Connect with us

Traveling

Batutumonga, Kampung Di Atas Awan Yang Indah

Published

on


Batutumonga, Kampung Di Atas Awan Yang Indah

Finroll.com – Berada Di Atas Awan Dengan Menaiki Pesawat Terbang Mungkin Sudah Pernah Anda Alami. Begitu Juga Dengan Naik Gunung, Anda Bahkan Bisa Berada Di Atas Awan. Namun Di Batutumonga, Sensasi Berada Di Atas Awan Akan Terasa Berbeda.

Batutumonga merupakan sebuah daerah yang berada di lereng gunung Sesean di Toraja Utara, Sulawesi Selatan. Sekitar 328 kilometer dari Kota Makassar.

Batutumonga menjadi spesial karena berada di ketinggian namun bisa dijangkau oleh kendaraan roda dua bahkan roda empat. Sehingga effortless bagi pelancong. Namun kendaraan umum belum ada yang menjangkau area ini.

Kota ini bahkan sering mendapat predikat sebagai tempat terindah di kabupaten ini. Mau tahu seperti apa? Yuk intip pemandangannya:

Memiliki Panorama Yang Memukau

Seperti objek wisata lain di Toraja, Batutumonga juga merupakan kota yang berada di ketinggian. Tempat ini berjarak sekitar 24 kilometer dari Rantepao. Pengunjung akan disuguhkan pemandangan alam yang memukau selama perjalanan. Setibanya di lokasi, hamparan awan putih menjadi sajian utamanya. Selain itu, kamu juga bisa berkunjung Desa Baik dengan deretan rumah adat tongkonan di atas bukit.

Keindahan Sunrise Dan Cahaya Lampu Kota

Pemandangan Kota Rantepo bisa tampak jelas dari tempat ini. Saat malam, cahaya lampu perkotaan terlihat eksotis dari sini. Selain itu, suguhan sunrise di pagi hari pun patut dinikmati. Kemunculan matahari dari balik hamparan awan akan menjadi panorama yang tak boleh dilewatkan. Cocok untuk menambah koleksi foto kamu di sosial media.

Pertunjukkan Budaya Dan Objek Wisata Keren Ada Di Sini

Ada banyak objek wisata yang bisa dikunjungi selama di Batutumonga. Di Lempo, kamu bisa bertemu dengan banyak ahli pemahat kuburan batu sambil melihat proses pembuatannya. Selain itu, ada juga makam di Lo’ko Mata. Penduduk setempat membuat tebing sebagai lubang untuk mayat. Di kawasan ini sering juga diadakan upacara pemakaman dalam skala besar.

Sajian Kopi Dan Makanan Di Ketinggian

Bukan rahasia lagi kalo Toraja terkenal dengan produksi kopinya. Menikmatinya di atas ketinggian tentu akan semakin spesial. Di Batutumonga terdapat banyak kedai yang terletak di pinggir bukit, seperti Tinimbayo Coffee Shop. Suguhan pemandangannya dijamin memukau. Jika ingin mengisi perut, ada juga Restoran Mentirotiku dengan sajian makanan tradisionalnya. Pokoknya lengkap!

Nah jika Anda berniat berlibur ke Batutumonga, sangat disarankan untuk menginap. Mengapa? Sebab Batutumonga adalah salah satu tempat melihat sunrise terbaik di dunia. Laiknya gunung Bromo. Anda wajib merasakan sendiri sensasinya.

(sumber Finrollnews)

Advertisement

Traveling

Ponggok, Mata Air Pembawa Berkah

Published

on

By

Finroll.com – Jika ada penghargaan bagi daerah yang mempunyai mata air terbanyak, mungkin kabupaten Klaten, di Jawa Tengah, akan menjadi pemilik penghargaan itu. Bagaimana tidak, Kabupaten Klaten di tenggarai mempunyai puluhan sampai dengan seratusan sumber air, atau mata air. Atau yang dalam bahasa setempat dikenal juga dengan nama umbul.

Anugrah dari yang Maha Kuasa ini juga membuat Klaten menjadi salah satu sentra padi di Indonesia. Hampir sebagian besar desa di Klaten, Jawa Tengah, bergantung pada bidang pertanian sebagai satu-satunya sumber penghasilan. Kecuali satu desa di kecamatan Polanharjo, yaitu desa Ponggok.

18 tahun yang lalu, Ponggok merupakan desa miskin, dan bahkan masuk ke dalam golongan IDT (Infrastruktur Desa Tertinggal). Dengan andalan penghasilan desa yang sama dengan desa yang lainnya, yaitu pertanian. Yang notabene harus menunggu 4 bulan untuk menangguk hasil panen. Sampai beberapa tahun kemudian pun pendapatannya hanya Rp80 juta/tahunnya. Adalah seorang Junaedhi Mulyono yang merubah Desa Ponggok dari tertinggal menjadi terkaya, dengan wisata mata air sebagai andalan penghasilannya.

Junaedhi menggandeng pihak akademika dan para ahli untuk melihat dan berusaha memaksimalkan potensi alam desa, yang salah satunya adalah air yang cukup melimpah yang mucul dari mata air. Yang pada masa lalu hanya berfungsi sebagai tempat mandi dan menuci saja. Sampai terwujudnya wisata bawah air ponggok seperti sekarang ini , dengan penghasilan desa hampir mencapai Rp16 milyar/tahunnya. Bahkan menjadi salah satu ikon wisata Kabupaten Klaten.

Direktur Bumdes (badan usaha milik desa) Ponggok, Joko Winarno, saat ditemui Mongabay pada Maret 2019 lalu, mengatakan bahwa rata-rata pengunjung ekowisata Umbul Ponggok adalah 30.000 pengunjung per bulannya dengan penghasilan Rp9 milyar/tahunnya dari umbul. Dan 65 % penghasilan desa memang datang dari sektor pariwisata. Yaitu foto bawah air yang digagas Junaedhi Mulyono, yang kemudian di jaman serba media sosial seperti sekarang ini, menjadi viral dan sangat terkenal.

Joko mengatakan lebih lanjut, bahwa pihak desa sangat menyadari, bahwa yang dilakukan desa beberapa waktu sebelumnya baru meliputi asas 2 P dari 3 P yang dianjurkan dalam pembangunan yang berkelanjutan. 2 P itu adalah “People” dan “Profit”, yang mana ini sudah terwujud dengan baik, dan mengangkat warga desa ke kehidupan yang lebih sejahtera, melalui mata airnya.

Tinggal satu P yang sekarang memang sedang dilakukan dan digalakkan pada penduduk desa, yaitu Planet, atau dengan kata lain memelihara alam desa Ponggok, sehingga bisa dinikmati oleh generasi-generasi berikutnya.

Pengelolaan yang benar akan sumber alam desa, akan menjamin kelestarian dan keberlangsungannya. Di Desa Ponggok sendiri terdapat 4 mata air, yaitu mata air Ponggok, Sigedang, Kapilaler, dan Besuki.

Masyarakat yang berbondong-bondong datang untuk mengunjungi ekowisata Umbul Ponggok, tidak hanya membawa rupiah, tetapi mereka juga membawa sampah. Dan ini menjadi titik tolak yang menggedor kesadaran kades beserta aparat desa yang lainnya, untuk memikirkan masalah keberlangsungan dan kelestarian ini.

Umbul Ponggok yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa untuk menarik wisatawan, tidak lagi diterapkan kepada umbul yang lainnya. Umbul Kapilaler misalnya, dibiarkan alami seperti apa adanya, dan memang cukup ramai juga didatangi wisatawan. Wisatawan dapat mandi dan bersnorkling di Umbul Kapilaler dengan nuansa alami, dengan ikan-ikan yang berseliweran kesana kemari, yang sengaja dipelihara di sana. Ikan-ikan yang ditebar adalah ikan-ikan yang memang sesuai dengan habitatnya.

Keterlibatan masyarakat melalui Pokdarwis, karang taruna, dan ibu-ibu PKK setempat dalam menjaga lingkungannya mulai diaktifkan. Selain menjaga agar Desa Ponggok selalu bersih dari sampah dengan tidak membuang sampah sembarangan, warga Desa Ponggok juga berusaha menanam pohon di hulu atau lereng merapi. Menurut Joko, mungkin ini sedikit sekali artinya, tapi setidaknya, warga berharap selain di desa, kelestarian juga terjaga di bagian awal atau hulunya.

Beberapa peraturan tentang kelestarian alam pun mulai digodok di desa, diantaranya adalah menerapkan peraturan desa tentang pembangunan rumah yang harus menyisakan halaman tanah sebagai serapan air.

Menjaga sungai tetap bersih pun menjadi salah satu program desa. Melalui program water defender, desa Ponggok mulai menanami sungai mereka dengan ikan. Dengan begitu pemerintah desa berharap, tidak ada lagi masyarakat yang membuang sampah ke sungai karena sungkan melihat sungainya penuh dengan ikan. Dan tim water defender juga selalu mengingatkan warga desa yang masih bandel membuang sampah ke sungai. Dilarang menyetrum ikan dan perburuan liar terutama burung, juga dilakukan di Desa Ponggok.

Selain mata air sebagai ekowisata , sektor perikanan juga menjadi salah satu andalan pendapatan desa, dan dalam hal ini ikan Nila Merah. Program satu rumah satu empang/ kolam ikan, menjadi salah satu yang didorong desa kepada warganya. Dalam seminggu, Desa Ponggok menghasilkan satu ton lebih ikan, yang diikuti juga berbagai varian produknya seperti abon ikan dan lain sebagainya.

Penghasilan desa Ponggok yang luar biasa ini, disalurkan desa untuk berbagai kesejahteraan masyarakatnya, termasuk jaminan kesehatan dan pendidikan, dengan program satu rumah satu sarjana. Bahkan Menteri Keuangan Sri Mulyani pun angkat topi untuk keberhasilan Ponggok dalam mengelola desanya.

Alam akan memberi hasil yang melimpah kepada kita, jika kita menjaganya dengan baik. Mungkin hal itu yang sedang coba diterapkan warga Ponggok terhadap alamnya. Karena Desa Ponggok yang sekarang, dari desa yang tertinggal menjadi desa yang kaya dan maju, karena berkah dari alamnya. Dan oleh sebab itu, pelestarian yang dilakukan warga Desa Ponggok sekarang ini, merupakan wujud terima kasih mereka kepada alamnya.

Continue Reading

Traveling

Bekas Pabrik Gula, Rest Area Tol Banjaratma Brebes Jadi Destinasi Favorit Pemudik

Published

on

Pemandangan Rest Area KM 260B Heritage-Banjaratma Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "5 Hal Menarik "Rest Area" Banjaratma Brebes yang Jadi Favorit Pemudik", https://travel.kompas.com/read/2019/06/11/153846827/5-hal-menarik-rest-area-banjaratma-brebes-yang-jadi-favorit-pemudik?page=1. Penulis : Retia Kartika Dewi Editor : Inggried Dwi Wedhaswary

Finroll.com – Dioperasikan sejak 17 Maret 2019 lalu, kehadiran Rest Area KM 260B Banjaratma, Brebes di Tol Pejagan – Pemalang mulai dilirik perhatian. Di musim lebaran ini, namanya mulai dibicarakan para pemudik.

Digadang-gadang sebagai rest area terindah di Indonesia, eks pabrik gula PG Banjaratma ini juga punya banyak hal menarik.

Berlokasi di Tol Pejagan – Pemalang, Rest Area KM 260B Banjaratma merupakan kreasi terbaru dari sinergi BUMN. Sebelum jadi seperti sekarang ini, dahulu rest area ini merupakan bekas pabrik gula PG Banjaratma.

Sejarahnya, dahulu eks pabrik gula itu beroperasi di tahun 1913 di bawah Belanda sebelum akhirnya harus gulung tikar di tahun 1998 akibat tingginya biaya operasional. Tak berapa lama, bangunan itu pun ditetapkan sebagai cagar budaya.

Dari yang tadinya tak terurus, sinergi BUMN pun melirik PG Banjaratma karena lokasinya yang dekat sekali dengan jalan tol. Pemugaran pun dimulai hingga saat ini walau belum beres 100%. Namun, PG Banjaratma kembali berdenyut sebagai rest area kekinian.

berikut 4 hal menarik res area Banjaratma Brebes:

1. Masjid berornamen batu bata merah

Rest Area Banjaratma, Brebes, juga menyediakan fasilitas masjid untuk pemudik atau pengunjung yang menjalankan ibadah shalat. Masjidnya dirancang dengan ornamen batu bata merah.

Bagian ventilasi masjid juga dirancang menarik, yakni celah-celah batu bata yang tersusun rapi dan terdapat di banyak tempat sehingga membuat masjid menjadi sejuk.

2. Taman dan kebun binatang mini

Di Rest Area Banjaratma ada taman berupa kebun binatang mini yang isinya buung-burung dan kelinci, tempat ini sangat menarik perhatian khusunya bagi anak-anak.

3. Bangunan bekas cagar budaya

Rest area atau Tempat Istirahat dan Pelayanan (TIP) Banjaratma jika dilihat dari fisik bangunannya memiliki ornamen klasik. Dulunya, bangunan di rest area ini merupakan bekas Pabrik Gula Banjaratma yang didirikan pada 1908 oleh perusahaan perkebunan yang berpusat di Amsterdam, Belanda, NV Cultuurmaatschappij.

Area eks tungku di Rest Area KM 260B Heritage-Banjaratma(Dok. PT PP Sinergi Banjaratma)

4. Ada Spot Instagramable, Lokomotif dan Air Mancur

Di bagian luar terdapat lokomotif lama yang dahulu digunakan untuk mengangkut tebu sebelum diolah menjadi gula dan Air mancur. Kini, setiap sudutnya tak lolos dari incaran milenial yang mencari foto Instagramable.

[berbagai sumber]

Continue Reading

Traveling

Menengok Istana Warisan Kesultanan Islam di Nusantara

Published

on

By

Islam yang diyakini masuk ke nusantara pada abad ke-7 Masehi meninggalkan warisan yang sangat banyak dan tersebar di seluruh pelosok Tanah Air. Bentuk peninggalan sejarah Islam di Indonesia juga sangat beragam karena ajaran Islam mencakup semua segi kehidupan. Sebagian besar peninggalan Islam itu merupakan hasil perpaduan budaya Islam dengan budaya setempat.

Menurut para ahli antropologi, terjadinya perpaduan budaya ini membuktikan bahwa penyebaran Islam di Indonesia dilakukan dengan cara-cara damai tanpa adanya usaha menghapuskan kebudayaan yang telah ada. Peninggalan-peninggalan sejarah Islam di Indonesia hadir dalam beragam bentuk, seperti masjid, istana, makam, kaligrafi, dan karya sastra. Untuk masjid, kita mengenal Masjid Agung Demak, Masjid Kudus, Masjid Agung Banten, Masjid Katangka (Sulawesi Selatan), dan Masjid Sunan Ampel (Surabaya).

Bagaimana dengan istana?

Istana atau keraton peninggalan sejarah Islam pun tersebar di Tanah Air, mulai dari Istana Maimun di Sumatra Utara, Istana Kesultanan Ternate dan Tidore di Maluku, Keraton Kasepuhan dan Kanoman di Cirebon, Keraton Kesultanan Yogyakarta, sampai Istana Raja Gowa di Sulawesi Selatan. Mari kita kunjungi tiga di antara istana-istana tersebut.

Keraton Kasepuhan

Keraton Kasepuhan Cirebon merupakan tapak sejarah penting. Ia merupakan pusat pemerintahan sekaligus pusat penyebaran Islam di Jawa Barat. Sekarang ini, Keraton Kesepuhan memiliki museum yang cukup lengkap, antara lain, berisi benda pusaka dan lukisan koleksi kerajaan. Salah satu koleksi yang dikeramatkan, yaitu kereta Singa Barong. Kini, kereta itu tak lagi dipergunakan dan hanya dikeluarkan tiap 1 Syawal untuk dimandikan.

Keraton Kasepuhan didirikan pada 1529 oleh Pangeran Mas Mochammad Arifin II (cicit dari Sunan Gunung Jati) yang menggantikan takhta dari Sunan Gunung Jati pada 1506. Keraton Kasepuhan awalnya bernama Keraton Pakungwati. Sebutan Pakungwati berasal dari nama Ratu Dewi Pakungwati binti Pangeran Cakrabuana yang menikah dengan Sunan Gunung Jati. Dewi Pakungwati wafat pada 1549 dalam usia sangat lanjut. Namanya lalu diabadikan sebagai nama keraton, yaitu Keraton Pakungwati yang sekarang dikenal sebagai Keraton Kasepuhan.

Secara arsitektur, bangunan dan interior Keraton Kasepuhan menggambarkan berbagai macam pengaruh, mulai dari gaya Eropa, Cina, Arab, maupun budaya lokal yang sudah ada sebelumnya, yaitu Hindu dan Jawa. Semua elemen atau unsur budaya di atas melebur menjadi satu pada bangunan Keraton Kasepuhan tersebut.

Istana Maimun

Bangunan indah ini merupakan salah satu ikon Kota Medan, Sumatra Utara. Didesain oleh arsitek Italia, istana ini dibangun oleh Sultan Deli Makmun al-Rasyid Perkasa Alamsyah pada 1888. Sebagai warisan Kesultanan Melayu-Deli, Istana Maimun didominasi warna kuning khas Melayu.

Istana ini terdiri atas dua lantai yang dibagi menjadi tiga bagian: bangunan utama, sayap kiri, dan sayap kanan. Sekitar 100 meter di depan istana, berdiri Masjid al-Maksum yang kini dikenal sebagai Masjid Agung Medan. Memiliki luas total 2.772 meter persegi, Istana Maimun kini menjadi tujuan wisata. Selain berserajah dan berusia tua, istana ini banyak dikunjungi wisatawan juga karena arsitekturnya yang unik, yakni memadukan unsur budaya Melayu dengan gaya arsitektur Islam, Spanyol, India, dan Italia.

Sekarang, Sultan Deli tak lagi memiliki kekuasaan politik. Namun, garis suksesi takhta masih terus berlanjut hingga saat ini.

Istana Raja Gowa

Masyarakat Sulawesi Selatan lebih mengenalnya sebagai Istana Balla Lompoa. Dibangun pada 1936, istana yang terbuat dari kayu ini terakhir kali ditempati oleh Raja Gowa XXXVI Andi Idjo Karaeng Lalolang.

Pada zaman dulu, istana ini berfungsi sebagai tempat kediaman dan pertemuan para pemangku adat Kerajaan Gowa. Tapi, saat ini istana dialihfungsikan sebagai museum untuk mengenang perjalanan sejarah Kerajaan Gowa. Berlokasi di Kota Sungguminasa, Gowa, istana ini bisa dicapai dengan 30 menit perjalanan dari Kota Makassar.

Kerajaan Gowa tercatat sebagai salah satu kerajaan paling tua di wilayah Indonesia ti mur, selain Kerajaan Luwu dan Kerajaan Bone. Kerajaan Gowa juga berperan besar dalam penyebaran Islam di wilayah Sulawesi. Wila yah kerajaan ini sekarang berada di ba wah Kabupaten Gowa dan beberapa bagian daerah sekitarnya. Pemimpin paling terkenal dari kerajaan ini bergelar Sultan Hasanuddin yang pernah mengobarkan Perang Makassar (1666- 1669) untuk melawan kezaliman VOC.

Continue Reading
Advertisement

Trending