Connect with us

BUSINESS

Tiga alasan dunia akan berpaling dari dollar AS

Published

on

FOTO | ISTIMEWA

FINROLL.COM, NEW YORK. Dollar Amerika Serikat dinilai akan segera ditinggalkan sebagai mata uang cadangan devisa warga dunia. Menurut head of FX strategy Saxo Bank, penyebabnya adalah faktor tekanan geopolitik.

Dalam laporan outlook kuartalan berjudul "Dunia mulai berpaling dari si perkasa dollar", John Hardy mengklaim bahwa mata uang AS saat ini sudah disfungsional dan akan cepat digantikan dengan mata uang lain.

Pengamat mata uang ini juga menggarisbawahi, ada tiga isu geopolitik yang saat ini menekan status dollar.

Pertama, kian meningkatnya peran China dengan asumsi peran China dalam perdagangan global dan pasar finansial semakin besar -khususnya bagaimana China akan menangani kebijakan dan membludaknya gelembung kredit- pada perhelatan Kongres Partai yang dijadwalkan Oktober 2017 tanpa berdampak negatif pada ekonomi domestik dan perekonomian global.

Kedua, rezim Korea Utara berupaya keras mempertahankan kredibilitas dan menjadi pihak yang tak bisa tersentuh sebagai negara dengan kekuatan nuklir. Hal ini berdampak pada hubungan antara China dengan AS, bahkan juga Jepang melalui ancaman-ancaman domestik dan kebijakan luar negeri.

Ketiga, kian longgarnya aliansi transatlantik antara AS-Eropa dan bagaimana Eropa dan Uni Eropa kian menancapkan kakinya sebagai negara adidaya yang lebih independen -atau tidak- dalam haknya sendiri setelah pemilihan umum Jerman.

Hardy menekankan pada kata "de-dollarization" sebagai tema utama yang dapat ditarik dari situasi China karena negara tersebut tampaknya terus mendorong permintaan yuan.

"China memandang banyaknya keuntungan dari penggunaan mata uang sendiri untuk menggantikan peran dollar AS dalam perdagangan global. Fokus awalnya adalah pada perdagangan minyak global, di mana China telah mengumumkan niatannya untuk membeli minyak dalam yuan dan memperbolehkan mitra dagangnya untuk menukarkan yuan dengan emas," paparnya.

Hardy mengatakan, menukarkan yuan dengan emas adalah langkah cerdas Beijing karena memberikan kenyamanan yang lebih tinggi bagi negara-negara pengekspor minyak.

Mengingatkan saja, China merupakan negara pengimpor minyak mentah terbesar di dunia. Analis memperkirakan, mempertahankan kestabilan mata uang saat membeli minyak dalam yuan merupakan langkah awal untuk meningkatkan permintaan global atas renminbi.

"Rusia dan Iran, yang telah lama menderita di sektor finansial dan perdagangan akibat sanksi AS, akan menjadi peserta yang bahagia dalam skema ini. Ujian yang lebih besar adalah apakah sekutu tradisional AS, seperti Arab Saudi, bersedia mengambil risiko kemarahan Amerika Serikat dengan menyetujui menerima yuan untuk pembelian minyak," kata Hardy.

Pada poin kedua, analis mengatakan Eropa dan Jepang tidak akan terlalu bergantung pada dolar AS karena mereka semakin beralih pada kebijakan fiskal untuk memecahkan masalah domestik.

Hardy menambahkan, meskipun outlook-nya terhadap dollar untuk jangka panjang negatif, tapi dia menilai dollar memiliki kemungkinan menguat dalam jangka pendek. Kondisi ini terkait dengan penunjukan pemimpin The Federal Reserve selanjutnya.

Dia adalah jurnalis senior khusus di bidang polhukam dan ekonomi

Trending Stories