Connect with us

Citizen Journalism

20 Bahasa Ibu di Indonesia Terancam Punah, Apakah Bahasa Betawi Salah Satunya?

Published

on


“No, no, Rayhan! Don’t touch it!” Seorang perempuan muda berseragam pramusiwi berwarna biru langit terlihat memegang telapak tangan seorang balita berpipi penuh menggemaskan yang sedang asyik memetiki bebungaan serta dedaunan yang tumbuh di sebuah taman yang belum lama ini dibuat oleh Pemda DKI . Si balita berpipi penuh menggemaskan yang saya perkirakan usianya baru tiga tahunan itu tampak meronta-ronta, berusaha melepaskan tangannya dari genggaman si perempuan muda.

Pemandanganseperti itu lazim kita temukan saat ini. Di zaman ketika kanal youtube lebih dirindukan anak-anak ketimbang kidung syahdu orangtuanya, karena ketika si anak menangis, bukan sentuhan tangan ibunya yang mengusap kepalanya, bukan jemari ibunya yang menyuapi makanan ke mulut kecilnya, tapi justru tangan-tangan perempuan seperti perempuan muda berseragam pramusiwi berwarna biru langit tadi. Di zaman ketika sebagian ibu lebih asyik ber-haha-hihi dengan teman-temannya di media sosial ataupun di WAG daripada menyempatkan mendongeng ataupun menembangkan kidung syahdu untuk buah hatinya, sesaat sebelum terlelap.

Makanya ketika suatu hari tanpa sengaja saya menyaksikan seorang tetangga yang sedang asyik menggoda putranya yang belum lagi berusia empat tahun, dengan menggunakan bahasa Jawa yang medhok, kalau kamu melihat ekspresi saya saat itu, kamu akan tahu betapa semringahnya saya.

Saya yang lahir, tumbuh dan besar di Jakarta—meskipun di pinggirannya, sangat iri menyaksikan balita yang tingkahnya begitu menggemaskan itu terlihat asyik ngobrol dan berkelakar dengan orangtuanya dengan menggunakan bahasa ibu alias bahasa daerah asalnya. Buat saya, itu mengesankan sekali. Jauh lebih mengesankan dari balita yang saya ceritakan di alinea pertama tadi, yang meskipun dengan suara yang masih cadel kepandaiannya berbahasa asing jauh lebih baik dari saya.

Bukan saya sok nasionalis, atau sok kedaerahan atau sok kampungan. Kampungan kok, dibilang sok! Tapi percayalah, akan tiba masanya, ketika kita begitu merindukan bahasa leluhur kita, bisa bertutur dengan bahasa itu, atau minimal mendengar orang bertutur dengan bahasa itu. Karena bahasa, adalah juga kekayaan budaya kita. Salah satu anugerah dari sekian banyak limpahan anugerah yang Tuhan turunkan di negeri yang katanya laksana sepenggal firdaus ini.

Lagipula, jika nasionalisme hanya dilihat dari keengganan penduduknya berbahasa asing, orang Jepang juaranya. Kata teman saya yang sudah lama menetap di sana, mereka rata-rata enggak menguasai bahasa asing, kalaupun ada yang mau belajar, bahkan sampai bisa berbahasa Inggris, mereka tetap kesulitan (jika tak mau dibilang buruk) saat melafalkannya.

Saya pernah membaca kisah seorang wanita asal Alaska, Amerika Serikat, Marie Smith Jones, 89 tahun, yang hingga akhir hayatnya pada 21 Januari 2008 lalu, tetap gigih mempertahankan bahasa Eyak, bahasa asli suku Indian yang menempati Teluk Alaska, di tengah dominasi bahasa Inggris yang digunakan oleh hampir seluruh orang Amerika termasuk yang tinggal di Alaska.

Yang membuat miris, ketika Nyonya Jones—yang merupakan penutur terakhir bahasa Eyak yang paling bersemangat di antara lima puluh orang Eyak yang masih tersisa— wafat, ketujuh anaknya sama sekali tak mengerti bahasa Eyak, bahasa ibunya, karena mereka lahir ketika orang-orang di Alaska dianggap harus berkomunikasi dalam bahasa Inggris.

Setelah membaca kisah itu, saya mulai berpikir untuk sedapat mungkin menanamkan kepedulian dan kecintaan saya pada bahasa ibu yang saya miliki, meskipun bahasa ibu anak Betawi tak seunik dan sekhas bahasa ibu dari daerah-daerah lain di Indonesia, karena terlalu familiar, mungkin. Tapi saya tak ingin nasib bahasa Betawi seperti bahasa Eyak.

Apalagi ketika saya mengetahui satu fakta bahwa UNESCO, sebuah lembaga PBB untuk pendidikan, sosial dan budaya, pernah mencatat, bahwa sepersepuluh dari 6000 bahasa di dunia adalah bahasa kita, bahasanya penduduk Indonesia. Iya, beneran, kita punya (kurang lebih) 600 bahasa, luar biasa, bukan? Meski, konon, 20 dari 600 bahasa kita terancam punah.

Dan sebuah bahasa akan terancam punah kalau jumlah penuturnya kurang dari seribu orang. Saya yang aseli Betawi jadi penasaran, berapa jumlah penutur bahasa Betawi. Dari wikipedia saya tahu, menurut data terakhir, yang menuturkan bahasa Betawi sebanyak 2,7 juta orang, alhamdulillaah, masih lumayan banyak ternyata. Tapi saya jadi waswas juga, pasalnya, data yang tercatat itu, keluaran tahun 1993 (Setdah, udeh 23 taun). Kalau begitu, kemungkinan berkurangnya jumlah penutur bahasa Betawi sama besarnya dengan kemungkinan seseorang balik kepada mantannya, betul-betul mengkhawatirkan.

Wikipedia juga yang ngasih tahu saya, kalau bahasa Betawi itu turunan dari bahasa Melayu Pasar yang berasimilasi dengan berbagai bahasa, diantaranya; bahasa Bali, Sunda, Cina Selatan, Arab, Belanda dan Portugis. Sayangnya, percampuran bahasa yang membentuk bahasa Betawi itu, enggak serta merta linier dengan paras orang Betawi.

“Ente bayangin! Gimane kalo muke ane campuran dari Cina, Arab, Belanda dan Portugis. Beeuh.. Nicholas aja mah bakal minder deket-deket ane.”

“Nicholas Saputra?”

“Lah iya, masa Nicholas Anelka! Ntu mah pemain badminton! Bukan begitu, Bang Bolot?”

“Hah? Ngopi? Boleh deh, kalo dipaksa mah!”

“Auu aah, gelap!”

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Citizen Journalism

Soleh Tapi Pendusta

Published

on

Ibnu Hajar al Asqolani dalam tulisannya, pernah menjelaskan kelompok-kelompok yang hobinya pabrikasi hadis palsu. Salah satu diantaranya adalah justru orang-orang yang dikenal soleh dan ahli ibadah.

Sebelum bahas lebih lanjut, saya mau mengingatken ada hadis yang isinya “pada suatu ketika Baginda Nabi sholallahu alaihi wasallam ditanya. Wahai Rasul apa mungkin seorang yang beriman itu berzina?. Bisa jadi kata beliau. Kemudian ditanyakan lagi, kalau berdusta?. Tidak, jawab sang nabi tegas”.

Emang sih ada perbedaan pendapat mengenai hadis tadi menurut analisa az-Zarqoni dalam syarah atau penjelasannya terhadap kitab Muwatho. Apakah ini beneran ucapan Baginda Yang Mulia atau sebatas ucapan sahabat Umar rodhiyallahu anhu?. Ala kulli hal, beliau az-Zarqoni mengutip bahwa bisa jadi benar bahwa ini keluar dari lisan sang Nabi.

Yang jelas ada hadis yang jauh lebih shoheh derajatnya bahwa berdusta alias doyan ngehoax merupakan tanda-tanda munafik. Jadi buat kamu yang ngira udah selamet dari status munafik karna gak milih pemimpin non muslim pas pilkada. Harus juga kudu ati-ati, karena itu aja gak cukup. Biar lolos dari stempel munafik kamu juga harus gak doyan nebar hoax.

Nah, kenapa orang-orang yang dikenal baik hati, rajin menabung dan tidak sombong sholeh, rajin ibadah plus aktivis dakwah dunia maya bisa terjerumus dalam hadis hoax atau kabar palsu?.

Jawaban dalam nomor urut pertama adalah dalam rangka hisbah alias amar makruf dan nahi munkar. Masih gak paham?. Dalam rangka menegakkan kebajikan dan melarang hal-hal yang dilarang. Bahkan dalam sejarah Islam ada salah satu sekte yang disebut al-Karromiyyah. Mereka-mereka ini padahal udah tau ada hadis larangan bohong atas nama Nabi. Hadis mutawatir yang artinya sangat amat masyhur, diriwayatkan puluhan sahabat Nabi yang bunyinya “Siapa-siapa yang sengaja berdusta atas namaku maka siap-siap mengambil tempatnya di neraka Jahannam”.

Lantas apa jawaban mereka??. Mereka dengan entengnya jawab “justru kami berbohong demi kepentingan Baginda Nabi”. #wadezig

Seorang ulama yang bernama al-Muammal pernah mendengar sebuah hadis tentang keutamaan membaca al-Quran lalu beliau tabayyun dengan orang yang mengabarkannya, kemudian dia bertanya.

“Dari siapa engkau mengambil hadis ini”. Tanya Muammal.

Lalu orang tadi bilang dari seseorang di Wasith, kemudian beliau pergi ke Wasith dan bertemu orang yang dimaksud kemudian bertanya dengan soal yang sama.

Lalu dijawab bahwa dari seseorang di al-Bashrah. Kemudian lagi-lagi bertemu dengan orang yang dimaksud dan kembali menanyakan hal yang sama. Lalu dijawab bahwa hadis itu dari seseorang di Baghdad. Kemudian sampailah beliau di Baghdad dan bertemu dengan orang yang dimaksud dan kembali bertanya hal yang sama. Hingga akhirnya orang yang dimaksud tadi mengajaknya ke sebuah rumah. Didalamnya ada sekelompok darwis alias sufi yang terlihat dipimpin oleh seorang syekh.

Kemudian orang tadi bilang, yang menceritakan hadis tadi adalah syekh itu. Dengan segera beliau datangi sang syekh dan bertanya “dari siapa anda mendengar hadis ini?”. Kemudian syekh tadi menjawab “bukan dari siapa-siapa, saya yang buat hadis ini supaya orang-orang kembali membaca al-Quran, karena mereka sekarang sudah terlalu sibuk dan menjauh dari al-Quran”.

Sebuah teladan yang sangat luar biasa dari al-Muammal dalam rangka bertabayyun menggali informasi. Beliau tak sungkan bahkan rela sampai berjalan jauh ke tiga kota besar yang jaraknya ratusan kilometer. Lah kita jangankan keluar kota, buat klik baca berita dari postingan yang judulnya click bet aja ogah. Ah,  andai orang-orang semisal al-Muammil ini menghiasi medsos pasti dunia jadi lebih indah dan berwarna~.

Nuh bin Abi Maryam yang merupakan seorang hakim di kota Marwa tak juga luput dari tindak pidana ini. Seorang yang dijuluki al-Jami’ alias sang kolektor dikarenakan ilmunya yang luas meliputi fikih, tafsir, sejarah keislaman, hadis dan lainnya. Tapi sayang seribu sayang, sang Hakim dianggap pendusta oleh para imam ahli hadis dan ditolak riwayat hadisnya. Ada ungkapan yang cukup masyhur di kalangan ahli Hadis, bahwa Nuh bin Abi Maryam ini punya segalanya kecuali kejujuran.

Doi kedapatan memalsukan banyak hadis tentang keutamaan beberapa surat dalam al-Quran dengan niat yang mulia. Supaya para manusia kembali mempelajarinya dan mentadaburinya. Karena doi melihat manusia sudah terlalu sibuk dengan ilmu fikihnya Abu Hanifah dan ilmu Sejarah Islamnya Ibnu Ishaq padahal keduanya adalah diantara guru-gurunya sendiri.

Jadi jangan heran kalo seorang dosen misalnya yang harusnya bagian dari kaum intelek jadi tersangka hoax. Lah seorang hakim sebuah provinsi yang merupakan murid Imam Besar Abu Hanifah saja bisa nyemplung bikin hadis hoax.

Dan di jaman now ini. Bisa dibilang banyaknya kabar hoax yang dibuat didasarkan kepada alasan bahwa Indonesah tercinta sedang dalam bahaya-bahayanya, dan publik banyak yang selo-selo ae. Syiah yang siap revolusi, PKI yang 15 juta plus pekerja Cina yang 10 juta. Publik harus dibangunkan dan disadarkan dari kondisi getir ini. Begitu kiranya.

Oke, tarolah ada ancaman laten tadi. Tapi yaa strateginya itu yang harus dimatangken lagi nda gebyah uyah buat kabar hoax yang malah jadi bikin runyem urusan. Dan buat publik yang jadi objek sasaran malah jadi antipati.

Dan sialnya, aksi para aktivis medsos ini bukan hanya karena didorong faktor agama, sebagaimana kisah-kisah yang udah disebut. Tapi sebagian mereka juga bagian dari kelompok-kelompok partisan politik. Lengkap sudah ketika kelompok partisan politik berfusi dengan landasan ideologis agama. Hasilnya kayak apa?. Kita tunggu 2019 nanti. Yang pasti lonjakan anpren dan anpolow bakal makin rame lagi.

Padahal Nabi dah mengingatkan jauh hari. Kata Nabi Muhammad SAW “Cukuplah seseorang disebut pendusta karena menceritakan setiap yang ia dengar”.

Kalau sudah begini, ada satu pertanyaan menarik untuk dijawab.

Kata-kata rindu yang kau tuliskan itu bukan hoax kan, dik?.

 

Continue Reading

Citizen Journalism

Stan Lee dan Pesan Duka Para Superhero

Published

on

Sirene Ambulance meraung-raung di Hollywod Hills pada senin subuh kemarin, ambulance itu membawa sosok kaku sang ayah bagi superhero. Sontak kabar duka tersebut langsung menghebohkan dunia superhero.

Siapa yang tidak tahu dengan nama besar seorang Stan Lee? Dia adalah “Ayah” dari segala macam cerita komik dari Marvel. Kini sang Ayah tutup usia di angka 95 tahun. Bagi banyak orang Stan Lee adalah sosok pahlawan sebenarnya, pasalnya dia tak hanya memberi kesenangan, superhero ciptaannya memberikan kita harapan.

Yah, harapan. Bukan hiperbola jika ada yang menyebutkan, Stan Lee melalui karakter superhero ciptaannya menjadi harapan atau setidaknya menjadi hiburan bagi orang-orangnya yang kurang beruntung.

Stan Lee tahu bahwa komik memiliki pengaruh yang cukup efektif dan bisa digunakan untuk kampanye. Ia pernah membuat komik Spider Man untuk menggalang kampanye anti penyalahgunaan obat-obatan. Ia juga pernah menggunakan komik untuk aksi anti rasisme.

Bagi Stan Lee, komik yang ia garap bukan sekadar sebuah eskapisme belaka. Wujud fisik komik itu adalah manusia sebenarnya. Tanpa sebuah pesan di dalamnya, komik seperti manusia tanpa jiwa.

Coba kita tengok, pesan moral yang ingin disampaikan dalam karakter superhero ciptaan Stan Lee. Captain Americ, misalnya, Captain Amerika merupakan contoh yang baik mengenai kemanusiaan. Ia tidak egois, berani, dan penuh pemikiran. Ia juga selalu mendahulukan kepentingan orang banyak.

Atau Iron Man, Tony Stark adalah orang yang tak disiplin, egois, dan memiliki tingkat narsisme yang tinggi. Namun, ia berusaha keras untuk mengalahkan sifat buruknya ini dengan melakukan hal baik untuk orang lain. Pepper Potts berhasil memunculkan kebaikan dalam diri Sang Iron Man.

Dengan banyaknya cerita yang diciptakan, Lee kemudian mulai membiarkan karakter dari satu judul muncul dalam judul lain. Hal ini yang menciptakan alam semesta Marvel bagi para pembaca yang seru dan membuat penasaran.

Lalu, ada Falcon. Sobat karibnya Captain America (selain Bucky pastinya), Falcon, awalnya di komik diceritain sebagai preman di Harlem dan anteknya Red Skull. Setelah dapet power, Falcon bergabung bersama Capt dan bahkan ikutan ngelawan Red Skull.

Sama kayak Quicksilver, kembarannya, Scarlet Witch juga awalnya adalah karakter jahat. Bahkan setelah gabung sama Avengers pun, Scarlet Witch kadang masih terlibat dalam kejahatan loh, dan jadinya keliatan complicated, beneran baik nggak sih. Kayaknya salah satu pengaruh besar yang bikin dia mau gabung ke the good side adalah rasa cintanya ke Vision.

Hal yang pertama kali Hawkeye lakukan waktu ketemu Avengers adalah merampok mereka. Yup! Barangkali banyak yang belum tau, salah satu anggota Avengers pertama ini adalah pencuri loh. Tapi talentnya Hawkeye akhirnya dimanfaatin oleh Avengers, dan akhirnya dia bergabung.
Sudah paham kan pesannya, banyak banget superhero yang sekarang baik, jago, dan hobinya nyelametin dunia, ternyata punya masa lalu yang kelam. (foto : kincir)

Continue Reading

Citizen Journalism

Kisah-Kisah Perlawanan: Dari Mencuci Bendera Sampai Mogok Seks

Published

on

Banyak dari kita barangkali beranggapan bahwa, perubahan sosial hanya bisa dilakukan melalui tindakan-tindakan revolusioner dengan skala besar dan luas. Padahal, ada begitu banyak contoh perubahan-perubahan besar pada mulanya hanya dilakukan dengan tindakan-tindakan sederhana oleh hanya beberapa orang saja dan bahkan oleh satu orang saja.

Perubahan sosial tidak mesti menunggu lahirnya pergerakan dengan pengerahan massa secara besar-besaran. Gerakan sosial juga tidak selalu harus melalui jalur politik dan legislasi, ia juga bisa hadir melalui jalur kebudayaan dan bahkan praktik-praktik hidup keseharian. Lebih jauh, menukil Roem Topatimasang, “Perubahan sosial juga bukan hanya soal mengganti rezim yang berkuasa, melainkan juga soal keberanian dan ketegaran mempertahankan ruang dan cara-cara kehidupan yang mampu membendung segala bentuk kerakusan dan kepongahan kekuasaan”.

Di bawah ancaman risiko disiksa, dipenjarakan bahkan dihilangkan nyawanya karena bersuara lantang, orang-orang yang terlibat dalam beberapa kisah perlawanan ini –diringkas dari buku Small Acts of Resistance: How Courage, Tenacity and Ingenuity Can Change the World–membuktikan kepada kita semua bahwa, setiap perubahan harus melibatkan keberanian yang luar biasa. Kisah ini menjadi penting untuk diceritakan ulang karena mereka yang terlibat dalam berbagai perlawanan dan pembangkangan ini mengatakan bahwa, mereka melakukan karena memang sudah seharusnya setiap orang melakukannya. Seolah mereka ingin menegaskan bahwa apa yang mereka perbuat semata-mata hanya ingin mempertahankan apa-apa yang mereka yakini.

Mencuci Bendera

Di Amerika Latin, Peru, tepatnya. Bulan Mei tahun 2000, pada setiap Jumat, sedari siang sampai pukul 3 sore, ribuan orang berkumpul di Plaza Mayor, Lima. Kegiatan mereka hanya satu: mencuci bendera nasional! Khalayak itu ingin menunjukkan bahwa Peru dan bendera nasionalnya perlu dicuci karena sudah sangat kotor dan mirip kain gombal. Aksi massa mencuci beramai-ramai itulah yang justru menjadi satu unsur penting dalam melengserkan Presiden Peru, Alberto Fujimori, yang kejam, korupsi, dan tidak merakyat.

Vladimiro Lenin Montesinos, Kepala Polisi Rahasia, menyebut aksi itu sebagai ‘kanker’ dan mengusulkan agar para pelaku pencucian bendera tersebut ditindak sebagai pelaku teroris. Aksi cuci bendera ini kemudian meluas, menjalar ke seluruh antero negeri. Ratusan ribu warga ikut ambil bagian. Lima bulan setelah aksi itu dimulai, Presiden Peru, Fujimori, akhirnya turun tahta (pengumuman pengunduran dirinya dinyatakan melalui faksimil ketika sedang berada di Jepang). Dia dijatuhi hukuman penjara selama 25 tahun atas semua pembunuhan yang terjadi sepanjang masa kekuasaannya.

Aksi rakyat Peru ini dikenal dengan ‘lava la bandera’, “suatu ritual yang kami, rakyat Peru, tak akan pernah melupakannya”, tulis harian La Republica.

Televisi dan Kereta Bayi

13 Desember 1981, rezim komunis Polandia membuat barisan tank lapis baja untuk menghentikan laju gerakan solidaritas. Ratusan orang ditangkap, beberapa bahkan dilenyapkan. Mengabaikan ancaman dari tank-tank tersebut, warga Polandia mengorganisir unjukrasa menentang pemberangusan, termasuk memboikot siaran televisi pemerintah.

Swidnik, satu kota kecil di bagian timur Polandia, para warga menemukan caranya sendiri begitu televisi mulai menyiarkan berita-berita resmi pemerintah selama setengah jam. Semua warga Swidnik keluar rumah memenuhi jalan-jalan, bercengkrama satu sama lain. Sebelumnya mereka meletakkan televisi yang sudah dimatikan di jendela, menghadap keluar sehingga semua orang melihat layar gelap tanpa suara. Beberapa bahkan bertindak lebih jauh, mereka menggelandang pesawat televisi di dalam kereta dorong bayi itu di jalan-jalan sepanjang malam.

Taktik membawa televisi dan keluar rumah untuk jalan-jalan itu kemudian menyebar dan dicontoh di kota-kota lain, membuat pemerintah muntab. Tetapi mereka tidak berdaya karena keluar untuk jalan-jalan dan bercengkrama bersama tetangga jelaslah bukan tindak kejahatan. Lagipula menangkap seluruh penduduk Polandia jelas tindakan yang nyaris mustahil.

Lagu Kebangsaan

Uruguay pada tahun 1973 dikuasai oleh junta militer yang terkenal keji, para pembangkang politik digelandang masuk ke ‘hotel prodeo’. Penyiksaan atas mereka adalah hal wajib. Bahkan, Pertunjukan musik sekalipun bisa dianggap sebagai tindakan makar. Pertunjukan music klasik Piano Concerto for Left Hand yang digubah oleh Ravel harus dibatalkan hanya karena judulnya berbau kiri sehingga dianggap berbahaya oleh pihak penguasa, sampai ketika unjukrasa sederhana di suatu pertandingan sepakbola mengubah segalanya.

Ketika barisan pemusik mengumandangkan lagu kebangsaan sebelum pertandingan dimulai, ribuan warga Uruguay yang hadir di stadion tidak bersemangat untuk bernyanyi. Tindakan keras kepala macam ini saja sudah cukup untuk dicap sebagai pemberontakan. Pemerintahan junta militer ini sama sekali tak mengira bahwa akan terjadi sesuatu yang lebih buruk.

Pada saat lagu kebangsaan sampai pada lirik “Tiranos temblad” – “Gemetarlah dikau, para tiran” – ribuan penonton itu tiba-tiba berdiri dan bernyanyi bersama sekencang-kencangnya, “Tiranos temblad”, seraya mengibar-ngibarkan bendera-bendera yang mereka bawa. Pihak penguasa tentu saja tak bisa menangkap semua penonton, mereka juga tidak bisa menghentikan pertandingan yang akan segera dimulai. Pihak junta militer pun bingung oleh gagasan untuk menghapus lirik “Tiranos temblad” dalam lagu kebangsaan, karena hal tersebut jelas-jelas akan mempermalukan mereka sendiri. Apa pula alasan para petinggi militer ingin menghapuskan selarik lirik lagu kebangsaan yang sangat dicintai rakyat, kecuali jika para jenderal itu sendiri merasa bahwa merekalah para tiran?

Para penguasa militer tersebut harus menelan pil pahit hujatan nasional itu sampai tahun 1985, ketika mereka akhirnya tumbang kehilangan kekuatan. Demokrasi menang!

Menolak Wajib Militer

Musim semi 1967, nama Muhammad Ali masuk dalam daftar wajib militer, Ali diminta untuk meninggalkan ring tinju selama menjalani kewajibannya tersebut. Baginya, persoalannya bukanlah pada rasa takut, masalahnya jauh lebih mendasar. Merujuk pada kenyataan di kota kelahirannya, Louisville, Kentucky, ia menanyakan, “Mengapa mereka meminta saya memakai seragam dan pergi puluhan ribu kilometer dari rumah untuk menjatuhkan bom dan menembakkan peluru kepada orang-orang berkulit coklat di Vietnam, padahal orang-orang yang mereka sebut negro di Louisville diperlakukan seperti anjing dan disangkali hak-haknya yang paling mendasar? Tidak, saya tidak akan pergi puluhan ribu kilometer dari rumah untuk membantu pembunuhan dan pembakaran satu bangsa hanya untuk melanggengkan  para juragan kulit putih atas orang-orang berkulit gelap di dunia ini”.

Ali tahu benar akan dipenjarakan karena pembangkangannya itu, namun ia juga sadar betul bahwa dia sedang merintis satu teladan sikap. Para pendukungnya di luar barak berteriak, “kalau dia tak mau pergi, kami pun tak mau pergi !”. Akibat dari pembangkangannya, Ali dijatuhi hukuman 5 tahun penjara dan denda 10.000 USD. Dalam penjara Ali memeluk Islam.

Seiring perjalanan waktu citra Ali semakin memudar namun kekuatan kepribadian, pernyataan yang mencabar juga keputusan yang kontroversial sebagai seorang anak muda benar-benar telah menantang masyarakat Amerika. Aktor kawakan, Richard Harris, menyimpulkannya dengan kalimat sederhana, “Setiap petinju selama ini selalu berusaha dan bersedia menjual jiwa mereka demi mencapai gelar juara dunia tinju kelas berat. Apa yang Ali lakukan? Dia justru menemukan kembali jiwanya dengan melepaskan gelar juara dunia itu”.

Hak Milik

Di banyak negara dengan budaya patriarki yang kelewat brengsek, banyak kaum perempuan yang dinafikan hak-haknya semisal, memiliki lahan sendiri atau mewarisi harta gono-gini dari almarhum suaminya sendiri. Di kota kecil Mubende, Uganda, seorang janda menemukan cara menentang diskriminasi ini.

Pada suatu Minggu pagi yang cerah, di tahun 1996, ketika bersiap-siap hendak berangkat ke rumah ibadah, Noerina Mubiru, terlibat cekcok menghadapi kerabat keluarga almarhum suaminya yang belum lama meninggal dunia. Sepuluh orang kerabat mendiang suaminya menyerahkan daftar barang-barang yang akan mereka angkut dari rumahnya.

Tak tinggal diam, dia masuk ke kamar sebentar, menanggalkan seluruh pakaian yang ia kenakan sampai bugil, lalu kembali ke ruang tamu. Di sana, para kerabat mendiang suaminya menunggunya. Noerina kemudian menunjuk ke arah selangkangannya sambil berkata, “kalian lihat, inilah salah satu barang yang paling dicintai oleh suami saya”. Sambil menepuk bokongnya, dia melanjutkan, “Dan ini barang kedua yang paling disukainya. Kalau kalian ingin mengambil barang-barang peninggalannya, silakan mulai dengan dua barang ini, lalu saya akan menunjukkan barang sisa yang lain kepada kalian”.

Bapak mertuanya yang juga ada di ruangan itu tersipu, semua kerabat yang lain segera berhamburan keluar rumah, kabur.

Mogok Seks

Aristophanes pada abad ke V sebelum masehi pernah menulis sebuah naskah drama yang berisi sindiran untuk menekan dan mengakhiri kerusakan akibat Perang Peloponnesia yang berkepanjangan. Ceritanya ini didasarkan atas gagasan yang brilian: kaum perempuan bisa menghentikan konflik dengan cara menolak berhubungan seksual dengan para suami mereka !

Dua ribu tahun kemudian, naskah sandiwara ini ditafsirkan secara harfiah oleh perempuan dari Sudan. Samira Ahmed, guru besar di satu universitas, punya satu rencana untuk memberdayakan para perempuan. Ia bekerja dengan kaum perempuan dari kedua etnis yang bertikai, ia melancarkan aksi yang dinamakannya “penelantaran seksual”.

Para perempuan itu menyimpulkan bahwa dengan menolak berhubungan seks dengan suaminya, mereka dapat menekan para lelaki untuk bertekad mengusahakan perdamaian. Dan taktik tersebut berhasil.

Tahun 2009 di Kenya, ketika hubungan antara Perdana Menteri Raile Odinga dan Presiden Mwai Kibaki berada dalam titik perseteruan yang berbahaya, organisasi-organisasi perempuan yang khawatir akan terjadinya tindak kekerasan mendesak kedua orang tersebut untuk menyelesaikan perbedaan di antara mereka. Untuk memperkuat desakannya tersebut, kaum perempuan melancarkan aksi ‘mogok seks’.

Aksi yang digerakkan oleh Rukia Subow dan Patricia Nyaundi ini bukan tanpa tentangan, seorang laki-laki, James Kimondo, mengatakan kepada wartawan bahwa ia akan mengajukan tuntutan kepada organisasi-organisasi perempuan yang memelopori aksi tersebut. Kimondo mengatakan bahwa aksi mogok seks itu membuatnya menderita tekanan mental dan kegelisahan luar biasa.

Seruan aksi mogok seks tersebut bukannya kendor malahan mendapatkan tambahan dukungan dari istri Perdana Menteri, Ida Olinga. Organisasi perempuan itu bahkan bertindak lebih jauh dengan mengajak para pekerja seksual untuk ikut dalam aksi mereka. Kedua lelaki tersebut, Sang Perdana Menteri dan Sang Presiden pun akhirnya sepakat untuk berunding.

Di belahan benua yang lain, di kota Pereira, Kolombia, yang sejak lama dikenal dengan kota yang tak pernah sepi dari kekerasan. Sebagian besar biang keroknya adalah laki-laki muda, banyak dari tindak kekerasan itu berkaitan dengan geng-geng kejahatan. Ada banyak pula alasan untuk bergabung dengan geng-geng kejahatan, dan yang paling menonjol adalah karena para lelaki muda di sana merasa bahwa menjadi anggota geng akan membuat mereka tampak keren dan menarik secara seksual oleh para perempuan.

Mengetahui hal itu, pada tahun 2006, para gadis pacar dan istri dari para laki-laki muda biang kerok kekerasan melancarkan aksi menolak berhubungan seksual dengan masing-masing pasangannya. Aksi itu kemudian dikenal luas sebagai ‘huelga de piernas cruzadas’ (mogok dengan menyilangkan kaki). Aksi kaum perempuan ini dengan cepat menjadi pola gerakan yang ditiru secara nasional. Gerakan ini membantu memuluskan jalan bagi maraknya gerakan menentang kekerasan di seluruh negeri. Paro sexual ! Mogok seks !

Kisah-kisah di atas barangkali bisa menjadi pengingat buat kita bahwa pembangkangan dapat mengalahkan apa yang tak terkalahkan sebelumnya, dapat mengubah apa yang sebelumnya tak pernah bisa berubah. Seperti kata-kata dari Oscar Wilde, “Pembangkangan, bagi mereka yang membaca sejarah, adalah kualitas terbaik manusia. Melalui pembangkanganlah kemajuan dicapai, melalui ketidakpatuhan dan pemberontakan”.

 

Continue Reading
Advertisement

Trending