Connect with us

Ragam

Bambang Sudiyono, Caleg DPR Dapil 10 Jabar Relawan Dapur Santri Indonesia

Published

on


Pemuda Ciamis Terima Caleg DPR-RI Dapil 10 Bambang Sudiyono

Jika mendengar kata relawan, hal pertama yang terlintas dibenak sebagian besar masyarakat adalah orang-orang yang membantu saat terjadinya bencana, seperti mengevakuasi korban atau membantu kebutuhan pokok-pokok saat di penampungan.

Menurut kamus Bahasa Indonesia Relawan sepadan dengan kata sukarelawan, yang artinya adalah orang yang melakukan sesuatu dengan sukarela, ikhlas, tulus bekerja tanpa ada paksaan. Menjadi Relawan adalah sebuah tugas mulia yang terpanggil dari hati untuk menolong terhadap sesama bak malaikat berwujud manusia yang ada di dunia.

Namun tugas relawan tidak hanya berada ditempat bencana Alam, banyak pilihan untuk menjadi relawan. Salah satunya seperti yang dilakukan calon legislatif DPR-RI daerah pemilihan 10 Jawa Barat nomor urut 7, Bambang Sudiyono, adalah seoarang relawan pesantren dan sangat aktif di dapur santri Indonesia.

3 tahun sudah Bambang menjadi relawan didapur santri Indonesia. Sedari usia mudanya, ia memang sudah aktif dalam bidang sosial. saat ini caleg yang diusung dari partai Gerindra tersebut aktif menjadi relawan di pesantren Ya Bunaya Ciputat Tangerang Selatan.

“Dipesantren Ya Bunaya saya sebagai koki dan mengatur makanan untuk para santri,” kata Bambang dalam keterangan tertulisnya yang diterima Finroll.com, Rabu, (5/12/2018).

Baca Juga: Bambang Sudiyono, Caleg DPR Dapil Jabar 10 Relawan Dapur Santri Indonesia

Bambang Sudiyono melakukan pekerjaan sebagai relawan dapur santri di pesantren Ya Bunaya tanpa di gaji. Ia rela dan iklas melakukan tugasnya sebagai relawan, tujuannya tidak lain karena hanya ingin menolong sesama.

Bambang Sudiyono tak hanya menjadi relawaan tapi juga menjabat sebagai ketua di dapur santri Indonesia.

Dapur santri Indonesia yang diketuai Bambang juga berperan aktif dalam membantu korban bencana, orang sakit, dan bedah rumah ustadz dengan dana dari  para donatur Yayasan Dapur Santri Indonesia yang terletak di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat.

Saat ini Bambang Sudiyono maju sebagai caleg DPR-RI dapil 10 Jabar nomor urut 7, tak lain dengan niat dan tujuan ingin membantu Buruh, Petani, Santri serta Guru jika benar terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat di pileg 2019.

“Saya akan perjuangkan nasib Buruh, stop tenaga kerja asing dan akan pulangkan yang sudah terlanjur masuk ke Indonesia lalu menggantinya dengan tenaga asli Indonesia,”Tegasnya Bambang.

Dalam visi misinya Bambang juga akan membuat jaminan hari tua untuk para buruh dan membuat program ketahanan pangan dan ketahanan energi.

Disektor bidang pendidikan, Bambang akan perjuangkan santri. Ia akan buatkan sekolah untuk santri yang membutuhkan dan anak-anak Indonesia yang tak mampu dalam mengemban pendidikan karena faktor ekonomi yang miskin.

Ia juga ingin pesantren terus berkembang dan akan perjuangkan ijazah pesantren diakuinya. Juga guru-guru yang honorer akan segera ditetapkan menjadi PNS.

“Saya ingin kembali ke undang-undang dasar 1945 yang asli bangun negeri sesuai cita-cita pendiri bangsa,”Tegasnya bambang Sudiyono caleg DPR-RI Dapil 10 Jawa Barat nomor urut 7.

Advertisement

Ragam

Lagi Ramai Bahas Unicorn, Yuk Simak Penjelasan Menteri PPN/Bappenas Ini

Published

on

Lagi Ramai Bahas Unicorn, Yuk Simak Penjelasan Menteri PPN/Bappenas Ini

Finroll.com – Selepas Debat Capres kedua hari Minggu lalu, publik diramaikan dengan istilah perusahaan startup unicorn.

Unicorn sendiri adalah sebutan untuk mendeskripsikan perusahaan privat yang telah mengantongi valuasi lebih dari US$1 miliar hingga US$10 miliar (Rp14 triliun-Rp140triliun).

Sampai saat ini, setidaknya ada empat perusahaan unicorn di Indonesia yakni Go-Jek, Bukalapak, Tokopedia dan Traveloka.

Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro memandang, keberadaan perusahaan unicorn bisa berdampak signifikan terhadap pertumbuhan perekonomian Indonesia.

Ia yakin adanya perusahaan startup unicorn di dalam negeri, secara tidak langsung telah membuktikan bisnis di Indonesia sudah bertaraf internasional.

“Jelas signifikan. Artinya, unicorn sendiri menunjukan bahwa di dalam bisnis startup tersebut ada bisnis yang sudah level internasional. Dengan market value (nilai pasar) yang besar,” paparnya di Hotel Ayana Jakarta, Selasa (19/2).

Baca Lainnya: 4 Unicorn Indonesia dan Siapa Saja List Investornya?

Pangsar pasar yang begitu besar ini jelas akan menggiurkan investor, untuk masuk ke Indonesia. Sehingga startup anak bangsa bisa semakin besar dan mendunia.

Market value yang besar pasti akan mengundang modal masuk dan kita harapkan juga kalau makin besar, dia menjadi pelaku yang semakin global,” jelasnya.

“Lalu bisa kita harapkan membawa produk kita, sehingga tidak berjaya di dalam negeri, tapi juga bisa menembus online internasional,” sambungnya.

Sementara itu Bambang tidak mempersoalkan kuantitas ideal bagi perusahaan unicorn yang harus dimiliki Indonesia.

Baginya lebih penting menciptakan startup yang berdaya saing tinggi, dan menciptakan iklim kewirausahaan asli Indonesia.

“Yang lebih penting adalah memperbaiki tingkat keberhasilan startup, daripada, masalah berapa unicorn. Kalau kita punya unicorn banyak tapi success ratio-nya rendah, berarti tidak bagus untuk mendorong kewirausahaan Indonesia,” paparnya.

Sumber: Merdeka.com

Continue Reading

Ragam

INFOGRAFIS: 4 Unicorn Indonesia dan Siapa Saja List Investornya?

Published

on

INFOGRAFIS: 4 Unicorn Indonesia dan Siapa Saja List Investornya?
(Design: Yusron. k)

Continue Reading

Ragam

Kisah Si Mangkuk Ayam Jago yang Legendaris

Published

on

Finroll.com – Bagi para penggemar kuliner berkuah seperti mie ayam, bakso, dan lainnya, mungkin tak merasa asing dengan mangkuk bergambar ayam jago.

Orang-orang berusia produktif yang tumbuh di era 70 dan 80-an pun juga familiar dengan keberadaan mangkok ini. Bagi mereka, mangkuk ayam jago bisa menjadi pengikat ingatan kolektif masa-masa menyantap bakso di warung favorit.

Zaman sekarang ini, gambar ayam jago pada mangkuk yang legendaris tersebut menjadi inspirasi para kaum muda kreatif untuk membuat beragam aksesoris. Seperti tas, kaos, topi, selendang, sarung bantal hingga selampai.

Penggemarnya pun tak kalah heboh. Mereka menunjukkan rasa bangganya dengan melakukan swafoto bersama barang-barang bergambar ayam jago

Orang-orang berusia produktif yang tumbuh di era 70 dan 80-an pun juga familiar dengan keberadaan mangkok ini. Bagi mereka, mangkuk ayam jago bisa menjadi pengikat ingatan kolektif masa-masa menyantap bakso di warung favorit.

Zaman sekarang ini, gambar ayam jago pada mangkuk yang legendaris tersebut menjadi inspirasi para kaum muda kreatif untuk membuat beragam aksesoris. Seperti tas, kaos, topi, selendang, sarung bantal hingga selampai.Penggemarnya pun tak kalah heboh. Mereka menunjukkan rasa bangganya dengan melakukan swafoto bersama barang-barang bergambar ayam jago.

Ada pula beberapa produsen alat makan yang memproduksi varian mangkuk dan piring bergambar sang ayam jago.

Melihat hal itu, produsen asli mangkuk ayam jago mengimbau agar pengusaha lain tidak menggunakan desain gambar yang sama. Ini terkait dengan hak cipta perusahaan dari PT Lucky Indah Keramik.

Kisah si mangkuk ayam jago

Di negara asalnya, Tiongkok, mangkuk ini tidak hanya tenar sebagai perangkat makan sehari-hari. Ia juga terkenal karena sering menjadi properti di film-film Hong Kong karya Stephen Chow pada tahun 90-an.

Tidak hanya itu, mangkuk ayam jago merupakan perangkat makan yang wajib digunakan sebagai ‘seserahan’ dalam upacara pernikahan di Tiongkok.

Orang Kanton biasa menyebutnya dengan Jigongwan, penduduk di wilayah Tiongkok bagian utara Gongjiwan, sementara mereka yang berdialek Minnan atau tinggal di Tiongkok bagian selatan memanggilnya Jijiaowan.

Lalu, bagaimana sebenarnya awal mula kisah si mangkuk ayam jago ini?

Kisahnya berawal pada masa Dinasti Ming periode pemerintahan Kaisar Chenghua (1465-1487). Saat itu, Sang Kaisar memesan empat buah cawan bergambar ayam jago dan ayam betina pada pengrajin keramik khusus kekaisaran di daerah Jingdezhen (Propinsi Jiangxi)–yang terkenal menghasilkan keramik untuk istana sejak abad 6 M.

Kaisar Chenghua memesan empat buah cawan keramik dengan teknik doucai, khusus untuk dirinya dan istrinya sebagai tanda cinta. Cawan tersebut terkenal dengan Jigangbei atau ‘cawan ayam’. Terdiri dari gambar ayam jago, betina, dan anak ayam yang bermakna kemakmuran. Banyak anak, banyak rejeki.

Dipuja-puja Kaisar Tiongkok

Cawan dan mangkuk ayam memiliki makna simbolis. Kata Ji, yang berarti ‘ayam’, mirip bunyinya dengan kata Jia yang bermakna ‘rumah’. Gambar tanaman peoni melambangkan kekayaan. Sementara pohon pisang dengan daun lebar bermakna keberuntungan untuk keluarga.

Kaisar-kaisar Tiongkok begitu menyukai cawan ayam jago tersebut. Di antaranya ada Kaisar Wanli (memerintah tahun 1572-1620)dan Kaisar Kangxi (memerintah tahun 1661-1722) dari Dinasti Qing. Saking menyukai cawan tersebut, mereka berani mematok harga mahal untuk gambar ayam jago.

Kaisar Qian Long (memerintah tahun 1735-1796), bahkan membuat puisi khusus yang memuja mangkuk ayam jago itu pada 1776.

Continue Reading
Advertisement

Trending