Connect with us

Business

Bagasi Pesawat Berbayar Kenaikan Tarif Terselubung

Published

on


Finroll.com  – Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi menyoroti mengenai kebijakan bagasi pesawat berbayar. Setelah maskapai Lion Air mengenakan kebijakan bagasi berbayar, hal serupa akan diikuti oleh Citilink.

Kemenhub bahkan sudah memberikan lampu hijau untuk hal tersebut dengan catatan diperlukan waktu dua minggu untuk sosialisasi.

“Bagi YLKI, ini bukan perkara sosialisasi saja, tetapi menyangkut hak konsumen yang berpotensi dilanggar,” ujar Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi kepada jppn.com, Jumat (11/1).

Sebab faktualnya pengenaan bagasi berbayar pengeluaran konsumen untuk biaya transportasi pesawat menjadi naik.

“Dengan demikian, bagasi berbayar adalah kenaikan tarif pesawat secara terselubung. Pengenaan bagasi berbayar berpotensi melanggar ketentuan batas atas atas tarif pesawat,” kata Tulus.

Karena itu, seharusnya Kemenhub bukan hanya meminta pihak maskapai untuk menunda pemberlakuan bagasi berbayar, tetapi juga mengatur besaran dan mengawasi pelaksanaan bagasi berbayar tersebut.

“Jika tak diatur diawasi, pengenaan bagasi berbayar adalah tindakan semena-mena maskapai, karena hal tersebut bisa menyundul tarif batas atas bahkan menyundul tarif maskapai yang selama ini menerapkan full services policy, seperti Garuda, dan Batik. Sementara service yang diberikan Lion Air, dan nantinya Citilink masih berbasis low cost carrier,” tutur Tulus.

Business

Sri Mulyani: Salat Rajin, Puasa Senin-Kamis, Lihat Uang Lupa Semua

Published

on

Sri Mulyani: Salat Rajin, Puasa Senin-Kamis, Lihat Uang Lupa Semua

Finroll.com – Menteri keuangan Sri Mulyani Indrawati berkesempatan menjadi pembicara dalam rakornas Aparat Pengawasan Internal Pemerintah (APIP), dengan tema “Penguatan APIP dalam mengawasi Akuntabilitas Keuangan dan Pembangunan yang Berkualitas. ”

“Peranan APIP, kita tahu aparatur pemerintah harus sama-sama menjaga tata kelola berdasarkan konteks tadi. Keuangan negara, yang berhubungan dengan uang, godaannya banyak sekali, bisa jadi sumber solusi dan bisa jadi sumber celaka,” tegasnya di Hotel Bidakara, Kamis (21/3/2019) sebagaimana dikutip cnbc.

“Banyak orang mudah tergoda uang, meski Shalat rajin, naik Haji sudah, Umrah sering, puasa Senin-Kamis, waktu lihat uang lupa semua itu. Karena manusia mudah tergoda, kita harus sadari kelemahan ini dengan pengawasan yang baik.”

Menurutnya, untuk meminimalisir ‘godaan uang’ diperlukan sistem pengawasan berlapis. Lapis pertama, dapat dilakukan dengan menunjuk orang yang memiliki dedikasi sebagai pemimpin organisasi pemerintah. Ia menjelaskan, dengan pimpinan yang tegas, jujur, dan loyal pada negara, akan membuat organisasi tersebut ‘berjalan lurus’.

Mantan direktur pelaksana bank dunia tersebut menyebutkan, saat ini kebanyakan orang tidak suka diawasi, apalagi jika sudah menduduki jabatan tinggi. Padahal, pengawasan lapis pertama harusnya berasal dari diri si pimpinan itu sendiri.

“Sistem pengawasan keuangan ada beberapa lapis. Dalam internal organisasi ada aparat internal, biasanya namanya Irjen. Sebenarnya the first of defense adalah dirinya sendiri. Di ditjen pajak, bea cukai kami bentuk kepatuhan internal. Ada kerja sama dalam bentuk pengawasan di dalam organisasi itu sendiri, sebelum dikontrol pihak lain.”

“Tapi ini di Indonesia tantangan yang berat. Kita dasarnya semua manusia tidak suka diawasi, apapun kebangsaannya tidak suka diawasi. Kalau sudah jadi pejabat, makin tinggi jabatannya makin tidak suka diawasi. Jadi sebetulnya ujian manusia paling besar dirinya sendiri, bagaimana membuat sistem yang melengkapi kita untuk bisa mengawasi kita.”

Lapis kedua, organisasi pemerintahan juga perlu diawasi pihak eksternal. Di sinilah peranan penting APIP dan lembaga pengawasan lainnya diperlukan.

“Oleh karena itu peranan APIP penting sekali. Untuk bisa laksanakan tugas itu, saya harap APIP punya profesionalisme dan kompetensi yang tinggi.”

Lapisan pengawasan terakhir yang tak kalah penting, ialah dengan memanfaatkan teknologi. Melalui teknologi pergerakan keuangan dapat dilacak dengan lengkap dan mendetail. Hal ini tentunya membuat sistem pengawasan lebih efektif dan efisien.

“Hal lain, munculnya teknologi. Hampir seluruh sistem penganggaran memasukkan sistem teknologi. […] Jadi tahu, ‘oh pengelolaan keuangan di unit ini kurang efisien atau tidak mencapai tujuan. Ini bisa diketahui lebih dini dan akurat. Kemenkeu bahkan sudah meminta beberapa kementerian-lembaga menggunakan kartu kredit, jadi bisa tahu dia beli apa, di mana, pertanggungjawaban tidak perlu ditulis lagi, karena sudah ketahuan.”

“Kita sudah uji coba dan akan launching ini secara lebih luas, agar akurasi dan akuntabilitas lebih baik, sehingga dana APBN bisa dipertanggungjawabkan,” tandasnya.

Continue Reading

Komoditi

Harga Emas Antam Naik Rp 3.500, Jadi Rp 671 Ribu Per Gram

Published

on

Harga Emas Antam

Finroll.com – Kamis, (21/3/2019), Nilai jual logam mulia atau emas batangan milik PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) naik Rp3.500 per gram Jadi Rp 671 Ribu per gram. Sebelumnya pada perdagangan kemarin Rabu, (21/3) Rp667.500 per gram.

Sementara itu, harga Buyback (beli kembali) emas Antam dibanderol di harga Rp 596.900 per gram. Harga buyback tersebut juga naik Rp 4.000 dibandingkan dengan harga buyback Rabu kemarin.

Berikut daftar harga jual emas Antam yang dilansir situs Antam Kamis, (21/3):

Pecahan 0,5 gram: Rp358.250

Pecahan 1 gram: Rp667.500

Pecahan2 gram: Rp1.284.000

Pecahan 3 gram: Rp1.904.500

Pecahan 5 gram: Rp3.157.500

Pecahan 10 gram: Rp6.250.000

Pecahan 25 gram: Rp15.605.000

Pecahan 50 gram: Rp31.135.000

Pecahan 100 gram: Rp62.200.000

Pecahan 250 gram: Rp155.250.000

Pecahan 500 gram: Rp310.300.000

Pecahan 1.000 gram: Rp620.600.000

Baca Juga: The Fed Ambil Sikap Tidak Akan Naikan Suku Bunga Pada 2019

Continue Reading

Business

The Fed Ambil Sikap Tidak Akan Naikan Suku Bunga Pada 2019

Published

on

The Fed Ambil Sikap Tidak Akan Naikan Suku Bunga Pada 2019

Bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve (The Fed) mengambil sikap kebijakan kurang agresif usai menggelar pertemuan selama dua hari.

Hal ini menunjukkan the Fed tidak akan menaikkan suku bunga pada 2019 di tengah ekonomi yang melambat dan mengumumkan rencana akhiri program pengurangan neraca pada September.

The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga acuan dalam kisaran 2,25 persen-2,5 persen.

Suku bunga acuan ini digunakan sebagai kunci untuk menentukan suku bunga untuk sebagian besar utang konsumen dengan tingkat bunga yang dapat disesuaikan antara lain kartu kredit dan pinjaman rumah.

Langkah the Fed sesuai harapan dan permintaan pasar. Pembuat kebijakan Federal Open Market Committee (FOMC) mengambil perubahan tajam dari proyeksi kebijakan sebelumnya.

The Fed kembali menegaskan janjinya untuk sabar terhadap kebijakan moneternya. Selain itu, the Fed menyatakan akan mulai perlambat pengurangan kepemilikan obligasi pada Mei dengan menurunkan batas bulanan menjadi USD 15 miliar dari USD 30 miliar.

Dengan pengumuman yang digabung berarti setelah pengetatan kebijakan moneter pada tahun lalu, the Fed berhenti pada kedua sisi untuk menyesuaikan pertumbuhan global yang lebih lemah dan pandangan agak lebih lemah untuk ekonomi AS.

“Mungkin perlu beberapa waktu sebelum prospek lapangan kerja dan inflasi jelas menyerukan perubahan kebijakan. Kami melihat tidak perlu terburu-buru untuk segera melakukan,” ujar pimpinan the Fed, Jerome Powell, seperti dikutip dari laman Reuters, Kamis (21/3/2019).

Perkiraan ekonomi terbaru yang dirilis pada akhir pertemuan juga menunjukkan para pembuat kebijakan telah mengabaikan proyeksi kenaikan suku bungada 2019, dan melihat hanya satu kenaikan suku bunga pada 2020.

Usai pengumuman itu, kontrak berjangka the Fed Fund mulai memberi harga untuk peluang penurunan suku bunga lebih baik dari pada tahun depan. Powell mendorong kembali pada pandangan itu dan mengatakan ekonomi AS berada di tempat yang baik dan prospeknya “positif”.

The Fed Cermati Brexit hingga Perang Dagang

Akan tetapi, ia menuturkan ada risiko yang sedang berlangsung termasuk keluarnya Inggris dari Uni Eropa, pembicaraan perdagangan AS dengan China, dan prospek ekonomi AS. The Fed mengawasi hal itu dengan cermat.

“Data saat ini tidak mengirimkan sinyal kalau kita perlu bergerak ke satu arah atau lainnya, dalam pandangan saya. Ini saat yang tepat bagi kita untuk bersabar,” tutur dia.

Indeks saham AS menguat usai pernyataan the Fed dirilis, dan imbal hasil surat berharga turun ke level terendah sejak awal Januari. Dolar AS melemah terhadap mata uang mitra dagang utama.

“The Fed melampaui ekspektasi dovish pasar yang berdampak terhadap dolar AS. The Fed melakukan banyak hal tentang kebijakan. Fakta the Fed menyerah pada kenaikan suku bunga 2019 adalah sangat dovish,” ujar Analis Western Union Business Solutions, Joe Manimbo.

sumber: liputan6

Continue Reading
Advertisement

Trending