Connect with us

Business

Bagasi Pesawat Berbayar Kenaikan Tarif Terselubung

Published

on


Finroll.com  – Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi menyoroti mengenai kebijakan bagasi pesawat berbayar. Setelah maskapai Lion Air mengenakan kebijakan bagasi berbayar, hal serupa akan diikuti oleh Citilink.

Kemenhub bahkan sudah memberikan lampu hijau untuk hal tersebut dengan catatan diperlukan waktu dua minggu untuk sosialisasi.

“Bagi YLKI, ini bukan perkara sosialisasi saja, tetapi menyangkut hak konsumen yang berpotensi dilanggar,” ujar Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi kepada jppn.com, Jumat (11/1).

Sebab faktualnya pengenaan bagasi berbayar pengeluaran konsumen untuk biaya transportasi pesawat menjadi naik.

“Dengan demikian, bagasi berbayar adalah kenaikan tarif pesawat secara terselubung. Pengenaan bagasi berbayar berpotensi melanggar ketentuan batas atas atas tarif pesawat,” kata Tulus.

Karena itu, seharusnya Kemenhub bukan hanya meminta pihak maskapai untuk menunda pemberlakuan bagasi berbayar, tetapi juga mengatur besaran dan mengawasi pelaksanaan bagasi berbayar tersebut.

“Jika tak diatur diawasi, pengenaan bagasi berbayar adalah tindakan semena-mena maskapai, karena hal tersebut bisa menyundul tarif batas atas bahkan menyundul tarif maskapai yang selama ini menerapkan full services policy, seperti Garuda, dan Batik. Sementara service yang diberikan Lion Air, dan nantinya Citilink masih berbasis low cost carrier,” tutur Tulus.

Business

Mata Uang Digital Facebook Dianggap Berbahaya, Kenapa?

Published

on

By

Finroll.com   – Libra adalah mata uang digital atau cryptocurrency yang baru saja diluncurkan Facebook. Namun belum-belum, kritikan sudah berdatangan. Libra bisa saja menjadi sarana pengintaian paling berbahaya yang dimiliki Facebook.

Reputasi Facebook soal privasi pengguna memang terganggu sejak mencuatnya skandal Cambridge Analytica, di mana data pribadi jutaan pengguna Facebook bocor. Nah, Libra dicemaskan bakal dieksploitasi oleh Facebook untuk mengintip data finansial pengguna.

“Jika Anda khawatir Facebook tahu terlalu banyak atau punya akses terlalu besar pada data pribadi, Libra akan memberikan Facebook lebih banyak lagi akses langsung ke informasi finansial Anda,” klaim Phil Chen, pakar cryptocurrency yang merancang ponsel blockchain HTC.

“Bukan cuma akses pada informasi transaksi, tapi akses langsung pada kekayaan Anda. Libra adalah bentuk pengintaian paling invasif dan berbahaya yang mereka desain sejauh ini,” tandasnya seperti dikutip dari Independent.

Bersama Facebook, 27 perusahaan terlibat dalam proyek Libra dalam organisasi Libra Association, termasuk PayPal, Mastercard, Visa, Uber sampai Spotify. Libra diklaim membantu 1,7 miliar orang yang belum punya akses perbankan. Nantinya, user bisa download Calibra, dompet digital yang akan memungkinkan pengguna mengirimkan ke siapapun via smartphone.

Menurut George McDonaugh, co founder perusahaan investasi blockchain KR1, Libra sebenarnya untuk mengumpulkan lebih banyak informasi berharga. “Facebook dan perusahaan pendukung Libra melakukan hal ini untuk satu alasan dan itu adalah data,” klaimnya.

“Libra akan menjadi bank bagi yang belum punya bank, merevolusi pembayaran dan menghubungkan dunia. Tapi jangan bodoh. Langkah menuju dunia cryptocurrency ini adalah tentang data, minyak di dunia modern,” papar George.

Menurut dia, Facebook melalui Libra bisa mengetahui siapa user, apa yang mereka beli, siapa yang dibayar user dan seberapa banyak uang yang dimiliki. Belum ada tanggapan dari Facebook soal kritikan tersebut.

Continue Reading

Business

Rumah di Bawah Rp 30 M Bebas Pajak Barang Mewah

Published

on

By

Finroll.com – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati baru saja menandatangani Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 86/PMK.010/2019 tentang Perubahan atas PMK Nomor 35/PMK.010/2017 tentang Jenis Barang Kena Pajak Yang Tergolong Mewah Selain Kendaraan Bermotor Yang Dikenai Pajak Penjualan atas Barang Mewah.

Dalam Lampiran I PMK Nomor 86/PMK.010/2019 itu disebutkan, daftar jenis barang kena pajak yang tergolong mewah selain kendaraan bermotor yang dikenai PPnBM dengan tarif sebesar 20%.

“Kelompok hunian mewah seperti rumah mewah, apartemen, kondominium, town house, dan sejenisnya dengan harga jual sebesar Rp 30.000.000.000,00 (tiga puluh miliar rupiah) atau lebih,” bunyi Lampiran I PMK tersebut.

Sebelumnya pada PMK Nomor 35/PMK.010/2017 disebutkan hunian mewah dan sejenisnya yang kena PPnBM yakni Rp 20 miliar. Seperti ini aturan sebelumnya : Kelompok hunian mewah seperti rumah mewah, apartemen, kondominium, town house,dan sejenisnya;

  • Rumah dan town house dari jenis non stratatitle dengan harga jual sebesar Rp 20.000.000.000,00 (dua puluh miliar rupiah) atau lebih;
  • Apartemen, kondominium, town house dari jenis stratatitle, dan sejenisnya dengan harga jual sebesar Rp 10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) atau lebih.

Dengan aturan baru tersebut maka kata lainnya: hunian mewah di bawah Rp 30 miliar akan terbebas dari PPnBM.

“Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan,” bunyi Pasal II PMK Nomor 86/PMK.010/2019 yang diundangkan oleh Dirjen Peraturan Perundang-undangan Kementerian Hukum dan HAM, Widodo Ekatjahjana, pada 11 Juni 2019.

Continue Reading

Ekonomi Global

Kemesraan Trump-Xi Dongkrak Harga Minyak

Published

on

FINROLL.com – Setelah melesat lebih dari 3% kemarin, harga minyak mentah dunia masih terus merangkak naik. Harapan perbaikan hubungan dagang Amerika Serikat (AS)-China terbukti menjadi obat yang manjur di pasar minyak global.

Pada perdagangan Rabu (19/6/2019) pukul 09:00 WIB, harga minyak Brent naik 0,29% ke US$ 62,32/barel. Sementara harga light sweet (WTI) menguat 0,43% menjadi US$ 54,13/barel.

Sehari sebelumnya, harga Brent dan WTI ditutup melesat masing-masing sebesar 1,97% dan 3,79%.

Melalui akun Twitter pribadinya, Presiden AS Donald Trump memberi kabar baik perihal hubungannya dengan Presiden China Xi Jinping.

“Telah melakukan percakapan telepon yang sangat baik dengan Presiden China, Xi. Kami akan melakukan pertemuan tambahan pekan depan pada G-20 di Jepang. Tim kami masing-masing akan memulai pembicaraan sebelum pertemuan,” tulis Trump, Selasa (18/6/2019).

Hanya dengan kabar tersebut, pelaku pasar kembali sumringah. Ternyata perundingan dagang masih akan terus berlanjut. Meskipun kesepakatan yang benar-benar dapat mengakhiri perang dagang agaknya masih jauh, setidaknya risiko eskalasi dapat dihindari.

Pasalnya, Trump sudah berkali-kali menyatakan keinginannya untuk mengenakan tarif baru sebesar 25% pada produk China senilai US% 325 miliar, yang mana sebelumnya bukan objek perang dagang. Bahkan sudah ada kajian tentang dampak implementasi tarif tersebut terhadap konsumen di AS

“Permintaan minyak mentah global mendapat dorongan atas ekspektasi bahwa dialog dagang (AS-China) menunjukkan sinyal positif setelah cuitan Presiden Trump,” ujar Edward Moya, analis pasar senior OANDA, mengutip Reuters.

Di sisi lain, ketegangan Timur Tengah yang masih tinggi juga memberi tarikan ke atas pada harga minyak. Trump mengatakan bahwa AS sudah bersiap untuk mengambil langkah militer demi mencegah pengembangan senjata nuklir oleh Iran.

Kekhawatiran konfrontasi AS-Iran telah meningkat sejak pekan lalu, setelah terjadi penyerangan pada dua kapal tanker di perairan dekat Selat Hormuz. Berbagai negara menuduh Iran sebagai pihak yang bertanggung jawab atas penyerangan tersebut.

Adanya konflik menimbulkan kekhawatiran atas produksi minyak di sejumlah titik yang akan mengganggu ketersediaan pasokan. Terlebih Timur Tengah merupakan wilayah penghasil minyak terbesar di dunia.

Sementara itu, Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya tengah mendiskusikan tanggal pertemuan. Sumber dari OPEC mengatakan bahwa Iran menyarankan pertemuan diundur hingga 10-12 Juli 2019. Jauh hari sebelumnya, pertemuan tersebut direncanakan pada 25-26 Juni 2019.

Pada pertemuan tersebut, kelanjutan kebijakan pengurangan produksi minyak akan diputuskan. Sebagai informasi, awal Desember 2018, OPEC dan sekutunya telah sepakat untuk memangkas produksi minyak hingga 1,2 juta barel/hari sepanjang periode Januari-Juni 2019.

Continue Reading
Advertisement

Trending