Connect with us

Citizen Journalism

Al Fateka ala Jokowi, Perlukah Dipermasalahkan?

Published

on


Suka atau tidak, sosok seorang presiden itu bagaikan seorang mega selebritis sehingga publik, dalam hal ini rakyat yang ia pimpin, mengharapkan kesempurnaan dari dirinya. Mulai dari intelektualitasnya, gaya komunikasi dan kepemimpinannya, bahkan tak jarang penampilan fisik, gaya busana maupun keluarganya berada di bawah lampu sorot rakyat, media dan lawan politiknya.

Demikian pula yang terjadi di Indonesia. Sejak republik ini berdiri, sosok presiden pertama yaitu Ir. Soekarno dipandang bagaikan dewa. Cara dia berorasi yang selalu berapi-api, peci hitam, jas dan senyum khasnya hingga kehidupan pernikahannya yang diisi kisah multi poligami seakan tak akan pernah lepas dari kenangan bangsa ini meskipun waktu sudah berlalu hampir lima puluh tahun sejak beliau wafat.

Kini Ir. Joko Widodo atau akrab dipanggil Jokowi, presiden Republik Indonesia ke-7, juga terus mendapat sorotan rakyatnya, baik yang pro maupun kontra terhadapnya. Apalagi di era digital seperti ini, sulit rasanya untuk menghindari tatapan dan penilaian rakyat Indonesia. Bukan hanya gerak-gerik penampilan dan pidato secara langsung, status dan komentarnya di media sosial pun selalu dipantau oleh publik.

Jokowi memang bukan berasal dari partai religius dan Islamis, beliau berlatar belakang pebisnis dan menjadi kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang terkenal sebagai partai berpaham nasionalis. Jadi mungkin Jokowi kecil pun tidak mengenyam banyak pendidikan Islam dari keluarga atau lingkungan sekitarnya. Namun demikian dari beberapa penampilan publiknya, Jokowi cukup memiliki dasar keislaman, setidaknya insya Allah beliau tetap mendirikan sholat dan masih bisa me-lafadz-kan bahasa Arab meskipun jelas lidah beliau tidak fasih dalam pengucapannya.

Pada 7 Oktober silam, Jokowi menyampaikan sambutannya pada acara pembukaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional ke-27 di Deli Serdang, Sumatera Utara. Di sinilah pangkal dari kegaduhan publik belakangan ini, terutama di dunia maya. Pada sambutannya di perhelatan tahunan tersebut, Jokowi mengajak para hadirin untuk membacakan surat Al Fatihah bagi para korban yang selamat dari musibah bencana alam baru-baru ini.

Masyarakat menjadi geger karena saat itu beliau menyebut, “Ala hadihinniyat Al Faateka” yang terjemahan bebasnya adalah dengan niat tersebut (menghadiahkan/mendo’akan para korban bencana tersebut) bermohon kepada Allah swt melalui keutamaan dan keberkahan yang terkandung di dalam surat Al Fatihah.

Pokok permasalahannya adalah Jokowi menyebut nama surat tersebut Al Faateka/Fateka sehingga sebagian hadirin maupun publik yang melihat videonya menjadi tertawa atau minimal tersenyum. Bukan berarti menghina sang presiden, tapi menurut penulis penyebutan Al Fateka memang salah walaupun dapat dipahami surat mana yang dimaksud beliau.

Kisah Al Fateka pun segera viral dan menjadi bahan perbincangan sekaligus gunjingan di tengah masyarakat bahkan sebagian mengaitkannya dengan berbagai tudingan negatif yang seringkali menimpa sang presiden, terlebih di tahun politik ini. Seperti disebut di atas, segala gerak-gerik dan ucapan presiden pasti masuk di dalam pantauan radar rakyat Indonesia yang sedang dalam masa pertimbangan siapakah yang pantas menjadi pemimpin mereka di sepanjang tahun 2019-2024.

Berkaitan dengan polemik tersebut, beberapa ustadz terutama yang memiliki dasar pendidikan bahasa Arab menjelaskan bahwa Al Qur’an diturunkan dengan 7 aksen/dialek Arab yang berbeda namun tidak mengubah makna dasar dari kata atau kalimat yang terkandung di dalam setiap ayat di Al Qur’an. Ada dialek Arab yang mengubah huruf “a” menjadi “e” sehingga kata dhuha (dluha dalam transliterasi lain) menjadi dhuhe namun maknanya tetap sama yaitu waktu dhuha (beberapa saat setelah matahari terbit hingga menjelang waktu sholat dzuhur). Yang umum terdengar adalah dialek Arab Lebanon yang mengubah ana (saya) menjadi ane.

Salah satunya adalah Dr. Miftah el-Banjary, seorang dosen ilmu semantik Arab, yang melalui sebuah website Islam terkemuka di negara ini, menjelaskan bahwa bahasa Arab adalah bahasa yang sangat kaya dengan kosa kata dan satu huruf atau tanda baca saja dapat mengubah makna dari kata tersebut. Singkatnya menurut sang dosen, Al-Fatihah bermakna “Pembuka” sedangkan Al-Fatika/al-Fateka bermakna “Kesewenangan, “Membunuh” dan “Kekerasan”. Jadi jelaslah karena kesalahan pengucapan nama surat yang terletak di awal Al Qur’an tersebut menimbulkan perbedaan makna yang jauh bagai langit dan bumi.

Lalu apakah sebagai rakyat Indonesia dengan adat ketimuran yang santun kita pantas untuk menjadikan Al Fateka a la Jokowi sebagai bahan untuk mencelanya? Penulis bisa jadi bukan pendukung Jokowi namun menurut penulis, tak sepatutnya pula para oposan, juga publik pro Jokowi yang mulai mencari kesalahan serupa dari beberapa tokoh di kubu lawannya, menjadikan kesalahan pengucapan ini sebagai bahan untuk terus memanaskan suasana menjelang pemilihan presiden tahun depan.

Mantan gubernur DKI itu memang salah saat menyebutkan Al Fateka namun bukankah sebaiknya semua pihak yang memahami cara penyebutan yang benar, terutama para tokoh agama di dekatnya, membantu beliau dan muslim manapun yang untuk sama-sama secara bertahap mempelajari makhorijul huruf (pelajaran pengucapan huruf/kata) dengan baik dan benar dalam bahasa Arab agar tidak lagi terjadi kesalahan pengucapan di masa mendatang karena tanpa disadari bisa dapat sangat mengubah maknanya.

Jokowi adalah orang Jawa yang dengan dialeknya seringkali mengucapkan huruf “ha” dalam bahasa Arab menjadi “ka”. Penulis pun sering mendengar pula orang Jawa lainnya, sebagian dari keluarga sendiri, yang mengucapkan bismillahirokmanirokiim, memang salah namun dapat dipahami maksudnya. Kebiasaan salah pengucapan satu atau beberapa kata yang terbentuk sejak masa kecil memang hal yang wajar tapi bukan berarti menjadi alasan untuk berhenti memperbaikinya.

Jadi alangkah baik dan bijaksananya jika Jokowi, demi kesempurnaan keislaman dan kewibawaannya di mata mayoritas muslim yang menjadi elemen terbesar bangsa ini, secara perlahan namun pasti dan istiqomah (konsisten) terus belajar berbagai aspek di dalam Islam, apalagi kini beliau semakin lengket dengan seorang ulama besar di negeri ini.

Citizen Journalism

Awal Mula #10YearChallenge Hingga Viral di Indonesia

Published

on

By

Awal tahun 2019 ini dunia media sosial di tanah air dibuka dengan konten unik bertajuk #10yearchallenge. Hingga kini belum diketahui siapa yang memulai aksi, tantangan atau isi konten yang saat ini sedang ramai di media sosial baik di Instagram, Facebook hingga Twitter. Dalam aksi tantangan ini, semua pengguna media sosial termasuk juga para pesohor mengunggah foto-fotonya dalam rentang waktu 10 tahun kebelakang. Nah, foto lama tersebut kemudian disandingkan dengan foto terbaru di tahun terbaru.

Awal kemunculan tantangan unik ini dimana seseorang berbagi potret mereka dalam rentang 10 tahun. Tantangan memiliki beragam julukan mulai dari #HowHardDidAgingHitYou, 2009vs2019, GlowUpChallenge dan lain sebagainya. Kadang kala juga berisi perbandingan 2 foto parodi foto diri dengan foto idolanya sehingga kerap disebut meme.

Dipercaya tantangan #HowHardDidAgingHitYou ini pertama kali dimulai di media sosial Facebook oleh seorang penggunanya yang bernama Damon Lane. Damon yang adalah seorang chief meterologist di KOCO News 5 Oklahoma mengunggah foto dirinya terbarunya pada hari Jumat, 11 Januari 2019. Sejatinya, ia hanya akan membandingkan foto profil pertamanya di Facebook dengan foto terbaru dirinya saat ini. Kemudian terjadi orang-orang mulai mengikuti menguggah foto drinya sekarang (tahun 2019) dengan foto dari 10 tahun lalu (dalam hal ini tahun 2009). Kemudian tantangan ini berkembang hingga memiliki beberapa julukan seperti 2009vs2019, How Did Age Hit You atau 10 year challenge.

Tak berapa lama, para pengguna media sosial mulai mengunggah postingan tantangan ini dan menjadi populer. Bertambahnya popularitas tantangan ini lalu memunculkan banyak meme, para pengguna menyelipkan tokoh idola sebagai pembanding fotonya yang bertujuan menghibur pengikutnya. Mereka menyematkan foto binatang kesayangan, bahkan karakter film dalam membuat konten tantangannya.

Setiap tahun selalu ada tantangan-tantangan model ini yang lebih kurang mirip seperti Puberty Challenge di tahun 2017 yang mana pengguna media sosial menunjukkan foto sebelum dan sesudah perubahan aneh menuju dewasa. Di tahun 2018 ada #GlowUpChallenge yang sempat populer kala di mulai oleh aktris AS Miley Cyrus pada ajang Oscar dan berkembang menjadi besar ketika dibandingkan dengan foto sebelumnya pada tahun 2012 dan 2018.

Di Indonesia sendiri, tantangan #10yearchallenge sedang berada di puncaknya, hal ini dapat diketahui pada berbagai lini masa media sosial banyak terdapat postingan yang membandingkan foto 10 tahun lalu dengan foto sekarang.

Untuk membuat konten tantangan semacam ini sebenarnya tidak sulit, hanya dengan mencari foto-foto lawas anda pada album media sosial anda, biasanya Facebook atau album yang tersimpan di ponsel pintar anda. Biasanya jika sudah terhubung dengan aplikasi Foto Google, Timehop ataupun dengan browsing foto lawas anda di laptop atau PC anda, maka akan makin mudah dilakukan.

Jika telah anda menentukan foto lawas yang akan anda gunakan, langkah selanjutnya adalah membuat kolase perbandingan yang akan berisi foto diri anda yang telah ditentukan sebelumnya (foto lawas 10 tahun lalu) dengan foto diri terbaru di tahun 2019 ini. Anda dapat menggunakan beragam aplikasi grid yang terdapat baik di Google Play Store ataupun Apple Store. Penulis menggunakan aplikasi Picarts yang dapat anda unduh baik di android maupun iOs, kemudian pilih grid 2 bidang, selanjutnya isi kanan kirinya dengan foto yang ingin ditampilkan dan jangan sampai lupa tulis tahunnya. Selain Picart, anda dapat juga menggunakan aplikasi Canva, Unfold, Instagrid, dan lain sebagainya. Setelah selesai, unggah hasilnya ke semua media sosial anda seperti Instagram baik strory maupun feed, Facebook, juga Twitter, dengan tagar #10yearchallenge dan #10yearschallenge.

Continue Reading

Citizen Journalism

Moderator Debat Capres 2019 Kok, Ira Koesno Lagi? Kenapa Enggak Dedy Corbuzier Saja?

Published

on

Sudah calonnya wajah lama, lah kok moderatornya ikut-ikutan wajah lama pula. Ini mau debat atau mau reunian? Kayak enggak ada orang lain aja. Oke-oke, Najwa Shihab jelas enggak mungkin, karena nanti orang bakal protes dan bilang, ini sebetulnya Debat Capres atau talkshow Mata Najwa? Tapi, apa enggak ada alternatif lain?

Menurut kamu, seberapa menariknya Debat Capres dan Cawapres antara pasangan Jokowi – Ma’ruf Amin dan Prabowo – Sandiaga Uno yang akan dilangsungkan beberapa hari lagi itu?

Kalau menurut saya, setidaknya ada tiga hal yang menyebabkan Debat Capres dan Cawapres Perdana kali ini menjadi tak terlalu menarik lagi.

Calonnya Dia Lagi-Dia Lagi

Nyaris tak ada wajah baru, apalagi (entah) ide baru yang bakal tampil dalam ajang Debat Capres yang seharusnya bisa menjadi tontonan yang sarat informasi akan siapa dan bagaimana cara ia kelak menahkodai negeri yang bak sepenggal surga di muka bumi ini.

Kita tahu, dari keempat orang Calon Presiden dan Wakil Presiden tersebut, hanya Kyai Ma’ruf yang belum pernah kita lihat performanya dalam sebuah ajang debat Pilpres atau Pilkada, Sandiaga Uno, tentu masih sangat lekat dalam ingatan bagaimana penampilannya pada Debat Pilkada 2017, tempo hari.

Sementara Pak Jokowi dan Pak Prabowo merupakan dua calon yang lima tahun lalu pernah berhadap-hadapan. Dua calon yang lima tahun lalu telah meninggalkan jejak berupa kata “bocor” dan “dananya ada”. Dan si empunya kata “dananya ada” lah yang akhirnya keluar sebagai pemenang. Ini jadi semacam indikasi, kalau masyarakat Indonesia memang lebih menyukai kabar gembira ketimbang sebuah pesan atau (bahkan) fakta yang kurang menggembirakan. Satu kenyataan yang seharusnya menjadi perhatian Pak Prabowo dan Tim Kampanyenya.

Sayangnya, baik Pak Prabowo, ataupun tim kampanyenya seperti melupakan poin itu. Lagi-lagi, dalam beberapa kesempatan Pak Prabowo menyampaikan hal-hal yang kurang menggembirakan, macam; ramalan tentang masa depan Indonesia yang ia baca dari sebuah novel bahwa Indonesia akan bubar pada tahun 2030.

~ Lho, emang kapan jadiannya? Kok tau-tau bubaran.

Au ah, Bong!

Atau yang terbaru, ia mengatakan bahwa masih banyak dokter di negeri ini yang penghasilannya lebih kecil dari penghasilan juru parkir. Sekalipun apa yang dikatakan Pak Prabowo itu benar adanya (tapi amit-amit kalo ramalan tentang bubarnya Indonesia, sih) tetap saja bagi lawan politiknya, ini adalah celah untuk mengatakan bahwa Prabowo hanya menebar ketakutan. Persis ketika ia mengatakan keuangan negara “bocor” yang dinyinyiri segenap cebong di Indonesia, meskipun, pada akhirnya Pak Jokowi pun mengakui hal itu.

Tapi para kampret enggak usah khawatir dengan pernyataan-pernyataan Pak Prabowo yang kerap blunder dan berpengaruh pada elektabilitasnya. Enggak usah khawatir. Sebab, seberapapun seramnya pernyataan Pak Prabowo, tetap saja itu baru sebuah pernyataan. Berdoa saja, semoga rakyat dapat menangkap pesan apa yang sebenarnya ingin disampaikan Pak Prabowo.

Sementara Pak Jokowi, akalan lumayan berat upayanya untuk meyakinkan lagi masyarakat yang lima tahun lalu sudah ia jejali janji-janji, entah berapa janji yang sudah terpenuhi. Saya enggak bisa menyebutkannya, tapi jika berbicara tentang Pak Jokowi, saya mendadak jadi ingat sebuah lirik lagunya ayahanda Rhoma Irama, “Kau yang berjanji kau yang mengingkari, kalau begini jadinya tak mau—kumemilih Anda.”

Belum lagi upayanya untuk meyakinkan para pendukungnya yang sempat kecewa karena Pak Jokowi akhirnya melabuhkan pilihannya untuk posisi wapres kepada ulama senior yang merupakan salah satu aktor penyebab terpenjaranya Ahok. Yups, tul banget, dialah Kyai Ma’ruf Amin. Andai kamu Ahoker, gimana coba perasaan kamu? Begitulah, hidup memang kadang terlihat seperti ngeledek kamu. Yang sabar, ya!

Adanya Kisi-Kisi Soal Debat

Buset, ini Debat Capres atau Ujian Nasional? Pakai ada kisi-kisinya. Rocky Gerung menyayangkan alasan sembrono KPU yang mengatakan bahwa alasan diadakannya kisi-kisi agar tak ada yang dipermalukan di antara keempat calon peserta Debat Capres tersebut.

“Coba saya tanya ke KPU, dari empat wajah itu, yang berpotensi memalukan publik, yang mana?” Demikian pertanyaan Rocky Gerung kepada KPU dalam sebuah acara talkshow di salah satu stasiun televisi.

“Sebab, kalau Anda nggak bisa jawab,” Kejar Rocky, karena merasa belum mendapat jawaban yang memuaskan, “Anda menduga keempat-empatnya punya potensi untuk dipermalukan itu, atau Anda memang tahu tapi Anda sembunyikan, kan itu semiotiknya kalau kita membongkar persembunyian dari kekacauan ini” Pungkas Rocky yang diikuti tepuk tangan penonton.

Moderatornya Kok Ira Koesno Lagi?

Sudah calonnya wajah lama, lah kok moderatornya ikut-ikutan wajah lama pula. Ini mau debat atau mau reunian? Kayak enggak ada orang lain aja. Oke-oke, Najwa Shihab jelas enggak mungkin, karena nanti orang bakal protes dan bertanya, ini sebetulnya Debat Capres atau talkshow Mata Najwa? Apalagi Dedy Corbuzier, lebih enggak mungkin lagi, khawatir sangking kesalnya sama penonton yang berisik, dihipnotis itu penonton agar mematung sepanjang debat.

Tapi kan masih ada Via Vallen. Lho ini beneran, apa salahnya kita kemas debat dengan suasana rileks supaya kedua pendukung calon enggak ribut dan tetap saling menebarkan rasa sayang. Ya, enggak?

Atau kalau Via Vallen dirasa kurang tepat, saya masih ada alternatif lain. Gimana kalau Nissa Sabyan? Nah, ini kayaknya sudah paling pas. Bisa jadi penengah kalau debat mulai panas. Cukup dengan melantunkan liriknya yang sangat fenomenal itu, “Hmmm.. Hmmm.” Dijamin, yang lagi ngotot-ngototan langsung terdiam, tenang, karena berasa diguyur air zam-zam.

Tapi kalau bisa, sebelumnya, Nissa Sabyan mengingatkan kepada peserta debat agar enggak usah ikut-ikutan nyanyi. Enggak usah nanya kenapa. Sudah jelas jawabannya, agar enggak ada yang dipermalukan. Ituh!

Continue Reading

Citizen Journalism

Media yang Dulu Bukanlah yang Sekarang (Pilpres 2019)

Published

on

Media yang Dulu Bukanlah yang Sekarang (Pilpres 2019)

Bicara soal perkembangan media massa di Indonesia, seperti televisi, surat kabar hingga munculnya media baru seperti online saat ini, tentu sudah mengalami berbagai dinamika. Jika dulu media sangat menjunjung tinggi nilai dan kaidah jurnalisme, tetapi makin kesini hal itu sudah bergeser.

Tentu kita semua mengetahui, dalam kontestasi Pilpres 2019 ini saja sudah banyak sekali peristiwa-peristiwa politik, yang menjadi “makanan” utama dari media. Dari mulai deklarasi pasangan calon, strategi kampanye, hingga hal “printilan” lain yang seakan terlalu berlebihan untuk disorot.

Kita tentu jengah dengan berbagai headline dari suatu media yang seperti berat sebelah. Hal ini cukup simpel, sebab media saat ini lebih umum “di bekingi” oleh orang yang berkedudukan tinggi di suatu partai politik.

Media seakan lupa akan kaidahnya sebagai kontrol sosial, independen, dan menjunjung tinggi etika jurnalisme. Saat ini, media justru makin menampakan wajah aslinya dalam bersikap. Masyarakat pun pasti sudah merasakan hal ini sejak lama.

Fenomena ini mengisyaratkan media, jika mereka sudah tidak sehat lagi. Sehingga ungkapan “media yang dulu bukanlah yang sekarang” pun cocok. Masyarakat haus akan berita yang berimbang, tidak menyudutkan, dan memiliki isi berita yang bergizi. Tidak cuma asal heboh saja.

Pengambilan angle berita oleh media seharusnya jadi prioritas perbaikan. Masyarakat ingin sekali hidup damai, tidak terkotak-kotakan karena amarah yang makin “digoreng” oleh media dalam pemberitaannya. Cukup sudah.

Media seharusnya menjadi garda terdepan bagi masyarakat untuk mencerdaskan, mencerahkan dan menjadi pengontrol sosial. Dalam kaitan dengan Pilpres, harusnya media lah yang getol memberitakan visi misi dua pasangan calon, bukan malah sebaliknya. Menimbulkan perpecahan di masyarakat akibat ucapan yang berujung pada kontroversi dan permusuhan sesama masyarakat. Sehingga tercipta dua kubu politik yang makin hari makin panas.

Fatalnya, rusaknya media yang berpihak ini lambat tapi pasti secara menyeluruh akan menggerogoti idealisme para jurnalis-jurnalisnya. Bukan jadi mustahil juga, jika media saat ini bergeser ke media liberal. Siapa yang punya uang, dan memiliki media itu, menjadi penguasa yang bisa membelokan pandangan media untuk berpihak pada yang punya uang dan kuasa. Who knows?

Continue Reading
Advertisement

Trending