Connect with us

Keuangan

Brexit Tak Jelas, IHSG Melemah

Published

on


Jeda Siang Sesi I, IHSG Menghijau Sentuh Level 6.024,492

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Rabu ini (13/3/2019) dengan pelemahan sebesar 0,17%.

Finroll.com – Pada pukul 9:36 WIB, pelemahan IHSG sudah melebar menjadi 0,2% ke level 6.340,81. Jika terus melemah hingga akhir perdagangan, maka IHSG akan membukukan koreksi selama 4 hari berturut-turut.

Kinerja IHSG senada dengan bursa saham utama kawasan Asia yang juga ditransaksikan di zona merah: indeks Nikkei turun 1,21%, indeks Shanghai turun 0,67%, indeks Hang Seng turun 0,52%, indeks Straits Times turun 0,73%, dan indeks Kospi turun 0,85%.

Kisruh terkait proses perceraian Inggris dan Uni Eropa (Brexit) membuat pelaku pasar melepas saham-saham di Benua Kuning.

Pada Selasa (12/3/2019) waktu setempat atau Rabu (13/3/2019) waktu Indonesia, revisi proposal Brexit yang diajukan Perdana Menteri Inggris Theresa May ditolak oleh parlemen.

Seperti dilansir CNBC International, May kalah lantaran hanya terdapat 242 anggota parlemen yang mendukung proposalnya, sedangkan mayoritas atau 391 anggota parlemen menolak.

Ini jelas merupakan pukulan telak bagi May karena pada pemungutan suara pertama yang digelar bulan Januari, May juga kalah dengan skor 432 melawan 202.

Sebagai informasi, pada hari Senin (11/3/2019) May berhasil mengamankan revisi kesepakatan Brexit dengan Uni Eropa. Revisi yang dimaksud akan memberikan jaminan bahwa klausul backstop, jika diaktifkan, tak akan berlaku selamanya.

Namun, Jaksa Agung Inggris Geoffrey Cox tak sependapat. Menurut Cox, revisi kesepakatan Brexit tak memberikan kekuatan hukum bagi Inggris untuk keluar dari klausul backstop secara sepihak.

Backstop merupakan klausul yang akan diimplementasikan jika Inggris dan Uni Eropa tak bisa menyepakati kesepakatan dagang dalam masa transisi selama 21 bulan setelah Brexit resmi dimulai pada Maret 2019. Klausul ini dibuat untuk mencegah adanya hard border antara Irlandia Utara (yang merupakan bagian dari Inggris) dan Irlandia (yang merupakan anggota Uni Eropa).

Backstop menjadi masalah lantaran ada ketidakjelasan mengenai implementasinya. Bisa saja itu diterapkan selamanya walau nanti Inggris-Uni Eropa berhasil menyepakati kesepakatan dagang.

Dengan kembali ditolaknya proposal Brexit oleh parlemen, masa depan Inggris menjadi tak pasti. No-Deal Brexit alias perpisahan Inggris-Uni Eropa tanpa kesepakatan kini menjadi risiko yang nyata dan diperhitungkan oleh pelaku pasar.

Keuangan

Jelang 22 Mei, Investor Asing Khawatir Juga

Published

on

By

KPU: Pegajuan Gugatan Hasil DCT ke Bawaslu Diberi Waktu 3 Hari

Finroll.com – Jelang aksi protes hasil Pemilihan Umum (Pemilu) yang bakal digelar lusa mendatang atau 22 Mei 2019, ternyata cukup membuat kalangan investor khawatir termasuk para investor asing.

“Ada, ada yang khawatir (asing), walaupun mungkin yang asing lebih banyak, at the moment, concern-nya lebih kepada faktor fundamental dan juga mungkin karena kondisi makro saat ini,” kata Direktur Perdagangan dan Pengaturan Bursa Efek Indonesia (BEI), Laksono Widodo saat ditemui di Kantornya, Jakarta, Senin (20/5/2019).

Pada perdagangan saham akhir pekan lalu, para investor asing masih mengalami aksi jual dengan net foreign sell sebesar Rp789,27 miliar. Laksono menambahkan protokol krisis saat ini belum perlu dilakukan lantaran penurunan indeks masih berkisar 1% sampai 2%.

“Protokol krisis selalu ada, cuma kita biasanya kan lihat ke pasar bahwa apabila dalam sehari itu mulai turun lebih dari 2%, kalau 5% kita mulai meeting dengan para otoritas, dan sampai dengan turun 10% itu ada auto-hold. Jadi kita juga mempersiapkan itu,” katanya.

Pada akhir pekanllalu, IHSG melemah 68,87 poin (-1,17%) ke posisi 5.826,86. Investor asing terus mencatatkan net sell dengan melepas saham di pasar reguler senilai Rp852 miliar. Dalam sepekan IHSG anjlok -6,16% dengan disertai keluarnya dana asing sebesar Rp3,98 triliun di pasar reguler.

Penurunan indeks dalam 5 hari perdagangan berturut-turut menggenapi pelemahan IHSG selama sepekan. Praktis dengan penurunan tersebut, sepanjang pekan kemarin tidak ada sehari pun IHSG berakhir di zona hijau.

Kondisi ini menenggelamkan IHSG, sehingga secara year to date IHSG turun -5,93% di tahun 2019 ini, menyentuh level terendah 6 bulan sejak November 2018.

Continue Reading

Keuangan

Pembukaan Pasar Awal Pekan, Rupiah Stagnan di Posisi Rp 14.445

Published

on

Pembukaan Pasar Awal Pekan, Rupiah Stagnan di Posisi Rp 14.445

Finroll.com – Di perdagangan pasar spot hari ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sudah tidak melemah. Namun bukan berarti rupiah sudah menguat.

Pada Senin, 20 Mei 2019, US$ 1 ditransaksikan Rp 14.445 kala pembukaan pasar spot. Sama seperti posisi penutupan perdagangan akhir pekan lalu alias stagnan.

Sepanjang minggu kemarin, rupiah melemah 0,87% di hadapan dolar AS, dilansir CNBC Indonesia.

Pelemahan yang sudah lumayan dalam tersebut membuat tren pelemahan rupiah terhenti, karena investor kemungkinan kembali melirik mata uang Tanah Air yang sudah murah.

Apalagi secara year-to-date rupiah sudah melemah 0,49%. Sementara secara year-on-year, depresiasi rupiah mencapai 1,87%.

Selain itu, sepertinya pelemahan rupiah juga tertahan oleh intervensi yang dilakukan oleh Bannk Indonesia (BI).

Pekan lalu, bank sentral melakukan stabilisasi pasar secara masif sehingga depresiasi rupiah bisa ditahan di bawah 1%.

Intervensi BI terlihat mampu menjaga rupiah tidak sampai melemah seperti mayoritas mata uang utama Asia lainnya.

Ya, pagi ini sebagian besar mata uang utama Benua Kuning terdepresiasi di hadapan dolar AS, mulai dari yen Jepang, rupee India, ringgit Malaysia, sampai yuan China.

Jika Voltron adalah penjaga alam semesta (defender of the universe), maka BI adalah penjaga rupiah. Sejauh ini, Gubernur Perry Warjiyo dan kolega melakukan tugasnya dengan baik.

Hari Ini Tak Akan Mudah Buat BI

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi gerak rupiah hari ini. Pertama adalah perkembangan harga minyak dunia.

Pada pukul 08:21 WIB, harga minyak jenis brent melesat 1,45% sementara light sweet melejit 1,37%.

Tensi geopolitik Timur Tengah yang memanas membuat harga minyak bergerak naik.

Gontok-gontokan Arab Saudi cs versus Iran belum mereda, di mana masing-masing pihak sudah siap jika sampai terjadi konflik bersenjata alias perang.

“Kerajaan Arab Saudi tidak ingin ada perang di kawasan ini, dan tidak ingin mencari perang. Kami akan melakukan sebisa mungkin untuk mencegah perang. Namun pada saat yang sama, Kerajaan akan merespons dengan segenap kekuatan serta melindungi diri dan kepentingannya,” jelas Adel Al Jubeir, Menteri Luar Negeri Arab Saudi, dikutip dari Reuters.

Pernyataan senada dikemukakan oleh Teheran. Mayor Jenderal Hossein Salami, Komandan Korps Penjaga Revolusi Islam Iran, menegaskan pihaknya tidak mencari perang tetapi tidak takut kalau itu sampai terjadi (amit-amit).

Ketegangan di Timur Tengah dikhawatirkan bisa mempengaruhi harga minyak. Konflik (kalau berkepanjangan) bisa membuat pasokan si emas hitam dari kawasan tersebut terhambat.

Timur Tengah adalah daerah penghasil minyak terbesar di dunia, sehingga saat pasokan dari sana berkurang maka harga bisa naik cukup signifikan.

Jika tren ini berlanjut, maka bisa menjadi alamat jelek buat rupiah. Pasalnya, kenaikan harga minyak akan membuat biaya impor komoditas ini semakin mahal.

Padahal Indonesia mau tidak mau harus mengimpor minyak untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri karena produksi yang belum juga memadai.

Artinya, akan ada tekanan bagi neraca perdagangan dan transaksi berjalan. Ini bukan berita baik buat rupiah dan aset-aset berbasis mata uang Tanah Air.

Kedua, investor sepertinya masih wait and see jelang pengumuman hasil Pemilu 2019 pada 22 Mei mendatang. Semakin dekat ke Hari H, situasi bukannya tenang tetapi malah semakin gaduh.

Kubu pasangan capres-cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno terus menyuarakan dalam Pemilu sehingga hasilnya tidak sah. Artinya, ada delegitimasi atas keputusan KPU.

Rencana aksi massa besar-besaran pada 22 Mei pun kian santer terdengar. Bahkan kepolisian mengendus upaya teror yang akan menunggangi aksi tersebut.

Menuju 22 Mei, pelaku pasar sepertinya memilih untuk menunggu terlebih dulu. Ada kemungkinan investor menunda rencana masuk ke pasar keuangan Indonesia sebelum situasi agak tenang.

Dua sentimen tersebut menjadi tantangan bagi BI untuk menstabilkan nilai tukar rupiah. Bukan tugas yang ringan, dan tentu butuh biaya yang tidak sedikit. Cadangan devisa menjadi taruhannya.

Continue Reading

Keuangan

Sudah 6 Hari Rupiah Melemah di Kurs Tengah BI

Published

on

By

Dolar AS

Finroll.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah di kurs tengah Bank Indonesia (BI). Bahkan pelemahan hari ini merupakan yang keenam secara berturut-turut

Pada hari Kamis (16/5/2019), kurs tengah BI, atau kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) berada di posisi Rp 14.458. Rupiah melemah 10 poin atau 0,07% dibanding posisi perdagangan Rabu (15/5/2019) kemarin.

Sementara di pasar spot pukul 10:30 WIB, US$ 1 setara dengan Rp 14.445 atau menguat 10 poin atau 0.07%. Namun penguatan rupiah masih rentan karena pergerakan hari ini masih fluktuatif.

Akan tetapi, sebagian besar mata uang utama Benua Kuning memang sedang melemah hari ini. Tercatat hanya rupee India, baht Thailand, ringgit Malaysia, dan yen Jepang saja yang berhasil menguat terhadap dolar hari ini.

Artinya investor memang sedang cenderung tak bergairah untuk masuk ke pasar keuangan negara berkembang. Setidaknya untuk hari ini.

Sejumlah sentimen negatif yang datang dari luar negeri sedikit banyak mendorong investor untuk memasang mode main aman.

Kemarin (15/5/2019), penjualan barang-barang ritel Amerika Serikat (AS) periode April 2019 diumumkan terkontraksi 0,2% dibanding bulan sebelumnya. Padahal konsensus yang dihimpun Reuters memprediksi adanya kenaikan hingga 0,2%.

Sebelumnya, China juga mengumumkan hal yang serupa. Penjualan barang-barang ritel di Negeri Tirai Bambu periode April 2019 hanya tumbuh sebesar 7,2% YoY. Lebih rendah ketimbang prediksi konsensus yang sebesar 8,6% YoY.

Artinya permintaan barang barang ritel di dua negara raksasa ekonomi dunia tersebut sedang lesu. Tentu saja bukan berita baik untuk pasar, karena mengindikasikan perlambatan ekonomi global belum sirna.

Disamping itu, potensi eskalasi perang dagang juga masih membuat investor enggan mengambil risiko di pasar keuangan negara berkembang.

Setelah AS mengumumkan kenaikan tarif untuk produk China senilai US$ 200 miliar pekan lalu, kini ancaman tarif muncul kembali untuk barang-barang lain. Kantor Perwakilan Dagang AS dikabarkan telah mengajukan proposal untuk memberlakukan tarif impor sebesar 25% terhadap produk China lain senilai US$ 300 miliar. Sebelumnya pada produk-produk tersebut tidak ada bea masuk, yang artinya aman dari kemelut perang dagang.

Sebenarnya rencana tersebut sudah pernah tercetus dari Presiden AS, Donald Trump pada hari Jumat pekan lalu. Tapi dengan adanya proposal ini, menandakan bahwa rencana Trump bukan sekedar gertak sambal.

Setelah ini akan ada jajak pendapat pada tanggal 17 Juni yang akan diikuti oleh proses diskusi selama setidaknya satu minggu. Produk-produk yang berencana dikenakan tarif meliputi telepon genggam, komputer, pakaian, dan sepatu.

Ini artinya, tensi perang dagang masih bisa meningkat. Bila tarif baru dikenakan untuk produk-produk yang sebelumnya aman-aman saja, tentu saja China akan bereaksi.

Continue Reading
Advertisement

Trending