Connect with us

Citizen Journalism

Ada Cinta Tuhan Dibalik Rentetan Bencana

Published

on


Kalimat mutiara  ‘Mengambil Hikmah Dibalik Musibah’ tentunya lahir dari perenungan manusia bijak dalam mengamati kehidupaan, bagaimana mungkin ada cinta tersembunyi dibalik rentetan musibah atau bencana yang dialami bangsa ini.

Duka kemanusian enggan beranjak dari bumi khatulistiwa ini. Torehan nestapa air mata mengalir satu persatu. Gempa di Lombok menghentak jutaan mata manusia Indonesia pada Minggu pagi, 31 Juli 2018 lalu, menyisakan kepiluan dengan korban mencapai 436 meninggal, lebih dari 1400 orang luka-luka dan 22.000 rumah rusak.

Ribuan manusia setengah dewa pun mengulurkan tangannya, menyisingkan lengan bajunya, mencoba mengurai air mata demi air mata menjadi senyum dan tawa. Belum sempurna senyum terkembang terpaan kepiluan kembali menghantam.

Menjelang temaramnya mentari di keindahan pesisir pantai, bumi menggeliat merebahkan segala kemegahan dan keangkuhan yang berdiri di sekitaran Donggala dan Palu.  Jumat itu, 28 September 2018 air mata manusia kembali bercucuran seiring gulungan ombak meratakan semua yang menghalanginya. Tanah berliuk menelan bangunan dan mahluk yang ada diatasnya.

Gempa 7,4 skala ritcher, tsunami, dan likuifaksi meniriskan air mata lebih 2000 manusia meninggal, seribuan lebih hilang, 4 ribuan mengalami luka-luka. Potongan-potongan video memperlihatkan arti sesungguhnya Allahu Akbar. Pengakuan Allah Maha Besar tidak lagi teriak-teriakan seperti dalam demontrasi, takbir kali ini melukiskan hakikat dari Allah Maha Besar atas ketidak berdayaan manusia, ke-aku-an mahluk hilang sirna tertelan kebesaran Allah, hanya nama Allah yang ada dalam peristiwa tersebut.

Ketika sembab air mata masih memerah, Tuhan terus memberikan pembelajarannya kepada umat manusia. Sebulan kemudian, 29 Oktober 2019, arti ketidak-berdayaan manusia kembali terulang, pesawat Lion Air dengan penerbangan Jakarta – Pangkal Pinang kandas ditengah lautan. Dalam hitungan detik 189 penumpangnya dinyatakan tak ada yang selamat.

Kini manusia-manusia super tengah berjibaku mengumpulkan jasad-jasad dan puing pesawat berlomba dengan waktu yang semakin tipis. Jika tidak di perpanjang lagi, maka esok hari merupakan waktu terakhir mereka mengabdikan kemanusiannya untuk mempertemukan jasad dengan keluarga yang berduka.

Apakah Tuhan Marah? atau itu Cinta

Musibah dan bencana yang datang menelurkan pemahaman yang berbeda pada setiap manusia. Ada yang tidak menerima cobaan tersebut namun banyak juga yang menerima ujian tersebut dengan mengambil hikmah dari sebuah peristiwa pilu.

Rentetan kepiluan ini banyak dimaknai bahwa peristiwa uraian air mata yang terjadi merupakan hukuman atau azab dari Tuhan kepada manusia karena dinggap telah membuat Allah murka dengan tindak tanduk manusia yang melanggar perintah-perintahnya.

Pertanyaannya bagaimana Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang dapat murka dan menurunkan azabnya, melalui bencana Lombok, palu, Donggala dan musibah pesawat Lion Air. Meski hakikatnya apa yang menjadi ketentuan Allah merupakan sebuah cinta-Nya kepada manusia.

Jika tidak diperpanjang lagi pencarian korban Lion Air, tentunya mengurai kesedihan mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan, terlebih keluarga yang belum menemukan pusaran akhir dari orang yang dicintainya.

Usaha pendampingan bagi keluarga korban pun dilakukan oleh pemerintah guna meringankan beban psikologi dari kesedihan yang menggoncangnya. Langkah untuk membagi beban air mata tentunya hanya kepada Allah sebagai pilihan bijaksana.

Menyelami kedalaman hati tentunya akan menemukan Ar rahman dan Ar rahimnya, sifat inilah yang harus menjadi kompas perenungan. Merenungi hal tersebut, sejatinya Allah tidak pernah marah atau murka terhadap hambanya.

Peristiwa yang menggoncang jiwa dan air mata merupakan salah satu komunikasi Allah terhadap hambanya. Sentilan marah Ar rahman dan Ar rahim itu laksana marahnya orang tua kepada sang anak ketika sedang menyeberangi jalan yang ramai. Menggandeng tangan mungil dan sambil memberikan peringatan dan pembelajaran apa yang harus dilakukan saat menyusuri jalan yang ramai agar tidak celaka.

Dalam mutiara indah Syek Ibnu Atho’illah Ás Syakandary ra, dalam kitab Al Hikam 73-74 tentng Nikmat dan Musibah adalah jalan menuju Allah. Ia mengatakan:

“Barang siapa yang tidak suka menghadap Allah dengan halusnya pemberian karunia Allah, maka akan diseret supaya ingat kepada Allah dengan rantai ujian (musibah).”

Dari sini mutiara hikmah tersebut dimaknai dengan ada dua cara seorang hamba bisa taat menghadap kepada Allah, yaitu:

  1. Datangnya nikmat dari Allah kepada dirinya sehingga orang tersebut mau bersyukur dan taat kepada Allah.
  2. Datangnya macam-macam musibah atau bencana pada dirinya atau hartanya, sehingga hamba tersebut sadar dan kembali kepada Allah.

Terkadang bencana dan musibah bisa menjadi sebab seorang manusia meninggalkan ketergantungannya kepada dunia, dan menjadi pintu hambanya untuk kembali kepada Allah. Karena Allah menginginkan hambanya kembali menurut kepada-Nya dengan cara Ikhlas dan Ridho atau dengan paksaan.

Mereka yang tak pernah mengingat Allah ketika sehat dan murah rejeki  maka akan dipaksa untuk mengingat Allah (zikir) dengan tibanya musibah, dan kemudian Allah akan menuangkan nikmat sebesar-besar kepada hamba-Nya tersebut.

Mutiara kedua adalah “Barang siapa yang tidak mensyukuri nikmat Tuhan, artinya berusaha untuk menghilangkan nikmat tersebut, dan barang siapa mensyukuri nikmat berarti telah mengikat nikmat itu dengan ikatan yang kuat.”

Mensyukuri nikmat tersebut dapat dilakukan dengan hati dimana dirinya sadar nikmat tersebut datangnya dari Allah, atau kadang kalanya melalui lisan yaitu dengan menceritakan kenikmatan yang diperolehnya kepada orang lain.

Atau mensyukurinya dengan anggota tubuh, salah satunya dengan menjaga anggota tubuhnya tidak dipergunakan untuk perkara yang tidak diridhoi Allah, bahkan sebaliknya menggunakan anggota tubuhnya untuk memperbanyak ibadah.

Peristiwa apa pun yang dialami seorang hamba jika bersyukur maka ia akan melakukan sadar dengan hati,  mengucapkannya dengan lidah, dan melakukannya dengan anggota tubuhnya. Jadi Apapun peristiwa yang menguras air mata tentunya ada cinta Allah yang hendak disampaikan kepada hamba-Nya

Jatijajar, 6 November 2018

Citizen Journalism

Awal Mula #10YearChallenge Hingga Viral di Indonesia

Published

on

By

Awal tahun 2019 ini dunia media sosial di tanah air dibuka dengan konten unik bertajuk #10yearchallenge. Hingga kini belum diketahui siapa yang memulai aksi, tantangan atau isi konten yang saat ini sedang ramai di media sosial baik di Instagram, Facebook hingga Twitter. Dalam aksi tantangan ini, semua pengguna media sosial termasuk juga para pesohor mengunggah foto-fotonya dalam rentang waktu 10 tahun kebelakang. Nah, foto lama tersebut kemudian disandingkan dengan foto terbaru di tahun terbaru.

Awal kemunculan tantangan unik ini dimana seseorang berbagi potret mereka dalam rentang 10 tahun. Tantangan memiliki beragam julukan mulai dari #HowHardDidAgingHitYou, 2009vs2019, GlowUpChallenge dan lain sebagainya. Kadang kala juga berisi perbandingan 2 foto parodi foto diri dengan foto idolanya sehingga kerap disebut meme.

Dipercaya tantangan #HowHardDidAgingHitYou ini pertama kali dimulai di media sosial Facebook oleh seorang penggunanya yang bernama Damon Lane. Damon yang adalah seorang chief meterologist di KOCO News 5 Oklahoma mengunggah foto dirinya terbarunya pada hari Jumat, 11 Januari 2019. Sejatinya, ia hanya akan membandingkan foto profil pertamanya di Facebook dengan foto terbaru dirinya saat ini. Kemudian terjadi orang-orang mulai mengikuti menguggah foto drinya sekarang (tahun 2019) dengan foto dari 10 tahun lalu (dalam hal ini tahun 2009). Kemudian tantangan ini berkembang hingga memiliki beberapa julukan seperti 2009vs2019, How Did Age Hit You atau 10 year challenge.

Tak berapa lama, para pengguna media sosial mulai mengunggah postingan tantangan ini dan menjadi populer. Bertambahnya popularitas tantangan ini lalu memunculkan banyak meme, para pengguna menyelipkan tokoh idola sebagai pembanding fotonya yang bertujuan menghibur pengikutnya. Mereka menyematkan foto binatang kesayangan, bahkan karakter film dalam membuat konten tantangannya.

Setiap tahun selalu ada tantangan-tantangan model ini yang lebih kurang mirip seperti Puberty Challenge di tahun 2017 yang mana pengguna media sosial menunjukkan foto sebelum dan sesudah perubahan aneh menuju dewasa. Di tahun 2018 ada #GlowUpChallenge yang sempat populer kala di mulai oleh aktris AS Miley Cyrus pada ajang Oscar dan berkembang menjadi besar ketika dibandingkan dengan foto sebelumnya pada tahun 2012 dan 2018.

Di Indonesia sendiri, tantangan #10yearchallenge sedang berada di puncaknya, hal ini dapat diketahui pada berbagai lini masa media sosial banyak terdapat postingan yang membandingkan foto 10 tahun lalu dengan foto sekarang.

Untuk membuat konten tantangan semacam ini sebenarnya tidak sulit, hanya dengan mencari foto-foto lawas anda pada album media sosial anda, biasanya Facebook atau album yang tersimpan di ponsel pintar anda. Biasanya jika sudah terhubung dengan aplikasi Foto Google, Timehop ataupun dengan browsing foto lawas anda di laptop atau PC anda, maka akan makin mudah dilakukan.

Jika telah anda menentukan foto lawas yang akan anda gunakan, langkah selanjutnya adalah membuat kolase perbandingan yang akan berisi foto diri anda yang telah ditentukan sebelumnya (foto lawas 10 tahun lalu) dengan foto diri terbaru di tahun 2019 ini. Anda dapat menggunakan beragam aplikasi grid yang terdapat baik di Google Play Store ataupun Apple Store. Penulis menggunakan aplikasi Picarts yang dapat anda unduh baik di android maupun iOs, kemudian pilih grid 2 bidang, selanjutnya isi kanan kirinya dengan foto yang ingin ditampilkan dan jangan sampai lupa tulis tahunnya. Selain Picart, anda dapat juga menggunakan aplikasi Canva, Unfold, Instagrid, dan lain sebagainya. Setelah selesai, unggah hasilnya ke semua media sosial anda seperti Instagram baik strory maupun feed, Facebook, juga Twitter, dengan tagar #10yearchallenge dan #10yearschallenge.

Continue Reading

Citizen Journalism

Moderator Debat Capres 2019 Kok, Ira Koesno Lagi? Kenapa Enggak Dedy Corbuzier Saja?

Published

on

Sudah calonnya wajah lama, lah kok moderatornya ikut-ikutan wajah lama pula. Ini mau debat atau mau reunian? Kayak enggak ada orang lain aja. Oke-oke, Najwa Shihab jelas enggak mungkin, karena nanti orang bakal protes dan bilang, ini sebetulnya Debat Capres atau talkshow Mata Najwa? Tapi, apa enggak ada alternatif lain?

Menurut kamu, seberapa menariknya Debat Capres dan Cawapres antara pasangan Jokowi – Ma’ruf Amin dan Prabowo – Sandiaga Uno yang akan dilangsungkan beberapa hari lagi itu?

Kalau menurut saya, setidaknya ada tiga hal yang menyebabkan Debat Capres dan Cawapres Perdana kali ini menjadi tak terlalu menarik lagi.

Calonnya Dia Lagi-Dia Lagi

Nyaris tak ada wajah baru, apalagi (entah) ide baru yang bakal tampil dalam ajang Debat Capres yang seharusnya bisa menjadi tontonan yang sarat informasi akan siapa dan bagaimana cara ia kelak menahkodai negeri yang bak sepenggal surga di muka bumi ini.

Kita tahu, dari keempat orang Calon Presiden dan Wakil Presiden tersebut, hanya Kyai Ma’ruf yang belum pernah kita lihat performanya dalam sebuah ajang debat Pilpres atau Pilkada, Sandiaga Uno, tentu masih sangat lekat dalam ingatan bagaimana penampilannya pada Debat Pilkada 2017, tempo hari.

Sementara Pak Jokowi dan Pak Prabowo merupakan dua calon yang lima tahun lalu pernah berhadap-hadapan. Dua calon yang lima tahun lalu telah meninggalkan jejak berupa kata “bocor” dan “dananya ada”. Dan si empunya kata “dananya ada” lah yang akhirnya keluar sebagai pemenang. Ini jadi semacam indikasi, kalau masyarakat Indonesia memang lebih menyukai kabar gembira ketimbang sebuah pesan atau (bahkan) fakta yang kurang menggembirakan. Satu kenyataan yang seharusnya menjadi perhatian Pak Prabowo dan Tim Kampanyenya.

Sayangnya, baik Pak Prabowo, ataupun tim kampanyenya seperti melupakan poin itu. Lagi-lagi, dalam beberapa kesempatan Pak Prabowo menyampaikan hal-hal yang kurang menggembirakan, macam; ramalan tentang masa depan Indonesia yang ia baca dari sebuah novel bahwa Indonesia akan bubar pada tahun 2030.

~ Lho, emang kapan jadiannya? Kok tau-tau bubaran.

Au ah, Bong!

Atau yang terbaru, ia mengatakan bahwa masih banyak dokter di negeri ini yang penghasilannya lebih kecil dari penghasilan juru parkir. Sekalipun apa yang dikatakan Pak Prabowo itu benar adanya (tapi amit-amit kalo ramalan tentang bubarnya Indonesia, sih) tetap saja bagi lawan politiknya, ini adalah celah untuk mengatakan bahwa Prabowo hanya menebar ketakutan. Persis ketika ia mengatakan keuangan negara “bocor” yang dinyinyiri segenap cebong di Indonesia, meskipun, pada akhirnya Pak Jokowi pun mengakui hal itu.

Tapi para kampret enggak usah khawatir dengan pernyataan-pernyataan Pak Prabowo yang kerap blunder dan berpengaruh pada elektabilitasnya. Enggak usah khawatir. Sebab, seberapapun seramnya pernyataan Pak Prabowo, tetap saja itu baru sebuah pernyataan. Berdoa saja, semoga rakyat dapat menangkap pesan apa yang sebenarnya ingin disampaikan Pak Prabowo.

Sementara Pak Jokowi, akalan lumayan berat upayanya untuk meyakinkan lagi masyarakat yang lima tahun lalu sudah ia jejali janji-janji, entah berapa janji yang sudah terpenuhi. Saya enggak bisa menyebutkannya, tapi jika berbicara tentang Pak Jokowi, saya mendadak jadi ingat sebuah lirik lagunya ayahanda Rhoma Irama, “Kau yang berjanji kau yang mengingkari, kalau begini jadinya tak mau—kumemilih Anda.”

Belum lagi upayanya untuk meyakinkan para pendukungnya yang sempat kecewa karena Pak Jokowi akhirnya melabuhkan pilihannya untuk posisi wapres kepada ulama senior yang merupakan salah satu aktor penyebab terpenjaranya Ahok. Yups, tul banget, dialah Kyai Ma’ruf Amin. Andai kamu Ahoker, gimana coba perasaan kamu? Begitulah, hidup memang kadang terlihat seperti ngeledek kamu. Yang sabar, ya!

Adanya Kisi-Kisi Soal Debat

Buset, ini Debat Capres atau Ujian Nasional? Pakai ada kisi-kisinya. Rocky Gerung menyayangkan alasan sembrono KPU yang mengatakan bahwa alasan diadakannya kisi-kisi agar tak ada yang dipermalukan di antara keempat calon peserta Debat Capres tersebut.

“Coba saya tanya ke KPU, dari empat wajah itu, yang berpotensi memalukan publik, yang mana?” Demikian pertanyaan Rocky Gerung kepada KPU dalam sebuah acara talkshow di salah satu stasiun televisi.

“Sebab, kalau Anda nggak bisa jawab,” Kejar Rocky, karena merasa belum mendapat jawaban yang memuaskan, “Anda menduga keempat-empatnya punya potensi untuk dipermalukan itu, atau Anda memang tahu tapi Anda sembunyikan, kan itu semiotiknya kalau kita membongkar persembunyian dari kekacauan ini” Pungkas Rocky yang diikuti tepuk tangan penonton.

Moderatornya Kok Ira Koesno Lagi?

Sudah calonnya wajah lama, lah kok moderatornya ikut-ikutan wajah lama pula. Ini mau debat atau mau reunian? Kayak enggak ada orang lain aja. Oke-oke, Najwa Shihab jelas enggak mungkin, karena nanti orang bakal protes dan bertanya, ini sebetulnya Debat Capres atau talkshow Mata Najwa? Apalagi Dedy Corbuzier, lebih enggak mungkin lagi, khawatir sangking kesalnya sama penonton yang berisik, dihipnotis itu penonton agar mematung sepanjang debat.

Tapi kan masih ada Via Vallen. Lho ini beneran, apa salahnya kita kemas debat dengan suasana rileks supaya kedua pendukung calon enggak ribut dan tetap saling menebarkan rasa sayang. Ya, enggak?

Atau kalau Via Vallen dirasa kurang tepat, saya masih ada alternatif lain. Gimana kalau Nissa Sabyan? Nah, ini kayaknya sudah paling pas. Bisa jadi penengah kalau debat mulai panas. Cukup dengan melantunkan liriknya yang sangat fenomenal itu, “Hmmm.. Hmmm.” Dijamin, yang lagi ngotot-ngototan langsung terdiam, tenang, karena berasa diguyur air zam-zam.

Tapi kalau bisa, sebelumnya, Nissa Sabyan mengingatkan kepada peserta debat agar enggak usah ikut-ikutan nyanyi. Enggak usah nanya kenapa. Sudah jelas jawabannya, agar enggak ada yang dipermalukan. Ituh!

Continue Reading

Citizen Journalism

Media yang Dulu Bukanlah yang Sekarang (Pilpres 2019)

Published

on

Media yang Dulu Bukanlah yang Sekarang (Pilpres 2019)

Bicara soal perkembangan media massa di Indonesia, seperti televisi, surat kabar hingga munculnya media baru seperti online saat ini, tentu sudah mengalami berbagai dinamika. Jika dulu media sangat menjunjung tinggi nilai dan kaidah jurnalisme, tetapi makin kesini hal itu sudah bergeser.

Tentu kita semua mengetahui, dalam kontestasi Pilpres 2019 ini saja sudah banyak sekali peristiwa-peristiwa politik, yang menjadi “makanan” utama dari media. Dari mulai deklarasi pasangan calon, strategi kampanye, hingga hal “printilan” lain yang seakan terlalu berlebihan untuk disorot.

Kita tentu jengah dengan berbagai headline dari suatu media yang seperti berat sebelah. Hal ini cukup simpel, sebab media saat ini lebih umum “di bekingi” oleh orang yang berkedudukan tinggi di suatu partai politik.

Media seakan lupa akan kaidahnya sebagai kontrol sosial, independen, dan menjunjung tinggi etika jurnalisme. Saat ini, media justru makin menampakan wajah aslinya dalam bersikap. Masyarakat pun pasti sudah merasakan hal ini sejak lama.

Fenomena ini mengisyaratkan media, jika mereka sudah tidak sehat lagi. Sehingga ungkapan “media yang dulu bukanlah yang sekarang” pun cocok. Masyarakat haus akan berita yang berimbang, tidak menyudutkan, dan memiliki isi berita yang bergizi. Tidak cuma asal heboh saja.

Pengambilan angle berita oleh media seharusnya jadi prioritas perbaikan. Masyarakat ingin sekali hidup damai, tidak terkotak-kotakan karena amarah yang makin “digoreng” oleh media dalam pemberitaannya. Cukup sudah.

Media seharusnya menjadi garda terdepan bagi masyarakat untuk mencerdaskan, mencerahkan dan menjadi pengontrol sosial. Dalam kaitan dengan Pilpres, harusnya media lah yang getol memberitakan visi misi dua pasangan calon, bukan malah sebaliknya. Menimbulkan perpecahan di masyarakat akibat ucapan yang berujung pada kontroversi dan permusuhan sesama masyarakat. Sehingga tercipta dua kubu politik yang makin hari makin panas.

Fatalnya, rusaknya media yang berpihak ini lambat tapi pasti secara menyeluruh akan menggerogoti idealisme para jurnalis-jurnalisnya. Bukan jadi mustahil juga, jika media saat ini bergeser ke media liberal. Siapa yang punya uang, dan memiliki media itu, menjadi penguasa yang bisa membelokan pandangan media untuk berpihak pada yang punya uang dan kuasa. Who knows?

Continue Reading
Advertisement

Trending