Connect with us

Citizen Journalism

Al Fateka ala Jokowi, Perlukah Dipermasalahkan?

Published

on


Suka atau tidak, sosok seorang presiden itu bagaikan seorang mega selebritis sehingga publik, dalam hal ini rakyat yang ia pimpin, mengharapkan kesempurnaan dari dirinya. Mulai dari intelektualitasnya, gaya komunikasi dan kepemimpinannya, bahkan tak jarang penampilan fisik, gaya busana maupun keluarganya berada di bawah lampu sorot rakyat, media dan lawan politiknya.

Demikian pula yang terjadi di Indonesia. Sejak republik ini berdiri, sosok presiden pertama yaitu Ir. Soekarno dipandang bagaikan dewa. Cara dia berorasi yang selalu berapi-api, peci hitam, jas dan senyum khasnya hingga kehidupan pernikahannya yang diisi kisah multi poligami seakan tak akan pernah lepas dari kenangan bangsa ini meskipun waktu sudah berlalu hampir lima puluh tahun sejak beliau wafat.

Kini Ir. Joko Widodo atau akrab dipanggil Jokowi, presiden Republik Indonesia ke-7, juga terus mendapat sorotan rakyatnya, baik yang pro maupun kontra terhadapnya. Apalagi di era digital seperti ini, sulit rasanya untuk menghindari tatapan dan penilaian rakyat Indonesia. Bukan hanya gerak-gerik penampilan dan pidato secara langsung, status dan komentarnya di media sosial pun selalu dipantau oleh publik.

Jokowi memang bukan berasal dari partai religius dan Islamis, beliau berlatar belakang pebisnis dan menjadi kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang terkenal sebagai partai berpaham nasionalis. Jadi mungkin Jokowi kecil pun tidak mengenyam banyak pendidikan Islam dari keluarga atau lingkungan sekitarnya. Namun demikian dari beberapa penampilan publiknya, Jokowi cukup memiliki dasar keislaman, setidaknya insya Allah beliau tetap mendirikan sholat dan masih bisa me-lafadz-kan bahasa Arab meskipun jelas lidah beliau tidak fasih dalam pengucapannya.

Pada 7 Oktober silam, Jokowi menyampaikan sambutannya pada acara pembukaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional ke-27 di Deli Serdang, Sumatera Utara. Di sinilah pangkal dari kegaduhan publik belakangan ini, terutama di dunia maya. Pada sambutannya di perhelatan tahunan tersebut, Jokowi mengajak para hadirin untuk membacakan surat Al Fatihah bagi para korban yang selamat dari musibah bencana alam baru-baru ini.

Masyarakat menjadi geger karena saat itu beliau menyebut, “Ala hadihinniyat Al Faateka” yang terjemahan bebasnya adalah dengan niat tersebut (menghadiahkan/mendo’akan para korban bencana tersebut) bermohon kepada Allah swt melalui keutamaan dan keberkahan yang terkandung di dalam surat Al Fatihah.

Pokok permasalahannya adalah Jokowi menyebut nama surat tersebut Al Faateka/Fateka sehingga sebagian hadirin maupun publik yang melihat videonya menjadi tertawa atau minimal tersenyum. Bukan berarti menghina sang presiden, tapi menurut penulis penyebutan Al Fateka memang salah walaupun dapat dipahami surat mana yang dimaksud beliau.

Kisah Al Fateka pun segera viral dan menjadi bahan perbincangan sekaligus gunjingan di tengah masyarakat bahkan sebagian mengaitkannya dengan berbagai tudingan negatif yang seringkali menimpa sang presiden, terlebih di tahun politik ini. Seperti disebut di atas, segala gerak-gerik dan ucapan presiden pasti masuk di dalam pantauan radar rakyat Indonesia yang sedang dalam masa pertimbangan siapakah yang pantas menjadi pemimpin mereka di sepanjang tahun 2019-2024.

Berkaitan dengan polemik tersebut, beberapa ustadz terutama yang memiliki dasar pendidikan bahasa Arab menjelaskan bahwa Al Qur’an diturunkan dengan 7 aksen/dialek Arab yang berbeda namun tidak mengubah makna dasar dari kata atau kalimat yang terkandung di dalam setiap ayat di Al Qur’an. Ada dialek Arab yang mengubah huruf “a” menjadi “e” sehingga kata dhuha (dluha dalam transliterasi lain) menjadi dhuhe namun maknanya tetap sama yaitu waktu dhuha (beberapa saat setelah matahari terbit hingga menjelang waktu sholat dzuhur). Yang umum terdengar adalah dialek Arab Lebanon yang mengubah ana (saya) menjadi ane.

Salah satunya adalah Dr. Miftah el-Banjary, seorang dosen ilmu semantik Arab, yang melalui sebuah website Islam terkemuka di negara ini, menjelaskan bahwa bahasa Arab adalah bahasa yang sangat kaya dengan kosa kata dan satu huruf atau tanda baca saja dapat mengubah makna dari kata tersebut. Singkatnya menurut sang dosen, Al-Fatihah bermakna “Pembuka” sedangkan Al-Fatika/al-Fateka bermakna “Kesewenangan, “Membunuh” dan “Kekerasan”. Jadi jelaslah karena kesalahan pengucapan nama surat yang terletak di awal Al Qur’an tersebut menimbulkan perbedaan makna yang jauh bagai langit dan bumi.

Lalu apakah sebagai rakyat Indonesia dengan adat ketimuran yang santun kita pantas untuk menjadikan Al Fateka a la Jokowi sebagai bahan untuk mencelanya? Penulis bisa jadi bukan pendukung Jokowi namun menurut penulis, tak sepatutnya pula para oposan, juga publik pro Jokowi yang mulai mencari kesalahan serupa dari beberapa tokoh di kubu lawannya, menjadikan kesalahan pengucapan ini sebagai bahan untuk terus memanaskan suasana menjelang pemilihan presiden tahun depan.

Mantan gubernur DKI itu memang salah saat menyebutkan Al Fateka namun bukankah sebaiknya semua pihak yang memahami cara penyebutan yang benar, terutama para tokoh agama di dekatnya, membantu beliau dan muslim manapun yang untuk sama-sama secara bertahap mempelajari makhorijul huruf (pelajaran pengucapan huruf/kata) dengan baik dan benar dalam bahasa Arab agar tidak lagi terjadi kesalahan pengucapan di masa mendatang karena tanpa disadari bisa dapat sangat mengubah maknanya.

Jokowi adalah orang Jawa yang dengan dialeknya seringkali mengucapkan huruf “ha” dalam bahasa Arab menjadi “ka”. Penulis pun sering mendengar pula orang Jawa lainnya, sebagian dari keluarga sendiri, yang mengucapkan bismillahirokmanirokiim, memang salah namun dapat dipahami maksudnya. Kebiasaan salah pengucapan satu atau beberapa kata yang terbentuk sejak masa kecil memang hal yang wajar tapi bukan berarti menjadi alasan untuk berhenti memperbaikinya.

Jadi alangkah baik dan bijaksananya jika Jokowi, demi kesempurnaan keislaman dan kewibawaannya di mata mayoritas muslim yang menjadi elemen terbesar bangsa ini, secara perlahan namun pasti dan istiqomah (konsisten) terus belajar berbagai aspek di dalam Islam, apalagi kini beliau semakin lengket dengan seorang ulama besar di negeri ini.

Citizen Journalism

Balada Kader Tarbiyah Kurang Ilmu Tapi Giat Menebar Ilmu. Patutkah?!

Published

on

Beberapa tahun yang lalu, seorang teman mengajak saya untuk mengikuti sekolah tahsin bergenre (baca: rasmul) Ustmani. Tujuannya tentu saja untuk memperbaiki bacaan dan khat Alqur’an kami.

Beliau mendahului saya mengikuti test masuk yang dipandu langsung oleh salah satu Qiyadah kami. Hasil test menunjukan beliau bisa memulai kelas dari level 4. Ustadzah penguji memujinya dengan mengatakan:

“kamu pasti rajin liqo yaaa, bacaannya sudah bagus, tapi butuh perbaikan lagi di bla..bla…bla.”

Saya pun tak sabar ingin mengikuti test. Saya ingin tahu kira-kira saya dapat level berapa. Kawan-kawan yang saya kenal di tarbiyah hampir semuanya masuk level 4. Saya tambah penasaran. Hehehe.

Fyi, waktu itu saya sudah memegang beberapa gerbong kajian non partisan. Satu grup pengajian ibu-ibu, satu grup pengajian remaja dan satu grup pengajian anak-anak. Semuanya free tanpa iuran. Dan tak pernah sekalipun saya masukin unsur-unsur politik dalam pengajian kami. Meski mereka tahu saya orang Partai Kesayangan Semua, tak sekalipun saya ajak mereka masuk partai tersebut.

Kata “belum waktunya” menjadi alasan saya ketika struktur menanyakan mengapa mereka belum kunjung saya “tarik” ke dalam. Namun dalam hati, saya memang ingin semua berjalan alami. Mengalir apa adanya. (Piss, bos!)

Dalam hati saya menyakini. Mereka kan sudah tahu kalau saya kader partai keren sekali itu. Jika mereka lihat ada kebaikan dari menjadi kader partai seperti saya bagi diri mereka, saya yakin mereka akan mengikuti tanpa diminta. Kenapa? Karena saya yakin sekali bahwa menjadi PKS (yah kesebut. Maafin yaa. Capek nyari singkatan 😅) adalah sebuah jalan kebaikan yang menebar kebaikan. Jadi tinggal tunggu Allah yang membukakan pintu hati dan jalan bagi mereka untuk bergabung.

Begitu pula dengan kawan sepermainan. Di dunia nyata, tak satupun ada yang secara frontal saya ajak masuk PKS. Kalo pilih PKS sih iya. Hahaha. Biarlah semua mengalir, apa adanya. Mereka punya mata, punya hati. Bisa menilai sendiri betapa bocor, ceroboh, cekakakan dan awut-awutannya saya. Loh koq?! 😅

Oke, kembali ke masalah tahsin.

Sebenarnya pendaftaran kelas sudah ditutup, namun lewat rekomendasi seorang teman, saya masih diperbolehkan untuk mengikuti ujian masuk. Saya diuji langsung oleh Ustadzah kabir yang namanya sudah sering sekali saya dengar bahkan pernah saya ikuti beberapa kajiannya. Beliau rupanya juga pemilik lembaga pendidikan tahsin yang mau saya ikuti. Ada perasaan grogi saat berkenalan. Merindingggg. Tapi saya mencoba santai. Hingga keluarlah hasil test saya.

Masya Allah. Ustadzah bilang saya harus mengulang dari level 1. 😱 Bacaan saya banyak salah, berantakan. Mengucap “Basmallah” pun belum benar. Tentu saya cukup kaget dan terpukul mendengarnya. Kawan-kawan yang saya beritahu pun merasa heran. “Koq bisa, Ra?!” Yaaa, manaa ku tahu 😥.

Saya pun mulai menimbang-nimbang untuk jadi mengikuti kelas atau tidak. Saya kesal, namun kebesaran nama sang Ustadzah disamping beliau pemegang sertifikat rasm Ustmani yang menjadi pemilik rumah tahsin tersebut membuat saya gentar untuk meragukan penilaian beliau.

Akhirnya saya mendapat kelas yang dimulai pukul 6 pagi. Tak boleh terlambat. Ada denda yang harus dibayar setiap menit jika datang terlambat. Sabtu pagi ba’da shubuh saya langsung menggeber sepeda motor saya ke arah Rawajati. Saya ingin datang lebih awal, selain karena tak ingin terlambat saya juga tak mau kelas lambat memulai yang akhirnya lambat juga selesai. Karena setelah tahsin, saya masih berkewajiban untuk hadir di liqo-an. Sungguh embuhhh. Kadang bantal di hari libur lebih menggoda…😓

Hal yang tak saya duga dari penghuni kelas tersebut rata-rata bacaannya sudah bagus-bagus. Khat-nya juga Masya Allah. Rata-rata dapat nilai sempurna dalam menulis. Banyak juga yang seumuran dengan saya waktu itu. Bahkan ada juga yang lebih muda. Saya yang tadinya mau songong jadi minder. Kalau kayak mereka-mereka ini dapat level 1. Apalah saya ini.😵

Dari 12x pertemuan yang diwajibkan, kami hanya boleh izin 3x. Lebih dari itu tak diperkenankan untuk ikut ujian kenaikan tingkat. Saya sukses hanya hadir 6x. Hahaha. Ada acara dan tugas-tugas lain yang tidak bisa (baca: mau) saya hindari. Saya pun pasrah. Saya yakin tak boleh ikut ujian dan harus mengulang kelas dari awal lagi. Biarlah.

H-1, saya pastikan ke guru kelas kalau saya tak akan hadir di ujian. Beliau bilang akan coba ditanyakan dulu ke Ustadzah. Saya bilang: “Gak usah repot-repot, Mbak. Palingan suruh ngulang. Tapi boleh juga deh ditanyain dulu, saya tunggu kabarnya. Hehehe.” *masih ngarep.

Dan ternyata saya boleh hadir ujiaaannnn. Padahal di kelas lain yang 4x izin aja sudah dapat ketetapan gak boleh ikut ujian. Saya yang 6x koq bolehhh. Canggih kannn. Saya pun senyum-senyum.

Saya datang ke tempat ujian dengan cengengesan karena yakin tak akan diluluskan. Wong, jarang masuk. Banyak materi yang ketinggalan dan guru kelas pun geleng-geleng setiap kali datang, saya bilang “maaf, aku belum ngerjain PR, Mbak. Boleh ngerjain disini gak?” Hehe.

Kami diuji satu per satu. Saya perhatikan wajah-wajah kawan yang keluar dari ruangan ujian rata-rata pingin nangis. Mengeluh susah banget soalnya dan menebak score berapa. Karena score tertinggi itu 80 dan untuk dinyatakan lulus butuh 77. Edan kata saya. Salah 3 ajah gak lulus. Pliss deh 😑

Saya masuk ruang ujian dengan gontai. Soal pertama, salah… soal kedua dan ketiga saya yakin juga salah. Ke empat dan kelima saya sudah gak pake mikir bacanya. Sama seperti saya baca sehari-hari saja. Bodo amatlah. Soal keenam, ketujuh dan seterusnya sampai soal ke 15, kepala saya sudah muter-muter. Saya putus asa karena yang saya dengar dari mulut Ustadzah hanya kata “ulang, ulang, dan ulang”. Oh iya, di masing-masing soal kami diberi kesempatan 3x untuk mengulang bacaan sampai benar. Jika sudah 3x mengulang dan tetap salah, maka score hilang.

Selesai ujian, saya keluar ruangan dan langsung tancap gas. Pulanggggg. Minum air segelas, ambil napas panjang dan cabut lagi ke tempat liqo. Disana kawan-kawan liqoan yang dari semalam rame doain saya biar lulus langsung nanya-nanya hasil ujian. Saya ceritakan “kebodohan” saya dan mereka semua tertawa. Eman benar. Bukannya dihibur malah pada ngetawain. Sungguh terlalu. Huh! 😥

Beberapa hari kemudian saya diminta datang untuk mengambil hasil ujian. Waktu itu sekalian ada kajian dari Ustadzah yang sudah melanglang buana ke luar negeri karena bacaan Alqur’annya yang bagus banget. Hafizah 30 juz. Masya Allah….

Saya buka lembar hasil ujian saya. Saya pun bingung. Saya hubungi guru kelas, mungkin hasilnya tertukar sama si anu. Dia bilang dia gak lulus, harusnya saya yang gak lulus. Bu guru bilang, itu sudah betul hasilnya. Saya ngotot ini salah. Beliau lebih ngotot lagi bilang kalau itu sudah benar. Saya pun bengong, nilai yang tertera di lembaran nyaris sempurna. Apa iya?!

Saya pun gamang. Dulu pertama kali datang kesini, saya merasa sudah jago bener mengaji dan ternyata dapat pukulan telak ditempatkan di level 1. Sekarang saat saya merasa paling “bodoh” dan malas koq malah dapat nilai sangat bagus kayak gini. Ah, duniaaa…. oh, prasangkaaaa….

Kemudian saya mendengarkan ceramah Ustadzah keren nan jelita di hadapan saya. Beliau mengatakan tentang pentingnya menuntut ilmu dan mengamalkan ilmu-ilmu yang kita peroleh di rumah tahsin ini ke masyarakat sekitar. Saat tiba waktu sesi tanya jawab. Saya pun bertanya dan mengeluarkan uneg-uneg saya selama ini.

” Assalammualaikum, Ya, Ustadzah. Perkenalkan saya, bla..bls..bla… Sungguh selama ini saya galau dan tertekan. Selama ini saya diminta oleh kawan-kawan dan pejabat masyarakat untuk mengajar ngaji. Ada grup Ibu-ibu, remaja dan anak-anak yang tinggal di pinggiran kali ciliwung. Saya malu Ustadzah, saya mulai berpikir bahwa tak cukup ilmu saya untuk mengajari mereka ini-itu. Tak pantas saya menjadi guru mereka. Ustadzah tahu sendiri, saya baru level 1. Ini naik ke level 2 juga atas belas kasihan kayaknya. Hahaha. Jadi bagaimana Ustadzah? Apakah tindakan saya membubarkan pengajian yang saya pegang tersebut dapat dibenarkan? Sungguh saya tak enak hati, saya mencari berbagai alasan kayak band malaysia exist untuk berhenti mengajar. Saya pun berusaha mencari pengganti yang sekiranya lebih pantas dan lebih berilmu dari saya. Tapi belum juga dapat. Akhirnya ya kelas gak jalan-jalan. Sekalian juga saya bilang disini kalau ada kawan-kawan dan para guru yang berkenan mengajar di lingkungan saya, sungguh saya sangat berterimakasih. Tapi mohon maaf kalau belum ada kompensasinya. Bagaimana menurut Ustadzah?”

Sang Ustadzah pun menjawab:

“Saya panggil kamu “Mbak” saja ya bukan “Ibu” karena sepertinya masih muda sekali. (*uhuyyy dalam hatiku).

Begini ya, Mbak. Kamu harus banyak-banyak bersyukur karena diperkenalkan dengan rumah tahsin disini. Tempat dimana kamu bisa menempa ilmu yang selama ini kamu dipandang lemah. Dari sekian banyak akhwat dan guru, Allah memilih kamu, Mbak. Kamu yang dipilih Allah untuk hadir ditengah-tengah masyarakat, mengajar kalam-Nya. Adalah sebuah kesalahan besar ketika kamu malah memutuskan untuk berhenti lalu membubarkan pengajian yang kamu bina. Hayoo istighfar duluuu.

Ilmu bisa dicari sambil diamalkan. Kamu dapat dan pahami sedikit dari sini, kamu bisa langsung sampaikan disana. Begitu seterusnya. Sampaikanlah walau hanya satu ayat. Artinya sampaikanlah apa-apa saja yang sudah kamu bisa dan pahami.

Kalau makhroj hurufmu baru sempurna sampai huruf “kho” ya ajarkan saja sampai huruf “kho”. Sambil kamu terus belajar disini. Jangan pernah melepaskan kesempatan ini atau memberikannya kepada orang lain. Allah itu sudah memilih kamu.

Mungkin banyak yang lebih pintar dari kamu, tapi karena satu atau lain hal Allah urung memilihnya. Mungkin karena ia sudah sibuk mengajar di tempat lain, mungkin tak mau mengajar di tempat-tempat yang kamu ceritakan, atau mungkin banyak kerjaan lain atau apalah. Maka dari itu, tetaplah kamu genggam kesempatan untuk beramal baik yang datang kepadamu. Terus asah dirimu untuk menjadi lebih baik di tempat ini. Dan berbagilah pengetahuan dengan mereka-mereka yag sudah Allah pilihkan ada dalam hidupmu.

Mbak, sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang brlajar dan mengajarkan Alqur’an.

Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.

Berlomba-lombalah dalam kebaikan.

Jangan karena merasa kurang ilmu, lalu kamu lepaskan kesempatan untuk beramal baik, kamu berhenti untuk menyampaikan kebaikan, dan menunggu orang lain melakukannya dengan bersembunyi dibalik alasan keterbatasan diri bahkan dalil fardhu kifayah.

Jangan juga merasa inferior melihat orang yang ilmunya banyak dan lebih pantas dijadikan guru dibanding kamu sehingga kamu melipir. Berhenti menebar manfaat dengan alasan mau nyari ilmu dulu yang banyak. Padahal yang banyak ilmunya belum tentu juga mau mengamalkan. Dan belum tentu juga kamu punya kesempatan untuk mengamalkan ilmu nanti disaat kamu sudah merasa berilmu. Lah, kalau umurmu tak panjang bagaimana? Jangan sampai di akhirat kamu malah menyesal nantinya.”

Habislah saya disadarkan (baca: diomelin) oleh sang Ustadzah dengan logat jawanya yang kental sekali.

Tuh yaa, dengerinnn. Jangan sampai harus diomelin dulu kayak saya baru sadar. Jangan sampe nyesel deh kawan-kawan. Berbuat kebaikan ke orang laen jangan diberhentiin sampe bab niat doang. Belajar mah kudu. Seumur hidup kalo bisa. Nah menyebarkan ilmu juga harus. Biar sedikit asal manfaat kan gak masalah. Gak harus nungguin gelar, nanti malah bendera kuning yang duluan berkibar. Ih, ngeriiii 😭

Continue Reading

Citizen Journalism

Kisah Cinta Presiden RI yang Bikin Meleleh

Published

on

Kisah cinta presiden RI dengan pasangannya selalu saja jadi topik yang menarik. Di balik sepak terjangnya menjadi pemimpin negara, kita tahu ada sosok yang mendampingi dari belum jadi siapa-siapa, jatuh bangun, dan akhirnya menjadi presiden.

Dari 7 Presiden Republik Indonesia setidak ada 3 orang jalinan asmaranya menjadi sorotan nasional. Yang pertama adalah Soekarno dengan Fatmawati.

Soekarno bertemu Fatmawati saat dibuang ke Bengkulu di tahun 1938. Kala itu, ia memiliki Inggit Garnasih sebagai istri dan dua orang anak angkat.

Suatu saat, ia bertemu ayah Fatma yang merupakan salah satu tokoh di Bengkulu. Fatma diajaknya serta.

Soekarno langsung jatuh hati. Mengetahui Fatma putus sekolah, ia menyekolahkan Fatma yang dekat dengan anak angkatnya. Fatma pun dititipkan ayahnya di rumah Soekarno.

Lama-kelamaan, Inggit dan anak angkatnya mulai curiga dengan kedekatan Fatma dan Soekarno. Pertengkaran kerap terjadi sampai Fatma pindah ke rumah neneknya.

Namun, Soekarno masih curi waktu menjadi guru Bahasa Inggris Fatma. Sempat berpisah sewaktu Soekarno dipulangkan ke Jawa, Soekarno curi waktu untuk bertemu lagi. Tekadnya sudah bulat untuk memiliki anak dari Fatmawati.

Setelah bercerai dengan Inggit pasca rumah tangga yang kian tidak kondusif, ia pun meminang Fatmawati.

Lalu ada B.J Habibie dan Ainun. Kisah lama Presiden ketiga Republik Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie dengan sang istri, Ainun, masih memikat untuk disimak.

Siapa sih yang tak tahu kisah cinta Habibie dan Ainun?

Hasri Ainun Besari atau yang akrab disapa Ainun merupakan istri dari mantan Presiden Indonesia, B.J. Habibie. Eyang Habibie, yang merupakan ahli dalam bidang pesawat terbang ini, dikenal sangat romantis dan mencintai istrinya yang juga merupakan seorang dokter

Selama lebih dari 40 tahun, keduanya hidup bersama dengan penuh cinta dan kebahagiaan. Tak heran, kisah cinta keduanya juga diabadikan dalam sebuah film berjudul “Habibie dan Ainun”.

Pada tahun 2010, saat Ainun meninggal dunia karena kanker ovarium yang dideritanya, Habibie begitu berduka karena kehilangan orang yang sangat dikasihinya tersebut. Kisah cinta mereka tentu memberikan beberapa pelajaran berharga bagi kita semua.

Terakhir ada SBY dan Ani Yudhoyono. Sudah kurang lebih satu bulan, Ani Yudhoyono menjalani perawatan di Singapura. Ya, sejak awal bulan Februari silam, istri mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu mendapat pengobatan di rumah sakit National University Singapura lantaran penyakit kanker darah yang dideritanya.

Kesetiaan Susilo Bambang Yudhoyono pada istrinya, Ani Yudhoyono yang sedang sakit menjadi sorotan.Pasalnya, SBY terlihat selalu menemani istrinya yang saat ini tengah berjuang melawan penyakit kanker.Ia pun juga rela meninggalkan segudang aktivitasnya demi untuk selalu berada di sisi sang istri tercinta.

Menilik kembali kisah asmara Susilo Bambang Yudhoyono dan Ani Yudhoyono rupanya ada cerita menarik. Susilo Bambang Yudhoyono dan Kristiani Herrawati (nama muda Ani Yudhoyono) pertama kali bertemu di awal tahun 1973 di Magelang, Jawa Tengah.

Keduanya bertemu di lingkungan Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI). Kristiani Herrawati adalah putri ke-3 Sarwo Edhie Wibowo yang merupakan gubernur AKABRI pada masa itu. Sedangkan SBY merupakan pemuda asal Pacitan, Jawa Timur yang dikenal sebagai taruna cerdas dan berprestasi.

Continue Reading

Citizen Journalism

Mensyukuri Cuka Menerbitkan Suka Cita

Published

on

Tulisan ini akan saya awali dengan sebuah hadis riwayat Imam Muslim yang terdapat dalam Kitab Riyadhus Shalihin Bab 101 tentang Larangan Mencela Makanan dan Sunnah Memujinya.

Dari Jabir Ra, Rasulullah Saw menanyakan lauk pauk kepada keluarganya dan mereka menjawab: “Tidak ada lauk pauk kita kecuali cuka”. Maka Nabi Saw meminta cuka itu untuk dimakan bersama roti yang disajikan sambil berkata: “Sebaik-baik lauk pauk adalah cuka, sebaik-baik lauk pauk adalah cuka”.

Ada banyak pelajaran yang dapat kita gali dari sepenggal kisah singkat di atas. Umpamanya kita mulai dengan menyodorkan pertanyaan pembuka: Manakah yang sejatinya Sunnah Rasul itu? Apakah kita memahaminya hanya secara tekstual-literal sehinga sunnah makan dengan cuka itu hanya menyentuh tataran teknis aplikatif berupa makan dengan cuka? Atau kita memahaminya secara substantif-kontekstual berupa moral ethic menerima apapun karunia Allah dengan penuh rasa syukur walaupun hanya beberapa tetes cuka?

Lalu, manakah yang sejatinya disebut perbuatan menyelisihi sunnah itu? Makan tidak dengan cuka atau makan tidak dengan rasa syukur?

Sampai di sini, kita dapat membuat semacam komparasi sederhana untuk menarik mana yang lebih seiring-senafas dengan ajaran Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi moralitas: Makan dengan penuh rasa syukur sekalipun bukan dengan cuka atau gak apa-apa tidak bersyukur yang penting tetap makan dengan cuka?

Itu satu.

Yang kedua, Nabi Muhammad Saw sedang mengajarkan kepada kita suatu kemampuan yang disebut oleh pakar psikologi modern ini dengan istilah reframing skill, yaitu kemampuan untuk dapat menata ulang sudut pandang kita dalam menyikapi persoalan hidup yang tengah dihadapi, terutama persoalan-persoalan yang tidak sesuai dengan selera hati kita. Reframing ini tidak otomatis mengubah nasib buruk manjadi baik, tapi jelas menata suasana hati agar tetap adem, tenang, dan gembira dalam menyikapi nasib buruk itu.

Cuka tidak lantas berubah menjadi kari kambing dengan mengatakan “Sebaik-baik lauk pauk adalah cuka. Sebaik-baik lauk pauk adalah cuka”. Cuka tetap saja cuka. Akan tetapi, dengan mengatakan demikian, Nabi Saw tengah mengatur suasana hatinya dan menata ulang sudut pandang dirinya terhadap cuka. Karena yang ada hanya cuka, ya sudah… disyukuri, dinikmati dan dibuat indah saja cuka itu. Tokh, mencaci maki cuka juga tidak otomatis mambuat cuka menjadi rendang.

Selain itu, Nabi Saw sedang memberi kita pengajaran untuk menemukan rasa syukur dalam keadaan apapun yang kita terima dari kehidupan. Ada roti, syukuri roti; ada cuka, syukuri cuka; ada rendang, ya syukuri; yang ada hanya bakwan, ya tetap juga disyukuri. Dapat gaji 10 juta, ya syukuri 10 juta itu, dapatnya hanya satu juta, syukuri juga. Temukan kebahagiaan dalam berapapun nominal uang yang Allah berikan. Jangan dikasih satu juta, hati kita terus menerus melamunkan 10 juta. Akhirnya satu juta tak nikmat, yang 10 juta tak didapat.

“Sebaik-baik lauk pauk adalah cuka” adalah ungkapan yang membuktikan bahwa Nabi Saw memiliki kemerdekaan seutuhnya untuk meraih kebahagiaan tanpa terpengaruh hal-hal lain di luar dirinya. Seperti kita, Nabi Saw juga tidak bisa mengendalikan pagi ini atau sore ini makan dengan apa dan rasanya bagaimana, tapi beliau berdaulat sepenuhnya untuk tetap bersyukur menerima apapun yang Allah karunikan. Intinya, apapun yang dialami, beliau tidak membiarkannya berlalu begitu saja tanpa disyukuri. Karena rasa syukur itu menerbitkan kegembiraan yang sejati di dalam hati.

Hal ini terdengar sederhana, tapi banyak orang menderita dalam hidupnya karena tidak memiliki kemampuan reframing ini. Ketika dilahirkan dengan memiliki hidung pesek, dia terus saja mengutuki hidung itu, kenapa tidak mancung seperti orang lain. Setiap kali menatap cermin, dia kecewa. Setiap melihat hidung orang lain yang mancung, dia nelangsa.

Sesungguhnya, kita menderita bukan karena hidung yang pesek, tapi karena letih menjangkau-jangkau alam khayal berisi fragmen hidung mancung yang terus menerus diekspektasikan. Kita tidak memiliki kemandirian untuk menentukan perasasan hati. Kita tidak mempunyai kedaulatan untuk sesegera mungkin menukar, mengganti atau menghijrahkan selera hati dari alam khayali ke wilayah nyata yang ada di depan mata.

Kita tidak memiliki kemampuan itu, karena memang sekolah-sekolah juga tidak pernah mengajarkannya. Di sekolah kita dijejali ilmu aritmatika adiluhung 2 ditambah 8 sama dengan 10. Tapi matematika itu tidak mengajari kita untuk tetap bersyukur ketika hanya mendapat dua padahal yang diinginkan adalah delapan.

Tapi sudahlah, syukuri saja apa yang ada. Tinggal kita reframing hati, membuat formulasi dalam hati bahwa sekolah paling ideal itu, ya memang begitu.

Kesimpulannya, kita harus memiliki kedaulatan untuk menciptakan kegembiraan dalam hati. Mandiri dalam kebahagiaan. Jika tidak bisa, maka marahlah pada diri sendiri kenapa tidak mempunyai independensi dalam menentukan suasana hati!

Continue Reading
Advertisement

Trending