Connect with us

Ragam

Buka Kesempatan Belajar Toleransi, SabangMerauke Ajak 20 Pelajar Merantau Ke Jakarta

Published

on


Finroll.com — Program pertukaran pelajar antar daerah di Indonesia, SabangMerauke kembali memberangkatkan 20 pelajar terpilih ke Jakarta. Seluruh pelajar terpilih yang dipanggil dengan Adik SabangMerauke itu akan tinggal bersama keluarga yang berbeda suku dan/atau agama. Setiap harinya, para pelajar ini juga akan belajar mengenai nilai-nilai toleransi, pendidikan, dan keindonesiaan.

Program yang telah berjalan di tahun ketujuhnya ini dilaksanakan sebagai usaha untuk merawat toleransi.
SabangMerauke percaya bahwa toleransi tidak bisa hanya diajarkan, toleransi harus dialami dan dirasakan.
Untuk mencapai tujuan tersebut, selama tiga minggu, Adik SabangMerauke akan diajak untuk memahami hal yang berbeda-beda. Di minggu pertama, Adik SabangMerauke akan belajar untuk memahami keberagaman di Indonesia, yang salah satunya adalah dengan cara berkunjung ke lima tempat ibadah di Jakarta.
Kelima tempat ibadah tersebut adalah Gereja Katedral, Masjid Istiqlal, Gereja Immanuel, Pura Aditya Jaya, dan Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya. Tak hanya berkunjung, mereka juga diperbolehkan untuk bertanya kepada para pemuka agama mengenai kebiasaan yang ada di suatu agama tertentu. Di program ini, Adik SabangMerauke akan diajak untuk mengoreksi segala prasangka yang melekat pada suatu agama tertentu.
Di minggu kedua, Adik SabangMerauke akan diajak untuk bertukar cerita dengan tokoh-tokoh inspiratif di Indonesia.
Tema yang diangkat adalah “Inspirasi untuk Indonesia.” Beberapa tokoh yang hadir menginspirasi adalah Sri Mulyani, Menteri Keuangan RI, dan beberapa atlet paragames Indonesia.
Diharapkan para tokoh ini dapat mengajak Adik SabangMerauke untuk bermimpi yang lebih tinggi mengenai masa depannya nanti. SabangMerauke kemudian diakhiri di minggu ketiga dengan program mengenai cara penyebaran toleransi.
Di minggu ini, Adik SabangMerauke akan diajak untuk kritis terhadap penyebaran informasi di dunia maya sekaligus juga belajar cara memproduksi cerita-cerita toleransinya. Ini adalah bekal agar
nantinya Adik SabangMerauke dapat mempromosikan nilai-nilai toleransi sepulangnya mereka ke daerahnya.
Manajer Kurikulum SabangMerauke 2019 Adri Prima Lely menyebutkan bahwa salah satu tujuan pelaksanaan SabangMerauke ini adalah agar para peserta dapat berinteraksi dengan pihak yang lebih luas dan memahami langsung pelaksanaan toleransi di Indonesia.
“Dengan mengikuti program SabangMerauke, diharapkan para peserta dapat merasakan pengalaman toleransi secara lebih luas bersama para narasumber serta Kakak dan Famili SabangMerauke. Sehingga ketika pulang nanti mereka akan dapat bercerita tentang pengalamannya mengenai toleransi.
Dan suatu saat nanti, mereka juga bisa menjadi seorang pemimpin yang bisa menerima berbagai sudut pandang,” jelas Adri.
Untuk menyempurnakan pembelajaran untuk para peserta, di tahun 2019 ini SabangMerauke juga melakukan kolaborasi dengan sebanyak mungkin pihak. Salah satunya kolaborasi tersebut dilakukan dengan Indika Foundation. Azis Armand, Chief Executive Officer Indika Foundation, mendukung penuh program pertukaran pelajar ini karena selaras dengan nilai serta misi Indika Foundation dalam pengembangan karakter bangsa yang sesuai dengan Pancasila serta mempromosikan nilai-nilai perdamaian dan toleransi.
“Kita (bangsa Indonesia) membutuhkan sebanyak mungkin anak-anak muda yang paham akar keberagaman bangsanya, oleh karenanya kami sangat support program ini yang dampaknya sangat penting untuk keberlangsungan bangsa dan negara,” ujar Azis yang juga CEO dan Managing Director PT Indika Energy Tbk.
Program SabangMerauke 2019 ini dilaksanakan selama tiga minggu mulai 01 Juli 2019 hingga 20 Juli 2019. Setiap harinya, Adik akan didampingi oleh Kakak SabangMerauke untuk mendapatkan pembelajaran mengenai nilai-nilai toleransi, pendidikan, dan keindonesiaan.
Setelah itu, mereka akan merasakan
toleransi secara langsung dengan cara tinggal bersama keluarga yang berbeda suku dan agama.
Sebagai informasi SabangMerauke (Seribu Anak Bangsa Merantau Untuk Kembali) adalah program pertukaran pelajar antar daerah di Indonesia yang bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai toleransi, pendidikan dan
keindonesiaan.
Anak-anak terpilih dari berbagai penjuru nusantara akan merantau selama tiga minggu ke Jakarta, dan beraktivitas dengan kakak dan famili dari latar belakang yang berbeda-beda.
Diharapkan, para pelajar tersebut akan mampu berpikir kritis dan dapat menerima sudut pandang yang berbeda.
Selain itu, para pelajar peserta dapat meresapi nilai toleransi, pendidikan, dan keindonesiaan, sehingga mampu melaksanakannya sekembalinya ke daerah asal masing-masing.
Selain pertukaran pelajar, SabangMerauke juga terus menggaungkan kampanye #MerawatToleransi dengan mengadakan program pendukung seperti Temu Toleran, Diversity Dinner, dan Ask Me Anything. Indika Foundation (Yayasan Indika Untuk Indonesia) didirikan oleh PT Indika Energy Tbk. pada 15
Februari 2017.
Fokus aktivitasnya pada dua hal, yakni; pertama, membangun karakter bangsa. Sebuah keyakinan dan kebanggaan untuk hidup bermasyarakat dalam kerangka NKRI dan berdasarkan nilai-nilai Pancasila dan landasan UUD 1945. Kedua, menyebarkan semangat perdamaian dan toleransi.
Sebuah kesadaran dan pandangan bahwa ragam perbedaan adalah kekayaan yang menyatukan, bukan
memisahkan, dan oleh karenanya saling menghormati dan menghargai tanpa diskriminasi SARA.(red)

Advertisement

Ragam

Fakta-Fakta tentang Fenomena Topi Awan di Puncak Gunung Rinjani

Published

on

By

Finroll.com – Media sosial diramaikan dengan fenomena “topi awan” putih tebal yang menaungi puncak Gunung Rinjani di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Fenomena alam unik itu sontak menjadi buruan swafoto, baik warga maupun para turis.

Dilansir Antara, Rabu, 17 Juli 2019, topi awan yang terjadi kemarin itu terbilang sempurna. Meski pernah terjadi sebelumnya, warga setempat tetap menilai kejadian itu sebagai peristiwa langka.

“Awan putih yang melingkari puncak Gunung Rinjani kali ini, memang benar-benar sempurna,” kata warga Sembalun Lawang, Lombok Timur, Rosidin.

Lingkaran awan putih itu berlangsung sejak pukul 07.00 Wita sampai 09.30 Wita. Kemunculannya tepat saat matahari terbit. “Bahkan warna dan ketebalannya berganti-ganti,” katanya.

Awalnya, kata dia, ia mengabadikan fenomena itu dari rumahnya. Ia kemudian berpindah ke rest area Sembalun Lawang dan di lokasi itu sudah banyak yang berswafoto.

“Rest area Sembalun Lawang lokasi yang paling pas untuk mengambil foto Gunung Rinjani secara full,” katanya. Hal senada dikatakan Nur Saat, warga Desa Senaru, Lombok Utara yang melihat fenomena alam itu. “Saya semula dikirim foto saja, tapi setelah dilihat memang benar-benar sempurna bentuknya,” katanya.

Biasanya “topi awan” tersebut sering terbentuk. Namun, bentuknya tidak sempurna dan tidak berlangsung lama. “Banyak yang swafoto melihat fenomena awan itu,” katanya

Dikaitkan dengan Pertanda Buruk

Rosidin menjelaskan, fenomena puncak Gunung Rinjani “bertopi” sebetulnya sudah sering kali terjadi. Hanya saja, awan yang melingkar di atas puncak Rinjani itu tidak sebundar dan sebesar seperti yang terjadi pada saat ini.

“Masyarakat sudah biasa melihat ada lingkaran awan di atas puncak Rinjani. Tapi memang yang sekarang tidak sebundar dan sebesar yang sekarang,” terang Rosyidin.

Ia mengatakan, meski bukan kejadian pertama kali, banyak warga yang mengaitkan fenomena awan bertopi di atas puncak Rinjani dengan kejadian gempa yang terjadi akhir-akhir ini di daerah itu. Ada pula yang mengaitkan dengan fenomena Gerhana Bulan yang terlihat pada Rabu dini hari sekitar pukul 04.00 Wita di wilayah itu.

Namun bagi warga sekitar Sembalun, kata Rosidin, fenomena puncak Rinjani bertopi pertanda ada orang yang meninggal. Dalam artian, orang yang meninggal bukan orang sembarangan atau masyarakat kecil, melainkan pejabat atau tokoh-tokoh penting.

“Buat warga Sembalun ini pertanda orang meninggal. Tapi kalau dikaitkan gempa, kami tidak percaya. Karena ini kejadian lumrah, setiap musim kemarau pasti awan seperti ini terjadi. Cuman ini mungkin karena lingkarannya lebih besar,” ungkapnya.

Penjelasan BMKG

Sementara itu, Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Mataram, Agus Rianto mengatakan fenomena puncak Gunung Rinjani tertutup awan yang melingkar seperti “bertopi” tak ada kaitannya dengan pertanda gempa yang terjadi akhir-akhir ini di Nusa Tenggara Barat.

“Itu fenomena alam dari awan Lenticular,” ujarnya di Mataram, kemarin.

Ia menegaskan, fenomena alam Lenticular tidak berkaitan dengan terjadinya gempa bumi. Adapun masyarakat yang mengaitkan fenomena alam Lenticular dengan akan terjadinya gempa adalah sebuah kesalahpahaman.

“Tidak ada kaitannya, itu hanya rumor, awan caping itu berbahaya bagi penerbangan, bukan tanda tanda terjadinya gempa,” tegas Agus.

Ia menjelaskan bentuk awan seperti topi/caping/piring raksasa dan awan yang melingkari gunung, disebut Awan Lenticular. Biasanya, awan tersebut dapat ditemukan di dekat bukit atau gunung-gunung, karena terbentuk dari hasil pergerakan angin yang menabrak dinding penghalang besar, seperti pegunungan dan perbukitan, sehingga menimbulkan sebuah pusaran.

Menariknya, awan Lenticular kelihatan begitu padat, namun hakikatnya tidak demikian. Awan ini terlihat padat karena aliran udara lembab terus menerus mengaliri sang awan dan akan keluar lewat permukaan paling bawah. Akibatnya, bentuk awan Lenticular akan bertahan hingga berjam-jam, bahkan berhari-hari.

Bagi dunia penerbangan, awan Lenticular ini sangat mematikan karena sang awan bisa menyebabkan turbulensi bagi pesawat yang nekat memasuki awan atau hanya terbang di dekat awan Lenticular.

Continue Reading

Ragam

Ini Asal-usul Nama Tebet di Jakarta Selatan

Published

on

By

Finroll.com –  Tebet adalah sebuah tempat atau kawasan yang merupakan sebuah kecamatan di Jakarta Selatan.

Wilayah Tebet meliputi Kelurahan Menteng Dalam, Kelurahan Tebet Barat, Kelurahan Tebet Timur, Kelurahan Kobon Baru, Kelurahan Bukit Duri, Kelurahan Manggarai, dan Kelurahan Manggarai Selatan.

Kawasan Tebet termasuk wilayah padat penduduk, meski ada beberapa bagian wilayahnya masih berupa tanah kosong.

Mengapa kawasan ini disebut Tebet? Zaenuddin HM menjelaskan dalam bukunya “212 Asal-Usul Djakarta Tempo Doeloe,” setebal 377 halaman, yang diterbitkan Ufuk Press pada Oktober 2012.

Menurut sejarah, dahulu daerah itu berupa rawa-rawa dan semak belukar yang menyerupai hutan tebat.

Kata “lebat” oleh orang-orang Melayu yang menjadi penduduknya di masa itu. disebutnya dengan “tebat.”

Sedangkan orang-orang Betawi yang merupakan penduduk mayoritas, menyebut “tebet” alias rimbun atau lebat. Nah, semenjak itulah hingga sekarang, kawasan itu disebut Tebet.

Tebet di masa kini bukan lagi rawa-rawa becek atau semak belukar melainkan permukiman penduduk, perkantoran, serta banyak distro yang menjual berbagai model pakaian sebagai gambaran gaya hidup anak-anak muda metropolitan.

Continue Reading

Ragam

Viral Larangan Swafoto di Pesawat, Lantas Seberapa Bahaya Berfoto di Pesawat?

Published

on

By

Garuda Indonesia Mendarat Darurat di Sri Lanka, Ini Penyebeabnya

Finroll.com – Surat edaran larangan berfoto atau mengambil gambar pesawat Garuda Indonesia menjadi viral, padahal surat tersebut belum resmi dilansir pihak Garuda Indonesia.

Surat edaran bernomor No. JKTCSS/PE/60145/19 tersebut langsung menuai protes netizen. Pihak Garuda akhirnya belum mengumumkannya secara resmi, namun mengimbau masyarakat untuk tidak berfoto di sekitar pesawat atau di dalam kabin.

“Surat tersebut merupakan edaran internal internal perusahaan yang belum final yang seharusnya belum dikeluarkan dan tidak untuk publik,” ujar VP Corporate Secretary Garuda Indonesia, M. Ikhsan Rosan dalam rilis yang diterima TEMPO.

Sejatinya, imbauan itu ditujukan agar para penumpang menghormati privasi penumpang lain dan awak pesawat yang sedang bertugas. Garuda menganggap aturan tersebut tak bertentangan dengan UU Penerbangan dan UU ITE, dan UU terkait lainnya.

“Garuda Indonesia berkomitmen untuk menjaga privasi seluruh penumpang dan awak pesawat, berdasarkan laporan, saran dan masukan pelanggan atau penumpang yang merasa tidak nyaman dan terganggu,” ujar Ikhsan. Pengambilan gambar dan kegiatan dokumentasi tanpa izin mengganggu privasi para penumpang lainnya bahkan kru kabin.

Namun Garuda Indonesia tetap memperbolehkan pengambilan foto ataupun swafoto, selama tidak mengganggu kenyamanan atau merugikan penumpang lain. Imbauan ini sejatinya sangat wajar. Pasalnya, memotret kru kabin atau penumpang lainnya, terbilang tak etis.

Bahkan, memotret sebenarnya bisa membahayakan Anda juga mengganggu kenyamanan. Saat asik memotret, konsentrasi tertuju pada obyek gambar, hal ini bisa berakibat fatal, misalnya tersandung. Penumpang yang berjalan menuju pesawat, kerap memotret dan mengabaikan sekeliling.

Maka, risiko jatuh karena terpeleset atau tersandung sesuatu bisa membahayakan diri sendiri. Meskipun kecelakaan ringan di dalam bandara terutama menuju pesawat dijamin asuransi, tapi bukan ditujukan untuk kecerobohan.

Alhasil, berswafoto atau memotret di sekitar maupun di dalam pesawat memang perlu kehati-hatian. Jangan sampai melanggar privasi ataupun mengundang kecelakaan diri yang tak perlu. Bahkan, di beberapa area bandara terdapat daerah pengamanan terbatas, yang seharusnya memang tak boleh difoto.

Continue Reading
Advertisement

Trending