Connect with us

Politik

Bocoran Pertanyaan Debat Capres-Cawapres 2019, Perdebatan Sebelum Debat Dimulai

Published

on


Bocoran Pertanyaan Debat Capres-Cawapres 2019,Perdebatan Sebelum Debat Dimulai

Finroll.com – Menjelang dilaksanakannya debat capres-cawapres 2019 sesi pertama yang bertema Hukum, Korupsi, HAM dan Terorisme akan dihelat pada 17 Januari nanti menimbulkan sejumlah polemik.

Selain soal pemaparan visi misi, ada satu yang cukup membuat gaduh khalayak ramai, yaitu adanya ksisi-kisi ataupun bocoran pertanyaan yang diberikan kepada calon kontestasi Pilpres menjelang debat dimulai.

Adaanya pemberian kisi-kisi merupakan hal pertama dalam penyelenggaraan debat capres-cawapres. Ini pula yang cukup membuat pertanyaan bagi masyarakat, mengapa debat kali ini harus ada bocoran soal bak mahasisw yang akan mengikuti Ujian Akhir Semester UAS.

Tak sedikit beberapa pengamat maupun masyarakat yang menilai, debat kali ini diproyeksi akan berlangsung Garing, Tajamnya ya “Kurang Greget!.

Seperti dikutip dari Republika, Burhanuddin Muhtadi selaku Direktur Eksekutif Indikator megatakan, ada tiga jenis tipe pemilih. Ada pemilih fanatik, pemilih yang sudah ada pilihan tapi imannya lemah, dan pemilih yang belum punya pilihan. Efek debat, dia mengatakan, bisa berpengaruh pada pemilih tipe kedua dan ketiga. Sedangkan bagi pemilih dengan tipe pertama, efeknya miminalis.

Menurutnya, paling utama dalam debat itu ada dua hal yang selama ini ditunggu-tunggu oleh pemilih. Pertama, debat sebagai pertunjukkan.

Wakil presiden RI Jusuf Kalla pun juga ikut angkat bicara permasalahan bocoran pertanyaan debat.

“Debat itu gunanya untuk mengukur sejauh mana pengetahuan calon presiden dan cawapres itu apabila menghadapi masalah yang harus diputuskannya sendiri. Nah kalau (kisi-kisi debat) itu dibuka duluan, berarti yang menjawab itu tim (sukses). Padahal yang mau diuji adalah yang bersangkutan pribadi,” kata JK.

Keputusan KPU dinilai membuat Pemilu tidak lagi bermutu. Debat kandidat pun dianggap hanya sebatas formalitas saja. Bahkan, tidak sedikit yang mengatakan bahwa dua kandidat Cawapres bisa saja hanya menyontek naskah pidato maupun materi debat.

(berbagai sumber)

Politik

Sandiaga Sebut OK OCE Telah Sumbang Rp 395 M untuk Ekonomi DKI

Published

on

By

Cari Kerja Susah, Sandiaga Tawarkan Program OK OCE di Pekalongan

Finroll.com  – Calon Wakil Presiden nomor urut 02 Sandiaga Salahuddin Uno menyapa warga Kampung Melayu, Jakarta Timur, Kamis (21/3). Dalam kesempatan itu, Sandiaga menunjukkan prestasi program OK OCE di wilayah DKI Jakarta.

Menurut Sandiaga, sudah 90 ribu warga DKI Jakarta yang tergabung dalam OK OCE. Dia mengatakan bahwa OK OCE sudah membuka 29.346 lapangan kerja.

“Sudah buka berapa lapangan kerja? 29.346 tenaga kerja dibuka oleh OK OCE. Berapa izin usaha mikro kecil yang diterbitkan? 16.734 UMKM, mau bikin nasi uduk, fashion muslim, ekonomi kreatif, semua sudah dinaungkan,” kata Sandi kepada warga Kampung Melayu, Jakarta.

Mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta ini menyebut OK OCE berperan aktif bagi peningkatan ekonomi di Ibu Kota Jakarta. Menurutnya, program tersebut telah menyumbang Rp 359 miliar di DKI.

“Sekarang tumbuh total investasi dari program OK OCE berapa tebak? Rp 359 miliar OK OCE sudah menyumbang pada ekonomi DKI. Alhamdulillah,” ucap Sandi.

Jika terpilih, Sandiaga mengaku akan menyiapkan Rumah Siap Kerja untuk melatih para calon pekerja di Indonesia. Dia pun mengingatkan masyarakat Jakarta untuk menggunakan hak pilihnya di Pilpres nanti.

“Saya ingatkan tinggal 26 hari (pencoblosan Pilpres) untuk program siap kerja insya Allah akan hadir. Anak muda enggak boleh nganggur, kita beri bimbingan metode baik sehingga anak muda punya peluang lapangan kerja,” kata Sandiaga Uno.

Continue Reading

Politik

Ketum Plt PPP Suharso Monoarfa Menangis Saat Menyampaikan Pidato Pengukuhannya

Published

on

Suharso Monoarfa

Suharso Monoarfa resmi dikukuhkan menjadi Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) melalui Mukernas III.

Finroll.com – Suharso Monoarfa dikukuhkan menggantikan Romahurmuziy, Ketua Umum PPP yang diberhentikan karena terseret kasus dugaan korupsi jual beli jabatan di Kementerian Agama (Kemenag).

Suharso menangis saat menyampaikan pidato pengukuhannya sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas), Hotel Seruni, Bogor, Rabu (20/3/2019) malam.

Ia sama sekali tidak pernah bermimpi menjadi pemimpin partai.

“Untuk berdiri di sini menerima mandat ini yang sungguh berat buat saya. Bagi saya, saudara Romy itu dia anak saya ya, adik saya,” ungkap Suharso sambil terisak saat berpidato.

Baginya, mantan Ketum PPP itu seperti meteor yang memiliki kemampuan untuk menjadi calon pemimpin bangsa ke depannya.

“Semuanya ada di beliau [Romi], kapasitas ada, capability ada, bibit bobotnya ada,” kata Suharso.

Suharso memandang apa yang terjadi ke Romy sebagai musibah. Di sisi lain, ia mengajak seluruh jajaran partai untuk introspeksi diri atas kemungkinan kesalahan yang pernah dilakukan.

“Maka saya mengajak kita semua untuk kita berintrospeksi melihat apa yang sebenarnya yang salah pada kita,” ungkapnya.

Kemudian ia mengingatkan logo partai yang berupa Ka’bah. Suharso menjelaskan, keputusan para pendiri partai menggunakan logo tersebut tak mudah. Logo tersebut juga dinilainya memiliki makna mendalam bagi partai.

“Kita tahu sejarah itu [PPP didukung kiai besar], kita semua tahu. Entah apa yang menyengat dan menghampiri kita,” terangnya.

Secara filosofis, kata Suharso, PPP memiliki lambang dengan gambar kakbah yang berdiri tegak pada bendera partai tersebut. Ia menuturkan jika kakbah letaknya berada di Kota Makkah Arab Saudi yang artinya air mata.

“Apakah kemudian partai kita harus berlinang air mata? Padahal ketika nabi memimpin kembali ke Makkah tanpa kekerasan setelah menyusun Protap di Madinah,” tuturnya.

Di sisi lain, ia menyinggung para tokoh-tokoh PPP dahulu yang sukses membawa kejayaan partai.

“Bahkan di awal Reformasi adalah Pak Hamzah Haz yang menurut saya ketika orang menyepelekan Partai Persatuan Pembangunan, di tangan beliau, kita masih mencapai juara ketiga di Pemilu,” ungkapnya.

Oleh karena itu, Suharso berharap jajaran partai untuk bangkit dan solid. Sebab, PPP juga akan menghadapi Pemilu 2019. Ia optimistis, jajaran partai mampu bekerja keras.

“Saya yakin sebenarnya kita karena partai besar kita punya pegalaman kita punya sejarah panjang, punya bukti, punya footprint yang tidak terbantahkan. Saya yakin dengan kader yang luar biasa, saya kira harus bangkit,” tutupnya.

Continue Reading

Politik

Strategi BPN Kejar Elektabilitas Jokowi

Published

on

By

Finroll.com – Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi terus berusaha memperkecil selisih elektabilitas dengan capres-cawapres, Jokowi-Ma’ruf Amin. Salah satu strategi yang digunakan diantaranya dengan cara langsung menyapa masyarakat secara door to door.

“Untuk memenangkan strategi khusus kita sederhana ya, datang ke rumah masyarakat, sapa masyarakat, ketuk rumah masyarakat sapa masyarakat ajak pilih Prabowo-Sandi,” kata Juru Bicara BPN Andre Rosiade saat dihubungi merdeka.com, Rabu (20/3).

Andre mengatakan timnya memiliki kekuatan tersendiri yang tidak dimiliki oleh Jokowi-Ma’ruf. Di antaranya adalah relawan yang tidak bisa dimobilisasi.

“Di mana pendukung kita tidak perlu diberi dana mobilisasi dana transport, bahkan nasi bungkus. Mereka adaah pendukung-pendukung yang ingin perubahan. Saya kira tanpa diberi apa pun mereka bekerja untuk memenangkan Pak Prabowo dan Bang Sandi,” ungkapnya.

Dihubungi terpisah, Juru Kampanye Nasional BPN Mohammad Nizar Zahro mengatakan pihaknya akan melakukan pedekatan secara lebih masif pada masyarakat. Sehingga bisa menarik para pemilih mengambang atau undecided voters.

“Terstruktur sistematis dan masif melakukan pendekatan dan menarik suara undecide voters karena kita yaqin beban sejarah janji-janji Jokowi yang tidak terealisasi pasti dihukum oleh rakyat dengan tidak memilih Jokowi,” ucap Nizar.

Seperti dikutip Merdeka.com dari Harian Kompas, Rabu (20/3/2019), berdasarkan survei terbaru Litbang Kompas elektabilitas Jokowi dan Prabowo saat ini lebih tipis dibandingkan survei Litbang Kompas Oktober 2018.

Elektabilitas Jokowi dan Prabowo saat ini hanya selisih 11,8 persen. Jokowi – Maruf mendapat perolehan suara 49,2 persen, sedangkan Prabowo-Ma’ruf 37,4 persen. Sebanyak 13,4 persen masih merahasiakan pilihannya.

Metode pengumpulan pendapat menggunakan wawancara tatap muka sejak tanggal 22 Februari – 5 Maret. Survei ini diikuti 2.000 responden yang dipilih secara acak dengan metode pencuplikan sistematis bertingkat di 34 provinsi di seluruh Indonesia. Tingkat kepercayaannya 95 persen dengan margin of error penelitian plus/minus 2,2 persen.

Sebelumnya pada Oktober 2018 lalu, Litbang Kompas juga telah merilis elektabilitas dua pasangan capres. Saat itu, elektabilitas Jokowi-Ma’ruf sebanyak 52,6 persen sedangkan Prabowo- Sandiaga Uno32,7 persen. Sebanyak 14,7 persen masih merahasiakan pilihannya. Saat itu, selisih suara keduanya masih 19,9 persen.

Disebutkan pula, penyebab menurunnya elektabilitas Jokowi-Ma’ruf karena sejumlah hal. Seperti perubahan pandangan atas kinerja pemerintah, berubahnya arah dukungan kalangan menengah atas, membesarnya pemilih ragu pada kelompok bawah dan persoalan militansi pendukung yang berpengaruh pada penguasaan wilayah.

Continue Reading
Advertisement

Trending