Reading

Sepakbola

3 Alasan MU Masih Klub Terbaik untuk Paul Pogba

Published

on

By

Finroll.com – Manchester United hanya mampu finis di peringkat keenam pada ajang Premier League musim kemarin. Akibatnya, mereka tidak bisa tampil di Liga Champions.

Situasi itu ternyata membuat Setan Merah sedikit kesulitan untuk menarik pemain baru ke klub di bursa transfer musim panas ini. Setan Merah juga kesulitan mempertahankan beberapa pemain berbakat mereka karena kekhawatiran tentang masa depan klub.

Paul Pogba adalah salah satu pemain yang berniat meninggalkan Manchester United pada musim panas ini. Sang pemain sudah mengatakan ingin mencari tantangan baru dalam kariernya.

Setelah kembali ke klub tiga tahun yang lalu dari Juventus, Pogba belum menunjukkan performa terbaiknya di klub. Pemain Prancis tidak bisa konsisten saat bermain untuk raksasa Premier League.

Namun, untuk negaranya, Pogba sangat konsisten dan berhasil mengantarkan Prancis meraih gelar Piala Dunia. Hal itu tentu saja membuat heran banyak pihak.

Pogba ingin mencari klub baru dalam waktu dekat ini. Namun, alangkah lebih baik jika sang pemain tetap bertahan di Old Trafford.

Berikut ini tiga alasan mengapa Manchester United masih menjadi klub terbaik untuk Paul Pogba saat ini seperti dilansir Sportskeeda.

Tokoh Sentral
Sejak kedatangannya di Manchester United, Pogba telah menjadi tokoh utama di klub. Baik itu untuk sisi komersil atau gaya taktik yang digunakan oleh manajer. Setiap keputusan yang diambil oleh klub sepertinya akan melibatkan Paul Pogba.

Itu dikarenakan potensi luar biasa yang dimiliki oleh pemain berusia 26 tahun dan performa menarik yang mampu ia tunjukkan. Yang paling penting, Pogba mungkin adalah pemain paling berbakat yang pernah muncul dari akademi Manchester United belakangan ini.

Paul Pogba juga bisa menjadi kapten klub berikutnya jika ia memutuskan untuk tetap bertahan.

Jika Pogba bergabung dengan Juventus atau Real Madrid, pemain-pemain seperti Cristiano Ronaldo dan Eden Hazard akan mengganggu statusnya di klub. Jika dia tampil buruk dalam beberapa pertandingan, Pogba akan mendapatkan lebih sedikit kesempatan di klub-klub itu daripada di Manchester United.

Ole Gunnar Solskjaer
Statistik menunjukkan bahwa fase terbaik dari karier Paul Pogba selama tiga tahun di Manchester United terjadi di bawah Ole Gunnar Solskjaer.

Selama beberapa bulan pertama masa jabatan Solskjaer di Manchester United, Pogba dimainkan dalam posisi menyerang. Pemain Prancis itu berkembang dan memungkinkannya untuk sering mencetak gol. Pogba adalah eksekutor penalti yang disukai Solskjaer dan sang pemain melakukannya dengan sangat baik.

Solskjaer juga menunjukkan bagaimana Manchester United bisa dengan pemain Prancis sebagai pusat permainan. Solskjaer hampir tidak pernah mencoret Pogba sehingga hal itu menunjukkan kepercayaan pelatih Norwegia itu kepada gelandang berusia 26 tahun itu. Ini pasti akan membantu Pogba tampil lebih baik dan menyadari potensi sejatinya di Manchester United.

Semangat Manchester United terletak di Solskjaer dan Pogba dan agar klub bisa tampil baik pada musim depan, keduanya harus dibiarkan untuk melanjutkan kerja sama mereka.

Tantangan yang Sulit
Dalam situasi sulit, potensi sejati dan karakter seorang atlet biasanya bisa muncul ke permukaan. Dengan situasi yang terjadi di Manchester United, Pogba punya peluang untuk bermain bagus dan membantu mengembalikan klubnya ke masa kejayaannya di masa lalu. Dalam prosesnya, ia juga bisa membuktikan bahwa orang yang meragukannya salah.

Beberapa hari yang lalu, Pogba mengatakan bahwa ia sedang menunggu tantangan baru dalam karirnya. Bermain di Real Madrid atau Juventus mungkin tidak akan memberikan itu kepada pemain Prancis tersebut. Dia bisa bermain di liga yang berbeda tetapi tantangan yang lebih berat adalah melanjutkan karirnya di Manchester United.

Manchester United pasti membutuhkan pemain yang berbakat seperti Pogba untuk menemukan sentuhannya kembali di Premier League. Klub sudah berinvestasi pada Pogba dan tidak bijaksana melepas sang pemain sekarang dan berharap bahwa mereka menuai hasilnya.

Continue Reading

Sepakbola

Kilas Balik Satu Tahun CR7 di Juventus

Published

on

By

Finroll.com – Genap satu tahun sudah Cristiano Ronaldo berseragam Juventus. Seperti yang diketahui, peraih lima trofi Ballon d’Or tersebut direkrut dari Real Madrid dengan mahar sebesar 100 juta euro pada musim panas 2018 lalu.

Kepindahan Ronaldo ini sempat membuat publik gempar. Pasalnya, tidak banyak yang menduga bahwa pemain asal Portugal tersebut hengkang dari Santiago Bernabeu. Kalaupun pergi, beberapa rumor saat itu meyakini bahwa ia akan kembali ke Manchester United.

Meskipun sering disebut sebagai salah satu pemain terbaik di dunia, tetap saja banyak yang meragukan Ronaldo bisa bersinar bersama Juventus. Sehingga beberapa jurnalis dan sosok penting sempat meragukan keputusan Bianconeri membelinya dengan harga mahal.

Keraguan itu nyaris terbukti. Laga debutnya melawan Chievo berakhir dengan kemenangan 3-2, namun nama Ronaldo tak terlihat di papan skor. Penyerang berusia 33 tahun itu kembali gagal membobol gawang lawan di dua laga berikutnya.

Barulah semua keraguan itu hilang begitu Ronaldo membuat penonton setia Juventus bersorak dengan golnya ke gawang Sassuolo. Bahkan itu tidak terjadi sekali, namun dua kali. Semenjak itu, Ronaldo mulai menimbun pundi-pundi golnya.

Secara keseluruhan di Serie A, Ronaldo berhasil mencetak 19 gol dan delapan assist. Tapi koleksi itu masih belum cukup untuk menasbihkan dirinya sebagai Capocanonnoniere lantaran kalah dari Krzysztof Piatek, Duvan Zapata, dan juga Fabio Quagliarella.

Tapi paling tidak, Ronaldo memulai kiprahnya dengan sangat baik di Serie A, kompetisi yang dikenal sangat ketat dalam urusan pertahanan dari negara yang kerap menghasilkan bek-bek bertalenta.

Ronaldo di Liga Champions

Seperti halnya di Serie A, Ronaldo juga sempat mengalami kesulitan di fase grup Liga Champions. Penampilannya di laga perdana melawan Valencia harus berakhir lebih cepat setelah dirinya diusir dari lapangan karena mendapatkan kartu merah.

Pada fase grup, ia hanya mampu membukukan satu gol tepatnya saat Bianconeri berhadapan dengan klub yang membesarkan namanya, Manchester United. Tapi begitu Bianconeri berkiprah di fase gugur, Ronaldo mulai menunjukkan tajinya.

Tiga golnya yang bersarang ke gawang Jan Oblak di leg kedua babak 16 besar berhasil membuat Juventus melalukan comeback atas Atletico Madrid. Ronaldo juga mencetak gol di dua laga perempat final dengan Ajax sebagai lawannya. Sayangnya, itu tak cukup untuk membawa Juventus melaju lebih jauh di Liga Champions.

Selain itu, Ronaldo juga bermain apik dan berhasil mempersembahkan gelar Supercoppa Italia. Ia mencetak gol semata wayang Juventus ke gawang AC Milan pada saat itu. Ditambah gelar Scudetto, Ronaldo pun berhasil mempersembahkan dua gelar pada musim perdananya.

Continue Reading
Advertisement

Trending