Connect with us

Traveling

3 Masjid Kebangaan Dinasti Islam

Published

on


Finroll.com – Pada abad pertengahan, Kairo yang menjadi pusat pemerintahan Dinasti Fatimiyah memainkan peranan yang hampir sama pentingnya dengan Baghdad di Persia yang dikuasai Dinasti Abbasiyah serta Cordoba di Eropa yang dipimpin Dinasti Umayyah.

Pada masa keemasan tiga dinasti ini, mereka tak hanya membangun istana dan pusat-pusat intelektual, tapi berlomba-lomba membangun masjid. Dinasti Abbasiyah di Baghdad bangga memiliki Masjid Samarra, Dinasti Umayyah membangun Masjid Cordoba, dan Fatimiyah memiliki Masjid Al-Azhar. ¦

Masjid Samarra

Masjid Agung Samarra adalah masjid yang terletak di Kota Samarra, Irak, dan dibangun pada abad ke-9. Masjid ini diperintahkan untuk dibangun pada tahun 848. Empat tahun kemudian, tuntaslah pem bangunannya. Masjid ini dibangun oleh khalifah ke-10 Dinasti Abbasiyah, al-Mutawakkil.

Salah satu keistimewaan masjid ini adalah menaranya yang berbentuk spiral, mirip cangkang siput. Menara ini dikenal sebagai Menara Malwiya atau Menara Samarra. Masjid ini terletak di sebelah timur Sungai Tigris atau 125 kilometer ke arah utara ibu kota Irak, Baghdad.

Bangunan masjid dibuat dari batu bata yang dibakar. Bila dilihat sekilas, bangunan ini lebih mirip benteng pertahanan ketimbang masjid. Maklum tidak ada simbol yang memperlihatkan bahwa bangun an ini adalah masjid.

Masjid Cordoba

Orang Spanyol masa kini menyebutnya Le Mezquita. Bangunan megah nan indah yang didaulat UNESCO sebagai tempat yang sangat bersejarah dan penting di dunia pada 1994 itu merupakan saksi sejarah sekaligus peninggalan masa keemasan Cordoba pada era kejayaan Islam.

Masjid Cordoba mulai dirancang pada 785 M. Dua tahun kemudian, Khalifah Abdurrahman I mewujudkan rancangannya menjadi sebuah masjid. Awalnya, bangunan masjid ini hanya berukuran 70 meter persegi di atas tanah seluas 5.000 meter persegi.

Mengalami beberapa kali renovasi dan perluasan, kini panjang masjid ini dari utara ke selatan mencapai 175 meter dan lebarnya dari timur ke barat 134 meter. Pada masa kejayaan Islam, aktivitas di masjid ini demikian semarak. Tak heran, jika pada malam hari, masjid ini diterangi 4.700 buah lampu yang menghabiskan 11 ton minyak per tahun. ¦

Masjid Al-Azhar

Ini adalah masjid tertua di Kairo yang mulai dibangun pada 359 H atau 970 M, lebih dari 1000 tahun silam. Luar biasa bahwa masjid ini masih berdiri kokoh di kawasan El Hussein Square, di bagian kota tua Kairo.

Adalah Jawhar al-Shiqillilah, panglima pe rang penguasa keempat Dinasti Fatimiyah, yang memulai pembangunan masjid ini pada 24 Jumadil Awal 359 H/4 April 970 M. Sementara itu, peresmian masjid ini dilaksanakan seusai shalat Jumat pada Ramadhan 361 H/Juli 972 M.

Kala itu, masjid ini dirancang sebagai pusat pembinaan kaum Muslimin. Saat itu, Masjid Al-Azhar berbentuk satu bangunan yang terbuka di tengahnya, meniru arsitektur Masjidil Haram. Wak tu itu luasnya hanya setengah luas masjid Al-Azhar sekarang.

Traveling

Danau Toba Lahir dari Letusan Maha Dahsyat yang Membuat Bumi ‘Berhenti’ Selama Enam Tahun

Published

on

By

Finroll.com – Toba ibarat Indonesia kecil. Dia menampilkan ironi tentang pemandangan yang elok, sumber air dan kehidupan, namun sekaligus menyimpan riwayat—dan ancaman—mematikan.

Danau Toba, yang sejatinya merupakan kaldera gunung api raksasa pernah meletus hebat sehingga mengubah iklim dunia dan nyaris menamatkan umat manusia.

Baca juga: Ingin Pilih Semangka yang Baik Untuk Dikonsumsi? Begini Cara Memilihnya!

Jauh di balik permai Danau Toba yang menghampar di Sumatera Utara, sebuah daya rusak yang mahadahsyat tersembunyi di dalamnya.

Sekitar 74.000 tahun lampau, Gunung Toba meletus hebat (supereruption), mengirim awan panas raksasa yang menutup nyaris seluruh ujung timur hingga barat Pulau Sumatera.

Jutaan kubik abu dimuntahkan, menutupi Lautan Hindia hingga Laut Arab dan sebagian Samudera Pasifik.

Aerosol asam sulfat yang dilepaskan kemudian menyebar luas ke atmosfir dan menutupi bumi hingga mencipta kegelapan total selama enam tahun.

Suhu bumi mendingin hingga 5 derajat Celsius. Musim dingin global tercipta dari letusan gunung api (volcanic winter).

Fotosintesis terhenti. Tumbuhan sekarat, hewan buruan menipis.

Homo sapiens, nenek moyang manusia modern, berada di titik nadir, hanya bertahan sekitar 3.000 jiwa.

Migrasi manusia pun terhenti dan mereka terisolasi di Afrika, seperti yang terekam dalam kemiripan genetika manusia modern di seluruh penjuru dunia.

Periode ini dikenal sebagai kemacetan populasi manusia modern atau population bottlenecks.

Berada di level tertinggi letusan gunung api, yaitu skala 8 volcanic eruption index (VEI), Toba adalah gunung api super (supervolcano), yang letusannya menjadi yang terkuat dalam dua juta tahun terakhir.

Walaupun letusan gunung api, kini, bukan sepenuhnya kejutan geologis dan penelitian tentang hal ini telah berkembang jauh.

Namun, beberapa pertanyaan dasar tentang supervolcano, seperti Toba, tetap sulit dijawab, karena sedikitnya pengetahuan kita tentangnya.

Karena itu, Toba yang terbentuk dari kombinasi proses vulkano-tektonik sesungguhnya merupakan gudang ilmu geologi dan vulkanologi sekaligus, yang menantang untuk ditelisik lebih jauh.

Toba juga menyedot perhatian para ahli iklim dunia, karena dampak letusannya yang pernah mendinginkan suhu bumi.

Selain juga menarik para antropolog, arkeolog, dan ahli genetika terkait dampaknya terhadap perkembangan dan migrasi manusia modern. (intisari.grid.id)

Continue Reading

Traveling

Hutan Mangrove Kulon Progo, Wisata Baru Yang Lagi Hits

Published

on

By

Finroll.com – Berkunjung ke Yogyakarta memang selalu membawa kenangan dan harapan agar dapat kembali mengunjungi kawasan ini lagi. Selain wisata alamnya yang mempesona, keramahan warga jogja dan sajian kuliner yang beragam dengan harga murah menjadi salah satu daya tarik tersendiri.

Biasanya Sobat Native pergi ke Jogja itu hanya ke daerah Bantul, Gunungkidul. Dimana, kedua kawasan ini mempunyai pesona wisata yang menarik seperti, Pantai dengan bebatuan karang dan area snorkelingnya. Atau, pesona sunset yang tidak bisa ditolak sedikit pun.

Tahukah Sobat Native, bila Yogyakarta tidak hanya mempunyai 2 kota itu saja sebagai andalan pariwisata. Yogyakarta masih punya Kulon Progo yang namanya mulai dilirik oleh Sobat Native lain. Keindahannya seakan mampu menyihir setiap Sobat Native yang datang.

Kehadiran Perbukitan dan air terjun menjadi pilihan yang tidak boleh dilewatkan. Selain itu, kulon progo juga punya sunset dan dinobatkan memiliki pesona sunset tercantik di Jogja.

Nah, kita tidak akan membahas tentang pantai di Kulon Progo melainkan, pesona hutan mangrove yang saat ini menjadi viral.

Mengenal Hutan Mangrove Kulon Progo

Awalnya hutan ini didirikan sebagai wilayah konservasi dan juga untuk mencegah terjadinya abrasi. Perencanaan menggunakan kawasan ini sudah ada sejak tahun 1989. Ada banyak ekosistem yang bisa dinikmati dikawasan ini.

Daya Tarik

Wilayah Hutan ini masih berada di satu kawasan dari Pantai Glagah Indah dan Pantai Trisik. Jadi, setelah berkunjung ke tempat ini Sobat Native disarankan untuk mengunjungi Pantai Glagah yang terkenal dengan kecantikan senjanya.

Hutan bakau ini memang terlihat memukau, ditambah dengan jembatan yang terbuat dari kayu. Seperti, Sobat Native yang ingin berkunjung ke sini harus tahu waktu-waktu yang tepat datang ke sini. Dimana, disarankan bagi Sobat Native untuk datang pada pagi hari sekitar pukul 8 – 10 pagi dan sore hari mulai pukul 15:30.

Kedua waktu ini sengatan senja belum terlalu menyengat. Sobat Native bisa mengambil berbagai macam foto dan gambar yang mengesankan. Sebenarnya, siang juga waktu yang tepat untuk datang, hanya saja saat siang terik matahari akan terasa sangat menyengat. Sedangkan gazebo yang berada di hutan bakau ini sangat tebatas.

Menikmati hutan bakau ini bisa dengan berbagai macam cara. Salah satunya dengan menikmati beberapa spot menarik yang sudah disajikan pihak pengelola. Selain itu, semilir angin yang behembus menambah kesejukan tersendiri sehingga, berada di tempat ini bisa dibilang susah untuk move on.

Nah, tempat ini ada yang namanya jembatan api-api. Jembatan ini merupakan titik selfie favorit bagi Sobat Native yang lain. Eloknya jembatan ini bisa dilihat dari wahana permainan yang disajikan seperti ayunan. Sobat Native, bisa lho memainkan ayunan ini dan kembali ke masa lalu. Seru bukan.

Kenapa Jembatan ini bisa dinamakan dengan Jembatan Si api-api? Karena, jenis hutan Mangrove yang berada di kawasan ini adalah api-api. Oleh karena itu, jembatan kebanggan Sobat Native ini dinamakan sebagai Jembatan api-api.

Tetapi, Sobat Native harus sedikit bersabar bila berada di spot ini. Maklum saja, spot favorit ini pasti membuat banyak orang yang datang. Jadi, mau tak mau harus rela untuk antri dan menjaga ketertiban agar bisa mengambil sudut yan oke. Menikmati, jembatan tanpa foto juga bisa kok.

Keindahannya bikin mata jadi meleleh Sobat Native. Seakan-akan enggan untuk berkedip, sayang gitu untuk di lewatkan keindahannya walau hanya sekejap. Apabila, menunggu lama dan membosankan membuat jenuh, Sobat Native bisa melakukan hal yang lain, yang pastinya tidak kalah asyik.

Menikmati perahu menyusuri pantai Kadilangu, bersama dengan orang terkasih adalah cara menghilangkan penat serta jenuh. Atau Sobat Native bisa berjalan-jalan mengelilingi kawasan ini dimana, nantinya Sobat Native bisa melihat berbagai macam ikan-kan lucu, imut, nan menggemaskan yang akan menemani perjalanan Sobat Native.

Ada pula kepiting Bakau yang tidak kalah menggemaskannya. Hanya saja, Sobat Native dilarang keras untuk memancing di tempat ini. Jangan kecewa, karena Sobat Native akan disajikan dengan Goa Mangrove yang mempesona. Suasananya masih sangat asri dan alami. Tenang, teduh dan sejuk sekali. Cocok untuk melepas penat dan suntuk.

Jangan kaget, bila saat berada di Goa nyamuk-nyamuk nakal akan menggigit. Lantaran, goa ini cukup lembab dan menjadi ladang bagi nyamuk. Ada pula replika menara eifel yang terbuat dari bambu, sungguh menenangkan sekali bukan.

Terakhir, jangan lupakan senja sore di kawasan ini. Walaupun, tidak seindah di pantai Glagah. Namun, menikmati senja disini juga sama mempesonanya. Langit-langit akan berubah seiring dengan malam yang datang. Sangat tepat sekali momen ini dilewatkan bersama dengan orang-orang yang dicintai.

Rute Dan Lokasi

Lokasi Hutan Mangrove ini berada di Dusun Pasir Mendit, Desa Jangkaran, Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo. Sobat Native harus menmpuh perjalanan kurang lebih 2 jam lamanya. Dari arah Yogyakarta, Sobat Native bisa arahkan kendaraan menuju ke wates, Kulon Progo. Kemudian, lanjutkan perjalanan menuju pantai Glagah.

Jalur menuju pantai Congot ini merupakan jalur utama menuju kearah purworejo. Sebelum masuk ke TPR pantai Glagah, Sobat Native akan bertemu dengan jalan besar yang bernama jalan Daendles belok kearah kanan kemudian lurus terus kearah barat. Sampai di titik jembatan sungai Bogowonto. Dimana, jembatan ini menjadi pembatas antara Kulonprogo dan Purworejo.

Setelah sampai di titik ini temukan SD Jangkaran, sampai disini jalan hati-hati sampai menemukan pertigaan kecil yang akan mengarahkan Sobat Native menuju ke lokasi. Apabila, masih bingung Sobat Native bisa bertanya atau juga menggunakan apikasi peta yang sudah tersedia di smartphone Sobat Native.

Harga Tiket Masuk

Lalu, berapa harga yang harus di bayar bila berkunjung ke tempat ini. Ada 3 bagian yang bisa Sobat Native pilih. Tiga bagian ini, mempunyai harga yang berbeda-beda pula. 4 ribu rupiah untuk Sobat Native yang ingin mengunjungi Hutan Mangrove yang terkenal dengan jembatan Si api-api.

3 ribu rupiah bila, Sobat Native ingin mengunjungi Hutan Mangrove Wanatirta. Jika ingin menikmati aksi romatis-romantisan dengan naik kapal, Sobat Natïve akan dikenakan biaya sebesar 5 ribu rupiah. Kalau dipikir-pikir, harga yang ditawarkan cukup murah ya. Jam buka tempat ini pukul 6 pagi hingga 6 sore.

Apabila, Sobat Native masih ingin berlama-lama dan mungkin menikmati kawasan yang lain. Sobat Native bisa mencari beberapa penginapan yang ada. Sudah banyak hotel dengan haga mulai dari 150 ribu hingga jutaan tersedia di kawasan ini. Jadi, liburan Sobat Native jadi tenang, aman, dan nyaman.

Hutan Mangrove Kulon Progo adalah kawasan alternatif yang bisa digunakan apabila, wisatawan bingung dengan objek yang hanya itu-itu saja.

Jangan lupa ajak, kawan, sahabat, keluarga untuk datang ke tempat ini. Ingat, Hutan ini sudah menunggu Sobat Native jadi, jangan lupa datang ke sini ya!

Continue Reading

Traveling

Subak, Warisan Dunia Khas Bali yang Harus Dilestarikan

Published

on

By

Finroll.com – Setiap 18 April, diperingati sebagai Hari Warisan Dunia, di mana masyarakat di seluruh dunia didorong untuk menyadari pentingnya Warisan Budaya terhadap kehidupan, identitas, dan komunitas mereka. Warisan Budaya yang berupa monumen atau situs sebagai karakteristik manusia rentan akan kerusakan, maka diperlukan upaya-upaya untuk melindungi dan melestarikannya.

Sebagai bagian dari peringatan sekaligus mengajak generasi muda mengenal dan ikut melindungi serta melestarikan Warisan Budaya ini, Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) menggelar rangkaian program seperti seminar bersama organisasi terkait, pemangku kepentingan, dan pemerhati warisan dunia.

Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya Dirjen Kebudayaan Kemdikbud, Nadjamuddin Ramly mengatakan, tahun ini perayaan Warisan Budaya di Indonesia difokuskan di Denpasar, Bali.

Di sana akan diadakan berbagai macam kegiatan yang mengajarkan anak muda untuk melihat lebih dekat subak yang ada di sana.

“Subak merupakan rural landscape yang berada di lima kabupaten di Provinsi Bali. Di sini menunjukkan bahwa di kawasan ini ada pedesaan dengan persawahan yang indah,” ujar Nadjamuddin saat temu media di Gedung Kemdikbud, Jakarta, Senin 25 April 2019.

Nadjamuddin mengungkap, ada beberapa kendala yang dihadapi dalam pelestarian subak. Melalui pengamatan langsung di lapangan, ditemukan kalau ada pembuatan helipad di tengah subak yang dibuat Bupati Tabanan. Pembuatan helipad ini tentu akan membahayakan keberadaan subak. Jika terus dibiarkan, Indonesia juga terancam akan kehilangan titel Warisan Dunia karena dianggap tidak mampu menjaga Warisan Dunia.

Karena itu, pemerintah terus mendorong pemerintah daerah untuk mempertimbangkan kebijakan yang dapat merusak keaslian situs subak.

Selain Sistem Subak di Bali, Indonesia secara total sudah memiliki empat Warisan Dunia yang ditetapkan oleh UNESCO. Keempat Warisan Dunia itu adalah Candi Borobudur, Candi Prambanan, Situs Manusia Purba Sangiran, dan Sistem Subak. Nadjamuddin berharap, di tahun 2019 Indonesia akan menambah lagi satu Warisan Dunia yaitu sistem pertambangan Kolonial di Sawahlunto, Sumatera Barat.

Continue Reading
Advertisement

Trending