Connect with us

Citizen Journalism

Cuci Tangan Parpol Terhadap Korupsi Politikus

Published

on


Pemberantasan korupsi di Indonesia sepertinya mengalami jalan panjang yang tak berkesudahan. Berita yang membosankan dengan konten yang menjenuhkan. Selalu berulang, Operasi Tangkap Tangan (OTT) selalu menimpak kepala pemerintah atau politikus yang seharusnya mengawasi.

Lobi-lobi dan kong kalikong sepertinya kegiatan lumrah yang banyak dilakukan kepala pemerintah daerah, DPRD, maupun pengusaha untuk menguras uang negara. Bahkan angkanya sudah mencapai taraf yang memprihatinkan.

Coba tengok fenomena korupsi yang terjadi di Kota Malang. Gemas bukan, Bupatinya ternyata tikus negara. Di perparah dengan lembaga yang seharusnya mengawasi kinerja pemerintah daerah, malah berkolaborasi untuk mendapatkan cipratan proyek. Hasilnya sungguh wow, dari seluruh anggota DPRD Malang, hanya tiga orang yang lolos dari gratifikasi, itu pun dikarena ada anggota yang mengisi paruh waktu.

Cape deh kalo kita membahas korupsi politikus di Indonesia, lantas bagaimana caranya agar korupsi para politikus ini dapat dicegah atau diberantas? Jika kita beranggapan KPK memiliki kewenangan yang super power untuk mengatasi korupsi sepertinya laksana menguras air laut.

Yup, kegiatan yang dilakukan KPK dalam menangani pemberantasan korupsi sepertinya tidak memiliki tepian. Bayangkan saja sejak tahun 2004, hingga Bupati Cirebon telah menjadi politikus ke-100 yang ditangkap lembaga anti rasuah tersebut.

Mirisnya lagi tiap tahun bukannya berkurang malah terus bertambah. Bahkan KPK telah menorehkan OTT terbanyak sepanjang tahun 2018. Dari 2016 hingga 2018 saja KPK berhasil melakukan OTT 43 orang. 9 Orang ditahun 2016, 8 orang tahun 2017, dn 26 orang pada tahun 2018.

Membaca indikasi peningkatan kasus korupsi setiap tahunnya, maka tidak salah kalau kita mengambil kesimpulan, KPK tidak mampu memberantas korupsi. Bukan Karena kinerja lembaga tersebut yang bernilai merah, tapi para pelakunya yang memang tidak memiliki rasa takut dan budaya malu.

So, solusinya apa dong?

Menganalisis para pelaku korupsi adalah para politikus tentunya yang bisa mengatasi gurita korupsi ini para politikus yang memiliki kenegarawanan. Dimanakah orang-orang tersebut? Mereka yang memiliki integritas dan idealisme terhadap bangsa ini juga berkumpul di satu wadah kok, iya namanya partai politik.

Membasmi tikus-tikus negera ini memang harus dimulai sejak dalam kandungan. Partai politik merupakan ibu dari para politikus yang lahir pada saat ini. Sudah saatnya kita mengarahkan telunjuk kita kepada partai politik yang melahirkan dan membesarkan tikus-tikus.

Jika mengamati apa yang terjadi dengan politikus yang tersangkut korupsi, Parpol sebagai induk semang kelahiran para kepala daerah sudah waktunya mengambil tanggung jawab moral, bukan hanya sekedar memecat dan tidak memberikan bantuan hukum belaka.

Sudah waktunya bumi pertiwi ini melahirkan manusia-manusia paripurna, manusia yang telah selesai dengan kehidupannya, dan membaktikan kehidupannya untuk bangsa Indonesia, untuk mensejahterakan masyarakat Indonesia.

Dimana Chandra Dimuka manusia-manusia paripurna berada di partai politik. Negarawan yang kini menjabat sebagai ketua partai sudah seharusnya memikul tanggung jawab jikalau ada kadernya yang terjerat korupsi.

Para pendiri dan ketua partai politik sudah saatnya berkumpul menjalin sumpah bersama untuk mencegah korupsi. Bukan cuci tangan seperti sekarang ini, parpol sudah harus melakukan seleksi yang ketat, menelurkan bibit-bibit yang tangguh terhadap rayuan memperkaya diri sendiri, doktrinasi kader-kadernya terkait budaya malu.

Bukan hanya sebuah slogan-slogan anti korupsi yang disebarkan di televisi, parpol sudah dituntut untuk menelurkan langkah nyata berupa kebijakan-kebijakan yang diarahkan kepada diri sendiri – parpol terhadap sanksi yang dapat diperoleh jika kadernya tersangkut masalah korupsi.

Selama ini tidak ada aturan-aturan yang dibuat parlemen untuk mengawasi partai politik. Beranikah para politikus membuat UU yang mampu menghukum partai politik. Sanksi apa yang dapat diterima partai politik yang kadernya tersangkut korupsi, sehingga parpol lebih bertanggung jawab terhadap kader-kader yang dicalonkan, bukan karena kegiatan transaksional seperti yang selama ini menjadi rahasia umum.

Hukuman tidak mendapatkan slot untuk berlaga dalam suatu pemilu merupakan hukuman yang sangat berat bagi partai politik. Sanksi eleminasi pada pemilihan kedepannya tentu memaksa partai politik untuk mengajukan putra putri terbaiknya.

Bagaimana jika hal tersebut tidak dilakukan? Meski berjalan lambat namun seleksi alam akan terjadi, melalui penghukuman rakyat. Meskipun saat ini ada secercah cahaya dengan munculnya parlemen threshold atau ambang batas parlemen. Bahkan prediksi tahun 2019 hanya terdapat 5 partai politik yang mampu menduduki kursi DPR RI.

Walau tak langsung memberantas korupsi, namun rakyat mampu menumpahkan kegeramannya terhadap parpol yang tidak konsisten memberantas korupsi, sehingga akhirnya menjadi partai politik yang punah melawan kehendak rakyat.

Citizen Journalism

Kesuksesan Siang Berawal dari Kesuksesan Malam

Published

on

Pergantian siang dan malam adalah tanda-tanda kekuasaan Allah Swt bagi orang-orang yang mau berpikir. Bagi mereka, siang dan malam bukan hanya siklus harian yang mengubah planet bumi dari terang menjadi gelap, tapi juga anugerah terindah dari Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang yang dengan kasih sayang-Nya itu siang berubah jadi malam dan malam berubah jadi siang. Tak perlu IQ tinggi-tinggi untuk sekadar menerka petaka dahsyat seperti apa yang akan terjadi apabila siang tak pernah berganti malam, atau malam tak mau digantikan siang.

Fenomena pergantian siang dan malam ini telah lama dikenal dalam sejarah peradaban umat manusia. Sejak zaman dahulu, orang-orang tua kita telah cerdas memanfaatkan waktu siang dan malam: Siang mereka pakai untuk bekerja, bertani, berburu, dan lain-lain; malam mereka isi dengan tidur dan istirahat.

Dalam Alquran, swakontradiksi itu disebut berulang kali dengan urutan yang hampir sama: malam dulu baru siang (lihat, QS. Al-Hadid: 6, QS. Saba: 18, QS. Ali Imran: 27, QS. Ar-Ra’du: 3, QS. Al-Isra: 12, QS. Al-Qashas: 73, dan lain-lain). Ini agak berbeda dengan cara kita mengungkapkan dua kata itu. Biasanya kita menyebut “siang dan malam”, seolah-olah semua aktifitas harian kita itu bermula di siang hari dan berakhir pada waktu malam. Tapi Alquran mengungkapkannya dengan “malam dan siang”. Bagi saya, hal ini menyiratkan pelajaran penting bahwa kesuksesan seseorang di waktu siang sangat tergantung bagaimana ia mengisi malam.

Pada fase awal kenabian, setelah menerima wahyu pertama di Gua Hira, Nabi Muhammad Saw mendapat perintah untuk melaksanakan salat malam sebelum mendapat perintah untuk berdakwah (lihat, QS. Al Muzammil: 1-6). Bahkan menurut sebagian ulama, salat malam bagi Nabi Saw pada masa itu, wajib hukumnya. Menurut mereka, kewajiban salat malam itu adalah persiapan bagi diri Nabi Saw, secara fisik dan psikis, untuk dapat menghadapi berbagai tantangan dan rintangan yang akan ia lalui saat mulai berdakwah nanti. Artinya, kesuksesan Nabi Saw dalam berdakwah berawal dari kesuksesan beliau mengisi malam dengan salat dan munajat.

Poin terakhir ini adalah pelajaran berharga bagi kita semua, bahwa jika kita ingin sukses dalam bekerja, baik sebagai atasan atau bawahan, baik sebagai dosen atau mahasiswa, baik sebagai ASN atau swasta; mulailah dengan menyukseskan diri dalam mengelola waktu malam. Kita tidak mungkin meraih kesuksesan yang gilang gemilang di waktu siang, jika setiap malam kita selalu tersungkur, babak belur dihajar rasa kantuk dan malas.

Selain itu, bagi orang yang memiliki sensitivitas tinggi dalam menyikapi akibat dari setiap perbuatan dosa dan maksiat, ketidakmampuan bangun untuk melaksanakan salat malam adalah bencana tersendiri. Sebab mereka berkeyakinan hanya orang-orang tertentu yang diizinkan Allah untuk menghabiskan momen yang berharga bersama-Nya dalam gelapnya malam. Tidak semua orang bisa. Artinya, ketika mereka tidak mampu melakukan itu, mereka menyesali diri sendiri karena tidak termasuk orang yang dipilih Allah Swt.

Seorang pria berkata kepada Ibrahim bin Adham: “Aku tidak bisa bangun untuk salat malam, padahal aku sangat ingin melaksanakannya”. Ibrahim bin Adham menjawab: “Engkau melakukan dosa pada siang hari, karenanya kau tidak bisa bangun di malam hari”.

Berdiri di hadapan Allah pada saat malam adalah kehormatan di mana para pendosa tidak menerimanya. Imam Sufyan At-Tsauri berkata: “Selama lima bulan aku tidak bisa bangun untuk salat malam karena dosa yang kulakukan”. Subahnallah… 

Pada suatu hari, seorang laki-laki berkata kepada Imam Hasan Al-Bashri: “Aku tidur nyenyak, aku beristirahat dengan baik, tidak punya penyakit, dan aku sudah menyiapkan air di samping kasur tidurku supaya bisa bangun untuk salat malam, tapi tetap saja aku tidak pernah bisa melakukannya”.

Hasan al Bashri berkata kepada laki-laki itu: “Dosa-dosamu telah membelenggumu. Dosamu saat siang, menahanmu saat malam”.

Maka berbahagialah Anda yang telah terbiasa melaksanakan salat malam dan tidak pernah meninggalkannya. Di satu sisi, itu adalah anugerah Allah Swt yang tidak semua orang menerimanya, di sisi lain, saya harus mengucapkan tahniah, selamat Anda tidak termasuk orang yang dibelenggu dengan dosa dan maksiat!

Sementara bagi kita yang belum mampu untuk bangun salat malam, sebaiknya kita mulai berbenah dan memperbaiki diri. Tak mungkin malam demi malam kita biarkan saja terus begitu sepanjang hidup.  Tentu ini akan menjadi penyesalan yang amat berat pada hari kiamat nanti. Di samping itu, sebaiknya kita juga mulai memeriksa diri, jika selama ini kita tidak pernah merasakan berkahnya siang, mungkin itu disebabkan karena kegagalan kita mengelola waktu malam. []

Continue Reading

Citizen Journalism

Omar Bakri, Nasib Mu Kini Lebih Tragis

Published

on

Masih ingat dong dengan lagu Iwan Fals yang bercerita tentang kehidupan guru. Omar Bakri tentu sudah makan asam garam menghadapi kenakalan murid, namun ditengah jaman milenial ini nasib Omar Bakri semakin tragis.

“Berkelahi pak jawab murid seperti Jagoan” mungkin potongan syair tersebut menggambarkan bagaimana perilaku murid nakal yang berlagak jagoan. Mirisnya perilaku tersebut kini semakin parah, mereka bukan lagi merasa jagoan kepada sesama murid bahkan kepada guru pendidiknya.

Faktanya, beberapa hari ini dan waktu sebelumnya kasus tidak beradab-nya murid kepada guru semakin sering terlihat. Jika sebelumnya ada guru yang tidak dihargai hingga dipaksa berlagak berkelahi guna melampiaskan emosinya tetapi tertahan karena status gurunya.

Kini kasus seperti tersebut muncul kembali, kali ini seorang guru mendapatkan perlakuan menggeramkan ketika seorang murid berlagak jagoan mengancam guru dengan memegang leher dan kepalanya, dan dilanjutkan merokok di kelas.

Peristiwa mengurut dada kembali terjadi di Sulawesi dimana murid-murid mengeroyok seorang petugas cleaning service bersama orang tua salah satu murid. Perkataan kasar ‘Anjing’ kepada korban dan guru menjadi perilaku murid SMP kelas 1 tersebut.

Lantas salah siapakah sehingga perilaku anak-anak yang baru menginjak remaja ini mampu kehilangan adab dan akhlaknya terhadap guru atau yang lebih tua? Perlukah seorang guru menerapkan kembali pendidikan yang keras seperti dekade 70-80 dimana sabetan penggaris, lemparan kapur bahkan penghapus menjadi hal yang wajar.

Mencermati kenakalan murid yang sudah diluar toleransi masyarakat yang menjujung tinggi budi pekerti dan keluhuran nilai sopan santun, menjadikan fenomena Omar Bakri mengalami nasib yang tragis – Tegas di pidanakan, lembut dilecehkan.

Pelecehan murid pada seorang guru tentunya menjadi pekerjaan rumah bagi para orangtua, guru, dan murid itu sendiri, sebagai unsur yang berinteraksi dalam suatu sistem pendidikan. Tiga elemen inilah yang seharusnya saling berintegrasi guna mencetak anak-anak yang berkualitas.

Kekerasan pada guru | Wartakota

Ketika banyak psikologi yang menyatakan bahwa pelecehan murid terhadap guru dapat disebabkan karena faktor keluarga bagaimana orangtua mendidik seorang anak – biasa dengan kekerasan atau tidak, hingga opini hubungan orangtua yang juga mengalami masalah hubungan.

Artinya perilaku anak yang suka menggunakan kekerasan disekolah berawal dari rumah. Hal ini tentunya ada tanggung jawab dari orangtua. Yatim piatu semu antar orang tua juga menjadi salah satu faktor, dimana orangtua Bapak dan Ibu tetap ada tetapi kehadirannya hamper tidak dirasakan sang anak.

Bisa karena kedua orangtua terlalu sibuk bekerja, orangtua bekerja diluar negeri, atau salah satu bekerja tetapi satunya sibuk dengan kehidupannya. Hal inilah yang menyebabkan anak mencoba mencari perhatian dengan melakukan perilaku yang mengundang ke dua orangtuanya.

Tak hanya itu, kecenderungan orang tua jaman sekarang lebih memanjakan anaknya, menjadi penyebab banyak orangtua yang melayangkan tuntutan hukum Karena guru menjewernya atau terjadi pemukulan, tanpa bijaksana mencari tahu penyebab perlakuan itu terjadi.

Lantas bagaimana dengan peran murid menyumbang perilaku kenakalan dan kekerasan. Hal ini tentu tak lepas dari perkembangan teknologi yang membuat arus informasi deras mengalir. Mengakses game atau permainan yang mengandung unsur kekerasan juga pemicu anak untuk meniru.

Tak hanya itu, media sosial sebagai ajang eksistensi manusia modern sekarang ini juga berperan menciptakan perilaku kekerasan tersebut. Ketika melihat aksi murid berani melawan guru dan tersebar di medsos menjadikan dirinya terkenal dan diakui eksistensinya keberaniannya oleh murid yang lain. Tentunya menjadi kebanggan tersendiri bagi si murid, karena ditakuti satu sekolahan.

Lantas bagaimana dengan pihak sekolah atau guru yang berhadapan langsung dengan murid? Ketika kita hendak menerapkan kembali sistem pendidikan yang keras seperti jaman dahulu tentu akan berdampak lebih hebat ditengah smartphone mampu merekam dan menyebarkan peristiwa secara cepat.

Alih-alih ingin mendisiplinkan murid malah bisa terjadi sebaliknya. Guru kini pun bisa dituntut orangtua ketika anaknya menerima perlakuan kekerasan padahal banyak kasus murid sulit diatur. Bahkan banyak orangtua yang juga tidak tahu perilaku anak ketika berada disekolah.

pelecehan terhadap guru |tribunews

Sebagai intropeksi pihak sekolah tentu harus mempertimbangkan ketegasan dalam menerapkan peraturan sekolah. Ketika banyak murid melakukan pelanggaran keras, maka sanksi seharusnya diterapkan dengan mengeluarkannya. Sehingga tidak ada peristiwa guru dilecehkan oleh muridnya.

Guru juga tidak bisa lepas dari tanggung jawab. Hal itu disebabkan ada juga guru yang kehilangan idealismenya. Mereka hanya disibukan mengajar sesuai dengan gaji yang didapatkan. Mereka seakan tutup mata untuk mendidik murid yang juga menjadi tanggung jawabnya.

Guru tidak lagi menjadi sosok yang dapat di gugu dan ditiru. Sentuhan seorang guru yang dapat memotivasi, mengarahkan, dan bagaimana memahami ekspresi gejolak seorang murid menjadi guru sosok yang membosankan.

Ketika kita melihat metode yang diajarkan para guru di sekolah alam, maka seorang anak menjadi tanggung jawab guru untuk membentuknya menjadi apa. Guru mengamati, mengarahkan, dan menyediakan wadah bagi seorang murid untuk mengekspresikan.

Mereka mengakomodasi apa yang diinginkan seorang murid, memberikan petunjuk, dan mampu memotivasi murid untuk mencapai tujuan hidupnya. Disana mereka belajar bukanlah demi ijasah kelulusan, tetapi lebih pada membentuk karakter diri, sehingga potensi seorang murid dapat dikembangkan secara maksimal.

Ketika murid merasa nyaman dengan kegiatan yang dilakukan, ketika murid merasa senang dengan aktivitasnya, maka secara perlahan murid akan mencintai proses belajar dan mengajar antara guru dengan dirinya.

Kurikulim sekolah yang padat dengan teori dan momok nilai ujian nasional, hal itu hanya menciptakan generasi penerus yang mengandalkan ijasah tanpa memiliki karakter dan keterampilan.

Continue Reading

Citizen Journalism

Seperti Perahu, Paslon pun Tak Ada yang Sempurna

Published

on

“Sebuah kapal memang tak boleh sempurna. Karena sesuatu yang sempurna tak punya hasrat lagi mencari. Sebuah kapal yang sempurna tak akan butuh lagi mencari ikan, muatan, teman, pelanggan, bahkan tanah baru.”

Demikian Wulu Banyak beralasan, ketika Raden Mandasia bertanya, mengapa Wulu Banyak dan anak buahnya membuat kapal tanpa menggunakan gambar? Tidakkah itu akan berisiko pada ketidakserasian ukuran di kedua sisi kapal?

Kelak di kemudian hari, saat Prabu Watu Gunung [ayahanda Raden Mandasia] bercerita kepada Sungu Lembu [sang tokoh utama dalam novel Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi karya Om Yusi Avianto] tentang alasannya menyerang Gerbang Agung. Kata-kata Wulu Banyak terbukti. Sesuatu yang tampak sempurna, awalnya memberi rasa nyaman, lalu melenakan. Ujung-ujungnya kebosanan, dan berakhir dengan kehancuran perlahan-lahan.

Kejayaan Gilingwesi yang gilang gemilang di tangan Prabu Watu Gunung, membuat semua pejabat terlena, kerap berpoya-poya, korupsi dan penyelewengan terjadi di setiap struktur pemerintahan.

Prabu Watu Gunung menyadari bahaya ini. Ia memerlukan momentum, pemecah kebosanan, peletup semangat baru. Dan Gerbang Agung—sebuah kerajaan yang terletak nun di seberang lautan, kerajaan dengan empat musim, kerajaan dengan seorang putri yang masyhur akan kejatmikaannya yang konon cermin pun tak sanggup menatap kecantikannya—menjadi pilihannya.

Dan dua negeri besar itu, yang menyerang dan yang diserang, akhirnya hancur.

Ada yang mereka lupa.

Saat kapal mulai rusak karena dilubangi anak buahnya sendiri, alih-alih memperbaiki, sang nakhoda malah silau dengan kemegahan kapal lain. Lalu menyerangnya agar dapat menguasai.

Malangnya, kapal yang terlihat megah itu, ternyata tak kalah rusaknya. Orang-orang di dalamnya terlalu asik memandangi kemegahannya sendiri, si pemilik tak memperhatikan kerusakan di sana sini. Pun tak menyadari, ada musuh yang tengah mendekati.

Dua-duanya, karam.

Sebuah kapal memang tak boleh sempurna, dan memang tak kan pernah ada yang sempurna, sebab kesempurnaan adalah milik Sang Pencipta. Kalau merasa sempurna, boleh jadi, karena memang sudah karakter manusia yang seringkali menganggap dirinya sekeren Arjuna, sekuat Bima, sepintar Krisna. Padahal, pret, ya cuma merasa.

Sebagaimana tertulis di banyak baliho yang bertebaran di musim-musim kampanye, seperti saat ini, “Hanya Kecurangan yang Bisa Mengalahkan Cepot”, umpama. Kubu lawan enggak mau ketinggalan, “Berhentilah Menakut-nakuti Rakyat dengan Berita Palsu alias Hoax!”

Lihat! Semua merasa bakal dicurangi, semua merasa lawannya telah bermain kotor, semua merasa dirinya yang paling pantas, paling sempurna, yang lain, ke laut aja, lewat tol biar cepet. Bhahaaha.

Kedua kubu saling serang, saling tuding. Kubu yang semula kerap terlihat selow menanggapi berbagai tudingan, belakangan mulai menabuh genderang perlawanan, tanpa tedeng aling-aling, lebih agresif bahkan.

Kubu satunya tak mau kalah dan mengatakan dengan sepenuh keyakinan, “Doski panik, Cuy, elektabilitasnya mulai merosot. Meskipun itu sebetulnya, tiada lain, disebabkan oleh ulah orang-orang di sekelilingnya sendiri yang kerap melakukan blunder.”

Namun, alih-alih berbenah, keduanya malah meniru Prabu Watu Gunung, menyerang lawan dan membiarkan perahunya yang bocor dan rusak di sana-sini. Pokoknya, seraaang!

Tim hore menyambut seruan itu dengan antusias, “Hajar, Joooohn! Kite di belakang ente!” Yang model-model begini, begitu sang idola terlihat ngos-ngosan, biasanya bukannya bantuin, tapi malah pindah ke perahu lain. Dan mencari junjungan baru. Ada yang seperti itu. Ada.

~ Halah, hobby kok baca fiksi, dasar tukang ngayal!

Hei, Boy! Kata orang bijak, sastra itu melembutkan hati dan mengayakan sudut pandang. Hati kalau sudah lembut, jangankan ingat dosa, baca komik lucu aja, bisa nangis. Eh.

Continue Reading
Advertisement

Trending