Connect with us

Investasi

Akhirnya Bitcoin Melonjak Hingga 4000 Dolar

Published

on


Market cryptocurrency

Finroll.com – Market cryptocurrency mampu mempertahankan momentum bullish mereka. Dan Bitcoin kali ini telah menembus level resistance yang sebelumnya berada di kisaran harga 3.900 dolar. Kenaikan harga Bitcoin ini telah membuat market secara keseluruhan melonjak dan menjadi hijau.

Market cryptocurrency Bitcoin ini sudah menunjukkan tanda-tanda meningkatnya tekanan beli, namun banyak dari altcoin yang belum mampu menembus level resistensi mereka, contohnya Ethereum yang kini masih diperdagangkan di bawah 160 dolar.

Melonjaknya harga Bitcoin hingga 4.000 dolar tentu saja merupakan perkembangan positif untuk harga cryptocurrency, namun Bitcoin harus mempertahankan nilainya di atas level harga ini agar Bitcoin berubah menjadi bullish menurut salah satu analis.

Baca Juga: Siapa Yang Akan Bertahan di ‘Pertarungan’ Bitcoin Vs Altcoin Pada 2019?

DonAlt, merupakan seorang analis cryptocurrency ternama dan seorang trader di Twitter, mengatakan kepada para pengikutnya jika Bitcoin tetap di atas harga 4.000 dolar untuk beberapa hari, Bitcoin akan mulai menutup posisi panjangnya dan mencari peluang membeli. Dia juga merujuk pada maintenance yang akan Bitfinex lakukan besok sebagai acara yang mungkin dapat menyebabkan volatilitas pasar.

Selain DonAlt, seorang analis terkenal lainnya yaitu Mati Greenspan yang merupakan analis pasar senior di eToro, menyebutkan kenaikan harga terbaru dalam tweet-nya, mengatakan bahwa ujian besar Bitcoin pada 5.000 dolar.

Sebagian besar altcoin telah mengalami lonjakan harga, namun Ethereum masih terjebak di bawah 160 dolar, yang menjadi level resistensi kuatnya. Pada saat penulisan, Ethereum diperdagangkan pada harga 157 dolar.

Koin seperti XRP mengalami kenaikan harga sebesar 3,4 persen dikisaran harga 0,368 dolar dan beberapa altcoin lainnya juga mengalami kenaikan harga. (Bitcoinnewsindo)

Investasi

Bitcoin Gagal Menstabilkan Harga, Dan Siap Menghadapi Level Support Baru

Published

on

Bitcoin

Bitcoin telah gagal untuk menstabilkan harga di atas 3.600 dolar malah turun hingga 3.500 dolar kemarin, dan kini memimpin pasar crypto untuk menghadapi level supportnya yang baru.

Finroll.com – Penurunan harga kali ini telah menyebabkan beberapa altcoin jatuh hingga 6% bahkan lebih. Bahkan ada yang sampai menyentuh level support buying besar.

Banyak pendapat beragam dari para Analis mengenai level support pasar nantinya. Namun, ada konsensus umum bahwa Bitcoin akan menyentuh level 3.000 dolar, yang jika level ini tersentuh akan mengakibatkan bouncing.

Saat ini, Bitcoin diperdagangkan sekitar 3.510 dolar. Bitcoin gagal menstabilkan harganya di atas 4.000 dolar dan secara mengejutkan turun hingga menyentuh harga saat ini.

Hal ini di ikuti dengan mengurangnya volume perdagangan saat ini. Secara tidak langsung hal ini mengisyaratkan bahwa Bitcoin dan crypto masih akan mengalami penurunan secara lebih lanjut lagi.

Market Crypto Akan Mengalami Penurunan Lebih Jauh Lagi Sebelum Menemukan Support Yang Kuat

Trading Room mencatat bahwa level support kunci Bitcoinn berikutnya ada di antara 3.292 dan 3.396 dolar, atau sekitar 5-7% lebih rendah dari harga saat ini. Jika sampai menyentuh harga-harga ini, BTC akan menandai penurunan hampir sebanyak 10% di tahun 2019.

Tidak hanya itu, Trading Room juga berpendapat bahwa beberapa altcoin masih di atas level support mereka, yang berarti bahwa altcoin masih memiliki kemungkinan untuk turun lebih jauh lagi sebelum stabil atau melakukan bouncing. (Bitcoinnewindo)

Continue Reading

Investasi

Wow! Sepanjang 2018 Investasi yang Masuk Kota Surabaya Tembus Rp57 T

Published

on

Wow! Sepanjang 2018 Investasi yang Masuk Kota Surabaya Tembus Rp57 T

 

Finroll.com – Sepanjang tahun 2018, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP)Kota Surabaya mencatat, investasi yang masuk tembus Rp57,37 triliun.

Jumlah ini disebut Kepala DPM PTSP Kota Surabaya, Nanis Chairani sudah melebihi target awal yaitu sekitar Rp41,58 triliun.

“Para investor dari dalam dan luar negeri menunjukan keseriusannya untuk berinvestasi di Surabaya. Tentu hal itu karena kondisi kota yang aman, nyaman, dan kondusif,” ujarnya di Surabaya, Jumat (11/1).

Ia menambahkan, total investasi tersebut berasal dari tiga sumber yakni penanaman modal asing (Rp0,71 triliun), penanaman modal dalam negeri (Rp0,14 triliun) dan Rp56,5 triliun sisanya dari non-fasilitas.

Non fasilitas sendiri adalah para investor yang memiliki badan usaha kurang dari Rp15 miliar, dan di dominasi oleh lokal.

Baca Lainnya:

“UMKM, startup, dan industri-industri rumahan itu termasuk non fasilitas. Perkembangannya cukup signifikan, sehingga angka investasinya juga cukup fantastis. Sebab Pemkot juga memiliki kepedulian tinggi pada pemain di industri kecil dan menengah itu,” paparnya.

Di sisi lain, Ketua Asosiasi Pengusaha Kafe dan Restoran Indonesia (Apkrindo) DPD Jatim, Tjahjono Haryono mengatakan jika Surabaya menjadi salah satu kota yang kondusif untuk berinvestasi. Hal ini dibuktikan dengan pertumbuhan kafe dan restoran di daerah tersebut yang makin menjamur.

“Masyarakat di Surabaya sangat apresiatif dengan usaha baru yang muncul. Jika ada kafe atau restoran yang baru buka, mayoritas pasti akan ramai,” imbuhnya.

Dirinya juga mengaku perizinan pendirian usaha baru juga sangat mudah, sehingga mendukung tumbuhnya usaha baru.

Sumber: Antara

Continue Reading

Investasi

Cermati 6 Aksi Emiten Ini, Mungkin Saja IHSG Kembali Naik Lagi!

Published

on

IHSG

Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) pada perdagangan Senin (7/1/2019) ditutup menguat 0,2% ke level 6.287,22.

Finroll.com – Nilai transaksi tercatat sebesar 8,67 triliun dengan volume 12,19 miliar unit saham. Frekuensi perdagangan sebanyak 465.669 kali. Sejalan dengan penguatan IHSG, laju bursa saham di Asia juga bergerak di zona hijau. Indeks Nikkei naik 2,44%, indeks Hang Seng naik 0,82%, indeks Strait Times naik 1,42%. Adapun, indeks Shanghai Composite naik 0,72%.

Beberapa emiten juga mengumumkan aksi korporasi dan rencana bisnis yang patut disimak kembali sebelum perdagangan hari ini, Selasa (8/1/2019), dibuka.

1. Danai Ekspansi, Bank Mandiri Terbitkan Surat Utang Rp 40 T

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) berencana untuk mencari pendanaan nonkonvensional hingga US$2 miliar. Dana tersebut didapatkan dari penerbitan obligasi, negotiable certificate deposit (NCD), dan pinjaman bilateral yang sudah masuk dalam rencana bisnis BMRI tahun ini untuk mendukung ekspansi.

Bank Mandiri juga akan menerbitkan Medium-Term Notes (MTN), bilateral loan atau repo senilai Rp 10 triliun.

“Jadi, kombinasi ini total keseluruhan Rp 40 triliun untuk 2019,” kata Direktur Keuangan Bank Mandiri Panji Irawan hari Senin.

2. Saingi OVO dan Gopay, Bank Pelat Merah Siap Bentuk Fintech

Bank-bank pelat merah akan berkolaborasi untuk menyempurnakan layanan digitalnya. Salah satunya dengan membentuk perusahaan teknologi finansial (tekfin). Direktur Utama PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Kartika Kartika Wirjoatmodjo mengatakan dari sisi sistem pembayaran, ada rencana Himpunan Bank Umum Milik Negara (Himbara), PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), dan PT Pertamina (Persero) membentuk fintech.

Menurut Kartika, rencana pembentukan fintech baru ini sedang dimatangkan dan rencananya akan diluncurkan pada kuartal I-2019.

3. Waskita Kebut Pembangunan Jalan Tol

PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) menargetkan dapat merampungkan tiga proyek utama pembangunan jalan tol pada 2019.

Direktur Utama Waskita Karya I Gusti Ngurah Putra mengatakan, proyek-proyek tersebut yakni proyek tol Trans Sumatera yang merupakan bagian dari proyek ruas tol Terbanggi Besar-Pematang Panggang- Kayu Agung yang dimiliki oleh PT Hutama Karya, proyek tersebut ditargetkan rampung sebelum hari raya Idul Fitri tahun ini.

4. Vale Bisa Akuisisi 20 Persen Tahun Ini

PT Vale Indonesia Tbk (INCO) berencana untuk mendivestasi sahamnya pada tahun ini. Pengajuan divestasi ini lebih cepat dari jadwal yang tertuang dalam kontrak. Direktur Mineral Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yunus Saefulhak memaparkan, Vale semestinya mulai divestasi per Juni 2019. Namun sebelum jatuh tempo, Vale berinisiatif untuk jual sahamnya, kata Yunus kepada CNBC Indonesia, Senin (7/1/2019).

Yunus menuturkan, hal tersebut sesuai dengan PP Nomor 77 tahun 2014 bahwa Vale harus divestasi 40% sesuai kontraknya yang saat ini sahamnya sudah dimiliki publik 20%.

“Sisanya 20 persen,” ujarnya.

5. APP Bangun Pabrik Kertas di India Rp 50,75 T

Perusahaan grup Sinarmas, Asia Pulp & Paper Group (APP) akan berinvestasi senilai US$ 3,5 miliar untuk membangun pabrik kertas dengan kapasitas 5 juta ton per tahun di wilayah Andra Prakasam, India.

Investasi ini menjadi investasi asing (foreign direct investment/FDI) terbesar di India dalam beberapa tahun terakhir. Nilai investasi itu setara dengan Rp 50,75 triliun dengan asumsi kurs Rp 14.500 per dolar AS.

Sebagaimana dilansir Times of India, pabrik tersebut akan dibangun di wilayah pesisir distrik Andhra Prakasam di atas lahan seluas 2.500 hektar. Dengan kapasitas produksi tersebut, perusahaan akan memproduksi kertas kemasan, kertas khusus, kertas tulis dan cetak.

6. Bank Mandiri Punya Direktur Komersial Banking Baru

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) melaksanakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Senin (7/1/2019). Rapat umum pemegang saham tersebut memutuskan menambahkan direksi baru Bank Mandiri. Jadi total direksi Bank Mandiri menjadi 12 orang.

RUPSLB ini pemegang saham menunjuk Riduan sebagai direktur comersial banking. Pengangkatan ini akan efektif setelah lulus fit dan proper test dari Otoritas Jasa Keuangan. Riduan merupakan bankir didikan Bank Mandiri.

(CNBCIndonesia)

Continue Reading
Advertisement

Trending